DDT

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
DDT
Gambar
Gambar
Gambar
Identifikasi
Nomor CAS 50-29-3
PubChem 3036
KEGG D07367
ChEBI 16130
ChemSpider 2928
Kode ATC
SMILES Clc1ccc(cc1)C(c2ccc(Cl)cc2)C(Cl)(Cl)Cl
InChI 1/C14H9Cl5/c15-11-5-1-9(2-6-11)13(14(17,18)19)10-3-7-12(16)8-4-10/h1-8,13H
Sifat
Rumus kimia C14H9Cl5
Massa molar 354.49 g mol−1
Densitas 0.99 g/cm³[1]
Titik lebur
Titik didih ((decomposes))
Bahaya
Klasifikasi EU Beracun T Beracun bagi lingkungan N
NFPA 704
NFPA 704.svg
2
2
0
 
Frasa-R R25 R40 Templat:R48/25 R50/53
Frasa-S (S1/2) S22 S36/37 S45 S60 S61
LD50 113 mg/kg (rat)
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25 °C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

DDT (diklorodifeniltrikloroetana/dichlorodiphenyltrichloroethane) merupakan senyawa yang digunakan untuk mengendalikan populasi serangga umumnya pada iklim panas.[2] Bagaimanapun beberapa serangga mengembangkan sifat resistensi terhadap DDT dan dapat diwariskan pada keturunannya.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Ahli Kimia Swiss Paul Hermann Müller dalam 1948 mendapatkan penghargaan nobel atas penemuan DDT yang ampuh melawan serangga.[3] Penggunaan DDT berkembang pesat setelah perang dunia kedua, tetapi konsekuensi ekologis belum begitu dirasakan.[4] Tahun 1950, ilmuan telah mempelajari bahwa DDT akan tetap bertahan dalam lingkungan dan ditransportasi oleh air menuju area yang lebih jauh dari tempat.[4]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Dampak yang pertama kali dirasakan pada tahun 1950 adalah penurunan populasi burung pelikan, elang tiram, dan elang, burung-burung tersebut merupakan puncak dari jaring makanan.[4] Setelah diteliti, ternyata DDT dapat menurunkan jumlah kalsium pada cangkang telur.[4] Ketika burung tersebut mengerami telur, telur tersebut pecah karena tidak mampu menahan bobot inang.[4] Sehingga pada tahun 1971, DDT dilarang dari Amerika Serikat.[4]

Penggunaan saat ini[sunting | sunting sumber]

Hingga saat ini DDT masih digunakan untuk mengendalikan nyamuk yang menyebarkan malaria dan penyakit lainnya, tetapi jumlahnya sudah semakin berkurang dengan adanya alternatif seperti penggunaan kawat nyamuk.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama ATSDRc5
  2. ^ a b (Inggris) Peters M. A-Z Family Medical. British Medical Association.
  3. ^ (Inggris) Nobelprize.org. 1979. The nobel prize in physiology or medicine 1948 [terhubung berkala]. http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/1948/ [29 Mei 2014]
  4. ^ a b c d e f g (Inggris) Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.