Kerajaan Fatagar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kerajaan Fatagar

Petuanan Fatagar
1600an
Ibu kotaFakfak
Bahasa yang umum digunakanIndonesia (resmi)
Melayu Papua (utama)
bahasa daerah papua (asli)
Agama
Islam Sunni
PemerintahanKerajaan
Rat, Raja 
• 1600an–tidak diketahui
Maraitat
• tidak diketahui–1800
Kanumbas
• 1800–1899
Kurkur
• 1899–1942
Mafa[1]
• 1942–1943
Kamarudin
• 1956–2009
Said Arobi Uswanas
• 2009–sekarang
Taufiq Heru Uswanas
Sejarah 
• Pembentukan
1600an
Sekarang bagian dari Indonesia

Kerajaan Fatagar (Melayu Papua: Petuanan Fatagar) adalah kerajaan Islam yang didirikan klan Uswanas. Ibukotanya terletak di Merapi, sebelah timur Distrik Fakfak, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Indonesia.[2] Petuanan Fatagar memiliki wilayah adat di Distrik Fakfak dan Distrik Pariwari.[3]

Asal muasal[sunting | sunting sumber]

Ada dua legenda mengenai asal muasal kerajaan Fatagar, legenda pertama kerajaan Fatagar berasal dari penguasa yang berkedudukan di Ugar. Dalam memori Galis salah satu wilayah dalam pengaruh Kerajaan Majapahit adalah Onin yang dicatat sebagai Wanin. Ekspedisi Frobenius sekitar tahun 1937 menemukan sebuah kota perbentengan dengan berbagai kubu dan parit pertahanan di Ugar. Sehingga bisa dipastikan benar adanya penguasa di Ugar. Dalam memori Galis tersebut disebutkan pula kisah penduduk lokal di antara Teluk Patipi dan Rumbati tentang ekspedisi Jawa yang berlangsung pada abad 15. [4]

Menurut legenda kedua dalam Memori van Milligen Gunung Bah-Bah, dikisahkan bahwa tempat asal pendiri kampung di wilayah tersebut adalah Gunung Baik atau Bai, sebuah pegunungan curam. Dari Gunung Baik itu sekelompok orang berangkat ke Onin sedangkan kelompok lain berangkat ke selatan yang sekarang menjadi Kowiai (Namatota dan Kaimana). Kisah tersebut dianggap kisah penciptaan, sebab dalam kisah Gunung Baik disebutkan Gunung tersebut merupakan asal munculnya berbagai kelompok yang menghuni di Bumi. [4]

Sejarah Kerajaan Fatagar[sunting | sunting sumber]

Menurut A.L. Vink dalam memorie-(vervolg) van Overgrave van de (Onder)Afdeeling West Nieuw Guinea, 1932, leluhur keturunan raja Fatagar dan Patipi adalah keturunan lokal. Leluhur tersebut disebutkan adalah Wariyang, yang pada suatu hari ketika matahari terbenam melihat wanita di puncak pohon kelapa yang kemudian dinikahinya. Dari perkawinan mereka keturunan raja sekarang dilahirkan. Orang pertama yang mendapat gelar raja oleh Sultan Tidore adalah Maraitat. Selanjutnya terjadi perpindahan raja Fatagar dari Pulau Ega ke Merapi. Menurut W.J. cator, dalam memorie-(vervolg) van Overgrave van de (Onder)Afdeeling West Nieuw Guinea, 22 Mei 1937, pada 1678 Johannes Keyts melakukan persetujuan dengan raja Roema Bati (Rumbati) dan Satraga (Fatagar), ia menyebut kedua pemimpin raja tersebut dengan kata-kata “saudara saya raja”, tidak diketahui sosok yang ia maksud namun bisa saja sosok itu adalah Maraitat dan setelahnya karena gelar Raja.

Berdasarkan cerita rakyat oleh Cosmos Tanggahma, juru bicara Kerajaan Fatagar, Raja Mafa (Nggar) keluar dari Pulau Nggar bersama Tanggahma yang sudah keluar lebih dahulu, melalui Pulau Panjang, dan tinggal di ujung Pulau Panjang. Kpadaran Uswanas (kakak) dan Tbedare Uswanas (adik) bertani akar tuba di Pulau Panjang. Suatu hari kedua kakak beradik tersebut berkelahi karena akar tuba, sehingga Tbedare pindah ke Kampung Mendopma bersama Weyamen. Di Kampung Mendopma ini, Tbedare membuka perkebunan Pala. Kpadaran yang kesepian di Pulau Panjang pergi ke Weri dan Pasir Putih. Kemudian berpindah ke Sorpeha, dan dilanjutkan ke Kampung Merapi.

Cerita ini sama dengan Muhammad Tanggahma dimana, Kpadaran adalah nama lain penguasa (dengan gelar raja) kedua Fatagar, raja Parar, anak Maraitat. Dalam kisah tambahan ini selain kedua kakak beradik tersebut ada adik perempuan bernama Wuhninihitora yang berparas cantik. Sehingga seorang Muri dari Baham ingin menikahinya. Muri tersebut berubah menjadi buaya dan menculik Wuhninihitora, sang buaya tersebut membawa putri ke Pulau Panjang di Tanasaweri (artinya air tawar), dari tempat itu lalu menyebrang ke Weri. Kapadaran dan Tebedare mencari adiknya ketika tidak mendapati mereka keluar dari Ngar menuju Pulau Panjang, dari sana lalu ke Weri, dimana mereka menjumpai adiknya. Dari Saweri (Pulau Panjang) lalu ke Sorpeha (Horhameng) dan kembali ke Kanasaweri/Tanasaweri. Barulah mereka bertengkar tentang akar tuba. Akar tersebut digunakan untuk berburu ikan saat air laut surut. Tebedari melihat bahwa akar tuba miliknya sudah tidak ada karena sudah dicabut Kapadaran. Mereka bertengkar lalu berpisah, Tebedari dibawa Weyamen ke Mendopma, sedangkan Kapadaran kembali ke Ngar. Dalam perjalanan kembali ini, Kapadaran mendamaikan konflik antara marga Kabes dan Hindom.

Setelah perpindahan raja Fatagar dari Pulau Ega ke Merapi, raja beserta istri dan lima orang anaknya meninggal di sana. Penguasa terakhir saat itu adalah Raja Tewar, dua putra tersisa miliknya adalah Mafa dan Ira yang dididik di Pasir Putih oleh seorang Alifuru (Maluku), setelah besar mereka tinggal dan menikah di Seram Laut. Ketika pengangkatan Haruna menjadi raja Atiati, Mafa dan Ira kembali ke Merapi, setelah 12 tahun ditinggalkan. Atas permohonan adat, Mafa diangkat menjadi raja Fatagar, dan Ira menjadi rajamuda. Akan tetapi rajamuda Ira diberhentikan tahun 1920 karena memeras rakyat, sehingga digantikan putra sulung Mafa, Kamarudin.

Saat Raja Tewar meninggal, warga bermarga Tanggahma, Dopis Tanggahma dan Abubakar Tanggahma menjemput Mafa dari Geser. Saat itu Mafa sedang belajar agama Islam di Geser. Ada 9 pendayung yang menjemput Mafa, Dopis, Abubakar, Tragar, Tetar, Mbua, Kasumba, Senang, Tenregma, dan Mandesiani. Sebelum ke Geser mereka bertanya seorang Buton. Dikisahkan mereka harus datang pagi-pagi dan melihat seorang laki-laki yang menggantungkan tasnya, itulah Mafa. Sebelum fajar menyingsing mereka memegang dan membawa Mafa ke perahu. Mafa sempat minta ijin untuk mengganti sarung dengan celana tapi tidak diperbolehkan karena jika semakin terang, banyak keluarga lain akan mengetahui dan ingin ikut serta, sehingga mereka tidak akan sampai Merapi Fakfak tepat waktu. Setelah Mafa diangkat jadi raja dan ayahnya dikuburkan, barulah Ira dijemput dari Geser ke Merapi.

Berdasarkan versi lain oleh Musa Hakim (ketua MUI Papbar) penjemputan Mafa ada keterlibatan Nahkoda Hakim. Ketika Belanda memasuki Fakfak para rakyat ketakutan, karena reaksi rakyat dan kesulitan komunikasi dalam bahasa melayu. Mereka teringat akan Mafa, anak keturunan mereka yang sudah tinggal di luar kampung di Gorom (Seram Timur), dia dianggap cakap dan mampu berbahasa melayu dengan baik, sehingga bisa menjadi penghubung masyarakat dan pihak Belanda. Atas kesepakatan ketua adat mereka menjemput Mafa dan dalam perjalanan meminta pertolongan Nahkoda Hakim dimana ia meminjamkan kapalnya. Keterlibatan seorang Nahkoda Hakim diakui keluarga raja Fatagar, walau Nahkoda Hakim sendiri tidak ikut, ini dikarenakan para pendayung tidak dapat menulis sehingga Nahkoda Hakim membuat penulisan surat penyerahan Mafa sebagai pengganti raja Tewar yang sudah meninggal. Nahkoda Hakim memegang pena bulu ayam, lalu Tenregma memegang tangan Nahkoda Hakim sambil mengikuti gerakan tangannya, sehingga surat tersebut sah ditulisnoleh perwakilan para pendayung penjemput. Mafa merupakan keturunan ke-7 dari Wariyang dan raja Fatagar ke-5 dari Maraitat. [4]

Sistem pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Aktivitas berperang merupakan kesibukan utama sebelum masuknya Tidore dan Belanda. Setiap kampung biasanya akan memiliki 2-3 perahu perang, dan bahkan sampai 7 perahu perang. Setiap perahu perang biasanya memiliki 18 awak dan pandayung, diperlengkapi panah, busur, dan tombak. Selain itu juga kapak batu, pentungan, tombak panjang, dan perisai setinggi manusia. Sebelum besi digunakan senjata terbuat dari tulang burung kasuari. Senjata tersebut diikat dengan anyaman serat di pergelangan tangan.

Setelah pemerintahan Tidore masuk, para pemimpin di wilayah pantai barat Papua (Onin) diberi gelar raja (Rat), raja adalah agen perdagangan dan pemungut upeti untuk Tidore, dan tunduk pada Kesultanan Tidore. Sehingga inilah fungsi ekonomi Raja bagi rakyat di wilayah kekuasaannya, yang lebih dominan dibandingkan fungsi di bidang politik. Bisa dibilang hubungan awal dengan Tidore adalah dengan perompakan, setelah damai barulah terjalin hubungan dagang. Awalnya orang-orang yang pengaruhnya menonjol akan diangkat sebagai kepala adat oleh dan atas nama Sultan Tidore. Hubungan dimulai melalui perantaraan raja Lilinta (Misool) seperti pada keputusan mengangkat Abdul Rachim sebagai raja Patipi tertanggal 15 Juni 1896, namun setelah itu hubungab langsung tanpa perantaraan juga terjalin. Sehingga pengaruh dan hubungan perniagaan dengan Tidore cukup kuat.[5] [4]

Secara birokrasi, raja Fatagar mengangkat wakil sebagai perpanjangan tangannya, ada beberapa gelar perangkat tradisional yang meliputi, Raja, Raja Muda, Sangaji, Mayor, Kapitan, Jajau, Warnemin, Suruhan, Pandayung. Raja merupakan pimpinan tertinggi, yang bertugas untuk memerintah kepala kampung. Tongkat dan tali dari kulit kayu lapisan kedua pohon drek diikat pada lengan Suruhan untuk menyampaikan pesan ke kepala kampung, dimana setelah menyelsaikan tugasnya, Suruhan kembali melapor Raja. Selain itu Raja berwenang mengangkat Kapitan, Mayor, Sangaji, Jajau (Jojau), Warnemen, jabatan-jabatan yg setingkat tetapi dibawah Raja muda. Lalu dibawah Sangaji ada pula jabatan Warnemin. Raja diharapkan menyelsaikan konflik atau sengketa antar penduduk dan menjadi hakim dalam keputusan adat. [4]

Pengaruh Belanda mulai masuk terutama setelah pendirian Fort du Bus di Teluk Triton, dekat Lobo pada tanggal 24 Agustus 1828, walau akhirnya ditinggalkan di 1836 karena sakit malaria, kudis, dan typhus. Pemerintahan kolonial Belanda menegakkan kekuasannya di Papua pada tahun 1898 dengan pendirian Afdeeling Niew Guinea Utara dan Afdeeling Nieuw Guinea Barat dan Selatan. Kewajiban membayar upeti kepada Sultan Tidore dihilangkan walaupun diatas kertas wilayah tersebut masuk swapraja Tidore. Raja-raja dikukuhkan oleh Belanda dan diberi gaji yang merupakan bagian dari kumpulan pemungutan pajak dari kepala kampung. Mereka menjadi mitra bagi pemerintah Belanda, meskipun dalam hampir semua aspek campur tangan Belanda.[6] [4]

Kewajiban raja bertambah meliputi, pengesahan perkawinan penduduk beragama Islam, memberikan persetujuan untuk membuka kebun, penghubung Belanda dengan penduduk, bila raja tidak bisa memutuskan perkara maka akan diserahkan kepada Polisi Keamanan Belanda, mengutip pajak/belasting dalam bentuk uang atau hasil kebun seperti pala. Jumlahnya akan ditentukan dengan jumlah panen, dimana per orang adalah f.42, yang kemudian akan diserahkan ke pemerintah kolonial Belanda. Lalu terakhir membuka sasi sebagai tanda panen raya pala boleh dimulai penduduk. Sasi dipasang atas persetujuan pemilik kebun pala untuk mempertahankan kualitas pala yang hanya dipetik setelah matang. Hukuman bagi yang melanggar sasi bisa kehilangan nyawanya. Bentuk sasi adalah bambu suling yang disusun bersila, biasa yang disasi teripang di laut dan pala di darat. Pemberlakuan sasi bertalian dengan sumber mata pencaharian penduduk lokal yaitu pala, sedangkan pusat penghasil teripang adalah Pulau Pisang dan Pulau Karas. [4]

Setelah pemerintahan Indonesia, tugas raja berkurang dan di era kemerdekaan ini raja Fatagar lebih memiliki fungsi adat seperti meredam konflik yang disebabkan keragaman suku dan agama. [4]

Daftar Raja Fatagar[sunting | sunting sumber]

Nama [4] Tahun Berkuasa
Wariyang tidak diketahui
Nawai tidak diketahui
Nansoerai tidak diketahui
Maraitat 1600an
Parar atau Kapadaran tidak diketahui
Baniki tidak diketahui
Tewar atau Tewal 1724-1814 [7]
Mafa 1899-1942 [1]
Kamarudin 1942-1943
Ahmad 1943-1956
Arobi Said 1956-2009
Taufiq Heru 2009-sekarang

Warisan[sunting | sunting sumber]

Perkembangan Kerajaan Fatagar juga sangat bergantung pada campur tangan Kesultanan Tidore, sehingga tidak banyak bukti sejarah yang dapat dikumpulkan mengenai kehidupan sosial budaya di Kerajaan ini, termasuk penyebaran Islam. Salah satu peninggalan sejarah yang ditemukan di Fakfak adalah Masjid Tunasgain yang diperkirakan dibangun pada tahun 1587 Masehi.[8]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Landsdrukkerij". Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1904 (dalam bahasa Belanda). Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1904. hlm. 296. 
  2. ^ "Sejarah Kerajaan Fatagar". prezi.com. Diakses tanggal 17 June 2021. 
  3. ^ "Kisah Kerajaan Islam Di Fakfak Papua Barat, Ada Sejak Abad 16". travel.detik.com. Diakses tanggal 17 June 2021. 
  4. ^ a b c d e f g h i Usmany, Dessy Polla (2014). Kerajaan Fatagar dalam Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Fakfak Papua Barat. Yogyakarta: Kepel Press. hlm. 39–73. ISBN 978-602-1228-79-1. 
  5. ^ "Jejak Penyebaran Islam Di Fakfak". jubi.co.id. Diakses tanggal 17 June 2021. 
  6. ^ "Jejak Penyebaran Islam Di Fakfak". jubi.co.id. Diakses tanggal 17 June 2021. 
  7. ^ Wanggai, Tony V.M. (2008) (dalam bahasa id). Rekonstruksi Sejarah Islam di Tanah Papua (Thesis). UIN Syarif Hidayatullah. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/7292/1/Toni%20Victor%20M.%20Wanggai_Rekonstruksi%20Sejarah%20Umat%20Islam%20di%20Tanah%20Papua.pdf. Diakses pada 2022-01-30. 
  8. ^ "Peninggalan Islam Di Tanah Papua". www.selasar.com. Diakses tanggal 17 June 2021.