Maluku Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Disambig gray.svg
Maluku Utara
Moloku Kie Raha
Bendera Lambang
Bendera Lambang
Sunrise-Ternate1.jpg
Sunrise di Kota Ternate
Julukan: Spice Island[1]
Semboyan: Marimoi Ngone Futuru
(Ternate: Bersatu Kita Teguh)
Locator malut final.png
Hari jadi 4 Oktober 1999 (hari jadi)
Dasar hukum UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003
Ibu kota Sofifi
Area
 - Total luas 31.982 km2
Populasi (2010)
 - Total 1.038.087
 - Kepadatan 32/km2
Pemerintahan
 - Gubernur Abdul Ghani Kasuba
 - Wakil Gubernur Muhammad Natsir Thaib
 - Ketua DPRD Alien Mus
 - Sekretaris Daerah Muabdin H. Radjab
 - Kabupaten 8
 - Kota 2
 - Kecamatan 112
 - Kelurahan 1071
APBD
 - DAU Rp. 772.591.162.000.-
Demografi
 - Suku bangsa Tobelo (10,78%), Galela (9,70%), Ternate (9,40%), Makian (8,51%), Tidore (7,76%), Sula (6,98%), Buton (5,67%), Jawa (4,12%), Sangir (3,04%), Loloda (2,61%), Tobaru (2,24%), Kao (2,15%), Bugis (2,01%), Patani (1,84%), Bajo (1,72%), lainnya (21,46%)[2]
 - Agama Islam (74,28%), Protestan (24,90%), Katholik (0.52%), Hindu (0,02%), Buddha (0,01), Konghucu (0,02), Lainnya (0,25%)[3]
 - Bahasa Melayu Ternate
Zona waktu WIT (UTC+9)
Situs web www.malukuutaraprov.go.id

Maluku Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia. Maluku Utara resmi terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999, melalui UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003. Sebelum resmi menjadi sebuah provinsi, Maluku Utara merupakan bagian dari Provinsi Maluku, yaitu Kabupaten Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah.

Pada awal pendiriannya, Provinsi Maluku Utara beribukota di Ternate yang berlokasi di kaki Gunung Gamalama, selama 11 tahun. Tepatnya sampai dengan 4 Agustus 2010, setelah 11 tahun masa transisi dan persiapan infrastruktur, ibukota Provinsi Maluku Utara dipindahkan ke Kota Sofifi yang terletak di Pulau Halmahera yang merupakan pulau terbesarnya.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Istilah Maluku pada awalanya merujuk pada keempat pusat kesultanan di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Suatu bentuk konfederasi tertentu dari kempat kerajaan tersebut yang kemungkinan besar muncul pada abad ke-14, disebut Moloku Kie Raha atau "Empat Gunung Maluku". Walaupun kemudian keempat kerajaan itu berekspansi dan mencakup seluruh wilayah Maluku Utara (sekarang) dan sebagian wilayah Sulawesi dan Papua, namun wilayah ekspansi itu tidak termasuk dalam istilah Maluku yang hanya merujuk pada keempat pusat kesulatanan di Maluku Utara.

Dari segi Etimologi arti kata Maluku memang tidak terlalu jelas, sehingga menjadi bahan perdebatan dari berbagai pakar dan ahli. Pendapat yang umum dipakai mengatakan bahwa istilah Maluku berasal dari bahasa Arab dengan bentuk aslinya diperkirakan sebagai Jaziratul Muluk, yang berarti "Negeri para Raja" (muluk adalah bentuk jamak dari malik yang berarti raja). Dengan demikian wilayah kepulauan Ambon dan sebagian wilayah kepulauan Banda pada masa itu tidak termasuk dalam pengertian asli dari istilah Maluku.[4]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Provinsi Maluku Utara terdiri dari 395 pulau, jumlah pulau yang dihuni sebanyak 64 buah dan sisanya sebanyak 331 buah tidak berpenghuni.

Pulau Area (km2) Populasi
2010
Kepadatan Titik Tertinggi Ketinggian Geolokasi
Morotai 2.266,4 52.697 23,25/km2 - - 2°19′LU 128°46′BT / 2,32°LU 128,77°BT / 2.32; 128.77
Halmahera 18.039.6 449.938 24,94/km2 Gunung Gamkonora 1.635 m (5.364 ft) 0°36′LU 127°52′BT / 0,6°LU 127,87°BT / 0.60; 127.87
Ternate 106,2 185.705 1.748,63/km2 Gunung Gamalama 1.715 m (5.627 ft) 0°49′LU 127°20′BT / 0,81°LU 127,33°BT / 0.81; 127.33
Tidore 116,1 52.836 455,09/km2 Kie Matubu 1.730 m (5.680 ft) 0°40′LU 127°24′BT / 0,67°LU 127,4°BT / 0.67; 127.40
Makian 113,1 12.394 109,58/km2 Kie Besi 1.357 m (4.452 ft) 0°19′LU 127°23′BT / 0,32°LU 127,38°BT / 0.32; 127.38
Kayoa - 16.707 - Gunung Tigalalu 422 m (1.385 ft) 0°01′LU 127°26′BT / 0,02°LU 127,43°BT / 0.02; 127.43
Gebe - 4.463 - - - 0°05′LS 129°27′BT / 0,08°LS 129,45°BT / -0.08; 129.45
Kasiruta 472,6 8.368 17,71/km2 - - 0°22′LS 127°12′BT / 0,37°LS 127,2°BT / -0.37; 127.20
Bacan 1.899,8 60.742 31,97/km2 Buku Sibela 2.120 m (6.955 ft) 0°37′LS 127°32′BT / 0,62°LS 127,53°BT / -0.62; 127.53
Mandioli 229,8 8.788 38,24/km2 - - 0°42′LS 127°11′BT / 0,7°LS 127,18°BT / -0.70; 127.18
Obi 2.542,3 29.642 12,66/km2 - - 1°32′LS 127°46′BT / 1,53°LS 127,77°BT / -1.53; 127.77
Taliabu 2.913,2 47.309 16,24/km2 - - 1°47′LS 124°52′BT / 1,78°LS 124,87°BT / -1.78; 124.87
Mangoli 1.228,5 36.323 29,57/km2 - - 1°51′LS 125°50′BT / 1,85°LS 125,83°BT / -1.85; 125.83
Sulabesi 557,8 48.892 87,65/km2 - - 2°14′LS 125°56′BT / 2,23°LS 125,93°BT / -2.23; 125.93

Geologi[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Maluku Utara terbentuk dari pergerakan tiga lempeng tektonik , yaitu Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia yang terjadi sejak zaman kapur. pergerakan ini membentuk busur kepulauan gunung api kuarter yang membentang dari utara ke selatan di Halmahera bagian barat, diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare dan Pulau Makian. Pulau Halmahera sendiri merupakan pulau vulkanik meskipun aktivitas vulkanik yang terjadi hanya pada sebagian wilayahnya.

Nama Bentuk Ketinggian Pulau Geolokasi
Gunung Tarakan kerucut piroklastik 318 m (1.043 ft) Halmahera 1°50′LU 127°50′BT / 1,83°LU 127,83°BT / 1.83; 127.83
Gunung Dukono kompleks 1.335 m (4.380 ft) Halmahera 1°41′LU 127°53′BT / 1,68°LU 127,88°BT / 1.68; 127.88
Gunung Tobaru stratovulkan 1.035 m (3.396 ft) Halmahera 1°38′LU 127°40′BT / 1,63°LU 127,67°BT / 1.63; 127.67
Gunung Ibu stratovulkan 1.325 m (4.347 ft) Halmahera 1°29′LU 127°38′BT / 1,49°LU 127,63°BT / 1.49; 127.63
Gunung Gamkonora stratovulkan 1.635 m (5.364 ft) Halmahera 1°23′LU 127°32′BT / 1,38°LU 127,53°BT / 1.38; 127.53
Gunung Todoko-Ranu kaldera 979 m (3.212 ft) Halmahera 1°15′LU 127°28′BT / 1,25°LU 127,47°BT / 1.25; 127.47
Gunung Jailolo stratovulkan 1.130 m (3.710 ft) Halmahera 1°05′LU 127°25′BT / 1,08°LU 127,42°BT / 1.08; 127.42
Gunung Hiri stratovulkan 630 m (2.070 ft) Hiri 0°54′LU 127°19′BT / 0,9°LU 127,32°BT / 0.90; 127.32
Gunung Gamalama stratovulkan 1.715 m (5.627 ft) Ternate 0°49′LU 127°20′BT / 0,81°LU 127,33°BT / 0.81; 127.33
Kie Matubu stratovulkan 1.730 m (5.680 ft) Tidore 0°39′29″LU 127°24′00″BT / 0,658°LU 127,4°BT / 0.658; 127.40
Gunung Mare stratovulkan 308 m (1.010 ft) Mare 0°34′LU 127°24′BT / 0,57°LU 127,4°BT / 0.57; 127.40
Gunung Moti stratovulkan 950 m (3,120 ft) Moti 0°27′LU 127°24′BT / 0,45°LU 127,4°BT / 0.45; 127.40
Kie Besi stratovulkan 1.357 m (4.452 ft) Makian 0°19′LU 127°24′BT / 0,32°LU 127,4°BT / 0.32; 127.40
Gunung Tigalalu stratovulkan 422 m (1.385 ft) Kayoa 0°04′LU 127°25′BT / 0,07°LU 127,42°BT / 0.07; 127.42
Bukit Amasing stratovulkan 1.030 m (3.380 ft) Bacan 0°32′LS 127°29′BT / 0,53°LS 127,48°BT / -0.53; 127.48
Bukit Bibinoi stratovulkan 900 m (3.000 ft) Bacan 0°46′LS 127°43′BT / 0,77°LS 127,72°BT / -0.77; 127.72
Sumber: Global Volcanism Program.[5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Peta Kepulauan Maluku Utara karya seorang kartografer Belanda, Willem Janszoon Blaeu, pada tahun 1630. Arah utara berada di sebelah kanan, dengan Pulau Ternate terletak di ujung kanan, diikuti oleh Pulau Tidore, Mare, Moti dan Kepulauan Makian. Pada bagian bawah adalah Gilolo (Jailolo atau Halmahera). Inset yang berada di atas menunjukkan Pulau Bacan.

Sebelum penjajahan[sunting | sunting sumber]

Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku), yaitu:

Pendudukan militer Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada era ini, Ternate menjadi pusat kedudukan penguasa Jepang untuk wilayah Pasifik.

Zaman kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Orde Lama[sunting | sunting sumber]

Pada era ini, posisi dan peran Maluku Utara terus mengalami kemorosotan, kedudukannya sebagai karesidenan sempat dinikmati Ternate antara tahun 1945-1957. Setelah itu kedudukannya dibagi ke dalam beberapa Daerah Tingkat II (kabupaten).

Upaya merintis pembentukan Provinsi Maluku Utara telah dimulai sejak 19 September 1957. Ketika itu DPRD peralihan mengeluarkan keputusan untuk membentuk Provinsi Maluku Utara untuk mendukung perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat melalui Undang-undang Nomor 15 Tahun 1956, namun upaya ini terhenti setelah munculnya peristiwa pemberontakan Permesta.

Pada tahun 1963, sejumlah tokoh partai politik seperti Partindo, PSII, NU, Partai Katolik dan Parkindo melanjutkan upaya yang pernah dilakukan dengan mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-Gotong Royong (DPRD-GR) untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi Maluku Utara. DPRD-GR merespons upaya ini dengan mengeluarkan resolusi Nomor 4/DPRD-GR/1964 yang intinya memberikan dukungan atas upaya pembentukan Provinsi Maluku Utara. Namun pergantian pemerintahan dari orde lama ke orde baru mengakibatkan upaya-upaya rintisan yang telah dilakukan tersebut tidak mendapat tindak lanjut yang konkret.

Orde Baru[sunting | sunting sumber]

Pada masa Orde Baru, daerah Moloku Kie Raha ini terbagi menjadi dua kabupaten dan satu kota administratif. Kabupaten Maluku Utara beribukota di Ternate, Kabupaten Halmahera Tengah beribukota di Soa Sio, Tidore dan Kota Administratif Ternate beribukota di Kota Ternate. Ketiga daerah kabupaten/kota ini masih termasuk wilayah Provinsi Maluku.

Orde Reformasi[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, muncul pemikiran untuk melakukan percepatan pembangunan di beberapa wilayah potensial dengan membentuk provinsi-provinsi baru. Provinsi Maluku termasuk salah satu wilayah potensial yang perlu dilakukan percepatan pembangunan melalui pemekaran wilayah provinsi, terutama karena laju pembangunan antara wilayah utara dan selatan dan atau antara wilayah tengah dan tenggara yang tidak serasi.

Atas dasar itu, pemerintah membentuk Provinsi Maluku Utara (dengan ibukota sementara di Ternate) yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 tentang Pemekaran Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat.[6]

Dengan demikian provinsi ini secara resmi berdiri pada tanggal 12 Oktober 1999 sebagai pemekaran dari Provinsi Maluku dengan wilayah administrasi terdiri atas Kabupaten Maluku Utara, Kota Ternate dan Kabupaten Maluku Utara.

Selanjutnya dibentuk lagi beberapa daerah otonom baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula dan Kota Tidore.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Gubernur[sunting | sunting sumber]

No Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Ket. Wakil
North Maluku coa.png
Surasmin
(Pejabat Gubernur)
Oktober 1999
2000
[7][8]
Tidak ada
North Maluku coa.png
Muhyi Effendie
(Pejabat Gubernur)
2000
18 April 2002
SH Sarundajang.jpg Sinyo Harry Sarundajang
(Pejabat Gubernur)
18 April 2002
25 November 2002
[ket. 1]
1 Foto Gubernur MALUT Thaib Armayn.jpg Thaib Armaiyn
25 November 2002
25 November 2007
[ket. 2]
Madjid Abdullah
Timbul Pudjianto.jpg Timbul Pudjianto
(Pejabat Gubernur)
25 November 2007
29 September 2008
[ket. 3]
(1) Foto Gubernur MALUT Thaib Armayn.jpg Thaib Armaiyn
29 September 2008
29 September 2013
Abdul Ghani Kasuba
Tanribali.jpg Tanribali Lamo
(Pejabat Gubernur)
23 Oktober 2013
2 Mei 2014
[ket. 4]
2 Abdul gani kasuba.jpg Abdul Ghani Kasuba
2 Mei 2014
[ket. 5]
Muhammad Natsir Thaib

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Maluku Utara hasil Pemilihan Umum Legislatif 2014 tersusun dari dua belas partai, dengan perincian sebagai berikut:

Partai Kursi
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 8
Lambang PDI-P PDI-P 7
Lambang PKS PKS 5
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 5
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 4
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 3
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 3
Lambang PAN PAN 3
Lambang PBB PBB 3
Lambang PKPI PKPI 2
Lambang PKB PKB 1
Lambang PPP PPP 1
Total 45

Kabupaten dan Kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/Kota Pusat pemerintahan Bupati/Wali Kota Kecamatan Kelurahan/desa Logo
North Maluku coa.png
1 Kabupaten Halmahera Barat Jailolo Danny Missy Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Halmahera Barat.png
2 Kabupaten Halmahera Tengah Weda M. Al Yasin Ali Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Halmahera Tengah.png
3 Kabupaten Halmahera Timur Maba Rudy Erawan Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Halmahera Timur.png
4 Kabupaten Halmahera Selatan Labuha Helmi Surya Botutihe (Plh.) menggantikan Muhammad Kasuba Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Halmahera Selatan.jpeg
5 Kabupaten Halmahera Utara Tobelo Frans Maneri Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Halmahera Utara.png
6 Kabupaten Kepulauan Sula Sanana Mokhtar Umamit (Pj.) menggantikan
Ahmad Hidayat Mus
Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Kepulauan Sula.jpg
7 Kabupaten Pulau Morotai Daruba M. Syukur Lila (Pj.) Daftar kecamatan Daftar desa
Logo-Morotai.png
8 Kabupaten Pulau Taliabu Bobong Aliong Mus Daftar kecamatan Daftar desa
LOGO KABUPATEN PULAU TALIABU.png
9 Kota Ternate - Burhan Abdurahman Daftar kecamatan Daftar kelurahan
Lambang Kota Ternate.png
10 Kota Tidore Kepulauan - Ali Ibrahim Daftar kecamatan Daftar kelurahan
Lambang Kota Tidore Kepulauan.png


Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Buah Pala merupakan komoditi utama di Maluku Utara

Demografi[sunting | sunting sumber]

Populasi[sunting | sunting sumber]

Menurut sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Provinsi Maluku Utara sebanyak 1 038 087 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 2,47 persen. Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 4,12 persen di Kabupaten Halmahera Tengah hingga yang tertinggi sebesar 19,16 persen di Kabupaten Halmahera Selatan.

Suku[sunting | sunting sumber]

Masyarakat di Maluku Utara sangat beragam. Total ada sekitar 28 suku dan bahasa di Maluku Utara. Mereka dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan bahasa yang digunakan, yaitu Austronesia and non-Austronesia. Kelompok Austronesia tinggal di bagian tengah dan timur Halmahera. Mereka diantaranya adalah Suku Buli, Suku Maba, Suku Patani, Suku Sawai dan Suku Weda. Di Bagian Utara dan Barat Halmahera adalah kelompok bahasa non-Austronesia terdiri dari Suku Galela, Suku Tobelo, Suku Loloda, Suku Tobaru, Suku Modole, Suku Togutil, Suku Pagu, Suku Waioli, Suku Ibu, Suku Sahu, Suku Ternate dan Suku Tidore. Di Kepulauan Sula ada beberapa kelompok etnis seperti Suku Kadai, Suku Mange dan Suku Siboyo. Sebagian besar masyarakat di daerah ini mengerti Bahasa Ternate dan Tidore, meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa yang umum digunakan untuk berkomunikasi antar suku.[9]

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama di Maluku Utara[3]
Agama Persen(%)
Islam
  
74.28%
Protestan
  
24.90%
Katholik
  
0.52%
Hindu
  
0.02%
Buddha
  
0.01%
Konghucu
  
0.02%
Lainnya
  
0.25%


Sebagian besar penduduk di Maluku Utara beragama Islam, dengan orang-orang Kristen (kebanyakan Protestan) merupakan minoritas dengan jumlah yang signifikan. Hindu, Buddha, dan berbagai agama lokal lainnya dipraktikkan oleh sebagian kecil dari populasi.

Menurut hasil sensus tahun 2010, 74,28% dari 237.641.326 penduduk Maluku Utara adalah pemeluk Islam, 24,90% Protestan, 0,52% Katolik, 0,02% Hindu, 0,01% Buddha, 0,02% Konghucu, 0,01% agama lainnya, dan 0,24% tidak terjawab atau tidak ditanyakan.[3]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Maluku Utara memiliki objek wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias beragam jenis. Ada juga hutan wisata sekaligus taman nasional dengan spesies endemik ranking ke 10 di dunia. Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun di perairan laut seperti Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu dan Cagar Alam di Pulau Seho. Kawasan Cagar Alam Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalaan tersebar di wilayah Provinsi Maluku Utara meliputi cagar alam budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Halmaerah Utara.

Wisata Budaya[sunting | sunting sumber]

  • Kadaton Kesultanan Ternate
Kadaton Kesultanan Ternate

Dibangun pada tanggal 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali diatas bukit Limau Santosa dengan luas areal 44.560 m2. Berbentuk segi delapan dengan dua buah tangga terutama pada sisi kiri dan kanan depannya. Bangunan ini menggambarkan seekor singa yang sedang duduk dengan dua kaki depan menopang kepalanya. Didalam kedaton tersimpan benda-benda peninggalan milik kesultanan yang khas serta bernilai sejarah antara lain mahkota, Al-qur’an tulisan tangan yang tertua di Indonesia serta berbagai peralatan perang. Di depan istana terhampar lapangan Sunyie Ici dan Sunyie Lamo yang biasanya dipergunakan untuk prosesi upacara adat.

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

  • Pulau Maitara dan Tidore
Pulau Maitara dan Tidore yang terdapat dalam uang kertas pecahan seribu Rupiah

Pulau Maitara adalah pulau kecil di antara Tidore dan Ternate. Karena pulaunya yang kecil tapi indah menjadikannya ikon untuk mata uang seribu rupiah.

Pulau Tidore sedikit lebih luas dibandingkan pulau Ternate. Tidore dan Ternate terletak bersebelahan, Tidore di sebelah selatan dan Ternate dibagian utara. Kedua pulau ini berada di barat pulau Halmahera. Tidore didominasi oleh Gunung Kie Matubu yaitu gunung berapi tua dengan ketinggian 1730 mdpl.

Wisata Sejarah[sunting | sunting sumber]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Jalan Darat[sunting | sunting sumber]

Panjang Jalan[sunting | sunting sumber]

  • Jalan negara sepanjang 58,50 km
  • Jalan provinsi sepanjang 404 km
  • Jalan kabupaten sepanjang 501,20 km

Fisik jalan[sunting | sunting sumber]

  • Jalan aspal sepanjang 106 km
  • Jalan sirtu sepanjang 6 km
  • Jalan tanah sepanjang 851,7 Km

Kondisi jalan[sunting | sunting sumber]

  • Baik sepanjang 4 km,
  • Sedang sepanjang 56,3 km
  • Rusak ringan sepanjang 112,7 km
  • Rusak berat sepanjang 474 km
  • Belum ditembus sepanjang 310,4 km

Kendaraan angkutan (per April 2010)[sunting | sunting sumber]

  • Roda dua (ojek); sejumlah > 5000 unit
  • Roda empat; sejumlah > 500 unit
    • Mobil Penumpang (Mikrolet dan Carry); sejumlah > 300 unit
    • Mobil (Pick Up) Led Bak R6; sejumlah > 300 unit
  • Roda enam; sejumlah 50 unit
    • Mobil Barang (Truck Bak Kayu); sejumlah 100 unit
    • Mobil Barang (Dump Truck); sejumlah 100 unit

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno
  2. ^ Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno
  3. ^ Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah (BAKD). Hasil pemilihan kepala daerah masih disengketakan antara pasangan Thaib Armaiyn dan Abdul Gani Kasuba dengan pasangan Abdul Gafur dan Aburahim Fabanyo
  4. ^ Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Hasil pemilihan kepala daerah masih disengketakan antara pasangan Abdul Ghani Kasuba dan Muhammad Natsir Thaib dengan pasangan Ahmad Hidayat Mus dan Hasan Doa
  5. ^ Dilantik oleh Mendagri Gamawan Fauzi

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Spice Island. Rosenberg. 2013. ISBN 9781459672758. 
  2. ^ Demography of Indonesia's Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies. 2015. ISBN 9814519871. 
  3. ^ a b c "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut". Sensus Penduduk 2010. Maluku Utara, Indonesia: Badan Pusat Statistik. 15 May 2010.  Islam 771110 (74,28%), Kristen 258471 (24,90), Katolik 5378 (0,52), Hindu 200 (0,02), Buddha 90 (0,01), Kong Hu Cu 212 (0,02), lainnya 122 (0,01), tidak terjawab 87 (0,01), tidak ditanyakan 2417 (0,23), total 1038087
  4. ^ R.Z. Leirissa; G.A. Ohorella; Djuariah Latuconsina (1999). Sejarah Kebudayaan Maluku. Direktorat Jenderal Kebudayaan. p. 1. ISBN 978-979-9335-07-4. 
  5. ^ "Volcanoes of Indonesia - Halmahera". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diakses tanggal 2006-11-17. 
  6. ^ Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negera Nomor 3895
  7. ^ "Sejarah Pembentukan DPRD Provinsi Maluku Utara". Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Maluku Utara. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Maluku Utara. 4 November 2015. Diakses tanggal 24 Desember 2015. 
  8. ^ "Indonesian Provinces". World Statesmen. Diakses tanggal 15 November 2014. 
  9. ^ Iem Brown (2009). The Territories of Indonesia. Routledge. p. 176. ISBN 978-185743-215-2. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 0°23′LU 126°54′BT / 0,383°LS 126,9°BT / -0.383; 126.900