Hindia Belanda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kolonial Belanda)
Lompat ke: navigasi, cari
Hindia Belanda[1]
Nederlandsch-Indië
Nederlands-Indië
Hindia-Belanda
Koloni Belanda
1800–1949[a]
Bendera Lambang
Lagu kebangsaan
"Wilhelmus" (bahasa Belanda)
"'William"
Peta Hindia Belanda yang menampilkan perluasan wilayahnya dari tahun 1800 sampai tingkat tertinggi sebelum pendudukan Jepang pada tahun 1942.
Ibu kota Batavia
Bahasa Belanda (Resmi)
Melayu (Lingua Franca)
Jawa
Tionghoa
Bahasa asli Indonesia
Agama Islam
Protestan
Hindu
Buddha
Bentuk pemerintahan Pemerintahan kolonial
Kepala negara
 -  Kepala
Republik Batavia
-
 -  1800 (pertama) Augustijn Gerhard Besier
 -  1806 (terakhir) Carel de Vos van Steenwijk
 -  Monarki -
 -  1816–1840 (pertama) Willem I
 -  1948–1949 (terakhir) Juliana
Gubernur Jenderal
 -  1800–1801 (pertama) Pieter G. van Overstraten
 -  1949 (terakhir) A. H. J. Lovinka
Sejarah
 -  Perusahaan Hindia Timur Belanda di Indonesia 1603–1800
 -  Nasionalisasi VOC 1 Januari 1800
 -  Pendudukan Jepang[2] Februari 1942 – Agustus 1945
 -  Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
 -  Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda 27 Desember 1949
Populasi
 -  Perk. 1930 60,727,233 
Mata uang Gulden Hindia Belanda
Pendahulu
Pengganti
VOC
Kesultanan Aceh
Kerajaan Bali
Kesultanan Riau-Lingga
Melaka Portugis
Republik Indonesia Serikat
Nugini Belanda
Republik Maluku Selatan
Negeri-Negeri Selat
Sekarang bagian dari  Indonesia
a. ^ Diduduki pasukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945, yang diikuti oleh Revolusi Nasional Indonesia hingga tahun 1949. Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Nugini Belanda diserahkan kepada Indonesia pada tahun 1963. Tanggal resmi menurut PBB adalah 27 Desember 1949 [3]
Ekspansi yang dilakukan Hindia Belanda di Kepulauan Indonesia.
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia.png
Lihat pula:
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara

Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Salakanagara (130-362)
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Kendan (536–612)
Galuh (612-1528)
Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
Kanjuruhan (abad ke-8)
Kerajaan Medang (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Kerajaan Islam
Penyebaran Islam (1200–1600)
Kesultanan Samudera Pasai (1267–1521)
Kesultanan Ternate (1257–sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500–1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500–1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Kalinyamat (1527–1599)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banjar (1520–1860)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1430–1666)
Kerajaan Tayan (Abad Ke-15-sekarang)
Kesultanan Mataram (1588–1681)
Kesultanan Palembang (1659–1823)
Kesultanan Siak (1723–1945)
Kesultanan Pelalawan (1725–1946)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600–1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602–1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899–1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Republik Indonesia
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)

Hindia Belanda atau Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Nederlands(ch)-Indië) adalah sebuah daerah jajahan Belanda yang wilayahnya saat ini dikenal dengan nama Republik Indonesia. Hindia Belanda dibentuk sebagai hasil dari nasionalisasi koloni-koloni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang berada di bawah pemerintahan Belanda pada tahun 1800.

Selama abad ke-19, daerah jajahan dan hegemoni Belanda diperluas, mencapai batas wilayah teritorial terbesar mereka pada awal abad ke-20. Hindia Belanda adalah salah satu koloni Eropa yang paling berharga di bawah kekuasaan Imperium Belanda,[4] dan berkontribusi pada keunggulan global Belanda dalam perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20.[5] Tatanan sosial kolonial didasarkan pada struktur rasial dan sosial yang kaku dengan para elit Belanda yang tinggal terpisah tetapi tetap berhubungan dengan penduduk pribumi yang dijajah mereka.[6] Istilah "Indonesia" mulai digunakan untuk lokasi geografis setelah tahun 1880. Pada awal abad 20, para intelektual lokal mulai mengembangkan konsep Indonesia sebagai negara dan bangsa, dan menetapkan panggung untuk gerakan kemerdekaan.[7]

Pendudukan Jepang pada Perang Dunia II melemahkan sebagian besar negara kolonial dan ekonomi Belanda. Setelah Jepang menyerah pada bulan Agustus 1945, kaum nasionalis Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan yang mereka perjuangkan selama Revolusi Nasional Indonesia yang terjadi pada bulan-bulan berikutnya. Belanda secara formal mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949 dan menyerahkan seluruh wilayah bekas jajahannya, dengan pengecualian wilayah Papua (Nugini Belanda), yang diserahkan ke Indonesia 14 tahun kemudian pada tahun 1963 berdasarkan ketentuan Persetujuan New York di Markas Besar PBB.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata Hindia berasal dari bahasa bahasa Latin: Indus. Nama asli Dutch Indies (bahasa Belanda: Nederlandsch-Indië) diterjemahkan oleh orang Inggris sebagai "Hindia Timur Belanda", untuk membedakannya dengan Hindia Barat Belanda. Nama "Hindia Belanda" tercatat dalam dokumen Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada awal tahun 1620-an.[8]

Para sejarawan yang menulis dalam bahasa Inggris menggunakan istilah Indië, Hindia, Hindia Timur Belanda, Hindia Belanda, dan kolonial Indonesia secara bergantian.[9]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kekuasaan VOC[sunting | sunting sumber]

Peta dunia yang menampilkan kekuasaan kekuatan kolonial, pendudukan Hindia Belanda dapat dilihat dengan warna jingga di wilayah Asia Tenggara.

Berabad-abad sebelum orang-orang Eropa tiba, wilayah kepulauan Indonesia dihuni berbagai entitas, termasuk kerajaan-kerajaan perdagangan pesisir yang berorientasi komersial dan kerajaan agraris pedalaman (yang paling penting adalah Sriwijaya dan Majapahit).[10] Bangsa Eropa pertama yang tiba adalah Portugis pada tahun 1512. Setelah menemui gangguan terhadap akses rempah-rempah di Eropa,[11] Belanda melakukan ekspedisi pelayaran pertama ke Hindia Timur pada tahun 1595 untuk mendapatkan rempah-rempah secara langsung dari Asia. Ketika mereka menghasilkan keuntungan hingga 400%, ekspedisi Belanda lainnya segera menyusul. Menyadari potensi perdagangan Hindia Timur, pemerintah Belanda menggabungkan para perusahaan pesaing ke Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC).[11]

VOC diberikan hak istimewa untuk berperang, membangun benteng, dan membuat perjanjian di seluruh Asia.[11] Ibu kota didirikan di Batavia (sekarang Jakarta), yang menjadi pusat jaringan perdagangan VOC di Asia.[12] Untuk monopoli asli mereka seperti pala, paprika, cengkeh dan kayu manis, VOC dan kemudian pemerintah kolonial memperkenalkan tanaman asing untuk non-pribumi seperti kopi, teh, kakao, tembakau, karet, gula dan opium, dan menjaga kepentingan komersial mereka dengan mengambil alih wilayah sekitarnya.[12] Penyelundupan, biaya perang, korupsi, dan kesalahan manajemen yang terus berlanjut menyebabkan kebangkrutan pada akhir abad ke-18. VOC secara resmi dibubarkan pada tahun 1800 dan barang-barangnya di kepulauan Indonesia (termasuk sebagian besar Jawa, sebagian Sumatera, sebagian besar Maluku, dan daerah pedalaman pelabuhan seperti Makassar, Manado, dan Kupang) dinasionalisasi di bawah Republik Belanda sebagai Hindia Belanda.[13]

Sejarah sosial[sunting | sunting sumber]

Para anggota Volksraad pada tahun 1918: D. Birnie (Belanda), Kan Hok Hoei (Tionghoa), R. Sastro Widjono dan M.N. Dwidjo Sewojo (Jawa).
Jamuan 'Selamatan' di Buitenzorg, sebuah jamuan umum di kalangan umat Muslim Jawa.

Pada tahun 1898, jumlah penduduk di Jawa telah mencapai angka 28 juta, sedangkan 7 juta jiwa lainnya menduduki pulau-pulau terluar Indonesia.[14] Pada paruh pertama abad ke-20, imigrasi besar-besaran mulai dilakukan oleh orang Belanda dan Eropa lainnya menuju koloni, tempat mereka bekerja di sektor pemerintah atau swasta. Pada tahun 1930, ada lebih dari 240.000 orang dengan status hukum Eropa di koloni tersebut, sekitar 0.5% dari jumlah total populasi.[15] Sekitar 75% dari orang-orang Eropa ini pada faktanya orang asli Eurasia yang dikenal dengan sebutan Indo-Eropa.[16]

Sensus 1930 di Hindia Belanda[17]
Peringkat Kelompok Angka Persentase
1 Orang asli (Pribumi) 59,138,067 97.4%
2 Tionghoa 1,233,214 2.0%
3 Orang Belanda dan Eurasia 240,417 0.4%
4 Orang asing Timur lainnya 115,535 0.2%
Total 60,727,233 100%

Pihak penjajah Belanda membentuk kelas sosial atas istimewa yang terdiri dari prajurit, pegawai pemerintah, manajer, guru dan para pelopor. Mereka hidup bersama dengan para "pribumi", namun berada di puncak sistem kasta sosial dan rasial yang kaku.[18][19] Hindia Belanda memiliki dua kelas hukum untuk seorang warga negara; Eropa dan pribumi. Kelas ketiga, orang Timur asing, ditambahkan pada tahun 1920.[20]

Pada tahun 1901, Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut sebagai Politik Etis, di mana pemerintah kolonial memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Langkah-langkah baru lainnya di bawah kebijakan tersebut mencakup program irigasi, transmigrasi, komunikasi, mitigasi banjir, industrialisasi, dan perlindungan industri pribumi.[21] Industrialisasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap mayoritas penduduk Indonesia, dan Indonesia tetap saja merupakan koloni yang bergantung pada pertanian. Pada tahun 1930, ada 17 kota dengan populasi lebih dari 50.000 dan populasi gabungan mereka berjumlah 1.87 juta dari total 60 juta.[22]

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Perkembangan olahraga Hindia Belanda yang paling dominan adalah di bidang sepak bola, pada awal 1900-an berdiri klub-klub seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung.

Momen yang paling fenomenal adalah ketika Tim nasional sepak bola Hindia Belanda menjadi kontestan di Piala Dunia 1938 di Perancis. Mereka merupakan kontestan pertama dari Asia. Sayangnya, mereka tersingkir di babak pertama setelah dikalahkan oleh Tim nasional sepak bola Hongaria 0-6 di Stadion Velodrome Municipale, Reims, Prancis

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1]
  2. ^ Friend (1942), Vickers (2003), Ricklefs (1991), Reid (1974), Taylor (2003).
  3. ^ https://www.un.org/en/decolonization/nonselfgov.shtml
  4. ^ Empires and Colonies. 
  5. ^ Booth, Anne, et al. Indonesian Economic History in the Dutch Colonial Era (1990), Ch 8
  6. ^ R.B. Cribb and A. Kahin, hlm. 118
  7. ^ Robert Elson, The idea of Indonesia: A history (2008) hlmn 1-12
  8. ^ Dagh-register gehouden int Casteel Batavia vant passerende daer ter plaetse als over geheel Nederlandts-India anno 1624–1629."bahasa Inggris: "The official register at Castle Batavia, of the census of the Dutch East Indies VOC. 1624. 
  9. ^ Gouda, Frances. Dutch Culture Overseas: Colonial Practice in the Netherlands Indies, 1900-1942 (1996) online
  10. ^ Taylor (2003)
  11. ^ a b c Ricklefs (1991), hlm. 27
  12. ^ a b Vickers (2005), hlm. 10
  13. ^ Ricklefs (1991), hlm. 110; Vickers (2005), hlm. 10
  14. ^ Furnivall, J.S. (1967) [1939]. Netherlands India: a Study of Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 9. ISBN 0-521-54262-6.  Cited in Vicker, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia. Cambridge University Press. hlm. 9. ISBN 0-521-54262-6. 
  15. ^ Beck, Sanderson, (2008) South Asia, 1800-1950 - World Peace Communications ISBN 0-9792532-3-3, ISBN 978-0-9792532-3-2 - By 1930 more European women had arrived in the colony, and they made up 113,000 out of the 240,000 Europeans.
  16. ^ Van Nimwegen, Nico De demografische geschiedenis van Indische Nederlanders, Laporan no. 64 (Publisher: NIDI, Den Haag, 2002) hlmn. 36 ISBN 9789070990923
  17. ^ Van Nimwegen, Nico (2002). "64". De demografische geschiedenis van Indische Nederlanders [The demography of the Dutch in the East Indies] (PDF). The Hague: NIDI. hlm. 35. ISBN 9789070990923. 
  18. ^ Vickers (2005), hlm. 9
  19. ^ Reid (1974), hlm. 170, 171
  20. ^ Cornelis, Willem, Jan (2008). [[[:id:Vreemde Oosterlingen]] and [2] De Privaatrechterlijke Toestand: Der Vreemde Oosterlingen Op Java En Madoera ( Don't know how to translate this, the secret? private? hinterland. Java nd Madoera)] (PDF). Bibiliobazaar. ISBN 978-0-559-23498-9. 
  21. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama LP_23-25
  22. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Reid 1974, p. 1

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java]. Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2. 
  • Cribb, R.B., Kahin, A. Historical dictionary of Indonesia (Scarecrow Press, 2004)
  • Dick, Howard, et al. The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia, 1800-2000 (U. of Hawaii Press, 2002) online edition
  • Friend, T. (2003). Indonesian Destinies. Harvard University Press. ISBN 0-674-01137-6. 
  • Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3. 
  • Reid, Anthony (1974). The Indonesian National Revolution 1945–1950. Melbourne: Longman Pty Ltd. ISBN 0-582-71046-4. 
  • Nieuwenhuys, Rob Mirror of the Indies: A History of Dutch Colonial Literature - translated from Dutch by E. M. Beekman (Publisher: Periplus, 1999) Google Books
  • Prayogo, Wisnu Agung (2009). "Sekilas Perkembangan Perfilman di Indonesia" (dalam bahasa Indonesian). Kebijakan Pemerintahan Orde Baru Terhadap Perfilman Indonesia Tahun 1966–1980 (Bachelour's of History Thesis). University of Indonesia. 
  • Ricklefs, M.C. (1991). A Modern History of Indonesia, 2nd edition. MacMillan. chapters 10–15. ISBN 0-333-57690-X. 
  • Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press. ISBN 0-300-10518-5. 
  • Vickers, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia. Cambridge University Press. ISBN 0-521-54262-6. 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Booth, Anne, et al. Indonesian Economic History in the Dutch Colonial Era (1990)
  • Bosma U., Raben R. Being "Dutch" in the Indies: a history of creolisation and empire, 1500–1920 (University of Michigan, NUS Press, 2008), ISBN 9971-69-373-9 [3]
  • Bosma, Ulbe. Emigration: Colonial circuits between Europe and Asia in the 19th and early 20th century, European History Online, Mainz: Institute of European History, 2011, retrieved: 23 May 2011.
  • Colombijn, Freek, and Thomas Lindblad, eds. Roots of violence in Indonesia: Contemporary violence in historical perspective (Leiden: KITLV Press, 2002)
  • Dick, Howard, et al. The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia, 1800-2000 (U. of Hawaii Press, 2002) online edition
  • Elson, Robert. The idea of Indonesia: A history (Cambridge University Press, 2008)
  • Braudel, Fernand, The perspective of the World, vol III in Civilization and Capitalism, 1984
  • Furnivall, J. S. (1944). Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge U.P. hlm. viii. ISBN 9781108011273. , comprehensive coverage
  • Gouda, Frances. Dutch Culture Overseas: Colonial Practice in the Netherlands Indies, 1900-1942 (1996) online
  • Nagtegaal, Luc. Riding the Dutch Tiger: The Dutch East Indies Company and the Northeast Coast of Java, 1680–1743 (1996) 250pp
  • Robins, Nick. The Corporation that Changed the World: How the East India Company Shaped the Modern Multinational (2006) excerpt and text search
  • Taylor, Jean Gelman. The Social World of Batavia: Europeans and Eurasians in Colonial Indonesia (1983)
  • Lindblad, J. Thomas (1989). "The Petroleum Industry in Indonesia before the Second World War". Bulletin of Indonesian Economic Studies 25 (2): 53–77. 
  • Panikkar, K. M. (1953). Asia and Western dominance, 1498-1945, by K.M. Panikkar. London: G. Allen and Unwin.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 2°00′LS 118°00′BT / 2°LS 118°BT / -2.0; 118.0