Campak
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
| Campak | |
|---|---|
| Seorang anak dengan ruam campak hari keempat | |
| Informasi umum | |
| Nama lain | Morbilli, rubeola, measles, gabak, gabagen, campak merah, campak Inggris[1][2] |
| Spesialisasi | Penyakit menular |
| Penyebab | Virus campak[3] |
| Aspek klinis | |
| Gejala dan tanda | Demam, batuk, pilek, mata merah, ruam[3][4] |
| Komplikasi | Pneumonia, kejang, ensefalitis, panensefalitis sklerosis subakut, imunosupresi, hilang pendengaran, kebutaan[5][6] |
| Awal muncul | 10–12 hari setelah paparan[7][8] |
| Durasi | 7–10 hari[7][8] (tidak termasuk komplikasi) |
| Tata laksana | |
| Pencegahan | Vaksin campak[7] |
| Perawatan | Terapi suportif[7] |
| Distribusi dan frekuensi | |
| Prevalensi | 20 juta per tahun (dunia),[3] 3.500 (Indonesia, 2024)[9] |
| Kematian | 140.000+ (2018)[10][11] |
Campak (bahasa Inggris: measles, kemungkinan berasal dari istilah dalam bahasa Belanda Pertengahan atau bahasa Jerman Tinggi Pertengahan masel(e), yang berarti "bercak, luka lepuh berisi darah")[12][13] adalah penyakit yang sangat mudah menular tetapi bisa dicegah oleh pemberian vaksin yang disebabkan oleh virus campak.[3][5] Penyakit ini juga dikenal dengan nama lain gabak, gabagen (dalam bahasa Jawa), morbili, rubeola, campak 9 hari, campak merah, dan campak Inggris.[1][3]
Gejala penyakit ini biasanya muncul 10-12 hari setelah seseorang terpapar orang yang terinfeksi campak dan berlangsung selama 7-10 hari.[7] Gejala-gejala awal yang biasanya ditemukan adalah demam, seringkali lebih dari 40 °C, batuk, pilek, dan peradangan mata.[3][4] Bintik-bintik putih kecil yang dikenal sebagai bercak Koplik dapat terbentuk di dalam mulut dua sampai tiga hari setelah timbulnya gejala-gejala.[4] Ruam kemerahan dan datar, yang biasanya muncul mulai dari wajah dan kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh lainnya, umumnya mulai timbul di hari ketiga sampai kelima setelah munculnya gejala-gejala.[4] Komplikasi-komplikasi yang umum ditemukan meliputi diare (dalam 8% kasus), infeksi telinga tengah (7%), dan pneumonia (6%).[5] Hal-hal ini sebagian disebabkan terjadinya imunosupresi yang dipicu infeksi virus campak.[6] Komplikasi-komplikasi lain yang jarang terjadi meliputi kejang, kebutaan, atau peradangan otak.[5][7]
Campak adalah penyakit bawaan udara yang sangat mudah menular dari satu orang ke orang lainnya melalui batuk dan bersin orang yang terinfeksi.[7] Penyakit ini juga dapat menular melalui kontak langsung dengan mulut atau cairan ingus.[7] Penyakit ini sangat mudah menular: sembilan dari sepuluh orang yang tidak memiliki imunitas terhadap penyakit ini dan tinggal bersama-sama dengan orang yang terinfeksi akan ikut terinfeksi. Lebih jauh lagi, perkiraan angka reproduksi dasar virus campak bervariasi mulai dari kisaran yang sering dikutip, 12 sampai 18,[14] sampai, menurut sebuah artikel tinjauan ilmiah tahun 2017, kisaran 3,7 hingga 203,3.[15] Orang-orang yang terinfeksi virus campak dapat menularkan penyakit ini mulai dari empat hari sebelum sampai empat hari setelah munculnya ruam.[5] Walaupun sering disebut sebagai penyakit pada anak, penyakit ini dapat menyerang orang-orang di segala usia.[16] Kebanyakan orang tidak terinfeksi penyakit ini lebih dari sekali seumur hidupnya.[7] Pemeriksaan adanya virus campak dalam kasus-kasus terduga campak penting bagi upaya kesehatan masyarakat.[5] Campak tidak diketahui terdapat pada hewan lain.[17]
Pada kasus infeksi campak, tidak ada terapi spesifik yang tersedia, meskipun pemberian terapi suportif dapat meningkatkan angka kesembuhan.[7] Terapi suportif yang diberikan meliputi oralit (larutan dengan rasa sedikit manis dan asin), makanan sehat, dan obat-obatan untuk mengontrol demam.[7][8] Antibiotik harus diberikan jika terdapat infeksi bakteri sekunder seperti infeksi telinga atau pneumonia.[17] Suplementasi vitamin A juga direkomendasikan untuk anak-anak di bawah lima tahun.[7] Di antara kasus-kasus yang dilaporkan terjadi di AS antara tahun 1985 sampai 1992, kematian terjadi di 0,2% kasus,[5] tapi dapat mencapai hingga 10% pada orang-orang dengan malnutrisi.[7] Kebanyakan kasus meninggal akibat infeksi campak berusia kurang dari lima tahun.[7]
Vaksin campak efektif dalam mencegah terjadinya penyakit, sangatlah aman, dan seringkali diberikan dalam bentuk kombinasi dengan vaksin-vaksin lain.[7][18] Akibat mudahnya transmisi virus campak dari satu orang ke orang lain dalam sebuah komunitas, lebih dari 95% masyarakat dalam komunitas harus memperoleh vaksinasi campak untuk mencapai kekebalan kelompok.[19] Vaksinasi menyebabkan penurunan angka kejadian kematian akibat campak sebesar 80% antara tahun 2000 dan 2017. Sampai tahun 2017, sekitar 85% anak-anak di seluruh dunia telah menerima dosis pertama vaksin campak.[7] Campak menyerang sekitar 20 juta orang setiap tahunnya,[3] umumnya di wilayah-wilayah berkembang di Afrika dan Asia.[7] Di Indonesia sendiri, terdapat 3.500 kasus campak pada tahun 2024, menurun dari tahun 2023 yang mencapai lebih dari 10.600 kasus, tetapi kembali melonjak pada tahun 2025 hingga lebih dari 3.400 kasus yang tercatat sampai bulan Agustus.[9] Penyakit ini adalah salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.[20][21] Pada tahun 1980, 2,6 juta orang meninggal akibat campak,[7] dan pada tahun 1990, 545.000 orang meninggal akibat penyakit ini; pada tahun 2014, program vaksinasi global telah berhasil menurunkan angka kematian menjadi 73.000.[22][23] Meskipun terdapat tren penurunan, angka kejadian penyakit dan kematian campak meningkat dari tahun 2017 sampai 2019 akibat penurunan imunisasi.[24][25][26]
Tanda dan gejala
[sunting | sunting sumber]
Gejala-gejala prodorma seperti demam, malaise, dan batuk mulai tampak 7–23 hari (umumnya 10-14 hari) setelah paparan.[5][3][6][27] Demam meningkat secara bertahap dan mencapai puncaknya pada 39 °C - 41 °C.[5] Satu sampai dua hari setelah gejala prodorma, bercak Koplik timbul di dalam sisi pipi yang berlawanan dengan gigi geraham dengan tampakan sebagai sekumpulan lesi putih ("sejumput garam") pada area yang memerah. Bintik-bintik ini adalah tanda patognomonik campak, tetapi mereka hanya muncul dalam waktu singkat sehingga tidak selalu didapatkan saat pemeriksaan.[3] Gejala klasik campak meliputi demam, batuk (cough), coryza (flu, demam, bersin), dan konjungtivitis (conjunctivitis), yang dikenal dengan istilah "tiga C", serta ruam makulopapular.[28]
Ruam khas campak secara klasik dideskripsikan sebagai ruam makulopapular generalisata yang mulai timbul tiga sampai lima hari setelah prodroma; rata-rata, 14 hari setelah paparan, tapi sedikitnya 7 sampai 21 hari setelah paparan.[5][6] Ruam timbul mulai dari belakang kedua telinga atau wajah, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Timbulnya ruam disebabkan oleh kerja sistem imun seluler dan humoral membersihkan sel-sel kulit yang terinfeksi, seperti pada konjungtivitis. Konjungtivitis pada campak juga seringkali menyebabkan fotofobia.[6] Ruam campak dikatakan seperti "menodai" kulit, berubah warna dari merah sampai menjadi cokelat tua, kemudian menghilang.
Kasus-kasus campak tanpa komplikasi umumnya membaik dalam beberapa hari sejak timbulnya ruam dan sembuh dalam 7-10 hari.[6]
Orang-orang yang tidak menerima vaksinasi campak namun memiliki kekebalan perlindungan yang tidak lengkap dapat mengalami bentuk modifikasi dari campak. Bentuk modifikasi dari campak ditandai dengan masa inkubasi yang lebih panjang serta gejala-gejala yang lebih ringan dan kurang khas (ruam yang tampak jarang-jarang dan menyebar serta timbul dalam durasi pendek).[5] Karena terbentuknya ruam dan konjungtivitis memerlukan sistem imun yang fungsional, orang-orang dengan kondisi imunokompresi mungkin sulit terdiagnosis atau mengalami keterlambatan diagnosis.[6]
- Seorang bayi Filipina dengan campak
- Bercak Koplik pada hari ketiga pre-erupsi
- Ruam makulopapular di perut pada hari ketiga penyakit
Komplikasi
[sunting | sunting sumber]Komplikasi campak relatif sering terjadi. Beberapa komplikasi disebabkan langsung oleh virus, sedangkan beberapa komplikasi lainnya disebabkan oleh tertekannya sistem imun oleh virus. Fenomena ini, yang dikenal sebagai "amnesia imunitas", meningkatkan risiko terjadinya infeksi bakteri sekunder;[6][29][30][31] dua bulan setelah pasien pulih, terdapat penurunan jumlah antibodi terhadap bakteri dan virus lain sebesar 11–73%.[32] Populasi penelitian dari masa sebelum sampai saat pengenalan vaksin campak menunjukkan bahwa amnesia imunitas umumnya berlangsung selama 2-3 tahun. Penelitian pada primata menunjukkan bahwa amnesia imunitas pada campak disebabkan oleh penggantian sel limfosit memori dengan sel-sel yang spesifik terhadap virus campak, karena sel-sel tersebut langsung dihancurkan setelah terinfeksi virus. Hal ini menimbulkan imunitas jangka panjang terhadap reinfeksi campak, tetapi menurunkan kekebalan terhadap patogen lainnya.[30] Komplikasi-komplikasi campak dapat terkait langsung dengan infeksi virus - misalnya pneumonia viral atau laringotrakeobronkitis (krup) viral - atau terkait dengan kerusakan yang disebabkan virus campak terhadap jaringan-jaringan dan sistem imun. Komplikasi-komplikasi campak yang paling serius meliputi ensefalitis akut,[33] ulkus kornea (mengakibatkan timbulnya jaringan parut pada kornea);[34] dan panensefalitis sklerosis subakut, sebuah peradangan otak yang sifatnya progresif dan fatal yang terjadi pada sekitar 1 dari 600 bayi di bawah 15 bulan yang tidak mendapatkan vaksinasi. Infeksi sekunder yang sering terjadi adalah diare, pneumonia bakterial, dan otitis media.[6]
Angka kematian akibat pneumonia campak pada tahun 1920-an adalah sekitar 30%.[35] Orang-orang yang berada dalam risiko tinggi mengalami komplikasi campak adalah bayi dan anak berusia kurang dari 5 tahun;[16] dewasa berusia lebih dari 20 tahun;[16] wanita hamil;[16] orang-orang dengan gangguan sistem imun, seperti leukemia, infeksi HIV atau imunodefisiensi bawaan;[16][36] dan mereka yang mengalami malnutrisi[16] atau defisiensi vitamin A.[16][37] Komplikasi biasanya lebih berat pada orang dewasa.[38] Antara tahun 1987 dan 2000, angka kematian kasus di seluruh Amerika Serikat adalah tiga kematian per 1.000 kasus campak, atau 0,3%.[39] Di negara miskin dengan kasus malnutrisi yang tinggi dan fasilitas kesehatan yang buruk, angka kematian dapat mencapai 28%.[39] Pada pasien-pasien imunokompresi (misalnya, orang dengan AIDS) angka kematian akibat campak adalah sekitar 30%.[40]
Bahkan pada anak-anak yang sebelumnya sehat, campak dapat menyebabkan penyakit serius yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.[36] Satu dari 1.000 kasus campak berkembang menjadi ensefalitis, yang seringkali mengakibatkan kerusakan otak permanen.[36] Satu sampai tiga dari setiap 1.000 anak yang terinfeksi campak akan meninggal akibat komplikasi saluran napas dan sistem saraf.[36]
Penyebab
[sunting | sunting sumber]Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Campak disebabkan oleh virus campak, sebuah virus RNA berselubung, sense negatif, tidak tersegmentasi, untai tunggal dari genus Morbillivirus yang masuk dalam famili Paramyxoviridae.[41][42] Virus ini memiliki kekerabatan paling dekat dengan sampar sapi, sebuah virus pada sapi yang berhasil dieradikasi pada tahun 2001, dan distemper anjing, sebuah penyakit pada mamalia yang menimbulkan kerusakan saraf.[5] Terdapat 24 galur virus campak yang dibagi ke dalam delapan klad, A-H.[41]
Virus ini adalah salah satu patogen pada manusia yang paling mudah menular. Virus menyebar melalui batuk dan bersin penderita yang berkontak erat atau kontak langsung dengan sekret.[36][42][41] Sekret tubuh penderita campak tetap infeksius sampai dua jam melalui droplet saluran napas yang masih tertahan di udara.[5] Virus ini tidak mudah menyebar melalui benda-benda mati karena virus ini menjadi inaktif dalam beberapa jam dengan sinar ultraviolet dan panas.[6] Virus ini juga terinaktivasi oleh tripsin, lingkungan yang bersifat asam, dan eter.[5] Campak sangat mudah menular sehingga jika seseorang terinfeksi campak, 90% orang yang tidak memiliki imunitas terhadap campak dan berkontak erat dengan penderita campak (misalnya, anggota satu rumah) juga akan terinfeksi.[5][43] Manusia adalah satu-satunya inang utama alami virus, dan tidak diketahui adanya reservoir binatang lainnya, meskipun gorila gunung dipercaya rentan terhadap virus ini.[5][44] Faktor-faktor risiko infeksi virus campak meliputi imunodefisiensi yang disebabkan oleh HIV/AIDS,[45] imunosupresi setelah menerima transplantasi organ atau transplantasi sel punca,[46] agen alkilasi, atau terapi kortikosteroid, terlepas apapun status imunisasinya;[16] bepergian ke wilayah di mana campak sering terjadi atau kontak dengan pelancong yang berasal dari wilayah dengan campak;[16] dan hilangnya antibodi pasif, bawaan sebelum usia pemberian imunisasi rutin.[47]
Patofisiologi
[sunting | sunting sumber]

Setelah virus campak kontak dengan mukosa yang melapisi saluran pernapasan, virus tersebut berikatan dengan SLAM (signaling lymphocyte activation molecule, juga dikenal sebagai CD150) pada permukaan makrofag dan sel dendritik. Sel-sel ini kemudian memakan virus tersebut. Proses ini dimediasi oleh protein hemaglutinin (H) pada permukaan virus yag berikatan dengan SLAM dan menyebabkan fusi protein di kapsul virus (F) berubah bentuk, memungkinkan selubung virus untuk berfusi dengan RNA virus dan protein virus masuk. Protein L, sebuah RNA-dependent RNA polymerase, kemudian mentranskripsikan genom sense negatif virus menjadi mRNA sense positif, yang ditranslasi oleh ribosom sel asal menjadi protein virus. Sel-sel imun ini mengantarkan virus ke kelompok sel-sel imun lainnya, termasuk sel B, sel T, timosit, dan sel punca hematopoietik, yang menyebarkan virus ke organ-organ lain selama masa inkubasi.[5][41]
Periode awal infeksi campak di paru-paru berlangsung selama dua sampai tiga hari, dan berakhir dengan periode pertama viremia. Lima sampai tujuh hari setelah dimulainya infeksi, terjadilah viremia kedua, dan virus menginfeksi sel-sel epitel.[5] Virus menyebar di sepanjang sel-sel epitel, awalnya di trakeobronkial melalui rongga-rongga antarsel, dan kemudian di lapisan organ lain dan trakeobronkial melalui reseptor nectin-4. Hal ini menyebabkan munculnya gejala klinis batuk, yang kemudian mengaerolisasi virus dan memungkinkan virus untuk menyebar.[5][6]
Diagnosis
[sunting | sunting sumber]Umumnya, diagnosis klinis dimulai dengan munculnya demam dan malaise sekitar 10 hari setelah paparan terhadap virus campak, diikuti dengan batuk, coryza, dan konjungtivitis yang memberat dalam 4 hari sejak timbulnya gejala.[49] Didapatinya bercak Koplik saat pemeriksaan juga membantu penegakan diagnosis.[50] Penyakit-penyakit lain yang mungkin mirip dengan campak meliputi demam dengue, rubella, eritema infeksiosum (juga dikenal dengan nama fifth disease, disebabkan oleh parvovirus B19), dan roseola (juga disebut sebagai eksantema subitum atau sixth disease, disebabkan oleh HHV6).[6] Maka dari itu, konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium sangatlah direkomendasikan, khususnya di wilayah non-endemik.[5]
Pemeriksaan laboratorium
[sunting | sunting sumber]Diagnosis campak secara laboratoris dapat dilakukan dengan konfirmasi positif antibodi IgM campak atau deteksi RNA virus campak dari tenggorokan, hidung, atau spesimen urin menggunakan pemeriksaan reaksi berantai polimerase transkripsi-balik.[51][52] Metode ini secara khusus berguna untuk mengonfirmasi kasus-kasus di mana pemeriksaan antibodi IgM menunjukkan hasil inkonklusif.[51] Untuk orang-orang yang tidak bisa diambil sampel darahnya, dapat dilakukan pengambilan sampel saliva untuk pemeriksaan IgA spesifik campak.[52] Pemeriksaan saliva untuk diagnosis campak melibatkan pengambilan sampel saliva dan pemeriksaan adanya antibodi terhadap campak.[53][54] Metode ini tidaklah ideal, karena saliva mengandung banyak cairan dan protein lain yang dapat menyulitkan pengambilan sampel dan deteksi antibodi campak.[53][54] Saliva juga mengandung antibodi 800 kali lebih sedikit dibandingkan sampel darah. Adanya riwayat kontak dengan orang lain yang menderita campak juga menambah nilai bukti penegakan diagnosis.[53]
Pemeriksaan biopsi dan histopatologi umumnya tidak digunakan untuk diagnosis campak, namun sel-sel Warthin–Finkeldey, sel-sel berukuran besar dengan beberapa nukleus dan badan inklusi eosinofilik, sering terlihat di jaringan limfatik, namun bukanlah hal khas dari campak.[1][55] Epitel yang terdampak infeksi mungkin memiliki sel-sel berukuran besar dengan badan-badan inklusi virus atau badan Cowdry.[55]
Pengobatan
[sunting | sunting sumber]Tidak ada terapi antivirus spesifik untuk campak.[36] Obat-obatan yang diberikan umumnya ditujukan untuk mengatasi superinfeksi, mempertahankan status hidrasi yang baik dengan pemberian cairan yang cukup, dan meringankan nyeri.[36] Terapi suportif dapat meliputi ibuprofen atau parasetamol (asetaminofen) untuk mengurangi demam dan nyeri, dan bila dibutuhkan, obat untuk melebarkan jalan napas kerja cepat untuk batuk.[56]
Beberapa kelompok, seperti anak-anak kecil dan anak-anak dengan malnutrisi berat, juga diberikan vitamin A sesuai resep dokter. Vitamin A bekerja sebagai imunomodulator yang meningkatkan respon antibodi terhadap virus campak dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi yang serius.[36][42][57] Meskipun pemberian vitamin A tidak menyembuhkan pasien atau menurunkan mortalitas di seluruh kelompok usia,[58] dua dosis (200,000 IU) vitamin A terbukti menurunkan mortalitas pada anak-anak berusia di bawah dua tahun.[42][59] Pada wabah campak di AS tahun 2025, anak-anak yang dibawa ke rumah sakit datang dengan campak dan kelebihan vitamin A karena orang tua mereka memberikan berbagai asupan yang mengandung vitamin A (suplemen atau minyak hati bakalau) sebagai usaha mereka untuk melindungi anak mereka sebelum sang anak jatuh sakit akibat campak.[60][61]
Penelitian pemberian suplemen zinc untuk anak dengan campak belum cukup banyak.[62] Tidak ada bukti penelitian klinis acak yang mendukung atau bertentangan dengan ide apakah terapi ramuan obat Cina merupakan terapi efektif untuk campak.[63]
Prognosis
[sunting | sunting sumber]Kebanyakan penderita campak sembuh, walaupun dapat terjadi komplikasi dalam beberapa kasus. Sekitar 1 dari 4 pasien akan dirawat di rumah sakit, dan kematian terjadi pada 1-2 dari 1.000 kasus. Komplikasi cenderung terjadi pada anak di bawah 5 tahun, dewasa di atas usia 20 tahun, dan wanita hamil.[64][65] Pneumonia adalah komplikasi umum campak yang paling fatal dan terlibat dalam 56–86% kasus kematian terkait campak.[66]
Kemungkinan dampak dari infeksi virus campak meliputi laringotrakeobronkitis, hilang pendengaran sensorineural,[67] dan—dalam sekitar 1 dari 10.000 hingga 1 dari 300.000 kasus[68]—panensefalitis, yang biasanya bersifat fatal.[69] Ensefalitis campak akut adalah risiko serius lainnya dari infeksi virus campak. Ensefalitis biasanya terjadi dua hari sampai satu minggu setelah timbulnya ruam campak dan dimulai dengan demam yang sangat tinggi, nyeri kepala hebat, kejang, dan penurunan kesadaran. Seseorang dengan ensefalitis campak dapat mengalami koma, dan dapat terjadi kematian atau kerusakan otak.[3]
Untuk orang-orang yang pernah mengalami campak, mereka jarang sekali mengalami infeksi ulang simtomatik.[70]
Virus campak dapat menurunkan memori sistem imun yang telah diperoleh sebelumnya dengan cara membunuh sel-sel yang menghasilkan antibodi, sehingga sistem imun melemah, yang dapat menyebabkan kematian akibat penyakit lain.[30][31][32] Supresi sistem imun oleh campak berlangsung selama sekitar dua tahun dan secara epidemiologi terlibat dalam hampir 90% kematian anak di negara-negara dunia ketiga, serta secara historis dapat menyebabkan kematian yang lebih banyak di Amerika Serikat, Inggris, dan Denmark daripada yang disebabkan secara langsung oleh campak.[71][72] Walaupun vaksin campak mengandung galur virus yang dilemahkan, vaksin campak tidak menurunkan memori sistem imun.[31]
Pencegahan
[sunting | sunting sumber]
Para ibu yang memiliki kekebalan terhadap campak akan mewariskan antibodi ke anak-anak mereka saat sang anak masih berada dalam kandungan, khususnya jika sang ibu memperoleh kekebalan melalui infeksi, bukan dari vaksinasi.[5][47] Antibodi-antibodi tersebut biasanya akan memberikan beberapa kekebalan terhadap campak bagi para bayi yang baru lahir, tetapi antibodi-antibodi ini akan hilang secara bertahap selama sembilan bulan pertama kehidupan.[3][47] Namun, imunisasi dengan vaksin hidup tidak direkomendasikan pada kehamilan; orang hamil yang ditemukan tidak memiliki kekebalan terhadap campak harus diimunisasi setelah melahirkan.[64] Bayi di bawah 1 tahun yang sudah kehilangan antibodi anti-campak maternalnya menjadi rentan terinfeksi virus campak.[47]
Secara umum, anak-anak direkomendasikan untuk menerima imunisasi terhadap campak pada usia 12 bulan, sebagai bagian dari vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubela). Vaksin ini biasanya tidak diberikan sebelum usia 12 bulan karena bayi yang berusia lebih muda memiliki respon inadekuat terhadap vaksin akibat sistem imun mereka yang belum matang. Dosis kedua vaksin direkomendasikan untuk diberikan antara usia empat dan lima tahun untuk meningkatkan kekebalan.[73][74] Efek samping terhadap vaksin campak jarang terjadi; demam dan nyeri pada titik penyuntikan adalah efek samping yang paling umum ditemukan. Reaksi efek samping vaksin yang mengancam nyawa terjadi pada kurang dari satu per satu juta vaksinasi (<0,0001%).[75]
Pada daerah dengan risiko infeksi campak yang tinggi, World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar dua dosis pertama vaksin diberikan lebih awal, yaitu pada usia sembilan dan 18 bulan.[74] Vaksin harus diberikan tanpa memandang status HIV bayi.[76] Vaksin ini kurang efektif pada bayi dengan HIV dibandingkan dengan populasi umum, tetapi pengobatan dini dengan antiretroviral dapat meningkatkan efektivitas vaksin.[77] Program vaksin campak seringkali digunakan untuk memberikan intervensi kesehatan anak yang lainnya, seperti kelambu tidur untuk proteksi terhadap malaria, obat antiparasit, dan suplemen vitamin A, sehingga berkontribusi juga terhadap penurunan kematian anak akibat penyebab-penyebab lain.[78]
Komite Penasihat Praktik Imunisasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan seluruh pelancong internasional dewasa yang tidak memiliki bukti positif kekebalan campak sebelumnya menerima dua dosis vaksin MMR sebelum bepergian.[73][79] Kelahiran sebelum tahun 1957 dianggap memiliki bukti kekebalan yang sifatnya berupa dugaan.[73] Orang-orang yang lahir sebelum tahun 1957 kemungkinan besar pernah terinfeksi virus campak secara alami dan umumnya tidak perlu dianggap rentan terinfeksi campak.[73][5][80]
Terdapat klaim palsu bahwa ada kaitan antara vaksin campak dan autisme; hal ini menyebabkan cakupan vaksinasi berkurang dan meningkatkan angka kejadian campak di daerah dengan angka cakupan imunisasi yang terlalu rendah untuk mempertahankan kekebalan kelompok.[16] Selain itu, terdapat klaim palsu bahwa infeksi campak memberikan proteksi terhadap kanker.[18]
Pemberian vaksin MMR dapat mencegah campak setelah paparan terhadap virus (profilaksis pascapaparan).[81] Pedoman profilaksis pascapaparan sifatnya spesifik terhadap jurisdiksi dan populasi.[81] Imunisasi pasif terhadap campak dengan injeksi intramuskular antibodi dapat efektif sampai hari ketujuh setelah paparan.[82] Dibandingkan dengan kondisi tanpa terapi, risiko infeksi campak berkurang sebesar 83%, dan risiko kematian akibat campak berkurang sebesar 76%. Namun, efektivitas imunisasi pasif dibandingkan dengan vaksin campak aktif tidaklah jelas.[82]
Vaksin MMR 95% efektif dalam mencegah campak setelah satu dosis jika vaksin diberikan kepada anak berusia dua belas tahun atau lebih; jika dosis kedua vaksin MMR diberikan, vaksin ini akan memberikan imunitas pada 97-99% anak.[36][42]
Vitamin A dan pencegahan campak
[sunting | sunting sumber]"Defisiensi vitamin A (DVA) adalah masalah kesehatan utama pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah, mengenai 190 juta anak-anak di bawah lima tahun, dan mengakibatkan banyak dampak buruk terhadap kesehatan, termasuk kematian."[83] Defisiensi vitamin A jarang terjadi di Amerika Serikat.[84] Meta-analisis terhadap uji klinis yang dilakukan di negara-negara dengan prevalensi DVA yang cukup tinggi menyimpulkan bahwa ketika anak diberikan suplementasi vitamin A, terdapat penurunan insidensi infeksi campak sebesar 50%.[83] Sebagai perbandingan, vaksinasi dengan dua dosis vaksin campak pada masa kanak-kanak memberikan proteksi sebesar 97-99% terhadap campak.[36][73][42] Suplementasi vitamin A tidak dianggap menurunkan risiko kematian akibat campak.[84] Anak-anak yang diberikan vitamin A dosis tinggi dari suplemen atau minyak hati bakalau dapat mengalami akumulasi vitamin A yang mencapai kadar toksik dan hal ini dapat menyebabkan hipervitaminosis A dan kerusakan hati.[84]
Sebuah tinjauan Cochrane tahun 2016 membahas dua percobaan acak terkontrol (RCT) yang melibatkan 260 anak dengan campak yang membandingkan vitamin A dengan plasebo. Hal yang krusial pada artikel ini adalah tidak ada dari kedua percobaan tersebut yang melaporkan kebutaan atau morbiditas okular lainnya sebagai luaran utama. Satu percobaan menunjukkan adanya peningkatan sementara kadar retinol serum, tetapi tidak ada efek penambahan berat badan yang menetap. Percobaan kedua menemukan tidak ada perbedaan kadar retinol serum yang signifikan atau tingkat kekurangan nutrisi. Maka dari itu, para penulis menyimpulkan bahwa tidak ada percobaan yang ditemukan yang menilai apakah suplementasi vitamin A pada anak dengan campak mencegah kebutaan.[85]
Dalam wabah campak di Amerika Serikat bagian barat daya tahun 2025, yang terpusat di Texas Barat, beberapa keluarga tetap menolak pemberian vaksin dan malah memilih untuk memberi suplementasi vitamin A atau minyak hati bakalau yang mengandung vitamin A dan D ke anak-anak mereka setelah Robert F. Kennedy Jr. mempromosikan vitamin A sebagai pencegahan dan terapi untuk campak.[60] Beberapa anak yang dirawat akibat campak di Rumah Sakit Anak Covenant di Lubbock juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan hati, yang merupakan sebuah gejala dari keracunan vitamin A.[84][60][61] Sampai Mei 2025, terlepas dari berbagai efek samping serius tersebut—dan kemungkinan menyebabkan peningkatan penyebaran penyakit—Kennedy, sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat, tetap terus mempromosikan vitamin A selama epidemi campak, bersama dengan tindakan-tindakan tanpa basis ilmiah dan nonvaksin lainnya, menyebabkan ia dikecam secara luas.[86]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]
Campak adalah penyakit yang berawal dari zoonosis. Penyakit ini berevolusi dari sampar sapi, sebuah penyakit yang menginfeksi hewan ternak.[87] Prekursor campak mulai menyebabkan infeksi pada manusia setidak-tidaknya sejak abad ke-4 Sebelum Masehi[88][89] atau paling lambat sejak setelah tahun 500 Masehi.[87] Wabah Antoninus yang terjadi tahun 165–180 Masehi diperkirakan sebenarnya adalah campak, namun penyebab sebenarnya wabah ini tidak diketahui, dan cacar merupakan penyebab yang paling mungkin.[90] Deskripsi sistematis campak pertama yang memisahkannya dari cacar dan cacar air diatributkan kepada seorang dokter Persia, Muhammad ibn Zakariya al-Razi (860–932), yang mempublikasikan Buku Tentang Cacar dan Campak. Ia menggambarkan campak sebagai "[penyakit yang] untuk lebih ditakuti dibandingkan cacar".[5][91] Diyakini bahwa pada waktu penulisan buku Razi tersebut, wabah masih bersifat terbatas dan virus campak belum sepenuhnya teradaptasi terhadap manusia. Dalam suatu waktu antara tahun 1100 dan 1200 Masehi, virus campak benar-benar terpisah dari sampar sapi, menjadi sebuah virus berbeda yang menginfeksi manusia.[87] Hal ini sejalan dengan pengamatan bahwa campak memerlukan populasi rentan sejumlah lebih dari 500.000 untuk mempertahankan terjadinya sebuah epidemi, sebuah situasi yang terjadi pada masa bersejarah setelah pertumbuhan kota-kota Eropa di abad pertengahan.[92]

Campak adalah sebuah penyakit endemis, yang berarti penyakit ini telah terus-menerus hadir di dalam sebuah komunitas dan banyak orang yang membentuk resistensi terhadap penyakit ini. Pada populasi yang belum terpapar campak, paparan terhadap penyakit baru dapat berakibat fatal. Pada tahun 1529, sebuah wabah campak di Kuba membunuh dua pertiga orang-orang suku asli yang sebelumnya selamat dari cacar. Dua tahun kemudian, campak bertanggung jawab atas kematian setengah populasi Honduras, dan penyakit ini menghancurkan Meksiko, Amerika Tengah, dan peradaban suku Inka.[94]
Wabah campak di Kepulauan Faroe tahun 1846 tidaklah biasa karena dipelajari secara baik.[95] Campak sudah tidak dijumpai lagi di kepulauan ini selama 60 tahun, sehingga hampir tidak ada penduduk kepulauan yang memiliki imunitas bawaan terhadap campak.[95] Tiga perempat penduduk kepulauan menjadi sakit, dan lebih dari 100 penduduk (1–2% dari total populasi) meninggal sebelum epidemi ini berhenti dengan sendirinya.[95] Peter Ludvig Panum mengamati terjadinya wabah dan memutuskan bahwa campak menyebar melalui kontak langsung antara orang yang menularkan dengan orang yang belum pernah mengalami campak.[95] Ia membuat penjelasan mengenai kekebalan yang diberikan oleh campak serta masa inkubasinya dengan mempelajari wabah ini.[5]
Campak membunuh 20 persen populasi Hawaii pada tahun 1850-an.[96] Pada tahun 1875, campak membunuh lebih dari 40.000 penduduk Fiji, alias sekitar satu pertiga dari populasi.[97] Pada abad ke-19, campak membunuh lebih dari setengah populasi Orang Andaman Besar.[98]
Pada tahun 1914, seorang ahli statistik dari perusahaan asuransi Prudential memperkirakan, dari sebuah survei terhadap 22 negara, bahwa 1% dari seluruh kematian di zona iklim sedang disebabkan oleh campak. Ia juga mengamati bahwa 1–6% kasus campak berakhir fatal, perbedaan dampak penyakit bergantung pada usia (0–3 tahun menjadi kelompok usia terburuk), kondisi sosial (misalnya hunian yang terlalu padat) dan masalah kesehatan yang telah ada sebelumnya.[99]
Vaksinasi
[sunting | sunting sumber]Sebelum adanya vaksin, diperkirakan lebih dari 2 juta kematian dan 30 juta kasus campak terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia.[6] Pada tahun 1954, John Enders dan Thomas C. Peebles mengisolasi virus campak dari seorang anak laki-laki 13 tahun asal Amerika Serikat, David Edmonston. Enders adalah salah satu peneliti yang berpengalaman dalam mempropagasi virus polio, yang membuka jalan untuk terciptanya vaksin Salk, dan ia menggunakan teknik yang sama untuk menumbuhkan galur Edmonston pada jaringan ginjal manusia di akhir tahun yang sama, lalu melakukan kultur jaringan pada membran amnion, dan kemudian kultur pada embrio ayam. Pekerjaan mereka berlangsung selama tiga tahun dan menciptakan sebuah virus yang dapat bereplikasi dan menghasilkan kekebalan, namun tidak menyebabkan penyakit. Proses ini disebut sebagai atenuasi.[5][100] Saat sedang bekerja di Merck, Maurice Hilleman mengatenuasi galur Edmonston B lebih lanjut lagi untuk mengembangkan vaksin campak pertama yang berhasil dibuat, yang mulai tersebar luas di Amerika Serikat pada tahun 1963.[5][101] Vaksin ini dikaitkan dengan reaksi pascaimunisasi seperti demam dan ruam. Sebagai usaha untuk mengurangi kejadian reaksi imunisasi, vaksin ini diatenuasi lebih lanjut lagi untuk menghasilkan galur Schwartz (diperkenalkan pada tahun 1965, saat ini sudah tidak digunakan lagi) dan galur Edmonston-Enders (diperkenalkan pada tahun 1968). Produksi Edmonston B dihentikan pada tahun 1975.[5] Vaksin campak dari virus yang dimatikan diberikan antara tahun 1963 dan 1967, namun penggunaannya dihentikan, digantikan dengan vaksin hidup karena adanya risiko campak atipikal dan proteksi yang lebih lemah dari vaksin virus mati.[5][27] Vaksin campak diberikan dalam bentuk kombinasi dengan vaksin gondongan dan vaksin rubela, yang sama-sama merupakan vaksin hidup, pada usia yang sama, untuk menciptakan vaksin MMR. Lisensi penggunaan vaksin ini dikeluarkan di Amerika Serikat pada tahun 1971. Vaksin MMR dikombinasikan dengan vaksin cacar air untuk menciptakan vaksin MMRV, yang lisensi penggunaannya dikeluarkan tahun 2005.[5]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 Milner, Danny A. (2015). Diagnostic Pathology: Infectious Diseases E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 24. ISBN 978-0-323-40037-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- ↑ Stanley, Jacqueline (2002). Essentials of Immunology & Serology. Cengage Learning. hlm. 323. ISBN 978-0-7668-1064-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tesini, Brenda L. (Juli 2023). "Measles". Merck Manual Professional. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2025. Diakses tanggal 10 April 2025.
- 1 2 3 4 "Measles (Rubeola) Signs and Symptoms". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 3 November 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Februari 2015. Diakses tanggal 5 Februari 2015.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 "Chapter 13: Measles". Pink Book Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 24 April 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juli 2024. Diakses tanggal 9 April 2025.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Rota PA, Moss WJ, Takeda M, de Swart RL, Thompson KM, Goodson JL (Juli 2016). "Measles". Nature Reviews. Disease Primers. 2 16049. doi:10.1038/nrdp.2016.49. PMID 27411684.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 "Measles Fact Sheet". World Health Organization (WHO). 14 November 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 10 April 2025.
- 1 2 3 Bope, Edward T.; Kellerman, Rick D. (2014). Conn's Current Therapy 2015. Elsevier Health Sciences. hlm. 153. ISBN 978-0-323-31956-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- 1 2 "KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lengkap". Kemenkes. 27 Agustus 2025. Diakses tanggal 27 Agustus 2025.
- ↑ "More than 140,000 die from measles as cases surge worldwide". World Health Organization (WHO) (Press release). 5 December 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 August 2020. Diakses tanggal 4 September 2020.
- ↑ "Global Measles Outbreaks". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 17 August 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 7 September 2020. Diakses tanggal 4 September 2020.
- ↑ Douglas Harper (n.d.). "measles (n.)". Online Etymology Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 September 2024. Diakses tanggal 14 September 2024.
- ↑ "measles". Oxford English Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2023. Diakses tanggal 10 April 2025.
- ↑ Guerra, Fiona M.; Bolotin, Shelly; Lim, Gillian; Heffernan, Jane; Deeks, Shelley L.; Li, Ye; Crowcroft, Natasha S. (Desember 2017). "The basic reproduction number (R0) of measles: a systematic review". The Lancet. Infectious Diseases. 17 (12): e420 – e428. doi:10.1016/S1473-3099(17)30307-9. ISSN 1474-4457. PMID 28757186.
- ↑ Delamater, P. L.; Street, E. J.; Leslie, T. F.; Yang, Y. T.; Jacobsen, K. H. (2019). "Complexity of the Basic Reproduction Number (R0)". Emerging Infectious Diseases. 25 (1). NIH website: 1–4. doi:10.3201/eid2501.171901. PMC 6302597. PMID 30560777.
[a] review in 2017 identified feasible measles R0 values of 3.7–203.3
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selina, SP; Chen, MD (6 Juni 2019). Measles (Report). Medscape. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 September 2011.
- 1 2 "Measles". World Health Organization (WHO). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2025. Diakses tanggal 30 April 2025.
- 1 2 Russell, SJ; Babovic-Vuksanovic, D; Bexon, A; Cattaneo, R; Dingli, D; Dispenzieri, A; Deyle, DR; Federspiel, MJ; Fielding, A; Galanis, E (September 2019). "Oncolytic Measles Virotherapy and Opposition to Measles Vaccination". Mayo Clinic Proceedings. 94 (9): 1834–39. doi:10.1016/j.mayocp.2019.05.006. PMC 6800178. PMID 31235278.
- ↑ Ludlow M, McQuaid S, Milner D, de Swart RL, Duprex WP (January 2015). "Pathological consequences of systemic measles virus infection". The Journal of Pathology. 235 (2): 253–65. doi:10.1002/path.4457. PMID 25294240.
- ↑ Kabra SK, Lodha R (Agustus 2013). "Antibiotics for preventing complications in children with measles". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2013 (8): CD001477. doi:10.1002/14651858.CD001477.pub4. PMC 7055587. PMID 23943263.
- ↑ "Despite the availability of a safe, effective and inexpensive vaccine for more than 40 years, measles remains a leading vaccine-preventable cause of childhood deaths" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Desember 2019. Diakses tanggal 16 Februari 2019.
- ↑ GBD 2015 Mortality and Causes of Death Collaborators (Oktober 2016). "Global, regional, and national life expectancy, all-cause mortality, and cause-specific mortality for 249 causes of death, 1980-2015: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2015". Lancet. 388 (10053): 1459–1544. doi:10.1016/S0140-6736(16)31012-1. PMC 5388903. PMID 27733281.
- ↑ GBD 2013 Mortality Causes of Death Collaborators (Januari 2015). "Global, regional, and national age-sex specific all-cause and cause-specific mortality for 240 causes of death, 1990-2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013". Lancet. 385 (9963): 117–71. doi:10.1016/S0140-6736(14)61682-2. PMC 4340604. PMID 25530442.
- ↑ "Measles cases spike globally due to gaps in vaccination coverage". World Health Organization (WHO). 29 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Desember 2018. Diakses tanggal 21 December 2018.
- ↑ "U.S. measles cases surge nearly 20 percent in early April, CDC says". Reuters. 16 April 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2019. Diakses tanggal 16 April 2019.
- ↑ "Measles – European Region". World Health Organization (WHO). Diarsipkan dari asli tanggal 8 May 2019. Diakses tanggal 8 Mei 2019.
- 1 2 Do, Lien Anh Ha; Mulholland, Kim (17 Desember 2025). "Measles 2025". New England Journal of Medicine. 393 (24): 2447–2458. doi:10.1056/NEJMra2504516. ISSN 0028-4793.
- ↑ Biesbroeck L, Sidbury R (November 2013). "Viral exanthems: an update". Dermatologic Therapy. 26 (6): 433–8. doi:10.1111/dth.12107. PMID 24552405. S2CID 10496269.
- ↑ Griffin DE (Juli 2010). "Measles virus-induced suppression of immune responses". Immunological Reviews. 236: 176–89. doi:10.1111/j.1600-065X.2010.00925.x. PMC 2908915. PMID 20636817.
- 1 2 3 Griffin, Ashley Hagen (18 Mei 2019). "Measles and Immune Amnesia". asm.org. American Society for Microbiology. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2020. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
- 1 2 3 Mina MJ, Kula T, Leng Y, Li M, de Vries RD, Knip M, Siljander H, Rewers M, Choy DF, Wilson MS, Larman HB, Nelson AN, Griffin DE, de Swart RL, Elledge SJ (1 November 2019). "Measles virus infection diminishes preexisting antibodies that offer protection from other pathogens". Science. 366 (6465): 599–606. Bibcode:2019Sci...366..599M. doi:10.1126/science.aay6485. hdl:10138/307628. ISSN 0036-8075. PMC 8590458. PMID 31672891.
- 1 2 Guglielmi, Giorgia (31 Oktober 2019). "Measles erases immune 'memory' for other diseases". Nature. doi:10.1038/d41586-019-03324-7. PMID 33122832. S2CID 208489179. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 November 2019. Diakses tanggal 3 November 2019.
- ↑ Fisher DL, Defres S, Solomon T (March 2015). "Measles-induced encephalitis". QJM. 108 (3): 177–82. doi:10.1093/qjmed/hcu113. PMID 24865261.
- ↑ Semba RD, Bloem MW (March 2004). "Measles blindness". Survey of Ophthalmology. 49 (2): 243–55. doi:10.1016/j.survophthal.2003.12.005. PMID 14998696.
- ↑ Ellison JB (February 1931). "Pneumonia in Measles". Archives of Disease in Childhood. 6 (31): 37–52. doi:10.1136/adc.6.31.37. PMC 1975146. PMID 21031836.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Measles". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Oktober 2016. Diakses tanggal 22 Oktober 2016.
- ↑ National Institutes of Health Office of Dietary Supplements (2013). "Vitamin A". U.S. Department of Health & Human Services. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 March 2015. Diakses tanggal 11 Maret 2015.
- ↑ Sabella C (Maret 2010). "Measles: not just a childhood rash". Cleveland Clinic Journal of Medicine. 77 (3): 207–13. doi:10.3949/ccjm.77a.09123. PMID 20200172. S2CID 4743168.
- 1 2 Perry RT, Halsey NA (May 2004). "The clinical significance of measles: a review". The Journal of Infectious Diseases. 189 Suppl 1 (S1): S4-16. doi:10.1086/377712. PMID 15106083.
- ↑ Sension MG, Quinn TC, Markowitz LE, Linnan MJ, Jones TS, Francis HL, Nzilambi N, Duma MN, Ryder RW (Desember 1988). "Measles in hospitalized African children with human immunodeficiency virus". American Journal of Diseases of Children. 142 (12): 1271–2. doi:10.1001/archpedi.1988.02150120025021. PMID 3195521.
- 1 2 3 4 Hübschen, Judith M.; Gouandjika-Vasilache, Ionela; Dina, Julia (12 Februari 2022). "Measles". Lancet. 399 (10325): 678–690. doi:10.1016/S0140-6736(21)02004-3. ISSN 1474-547X. PMID 35093206.
- 1 2 3 4 5 6 Bester, JC (Desember 2016). "Measles and Measles Vaccination: A Review". JAMA Pediatrics. 170 (12): 1209–15. doi:10.1001/jamapediatrics.2016.1787. ISSN 2168-6203. PMID 27695849.
- ↑ Banerjee E, Griffith J, Kenyon C, Christianson B, Strain A, Martin K, et al. (2020). "Containing a measles outbreak in Minnesota, 2017: methods and challenges". Perspect Public Health. 140 (3): 162–171. doi:10.1177/1757913919871072. PMID 31480896. S2CID 201829328.
- ↑ Spelman LH, Gilardi KV, Lukasik-Braum M, Kinani JF, Nyirakaragire E, Lowenstine LJ, et al. (2013). "Respiratory disease in mountain gorillas (Gorilla beringei beringei) in Rwanda, 1990-2010: outbreaks, clinical course, and medical management". J Zoo Wildl Med. 44 (4): 1027–35. doi:10.1638/2013-0014R.1. PMID 24450064.
- ↑ Gowda VK, Sukanya V (November 2012). "Acquired immunodeficiency syndrome with subacute sclerosing panencephalitis". Pediatric Neurology. 47 (5): 379–81. doi:10.1016/j.pediatrneurol.2012.06.020. PMID 23044024.
- ↑ Waggoner JJ, Soda EA, Deresinski S (Oktober 2013). "Rare and emerging viral infections in transplant recipients". Clinical Infectious Diseases. 57 (8): 1182–8. doi:10.1093/cid/cit456. PMC 7107977. PMID 23839998.
- 1 2 3 4 Leuridan E, Sabbe M, Van Damme P (September 2012). "Measles outbreak in Europe: susceptibility of infants too young to be immunized". Vaccine. 30 (41): 5905–13. doi:10.1016/j.vaccine.2012.07.035. PMID 22841972.
- ↑ Ewing Jr., Edwin P. (1972). "This photomicrograph of a lung tissue specimen, reveals the histopathologic changes encountered in a case of measles pneumonia. Included in this view, are numerous leukocytes, and a multinucleated giant cell. Normal alveolar cytoarchitecture has been obliterated". CDC, Public Health Image Library. U.S. Government. 859. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Desember 2023. Diakses tanggal 16 Januari 2024.
- ↑ Rainwater-Lovett, Kaitlin; Moss, William J. (2018), Jameson, J. Larry; Fauci, Anthony S.; Kasper, Dennis L.; Hauser, Stephen L. (ed.), "Measles (Rubeola)", Harrison's Principles of Internal Medicine (Edisi 20), New York, NY: McGraw-Hill Education, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2020, diakses tanggal 7 Desember 2020
- ↑ Baxby D (Juli 1997). "The diagnosis of the invasion of measles from a study of the exanthema as it appears on the buccal mucous membraneBy Henry Koplik, M.D. Reproduced from Arch. Paed. 13, 918-922 (1886)". Reviews in Medical Virology. 7 (2): 71–74. doi:10.1002/(SICI)1099-1654(199707)7:2<71::AID-RMV185>3.0.CO;2-S. PMID 10398471. S2CID 42670134.
- 1 2 "Surveillance Manual | Measles | Vaccine Preventable Diseases". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 23 Mei 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Agustus 2020. Diakses tanggal 25 November 2019.
- 1 2 Friedman M, Hadari I, Goldstein V, Sarov I (Oktober 1983). "Virus-specific secretory IgA antibodies as a means of rapid diagnosis of measles and mumps infection". Israel Journal of Medical Sciences. 19 (10): 881–4. PMID 6662670.
- 1 2 3 Dimech, Wayne; Mulders, Mick N. (Juli 2016). "A review of testing used in seroprevalence studies on measles and rubella". Vaccine. 34 (35): 4119–4122. doi:10.1016/j.vaccine.2016.06.006. PMID 27340096.
- 1 2 Simon, Jakub K.; Ramirez, Karina; Cuberos, Lilian; Campbell, James D.; Viret, Jean F.; Muñoz, Alma; Lagos, Rosanna; Levine, Myron M.; Pasetti, Marcela F. (Maret 2011). "Mucosal IgA Responses in Healthy Adult Volunteers following Intranasal Spray Delivery of a Live Attenuated Measles Vaccine". Clinical and Vaccine Immunology. 18 (3): 355–361. doi:10.1128/CVI.00354-10. PMC 3067370. PMID 21228137.
- 1 2 Weisenberg, Elliot (9 Agustus 2022). "Measles". PathologyOutlines.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juni 2024. Diakses tanggal 9 April 2025.
- ↑ Rezaie, Salim R. "Measles: The Sequel". Emergency Physicians Monthly. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juni 2019. Diakses tanggal 7 Juni 2019.
- ↑ World Health Organization (April 2017). "Measles vaccines: WHO position paper – April 2017". Weekly Epidemiological Record. 92 (17): 205–27. hdl:10665/255377. PMID 28459148.
- ↑ "Frequently Asked Questions about Measles". Washington State Department of Health. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Agustus 2019. Diakses tanggal 10 Februari 2019.
[Vitamin A] cannot prevent or cure the measles
- ↑ Huiming Y, Chaomin W, Meng M (Oktober 2005). Yang H (ed.). "Vitamin A for treating measles in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2005 (4): CD001479. doi:10.1002/14651858.CD001479.pub3. PMC 7076287. PMID 16235283.
- 1 2 3 Rosenbluth, Teddy (25 Maret 2025). "For Some Measles Patients, Vitamin A Remedy Supported by RFK Jr. Leaves Them More Ill". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2025. Diakses tanggal 26 Maret 2025.
- 1 2 Davies, David Martin (28 Maret 2025). "West Texas children treated for vitamin A toxicity as medical disinformation spreads alongside measles outbreak". TPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 April 2025. Diakses tanggal 28 Maret 2025.
- ↑ Awotiwon AA, Oduwole O, Sinha A, Okwundu CI (Juni 2017). "Zinc supplementation for the treatment of measles in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017 (6): CD011177. doi:10.1002/14651858.CD011177.pub3. PMC 6481361. PMID 28631310.
- ↑ Chen, Shou; Wu, Taixiang; Kong, Xiangyu; Yuan, Hao (9 November 2011). "Chinese medicinal herbs for measles". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011 (11): CD005531. doi:10.1002/14651858.CD005531.pub4. ISSN 1469-493X. PMC 7265114. PMID 22071825.
- 1 2 "Management of Obstetric–Gynecologic Patients During a Measles Outbreak". www.acog.org. Diakses tanggal 21 Maret 2025.
- ↑ "Measles Complications". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 25 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 November 2019. Diakses tanggal 14 Mei 2019.
- ↑ Di Pietrantonj, Carlo; Rivetti, Alessandro; Marchione, Pasquale; Debalini, Maria Grazia; Demicheli, Vittorio (22 November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. ISSN 1469-493X. PMC 8607336. PMID 34806766.
- ↑ Cohen BE, Durstenfeld A, Roehm PC (Juli 2014). "Viral causes of hearing loss: a review for hearing health professionals". Trends in Hearing. 18 2331216514541361. doi:10.1177/2331216514541361. PMC 4222184. PMID 25080364.
- ↑ Noyce RS, Richardson CD (September 2012). "Nectin 4 is the epithelial cell receptor for measles virus". Trends in Microbiology. 20 (9): 429–39. doi:10.1016/j.tim.2012.05.006. PMID 22721863.
- ↑ Subacute Sclerosing Panencephalitis pada NINDS
- ↑ Centers for Disease Control (CDC) (Mei 1982). "Recommendation of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP). Measles prevention". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 31 (17): 217–24, 229–31. PMID 6804783. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2021. Diakses tanggal 10 Mei 2019.
- ↑ Mina MJ, Metcalf CJ, de Swart RL, Osterhaus AD, Grenfell BT (Mei 2015). "Long-term measles-induced immunomodulation increases overall childhood infectious disease mortality". Science. 348 (6235): 694–9. Bibcode:2015Sci...348..694M. doi:10.1126/science.aaa3662. PMC 4823017. PMID 25954009.
- ↑ Bakalar, Nicholas (7 Mei 2015). "Measles May Increase Susceptibility to Other Infections". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Mei 2015. Diakses tanggal 7 Juni 2015.
- 1 2 3 4 5 McLean HQ, Fiebelkorn AP, Temte JL, Wallace GS (Juni 2013). "Prevention of measles, rubella, congenital rubella syndrome, and mumps, 2013: summary recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP)" (PDF). MMWR. Recommendations and Reports. 62 (RR-04): 2, 19. PMID 23760231. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 April 2020.
- 1 2 "Measles vaccines: WHO position paper". World Health Organization (WHO). 28 April 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Februari 2025. Diakses tanggal 23 Maret 2025.
- ↑ Galindo BM, Concepción D, Galindo MA, Pérez A, Saiz J (Januari 2012). "Vaccine-related adverse events in Cuban children, 1999-2008". MEDICC Review. 14 (1): 38–43. doi:10.37757/MR2012V14.N1.8. PMID 22334111.
- ↑ Helfand RF, Witte D, Fowlkes A, Garcia P, Yang C, Fudzulani R, Walls L, Bae S, Strebel P, Broadhead R, Bellini WJ, Cutts F (November 2008). "Evaluation of the immune response to a 2-dose measles vaccination schedule administered at 6 and 9 months of age to HIV-infected and HIV-uninfected children in Malawi". The Journal of Infectious Diseases. 198 (10): 1457–65. doi:10.1086/592756. PMID 18828743.
- ↑ Ołdakowska A, Marczyńska M (2008). "[Measles vaccination in HIV infected children]". Medycyna Wieku Rozwojowego. 12 (2 Pt 2): 675–80. PMID 19418943.
- ↑ "Global goal to reduce measles deaths in children surpassed" (Press release). UNICEF. 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Februari 2015. Diakses tanggal 11 Maret 2015.
- ↑ "Plan for Travel". Measles (Rubeola). 15 Juli 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2025. Diakses tanggal 3 Mei 2025.
- ↑ "Measles Prevention: Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP)". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 29 Desember 1989. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Mei 2012. Diakses tanggal 13 November 2020.
- 1 2 Di Pietrantonj, Carlo; Rivetti, Alessandro; Marchione, Pasquale; Debalini, Maria Grazia; Demicheli, Vittorio (22 November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. ISSN 1469-493X. PMC 8607336. PMID 34806766.
- 1 2 Young, MK; Nimmo, GR; Cripps, AW; Jones, MA (April 2014). "Post-exposure passive immunisation for preventing measles". Cochrane Database of Systematic Reviews. 2014 (4) CD010056. doi:10.1002/14651858.cd010056.pub2. hdl:10072/65474. ISSN 1465-1858. PMC 11055624. PMID 24687262.
- 1 2 Imdad A, Mayo-Wilson E, Haykal MR, Regan A, Sidhu J, Smith A, Bhutta ZA (Maret 2022). "Vitamin A supplementation for preventing morbidity and mortality in children from six months to five years of age". Cochrane Database of Systematic Reviews. 3 (3) CD008524. doi:10.1002/14651858.CD008524.pub4. PMC 8925277. PMID 35294044.
- 1 2 3 4 "Office of Dietary Supplements - Vitamin A and Carotenoids". ods.od.nih.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Desember 2016. Diakses tanggal 8 April 2025.
- ↑ Bello S, Meremikwu MM, Ejemot-Nwadiaro RI, Oduwole O (Agustus 2016). "Routine vitamin A supplementation for the prevention of blindness due to measles infection in children". Cochrane Database of Systematic Reviews (8) CD007719. doi:10.1002/14651858.CD007719.pub4. PMC 8483617. PMID 27580345.
- ↑ Fischman, Josh (May 5, 2025). "Do 'alternative' measles treatments touted by RFK Jr. work?". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-09.
- 1 2 3 Furuse Y, Suzuki A, Oshitani H (Maret 2010). "Origin of measles virus: divergence from rinderpest virus between the 11th and 12th centuries". Virology Journal. 7 52. doi:10.1186/1743-422X-7-52. PMC 2838858. PMID 20202190.
- ↑ Düx, Ariane; Lequime, Sebastian; Patrono, Livia Victoria; Vrancken, Bram; Boral, Sengül; Gogarten, Jan F.; Hilbig, Antonia; Horst, David; Merkel, Kevin; Prepoint, Baptiste; Santibanez, Sabine; Schlotterbeck, Jasmin; Suchard, Marc A.; Ulrich, Markus; Widulin, Navena; Mankertz, Annette; Leendertz, Fabian H.; Harper, Kyle; Schnalke, Thomas; Lemey, Philippe; Calvignac-Spencer, Sébastien (30 Desember 2019). "The history of measles: from a 1912 genome to an antique origin". bioRxiv 2019.12.29.889667. doi:10.1101/2019.12.29.889667.
- ↑ Kupferschmidt, Kai (30 Desember 2019). "Measles may have emerged when large cities rose, 1500 years earlier than thought". Science. doi:10.1126/science.aba7352. S2CID 214470603.
- ↑ Kesimpulan H. Haeser, dalam Lehrbuch der Geschichte der Medicin und der epidemischen Krankenheiten III:24–33 (1882), diikuti oleh Zinsser pada tahun 1935.
- ↑ Cohen SG (Februari 2008). "Measles and immunomodulation". The Journal of Allergy and Clinical Immunology. 121 (2): 543–4. doi:10.1016/j.jaci.2007.12.1152. PMID 18269930. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2020. Diakses tanggal 6 September 2019.
- ↑ Black FL (Juli 1966). "Measles endemicity in insular populations: critical community size and its evolutionary implication". Journal of Theoretical Biology. 11 (2): 207–11. Bibcode:1966JThBi..11..207B. doi:10.1016/0022-5193(66)90161-5. PMID 5965486.
- ↑ Sullivan, Patricia (13 April 2005). "Maurice R. Hilleman Dies; Created Vaccines". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2012. Diakses tanggal 7 Januari 2020.
- ↑ Byrne, Joseph Patrick (2008). Encyclopedia of Pestilence, Pandemics, and Plagues: A–M. ABC-CLIO. hlm. 413. ISBN 978-0-313-34102-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2013.
- 1 2 3 4 Harper, Kyle (11 Maret 2020). "What Makes Viruses Like COVID-19 Such a Risk for Human Beings? The Answer Goes Back Thousands of Years". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Maret 2023. Diakses tanggal 18 November 2020.
- ↑ "Migration and Disease". Digital History.
- ↑ "Our History". Fiji National University. Diarsipkan dari asli tanggal 10 April 2015.
- ↑ Bhaumik, Subir (16 Mei 2006). "Measles hits rare Andaman tribe". BBC News Online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Agustus 2011.
- ↑ Crum, Frederick S (April 1914). "A Statistical Study of Measles". American Journal of Public Health. IV (4): 289–309. doi:10.2105/AJPH.4.4.289-a. PMC 1286334. PMID 18009016.
- ↑ Baker, Jeffrey P. (1 September 2011). "The First Measles Vaccine". Pediatrics. 128 (3): 435–437. doi:10.1542/peds.2011-1430. ISSN 0031-4005. PMID 21873696. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2022. Diakses tanggal 21 April 2025.
- ↑ Offit PA (2007). Vaccinated: One Man's Quest to Defeat the World's Deadliest Diseases. Washington, D.C.: Smithsonian. ISBN 978-0-06-122796-7.