Kota Lama Semarang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kota Lama Semarang.
Keindahan Kota Lama pada saat liburan

Kota Lama Semarang (bahasa Jawa: ꦏꦸꦛ​ꦭꦩ​ꦱꦼꦩꦫꦁ, translit. Kutha Lama Semarang) adalah suatu kawasan di Semarang yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20 . Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijhoek. Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai: Heeren Straat. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut De Zuider Por.

Salah satu sudut Kota Lama Semarang.

Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan "Little Netherland". Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.[1][2][3]

Seperti kota-kota lainnya yang berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda, dibangun pula benteng sebagai pusat militer. Benteng ini berbentuk segi lima dan pertama kali dibangun di sisi barat kota lama Semarang saat ini. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberinama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten. Pemerintah Belanda memindahkan permukiman Tionghoa pada tahun 1731 di dekat permukiman Belanda, untuk memudahkan penga- wasan terhadap segala aktivitas orang Tionghoa. Oleh sebab itu, Benteng tidak hanya sebagai pusat militer, tetapi juga sebagai menara pengawas bagi segala aktivitas kegiatan orang Tionghoa.

Kota Lama menjadi salah satu ikon primadona bagi warga Kota Semarang sampai Mancanegara turut datang ke Kota Lama ini. Rencananya Kota Lama Semarang akan diajukan oleh Situs Warisan Dunia UNESCO.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Kota Lama Semarang Lebih Dari Destinasi 'Selfie'". gaya hidup. Diakses tanggal 2020-01-26. 
  2. ^ Times, I. D. N.; Purwoko, Nugroho Adi. "9 Spot Foto Paling Instagramable di Kota Lama Semarang". IDN Times. Diakses tanggal 2020-01-26. 
  3. ^ Rudi (2019-04-29). "Kota Lama Semarang, Kapsul Waktu Di Tengah Kota Semarang". NativeIndonesia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-26. 

Lihat juga[sunting | sunting sumber]