Kabupaten Belu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Belu
Lambang Kabupaten Belu.jpg
Lambang Kabupaten Belu


Moto: Husar Binan Rai Belu Tetuk No Nesak Diak No Kmanek
Dengan semangat persaudaraan kita membangun masyarakat Belu menuju tercapainya kesejahteraan lahir batin yang serasi dan seimbang[1][2]


Slogan pariwisata: Belu Wisata, dengan Atambua sebagai Kota Festival[3]

(dari kanan atas, searah jarum jam) Tugu Pancasila Kota Atambua, Upacara Hamis Batar, Panorama Fulan Fehan dengan latar belakang Gunung Lakaan, Air Terjun Sihata Mauhalek, Tarian Tebe (tari tradisional Belu), PLBN Terpadu Motaain
(dari kanan atas, searah jarum jam) Tugu Pancasila Kota Atambua, Upacara Hamis Batar, Panorama Fulan Fehan dengan latar belakang Gunung Lakaan, Air Terjun Sihata Mauhalek, Tarian Tebe (tari tradisional Belu), PLBN Terpadu Motaain
Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Belu.svg
Peta lokasi Kabupaten Belu di Nusa Tenggara Timur
Koordinat: 124°40'–125°15' LS, 8°7'– 9°23' BT[4] Koordinat: 9°06′S 124°54′E / 9.100°S 124.900°E / -9.100; 124.900
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Hari jadi 20 Desember 1958
Dasar hukum PP No.29 Tahun 1992
UU No.69 Tahun 1958
UU No.64 Tahun 1958
Tanggal peresmian 20 Desember 1958
Ibu kota Atambua
Pemerintahan
-Bupati Willybrodus Lay, SH.
-Wakil Bupati Drs. J.T.Ose Luan
-Sekretaris Daerah Petrus Bere
-Ketua DPRD Januaria Awalde Berek
-Ketua Pengadilan Negeri R. Mohammad Fadjarisman, SH.[5]
-Kepala Kejaksaan Negeri Robertus M. Tacoy, SH., MH.
-Dandim Letkol (Czi) I Gusti Putu Dwika
-Kapolres AKBP Christian Tobing
APBD
-APBD Rp.911.523.433.938,-[6]
-PAD Rp. 68.426.210.690,-
-DAU Rp.501.312.256.000,-(2018)[6]
Luas 1.284,94 km²[7]
atau
1.284,97 km²[8]
Populasi
-Total 213.596 jiwa (2018)[7]
-Kepadatan 170,7 jiwa/km²(2018)
Demografi
-Agama Katolik 88.523%
Kristen Protestan 6.901%
Islam 4.360%
Hindu 0.196%
Buddha 0.020%[7]
-Bahasa Indonesia
-IPM 0.614 (Medium) (2017)[7]
-Zona waktu UTC+08:00 (WITA)
-Kodepos 85700
-Kode area telepon (+62)389
-Bandar udara A. A. Bere Tallo
Pembagian administratif
-Kecamatan 12[8]
-Kelurahan 12[8]
-Desa 69[8]
Simbol khas daerah
Situs web belukab.go.id

Kabupaten Belu adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten ini beribukota di Atambua. Memiliki luas wilayah 1.284,94 km² (menurut BPS)[7] atau 1.284,97 km² (menurut Kemendagri)[8], terbagi dalam 12 kecamatan, 12 kelurahan dan 96 desa, termasuk 30 desa dalam 8 kecamatan perbatasan.

Secara astronomis, kabupaten ini terletak pada 124o – 126oBujur Timur dan 9o – 10oLintang Selatan, dengan berbatasan geografi dengan Selat Ombai di utara, Kabupaten Malaka di selatan, Timor Leste di timur, dan Kabupaten TTU di barat. [4][9]

Kabupaten ini juga merupakan kabupaten dengan penanggulanganan korupsi terbaik di Nusa Tenggara Timur, diikuti oleh Kabupaten Manggarai pada posisi kedua.[10]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Umumnya penduduk Kabupaten Belu berasal dari ras Melayu Tua (Proto Melayu), ras yang diyakini lebih tua dan lebih awal mendiami Pulau Timor. Selain Ras Melayu Tua, terdapat juga ras Melayu Muda (Deutero Melayu) dan Asia (Cina). Baik ras Proto Melayu, Deutero Melayu dan Asia, telah berbaur dan telah terikat dalam sistem kawin-mawin, sejak beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun silam. Di Kota Atambua, juga beberapa kota kecil seperti Atapupu, Halilulik, Betun, terdapat juga sejumlah kecil penduduk yang berasal dari luar Kabupaten Belu, entah dari Pulau Timor sendiri, atau pun dari luar Pulau Timor. Penutur adat Kabupaten Belu, yang dijuluki gelar Mako’an, menuturkan bahwa konon Pulau Timor ini belum muncul ke permukaan. Semua masih ditutupi air. Hal itu dibayangkan dengan Zaman es (atau Zaman Glasial) yang terjadi sekitar 500 atau 600 ribu tahun silam.[11]

Menurut Kepercayaan Adat Belu[sunting | sunting sumber]

Konon, seluruh permukaan bumi tertutup air, termasuk di Timor. Namun pada suatu ketika, di Timor, muncullah sebuah titik, yang ternyata itu adalah puncak tertinggi dari keseluruhan Pulau Timor kelak. Titik kecil itu muncul dan bersinar sendiri. Orang di generasi sesudahnya menggambarkan kembali titik bumi yang muncul itu dengan sapaan adat: Fo’in Nu’u Manu Matan (baru seperti biji mata ayam), Foin Nu’u Bua Klau (baru seperti potongan sebelah pinang), Foin Nu’u Etu Kumun (baru seperti gumpalan nasi di tangan), dan Foin Nu’u Murak Husar (baru sebesar pusar mata uang). Titik kecil itulah yang kelak dikenal dengan Gunung Lakaan sekarang, sebagai puncak tertinggi di Kabupaten Belu. Oleh karenanya, tidaklah heran kalau Orang Belu menjuluki puncak itu dengan nama Foho Laka An (gunung yang memiliki cahara sendiri), Manu Aman Laka An (ayam jantan merah bercahaya sendiri), Sa Mane Mesak (seperti lelaki tunggal), atau Baudinik Mesak (seperti bintang tunggal).

Dan di puncak Gunung Lakaan ini pula, diyakini oleh masyarakat Kabupaten Belu, lahirlah Manusia Pertama Belu. Sebenarnya ada nama yang dikenakan kepada Leluhur Pertama Orang Belu yang pertama kali hidup di Puncak Gunung Lakaan. Manusia pertama di Belu ternyata seorang Puteri Cantik.

Menurut cerita orang tua-tua di Belu, pada jaman dahulu kala, seluruh Pulau Timor masih digenangi air, kecuali puncak Gunung Lakaan. Pada suatu hari turunlah seorang putri dewata di puncak gunung Lakaan dan tinggallah ia di sana. Putri dewata itu bernama Laka Loro Kmesak yang dalam bahasa Belu berarti Putri tunggal yang tidak berasal usul. Laka Loro Kmesak adalah seorang putri cantik jelita dan luar biasa kesaktiaannya. Karena kesaktiannya yang luar biasa itu, maka Laka Loro Kmesak dapat melahirkan anak dengan suami yang tidak pernah dikenal orang.

Para Mako’an Belu mengatakan bahwa “Suami” atau “Leluhur Lelaki” yang tidak dikenal itu, yang “menghampiri” Leluhur Perempuan (Laka Loro Kmesak), kelak lebih dijuluki dengan Gelar Manu Aman Lakaan Na’in, artinya Tuan dari Puncak Jago Lakaan. Karena kerahasiaan itu tetap terjaga sampai tidak disebutkan Nama, maka Laka Loro Kmesak disebut pula dengan nama Na’in Bilak An yang artinya berbuat sendiri dan menjelma sendiri.

Beberapa tahun kemudian Putri Laka Loro Kmesak berturut-turut melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putranya diberi nama masing-masing, Atok Lakaan dan Taek Lakaan. Sedangkan kedua putrinya masing-masing diberi nama Elok Loa Lorok dan Balok Loa Lorok.

Setelah keempat putra-putri ini dewasa mereka dikawinkan oleh ibunya karena di puncak gunung tidak ada keluarga lain. Atok Lakaan kawin dengan Elok Loa Larak dan Taek Lakaan kawin dengan Balok Loa Lorok. Kelak keturunan Manu Aman Lakaan inilah yang kelak memenuhi Tanah Belu, Timor Leste, Dawan, Rote, Sabu, Larantuka atau Lamaholot di Pulau Flores bagian timur.

— Leluhur Pengasal Manusia Belu

Tidaklah heran kalau masyarakat Belu kebanyakan menganut paham matrilineal karena kisah Tuan Putri Laka Loro Kmesak ini. Walau akhirnya dalam sejarah yang panjang, anak-cucu Manu Aman Lakaan mengembangkan pula sistem patrilineal dengan mem-faen-kotu seorang istri untuk dimasukkan ke rumah suku lelaki. Itu merupakan pengembangan lebih lanjut atau penafsiran terhadap sistem matrilineal yang sudah ada sejak leluhur, di mana, perempuan yang di-faen-kotu, memiliki arti bahwa perempuan itu sangat tinggi harkatnya dan sangat disanjung sehingga suku suami, rela mengorbankan harta bendanya demi mendapatkan perempuan baru sebagai anggota inti rumah suku sang suami.[11]

Menurut Penelitian[sunting | sunting sumber]

Manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah "Suku Melus". Orang Melus dikenal dengan sebutan "Emafatuk Oan Ema Ai Oan", (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar dan bertubuh pendek. Semua para pendatang yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari “"Sina Mutin Malaka". Malaka merupakan tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka. Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.[12][13]

Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga bersaudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan. Dari Makoan Fatuaruin menyebutnya

  1. Nekin Mataus (Likusaen)
  2. Suku Mataus (Sonbai)
  3. Bara Mataus (Fatuaruin).


Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya

  1. Loro Sankoe (Debuluk, Welakar)
  2. Loro Banleo (Dirma, Sanleo)
  3. Loro Sonbai (Dawan).

Namun menurut beberapa makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah;

  1. Wehali Nain
  2. Wewiku Nain
  3. Haitimuk Nain.

Ketiga orang bersaudara dari Malaka tersebut bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dengan masyarakatnya. Kedatangan mereka dari tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu Cendana dan hubungan etnis keagamaan.

Dari semua pendatang di Belu Selatan, pimpinan dipegang oleh "Maromak Oan" Liurai Nain di Belu bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing, Maromak Oan kekuasaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Belu, Maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu Wewiku, Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada di Fatuaruin, Sonbai dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di Laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali.

Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana yang terjadi sekarang. Menurut para sejarahwan, pembagian Belu menjadi Belu bagian Selatan dan Utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan Belanda untuk mempermudah system pengontrolan terhadap masyarakatnya. Dalam keadaan pemerintahan adat tersebut muncullah siaran dari pemerintah rajaraja dengan apa yang disebutnya “Zaman Keemasan Kerajaan”. Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan separuh Belu).

Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak. Selain itu ada juga nama seperti Dafala, Manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.

Sesuai pemikiran sejarawan Belu, perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As Tanara membawahi dasi sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat, Asumanu, Lasaka, Dafala, Manukleten, Sorbau, Lidak, Tohe Maumutin dan Aitoon. Dalam berbagai penuturan di Utara maupun di Selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbauan dibagian Timur ada Asumanu Tohe, BesikamaLasaen, Umalor-Lawain. Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal-usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah.[12][13]

Masa Kolonial Belanda[sunting | sunting sumber]

Atapupu pada 1915, bila dilihat dari atas.

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Kabupaten Belu merupakan gabungan dari 20 wilayah Swapraja/Kerajaan yang meliputi Belu dan sebagian Timor Tengah Utara yaitu Wewiku, Haitimuk, Alas, Wehali, Fatuaruin, Lakekun, Dirma, Mandeu, Insana, Biboki, Harneno, Naitimu, Lidak, Jenilu, Fialaran, Silawan, Maukatar, Lamaknen, Makir, dan Lamaksanulu. Tahun 1862 pusat pemerintahannya berada di Atapupu dengan kepala pemerintahannya disebut Gezakheber. Pada tahun 1910 Swapraja Anas diserahkan kepada Swapraja Amanatun (Timor Tengah Selatan). Pada tanggal 25 Maret 1913, Kerajaan Lidak digabung dengan Kerajaan Jenilu yang dipimpin oleh Raja Don Josef Da Costa dengan nama Swapraja Jenilu. [14][15]

Kemudian setelah lahirnya Beslit Gubernemen 7 Oktober 1914 maka Kerajaan Jenilu dan Naitimu digabung menjadi sebuah kerajaan baru bernama Kakuluk Mesak di bawah pimpinan Raja Don Josef Da Costa. Jumlah kerajaan di Belu pun tinggal 17 dari sebelumnya 18 buah. Kemudian tanggal 1 April 1915, Swapraja Insana, Swapraja Biboki, dan Swapraja Harneno, dimasukkan ke dalam wilayah Timor Tengah Utara sehingga jumlah kerajaan di Belu tinggal 14 buah. Sebulan kemudian tanggal 29 Mei 1915, Civil Militair Asisten Resident Gramberg menggelar rapat di Besikama dihadiri oleh Swapraja Wehali, Wewiku, Haitimuk, Fatuaruin, Lakekun, Dirma, dan Mandeu. Dalam rapat ini disepakati pembentukan sebuah Swapraja baru bernama Swapraja Malaka. [16][15] Sementara itu, Beredao yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda dari 1911 hingga 1916. Pada tahun 1916, Pusat Pemerintahan Belanda untuk Belu Utara dipindahkan dari Atapupu ke Atambua.[17]

Pada tanggal 19 Januari 1916, Gesachebber melaksanakan rapat dengan Swapraja Makir, Lamaknen, Lamaksanulu, Kakuluk Mesak, Fialaran, dan Silawan yang mengasilkan terbentuknya “Swapraja Belu Tasifeto”. Pada tanggal 20 September 1923, Controleur Belu Van Raesfild Meyer menerbitkan memori tentang struktur pemerintahan di wilayah Belu, yang meliputi seluruh wilayah Belu ditambah Insana, dan Biboki di TTU (sekarang)[17], sebagai berikut:[18]

  1. Menghapuskan Swapraja Malaka dan Swapraja Belu Tasifeto.
  2. Membentuk satu Swapraja yang terdiri dari wilayah Belu seluruhnya ditambah Swapraja Insana dan Biboki (Timor Tengah Utara).
  3. Mengakui Bria Nahak sebagai Raja Belu dengan gelar “Maromak Oan”.
  4. Dalam melaksanakan pemerintahan Maromak Oan dibantu oleh seorang mangkubumi yang bergelar Liurai.

Pada tanggal 14 Mei 1930 dengan Resident Timor en Onderhoorgheden, Seran Asit Fatin diakui sebagai kepala Swapraja Belu dengan gelar Liurai. Setelah Seran Asit Fatin meninggal dunia pada pada tanggal 9 November 1931 terjadilah kevakuman jabatan Liurai Belu.[19] Pada tanggal 20 Juli 1940 pemerintah Belanda oleh Controleur W. Ch. J. J. Buffart melaporkan kepada pemerintah pusat bahwa Swapraja Belu dihapus dan dibentuk 3 Swapraja baru yaitu Swapraja Malaka, Swapraja Tasifeto, dan Swapraja Lamaknen. Mengakui Antonius Tei Seran sebagai Raja Malaka dengan gelar Liurai, Atok Samara sebagai Raja Tasifeto dengan gelar Astanara, dan Bau Liku Raja Lamaknen bergelar Loro.[20][15]

Masa Kolonial Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada 20 Februari 1942, Tentara Jepang mendarat di Batulesa, Kab. Kupang (sekarang), di bawah pimpinan Jenderal Hayakawa. Selanjutnya pada 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, dan meninggalkan Pulau Timor beserta Kabupaten Belu. Sekitar April 1942, tentara Jepang masuk wilayah Atambua. Controleur Belanda, Mr. H. C. de Haan dan keluarga ditawan.[17] Wilayah pemerintahan Belu dipimpin oleh seorang pejabat Jepang yang disebut “Bunken Kanrikan”. Pemerintah Jepang mengakui wilayah Belu terbagi mejadi 2 Swapraja:

  1. Swapraja Tasimane dipimpin oleh Arnoldus Klau sebagai Raja I dan Edmundus Tei Seran (Na’i Fatuaruin) sebagai Raja II.
  2. Swapraja Tasifeto dipimpin oleh Nikolas Manek sebagai Raja I dan Hendrikus Besin Siri Da Costa sebagai Raja II.

Pemerintahan Jepang di Belu dikendalikan dari laut oleh Onderafdelling yang dipimpin pembesar Jepang dengan sebutan Atambua Bun Ken. Terdapat sistem kerja paksa diterapkan Jepang atas rakyat Belu (Romusha). Rakyat wajib membuat lubang-lubang perlindungan dan pertahanan bagi tentara Jepang (masih ada di Teluk Gurita sampai sekarang). Selain itu, rakyat juga diwajibkan menanam tumbuhan jati untuk kepentingan perang Jepang (masih ada sebagai Hutan Jati Nenuk di Tasifeto Barat)[17]

Situasi Pasca Kemerdekaan RI[sunting | sunting sumber]

Pada 6 Agustus-8 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada AS dan sekutu, atas seruan Kaiser Tenno Heika. Berakhir pula pendudukan tentara Jepang di Indonesia termasuk Belu. Sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Panitia Pemerintahan Sementara (PPS) Swapraja Belu yang dibentuk dengan Beslit Resident Timor en Ondertiooroghden tanggal 2 Mei tahun 1932 No. 842 tetap diakui, dengan anggotanya Loro Lakekun (Benekdiktus Leki Tahuk), Loro Bauho (Hendrikus Besin Siri Da Costa), dan Raja Kewar (A. A. Bere Tallo). Panitia Pemerintahan Sementara (PPS) meliputi 3 Swapraja dan 37 ke-Na’i-an. Pada tanggal 15 Agustus 1946 dibentuk Dewan Raja-Raja Federasi kepulauan Timor di Kefamenanu yang terdiri dari 20 anggota yaitu semua Kepala Swapraja di pulau Timor, Rote, Sabu, dan Alor Pantar. Pada tanggal 31 Maret 1949, keluar peraturan No. 121 oleh Beslit Resident Timor, mengangkat Hendrikus Besin Siri Da Costa sebagai Raja Tasifeto dan A. A. Bere Tallo sebagai Raja Kewar. Dengan SKP Ketua Dewan Raja-raja Timor dan Kepulauan Nomor P.3/21/1 tanggal 20 Agustus 1949 mengangkat A. A. Bere Tallo untuk memangku jabatan Ketua PPA Swapraja Belu, kemudian dibubarkan dengan Undang-Undang Negara Indonesia Timur Nomor 44 tahun 1950 tanggal 1 Oktober 1950 dan membentuk Pemerintahan Daerah Timor yang dikepalai oleh seorang Kepala Daerah dan didampingi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) [21][15]

Pada tanggal 1 April 1951, Kepala Daerah Timor (H. A. Koroh) mengangkat Raja Lamaknen (A. A. Bere Tallo) sebagai anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Timor di Kupang sekaligus merangkap Pj. Ketua Panitia Pemerintahan Sementara (PPS) Swapraja Belu di Atambua dan Raja Lamaknen. SKP Gubernur NTT di Singaraja Nomor Des.2/1/2 tanggal 15 Februari 1954, mengesahkan Majelis Pemerintah Harian Swapraja Belu dengan Ketua A. A. Bere Tallo. Kemudian dengan SKP Gubernur NTT di Singaraja Nomor 115/UP.3/3//63 tanggal 9 Juni 1954, mengangkat A. A. Bere Tallo sebagai Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) Belu.[22][15]

Pada 29 Oktober 1958, lahirlah UU No. 69 Tahun 1958, tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan terbentuk pula Daerah Tingkat II Belu. Kabupaten Belu berdiri pada tanggal 20 Desember 1958 berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 69 tahun 1958 dengan Atambua sebagai ibu kota kabupaten dan terdiri dari 6 kecamatan.[23]

Pejabat Pemerintahan Belu terpilih pada 16 Februari 1960, yakni Alfonsius Andreas Bere Tallo sebagai Kepala Daerah Tingkat II Belu, ia kemudian dilantik oleh Gubernur NTT W. J. Lalamentik pada 9 Mei 1960. Pada 20 Mei 1959, DPRD Peralihan Daerah Tingkat II Belu berdiri yang terdiri dari 15 Anggota dengan Ketua B.J Manek dan Wakil Ketua C. Mau.[17]

Perkembangan Kabupaten Belu hingga kini[sunting | sunting sumber]

Pada awal pembentukannya, Kabupaten Belu terdiri dari 6 kecamatan yaitu:[23]

  1. Kecamatan Lamaknen
  2. Kecamatan Tasifeto Timur
  3. Kecamatan Tasifeto Barat
  4. Kecamatan Malaka Timur
  5. Kecamatan Malaka Tengah
  6. Kecamatan Malaka Barat

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1992 maka pada tahun 1992 terjadi pemekaran kecamatan menjadi 8 kecamatan yaitu:[23]

  1. Kecamatan Lamaknen
  2. Kecamatan Tasifeto Timur
  3. Kecamatan Tasifeto Barat
  4. Kecamatan Malaka Timur
  5. Kecamatan Malaka Tengah
  6. Kecamatan Malaka Barat
  7. Kecamatan Kobalima
  8. Kecamatan Kota Atambua

Pada tahun 2001 terjadi pemekaran kecamatan lagi menjadi 12 kecamatan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. 12 Tahun 2001, yakni:[23]

  1. Kecamatan Lamaknen
  2. Kecamatan Tasifeto Timur
  3. Kecamatan Tasifeto Barat
  4. Kecamatan Malaka Timur
  5. Kecamatan Malaka Tengah
  6. Kecamatan Malaka Barat
  7. Kecamatan Kobalima
  8. Kecamatan Kota Atambua
  9. Kecamatan Raihat
  10. Kecamatan Kakuluk Mesak
  11. Kecamatan Sasitamean
  12. Kecamatan Rinhat

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. 10 Tahun 2004 terjadi pemekaran kecamatan di Kabupaten Belu menjadi 16 kecamatan, yaitu:[23]

  1. Kecamatan Lamaknen
  2. Kecamatan Tasifeto Timur
  3. Kecamatan Tasifeto Barat
  4. Kecamatan Malaka Timur
  5. Kecamatan Malaka Tengah
  6. Kecamatan Malaka Barat
  7. Kecamatan Kobalima
  8. Kecamatan Kota Atambua
  9. Kecamatan Raihat
  10. Kecamatan Kakuluk Mesak
  11. Kecamatan Sasitamean
  12. Kecamatan Rinhat
  13. Kecamatan Weliman
  14. Kecamatan Wewiku
  15. Kecamatan Raimanuk
  16. Kecamatan Laen Manen.

Pada Tahun 2006 Kecamatan di Kabupaten Belu mengalami pemekaran sebanyak tiga kali sehingga pada akhir 2006 Kabupaten Belu terdiri dari 21 kecamatan. Pemekaran ini terjadi didasarkan atas Peraturan Daerah Kabupaten Belu berikut:[23]

  1. No. 4 Tahun 2006 tentang pembentukan Kecamatan Lamaknen Selatan.
  2. No. 5 Tahun 2006 tentang pembentukan Kecamatan Io Kufeu dan Botin Leobele.
  3. No. 18 Tahun 2006 tentang pembentukan Kecamatan Atambua Barat dan Atambua Selatan.

Pada tahun 2007, kecamatan di Kabupaten Belu kembali mengalami pemekaran sebanyak dua kali sehingga pada akhir 2007 Kabupaten Belu terdiri dari 24 kecamatan. Pemekaran ini terjadi didasarkan atas Peraturan Daerah Kabupaten Belu berikut:[23]

  1. No. 2 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Nanaet Dubesi dan Kecamatan Kobalima Timur.
  2. No. 3 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Lasiolat.

Kemudian pada tahun 2012 terjadi pemekaran Kabupaten Malaka sehingga dibagi 12 kecamatan untuk Kabupaten Belu dan 12 kecamatan untuk Kabupaten Malaka.

Kabupaten Belu

  1. Kecamatan Raimanuk
  2. Kecamatan Tasifeto Barat
  3. Kecamatan Kakuluk Mesak
  4. Kecamatan Nanaet Dubesi
  5. Kecamatan Kota Atambua
  6. Kecamatan Atambua Barat
  7. Kecamatan Atambua Selatan
  8. Kecamatan Tasifeto Timur
  9. Kecamatan Raihat
  10. Kecamatan Lasiolat
  11. Kecamatan Lamaknen
  12. Kecamatan Lamaknen Selatan

Kabupaten Malaka

  1. Kecamatan Malaka Barat
  2. Kecamatan Rinhat
  3. Kecamatan Wewiku
  4. Kecamatan Weliman
  5. Kecamatan Malaka Tengah
  6. Kecamatan Sasitamean
  7. Kecamatan Io Kufeu
  8. Kecamatan Botin Leobele
  9. Kecamatan Malaka Timur
  10. Kecamatan Laen Manen
  11. Kecamatan Kobalima
  12. Kecamatan Kobalima Timur

Demografi[sunting | sunting sumber]

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Populasi historis
(Sebelum berpisahnya Malaka)
Tahun Jumlah
Pend.
  
±%  
1971 153.164—    
1980 181.069+18.2%
1990 216.061+19.3%
2000 277.484+28.4%
2010 352.296+27.0%
Sumber: Situs Web BPS Kabupaten Belu[24]
Populasi historis
(Sejak berpisahnya Malaka)
Tahun Jumlah
Pend.
  
±%  
2013[25] 197.002—    
2014[26] 201.734+2.4%
2015[27] 204.541+1.4%
2016[28] 207.170+1.3%
2017[29] 213.596+3.1%
Sumber: BPS Kabupaten Belu

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Belu tahun 2018[30], jumlah penduduk kabupaten Belu pada akhir tahun 2017 adalah 213.596 jiwa; dibagi menjadi 106.782 jiwa laki-laki dan 106.814 jiwa perempuan. Laju pertumbuhan penduduk di kabupaten Belu antara rahun 2016 dan 2017 adalah 3,00%, dengan angka pernikahan sebanyak 826 rumah tangga baru dan angka kelahiran sebanyak 8843 jiwa. Rasio jenis kelamin tahun 2017 adalah 1,00 yang berarti jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hampir sama. [30]

Ketenagakerjaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil Sakernas 2017, angkatan kerja tahun 2017 berjumlah 97.869 orang atau 70,55 persen terhadap penduduk kabupaten Belu usia 15 tahun ke atas. Dari jumlah tersebut sebanyak 97,53 persen berstatus pekerja. Tingkat pengangguran kabupaten Belu tahun 2017 tercatat 2414.[30]

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama di Kabupaten Belu (2017)[7]
Agama persen
Katolik
  
88.523%
Kristen Protestan
  
6.901%
Islam
  
4.360%
Hindu
  
0.196%
Buddha
  
0.02%
Lainnya
  
0.000%

Mayoritas penduduk di Kabupaten Belu beragama Katolik, dengan diikuti minoritas yaitu Kristen, Islam, Hindu, dan Buddha

Budaya[sunting | sunting sumber]

Lopo dengan atap seperti rumah adat orang Belu yang berada di Kolam Susuk

Secara adat-istiadat dan kebudayaan, Kabupaten Belu merupakan masyarakat adat Timor, yang hidup dalam empat kelompok suku-bangsa dan bahasa. Penduduk Kabupaten Belu, kebanyakan Orang Tetun. Selain Orang Tetun yang berkonsentrasi di sebagian besar Tasifeto; terdapat juga Orang Marae atau Bunak yang berkonsentrasi di hampir seluruh wilayah Lamaknen Utara dan Lamaknen Selatan serta beberapa perkampungan lain di Tasifeto; Orang Kemak yang berkonsentrasi di Sadi (Tasifeto Timur), dan beberapa perkampungan lain di Tasifeto serta Orang Dawan R yang berkonsentrasi di Manlea dan Biudukfoho, wilayah Malaka. Umumnya penduduk Kabupaten Belu, berasal dari ras Melayu Tua (Proto-Melayu), ras yang diyakini lebih tua dan lebih awal mendiami Pulau Timor. Selain Ras Melayu Tua, terdapat juga ras Melayu Muda (Deutero-Melayu) dan Asia (Cina). Baik ras Proto Melayu, Deutero Melayu dan Asia, telah berbaur dan telah terikat dalam sistem kawin-mawin, sejak beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun silam.[31]

Di Atambua, juga beberapa kota kecil seperti Atapupu, dan Halilulik, terdapat juga sejumlah kecil penduduk yang berasal dari luar Kabupaten Belu, entah dari Pulau Timor sendiri, atau pun dari luar Pulau Timor. Bahasa daerah Kabupaten Belu adalah bahasa tetun. Bahasa ini sama seperti bahasa daerah dari Kabupaten Malaka, karena kedua kabupaten tersebut memiliki satu nenek moyang.

Daerah kabupaten Belu pada umumnya terdiri atas daratan bukit dan pegunungan serta hutan. Daerah Belu tergolong daerah yang curah hujannya sedikit yang secara tidak langsung iklim tersebut mempengaruhi pola hidup dan watak keseharian masyarakat Belu.

Berkas:Lopo - Rumah Adat Belu.jpg
Lopo, merupakan Rumah Adat orang Belu

Tempat tinggal orang-orang Belu dahulunya banyak berada di daerah perbukitan yang dikelilingi oleh semak berduri dan batu karang yang tidak mudah didatangi orang dan hidup secara berkelompok, dengan maksud untuk menjaga keamanan dari gangguan orang luar maupun binatang buas. Rumah asli penduduk Belu bernama Lopo, yaitu rumah yang berbentuk seperti kapal terbalik dan ada yang seperti gunung. Atapnya menjulur ke bawah hampir menyentuh tanah. Dinding rumah terbuat dari Pelepah Gewang, biasa disebut Bebak, tiang-tiangnya terbuat dari kayu-kayu balok, sedang atapnya dari daun gewang. Di bagian dalam rumah dibagi menjadi dua ruangan yaitu bagian luar diberi nama Sulak, untuk ruang tamu, tempat tidur tamu, dan tempat anak-anak laki-laki dewasa. Pada bagian dalam disebut Nanan, yaitu tempat untuk tidur keluarga dan tempat makan. Sebelum pengaruh agama masuk ke daerah ini masyarakat di sini sudah mempunyai kepercayaan kepada Sang Pencipta, Sang Pengatur, yang biasa mereka sebut dengan Uis Neno, Dewa Langit dan Uis Afu, Dewa Bumi. Banyak ragam upacara dan sesaji yang ditujukan kepada dewa-dewa tersebut untuk meminta berkah kesuburan tanah, hasil panen dan lain-lain. Salah satu contoh adalah upacara Hamis Batar no Hatama Mamaik suatu upacara sebagai tanda rasa syukur dimulainya musim petik jagung.[31]

Berkas:Upacara Hamis Batar.jpg
Upacara Hamis Batar

Adapula Kerajaan Terpenting di Kabupaten Belu adalah Loro Bauho-Fialaran dan Lamaknen; Gereja Tertua adalah Paroki Atapupu, Paroki Lahurus, Paroki Halilulik, Katedral Atambua, dan Katerdal Nualain; Tarian Asli Belu, yakni Likurai, Tebe dan Bidu Kikit; Bahasa Daerah Terpenting yakni Tetun, Bunak, Kemak dan Dawan R.

Tempat Wisata Gunung antara lain Ksadan Takirin, Ksadan Fatulotu, Gunung Lakaan, Fulan Fehan, Air Terjun Sihata Mauhalek, Anin Nawan, Bukit Mandeu, Bukit Lidak, Mata air Lahurus, Mata air Webot Haekesak, Niki Tohe Leten, Kampung Kewar, Air Terjun Weró, Bendungan Rotiklot; Tempat Wisata Pantai antara lain Pasir Putih, Kolam Susuk, dan Teluk Gurita.

Lagu Daerah Terkenal yakni Oras Loro Malirin, Manumutin Torok, Olala, dan Lolon Gol; Hotel Terkenal antara lain Hotel Matahari, Hotel King Star, dan Hotel Timor; dan Makanan Terkenal yakni Ut Moruk, Se'i Babi, Dendeng Sapi, Sambal Tomat Lahurus, Bawang Weluli, Ikan Atapupu, Padi Haekesak, Jagung Bose, Batar Da'an, Tua Mutin, dan roti paung.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Padang Sabana Fulan Fehan, berada di kaki Gunung Lakaan
Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain
Pintu Imigrasi Motaain yang lama (sebelum PLBN)
  • Gunung Tertinggi: Foho Lakaan.
  • Bukit-bukit penting: Lidak, dan Mandeu.
  • Pelabuhan Laut Terpenting: Pelabuhan Atapupu.
  • Bandara Terpenting: A. A. Bere Tallo di Haliwen.
  • Pintu Imigrasi (Pos Lintas Batas Negara) Terpenting: Gerbang Motaain, dan Gerbang Turiskain.

Topografi[sunting | sunting sumber]

Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat dikelompokan atas beberapa kelompok berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Terdapat 2 kecamatan yang ketinggiannya di bawah 500 m dpl, yakni Kakuluk Mesak dan Tasifeto Timur dan 10 kecamatan dengan ketinggian di atas 500m dpl.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Belu berbatasan dengan:

Utara Selat Ombai
Selatan Kabupaten Malaka
Barat Kabupaten TTU
Timur Timor Leste

Klimatologi[sunting | sunting sumber]

Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid), dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,5oC – 33,7o C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,6oC. Temperatur udara tertinggi 37,7oC terjadi pada Bulan November, sedangkan temperatur udara terendah 20,5oC terjadi Bulan Agustus.

Biasanya hujan turun antara Bulan Desember sampai Bulan Maret, sedangkan kemarau berlangsung antara Bulan April sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903 mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm. Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.

Pada tahun 2017, wilayah di Kabupaten Belu memiliki rata-rata curah hujan yang tercatat pada stasiun meteorologi/klimatologi antara 0 – 580 mm. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2016. Berdasarkan jumlah hari hujan dalam setahun, bulan Desember memiliki rata-rata jumlah hari hujan tertinggi yaitu 22 hari hujan dalam satu bulan. Sedangkan bulan yang memiliki rata-rata jumlah hari hujan terendah adalah bulan Mei, Juni, Agustus yaitu 0 hari hujan.[7]

Data iklim Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 26.3
(79.3)
26.0
(78.8)
26.6
(79.9)
27.0
(80.6)
26.8
(80.2)
26.1
(79)
25.7
(78.3)
26.0
(78.8)
26.8
(80.2)
27.7
(81.9)
27.8
(82)
26.8
(80.2)
26.63
(79.93)
Rata-rata harian °C (°F) 21.8
(71.2)
22.4
(72.3)
22.7
(72.9)
22.8
(73)
22.5
(72.5)
21.8
(71.2)
21.1
(70)
21.1
(70)
21.8
(71.2)
22.8
(73)
23.6
(74.5)
23.1
(73.6)
22.29
(72.12)
Rata-rata terendah °C (°F) 19.3
(66.7)
18.9
(66)
18.8
(65.8)
18.6
(65.5)
18.3
(64.9)
17.6
(63.7)
16.6
(61.9)
16.3
(61.3)
16.8
(62.2)
18.0
(64.4)
19.4
(66.9)
19.5
(67.1)
18.18
(64.7)
Presipitasi mm (inci) 288
(11.34)
259
(10.2)
220
(8.66)
129
(5.08)
66
(2.6)
36
(1.42)
28
(1.1)
13
(0.51)
12
(0.47)
51
(2.01)
147
(5.79)
242
(9.53)
1.491
(58,71)
Rata-rata hari hujan 15 13 18 3 0 0 3 0 1 7 13 22 95
Sumber #1: Climate-Data.org (altitude: 800m)[32]
Sumber #2: BPS Kabupaten Belu[7]

Karakteristik Tanah[sunting | sunting sumber]

Catatan Catatan: masih menggunakan data yang lama (dimana Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka masih satu wilayah)

Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.

Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari:

Kedalaman Efektif Tanah

  • 0 – 30 cm seluas 21.191 Ha (8,67%)
  • 30 – 60 cm seluas 28.204 Ha (11,53%)
  • 60 – 90 cm seluas 3.840 Ha (1,57%)
  • 90 cm seluas 191.322 Ha (78,23%)

Tekstur Tanah

  • Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
  • Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
  • Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)

Drainase

  • Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
  • Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
  • Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)

Erositas

  • Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
  • Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Foto Nama Mulai jabatan Akhir jabatan Keterangan
1
Alfonsius Andreas Bere Tallo
1960
1969
2
Drs. Markus Didoek
1969
1977
3
Marsel Adang Da Gomez
1977
1978
4
Drs. Servatius Berek
1978
1982
5
Drs. Jhon S. Letto
1983
1988
6
Letkol Art. Ignasius Sumantri
1988
1993
7
Drs. Servarius M. Pareira, MPH
1993
1998
8
Drs. Marellus Bere
1999
2004
9
Joachim Lopez unoff portrait.jpg Drs. Joachim Lopez
2004
2014
10
Willybrodus Lay.jpg Willybrodus Lay, SH
2016
sekarang

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

  1. Kecamatan Lamaknen Ibukota di Weluli
  2. Kecamatan Lamaknen Selatan Ibukota di Aubulak
  3. Kecamatan Raihat Ibukota di Haekesak
  4. Kecamatan Lasiolat Ibukota di Lahurus
  5. Kecamatan Tasifeto Timur Ibukota di Wedomu
  6. Kecamatan Kota Atambua
  7. Kecamatan Atambua Barat
  8. Kecamatan Atambua Selatan
  9. Kecamatan Kakuluk Mesak Ibukota di Atapupu
  10. Kecamatan Tasifeto Barat Ibukota di Kimbana
  11. Kecamatan Nanaet Dubesi Ibukota di Laktutus
  12. Kecamatan Rai Manuk Ibukota di Mandeu.[7]

Nama Daerah[sunting | sunting sumber]

Nama Lain: Rai Belu, Tasifeto, Fialaran-Lamaknen, Manuaman Lakaan.

Kata "Belu" menurut penuturan para tetua adat bermakna "persahabatan" yang bila diterjemahkan secarah harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti "teman" atau "sobat". Ini merupakan makna simbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para penghuni Belu memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa saja. Namun secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua bagian yaitu Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang masih terasa pengaruhnya.[33]

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Circle frame.svg

10 besar perekonomian Kabupaten Belu (2017)[34]

  Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (22.809%)
  Jasa Pendidikan (15.503%)
  Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (12.975%)
  Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil & Sepeda Motor (11.799%)
  Konstruksi dan Pertukangan (7.705%)
  Jasa Keuangan dan Asuransi (6.054%)
  Transportasi dan Perdagangan (4.939%)
  Informasi dan Komunikasi (4.683%)
  Pertambangan dan Penggalian (3.383%)
  Jasa Lainnya (10.15%)

Perekonomian di Kabupaten Belu berkembang cukup pesat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017, nilai PDB Kabupaten Belu adalah Rp2.657.736,600, naik dari Rp2.511.902,300[34] pada tahun 2016, atau sebanyak 5,292%.

Kegiatan perekonomian di Kabupaten Belu didominasi oleh lapang usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, dengan kontribusi terhadap angka Produk Domestik Bruto Kabupaten Belu sebanyak Rp606.193,500 atau sekitar 22,81% dari jumlah PDB Kabupaten Belu. Jasa pendidikan merupakan lapang usaha dengan kontribusi terhadap PDB kedua tertinggi, sebanyak Rp412.029,600 atau sebanyak 15,50% dari jumlah PDB Kabupaten Belu.[34]

Kegiatan perekonomian juga mendapatkan dorongan yang pesat setelah munculnya restoran bergaya barat, KFC di Atambua Plaza pada November 2015 yang lalu.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kegiatan pariwisata di Kabupaten Belu berkembang pesat sejak hadirnya Jabal Mart (2014), dan KFC (2015). Dinas Pariwisata Kabupaten Belu selalu mencoba memperbaiki dan menambah berbagai objek wisata. Beberapa objek wisata terkenal di kabupaten Belu adalah:

Wisata Alam dan Bahari[sunting | sunting sumber]

  1. Padang Fulan Fehan
    Fulan Fehan merupakan suatu padang sabana yang sangat luas dan berada di kaki Gunung Lakaan, di Kecamatan Lamaknen. Jarak dari pusat kota Atambua ke Fulan Fehan adalah 29,3 km, dan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam (apabila cuaca memungkinkan). Kondisi jalan ke tempat ini juga sudah cukup bagus.
  2. Air Terjun Sihata Mauhalek
    Air terjun ini berada di Kecamatan Lamaknen. Air terjun ini biasa disebut Air Terjun Bidadari karena bentuknya sangatlah indah. Lokasinya juga berdekatan dan searah dengan padang Fulan Fehan. Jarak dari pusat kota Atambua adalah 31,6km
  3. Pantai Pasir Putih Atapupu
    Pantai ini terletak di Kecamatan Kakuluk Mesak, berjarak 29,3km dari pusat Kota Atambua, pantai ini dapat dijangkau dalam waktu kurang dari 45 menit. Pantai ini memiliki fasilitas yang baik dan ramah pengunjung, seperti lopo, Toilet, warung & kios, serta dalam beberapa hari dalam setahun, pemerintah menggelar acara Music on Vacation di tempat ini. (Facebook)
  4. Wisata Mangrove Kolam Susuk
    Tempat wisata ini merupakan salah satu tempat wisata baru di Kabupaten Belu. Tempat wisata ini menawarkan panorama eksotis hutan Mangrove sepanjang kurag lebih 1km. Terdapat pula lopo-lopo dan ragam kios di sekitar obyek wisata ini. Anda juga bisa membeli ikan bandeng yang banyak dijual oleh warga sekitar dengan harga yang amat terjangkau. (Video mengenai tempat ini: YouTube)
  5. Pantai Sukaerlaran
    Pantai ini merupakan saingan Pantai Pasir Putih. Pantai ini menawarkan pemandangan yang lebih alami karena banyak ditumbuhi pepohonan. Pantai ini luas sehingga walaupun banyak pengunjung yang datang, tempat masih akan tersedia. Pantai ini dikelola oleh swasta.

Ada pula beberapa tempat wisata baru yang dikelola oleh swasta, antara lain

  1. Wisata Laloran Buibatak di Tulakadi (Google Maps)
  2. Kolam Pemancingan Senamutu (Facebook)

Wisata Kuliner[sunting | sunting sumber]

Beberapa kuliner yang dapat ditemui di Kabupaten Belu antara lain

  1. Jagung Bose
  2. Daging Se'i
  3. Jagung Bakar

Lambang Daerah[sunting | sunting sumber]

Lambang Kabupaten Belu

Bentuk Lambang[35]

Bentuk Lambang Daerah adalah Perisai bersisi lima mempunyai arti sebagai berikut :

  • Perisai melambangkan alat perlindungan rakyat
  • Sisi lima melambangkan Pancasila sebagai dasar negara
  • Warna dan Isi Lambang adalah Tata warna lambang berwarna Merah, Kuning, Coklat, Hijau, Putih dan Hitam; melambangkan kain tenunan rakyat Kabupaten Belu, yang mempunyai arti:
  • Merah: keberanian
  • Kuning: keagungan
  • Coklat: ketabahan hati
  • Hijau: kemakmuran
  • Putih: kesucian
  • Hitam: ketenangan/keadilan

Arti Lambang[35]

  • Lukisan bintang berwarna kuning emas melambangkan Keagungan Tuhan Yang Maha Esa;
  • Padi dan kapas melambangkan kemakmuran sandang pangan;
  • Padi 20 butir dan kapas 12 biji serta angka 1958 menunjukkan hari, tanggal, dan tahun terbentuknya Kabupaten Belu dalam wilayah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur;
  • Tiber melambangkan alat asli seni tari rakyat (tarian Likurai) yang telah ada serta tumbuh dalam masyarakat Belu sejak dahulu dan berkembang terus hingga sekarang;
  • Kelewang dalam keadaan tersarung terletak di antara warna merah dan Kuning melambangkan perjuangan keberanian, kesungguhan hati dan semangat;
  • Pohon beringin melambangkan persatuan dan tempat rakyat berlindung, terletak di atas tiber dan kelewang;
  • Dibawah Bintang dan di atas Pohon Beringin tertulis dengan kata latin berbunyi “BELU“ yang berarti “SAHABAT“.

Kota Atambua[sunting | sunting sumber]

Lokasi Kota Atambua

Kota Atambua adalah ibukota Kabupaten Belu, yang melingkupi 3 kecamatan:

  1. Atambua
  2. Atambua Barat
  3. Atambua Selatan

Bila Atambua ditingkatkan menjadi Kotamadya maka Ibukota Kabupaten Belu bisa dibangun di Lahurus. Dan jika saja Kabupaten Belu dimekarkan lagi di Belu Bagian Barat, maka bisa dipilih Halilulik sebagai Ibukota Kabupaten Belu Barat (Belu Lorotoban) dan Kabupaten Belu di Lahurus bisa dinamai baru sebagai Kabupaten Belu Timur (Belu Lorosaen).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Atambua - SkyscraperCity". Diakses tanggal 20 Desember 2018. 
  2. ^ "Husar Binan Rai BeluTetuk No Nesak Diak No Kmanek - Blog of Atambua". 
  3. ^ "Atambua Didorong jadi kota festival - IndoPos". Diakses tanggal 20 Desember 2018. 
  4. ^ a b "Keadaan Geografis Kabupaten Belu". Diakses tanggal 20 Desember 2018. 
  5. ^ "Pengantar Ketua Pengadilan Negeri Atambua". Diakses tanggal 2018-12-19. 
  6. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  7. ^ a b c d e f g h i ""Belu Dalam Angka 2018 - BPS Kabupaten Belu". Diakses tanggal 2018-12-19. 
  8. ^ a b c d e "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018. 
  9. ^ Sejarah Kabupaten Belu - Halaman 3 Publikasi BPS Kabupaten Belu. Diakses tanggal 13 Maret 2017
  10. ^ "Manggarai raih peringkat kedua pemberantasan Korupsi setelah Belu". Diakses tanggal 21 Desember 2018. 
  11. ^ a b "Asal Usul Manusia Belu, Timor, dan kepulauannya". Diakses tanggal 20 Desember 2018.  - BeluOan
  12. ^ a b Sejarah Kabupaten Belu - Halaman lv Publikasi BPS Kabupaten Belu. Diakses 12 Maret 2017
  13. ^ a b "Sejarah Kabupaten Belu". Diakses tanggal 20 Desember 2018.  - Pemkab Belu
  14. ^ Sejarah Singkat Rai Belu, 2011:1-2
  15. ^ a b c d e "Bab I: Pendahuluan" (PDF). Diakses tanggal 20 Desember 2018. 
  16. ^ Belu Pemimpin dan Sejarah:Jejak Tapak Dari Masa Ke Masa, 2007:4
  17. ^ a b c d e "Sejarah Singkat Kabupaten Belu". Diakses tanggal 14 Maret 2017. 
  18. ^ Belu Pemimpin dan Sejarah:Jejak Tapak Dari Masa Ke Masa, 2007:7
  19. ^ Belu Pemimpin dan Sejarah:Jejak Tapak Dari Masa Ke Masa, 2007:9
  20. ^ Belu Pemimpin dan Sejarah:Jejak Tapak Dari Masa Ke Masa, 2007:10
  21. ^ Sejarah Singkat Rai Belu, 2011:3
  22. ^ Sejarah Singkat Rai Belu, 2011:3-4
  23. ^ a b c d e f g Sejarah Kabupaten Belu - Halaman lix Publikasi BPS Kabupaten Belu. Diakses 12 Maret 2017
  24. ^ "Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Belu-Malaka berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 - 2010". Diakses tanggal 4 Januari 2019. 
  25. ^ "Jumlah Penduduk Kabupaten Belu 2013" (Static Table). Diakses tanggal 4 Januari 2018.
  26. ^ "Jumlah Penduduk Kabupaten Belu 2014" Halaman 77 buku "Belu Dalam Angka 2015". Diakses tanggal 4 Januari 2018.
  27. ^ "[https://belukab.bps.go.id/statictable/2016/08/15/90/jumlah-penduduk-menurut-jenis-kelamin-dan-kecamatan-di-kabupaten-belu-2015.html Jumlah Penduduk Kabupaten Belu 2015'" (Static Table). Diakses tanggal 4 Januari 2018.
  28. ^ "Jumlah Penduduk Kabupaten Belu 2016" Halaman 66 buku "Belu Dalam Angka 2017". Diakses tanggal 4 Januari 2018.
  29. ^ "Jumlah Penduduk Kabupaten Belu 2017" Halaman 64 buku "Belu Dalam Angka 2018". Diakses tanggal 4 Januari 2018.
  30. ^ a b c Halaman 64 Belu Dalam Angka 2018. Badan Pusat Statistik Kabupaten Belu. ISBN 0215-6962 Periksa nilai: length |isbn= (bantuan). 
  31. ^ a b "Budaya Kabupaten Belu - BLK". Diakses tanggal 20 Desember 2018. 
  32. ^ "Beludua climate: Average Temperature, weather by month, Beludua weather coverages". Climate-Data.org. 
  33. ^ Sejarah Kabupaten Belu
  34. ^ a b c "PDRB Kabupaten Belu menurut Lapang Usaha, 2015-2017 - BPS Kabupaten Belu". Diakses tanggal 21 Desember 2018. 
  35. ^ a b "Lambang Daerah Kabupaten Belu". Diakses tanggal 20 Desember 2018.  - Situs Resmi Pemkab Belu

Pranala luar[sunting | sunting sumber]