Penggambaran budaya kucing

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Lukisan minyak abad kesembilan belas, Makan Siang Kucing karya Marguerite Gérard.

Penggambaran budaya kucing dan hubungannya dengan manusia sudah terjalin selama 9.500 tahun. Kucing telah menjadi figur sejarah banyak bangsa, mulai dari menjadi subjek legenda hingga subjek favorit bagi para seniman dan penulis.

Sejarah terawal[sunting | sunting sumber]

Kucing awalnya dijinakan karena mereka bisa memburu tikus yang akan memakan biji-bijian yang tersimpan dan melindungi toko makanan. Situasi ini akan menguntungkan bagi kedua spesies, di mana kucing akan mendapatkan sumber mangsa karena keandalannya dan manusia akan mendapatkan solusi pengendalian hama tanpa susah payah. Aturan yang saling menguntungkan ini memulai hubungan antara kucing dan manusia yang berlanjut hingga kini.

Sementara sejarah hubungan manusia dengan kucing yang sebenarnya masih kurang jelas, sebuah situs kuburan dangkal yang ditemukan pada tahun 1983 di Siprus, yang berasal dari tahun 7500 SM, selama periode Neolitikum, menyimpan kerangka manusia, yang dikuburkan secara seremonial dengan peralatan batu, segumpal oksida besi, dan segenggam kerang. Dalam kuburan mungilnya yang berukuran 40 sentimeter (18  inci) dari kuburan manusia adalah kuburan seekor kucing berumur delapan bulan dengan tubuhnya yang menghadap ke arah barat seperti pada kerangka manusia. Kucing ini bukanlah kucing yang asli dari Siprus. Kuburan ini adalah bukti bahwa kucing pernah dijinakkan saat manusia mendirikan pemukiman pertama di Timur Tengah yang dikenal sebagai Hilal Subur.[1]

Mesir kuno[sunting | sunting sumber]

! Artikel utama untuk kategori ini adalah Kucing di Mesir kuno.

Kucing, dikenal di Mesir kuno dengan sebutan mau, memiliki peran besar dalam masyarakat Mesir kuno. Mereka bahkan dikaitkan dengan Dewi Isis dan Ba'at.[2] Kucing sangat sering digambarkan dalam bentuk seni dan secara rutin dimumikan.

Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Sebuah Toko Kucing di Tiongkok (1846)[3]
Kucing di Kebun, karya Mao Yi, abad ke-12

Kucing yang disukai sebagai hewan peliharaan selama Dinasti Song Tiongkok adalah kucing berambut panjang karena pandai menangkap tikus, dan kucing dengan bulu kuning dan putih yang disebut sebagai 'kucing singa', yang dinilai hanya bisa sebagai hewan peliharaan yang lucu.[4][5] Kucing-kucing di sana bisa dimanjakan dengan barang yang dibeli dari pasar seperti "sarang kucing", dan sering diberi makan ikan yang diiklankan di pasaran khusus kucing.[4][5]

Eropa[sunting | sunting sumber]

Dalam mitologi Nordik, Dewi Freyja dikaitkan dengan kucing. Petani mencari perlindungan untuk hasil panen mereka dengan membiarkan panci susu di ladang mereka untuk sahabat kucing istimewa Dewi Freya, yaitu dua kucing abu-abu yang berjuang dengannya dan menarik keretanya.[6]

Cerita rakyat yang dimulai sejak awal 1607 pernah menceritakan bahwa ada seekor kucing akan mencekik bayi yang baru lahir dengan meletakkan hidungnya ke mulut anak itu dan menyedot napas keluar dari bayi.[7]

Kucing hitam umumnya dianggap tidak beruntung di Amerika Serikat dan Eropa, dan umumnya dianggap sebagai keberuntungan di Britania Raya.[7] Di negara-negera terakhir, seekor kucing hitam yang memasuki rumah atau kapal adalah pertanda baik, dan istri seorang pelaut harus memiliki seekor kucing hitam untuk keselamatan suaminya di atas laut.[7][8] Di tempat lain, tidak beruntung jika melihat seekor kucing hitam melintasi jalan seseorang; Kucing hitam dikaitkan dengan kematian dan kegelapan.[2] Kucing putih, yang memiliki warna hantu, dianggap tidak beruntung di Britania Raya, sementara kucing tempurung kura-kura dianggap sebagai keberuntungan.[7] Sudah menjadi rahasia umum bahwa kucing memiliki sembilan nyawa[7], dan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap daya tahan yang dimilikinya, naluri mereka untuk mempertahankan diri, dan kemampuan kucing untuk bertahan hidup yang fatal bagi hewan lain.

Kucing dipandang sebagai pesona keberuntungan oleh para aktor, dan kucing sering membantu menyembuhkan demam panggung bagi mereka.[9]

Cerita rakyat klasik[sunting | sunting sumber]

Ahli esai Yunani, Plutarch, mengaitkan kucing dengan kebersihan, karena bau yang tak wajar bisa membuat kucing marah.[10] Pliny mengaitkan mereka dengan kegairahan,[11] dan Aesop dengan tipu daya dan kelicikan.[7]

Abad pertengahan[sunting | sunting sumber]

Kucing dianggap sebagai penyihir, dan dibunuh secara massal pada pertengahan abad ke-14 selama kejadian Maut Hitam. Jika prasangka miring terhadap kucing tidak ada, populasi hewan pengerat lokal bisa saja dikurangi, mengurangi penyebaran kutu yang terinfeksi dari inang ke inang.[12]

Viking memanfaatkan kucing sebagai penangkap tikus dan menganggapnya sebagai teman.

Seorang Raja Wales pada abad pertengahan, Hywel Dda (yang Baik) mengeluarkan undang-undang yang mengilegalkan pembunuhah atau penyiksaan terhadap kucing.[13]

Di Ypres pada abad pertengahan, kucing dimanfaatkan pada bulan-bulan musim dingin untuk mengendalikan serangga yang memakan wol yang tersimpan di lantai atas Aula Kain (Lakenhall). Pada awal pemanasan musim semi, setelah wol itu terjual, kucing-kucing itu akan dilempar keluar dari atas menara belfry ke bawah alun-alun kota, yang konon melambangkan "pembunuhan para akademisi yang jahat". Kattenstoet (Parade Kucing) saat ini, dilaksanakan dengan pengiringan lemparan kucing penjaga wol dari atas rumah dan juga orang-orang dari abad pertengahan sering mengisap wol sebagai tanda keberuntungan.

Penggambaran pada abad Renaisans dan Victoria[sunting | sunting sumber]

Richard Whittington dan Kucingnya (1808)

Di abad Renaisans, kucing sering dianggap sebagai penyihir familiar (misalnya, Greymalkin, penyihir pertama yang dikenal di adegan pembuka Macbeth yang terkenal), dan selama ada perayaan kadang-kadang kucing dibakar hidup-hidup atau dilempar dari gedung-gedung tinggi. Kucing menjadi karakter populer dan simpatik dalam kisah rakyat seperti Puss in Boots.[14]

Ada satu cerita rakyat Britania Raya di mana seekor kucing memiliki peran heroik. Cerita ini adalah kisah tentang Dick Whittington dan Kucingnya, yang pernah ditampilkan dalam banyak bentuk karya panggung, termasuk drama, komedi musikal, dan pantomim. Kisah ini bercerita tentang seorang anak laki-laki malang di abad ke-14, yang diangkat dari kehidupan nyata Richard Whittington, yang menjadi pedagang kaya dan akhirnya menjadi Penguasa Walikota London karena kemampuannya memanfaatkan kucingnya. Tidak ada bukti sejarah bahwa Whittington pernah memiliki seekor kucing, namun berbeda dalam ceritanya. Dikisahkan Dick Whittington, seorang anak yatim yang malang mendapatkan pekerjaan di rumah besar milik Tn. Fitzwarren, seorang pedagang kaya yang dermawan. Kamar kecilnya yang penuh dengan tikus membuat Dick membeli seekor kucing untuk mengusir tikus-tikus itu. Suatu hari, Tn. Fitzwarren mengharuskan para pelayannya untuk mengirimkan sesuatu ke dalam kapalnya yang akan berangkat dalam perjalanan yang jauh ke sebuah pelabuhan untuk ditukarkan dengan emas. Karena hanya satu-satunya yang Dick punya, dengan terpaksa dan rasa sedihnya, ia mengirimkan kucingnya. Di sebuah istana kerajaan yang jauh itu, kucing Dick telah dibeli dan menjadi pahlawan dengan mengusir serangga yang sangat menyusahkan dari istana kerajaan itu. Ketika kapal Fitzwarren kembali, kapal itu penuh dengan kekayaan. Dick telah menjadi orang kaya. Dia bergabung dengan Mr. Fitzwarren dalam bisnisnya dan menikahi putrinya Alice, dan lambat laun ia menjadi Penguasa Walikota London.[15]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Sebuah Maneki Neko yang khas.

Di Jepang, ada seekor kucing yang disebut sebagai Maneki Neko, atau dalam bahasa Inggris berarti kucing pembawa "nasib baik" atau "keberuntungan". Kucing ini duduk dengan tangkai tangan yang diangkat dan ditekuk. Legenda di Jepang mengisahkan bahwa pernah ada seekor kucing yang melambaikan tangannya kepada seorang tuan, dan membuat tuan itu bingung dan melangkah mendekatinya. Beberapa detik kemudian sebuah petir menyambar di tempat sebelumnya tuan itu berdiri. Tuan itu mengaitkannya dengan keberuntungan dengan selamatnya dia dari sambaran petir itu berkat adanya perilaku kebetulan dari si kucing. Simbol keberuntungan itu, sering dijumpai di sebuah perusahaan untuk mendatangkan uang. Di Jepang, mengepakkan tangan berarti gerakan "datang ke sini", jadi kucing itu memberikan isyarat kepada pelanggan.

Di Jepang, juga ada kuil kucing kecil (neko jinja (猫神社?)) yang dibangun di tengah pulau Tashirojima. Dulu, penduduk pulau membudidayakan ulat sutera untuk dijadikan sutra, dan kucing dijadikan penjaga agar populasi tikus bisa turun (karena tikus adalah pemangsa alami ulat sutera). Perikanan menggunakan jaring tetap masih populer di pulau ini setelah zaman Edo dan nelayan dari daerah lain sering datang dan tinggal di pulau ini untuk semalaman. Kucing akan pergi ke penginapan tempat para nelayan menginap dan mencari makanan sisaan. Seiring waktu, para nelayan mengembangkan kegemarannya terhadap kucing dengan mengamati perilaku-perilaku kucing dengan seksama untuk menafsirkan perilaku mereka sebagai ramalan cuaca dan pola ikan. Suatu hari, ketika para nelayan mengumpulkan batu untuk digunakan dengan pada jaring-jaring tetapnya, sebuah batu liar jatuh dan menewaskan salah satu kucing itu. Para nelayan merasa kasihan dengan kehilangan kucing itu, lalu mereka menguburnya dan mengabadikannya di lokasi ini di pulau ini.

Legenda kucing Jepang lainnya adalah nekomata: ketika seekor kucing hidup sampai usia tertentu, dia akan menumbuhkan ekor lainnya dan dapat berdiri serta berbicara dalam bahasa manusia.

Rusia[sunting | sunting sumber]

Seni rakyat abad kedelapanbelas, Kucing dari Kazan

Kucing dianggap sebagai keberuntungan di Rusia selama berabad-abad lamanya. Memiliki seekor kucing, dan terutama membiarkannya masuk ke dalam rumah baru sebelum dimasuki oleh pemiliknya, dianggap akan membawa keberuntungan.[16]

Banyak kucing yang pernah menjaga Museum Ermitáž/Istana Musim Dingin secara terus menerus, sejak masa pemerintahan Kaisar Yelizaveta, saat dia memperkenalkan di Kazan, Tatarstan mengenai lima hewan pembasmi untuk masalah mengendalikan hewan pengerat di istana tersebut.[17] Kucing-kucing menjalani kehidupan yang dimanjakan oleh pemiliknya dan bahkan memiliki pelayan khusus sampai Revolusi Oktober, setelah itu mereka dirawat oleh para sukarelawan. Sekarang, mereka kembali dirawat oleh para karyawan.

Afrika[sunting | sunting sumber]

Kucing dianggap sebagai makanan yang lezat oleh orang Ewe di Afrika Barat, yang percaya bahwa jika memakan daging kucing, terutama kepalanya, akan membawa keberuntungan bagi pemakannya dan akan mencegah mereka dari meninggal di negeri asing. Di Ghana, kucing sering dikaitkan dengan sihir dan kejahatan. Jadi, melihat seekor kucing hitam dalam mimpi merupakan pertanda buruk.

Budaya modern[sunting | sunting sumber]

Gambar Grumpy Cat biasanya sering dijumpai dalam bentuk meme, karena wajah cacat Grumpy Cat menampilkan penampilan yang selamanya tidak bahagia

Kucing juga tampil menonjol dalam budaya modern. Misalnya, seekor kucing bernama Mimsey yang digunakan oleh MTM Enterprises sebagai maskot dan film mereka, seperti dalam logo mereka yang menampilkan tipuan dari singa MGM.[9] Hingga 1990 Pada tahun 1990, kucing adalah subjek yang paling populer yang digambarkan pada barang hadiah, seperti tatakan gelas, serbet, perhiasan, dan buku pesanan. Diperkirakan ada 1.000 toko di Amerika Serikat yang tidak menjual apa-apa, kecuali barang-barang yang berhubungan dengan kucing.[18]

Di Internet, kucing sering sering muncul sebagai meme dan humor lainnya; Dan pada media sosial orang sering memposting gambar kucing mereka sendiri.

Lainnya[sunting | sunting sumber]

  • Muezza (Arab: معزة‎) adalah kucing kesayangan Nabi Muhammad SAW. Cerita paling terkenal mengenai Muezza menceritakan bagaimana ketika seruan untuk salat berkumandang, dan saat Nabi Muhammad SAW. mengenakan jubahnya, dia mendapati kucingnya sedang tidur di salah satu lengan bajunya. Alih-alih mengganggu kucingnya, dia memotong lengan bajunya dan membiarkan kucingnya tidur.
  • Legenda yang sama menyatakan bahwa ketika Yesus Kristus lahir, dia pernah tidak berhenti menangis, dan akhirnya yang menenangkannya adalah seekor kucing yang melompat ke sebuah palungan, dan suara dengkurannya membuat dia tertidur. Maria membelai kucing itu dengan rasa syukur, dan huruf "M" pada dahi kucing tabi adalah singkatan untuk namanya.
  • Dalam mitologi Kelt, kucing sith adalah seekor kucing peri, sith atau sidhe (keduanya berarti shee) berarti peri.
  • Dalam agama Katolik, santo pelindung kucing adalah Santo Gertrude dari Nivelles.
  • Duet kucing (Duetto buffo di due gatti), yang dikaitkan dengan Rossini, adalah pertunjukan populer untuk dua soprano, yang seluruh "liriknya" terdiri dari kata "miau" ("meong") yang berulang.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Carlos A. Driscoll, Juliet Clutton-Brock et al. (June 2009). "The Evolution of House Cats; Genetic and archaeological findings hint that wildcats became house cats earlier--and in a different place--than previously thought". Scientific American. 
  2. ^ a b Cirlot JE (1967) [1962]. A Dictionary of Symbols. London: Routledge and Kegan Paul. p. 38. 
  3. ^ "A Chinese Cat-Market". Wesleyan Juvenile Offering III: 110. October 1846. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  4. ^ a b Gernet, 48.
  5. ^ a b Gernet, 122–123.
  6. ^ Howey, M. Oldfield (2003) [1930]. The Cat in Magic and Myth. Mineola, NY: Dover. pp. 58–60. ISBN 9780486431147. Diakses tanggal 26 August 2013. 
  7. ^ a b c d e f de Vries, Ad (1976). Dictionary of Symbols and Imagery. Amsterdam: North-Holland Publishing Company. pp. 85–86. ISBN 0-7204-8021-3. 
  8. ^ Eyers, Jonathan (2011). Don't Shoot the Albatross!: Nautical Myths and Superstitions. A&C Black, London, UK. ISBN 978-1-4081-3131-2.
  9. ^ a b Stall, Sam (2007). 100 Cats Who Changed Civilization: History's Most Influential Felines. Quirk Books. ISBN 978-1-59474-163-0. 
  10. ^ Plutarch: Adv. on Marr. 44
  11. ^ Pliny 10, 83
  12. ^ Feline geneticist traces origin of the cat
  13. ^ Taking Liberties - Star Items - Laws of Hywel Dda
  14. ^ Roberts, Patrick. "Dick Whittington and his Cat: The myth and the reality", Fabled Felines, purr-n-fur.org (2008)
  15. ^ Cruikshank, George. The history of Dick Whittington, Lord Mayor of London: with the adventures of his cat, Banbury, c.1820
  16. ^ Moscow Cat Museum
  17. ^ Russian Life
  18. ^ Dickinson, Ernest (1990-07-22). "All About/Cat Supplies; Billions for Food, And Knicknacks to Boot". The New York Times. Diakses tanggal March 8, 2013. 

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • (Inggris) Gernet, Jacques (1962). Daily Life in China on the Eve of the Mongol Invasion, 1250–1276. Translated by H.M. Wright. Stanford: Stanford University Press. ISBN 0-8047-0720-0.
  • (Inggris) Dodge, Alleine (1949). Nine lives: an exhibition of the cat in history and art, New York: Cooper Union Museum for the Arts of Decoration, archive.org

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]