Kucing putih

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kucing ras Anggora berwarna putih dengan mata yang berbeda dengan sebelahnya.

Kucing putih adalah kucing domestik yang memiliki warna putih murni diseluruh bulu pada tubuhnya.[1] Kucing putih bukanlah kucing albino. Kucing albino memiliki warna mata merah muda dan sensitif terhadap sinar matahari.[2] Beberapa kucing putih menderita penyakit tuli bawaan yang disebabkan oleh degenerasi dari telinga bagian dalam. Ketulian pada kucing putih ini berhubungan dengan adanya warna biru pada matanya (iris). Pada kucing putih dengan warna mata yang berbeda dengan sebelahnya (kucing bermata ganjil), telah ditemukan bahwa ketulian lebih mungkin terjadi karena adanya warna mata biru.[1]

Kucing putih murni diseluruh dunia jumlahnya hanya sekitar 5% dari populasi kucing dengan sekitar 15-40% memiliki satu/dua warna mata biru dengan sekitar 60-80% dua mata berwarna biru tuli dan 30-40% satu mata berwarna biru tuli. Berarti, dari 5% kucing putih diseluruh dunia sebanyak 0,25-1,5% memiliki satu mata berwarna biru adalah tuli dan 0,75-2% memiliki dua mata berwarna biru adalah tuli.[2] Kucing putih bermata aneh dapat memiliki warna mata biru, emas, hijau, atau tembaga.[1]

Studi penelitian[sunting | sunting sumber]

Dalam satu studi tahun 1997, kucing putih dengan berbagai tingkat kekurangan pendengaran, 72% kucing putih yang ditemukan benar-benar tuli. Ketika kucing putih lahir setelah beberapa minggu pertama, seluruh organ Korti pada anak kucing putih ditemukan telah mengalami degenerasi. Ditemukan bahwa beberapa bulan setelah organ Korti mengalami kerusakan atau degenerasi, spiral ganglion juga akan mulai mengalami degenerasi.[3]

Genetik[sunting | sunting sumber]

Gen yang menyebabkan kucing memiliki warna putih pada bulunya adalah gen dominan masking. Akibatnya, kucing akan memiliki warna bulu dan pola yang mendasari. Ketika gen dominan putih hadir, pola bulu tidak dapat terjadi/terbentuk. Seekor kucing yang memiliki homozigot (WW) atau heterozigot (Ww) untuk gen ini akan memiliki warna bulu putih meskipun mendasari pola/warna. Seekor kucing yang tidak memiliki gen dominan masking (ww) akan menunjukkan warna bulu/pola. Ada beberapa sumber mengatakan bahwa kucing putih akan memiliki mata berwarna biru. Jika pola bulu yang mendasari adalah salah satu kucing point (juga disebut sebagai pola Siamese), mata biru dapat berasal dari genetik gen pointed. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa semua kucing putih dengan mata berwarna biru itu adalah tuli.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c (Inggris) S. K. Bosher dan C. S. Hallpike (13 April 1965). Observations on the Histological Features, Development and Pathogenesis of the Inner Ear Degeneration of the Deaf White Cat. The Royal Society. Diakses 27 Juni 2014.
  2. ^ a b (Indonesia) drh. Neno WS. Benarkah Kucing Putih itu Tuli ?. Kucingkita.com. Diakses 27 Juni 2014.
  3. ^ (Inggris) Silvia Heid, Rainer Hartmann, dan Rainer Klinke. A model for prelingual deafness, the congenitally deaf white cat – population statistics and degenerative changes. ScienceDirect. Diakses 27 Juni 2014.
  4. ^ (Inggris) George M. Strain (2011). Deafness in Dogs and Cats. CABI. hlm. 68. ISBN 978-1-84593-764-5.  Diakses 27 Juni 2014.