Kabupaten Cianjur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Cianjur beralih ke halaman ini. Untuk kota yang bernama sama, lihat Cianjur (kota). Untuk kegunaan lain, lihat Cianjur (disambiguasi).
Kabupaten Cianjur
ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔ᮪ᮏᮥᮁ
Lambang Kabupaten Cianjur
Lambang Kabupaten Cianjur
ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔ᮪ᮏᮥᮁ


Moto: Cianjur Bersemi (Bersih, Sehat dan Memikat)
Semboyan : "Sugih Mukti" ᮞᮥᮌᮤᮂ ᮙᮥᮊ᮪ᮒᮤ



Locator kabupaten cianjur.png
Peta lokasi Kabupaten Cianjur
ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔ᮪ᮏᮥᮁ di Jawa Barat
Koordinat:
Provinsi Jawa Barat
Ibu kota Kota Cianjur
Pemerintahan
-Bupati Drs. H. Irvan Rivano Muchtar, S.Ip, SH, M.Si
APBD
-DAU Rp. 1.305.617.257.000.-(2013)[1]
Luas 3.432,96 km2
Populasi
-Total 2.149.121 jiwa (2007)[2]
-Kepadatan 626,03 jiwa/km2
Demografi
-Bahasa Sunda, Indonesia
-Kode area telepon 0263
Pembagian administratif
-Kecamatan 32
-Kelurahan 348
Simbol khas daerah
Situs web http://www.cianjurkab.go.id/

Kabupaten Cianjur (aksara Sunda: ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔ᮪ᮏᮥᮁ, Latin: Kabupaten Cianjur) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya terletak di kecamatan Cianjur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta di Utara , Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Garut di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Sukabumi di barat.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Topografi[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar wilayah Cianjur adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit.

Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat. Keadaan itu ditunjang dengan banyaknya sungai besar dan kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya pengairan tanaman pertanian. Sungai terpanjang di Cianjur adalah Sungai Cibuni, yang bermuara di Samudra Hindia.

Dari luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 hektar, pemanfaatannya meliputi 83.034 Ha (23,71 %) berupa hutan produktif dan konservasi, 58,101 Ha (16,59 %) berupa tanah pertanian lahan basah, 97.227 Ha (27,76 %) berupa lahan pertanian kering dan tegalan, 57.735 Ha (16,49 %) berupa tanah perkebunan, 3.500 Ha (0,10 %) berupa tanah dan penggembalaan / pekarangan, 1.239 Ha (0,035 %) berupa tambak / kolam, 25.261 Ha (7,20 %) berupa pemukiman / pekarangan dan 22.483 Ha (6.42 %) berupa penggunaan lain-lain.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, dengan membawa 100 cacah (rakyat) ditugaskan untuk membuka wilayah baru yang bernama Cikundul. R. Djajasasana kemudian berhasil menahan serangan Banten dalam mempertahankan wilayahnya sehingga dia dianugerahi gelar panglima (Wira Tanu). Sehingga dia akhirnya dikenal dengan gelar Raden Aria Wira Tanu

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).[3]

Regent Cianjur dan isterinya naik mobil di depan kediaman mereka pada tahun 1920-an

Filosofi[sunting | sunting sumber]

Cianjur memiliki filosofi yakni NGAOS, MAMAOS dan MAEN PO yang mengingatkan pada kita semua tentang 3 (tiga) aspek keparipurnaan hidup.

  1. NGAOS adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagamaan. Citra sebagai daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir sekitar tahun 1677 di mana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam. Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dan kyai sehingga mendapat julukan KOTA SANTRI. Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan perjuangan kemerdekaan pada masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren. Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai sebelum berangkat ke medan perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya diri berangkat ke medan juang setelah mendapat restu para kyai.
  2. MAMAOS adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi dalem tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862. Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.
  3. Sedangkan MAEN PO adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Pencipta dan penyebar maenpo ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).

Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa keber-agama-an, kebudayaan dan kerja keras. Dengan keber-agama-an sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup. Dengan kerja keras sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan. Liliwatan, tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat. Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan di dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Foto Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Keterangan
1. R.A-Wiradatanu-I.jpg R.A. Wira Tanu I 1677 1691 Dalem mandiri tanpa diangkat oleh sultan, raja atau pemerintahan lain
2. - R.A. Wira Tanu II 1691 1707 Dalem mandiri, tetapi kemudian diakui regent oleh VOC
3. - R.A. Wira Tanu III 1707 1727 Mengajukan gelar Pangeran Aria Adipati Amangkurat di Datar ke VOC
4. Wiratanudatariv.png R.A. Wira Tanu Datar IV 1727 1761 Wira Tanu pertama bergelar Adipati, dikabulkannya gelar Datar, yaitu gelar yang diminta oleh pendahulunya
5. - R.A. Wira Tanu Datar V 1761 1776  
6. - R.A. Wira Tanu Datar VI 1776 1813 Bupati Cianjur terakhir bergelar Wira Tanu Datar, Regent terakhir VOC. Kepatihan Sukabumi terbentuk pada masa pemerintahannya
7. - R.A.A Prawiradireja I 1813 1833 Keponakan Wira Tanu Datar VI, cucu Wira Tanu Datar V, Regent pertama Hindia Belanda
8. - R. Tumenggung Wiranagara 1833 1834  
9. Kusumahningrat.jpg R.A.A. Kusumahningrat 1834 1862 Sering disebut Dalem Pancaniti. Pencipta seni mamaos (Cianjuran)
10. Prawiradireja ii.jpg R.A.A. Prawiradireja II 1862 1910  
11. - R. Demang Natakusumah 1910 1912  
12. Wiranatakusumah V.jpg R.A.A. Wiranatakusumah 1912 1920 Lebih dikenal sebagai Bupati Bandung dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Pertama
13. - R.A.A. Suriadiningrat 1920 1932 Pada masa pemerintahannya terbentuk Kabupaten Sukabumi sebagai Kabupaten tersendiri yang terpisah dari Kabupaten Cianjur
14. - R. Sunarya 1932 1934  
15. Surianataatmaja.jpg R.A.A. Suria Nata Atmadja 1934 1943 Regent terakhir Hindia Belanda. Bupati Cianjur terakhir keturunan Wira Tanu I
16. - R. Adiwikarta 1943 1945  
17. - R. Yasin Partadireja 1945 1945 Bupati pertama masa kemerdekaan
18. - R. Iyok Muhammad Sirodj 1945 1946  
19. - R. Abas Wilagasomantri 1946 1948  
20. - R. Ateng Sanusi Natawiyoga 1948 1950  
21. Ahmad suriadikusumah.jpg R. Ahmad Suriadikusumah 1950 1952  
22. Akhyad penna.jpg R. Akhyad Penna 1952 1956  
23. - R. Holland Sukmadiningrat 1956 1957  
24. Muryani nataatmaja.jpg R. Muryani Nataatmaja 1957 1959  
25. Adung Purawidjaja.jpg R. Asep Adung Purawidjaja 1959 1966  
26. Letkol rahmat.jpg Letkol R. Rakhmat 196 1966  
27. Letkol sarmada.jpg Letkol Sarmada 1966 1969  
28. - R. Gadjali Gandawidura 1969 1970  
29. Ahmad endang.jpg Drs. H. Ahmad Endang 1970 1978  
30. Adjat sudrajat s.jpg Ir. H. Adjat Sudradjat Sudirahadja 1978 1983  
31. Arifin yoesoef.jpg Ir. H. Arifin Yoesoef 1983 1988  
32. Eddi soekardi.jpg Drs. H. Eddi Soekardi 1988 1996  
33. Harkat hadiamiharja.jpg Drs. H. Harkat Handiamihardja 1996 2001  
34. Wasidi.jpg Ir. H. Wasidi Swastomo, M.Si. 2001 2006  
35. Tjetjep muchtar soleh.jpg Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh 2006 2016 Bupati pertama hasil pemilihan langsung
36. Irm.jpg Irvan Rivano Muchtar 2016 2021 Anak dari Tjetjep Muchtar Soleh

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Cianjur terdiri atas 32 Kecamatan, 342 Desa dan 6 Kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Cianjur.


Demografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Cianjur, menurut Sensus Penduduk 2000, berpenduduk 1.931.480 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 982.164 jiwa dan perempuan 949.676 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,23 %.

Kecamatan yang jumlah penduduknya terbesar adalah Kecamatan Pacet sebanyak 170.224 jiwa dan Kecamatan Cianjur sebanyak 140.374 jiwa. Kecamatan lainnya yang jumlah penduduknya di atas 100.000 jiwa adalah Kecamatan Cibeber (105.0204 jiwa), Kecamatan Warungkondang (101.580 jiwa) dan Kecamatan Karangtengah (123.158 jiwa). Kecamatan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kecamatan Cikadu sebanyak 36.212 jiwa. Kecamatan lainnya yang jumlah penduduknya antara 40.000 - 50.000 jiwa adalah Kecamatan Sindangbarang, Takokak, dan Sukanagara.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 62.99 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sekitar 42,80 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan dan jasa yaitu sekitar 14,60%. dan pengiriman pembantu 30%

Beras Pandan Wangi[sunting | sunting sumber]

Cianjur memiliki beras yang khas, terkenal dengan daerah yang subur untuk ditanami beras. Ciri khas beras dari Cianjur adalah karena kualitasnya. Kualitas beras Cianjur adalah pada ukuran yang cukup besar dan juga kekhasan akan aromanya yaitu wangi. Beras Cianjur yang sangat terkenal adalah beras Pandan Wangi.

Pandan Wangi merupakan satu-satunya beras wangi beraroma pandan yaitu beras yang merupakan satu-satunya beras terbaik yang tidak ditemukan di daerah lain dan menjadi khas Cianjur. Rasanya enak (pulen) dan harganya pun relatif lebih tinggi dari beras biasa. Di Cianjur sendiri, pesawahan yang menghasilkan beras asli Cianjur ini hanya di sekitar Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Cugenang, Cianjur, dan sebagian Kecamatan Cianjur. Luasnya sekitar 10,392 Ha atau 10,30% dari luas lahan persawahan di Kabupaten Cianjur. Produksi rata-rata per hektare 6,3 ton dan produksi per-tahun 65,089 ton. Kecamatan Pacet dan Cipanas menghasilkan sayur-sayuran antara lain Wortel, daun bawang, Brocoli, Buncis, Kol, Terung, Aneka Cabe, Kailan, Bit, Paprika merah & hijau, Jagung manis, Tomat, Poling, Jamur, Selada, Timun Jepang dan lain lain.

Roti[sunting | sunting sumber]

Sejak jaman Belanda tahun 1920 an yang lalu, terdapat pengusaha di Cianjur yang memproduksi Roti. Roti yang diproduksi jaman dahulu terkenal dengan Roti manis khas. dimana bentuknya bulat yang ditaburi gula manis. Roti ini disukai oleh warga Belanda pada jaman tersebut, sehingga satu tempat di jalan raya kota Cianjur ini menjadi tempat berkumpulnya orang Belanda. Proses produksinya sampai saat ini masih sama, yaitu menggunakan pembakaran konvensional yaitu menggunakan Ruang Bakar dari Batu Bata. sehingga Roti yang dibuat memiliki aroma yang berbeda dari Roti yang dibuat pakai Oven.

Pembuatan Roti ini masih dipasarkan sampai sekarang, terutama roti tawarnya dan ciri khasnya yaitu Roti Manis. Toko Roti sejak jaman Belanda ini, masih ada sampai sekarang yaitu dengan nama "TKC". dahulunya bernama Tan Keng Cu. namun sejak mendekati tahun 2000 berubah menjadi TKC dikarenakan ada pembatasan penggunaan nama Chinese sejak jaman tersebut.

Pengembangan Roti Tawar ini mulai merambah tidak hanya roti tawar basah saja tetapi menjadi Roti Kering. Karena rasanya yang Khas, Roti ini menjadi salah satu produk yang dicari di Cianjur. Roti kering ini berjenis Rotika, yaitu Roti Tawar yang diberikan pemanis dan keju diatasnya sehingga menjadi Roti Kering khas dari Cianjur yang bernama Rotika.

Sejak dimulainya pembuatan Roti di Cianjur ini, sampai merambah kota-kota lain di Indonesia diantaranya adalah Bogor, Sukabumi dan Bandung.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Dengan kepadatan penduduk tidak merata:

  1. 63,90 % di wilayah utara dengan luas wilayah 30,78 %
  2. 19,19 % di wilayah tengah dengan luas wilayah 28,25 %
  3. 17,12 % di wilayah selatan dengan luas wilayah 40,70 %

Agama[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kabupaten Cianjur dikenal sebagai masyarakat yang religius dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam yang mencapai 98 %, sedangkan penduduk non muslim mencapai 2 %, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Penduduk beragama Islam = 1.893.203 orang (98 %)
  2. Penduduk beragama Kristen = 32.841 orang (1,7 %)
  3. Penduduk beragama Budha dan Hindu = 5.796 orang ( 0,3 %)

Tingkat partisipasi usia sekolah[sunting | sunting sumber]

  1. Angka Partisipasi Kasar SD/MI Tahun 2000 mencapai 84,52 %
  2. Angka Pastisipasi Kasar SMP mencapai 38,50 %
  3. Angka Partisipasi Kasar SMA mencapai 11,98 %
  4. Angka Partisipasi Kasar KULIAH mencapai 20,18 %

Indikasi peningkatan derajat kesehatan masyarakat[sunting | sunting sumber]

  1. Angka Kematian Ibu (AKI) saat ini mencapai 373 per 100.000 kelahiran , turun dari keadaan tahun-tahun sebelumnya sebesar 420 per 100.000 kelahiran.
  2. Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 62,00 per 1.000 kelahiran hidup, turun dari keadaan tahun-tahun sebelumnya sebesar 65,38 per 1.000 kelahiran hidup.
  3. Angka Harapan Hidu (AHH) mencapai rata-rata 66,45 tahun, naik dari keadaan tahun-tahun sebelumnya sebesar 62 tahun.[4]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Suasana Cianjur

Ibukota kabupaten Cianjur dilintasi jalan nasional (Jakarta-Bogor-Bandung), serta jalur kereta api Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur.

Perjalanan ke Cianjur biasanya ditempuh melalui jalan darat, jika dari Jakarta bisa melewati jalur Puncak, jalur Sukabumi, jalan alternatif melalui Jonggol atau melalui Jalan Tol Purbaleunyi.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Objek wisata[sunting | sunting sumber]

  • Situs Megalitikum Gunung Padang
  • Gunung Gede
  • Gunung Pangrango
  • Istana Presiden Cipanas
  • Telaga Biru
  • Curug CIbeureum
  • Curug Ciismun
  • Alun-alun Suryakencana
  • Tirta Jangari
  • Waduk Cirata
  • Pantai Jayanti
  • Pantai Apra
  • Curug Citambur
  • Taman Bunga Nusantara
  • Kota Bunga
  • Kebun Raya Cibodas
  • Situs Megalitikum Gunung Kasur
  • Danau Leuwi Soro
  • Kebun Teh Panyairan
  • Kebun Teh Gedeh

Ayam Pelung[sunting | sunting sumber]

Ayam pelung merupakan ayam peliharaan asal Cianjur, sejenis ayam asli Indonesia dengan tiga sifat genetik. Pertama suara berkokok yang panjang mengalun. Kedua pertumbuhannya cepat. Ketiga postur badan yang besar. Bobot ayam pelung jantan dewasa bisa mencapai 5 – 6 kg dengan tinggi antara 40 sampai 50 cm. Nama ayam pelung berasal dari bahasa sunda Mawelung atau Melung yang artinya melengkung, karena dalam berkokok menghasilkan bunyi melengkung juga karena ayam pelung memiliki leher yang panjang dalam mengahiri suara / kokokannya dengan posisi melengkung. Ayam pelung merupakan salah satu jenis ayam lokal indonesia yang mempunyai karakteristik khas, yang secara umum ciri ciri ayam pelung dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. Badan: Besar dan kokoh (jauh lebih berat / besar dibanding ayam lokal biasa)
  2. Cakar: Panjang dan besar, berwarna hitam, hijau, kuning atau putih
  3. Pial: Besar, bulat dan memerah
  4. Jengger: Besar, tebal dan tegak, sebagian miring, berwarna merah dan berbentuk tunggal
  5. Warna bulu: Tidak memiliki pola khas, tetapi umumnya campuran merah dan hitam ; kuning dan putih ; dan atau campuran warna hijau mengkilat
  6. Suara: Berkokok berirama, lebih merdu dan lebih panjang dibanding ayam jenis lainnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ http://jabar.bps.go.id/Tabel/penduduk/JumlahPenduduk.html Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2007 versi BPS Provinsi Jawa Barat
  3. ^ Suryaningrat, Bayu. Sajarah Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu. Rukun Warga Cianjur, Jakarta. 
  4. ^ Pemkab Cianjur

Pranala luar[sunting | sunting sumber]