Papua Pegunungan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Papua Pegunungan
Peta
Negara Indonesia
Dasar hukum pendirianUU No. 16 Tahun 2022
Tanggal25 Juli 2022
Ibu kotaJayawijaya
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kabupaten: 8
  • Kota: -
  • Kecamatan: 252
  • Kelurahan: 10
  • Desa: 2.617
Luas
 • Total53.392,67 km2 (20,615,03 sq mi)
Populasi
 • Total1.456.096
 • Kepadatan27/km2 (70/sq mi)
Demografi
 • AgamaKristen 97,90%
- Protestan 90,29%
- Katolik 7,61%
Islam 1,92%
Kepercayaan 0,15%
Lainnya 0,03%[1]
 • BahasaIndonesia (resmi), Dani, Ketengban, Lani, Migani, Nduga, Ngalum, Nggem, Walak, Yali
Zona waktuUTC+09:00 (WIT)
Kode area telepon0969 - Wamena
Kode ISO 3166ID-PA
Pelat kendaraanPA
Rumah adatHonai
Senjata tradisionalKapak batu

Papua Pegunungan adalah sebuah provinsi di Indonesia yang dimekarkan dari provinsi Papua pada sidang Paripurna DPR RI pada tanggal 30 Juni 2022.[2] Ibukotanya berada di Kota Wamena bersama dengan pusat pemerintahan Kabupaten Jayawijaya.[3] Papua Pegunungan dimekarkan dari provinsi Papua bersama dua provinsi lainnya yakni Papua Selatan dan Papua Tengah pada 30 Juni 2022 berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2022.[4] Sebelumnya nama usulan provinsi ini bernama Provinsi Papua Pegunungan Tengah. Papua Pegunungan adalah provinsi pertama dan satu-satunya di Indonesia yang tidak berbatasan dengan perairan laut.[5]

Papua Pegunungan berlokasi di Pegunungan Jayawijaya bagian timur. Pegunungan ini merupakan jajaran pegunungan tertinggi di Indonesia dengan puncak seperti Puncak Mandala dan Puncak Trikora. Jayawijaya terdapat gletser abadi yang terancam mencair akibat perubahan iklim. Provinsi ini termasuk dalam wilayah adat La Pago dengan berbagai macam suku seperti Dani, Lani, Yali, dan Nduga serta wilayah adat Okmekmin yang dihuni oleh suku-suku di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang seperti Arintap, Ketengban, Kimki, Lepki, Murop, Ngalum, dan Yetfa. Suku-suku tersebut tinggal di lembah yang diapit gunung-gunung tinggi, mereka menanam ubi dan beternak babi. Salah satu lembahnya adalah Lembah Baliem yang terkenal dengan festival tradisionalnya. Lembah Baliem juga merupakan lokasi Kota Wamena sebagai ibukota Provinsi.[6][7][8]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Eksplorasi Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

Orang Dayak berbaris di suatu sungai di Lembah Baliem sehingga bisa dilintasi anggota ekspedisi Archbold

Pelaut seperti Jan Cartensz pada abad ke-17 telah mencatat adanya pegunungan tinggi yang tertutup salju di tengah pulau Papua padahal letaknya di khatulistiwa. Bangsa Eropa menyebut kawasan ini dengan terra incognita yang berarti daerah misterius yang belum terpetakan. Kontak pertama suku pedalaman Provinsi Papua Pegunungan dengan dunia luar terjadi pertama kali oleh ekspedisi yang dipimpin Hendrikus Albertus Lorentz tahun 1909 untuk mencari jalur mencapai Puncak Wilhelmina (sekarang disebut Puncak Trikora) yang terjal dan tertutup salju. Anggota ekspedisi tersebut beristirahat dan melihat prosesi adat di perkampungan Suku Pesechem atau Pesegem. Namanya kemudian diabadikan dalam nama Taman Nasional Lorentz. Setelah ekspedisi tersebut, dilakukan banyak ekspedisi lain oleh de Bruyn, Franssen Herderschee, Karel Doorman, dan lain-lain.[9][10]

Ekspedisi oleh van Overeem dan Kremer tahun 1920 berhasil menemukan Lembah Swart (sekarang Lembah Toli wilayah Tolikara) beserta Suku Dani yang tinggal disana. Ekspedisi ini kemudian menemukan Danau Habema dan berhasil mencapai Puncak Wilhelmina dari sisi utara. Lembah Baliem yang dihuni Suku Dani ditemukan secara tidak sengaja dari pesawat terbang oleh ekspedisi yang dipimpin Richard Archbold dari Museum Sejarah Alam Amerika di tahun 1938. Ekspedisi ini diperkuat oleh puluhan tentara Belanda beserta orang-orang Dayak sebagai pemikul barang. Bangsa Belanda menyebut Lembah Baliem dengan Groote Vallei atau Lembah Besar. Mitchel Zuckoff dalam bukunya Lost in Shangri-La tahun 2011 mengungkapkan, pada masa Perang Dunia II wilayah ini belum banyak dipetakan. Geografinya berupa pegunungan tinggi yang berawan dan hutan lebat ditambah suku pedalaman yang tidak familiar banyak memakan korban. Salah satu insiden yang terkenal terjadi pada 13 Mei 1945 oleh pesawat Gremlin Special yang menabrak tepi gunung. Operasi khusus kemudian dikirimkan dan tiga orang berhasil diselamatkan. Kisah mereka bertahan hidup masuk berita di tahun itu.[9][11][12]

Misi gereja dan berdirinya pemerintahan kolonial[sunting | sunting sumber]

Pegawai Belanda di Lembah Baliem, 1958

Agama Kristen masuk ke Lembah Baliem tahun 1954 oleh tim misionaris dari Christian and Missionary Alliance (C&MA) Amerika yang diterbangkan dari Sentani. Anggotanya antara lain pendeta Lioyd Van Stone dan Einer Michelson. Tidak lama kemudian, Pemerintah Belanda melalui kontrolir Frits Veldkamp juga mendirikan pos pemerintahan disini untuk memperkuat pengaruhnya di pedalaman. Kemudian dibangunlah perkampungan, lapangan udara, dan sarana prasarana lain di wilayah ini yang menjadi cikal bakal Kota Wamena. Hari jadi Wamena diperingati tiap 10 Desember 1956 sesuai pendirian pos pemerintahan Belanda ini.[9][13]

Sterrengebergte atau Pegunungan Bintang yang terletak di ujung timur dekat perbatasan negara adalah salah satu wilayah yang belum dijelajahi Belanda. Perkumpulan Geografi Kerajaan Belanda atau KNAG (Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap) kemudian meluncurkan ekspedisi besar-besaran di tahun 1959 dengan membawa ilmuwan dari berbagai bidang seperti zoologi, botani, dan antropologi. Selain mendapatkan berbagai pengetahuan baru mengenai keadaan wilayah dan penduduknya, anggota ekspedisi juga berhasil menaiki Puncak Juliana (sekarang disebut Puncak Mandala). Sebelum memulai ekspedisi besar ini, dilakukan survei terlebih dahulu untuk mencari tempat yang cocok dijadikan kamp dan lapangan terbang. Pegawai Belanda seperti Jan Sneep, Nol Hermans, dan Pim Schoorl dikirim dalam ekspedisi kecil menuju Lembah Sibil di tahun 1955 dan bertemu penduduknya yaitu Suku Sibil atau Ngalum. Tahun 1958, Pemerintah Belanda meresmikan pos pemerintahan di Lembah Sibil yang nantinya akan menjadi Kota Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang. Pemerintahan Belanda di wilayah ini cukup singkat dengan masuknya wilayah Nugini Belanda ke Indonesia di tahun 1963.[14][15]

Pasca kolonial[sunting | sunting sumber]

Setelah Papua berhasil masuk ke wilayah Indonesia, pemerintah mengeluarkan UU No.12 tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonom di Propinsi Irian Barat. Salah satunya adalah Kabupaten Jayawijaya yang meliputi Kepala Pemerintahan Setempat Baliem, Bokondini, Tiom dan Oksibil.[16] Kabupaten ini adalah cikal bakal Provinsi Papua Pegunungan. Tahun 2002, Kabupaten Jayawijaya dimekarkan menjadi Kabupaten Jayawijaya, Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Tolikara. Kemudian di tahun 2008, Kabupaten Jayawijaya kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, Nduga, Mamberamo Tengah, dan Yalimo. 8 Kabupaten pecahan Jayawijaya akhirnya bersatu kembali menjadi Provinsi Papua Pegunungan dengan ibukotanya di Wamena pada tahun 2022.

Sejak masuk ke wilayah Indonesia, daerah ini diwarnai dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris Organisasi Papua Merdeka (OPM). Beberapa insiden yang disebabkan oleh OPM antara lain penyanderaan tim peneliti di Mapenduma tahun 1996,[17] pembunuhan pekerja Istaka Karya yang akan membangun jembatan di Nduga tahun 2018,[18] dan pembakaran SMA dan puskesmas disertai pembunuhan tenaga kesehatan di Pegunungan Bintang.[19][20]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Peta Provinsi Papua Pegunungan


Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Provinsi Papua
Timur Provinsi Sandaun dan Provinsi Barat, Papua Nugini
Selatan Provinsi Papua Selatan
Barat Provinsi Papua Tengah

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Gubernur[sunting | sunting sumber]

Kantor Sekretariat Provinsi Papua Pegunungan

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten dan Kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km²)[21] Jumlah penduduk Distrik Kelurahan/kampung Lambang Peta lokasi
1 Kabupaten Jayawijaya Wamena John Richard Banua 7.030,66 269.553 40 4/328
Lambang Kabupaten Jayawijaya.png
2 Kabupaten Lanny Jaya Tiom Petrus Wakerkwa (Pj.) 2.248,00 196.399 39 1/354
Lambang Kabupaten Lanny Jaya, Papua.jpg
3 Kabupaten Mamberamo Tengah Kobakma Ricky Ham Pagawak 1.275,00 50.685 5 -/59
Lambang Kabupaten Mamberamo Tengah.webp
4 Kabupaten Nduga Kenyam Namia Gwijangge (Pj.) 2.168,00 106.533 32 -/248
Lambang Kabupaten Nduga.png
5 Kabupaten Pegunungan Bintang Oksibil Spei Yan Birdana 15.682,00 77.872 34 -/277
Lambang Kabupaten Pegunungan Bintang.webp
6 Kabupaten Tolikara Karubaga Usman Wanimbo 5.588,13 236.986 46 4/541
Lambang Kabupaten Tolikara.tif
7 Kabupaten Yalimo Elelim Nahor Nekwek 1.253,00 101.973 5 -/300
Lambang Kabupaten Yalimo.png
8 Kabupaten Yahukimo Sumohai Didimus Yahuli 17.152,00 350.880 51 1/510
Lambang Kabupaten Yahukimo.png


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2022" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 31 Juli 2022. 
  2. ^ Putri, Cantika Adinda. "Tok! Indonesia Resmi Punya 5 Provinsi di Papua". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  3. ^ "Ini Ibu Kota di 3 Provinsi Baru Hasil Pemekaran Wilayah Papua". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  4. ^ Marlinda Oktavia Erwanti, ed. (29-07-2022). "Jokowi Teken UU Pembentukan 3 Provinsi Baru Papua". detik.com. Diakses tanggal 29-07-2022. 
  5. ^ Media, Kompas Cyber (2022-06-30). "Papua Pegunungan, Provinsi "Landlocked" Satu-satunya di Indonesia Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2022-07-01. 
  6. ^ "La Pago". Badan Penghubung Daerah Provinsi Papua (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-04-10. Diakses tanggal 2021-04-10. 
  7. ^ Paino, Christopel (2020-06-17). "The Last Glacier, Runtuhnya Salju Abadi Papua". mongabay.co.id. 
  8. ^ Marthen, Timo, ed. (2018). "Mengenal suku Ngalum Ok Pegunungan Bintang". jubi.co.id. 
  9. ^ a b c Saberia, Saberia; Yamin, Ade; Rasyid, Ramlah A.; Sinaga, Rosmaida (2013). Komunitas Islam di Lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya. Jayapura: Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua. ISBN 9786021228043. 
  10. ^ Firdausi, Fadrik A. (2020-09-02). "Jejak Albertus Lorentz dalam Perlombaan Merambah Rimba Papua". tirto.id. Diakses tanggal 2022-07-05. 
  11. ^ Neary, Lynn (2011-04-26). "A WWII Survival Epic Unfolds Deep In 'Shangri-La'". npr.org. Diakses tanggal 2022-07-05. 
  12. ^ "The Central New Guinea Expedition (1920-1921)". papua-insects.nl. Papua Insects Foundation. 2010-01-27. 
  13. ^ "Profil Kabupaten Jayawijaya". papua.go.id. Pemerintah Provinsi Papua. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-07-01. 
  14. ^ Sneep, Jan (2005). Einde van het stenen tijdperk: bestuursambtenaar in het witte hart van Nieuw-Guinea. Rozenberg Publishers. ISBN 9789051709278. 
  15. ^ "KABUPATEN PEGUNUNGAN BINTANG". papua.go.id. Pemerintah Provinsi Papua. Diakses tanggal 2022-08-07. 
  16. ^ "UU no 12 tahun 1969". Pemerintah Republik Indonesia. 
  17. ^ Nathaniel, Felix (2020-01-08). "Penyanderaan Mapenduma Mengerek Pamor Prabowo dan Kelly Kwalik". tirto.id. Diakses tanggal 2022-07-06. 
  18. ^ Praditya, Ilyas I. (2018-12-04). "31 Pekerja Trans Papua Dibunuh Kelompok Bersenjata, Istaka Karya Berduka". www.liputan6.com. Diakses tanggal 2022-07-06. 
  19. ^ Anugrahady, Ady (2021-09-16). "Dua Nakes Hilang Usai Pembakaran Puskesmas oleh KKB Papua di ditemukan, Satu Meninggal Dunia". www.liputan6.com. Diakses tanggal 2022-07-06. 
  20. ^ Yusron, Fahmi (2021-12-06). "Gedung SMAN 1 Oksibil Dibakar, Pelaku Diduga Kelompok Pimpinan Lamek Taplo". www.liputan6.com. Diakses tanggal 2022-07-06. 
  21. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 

Koordinat: 4°46′S 137°48′E / 4.767°S 137.800°E / -4.767; 137.800