Kesultanan Tidore

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Lukisan Sultan Saifuddin dari Tidore (bertahta 1657-1689)

Kesultanan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara, Indonesia sekarang. Pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera selatan, Pulau Buru, Ambon, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.

Pada tahun 1521, Sultan Mansur dari Tidore menerima Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Ternate saingannya yang bersekutu dengan Portugis. Setelah mundurnya Spanyol dari wilayah tersebut pada tahun 1663 karena protes dari pihak Portugis sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1494, Tidore menjadi salah kerajaan paling independen di wilayah Maluku. Terutama di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin (memerintah 1657-1689), Tidore berhasil menolak pengusaan VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah merdeka hingga akhir abad ke-18.

Awal Perekembangan Kerajaan Tidore[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Muhammad Naqal yang naik tahta pada tahun 1081 M. Baru pada tahun 1471 M, agama Islam masuk di kerajaan Tidore yang dibawa oleh Ciriliyah, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliyah atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.

Aspek Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Aspek Kehidupan Politik dan Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.

Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial[sunting | sunting sumber]

Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.

Kerajaan Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.

Kemunduran Kerajaan Tidore[sunting | sunting sumber]

Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu Domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

Daftar Raja-Raja Tidore[sunting | sunting sumber]

  1. Kolano Syahjati alias Muhammad Nakil bin Jaffar Assidiq
  2. Kolano Bosamawange
  3. Kolano Syuhud alias Subu
  4. Kolano Balibunga
  5. Kolano Duko adoya
  6. Kolano Kie Matiti
  7. Kolano Seli
  8. Kolano Matagena
  9. 1334-1372: Kolano Nuruddin
  10. 1372-1405: Kolano Hasan Syah
  11. 1495-1512: Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin
  12. 1512-1526: Sultan Al Mansur
  13. 1526-1535: Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen
  14. 1535-1569: Sultan Kiyai Mansur
  15. 1569-1586: Sultan Iskandar Sani
  16. 1586-1600: Sultan Gapi Baguna
  17. 1600-1626: Sultan Mole Majimo alias Zainuddin
  18. 1626-1631: Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah; memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Biji Negara di Toloa.
  19. 1631-1642: Sultan Gorontalo alias Saiduddin
  20. 1642-1653: Sultan Saidi
  21. 1653-1657: Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin
  22. 1657-1674: Sultan Saifuddin alias Jou Kota; memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Salero, di Limau Timore (Soasio)
  23. 1674-1705: Sultan Hamzah Fahruddin
  24. 1705-1708: Sultan Abdul Fadhlil Mansur
  25. 1708-1728: Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia
  26. 1728-1757: Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan
  27. 1757-1779: Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin
  28. 1780-1783: Sultan Patra Alam
  29. 1784-1797: Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar
  30. 1797-1805: Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati, Nuku
  31. 1805-1810: Sultan Zainal Abidin
  32. 1810-1821: Sultan Motahuddin Muhammad Tahir
  33. 1821-1856: Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah. Pembangunan Kadato Kie
  34. 1856-1892: Sultan Achmad Syaifuddin Alting
  35. 1892-1894: Sultan Achmad Fatahuddin Alting
  36. 1894-1906: Sultan Achmad Kawiyuddin Alting Alias Shah Juan. Setelah wafat, terjadi Masa awal konflik internal, (Kadato kie dihancurkan) hingga vakumnya kekuasaan.
  37. 1947-1967: Sultan Zainal Abidin Syah; pasca wafat, vakumnya kekuasaan.
  38. 1999-2012: Sultan Hi. Djafar Syah. Pembangunan Kadato Kie kembali
  39. 2012- kini : Sultan Husien syah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]