Toksoplasmosis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Toksoplasmosis
Toxoplasma gondii tachy.jpg
Stadium takizoit T. gondii
Klasifikasi dan rujukan luar
SpesialisasiPenyakit infeksi Sunting ini di Wikidata
ICD-10B58.
ICD-9-CM130
DiseasesDB13208
MedlinePlus000637
eMedicinemed/2294
Patient UKToksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah penyakit pada manusia dan hewan berdarah panas yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, protozoa yang bertindak sebagai parasit. Toksoplasmosis merupakan zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Penularan terjadi akibat menelan daging terinfeksi, kontak dengan tinja kucing, atau secara vertikal dari ibu ke janin yang dikandungnya. Walaupun toksoplasmosis identik dengan kucing, memakan daging terinfeksi yang belum dimasak sempurna merupakan sumber penularan utama pada manusia di banyak negara.[1]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Penyebab toksoplasmosis adalah Toxoplasma gondii, organisme bersel satu yang hidup sebagai parasit. Toxoplasma berasal dari bahasa Yunani kuno tóxon yang berarti cekung dan plásma yang artinya bentuk, sehingga Toxoplasma merupakan organisme berbentuk cekung atau menyerupai bulan sabit. Organisme ini pertama kali ditemukan di tahun 1908 pada limpa dan hati seekor hewan pengerat yang disebut gundi (Ctenodactylus gundi) di Afrika.[2] Sejak saat itu berbagai penelitian menemukan keberadaan parasit ini pada berbagai hewan.

Kehidupan T. gondii bergantung pada organisme lain yang disebut inang atau hospes. Terdapat dua jenis inang dalam parasitologi, yaitu inang definitif dan inang perantara. Inang definitif merupakan organisme tempat suatu parasit hidup dan berkembang biak secara seksual, sedangkan inang perantara adalah organisme tempat parasit hidup dan berkembang biak secara aseksual. Inang definitif T. gondii adalah hewan golongan Felidae seperti kucing domestik (Felis catus), sedangkan inang perantaranya adalah semua jenis hewan berdarah panas seperti burung dan mamalia, termasuk manusia.[2]

Terdapat tiga stadium hidup T. gondii, yaitu:

  • Takizoit (awalan tachy- artinya cepat) yang merupakan periode pertumbuhan cepat yang terjadi pada fase infeksi akut. Pada stadium ini, T. gondii berbentuk melengkung seperti sabit dan aktif bergerak, terdistribusi ke bagian-bagian tubuh inangnya.
  • Bradizoit (awalan brady- artinya lambat) yang juga dikenal sebagai sista jaringan yang merupakan fase perkembangbiakan lambat yang menjadi ciri khas infeksi kronis. Pada stadium ini, T. gondii menetap di jaringan tubuh inang dalam jangka waktu yang lama. Daging hewan yang mengandung bradizoit merupakan sumber infeksi apabila dimakan oleh makhluk hidup lain.
  • Oosista atau ookista (bahasa Inggris: oocsyt) adalah hasil reproduksi seksual T. gondii yang terjadi di dalam tubuh inang definitif. Oosista keluar dari usus Felidae bersama dengan tinja dan mampu bertahan di lingkungan sebagai sumber infeksi bagi makhluk hidup lain.

Penularan[sunting | sunting sumber]

Hewan dan manusia dapat terinfeksi melalui dua cara, yaitu secara kongenital dan perolehan. Toksoplasmosis kongenital terjadi saat janin di dalam rahim tertular dari ibu atau induknya melalui plasenta, sedangkan toksoplasmosis perolehan terjadi saat inang menelan oosista infektif atau memakan jaringan yang mengandung bradizoit atau sista jaringan. Keduanya dapat bersifat akut dan kemudian menjadi laten.

Kucing merupakan hewan yang berperan penting dalam penyebaran toksoplasmosis karena mereka merupakan inang definitif yang menyebarkan oosista ke lingkungan. Akan tetapi, kucing yang menderita toksoplasmosis pada umumnya tidak menunjukkan tanda yang spesifik dan bersifat subklinis. Infeksi yang disebabkan oleh oosista dari kucing kurang berperan menimbulkan toksoplasmosis jika dibandingkan dengan infeksi akibat konsumsi daging yang mengandung bradizoit.

Manusia dapat terinfeksi karena menelan oosista infektif yang tersebar di air dan tanah, bradizoit pada daging yang kurang matang, melalui transfusi darah, transplantasi, kecelakaan laboratoris, atau secara kongenital. Penularan pada manusia paling sering terjadi melalui konsumsi daging yang mentah atau kurang matang, terutama daging domba dan babi. Cara penularan lain yang sering terjadi adalah melalui sayuran mentah yang tidak dicuci sebelumnya. Sayuran ini tercemar oosista yang berasal dari tinja kucing. Oosista infektif yang berada di lingkungan juga dapat mencemari air yang dapat menjadi sumber penularan jika diminum oleh manusia atau hewan lain.

Oosista tidak bersifat infektif pada saat pertama kali dikeluarkan bersama tinja kucing. Ia membutuhkan waktu beberapa hari untuk bersporulasi agar dapat menjadi infektif sehingga kontak langsung dengan kucing diduga tidak menjadi faktor risiko bagi penularan toksoplasmosis. Cara pemeliharaan kucing di dalam rumah agar tidak memakan rodensia dan burung, tidak memberi makan kucing dengan daging mentah, serta mengontrol populasi inang perantara seperti rodensia dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kucing terpapar T. gondii.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Torda A (2001). "Toxoplasmosis. Are cats really the source?". Aust Fam Physician. 30 (8): 743–7. PMID 11681144. 
  2. ^ a b Weiss, Louis M.; Kim, Kimi (2007). Toxoplasma gondii: The Model Apicomplexan. Perspectives and Methods. Elsevier. ISBN 978-0-12-369542-0. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris