Nusa Tenggara Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Nusa Tenggara Timur

Bendera
Bendera
Lambang
Lambang
Komodo Island north aerial.jpg
Pulau Komodo
Locator ntt final.png
Dasar hukum UU 64/1958
Ibu kota Kupang
Area
 - Total luas 48.718,10 km2
Populasi
 - Total 5.203.514 Jiwa (2016)[1]
 - Kepadatan 109 jiwa/km2
Pemerintahan
 - Gubernur Victor Laiskodat
 - Wagub Josef Nae Soi
 - Ketua DPRD Anwar Pua Geno
 - Sekda Frans Salem
 - Kabupaten 21
 - Kota 1
 - Kecamatan 186
 - Kelurahan 2.650
APBD
 - DAU Rp. 1.003.991.703.000.-
Demografi
 - Etnis Atoni atau Dawan (21%)
Manggarai (15%)
Sumba (13%)
Lamaholot (5%)
Belu (6%)
Rote (5%)
Lio (4%)
Tionghoa (3%)[2]
 - Agama Katolik (55,39%)
Kristen Protestan (34.32%)
Islam (9.05%)
Marapu 1.05%[3]
Hindu (0.18%)
Buddha (0.01%)[4]
 - Bahasa Bahasa Indonesia
Lagu daerah Moree
Situs web www.nttprov.go.id

Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi di Indonesia yang berada dalam gugusan Sunda Kecil dan termasuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi yang biasa disingkat NTT ini memiliki 21 Kabupaten/Kota.

Di awal kemerdekaan Indonesia, kepulauan ini merupakan wilayah Provinsi Sunda Kecil[5][6]. yang beribukota di kota Singaraja, kini terdiri atas 3 provinsi (berturut-turut dari barat): Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Setelah pemekaran, Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tenggara Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antara lain Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Komodo dan Pulau Palue. Ibukotanya terletak di Kupang, di bagian barat pulau Timor.

Provinsi ini terdiri dari kurang lebih 550 pulau, tiga pulau utama di Nusa Tenggara Timur adalah Pulau Flores, Pulau Sumba dan Pulau Timor Barat (biasadipanggil Timor).

Provinsi ini menempati bagian barat pulau Timor. Sementara bagian timur pulau tersebut adalah bekas provinsi Indonesia yang ke-27, yaitu Timor Timur yang merdeka menjadi negara Timor Leste pada tahun 2002.

Arti lambang[sunting | sunting sumber]

Arti lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai berikut:

  • Berbentuk perisai dengan sudut lima dengan maksud, selain melambangkan makna perlindungan rakyat juga melambangkan Pancasila.
  • Dalam perisai terberkas: bintang, komodo, padi dan kapas, tombak dan pohon beringin.
  • Bintang melambangkan keagungan Tuhan yang Maha Esa, komodo satu-satunya reptil prasejarah yang hingga kini masih lestari. Binatang purba ini merupakan reptil raksasa yang oleh dunia dinyatakan dilindungi karena jenis hewan ini hanya terdapat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo. Banyak wisatawan dari seluruh dunia datang ke pulau ini hanya untuk melihat komodo.
  • Padi-kapas melambangkan kemakmuran.
  • Tombak melambangkan keagungan dan kejayaan.
  • Pohon beringin melambangkan persatuan dan kesatuan yang tetap terpelihara.
  • Hari terbentuknya provinsi Nusa Tenggara Timur dilukiskan melalui jumlah padi (14) dan tahun 1958 tertera langsung pada sudut bawah lambang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bentangan kepulauan yang terletak di antara 80-120 Lintang Selatan dan 1180 – 1250 Bujur Timur, mempunyai makna tersendiri terhadap kehidupan banyak orang. Gugusan pulau-pulau tersebut disapa dengan berbagai sebutan, antara lain, "Sunda Kecil, Nusa Tenggara, Nusa Tenggara Timur", dan juga "Flobamora". Sebutan tersebut juga bisa bermakna terdapat banyak suku-suku di wilayah tersebut, namun mempunyai satu tanda kesamaan yaitu sama-sama menyatukan diri sebagai Masyarakat NTT.[7]

Jauh sebelum nama NTT tersebar, gugusan pulau-pulau di selatan Nusantara tersebut telah menjadi perhatian dunia. Harumnya aroma cendana dari Timor telah menerobos sampai Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa, dan berbagai penjuru bumi. Kekuatan aroma cendana tersebut menjadikan para pedagang dari Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, Tiongkok melakukan pelayaran niaga untuk mencapai wilayah sumber cendana. Dan mereka melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja di Timor dan pulau-pulau sekitarnya, sang pemilik wilayah dan pemimpin rakyat.[7]

Catatan sejarah dari Tiongkok, "manuskrip Dao Zhi", sejak tahun 1350 dinasti Sung sudah mengenal Timor dan pulau-pulau sekitar, dan salah satu pelabuhan terkenal di Timor adalah "Batumiao-Batumean Fatumean Tun Am", yang ramai dikunjungi kapal dari Makassar, Malaka, Jawa, Tiongkok dan kemudian Eropa seperti Spanyol, Britania, Portugis, Belanda.

Tahun 1510, Goa, India dikuasai Portugis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka pada tahun 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta kekuasaan wilayah Nusantara. Setelah Portugis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores) pada tahun 1511, armada Ferdinand Magellan dengan dua kapal singgah di Alor dan Kupang, Pulau Timor. Dalam penyeberangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini diterjang badai, salah satu kapal hancur dan karam. Jangkar raksasa salah satu kapal ini masih bisa ditemui di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak lalu melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan lalu kembali ke Spanyol.[7]

Ketika Belanda, dengan VOCnya, mencekram Nusantara, tahun 1614, mereka menempatkan Pdt. M van den Broeck di Kupang dan Rote, untuk melayani umat Kristen di sana. Ini juga bermakna, walau VOC masih berusia muda (berdiri 1602), kongsi dagang itu telah menempatkan kantor, benteng, pegawainya di Timor dan pulau-pulau sekitarnya; dan dengan itu perlu seorang pendeta sebagai pemelihara rohani. Pada era V0C, tahun 1600 – 1799, dan bahkan sampai tahun 1900, tidak banyak catatan sejarah yang bisa menjadi pengetahuan publik; dan sekaligus bisa menjadi tambahan pengetahuan terhadap Masyarakat NTT.

Belanda waktu itu masih dikuasai oleh pemerintah boneka dari kekaisaran Prancis di bawah Napoleon. Keadaan tersebut dimanfaatkan Britania untuk memperluas jajahannya dengan merebut jajahan Belanda. Armada Britania mengganggu daerah kekuasaan Belanda, sehingga pada tahun 1799 hampir seluruh wilayah Indonesia (kecuali Jawa, Palembang, Banjarmasin dan Timor) jatuh dalam kekuasaan Britania. Dua kapal Britania memasuki pelabuhan Kupang pada l0 Juni l797, namun berhasil dipukul mundur oleh Greving yang mengarahkannya pada Mardijkers. Saat VOC dibubarkan pada tahun 1799, segala hak dan kewajiban Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda. Peralihan ini tidak membawa perubahan apapun, karena pada waktu itu Belanda menghadapi perang yang dilancarkan oleh negara tetangga.[7]

Di era kolonial sampai 1942, rakyat NTT, harus terbagi-bagi sesuai keinginan Belanda, dalam bentuk Raja – Swapraja, fetor – Kefetoran, dan seterusnya; dan kemudian menjadi daerah taklukan di bawah pemerintahan residen. Ketika Jepang berkuasa di Nusantara, wilayah NTT yang strategis, ditata ulang sebagai basis pertahanan. Penataan administrasi pemerintahan pun nyaris tidak mengalami perubahan, hanya ada perubahan istilah.[7]

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, NTT sebagai bagian Nusantara yang dijajah Belanda, bebas dari cengkraman kolonial. Akan tetapi, karena keinginan Belanda untuk tetap berkuasa di Nusantara termasuk NTT, maka mereka melakukan berbagai upaya untuk tetap berada di bumi NTT. Keadaan tersebut, membangkitkan semangat “Nasionalisme – Kebebasan – Kemerdekaan NTT” pada dalam diri Rakyat NTT. Semangat yang tak pantang menyerah tersebut melahirkan Pemerintahan Negara Indonesia Timur dan Pemerintahan Otonom NTT. Bisa dikatakan, status NTT hampir sama dengan Yogyakarta pada waktu itu, yang menyatakan diri setia kepada Soekarno–Hatta. Perjuangan yang gigih Rakyat NTT tidak berhenti, dan juga tidak pernah terbit dalam pikiran untuk melepaskan diri dari RI, yang baru merdeka. Ada semangat kesatuan Indonesia pada jiwa dan darah A.H. Koroh, I.H. Doko, Th. Oematan, Pastor Gabriel Manek, Drs. A. Roti, Y.S. Amalo, agar NTT tidak berada dalam kekuasaan penjajah, tetapi menjadi bagian dari RI. Ketika Indonesia masih belum berdiri tegak, NTT menjadi bagian dari Provinsi Administratif dengan nama "Provinsi Sunda kecil". Nama "Sunda kecil" kemudian diganti dengan nama "Nusa Tenggara", berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 tahun 1950. Tidak lama setelah itu, pada tahun 1957 berlaku UU No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan dengan UU No. 64, tahun 1958, sehingga "Provinsi Nusa Tenggara" dibagi menjadi tiga Daerah Swatantra Tingkat 1, yaitu masing-masing Swatantra Tingkat 1 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sejak 20 Desember 1958, pulau Flores, Sumba, Timor, dan pulau-pulau sekitarnya menjadi salah satu bagian dari provinsi.[7]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten dan Kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/Kota Pusat

Pemerintahan

Bupati/

Wali Kota

Luas

Wilayah (km2)[8]

Jumlah

Penduduk

(2017)[8]

Kecamatan Kelurahan/

Desa

Logo
Peta

Lokasi

1 Kabupaten Alor Kalabahi Simeon Th. Pally 2.864,60 209.974 17 17/158
Lambang Kabupaten Alor.jpg
2 Kabupaten Belu Atambua Willybrodus Lay 1.284,97 220.699 12 12/69
Lambang Kabupaten Belu.jpg
3 Kabupaten Ende Ende Marselinus YW Petu 2.046,50 270.207 21 23/255
Lambang Kabupaten Ende.png
4 Kabupaten Flores Timur Larantuka Antonius Hubertus Gege Hadjon 1.813,20 280.178 19 21/229
Lambang Kabupaten Flores Timur.jpg
5 Kabupaten Kupang Oelamasi Korinus Masneno (Plt.) 5.434,76 402.320 24 17/160
Lambang Kabupaten Kupang.png
6 Kabupaten Lembata Lewoleba Eliaser Yentji Sunur 1.266,00 133.552 9 7/144
Lambang Kabupaten Lembata.jpg
7 Kabupaten Malaka Betun Stefanus Bria Seran 1.160,63 190.561 12 -/127
Lambang Kabupaten Malaka.png
8 Kabupaten Manggarai Ruteng Deno Kamelus 2.096,44 318.115 12 26/145
Lambang Kabupaten Manggarai.jpg
9 Kabupaten Manggarai Barat Labuan Bajo Agustinus C. Dulla 2.397,03 256.491 12 5/164
Lambang Kabupaten Manggarai Barat.png
10 Kabupaten Manggarai Timur Borong Agas Andreas (Plt.) 2.642,93 262.606 9 17/159
Lambang Kabupaten Manggarai Timur.png
11 Kabupaten Ngada Bajawa Paulus Soliwoa (Plt.) 1.645,88 164.703 12 16/135
Lambang Kabupaten Ngada.jpg
12 Kabupaten Nagekeo Mbay Elias Jo 1.416,96 160.180 7 16/97
Lambang Kabupaten Nagekeo.png
13 Kabupaten Rote Ndao Baa Leonard Haning 1.280,00 143.585 10 7/112
Lambang Kabupaten Rote Ndao.jpeg
14 Kabupaten Sabu Raijua Seba Nikodemus Rihi Heke (Plt.) 460,54 92.991 6 5/58
Lambang Kabupaten Sabu Raijua.png
15 Kabupaten Sikka Maumere Fransiskus Roberto Diogo 1.731,90 314.809 21 13/147
Lambang Kabupaten Sikka.png
16 Kabupaten Sumba Barat Waikabubak Agustinus Niga Dapawole 2.183,18 145.061 6 11/63
Lambang Kabupaten Sumba Barat.gif
17 Kabupaten Sumba Barat Daya Tambolaka Markus Dairo Talu 1.480,46 307.331 11 2/173
Lambang Kabupaten Sumba Barat Daya.jpg
18 Kabupaten Sumba Tengah Waibakul Umbu Dondu (Plt.) 1.868,74 84.174 5 -/65
Lambang Kabupaten Sumba Tengah.png
19 Kabupaten Sumba Timur Waingapu Gidion Mbiliyora 7.000,50 237.119 22 16/140
Lambang Kabupaten Sumba Timur.jpg
20 Kabupaten Timor Tengah Selatan Soe Paulus Victor Rolland Mella 3.947,00 463.857 32 12/266
Lambang Kabupaten Timor Tengah Selatan.jpg
21 Kabupaten Timor Tengah Utara Kefamenanu Raymundus Sau Fernandes 2.669,70 263.149 24 33/160
Lambang Kabupaten Timor Tengah Utara.jpg
22 Kota Kupang - Jefirstson Riwu Kore 26,18 438.005 6 51/-
Lambang Kota Kupang.jpg

Daftar gubernur[sunting | sunting sumber]

No Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Ket. Wakil
Gubernur
1
Gubernur-NTT-WJ-Lalamentik.jpg W. J. Lalamentik
1960
1965
1
Tidak ada
2
Gubernur-NTT-El-Tari.jpg El Tari
1966
1978
2
[ket. 1]
Acting Governor of East Nusa Tenggara Wang Suwandi.png Wang Suwandi
April 1978
16 Juni 1978
[ket. 2]
3
Ben mboi.jpg Ben Mboi
1978
1983
3
[ket. 3]
1983
1988
4
G. Boeky
(1986–1991)
4
Gubernur NTT Hendrik Fernandez.png Hendrik Fernandez
1988
1993
5
[ket. 4]
S. H. M. Lerick
(1991–1996)
5
Mayjen TNI Herman Musakabe.jpg Herman Musakabe
1993
1998
6
[ket. 5]
Piet Alexander Tallo
(1996–1998)
6
Gubernur-NTT-Piet-A-Tallo.jpg
Piet Alexander Tallo
1998
2003
7
Johanes Pake Pani
2003
2008
8
[ket. 6]
Frans Lebu Raya
7
Gubernur NTT lebu raya.jpg Frans Lebu Raya
16 Juli 2008
16 Juli 2013
9
[ket. 7]
Esthon L. Foenay
16 Juli 2013
16 Juli 2018
10
[9]
Benny Alexander Litelnoni
Robert Simbolon.jpg Robert Simbolon
(Penjabat)
17 Juli 2018
5 September 2018
[10]
8
Gubernur NTT Viktor Laiskodat.jpg Viktor Laiskodat
5 September 2018
Petahana
11
Josef Nae Soi

Populasi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk di provinsi ini adalah 4.683.827 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,07%. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2.326.487 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 2.357.340 jiwa (2010). Kepadatan penduduk di Nusa Tenggara Timur sebesar 96 jiwa/km2, dengan presentasi penduduk yang tinggal di perkotaan kurang lebih 20%, dan sisanya sebesar 80% mendiami kawasan pedesaan. Sebagian besar penduduk beragama Kristen dengan rincian persentase kurang lebih sebagai berikut Katolik 46,43% Protestan 45,34%, Islam 6,38% , Hindu 0,11% Buddha 0,01% dan sebanyak 1,73% menganut agama dan kepercayaan lainnya.

Nusa Tenggara Timur menjadi tempat perlindungan untuk kalangan Kristen di Indonesia yang menjauhkan diri dari konflik agama di Maluku dan Irian Jaya.

Tingkat pendaftaran sekolah menengah adalah 39% yang jauh di bawah rata-rata Indonesia, yaitu 80.49% tahun 2003/04 (menurut UNESCO). Minuman berupa air bersih, sanitasi dan kurangnya sarana kesehatan menyebabkan terjadinya kekurangan gizi anak (32%) dan kematian bayi (71 per 1000) juga lebih besar dari kebanyakan provinsi Indonesia lainnya.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Menurut berbagai standar ekonomi, ekonomi di provinsi ini lebih rendah daripada rata-rata Indonesia, dengan tingginya inflasi (15%), pengangguran (30%) dan tingkat suku bunga (22-24%).

Kepulauan[sunting | sunting sumber]

Seperti halnya Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang didominasi oleh kepulauan, tiga pulau utama di wilayah ini adalah Pulau Flores, Pulau Sumba, dan Pulau Timor Barat.

Sedangkan pulau-pulau lain di antaranya adalah Pulau-pulau Adonara, Alor, Babi, Besar, Bidadari, Dana, Komodo, Rinca, Lomblen, Loren, Ndao, Palue, Pamana, Pamana Besar, Pantar, Rusa, Raijua, Rote (pulau terselatan di Indonesia), Sawu, Semau dan Solor.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Komodo spesies kadal terbesar di dunia
Danau Kelimutu
Rumah adat Bondokodi Sumba

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Laut Flores
Selatan Samudra Hindia
Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat
Timur Timor Leste, Provinsi Maluku, dan Laut Banda

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  • Sasando, instrumen musik petik dari daerah ini
  • Pasola, permainan lempar lembing dari atas kuda
  • Padoa

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2017", diakses tanggal 23 Agustus 2017
  2. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  3. ^ [Marapu adalah aliran Kepercayaan masyarakat khususnya yang tinggal di pulau Sumba, NTT]
  4. ^ "Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2017", diakses tanggal 23 Agustus 2017
  5. ^ "Badak Sunda dan Harimau Sunda". "[...] Mr. Muhamad Yamin yang pada 1950-an ketika menjadi Menteri P.P. dan K. mengganti istilah Kepulauan Sunda Kecil menjadi Kepulauan Nusa Tenggara. Sebab, istilah Kepulauan Sunda Kecil diganti dengan Kepulauan Nusa Tenggara, maka istilah Kepulauan Sunda Besar juga tidak lagi digunakan dalam ilmu bumi dan perpetaan nasional Indonesia – meskipun dalam perpetaan Internasional istilah Greater Sunda Islands dan Lesser Sunda Islands masih tetap digunakan." - Ajip Rosidi: Penulis, budayawan. Pikiran Rakyat, 21 Agustus 2010. Diakses tanggal Juli 7, 2015. 
  6. ^ JAN B. AVE; 'INDONESIA', 'INSULINDE' AND 'NUSANTARA': DOTTING THE I'S AND CROSSING THE T p. 14
  7. ^ a b c d e f Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana untuk Presiden Sederhana
  8. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-10. 
  9. ^ "Direktorat Pejabat:Gubernur dan Wakil Gubernur". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Pusat Data Informasi, Komunikasi dan Telekomunikasi Kementerian Dalam Negeri. Diakses tanggal 30 Desember 2015. 
  10. ^ Bere, Sigiranus Marutho (17 Juli 2018). Damanik, Caroline, ed. "Robert Simbolon". Kompas.com. Diakses tanggal 19 Juli 2018. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 9°24′LU 122°4′BT / 9,4°LS 122,067°BT / -9.400; 122.067
Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "ket.", tapi tidak ditemukan tag <references group="ket."/> yang berkaitan, atau </ref> penutup tidak ada