Kabupaten Ngada

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kabupaten Ngada
Lambang Kabupaten Ngada.jpg
Lambang Kabupaten Ngada


Moto: -



Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada.svg
Peta lokasi Kabupaten Ngada di Nusa Tenggara Timur
Koordinat: -
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Dasar hukum UUD 1945
Tanggal peresmian -
Pemerintahan
-Bupati Marianus Sae
APBD
-DAU Rp. 350.219.646.000.-(2013)[1]
Luas 1.621 km²
Populasi
-Total 162,299 jiwa (2014)[2]
-Kepadatan 96.29 jiwa/km2
Demografi
-Agama Katolik (90.75%)
Islam (6.87%)
Kristen Protestan (2.23%)
Hindu 0.15%[3]
-Kode area telepon 0384
Pembagian administratif
-Kecamatan 12 Kecamatan
-Kelurahan -
Simbol khas daerah
Situs web http://www.ngadakab.go.id/

Kabupaten Ngada adalah sebuah kabupaten di bagian tengah pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten adalah Bajawa. Luas wilayah 1.621 km² dengan jumlah penduduk 162.299 jiwa. Kabupaten Ngada memiliki tiga suku besar, yaitu Suku Nagekeo, Suku Bajawa dan Suku Riung.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Laut Flores
Selatan Laut Sawu
Barat Kabupaten Manggarai Timur
Timur Kabupaten Nagekeo

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Bupati[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati Ngada

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ngada

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Ngada dibagi menjadi 12 kecamatan, yaitu:

  1. Aimere
  2. Bajawa
  3. Bajawa Utara
  4. Golewa
  5. Golewa Barat
  6. Golewa Selatan
  7. Inerie
  8. Jerebuu
  9. Riung
  10. Riung Barat
  11. Soa
  12. Wolomeze

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku dan Bahasa[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ngada memiliki tiga suku besar, yaitu Suku Nagekeo, Suku Bajawa dan Suku Riung. Masing-masing suku ini mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri yang masih dipertahankan sampai saat ini, seperti rumah adat, bahasa yang berbeda satu sama lainnya, tarian, pakaian adat dan lain-lain. Dalam kebudayaan Ngada, rumah adat main peranan penting dalam pola kemasyarakatan. Seorang Ngada adalah bagian dari suatu rumah adat, berarti dari satu marga. Lambang marga berupa ukiran.[4] Daerah Ngada dimasukkan ke dalam World Heritage Tentative List UNESCO tanggal 19 Oktober 1995 dalam kategori "Kebudayaan.[5]Bahasa utama di daerah Ngada adalah bahasa Ngada.

Prajurit Ngada pada tahun 1910-an

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama di Kabupaten Ngada (2016)[6]
Agama persen
Katolik
  
90.75%
Islam
  
6.87%
Kristen Protestan
  
2.23%
Hindu
  
0.15%

Sebagian besar penduduk Kabupaten Ngada adalah beragama Kristen sebesar 92.98% dimana mayoritas adalah Katolik 90.75% dan Kristen Protestan 2.23%. Selebihnya adalah menganut agama Islam 6.87% , dan Hindu 0,15%.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kabupaten Ngada pada tahun 2014 sebanyak 162.299 Jiwa terdiri dari 80.090 Laki-laki dan 82.209 Perempuan. Jumlah penduduk terbanyak dan terpadat berada di Kecamatan Bajawa dan jumlah penduduk paling sedikit berada di Kecamatan Wolomeze. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terjarang berada di Kecamatan Riung Barat.

Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Ngada Tahun 2014[7]
Nama Kecamatan Luas Wilayah (km²) Laki-laki {jiwa) Perempuan (jiwa) Jumlah
Kecamatan Aimere 92,50 5.037 5.077 10.114 Jiwa
Kecamatan Bejawa 133,30 19.646 20.062 39.708 Jiwa
Kecamatan Bejawa Utara 167,38 4.656 4.874 9.530 Jiwa
Kecamatan Golewa 78,13 9.319 9.513 18.832 Jiwa
Kecamatan Golewa Barat 74,59 5.545 5.664 11.209 Jiwa
Kecamatan Golewa Selatan 98,00 5.791 6.106 11.897 Jiwa
Kecamatan Inerie 77,36 4.024 4.309 8.333 Jiwa
Kecamatan Jerebuu 64,90 3.527 3.889 7.416 Jiwa
Kecamatan Riung 327,94 8.116 8.259 16.375 Jiwa
Kecamatan Riung Barat 312,49 4.712 4.502 9.214 Jiwa
Kecamatan Soe 91,14 6.567 6.800 13.367 Jiwa
Kecamatan Wolomeze 103,19 3.150 3.154 6.304 Jiwa

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Riung[sunting | sunting sumber]

Grand design Kabupaten Riung dimulai dari sejarah hak ulayat atas sumber daya alam Riung sejak aswal pembentukan Kabupaten Ngada yang terdiri dari 3 (tiga) Suku dan Swapraja yakni Suku Riung dengan Swapraja Riung, Suku Ngadha dengan Swapraja Ngadha dan Suku Nagekeo dengan Swapraja Nagekeo. Suku Nagekeo telah dimekarkan menjadi Kabupaten Nagekeo dengan wilayah eks Swapraja Nagekeo. Suku Ngadha dan Riung sekarang masih bergabung menjadi Kabupaten Ngada. Rencana Pemekaran Kabupaten Ngada menjadi Kabupaten Ngada dan Kabupaten Riung sudah dimulai sejak kepemimpinan Bupati Ngada Marianus Sae (2010 - 2019).

Suku Riung dengan wilayah eks Swapraja Riung sedang dipersiapkan Bupati Ngada dan DPRD Ngada untuk dimekarkan menjadi Kabupaten Riung. Sejauh ini, langkah yang sedang dilaksanakan adalah menata desa dan kelurahan serta kecamatan agar memenuhi persyaratan administratif pembentukan daerah otonom baru sesuai ketentuan yang berlaku yakni jumlah desa dan kelurahan,jumlah kecamatan, jumlah penduduk,luas wilayah, potensi ekonomi dan pendapatan asli daerah yang diyakini dapat membiayai proses politik dan pemerintahan demi mempercepat pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat secara cepat, tepat, adil, merata, makmur, damai, aman, bahagia dan sejahtera.

Rencana Wilayah Kabupaten Riung, idealnya merupakan gabungan dari sebagian kecamatan dari Kabupaten Manggarai Timur yang sejak tahun 1970-an bermasalah dengan perebutan batas antar Kabupaten dan hingga kini belum ada penyelesaiannya dan beberapa desa dari kecamatan Aesesa di Kabupaten Nagekeo. Tanah Ulayat Riung membentang sampai di desa-desa perbatasan Kabupaten Negekeo dan Kecamatan Riung. Dengan demikian, bom waktu masalah sengketa perbatasan antar Kabupaten Ngada dengan Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Nagekeo sejak dini bisa diselesaikan melalui pembentukan daerah otonom baru Kabupaten Riung.

Masyarakat yang ada di perbatasan akan hidup damai, aman, sejahtera dan dapat mengelola semua sumber daya yang ada dalam satu wilayah administrasi pemerintahan yang bebas dari permasalahan dan konflik horisontal. Pelanggaran HAM yang terjadi sejak tahun 1970-an itu tidak akan terjadi lagi baik di Perbatasan dengan Manggarai Timur mulai dari Rio Minsi Tana' Bakit di Selatan Kecamatan Riung Barat sampai Sangan Sipar di Barat Daya Kecamatan Riung, dari Dusun Benteng Jawa dan kawasan Kurubhoko di Kecamatan Riung Selatan (Wolomeze) dan Kecamatan Soa sampai Ulu Ka'o Kecamatan Bajawa Utara. Hanya melalui pemekaran Kabupaten Ngada menjadi Kabupaten Ngada dan Kabupaten Riung dengan wilayah sesuai batas eks Swapraja dan ulayat suku Riung maka berbagai persoalan yang terpendam sekian dekade lambat laun akan sirna dan kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat.

Kecamatan yang mungkin bergabung dengan kabupaten ini adalah :

  1. Riung
  2. Riung Barat
  3. Wolomeze

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Wisata budaya[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ngada sangat terkenal di kalangan wisatawan asing yang tertarik dengan kebudayaan.[4] Beberapa kampung adat yang paling banyak dikunjungi di Kabupaten Ngada adalah:

  1. Kampung Bena di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu
  2. Kampung Wogo di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, di mana terdapat rumah adat dan peninggalan megalithik[5]
  3. Kampung Bela di Desa Beja, Kecamatan Bajawa
  4. Kampung Gurusina di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebuu
  5. Kampung Belaraghi di Desa Keligejo, Kecamatan Aimere

Wisata alam[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ngada memiliki banyak objek wisata dan potensi wisata alam yang lengkap mulai dari pantai, danau, air terjun, bukit, gunung hingga pemandian air panas. Berikut sejumlah objek wisata dan potensi wisata alam di Kabupaten Ngada:

  1. Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung: Di tempat ini terdapat antara lain mawar laut, aneka jenis terumbu karang, Pulau Pasir Putih, kelelawar bakau di pulau Ontoloe, Mbou (Varanus riungnensis) yaitu Kadal Raksasa yang merupakan Binatang Purbakala, masih hidup secara alamiah di habitatnya hingga saat ini.
  2. Air terjun Ogi
  3. Air terjun Wae Roa
  4. Air terjun Wae Pua
  5. Air terjun Wae Waru
  6. Air terjun Wae Niba
  7. Air terjun Wae Laja
  8. Air terjun Soso
  9. Pantai Waewaru
  10. Pantai Enabhara
  11. Pantai Sewowoto
  12. Gunung Inerie
  13. Bukit Wolobobo
  14. Permandian Air Panas Mengeruda
  15. Danau Wawomudha
  16. Ekowisata Lekolodo

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ngada memiliki wilayah perairan/ laut yang sangat potensial baik di pantai utara yaitu Laut Flores (Kecamatan Riung), maupun pantai laut selatan yaitu Laut Sawu masing-masing Kecamatan Golewa Selatan dan Kecamatan Aimere. Kekayaan laut yang utama yaitu ikan, Lobster, rumput laut dan mutiara. Sumber daya perikanan dan kelautan di Kabupaten gada memiliki garis pantai sepanjang 219 km dengan rincian: Pantai utara 105 Km, pantai selatan 114 Km. Sesuai PP nomor 25 tahun 1999, luas laut yang menjadi kewenangan Kabupaten hanya mencapai 4 mil laut.

Luas wilayah perairan Laut sebesar 344.363 Ha dengan potensi lestari sebanyak 10.334,82 Ton/tahun yang terdiri dan potensi ikan Pelagis sebanyak 6.717,63 Ton dan ikan Demersal sebanyak 3.617,18 ton. Sampai dengan Tahun 2000 tingkat pemanfaatannya baru mencapai 55,51 ton dan sisanya dan perairan umum serta budidaya, dengan jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) sebanyak 1.101 Rumah Tangga yang terdiri dan 989 Rumah Tangga Perikanan Nelayan dan 131 Rumah Tangga Perikanan Budidaya. Dan jumlah tersebut yang berstatus sebagai Nelayan Penuh sebanyak 265 orang dan176 orang sebagai Nelayan Sambilan.

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Jenis potensi pertambangan, lokasi dan jumlah kandungannya masing-masing, terinci sebagai berikut :

Besi/ Mangan lokasi : Mbong Milong- Riung 1.359 Ha, Emas Lokasi : Rawangkalo, Wangka, Lindi 1.177.100 Ha (5.789 ton),Perak, Belerang Lokasi:Mataloko 30 Ha, Tembaga 33.088 %, Pasir Besi 65 Ha, Pasir dan Batu Lokasi :Naru, Aimere 908.209.977 M3, Tanah Liat Lokasi:Bomari-Langa 30.512.619 M3, Marmer Lokasi:Sambinasi, Rawangkalo, Wangka 15.452.336 M3, Granodiort 339.000.000 M3, Zeolit 266.721.653 M3, Batu Permata / 1/2, Permata 1.00.000 M3

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Ngada memiliki potensi perkebunan yang cukup potensial untuk dikembangkan. Beberapa jenis komoditi andalan yang dikembangkan di Kabupaten Ngada adalah : Kopi, Kakao, Jambu Mete, Kemiri, Kelapa, Cengkeh, Vanili dan Merica. Luas lahan kering potensial : 98.100 ha, fungsional seluas 47.943 ha sedangkan sisanya adalah sebesar 50.157 ha belum dimanfaatkan

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ "Jumlah Penduduk Kabupaten Ngada Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin, 2014". BPS Kabupaten Ngada. Diakses tanggal 20 Maret 2018. 
  3. ^ "Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2017" (PDF). BPS Nusa Tenggara Timur. Diakses tanggal 2 Desember 2017. 
  4. ^ a b Phillimore, J. & Lisa Goodson (2004) p 293
  5. ^ a b Ngada traditional house and megalithic complex - UNESCO World Heritage Centre
  6. ^ "Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2017" (PDF). BPS Nusa Tenggara Timur. Diakses tanggal 2 Desember 2017. 
  7. ^ Jumlah Penduduk Kabupaten Ngada Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin, 2014

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]