Kabupaten Pegunungan Bintang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Pegunungan Bintang
Lambang Kabupaten Pegunungan Bintang.webp
Lambang Kabupaten Pegunungan Bintang


Semboyan: Derip Trini Yuma Nublitko


91.12.00 Papua Pegunungan Bintang.svg
Peta lokasi Kabupaten Pegunungan Bintang di Papua
Koordinat: -
Provinsi Papua
Dasar hukum -
Tanggal peresmian -
Ibu kota Oksibil
Pemerintahan
- Bupati Costan Oktemka, SIP
- Wakil Bupati Decky Deal, SIP
APBD
- DAU Rp. 695.877.613.000.-(2013)[1]
Luas 14.655,36 km2
Populasi
- Total 73.473 jiwa (2017)[2]
- Kepadatan 5,01 jiwa/km2
Demografi
- Agama Kristen Protestan 69,90%
Katolik 29,80%
Islam 0,30%[2]
- Kode area telepon -
Pembagian administratif
- Kecamatan 34
- Desa 277
Simbol khas daerah
- Flora resmi -
- Fauna resmi Kangguru pohon
Situs web http://www.pegbintangkab.go.id

Kabupaten Pegunungan Bintang adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Oksibil.

Kabupaten Pegunungan Bintang menjadi salah satu kabupaten di Pegunungan Jayawijaya yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. 90% wilayahnya terletak di dataran tinggi pegunungan dengan ketinggian 400 s.d. 4.000 meter dpl. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.655,36 km² yang terbagi menjadi 34 kecamatan dan Oksibil sebagai ibu kota kabupaten.[2]

Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang berbatasan dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom di sebelah Utara, Kabupaten Boven Digoel di sebelah Selatan, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Yahukimo di sebelah Barat dan Negara Papua Nugini di sebelah Timur. Hampir disetiap distrik terdapat lapangan terbang, tetapi hanya lapangan terbang di Oksibil dan Batom saja yang bisa didarati pesawat Twin Otter.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Pegunungan Bintang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 bersama 13 kabupaten lainnya di Provinsi Papua yang disahkan pada tanggal 12 April 2003.

Kabupaten ini memiliki kondisi geografis yang khas, di mana sebagian besar wilayahnya pegunungan terutama di bagian barat, penduduk bermukim di lereng gunung yang terjal dan lembah-lembah kecil dalam kelompok-kelompok kecil, terpencar dan terisolir; dataran rendah hanya terdapat di bagian utara dan selatan dengan tingkat aksesibilitas wilayah yang sangat rendah, sehingga sulit dijangkau bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di tanah Papua. Hingga saat ini seluruh pelayanan di wilayah ini hanya dilakukan dengan transportasi udara, menggunakan pesawat kecil jenis Cessna, Pilatus, Twin Otter, Cassa dan itupun sangat tergantung pada perubahan cuaca yang sering berkabut.

Keterbatasan transportasi udara dengan biaya angkutan yang cukup tinggi menyebabkan harga barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan (terutama bahan import) menjadi sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Tingginya tingkat kemahalan harga barang juga disebabkan karena hampir semua barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan didatangkan dari Jayapura menggunakan transportasi udara dengan biaya angkutan barang mulai Rp. 18.500,- per kilogram dan tarif angkutan penumpang mulai Rp. 1.200.000,- per orang.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Letak, Luas dan Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Kabupaten Pegunungan Bintang terletak di antara 14005’00’’ – 14100’00’’ Bujur Timur dan 304’00’’ – 520’00’’ Lintang Selatan dengan luas wilayah 14.655,36 9km².

Secara administrasi batas-batasnya adalah sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Keerom, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel, sebelah Timur berbatasan dengan Negara tetangga Papua New Guinea (PNG) dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo. Terbagi ke dalam 34 (tiga puluh empat) distrik dan 277 desa/kampung.

Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan bagian dari zone tropis lembap. Umumnya iklim cenderung panas, basah (lembap) dengan curah hujan yang bervariasi antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Curah hujan pada umumnya antara 2.000 – 3.000 mm/th.

Suhu udara minimum adalah ± 19,20C dan suhu maksimum adalah 31,90C. Kelembaban udara cukup tinggi, terutama disebabkan karena angin yang bertiup berasal dari pegunungan.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1
Wellington Lod Wenda
2005
2010
1
[3]
Theodorus Sitokdana
2010
2015
2
[4]
Yakobus Wayam
2
CostanOktemka-RegentofBintangMountains.JPG Costan Oktemka
17 Februari 2016
17 Februari 2021
3
[5]
Decky Deal

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Pegubin periode 2014-2019 yang sedang menjabat dan 2019-2024 yang terpilih.

Partai Politik Jumlah Kursi pada Periode
2014-2019[6] 2019-2024[7]
Partai NasDem.svg NasDem 4 6
Logo PKB.svg PKB 1 Steady 1
20px PKS 1 Steady 1
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 1 0
20px Golkar 5 3
20px Gerindra 1 3
Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 3 6
Logo PAN.svg PAN 2 1
Logo Hanura.svg Hanura 6 3
Bulan Bintang.jpg PBB 1 Steady 1
Jumlah Anggota 25 Steady 25
Jumlah Partai 10 9

Kecamatan/Distrik[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Pegunungan Bintang terdiri atas 34 distrik dan 277 kampung dengan luas wilayah 8.390,00 km² dan jumlah penduduk 59.406 jiwa (2017). Kode Wilayah untuk Kabupaten Pegunungan Bintang adalah 91.12[8][9][10]

Kecamatan tersebut antara lain:

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ketengban[sunting | sunting sumber]

Distrik yang mungkin bergabung ke dalam kabupaten ini meliputi[11]:

  1. Okbab
  2. Bime
  3. Eipumek
  4. Pamek
  5. Borme
  6. Batani
  7. Weime
  8. Nongme
  9. Aboy
  10. Teiraplu (Ibu kota)
  11. Terpones
  12. Mukrim
  13. Moi
  14. Batom

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kabupaten Pegunungan Bintang pada tahun 2017 sebesar 73.473 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 2,48% dan tingkat kepadatan sebanyak 5,01 jiwa per km². Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki adalah 38.015 jiwa (51,74%) dan penduduk perempuan adalah 35.458 jiwa (48,26%).[2]

Jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibanding dengan jumlah penduduk perempuan dengan sex ratio sebesar 109,52. Dilihat dari struktur umur, penduduk di Kabupaten Pegunungan Bintang dikategorikan sebagai penduduk muda yaitu penduduk yang berusia 0-30 tahun yaitu berjumlah 66.666 jiwa dengan persentasi terbesar terdapat pada kelompok 0-14 tahun yaitu sebesar 36.089 jiwa atau 34,07%, dan umur 15-49 tahun yaitu usia produktif berjumlah 62.164 jiwa (58,70 %).

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Pegunungan Bintang banyak pengalami kendala baik geografis, ketersediaan tenaga guru dan sarana pendukung. Kendala utama dalam pembangunan pendidikan adalah letak geografis dan topografis yang sangat berat dan sulit cukup mempengaruhi pelayanan pendidikan di daerah ini.

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa ; (1) Terjadi perubahan jumlah murid yang signifikan pada tingkat Sekolah Taman kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), di mana dapat dikatakan bahwa tidak semua murid Sekolah Dasar melalui proses Taman Kanak-kanak (TK); (2) Perubahan sangat mencolok dan sangat signifikan antara jumlah murid Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di mana telah terjadi degradasi pendidikan yang sangat besar di mana anak-anak yang tamat SD sangat kecil persentasenya yang melanjutkan ke tingkat SMP, begitu pula anak yang tamat SMP hanya sedikit yang melanjutkan ke jenjang SMA/SMK. Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk mengembangkan SDM di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Pertanian tanaman pangan menjadi kegiatan utama penduduk kabupaten yang dihuni oleh Suku Ngalum ini. Sama dengan suku-suku lain di Papua, Suku Ngalum yang sebagian besar hidup di dataran tinggi ini mengkonsumsi umbi-umbian sebagai makanan pokok. Belum adanya usaha untuk mengolah hasil umbi-umbian menjadi komoditas perdagangan membuka potensi peluang usaha di sektor industri pengolahan. Tanaman umbi-umbian bisa dijadikan unggulan pertanian tanaman pangan mengingat produksi tanaman ini cukup banyak dan bisa digunakan oleh semua masyarakat.

Tanaman perkebunan yang bisa dikembangkan adalah kopi. Kopi yang spesifik ditanam di daerah ini adalah jenis kopi bio, yang terkenal dengan aromanya yang lebih tajam daripada kopi arabika. Di beberapa negara Eropa, permintaan kopi bio cukup tinggi dan ini merupakan peluang untuk mengembangkan perkebunan kopi bio.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ a b c d "Provinsi Papua Dalam Angka 2018". BPS Papua. Diakses tanggal 18 Februari 2019. 
  3. ^ "Daftar Riwayat Hidup Calon Anggota DPR RI 2014-2019: Theodorus Sitokdana" (PDF). Komisi Pemilihan Umum. 10 Mei 2013. Diakses tanggal 2 Februari 2019. 
  4. ^ "KPK: Pengumuman Harta Kekayaan Penyelenggara Negara" (PDF). Komisi Pemilihan Umum. 18 Sepember 2019. Diakses tanggal 2 Februari 2019. 
  5. ^ Janur, Katharina (17 Februari 2016). "Lantik 6 Bupati, Gubernur Papua Ucapkan Selamat Bergabung". Liputan 6. Diakses tanggal 31 Januari 2019. 
  6. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama baru
  7. ^ Katharina (16-08-2019). "25 Anggota DPRD Pegunungan Bintang Didominasi Milenial". KabarPapua.co. Diakses tanggal 20-08-2019. 
  8. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 
  9. ^ "Statistik Potensi Desa Propinsi Papua 2018". BPS Provinsi Papua. Diakses tanggal 27 Februari 2019. 
  10. ^ "Kabupaten Pegunungan Bintang Dalam Angka 2018". BPS Kabupaten Pegunungan Bintang. Diakses tanggal 7 Maret 2019. 
  11. ^ 6 Kabupaten Baru Disahkan Tahun ini bintangpapua.com

Pranala luar[sunting | sunting sumber]