Kabupaten Sabu Raijua

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Sabu Raijua
Lambang Kabupaten Sabu Raijua.png
Lambang Kabupaten Sabu Raijua


Moto: Mira Kaddi



Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sabu Raijua.svg
Peta lokasi Kabupaten Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur
Koordinat: 10025'7,12"-10049'45,83" LS

121016'10,78 - 12200'30,26" BT

Provinsi Nusa Tenggara Timur
Dasar hukum UU Nomor 52 Tahun 2008
Tanggal peresmian 26 November 2008
Ibu kota Menia, Sabu Barat
Pemerintahan
-Bupati
APBD
-DAU Rp. 270.624.355.000.-(2013)[1]
Luas 460,47 km2
Populasi
-Total 91.512 jiwa
-Kepadatan 198,74 jiwa/km2
Demografi
-Agama Kristen 96,70%
Katolik 2,60%
Islam 0,70%[2]
-Zona waktu WITA
-Kode area telepon 0380
Pembagian administratif
-Kecamatan 6
-Kelurahan 5 Kelurahan; 63 Desa
Simbol khas daerah
Situs web http://saburaijuakab.go.id

Kabupaten Sabu Raijua adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto pada 29 Oktober 2008 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Kupang.[3][4]

Kabupaten Sabu Raijua merupakan Daerah Otonom yang baru terbentuk Tahun 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2008 tanggal 26 Nopember 2008, yaitu pemekaran dari Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur di mana Kabupaten Sabu Raijua merupakan Kabupaten yang ke-21 di provinsi Nusa Tenggara Timur.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Daerah ini memiliki wilayah dengan batas-batas sebagai berikut:

Utara Laut Sawu
Timur Laut Sawu
Selatan Samudra Hindia
Barat Laut Sawu

Pulau di Kabupaten Sabu Raijua[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sabu Raijua mempunyai dua pulau besar dan satu pulau kecil, yaitu:

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pulau Sabu juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk di pulau ini sendiri menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu yang artinya Tanah dari Hawu dan orang Sabu sendiri menyebut dirinya dengan sebutan Do Hawu. Nama resmi yang digunakan pemerintah setempat adalah Sabu. Masyarakat Sabu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama Hawu Ga yakni nama salah satu leluhur mereka yang dianggap mula-mula mendatangi pulau tersebut.

Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu. Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura. Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura. Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga atau disebut juga Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.

Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke-18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni:

  • Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
  • Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
  • Wara Wai mendapat wilayah Liae
  • Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
  • Jaka Wai mendapat wilayah Raijua

Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, di mana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangngu Udu. Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.

Diyakini terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke-14 sampai awal abad ke-16 berhasil menguasai dan menyatukan seluruh nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada :

  1. Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
  2. Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
  3. Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
  4. Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngalai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
  5. Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura, memberikan kesan adanya pengaruh Hindhu.
  6. Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Molie yang diperkirakan diambil dari bahasa Jawa 'mulih o' yang berarti pulang.

Mobilitas ke luar Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda ditandatangani tahun 1756 (Perjanjian Paravicini). Telah ditetapkan bahwa Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761. Ketrampilan orang Sabu di bidang militer ini ditambah dengan keberanian mereka meluaskan keterlibatan mereka antar lain ekspedisi pada tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Emigrasi orang Sabu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba kemudian berkembang menjadi perkampungan Sabu di Sumba Timur.

Beberapa kali wabah penyakit menyerang penduduk Sabu di antaranya cacar yang memakan korban jiwa pada tahun 1869 membuat Sabu dan Raijua kehilangan hampir seperenam jumlah mereka, kolera pada tahun 1874 dan berulang tahun 1888 yang membuat rakyat di kedua pulau Sabu dan Raijua berkurang sangat signifikan. Baru sekitar tahun 1925 penduduk Sabu mencapai jumlah semula.

Hal menarik lainnya dari sejarah Sabu adalah bahwa ternyata Kapten James Cook, penemu Benua Australia, Kepulauan Hawai dan orang pertama yang mengelilingi serta membuat peta Selandia Baru, pernah singgah di Pulau Sabu. Dalam perjalanannya menuju Batavia pada tahun 1770, Kapal HM Bark Endeavour terdampar di Pulau Sabu akibat kehabisan perbekalan. Kapten James Cook mendapatkan bantuan logistik dari penguasa Sabu pada masa itu yaitu Raja Ama Doko Lomi Djara sehingga dapat berlayar kembali.

Setelah otonomi daerah diberikan kepada pemerintahan provinsi (Undang-undang Otonomi Daerah tahun 1999), Raijua menjadi sebuah kecamatan. Pada pembentukan Kabupaten Sabu Raijua pada tahun 2008, secara resmi kabupaten ini terbagi atas 6 kecamatan yakni Raijua, Sabu Barat, Hawu Mehara, Sabu Liae, Sabu Timur dan Sabu Tengah. Pada tahun 2008, Thobias Uly diangkat menjadi Penjabat Bupati dan pada 24 Januari 2011 Bupati definitif pertama hasil Pilkada Langsung Kabupaten Sabu Raijua, Ir. Marthen L. Dira Tome bersama Wakilnya Drs. Nikodemus Rihi Heke, M.Si mulai menjabat setelah dilantik oleh Gubernur NTT Frans Leburaya pada tanggal 24 Januari 2011 dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Sabu Raijua.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai Menjabat Selesai Menjabat Periode Ket. Wakil Bupati
*
GAMBAR TIDAK TERSEDIA.png
Thobias Uly
26 Mei 2009
26 Mei 2010
  • Penjabat Bupati[5]
  • Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Prov. NTT
tidak ada
*
GAMBAR TIDAK TERSEDIA.png
Oktovianus Radja Pono
26 Mei 2010
24 Januari 2011
  • Penjabat Bupati[6]
tidak ada
1
GAMBAR TIDAK TERSEDIA.png
Marthen Luther Dira Tome
24 Januari 2011
24 Januari 2016
1
Nikodemus Rihi Heke.png
Nikodemus N. Rihi Heke
*
GAMBAR TIDAK TERSEDIA.png
Yulius Uly
24 Januari 2016
17 Februari 2016
  • Pelaksana Harian[8]
  • Sekretaris Daerah Kabupaten Sabu Raijua
tidak ada
(1)
GAMBAR TIDAK TERSEDIA.png
Marthen Luther Dira Tome
24 Januari 2016
15 November 2016
2
Nikodemus Rihi Heke.png
Nikodemus N. Rihi Heke
*
Nikodemus Rihi Heke.png
Nikodemus N. Rihi Heke
15 November 2016
14 Februari 2019
  • Pelaksana Tugas[11]
  • Bupati definitif berstatus nonaktif
2
14 Februari 2019
'petahana
  • Bupati definitif[12]
  • Menyelesaikan sisa masa jabatan bupati periode 2016-2021
lowong[13]

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sarai berdasarkan asal partai politik sejak periode pertama hingga hasil Pemilu 2019.

Partai Politik Jumlah Kursi pada Periode
2009-2014[14] 2014-2019[15] 2019-2024[16]
Logo Hanura.svg Hanura 1 2 Steady 2
PKPB.gif PKPB 2
Logo Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia.svg PPPI 2
Logo Gerindra.svg Gerindra 1 Steady 1 Steady 1
Logo PKS.svg PKS 1 0 Steady 0
Logo partai kedaulatan.jpg Kedaulatan 1
Logo PKB.svg PKB 0 Steady 0 2
Logo PDP.jpg PDP 1
Logo PDK.jpg PDK 1
20px Pelopor 1
20px Golkar 4 6 3
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 4 6 5
Partai patriot pancasila.jpg Patriot 1
Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 1 2 3
Partai NasDem.svg NasDem (Baru!) 3 Steady 3
PartaiPerindo.png Perindo (Baru!) 1
Jumlah Kursi 20 Steady 20 Steady 20
Jumlah Partai 13 6 8

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Sabu Raijua dibagi menjadi 6 kecamatan, yaitu:

  1. Hawu Mehara
  2. Raijua
  3. Sabu Barat
  4. Sabu Liae
  5. Sabu Tengah
  6. Sabu Timur

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

Objek wisata Kabupaten Sabu Raijua didominasi oleh wisata budaya dan wisata pantai. Adapun beberapa objek wisata yang cukup dikenal oleh wisatawan lokal, yaitu:

  1. Kelabba Maja
  2. Pantai Seba dan Pantai Napae
  3. Berbagai event upacara adat
  4. Pantai Rai Mea
  5. Pantai Bollow
  6. Kampung Adat Namata
  7. Gua Liemadira
  8. Pantai Cemara
  9. Pantai liae
  10. Dataran Tinggi Raekore
  11. Gua Maballa
  12. Pantai kepo
  13. Pantai Ege
  14. Pantai Kebila
  15. Hutan Mangrove
  16. Istana Raja (Tennihawu)
  17. Kampung Adat Kuji Ratu
  18. Taman Doa Skeber

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Sabu
  3. ^ Daerah-daerah otonomi yang diresmikan pada tanggal yang sama.
  4. ^ [* http://beritasore.com/2008/10/29/dpr-setuju-pembentukan-12-kabupatenkota-baru/ DPR Setuju Pembentukan 12 Kabupaten-Kota Baru]
  5. ^ "Thobias Uly jadi Penjabat Bupati Sabu Raijua". DION DB PUTRA. 26-05-2009. Diakses tanggal 2019-08-07. 
  6. ^ "RTRW Sabu Raijua Segera Rampung". PU-net. Kementerian PUPR. 30-12-2010. Diakses tanggal 2019-08-08. 
  7. ^ "Profil Bupati". Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua. Diakses tanggal 2019-08-07. 
  8. ^ "Ben Polo Maing Jadi Penjabat Bupati TTU | NTT Satu - Satu Untuk Semua". Diakses tanggal 2019-08-07. 
  9. ^ "Gubernur NTT Lantik 9 Kepala Daerah". Suara Pembaruan. Diakses tanggal 2019-08-07. 
  10. ^ Media, Kompas Cyber. "Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Kaget Ditahan KPK". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-08-07. 
  11. ^ "Resmi, Bupati Sabu Raijua Jadi Tersangka KPK". rmol.co. Diakses tanggal 2019-08-07. 
  12. ^ Rambu, Beverly. ""Hari Valentine" Gubernur Viktor Laiskodat Lantik Empat Bupati". Victory News. Diakses tanggal 2019-08-07. 
  13. ^ Timor, Redaksi. "Bupati Sabu Dilantik tanpa Wakil – Timor Express" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-07. 
  14. ^ "DPRD Sabu Raijua Ditetapkan". 13-02-2010. Diakses tanggal 08-08-2019. 
  15. ^ "Legislatif". Pemkab Sabu Raijua. Diakses tanggal 08-08-2019. 
  16. ^ "Rekapitulasi Hasil Pemilu 2019 DPRD Kabupaten Sabu Raijua". KPU RI. Diakses tanggal 08-08-2019. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]