Kabupaten Belu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Belu
Lambang Kabupaten Belu.jpg
Lambang Kabupaten Belu
Moto: Husar Binan Rai Belu Tetuk No Nesak Diak No Kmanek


Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Belu.svg
Peta lokasi Kabupaten Belu di Nusa Tenggara Timur
Koordinat: 124° 40' – 125° 15' BT dan
8° 7' – 9° 23' LS
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tanggal peresmian 20 Desember 1958
Ibu kota Atambua
Pemerintahan
 - Bupati Willybrodus Lay, SH
 - Wakil Bupati Drs. J. T. Ose Luan
 - DAU Rp. 578.912.159.000.-(2013)[1]
Luas 1.284,94 km2
Populasi
 - Total 368,081 jiwa (2013)
 - Kepadatan 0,29 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0389
Pembagian administratif
 - Kecamatan 12
 - Kelurahan 12 dan desa 96
Simbol khas daerah
Situs web Kabupaten Belu

Kabupaten Belu adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten ini beribukota di Atambua. Memiliki luas wilayah 1.284,94 km², terbagi dalam 12 kecamatan, 12 kelurahan dan 96 desa, termasuk 30 desa dalam 8 kecamatan perbatasan.

Informasi Singkat[sunting | sunting sumber]

Beberapa informasi singkat antara lain;.[2]

  1. Secara astronomis Kabupaten Belu terletak pada 1240 – 1260 derajat Bujur Timur dan 9 – 10 derajat Lintang Selatan.
  2. Kabupaten Belu memiliki wilayah seluas 2 445,57 Km2 dengan keadaan morfologi sebagian besar wilayahnya berbukit-bukit dan bergunung-gunung dengan derajat kemiringan (>50%).
  3. Berdasarkan posisi geografisnya, Kabupaten Belu memiliki batasbatas : Utara – Selat Ombai. Selatan – Laut Timor. Timur – Negara Timor Leste. Barat – Kabupaten TTU dan TTS.
  4. Kabupaten Belu memiliki iklim tropis dengan musim hujan yang sangat pendek (Desember-Maret) dan musim kemarau yang panjang (April-November).
  5. Temperatur di Kabupaten Belu memiliki rata-rata suhu sebesar 27,6o C dengan interval suhu 21,5o – 33,7o C. Temperatur terendah (21,5oC) terjadi pada bulan Agustus dan temperatur tertinggi (33,7o C) terjadi pada bulan November.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Singkat[sunting | sunting sumber]

Masa Kependudukan Belanda[sunting | sunting sumber]

  • 1866-1911: Atapupu pernah jadi pusat Pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan ini. Sebelumnya Belanda menjalankan pemerintahan dari Kupang (ibu kota propinsi NTT sekarang).
  • 1911-1916: Beredao, yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis, telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda.
  • 1916-1942: Pusat Pemerintahan Belanda pindah dari Atapupu ke Atambua (Ibu Kota Kabupaten Belu sekarang).[3]

Panitia Pemerintahan Sementara (PPS) Swapraja Belu terbentuk

Belu dibawah Dai Nippon (Jepang)[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Jepang di Belu dikendalikan dari laut oleh Onderafdelling yang dipimpin pembesar Jepang dengan sebutan : Atambua Bun Ken. Romusha: Sistem kerja paksa diterapkan Jepang atas rakyat Belu. Rakyat wajib membuat lubang-lubang perlindungan dan pertahanan bagi tentara Jepang (masih ada di Teluk Gurita sampai sekarang).[3]

Lahirnya Kabupaten Belu[sunting | sunting sumber]

Wilayah dan Kekuasaan (sebelum RI)[sunting | sunting sumber]

Sesuai berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah di Belu, manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah "Suku Melus". Orang Melus dikenal dengan sebutan "Emafatuk Oan Ema Ai Oan", (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar dan bertubuh pendek. Semua para pendatang yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari “"Sina Mutin Malaka". Malaka merupakan tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka. Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.[4]

Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga bersaudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan. Dari Makoan Fatuaruin menyebutnya Nekin Mataus (Likusaen), Suku Mataus (Sonbai), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbai (Dawan). Namun menurut beberapa makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah; Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Nain.

Ketiga orang bersaudara dari Malaka tersebut bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dengan masyarakatnya. Kedatangan mereka dari tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan.[4]

Dari semua pendatang di Belu, pimpinan dipegang oleh "Maromak Oan" Liurai Nain di Belu bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing, Maromak Oan kekuasaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Belu, Maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu Wewiku, Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada di Fatuaruin, Sonbai dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di Laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali.

Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana yang terjadi sekarang. Menurut para sejararahwan, pembagian Belu menjadi Belu bagian Selatan dan Utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan Belanda untuk mempermudah system pengontrolan terhadap masyarakatnya. Dalam keadaan pemerintahan adat tersebut muncullah siaran dari pemerintah rajaraja dengan apa yang disebutnya “Zaman Keemasan Kerajaan”. Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Belu).[4]

Di Dawan ada kerajaan Sonbay yang berkuasa di daerah Mutis. Daerah Dawan termasuk Miamafo dan Dubay sekitar 40.000 jiwa masyarakatnya. Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan system pemerintahan, Sang Maromak Oan mengirim para pembantunya ke seluruh wilayah Belu sebagai Loro dan Liurai.

Tercatat nama-nama pemimpin besar yang dikirim dari WewikuWehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Herneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak. Selain itu ada juga nama seperti Dafala, Manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.

Sesuai pemikiran sejarawan Belu, perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As Tanara membawahi dasi sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat, Asumanu, Lasaka, Dafala, Manukleten, Sorbau, Lidak, Tohe Maumutin dan Aitoon. Dalam berbagai penuturan di Utara maupun di Selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbauan dibagian Timur ada Asumanu Tohe, BesikamaLasaen, Umalor-Lawain. Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal-usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah.[4]

Administratif (setelah RI)[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Belu berdiri pada tanggal 20 Desember 1958 berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 69 tahun 1958 dengan Kota Atambua sebagai ibu kota kabupaten dan terdiri dari 6 kecamatan.[5]

Pada awal pembentukannya, Kabupaten Belu terdiri dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Lamaknen, Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Malaka Timur, Kecamatan Malaka Tengah, dan Kecamatan Malaka Barat.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1992 maka pada tahun 1992 terjadi pemekaran kecamatan menjadi 8 kecamatan yaitu Kecamatan Lamaknen, Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Malaka Timur, Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat, Kecamatan Kobalima dan Kecamatan Kota Atambua.[5]

Pada tahun 2001 terjadi pemekaran kecamatan lagi menjadi 12 kecamatan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. 12 Tahun 2001. 12 kecamatan tersebut adalah Kecamatan Lamaknen, Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Malaka Timur, Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat, Kecamatan Kobalima, Kecamatan Kota Atambua, Kecamatan Raihat, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kecamatan Sasitamean dan Kecamatan Rinhat.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. 10 Tahun 2004 terjadi pemekaran kecamatan di Kabupaten Belu menjadi 16 kecamatan yaitu Kecamatan Lamaknen, Kecamatan Tasifeto Timur, Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Malaka Timur, Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat, Kecamatan Kobalima, Kecamatan Kota Atambua, Kecamatan Raihat, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kecamatan Sasitamean, Kecamatan Rinhat, Kecamatan Weliman, Kecamatan Wewiku, Kecamatan Raimanuk dan Kecamatan Laenmanen.[5]

Pada Tahun 2006 Kecamatan di Kabupaten Belu mengalami pemekaran sebanyak tiga kali sehingga pada akhir 2006 Kabupaten Belu terdiri dari 21 kecamatan. Pemekaran ini terjadi didasarkan atas Peraturan Daerah Kabupaten Belu berikut :

  1. No. 4 Tahun 2006 tentang pembentukan Kecamatan Lamaknen Selatan.
  2. No. 5 Tahun 2006 tentang pembentukan Kecamatan Io Kufeu dan Botin Leo Bele.
  3. No. 18 Tahun 2006 tentang pembentukan Kecamatan Atambua Barat dan Atambua Selatan.

Kabupaten Belu pada saat itu terdiri dari 24 kecamatan yang merupakan hasil dari dua kali pemekaran yang terjadi pada tahun 2007 berdasarkan Peraturan Pemerintah Daerah Kabuapaten Belu yaitu:

  1. No. 2 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Nanaet Dubesi dan Kobalima Timur.
  2. No. 3 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Lasiolat.[5]

Kemudian pada tahun 2012 terjadi pemekaran Kabupaten Malaka sehingga dibagi 12 kecamatan untuk Kabupaten Belu dan 12 kabupaten untuk Kabupaten Malaka.

Arti Lambang Daerah[sunting | sunting sumber]

Bentuk Lambang Daerah adalah Perisai bersisi lima mempunyai arti sebagai berikut :

  • Perisai melambangkan alat perlindungan rakyat
  • Sisi lima melambangkan Pancasila sebagai dasar negara
  • Warna dan Isi Lambang adalah Tata warna lambang berwarna Merah, Kuning, Coklat, Hijau, Putih dan Hitam; melambangkan kain tenunan rakyat Kabupaten Belu, yang mempunyai arti:

Merah : keberanian; Kuning : keagungan; Coklat : ketabahan hati; Hijau : kemakmuran; Putih : kesucian; Hitam : ketenangan/keadilan.

Arti Lambang

  • Lukisan bintang berwarna kuning emas melambangkan Keagungan Tuhan Yang Maha Esa;
  • Padi dan kapas melambangkan kemakmuran sandang pangan;
  • Padi 20 butir dan kapas 12 biji serta angka 1958 menunjukkan hari,tanggal, tahun terbentuknya Kabupaten Belu dalam wilayah daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur ;
  • Tiber melambangkan alat asli seni tari rakyat (tarian Likurai) yang telah ada serta tumbuh dalam masyarakat Belu sejak dahulu dan berkembang terus hingga sekarang;
  • Kelewang dalam keadaan tersarung terletak di antara warna merah dan Kuning melambangkan perjuangan keberanian, kesungguhan hati dan semangat;
  • Pohon beringin melambangkan persatuan dan tempat rakyat berlindung, terletak di atas tiber dan kelewang;
  • Dibawah Bintang dan di atas Pohon Beringin tertulis dengan kata latin berbunyi “BELU“ yang berarti “SAHABAT“.

Nama[sunting | sunting sumber]

Nama Lain: Rai Belu, Tasifeto, Fialaran-Lamaknen, Manuaman Lakaan.

Kata "Belu" menurut penuturan para tetua adat bermakna "persahabatan" yang bila diterjemahkan secarah harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti "teman" atau "sobat". Ini merupakan makna simbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para penghuni Belu memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa saja. Namun secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua bagian yaitu Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang masih terasa pengaruhnya.[6]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Belu berbatasan dengan:

Utara Selat Ombai
Selatan Kabupaten Malaka
Barat Kabupaten Timor Tengah Utara
Timur Timor Leste

Pembagian Administratif[sunting | sunting sumber]

  1. Kecamatan Lamaknen Ibukota di Weluli
  2. Kecamatan Lamaknen Selatan Ibukota di Aubulak
  3. Kecamatan Raihat Ibukota di Haekesak
  4. Kecamatan Lasiolat Ibukota di Lahurus
  5. Kecamatan Tasifeto Timur Ibukota di Wedomu
  6. Kecamatan Kota Atambua
  7. Kecamatan Atambua Barat
  8. Kecamatan Atambua Selatan
  9. Kecamatan Kakuluk Mesak Ibukota di Atapupu
  10. Kecamatan Tasifeto Barat Ibukota di Kimbana
  11. Kecamatan Nanaet Dubesi Ibukota di Laktutus
  12. Kecamatan Rai Manuk Ibukota di Mandeu.

Klimatologi[sunting | sunting sumber]

Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid), dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,50 – 33,70 C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,60C. Temperatur udara tertinggi 37,7 0C terjadi pada Bulan Nopember, sedangkan temperatur udara terendah 20,50 terjadi Bulan Agustus.

Biasanya hujan turun antara Bulan Desember sampai Bulan Maret, sedangkan kemarau berlangsung antara Bulan April sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903 mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm. Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.

Topografi[sunting | sunting sumber]

Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat dikelompokan atas beberapa kelompok berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Keadaan topografi Kabupaten Belu dirinci seperti berikut di bawah ini :

  • Ketinggian 0 – 230 m dpl seluas 98,349 Ha (40,12 %)
  • Ketinggian 230 – 500 m dpl seluas 95,958 Ha (39,12 %)
  • Ketinggian 500 – 750 m dpl seluas 30,710 Ha (12,56 %)

8 Ketinggian 750 – 1000 m dpl seluas 17,240 Ha (7,03 %)

Karakteristik Tanah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.

Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari :

Kedalaman Efektif Tanah[sunting | sunting sumber]

  • 0 – 30 cm seluas 21.191 Ha (8,67%)
  • 30 – 60 cm seluas 28.204 Ha (11,53%)
  • 60 – 90 cm seluas 3.840 Ha (1,57%)
  • 90 cm seluas 191.322 Ha (78,23%)

Tekstur Tanah[sunting | sunting sumber]

  • Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
  • Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
  • Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)

Drainase[sunting | sunting sumber]

  • Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
  • Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
  • Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)

Erositas[sunting | sunting sumber]

  • Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
  • Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)

Geografi[sunting | sunting sumber]

  • Gunung Tertinggi: Foho Lakaan.
  • Bukit-bukit penting: Lidak, Mandeu.
  • Pelabuhan Laut Terpenting: Pelabuhan Atapupu.
  • Bandara Terpenting: A.A. Bere Talo di Haliwen.
  • Pintu Imigrasi Terpenting: Gerbang Motaain, Gerbang Turiskain.

Budaya[sunting | sunting sumber]

  • Kerajaan Terpenting: Loro Bauho-Fialaran dan Lamaknen.
  • Gereja Tertua: Atapupu, Lahurus, Halilulik, Katedral Atambua, dan Katerdal Nualain.
  • Tarian Asli Belu: Likurai, Tebe dan Bidu Kikit.
  • Ritual: Hamis Batar, ritual panen Jagung
  • Bahasa Daerah Terpenting: Tetun, Bunak, Kemak dan Dawan R.
  • Tempat Wisata Gunung: Ksadan Takirin, Ksadan Fatulotu, Gunung Lakaan, Fulan Fehan, Air Terjun Siata Mauhalek, Anin Nawan, Bukit Mandeu, Bukit Lidak, Mataair Lahurus, Mataair Webot Haekesak, Niki Tohe Leten, Kampung Kewar, Air Terjun Weró, Bendungan Haekriit.
  • Tempat Wisata Pantai: Pasir Putih, Kolam Susuk, Teluk Gurita.
  • Lagu Daerah Terkenal: Oras Loro Malirin, Manumutin Torok, Olala, Lolon Gol.
  • Hotel Terkenal: Matahari, Timor, Intan, Liurai, Paradiso, Nusantara 1,2, Klaben.
  • Makanan Terkenal: Ut Moruk, Se'i Babi, Dendeng Sapi, Sambal Tomat Lahurus, Bawang Weluli, Ikan Atapupu, Padi Haekesak, Jagung Bose, Batar Da'an, Tua Mutin, roti paung.

Kota Atambua[sunting | sunting sumber]

Lokasi Kota Atambua

Kota Atambua adalah ibukota Kabupaten Belu, yang melingkupi 3 kecamatan:

  1. Atambua
  2. Atambua Barat
  3. Atambua Selatan

Bila Atambua ditingkatkan menjadi Kotamadya maka Ibukota Kabupaten Belu bisa dibangun di Lahurus. Dan jika saja Kabupaten Belu dimekarkan lagi di Belu Bagian Barat, maka bisa dipilih Halilulik sebagai Ibukota Kabupaten Belu Barat (Belu Lorotoban) dan Kabupaten Belu di Lahurus bisa dinamai baru sebagai Kabupaten Belu Timur (Belu Lorosaen).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ Sejarah Kabupaten Belu - Halaman 3 Publikasi BPS Kabupaten Belu. Diakses 13 Maret 2017
  3. ^ a b c Sejarah Kabupaten Belu - Belu Lahan Kritis
  4. ^ a b c d Sejarah Kabupaten Belu - Halaman lv Publikasi BPS Kabupaten Belu. Diakses 12 Maret 2017
  5. ^ a b c d Sejarah Kabupaten Belu - Halaman lix Publikasi BPS Kabupaten Belu. Diakses 12 Maret 2017
  6. ^ Sejarah Kabupaten Belu

Pranala luar[sunting | sunting sumber]