Kabupaten Ngada

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Ngada
Lambang Kabupaten Ngada.jpg
Lambang Kabupaten Ngada
Moto: -


Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada.svg
Peta lokasi Kabupaten Ngada di Nusa Tenggara Timur
Koordinat: -
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Dasar hukum UUD 1945
Tanggal peresmian -
Pemerintahan
 - Bupati Marianus Sae
 - DAU Rp. 350.219.646.000.-(2013)[1]
Luas 1.621 km²
Populasi
 - Total 142,254 jiwa 2010
 - Kepadatan 88 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0384
Pembagian administratif
 - Kecamatan 9 Kecamatan
 - Kelurahan -
Simbol khas daerah
Situs web http://www.ngadakab.go.id/

Kabupaten Ngada adalah sebuah kabupaten di bagian tengah pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten adalah Bajawa. Luas wilayah 1.621 km² dengan jumlah penduduk 142.254 jiwa.

Kabupaten Ngada memiliki tiga suku besar, yaitu Suku Nagekeo, Suku Bajawa dan Suku Riung. Masing-masing suku ini mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri yang masih dipertahankan sampai saat ini, seperti rumah adat, bahasa yang berbeda satu sama lainnya, tarian, pakaian adat dan lain-lain.

Bahasa dan kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Bahasa utama di daerah Ngada adalah bahasa Ngada.

Prajurit Ngada pada tahun 1910-an

Dalam kebudayaan Ngada, rumah adat main peranan penting dalam pola kemasyarakatan. Seorang Ngada adalah bagian dari suatu rumah adat, berarti dari satu marga. Lambang marga berupa ukiran.[2]

Daerah Ngada dimasukkan ke dalam World Heritage Tentative List UNESCO tanggal 19 Oktober 1995 dalam kategori "Kebudayaan.[3]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Daerah ini sangat terkenal di kalangan wisatawan asing yang tertarik dengan kebudayaan.[2]

Dua desa yang paling banyak dikunjungi di Ngada adalah Bena dan Wogo, di mana terdapat rumah adat dan peninggalan megalithik,air terjun ogi.[3]

Di kabupaten Ngada juga terdapat Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung. Di situ terdapat antara lain mawar laut, aneka jenis terumbu karang, Pulau Pasir Putih, kelelawar bakau di pulau Ontoloe, Mbou (Varanus riungnensis) yaitu Kadal Raksasa yang merupakan Binatang Purbakala, masih hidup secara alamiah di habitatnya hingga saat ini. Selain itu adalah permandian air panas alam Mengeruda, Danau Wawomudha yang air kawahnya berwarna merah, Air terjun Ogi, Air Terjun Wae Roa, eko wisata Lekolodo dan Pantai pasir putih Waewaru. Objek Wisata Budaya yang sangat terkenal ialah Kampung Tradisional Bena, Bela, Gurusina serta Kampung Tua dan Batu Megalith di Wogo. Selain itu banyak sekali terdapat masing banyak lagi

Kabupaten Ngada memiliki wilayah perairan/ laut yang sangat potensial baik di pantai utara yaitu Laut Flores (Kecamatan Riung), maupun pantai laut selatan yaitu Laut Sawu masing-masing Kecamatan Golewa Selatan dan Kecamatan Aimere. Kekayaan laut yang utama yaitu ikan, Lobster, rumput laut dan mutiara. Sumber daya perikanan dan kelautan di Kabupaten gada memiliki garis pantai sepanjang 219 km dengan rincian: Pantai utara 105 Km, pantai selatan 114 Km. Sesuai PP nomor 25 tahun 1999, luas laut yang menjadi kewenangan Kabupaten hanya mencapai 4 mil laut.

Luas wilayah perairan Laut sebesar 344.363 Ha dengan potensi lestari sebanyak 10.334,82 Ton/tahun yang terdiri dan potensi ikan Pelagis sebanyak 6.717,63 Ton dan ikan Demersal sebanyak 3.617,18 ton. Sampai dengan Tahun 2000 tingkat pemanfaatannya baru mencapai 55,51 ton dan sisanya dan perairan umum serta budidaya, dengan jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) sebanyak 1.101 Rumah Tangga yang terdiri dan 989 Rumah Tangga Perikanan Nelayan dan 131 Rumah Tangga Perikanan Budidaya. Dan jumlah tersebut yang berstatus sebagai Nelayan Penuh sebanyak 265 orang dan176 orang sebagai Nelayan Sambilan.

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Jenis potensi pertambangan, lokasi dan jumlah kandungannya masing-masing, terinci sebagai berikut :

Besi/ Mangan lokasi : Mbong Milong- Riung 1.359 Ha, Emas Lokasi : Rawangkalo, Wangka, Lindi 1.177.100 Ha (5.789 ton),Perak, Belerang Lokasi: Mataloko 30 Ha, Tembaga 33.088 %, Pasir Besi 65 Ha, Pasir dan Batu Lokasi :Naru, Aimere 908.209.977 M3, Tanah Liat Lokasi: Bomari-Langa 30.512.619 M3, Marmer Lokasi:Sambinasi, Rawangkalo, Wangka 15.452.336 M3, Granodiort 339.000.000 M3, Zeolit 266.721.653 M3, Batu Permata / 1/2, Permata 1.00.000 M3

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ngada memiliki potensi perkebunan yang cukup potensial untuk dikembangkan. Beberapa jenis komoditi andalan yang dikembangkan di Kabupaten Ngada adalah : Kopi, Kakao, Jambu Mete, Kemiri, Kelapa, Cengkeh, Vanili dan Merica. Luas lahan kering potensial : 98.100 ha, fungsional seluas 47.943 ha sedangkan sisanya adalah sebesar 50.157 ha belum dimanfaatkan

Daftar Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Ngada dibagi menjadi 12 kecamatan, yaitu:

  1. Aimere
  2. Bajawa
  3. Golewa
  4. Riung Barat
  5. Riung
  6. Soa
  7. Wolomeze
  8. Bajawa Utara
  9. Jerebuu
  10. Inerie
  11. Golewa Barat
  12. Golewa Selatan

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

=== Kabupaten Riung

Grand design Kabupaten Riung dimulai dari sejarah hak ulayat atas sumber daya alam Riung sejak aswal pembentukan Kabupaten Ngada yang terdiri dari 3 (tiga) Suku dan Swapraja yakni Suku Riung dengan Swapraja Riung, Suku Ngadha dengan Swapraja Ngadha dan Suku Nagekeo dengan Swapraja Nagekeo. Suku Nagekeo telah dimekarkan menjadi Kabupaten Nagekeo dengan wilayah eks Swapraja Nagekeo. Suku Ngadha dan Riung sekarang masih bergabung menjadi Kabupaten Ngada. Rencana Pemekaran Kabupaten Ngada menjadi Kabupaten Ngada dan Kabupaten Riung sudah dimulai sejak kepemimpinan Bupati Ngada Marianus Sae (2010 - 2019). Suku Riung dengan wilayah eks Swapraja Riung sedang dipersiapkan Bupati Ngada dan DPRD Ngada untuk dimekarkan menjadi Kabupaten Riung. Sejauh ini, langkah yang sedang dilaksanakan adalah menata desa dan kelurahan serta kecamatan agar memenuhi persyaratan administratif pembentukan daerah otonom baru sesuai ketentuan yang berlaku yakni jumlah desa dan kelurahan,jumlah kecamatan, jumlah penduduk,luas wilayah, potensi ekonomi dan pendapatan asli daerah yang diyakini dapat membiayai proses politik dan pemerintahan demi mempercepat pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat secara cepat, tepat, adil, merata, makmur, damai, aman, bahagia dan sejahtera.
Rencana Wilayah Kabupaten Riung, idealnya merupakan gabungan dari sebagian kecamatan dari Kabupaten Manggarai Timur yang sejak tahun 1970-an bermasalah dengan perebutan batas antar Kabupaten dan hingga kini belum ada penyelesaiannya dan beberapa desa dari kecamatan Aesesa di Kabupaten Nagekeo. Tanah Ulayat Riung membentang sampai di desa-desa perbatasan Kabupaten Negekeo dan Kecamatan Riung. Dengan demikian, bom waktu masalah sengketa perbatasan antar Kabupaten Ngada dengan Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Nagekeo sejak dini bisa diselesaikan melalui pembentukan daerah otonom baru Kabupaten Riung. Masyarakat yang ada di perbatasan akan hidup damai, aman, sejahtera dan dapat mengelola semua sumber daya yang ada dalam satu wilayah administrasi pemerintahan yang bebas dari permasalahan dan konflik horisontal. Pelanggaran HAM yang terjadi sejak tahun 1970-an itu tidak akan terjadi lagi baik di Perbatasan dengan Manggarai Timur mulai dari Rio Minsi Tana' Bakit di Selatan Kecamatan Riung Barat sampai Sangan Sipar di Barat Daya Kecamatan Riung, dari Dusun Benteng Jawa dan   kawasan Kurubhoko di Kecamatan Riung Selatan (Wolomeze) dan Kecamatan Soa sampai Ulu Ka'o Kecamatan Bajawa Utara. Hanya melalui pemekaran Kabupaten Ngada menjadi Kabupaten Ngada dan Kabupaten Riung dengan wilayah sesuai batas eks Swapraja dan ulayat suku Riung maka berbagai persoalan yang terpendam sekian dekade lambat laun akan sirna dan kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat.
Kecamatan yang mungkin bergabung dengan kabupaten ini adalah :
  1. Riung
  2. Riung Barat
  3. Wolomeze

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

Dengan jumlah penduduk mencapai 142.254 jiwa yang hidup pada umumnya adalah petani, kabupaten Ngada merupakan salah satu kabupaten di Flores, Nusa Tenggara Timur yang memiliki adat budaya yang sangat unik karena pada kabupaten ini setiap kecamatan memiliki adat yang berbeda-beda antara satu dengan lainya, contohnya dalam hal berbahasa antara kecamatan satu dan lainya mempunyai bahasa yang berbeda-beda. Selain itu Kabupaten Ngada itu sendiri memiliki objek wisata alam dan budaya yang sangat menarik, yaitu Taman Laut Tujuh Belas Pulau di Kecamatan Riung yang dapat menarik bagi wisatawan asing maupun lokal.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ a b Phillimore, J. & Lisa Goodson (2004) p 293
  3. ^ a b Ngada traditional house and megalithic complex - UNESCO World Heritage Centre

Perpustakaan[sunting | sunting sumber]