Malaria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sel darah merah yang terinfeksi oleh P.vivax

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium.[1] Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut.[2] Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah yang akhirnya menyebabkan penderita mengalami gejala-gejala malaria seperti gejala pada penderita influenza. Apabila tidak diobati, penyakit akan semakin parah dan dapat terjadi komplikasi yang berujung pada kematian .[2]

Penyakit ini paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamuk Anopheles.[3] Daerah selatan Sahara di Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria tertinggi.[3]

Berdasarkan data di dunia, penyakit malaria membunuh satu anak setiap 30 detik.[4] Sekitar 300-500 juta orang terinfeksi dan sekitar 1 juta orang meninggal karena penyakit ini setiap tahunnya.[4] Sebanyak 90% dari jumlah kematian yang terjadi di Afrika dialami anak-anak.[4]

Untuk penemuannya atas penyebab malaria, seorang dokter militer Prancis Charles Louis Alphonse Laveran mendapatkan Penghargaan Nobel untuk Fisiologi dan Medis pada 1907.

Patofisiologi[sunting | sunting sumber]

Malaria disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan dapat menyebabkan kematian bila tak terawat; anak kecil lebih mungkin berakibat fatal.

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Nyamuk Anopheles tinggal di area tropis, subtropis. Secara umum, malaria bukanlah penyakit yang dialami oleh masyarakat yang berada di lingkungan dingin, contoh tidak ditemukan malaria di area Amerika Utara. Kata malaria berasal dari bahasa Italia yaitu udara yang buruk.[5] Siklus hidup protista ini sangat kompleks. Pertama-tama manusia yang terinfeksi oleh sporozoit (sel parasit yang ditemukan pada kelenjar ludah nyamuk). Nyamuk akan menyuntikkan ludahnya yang mengandung antikoagulan bersamaan dengan sporozoit dan memperoleh makanan dari darah manusia. Sporozoit akan mengalir bersama darah menuju organ hati dan tinggal atau berkembang biak menjadi besar yang disebut skizon. Skizon lalu membelah menjadi merozoit yang akan meninggalkan hati, kembali masuk ke dalam aliran pembuluh darah. Beberaoa merozoit akan menginfeksi sel darah merah (eritrosit).[5] Infeksi dari merozoit akan menghancurkan sel darah merah inang yang akan menyebabkan anemia dan pembengkakan. Merozoit akan berdiferensiasi menjadi gametosit yang hanya menginfeksi nyamuk. Gametosit akan tertelan dengan bersamaan dengan darah. Gametosit akan berkembang menjadi gamet dan akan berfusi menjadi zigot. Zigot ini akan bermigrasi menggunakan kemampuan ameboid menuju dinding luar dar saluran pencernaan nyamuk dan terus membesar menjadi sporozoit. Sporozoit ini akan terus bermigrasi menuju kelenjar ludah nyamuk.[5]

Pengobatan[sunting | sunting sumber]

Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.

Untuk suatu serangan malaria oleh Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.

Tanggal 18 Oktober 2011 tim peneliti melaporkan hasil uji coba klinis Fase III vaksin untuk melawan parasit Plasmodium falciparum disebut RTS, S/AS01 yang didanai GlaxoSmithKline dan Malaria Vaccine Initiative PATH pada ribuan anak-anak di Afrika.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) "Malaria". World Health Organization. 2011. Diakses tanggal 10-07-2011. 
  2. ^ a b (Inggris) "Malaria". Centers for Disease Control and Prevention. 2010. Diakses tanggal 10-07-2011. 
  3. ^ a b (Inggris) "Where Malaria Occurs". Centers for Disease Control and Prevention. 2010. Diakses tanggal 10-07-2011. 
  4. ^ a b c (Inggris) "Malaria". UNICEF. 2011. Diakses tanggal 10-07-2011. 
  5. ^ a b c (Inggris) Madigan M, Martinko J, Stahl D, Clark D. 2011. Brock Biology of Microorganisms. Ed ke-13. New York: Pearson.
  6. ^ (Indonesia) Jurnal KeSimpulan.com - Hasil Awal Uji Klinis Tahap 3 Vaksin Malaria RTS, S/AS01
  • Ito J, Ghosh A, Moreira LA, Wimmer EA, Jacobs-Lorena M. Transgenic anopheline mosquitoes impaired in transmission of a malaria parasite. Nature 2002;417:387-8. PMID 12024215

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Vaksin dan riset lainnya[sunting | sunting sumber]

DDT[sunting | sunting sumber]

Animasi, gambar, dan foto[sunting | sunting sumber]