Lompat ke isi

Kota Tua Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bekas Stadhuis (Balai Kota) Batavia, kantor Gubernur Jenderal VOC. Bangunan ini sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).

Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

Peta Batavia dengan bentengnya (Kasteel) pada tahun 1667
Peta Batavia tahun 1740. Wilayah Batavia di dalam dinding kota serta paritnya dan Pelabuhan Sunda Kelapa di kiri (utara) peta membentuk Kota Tua Jakarta.

Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal.[1] Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.

Tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekret yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota — atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.

Meski dekret Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekret ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.[2]

Tempat yang sudah dihancurkan

[sunting | sunting sumber]

Dalam pengembangan daerah Jakarta, beberapa bangunan atau tempat yang berada di daerah kota Tua Jakarta dihancurkan dengan alasan tertentu. Beberapa tempat tersebut adalah:

  • Benteng Batavia dihancurkan antara 1890–1910, beberapa material digunakan untuk pembangunan Istana Daendels (sekarang Departemen Keuangan Nasional)
  • Gerbang Amsterdam (lokasinya berada dipertigaan Jalan Cengkih, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur. Dihancurkan untuk memperlebar akses jalan) dihancurkan pada tahun 1950an untuk pelebaran jalan.
  • Jalur Trem Batavia (Jalur ini pernah ada di kota Batavia, tetapi sekarang sudah ditimbun dengan aspal. Karena Presiden Soekarno menganggap Trem Batavia yang membuat macet)

Beberapa bangunan berada dalam kondisi mengenaskan kebanyakan akibat kepemilikan bangunan yang tidak jelas.

Tempat menarik dan bersejarah

[sunting | sunting sumber]
Museum Wayang di Jakarta
Jembatan Kota Intan

Di kawasan Kota Tua Jakarta terdapat museum Museum Bank Mandiri,[3] Museum Bank Indonesia,[4] Museum Fatahillah,[5] Museum Seni Rupa dan Keramik,[6] Museum Wayang,[7] dan Museum Bahari.[8] Beberapa museum di kawasan Kota Tua Jakarta dalam kondisi yang buruk.[butuh rujukan] Beberapa di antaranya ialah Museum Fatahillah, Museum Bahari, dan Museum Bank Indonesia.

Saat ini, banyak bangunan dan arsitektur bersejarah yang memburuk kondisinya[9]

Tetapi, masih ada usaha perbaikan Kota Tua, khususnya dari berbagai organisasi nirlaba, institusi swasta, dan pemerintah kota[10] yang telah bekerja sama untuk mengembalikan warisan Kota Tua Jakarta. Tahun 2007, beberapa jalan di sekitar Lapangan Fatahillah seperti Jalan Pintu Besar dan Jalan Pos Kota, ditutup sebagai tahap pertama perbaikan.

Angkutan umum yang terhubung

[sunting | sunting sumber]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. Kota Tua Jakarta booklet, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
  2. 75% of Old Town Crumbling -- No Incentive from the Government, Kompas, March 6, 2006
  3. Hanum, Nadia (27 Maret 2025). "Harga Tiket Masuk 2025 dan Cara ke Museum Bank Mandiri di Kota Tua". Jawa Pos. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
  4. Sukmasari, Ni Made (6 Juli 2024). "Jalan-jalan ke Museum Bank Indonesia, Ini Sejarah Museum di Jalan Pintu Besar Jakarta Barat". Tempo.co. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
  5. Administrator (21 Oktober 2022). "Museum Sejarah Jakarta". Enjoy Jakarta. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
  6. Museum Seni Rupa dan Keramik. "Museum Seni Rupa dan Keramik". Mitra Museum Jakarta. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
  7. Setiawan, Anton (9 Juli 2024). "Mengapa Museum Wayang Jakarta Jadi Destinasi Wisata Wajib?". Indonesia.go.id. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
  8. Ilham, Rayra, dan Fitri (3 Mei 2024). "Mariteamz Journey: Membuka Pintu Sejarah Maritim di Museum Bahari Jakarta". Media Maritim Muda. Diakses tanggal 3 Juni 2025. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  9. Jakarta's Old Town sees hope for revival[pranala nonaktif permanen], IOL
  10. Old Town Revitalization Becomes a Priority for Provincial Gov't of DKI Jakarta, Kompas, June 10, 2006