Suku Banten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Suku Banten
Urang Banten
Maulana Hasanuddin of Banten.jpg Lukisan Sultan Ageng Tirtayasa oleh Kang Alam.jpg Syekh Nawawi al-Bantani.jpg Syekh Abdul Karim al-Bantani.jpg
Syekh Arsyad Thawil.jpg Syekh Asnawi.jpg K.H. Tubagus Muhammad Bakri as-Sampuri.jpg Abuya Dimyathi.jpg
K.H. Tubagus Muhammad Falak.jpg Syafruddin Prawiranegara.jpg K.H. Syam'un.jpg Maria Ulfah Santoso 29 March 1947 KR.JPG
Husein Djajadiningrat P.A.jpg Syarif Muhammad ash-Shafiuddin of Banten.png Abuya Muhtadi Dimyathi.jpg Taufiequrachman Ruki Official Portrait.jpg
Ma'ruf Amin, BNI Life.jpg Dedi Gumelar, 2010.jpg Kapolda Jabar - Tb Anis Angkawijaya.jpg Armand Maulana.jpg
Jumlah populasi
Setidaknya 4.657.000 jiwa[1] di Indonesia (Sensus Penduduk Indonesia 2010)
Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Banten 4.321.991 [2]
Lampung 172.403
Jawa Barat 60.948
Sumatera Utara 46.640
DKI Jakarta 28.551
Sumatera Selatan 17.141
Bahasa
Banten, Sunda dan Indonesia
Agama
Islam Sunni
Kelompok etnik terdekat
Sunda, Baduy, Betawi
Komunitas suku Banten di Malingping bersama seekor harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang ditembak (tahun 1941)

Suku Banten adalah orang Sunda yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten[3] di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, suku Banten populasinya 2,1% dari penduduk Indonesia, atau sekitar 4.657.000 jiwa[4][5]. Orang Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kasar.

Sensus Penduduk tahun 2010[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, Suku Banten bersama Suku Baduy dikelompokan ke dalam Suku asal Banten dengan total jumlah 4.657.784 jiwa.[5][4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata Banten muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya, yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis pertama mengenai Banten dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut:

Tanggeran Labuhan Ratu.
Ti kaler alas Panyawung,
Tanggeran na alas Banten.

Itu ta na gunung (.. .)ler,
Tanggeran alas Pamekser,
Nu awas ka Tanjak Barat.
Itu ta pulo Sanghiang,
Heuleut-heuleut nusa Lampung,

Ti timur pulo Tampurung,
Ti barat pulo Rakata,
Gunung di tengah sagara.
Itu ta gunung Jereding,
Tanggeran na alas Mirah,

Ti barat na lengkong Gowong.
Itu ta gunung Sudara,
Na gunung Guha Bantayan,
Tanggeran na Hujung Kulan,
Ti barat bukit Cawiri.

Itu ta na gunung Raksa,
Gunung Sri Mahapawitra,
Tanggeran na Panahitan,

Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai ini disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang ("Banten atas"). Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada tahun 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sajak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini.

Lukisan orang Banten sekitar tahun 1598 di Rijksmuseum Amsterdam

Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Asal usul suku Banten erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Kesultanan Banten, berbeda dengan Suku Cirebon yang bukan merupakan bagian dari Suku Sunda maupun Suku Jawa (melainkan hasil percampuran dari dua budaya besar, yaitu Sunda dan Jawa), Suku Banten bersama Urang Kanekes (Baduy) pada dasarnya adalah sub-etnik dari Suku Sunda yang mendiami bekas wilayah Kesultanan Banten (wilayah Karesidenan Banten setelah Kesultanan Banten dihapuskan dan dianeksasi oleh pemerintah Hindia Belanda). Hanya saja setelah dibentuknya Provinsi Banten, kemudian sebagian orang menerjemahkan Bantenese sebagai kesatuan etnik dengan budaya dan bahasa tersendiri, Budaya dan Bahasa Banten.[6]

Adat dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Tanah Banten kaya akan adat dan budaya, salah satu yang dominan adalah adat dan budaya suku Banten yang menjadi mayoritas di Provinsi Banten.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Peta linguistik di Pulau Jawa bagian barat.

Orang-orang Banten menggunakan Bahasa Banten yang masih dikategorikan sebagai Bahasa Sunda bagian barat, yang pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar.[7] Perbedaan tata bahasa antara Bahasa Banten dan Bahasa Sunda dikarenakan wilayah Banten tidak pernah menjadi bagian dari Kesultanan Mataram, sehingga tidak mengenal tingkatan halus dan sangat halus yang diperkenalkan oleh Mataram. Bahasa ini biasa dituturkan terutama di wilayah Banten bagian selatan, seperti Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.[8]

Budaya dan Kesenian[sunting | sunting sumber]

Kekhasan budaya masyarakat Banten antara lain seni bela diri Pencak Silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman (Dzikir Saman), Tari Topeng[9], Dog-dog, Angklung Gubrag, Rampak Bedug, Tari Walijamaliha[10], Tari Silat Pandeglang[11][12], Palingtung, Lojor, Beluk, dan lainnya.[13][14] Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur, antara lain Masjid Agung Banten, Makam Keramat Panjang[15], dan masih banyak peninggalan lainnya.

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Sate Bandeng, kuliner khas Banten.

Kuliner khas Banten diantaranya adalah Sate Bandeng, Rabeg Banten, Pasung Beureum, Ketan Bintul, Nasi Belut, Kue Cucur, Angeun Lada, Balok Menes, Sate Bebek Cibeber, Emping Menes[14][13], dan lainnya.[16][17][18]

Agama[sunting | sunting sumber]

Secara umum, mereka yang mengaku sebagai etnis Banten merupakan pemeluk agama Islam yang tidak bisa lepas dari budaya keislaman yang sangat kental, hal tersebut erat kaitannya dengan sejarah Banten sebagai salah satu Kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa. Selain itu kesenian-kesenian di Wilayah Banten juga menggambarkan aktivitas keislaman masyarakatnya, seperti kesenian Rampak Bedug dari Pandeglang[12]. Meskipun begitu, provinsi Banten merupakan masyarakat multietnis yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama[5], pemeluk agama lain dari suku-suku pendatang lainnya dapat hidup berdampingan secara damai di wilayah ini, seperti masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang, dan Masyarakat adat Baduy (Sunda Wiwitan) di wilayah Kanekes, Leuwidamar, Lebak.

Batik Banten[sunting | sunting sumber]

75 Ragam Hias Khas Banten Rekontruksi Arkeologi Nasional

Corak dan motif Batik Banten adalah iluminasi dari ragam hias yang telah dikaji Pemerintah provinsi Banten dalam rangka menemukan kembali ornamen motif pada bangunan rumah adat di Banten, Ragam hias ini hasil ekskavasi yang direkontruksi oleh Arkeologi Nasional dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak tahun 1976. Ragam hias tersebut telah menjadi keputusan Gubernur Banten Tahun 2003.

Sejak dipatenkan tahun 2003Batik Banten telah mengalami proses panjang hingga akhirnya diakui di seluruh duniaBatik Banten dipatenkan setelah ada kajian di Malaysia dan Singapura yang diikuti 62 negara dan mendapatkan predikat terbaik sedunia. Bahkan Batik Banten menjadi batik pertama yang punya hak paten di UNESCO.

Batik Baten memiliki identitas tell story (motifnya bercerita) dan kekhasan tersendiri ketimbang batik lain. Beberapa motifnya diadopsi dari benda-benda sejarah (artefak). Di setiap motif terdapat warna abu-abu yang konon menjadi cermin masyarakat Banten. Semua batiknya mengandung muatan filosofi.[19]

Nama-nama motif Batik Banten diambil dari nama toponim desa-desa kuna, nama gelar bangsawan/sultan dan nama tataruang istana kerajaan Banten. Pada corakpun identik dengan cerita sejarah yang  mengandung filosofi (penuh arti) pada motifnya dengan bermakna intelektual bagi pemakai bahan dan busana Batik Banten.[20]

Filosofi di Motif Batik Banten[sunting | sunting sumber]

Ragam motif batik Banten yang mengandung filosofi[21]
  • Motif Surosowan: Surosowan adalah nama tata ruang tempat Menghadap raja/sultan Kesultanan Banten.
  • Motif Pasulamam: Pasulaman adalah nama tempat para Pengrajin sulaman di lingkungan Kesultanan Banten.
  • Motif Pasepen: Pasepen adalah nama tempat tata ruang Istana tempat Sultan Maulana Hasanuddin melakukan meditasi di Kesultanan Banten.
  • Motif Sebakingking: Sebakingking adalah nama gelar Panembahan Sultan Maulana Hasanuddin dalam penyebaran Agama lslam.
  • Motif Srimanganti: Srimanganti adalah nama tempat di mana Selasar yang menghungkan pendopo Kesultanan Banten untuk raja/sultan menanti.
  • Motif Pejantren: Pejantren adalah nama tempat para pengrajin tenunan di wilayah Banten.
  • Motif Panjunan: Panjunan adalah nama sebuah perkampungan tempat pengrajin gerabah dan keramik di wilayah Kesultanan Banten.
  • Motif Singayaksa: Singayaksa adalah nama sebuah tempat di mana Sultan Maulana Hasanuddin Salat Istikharah, memohon petunjuk Allah dalam mendirikan keraton.
  • Motif Wamilahan: Wamilahan adalah nama sebuah perkampungan tempat pengrajin pembelah bambu dan tikar di lingkungan Istana.
  • Motif Panembahan: Panembahan adalah nama Gelar Sultan Maulana Hasanuddin dalam penataan negara pada kejayaan keraton Kesultanan Banten.
  • Motif Pancaniti: Pancaniti adalah nama tempat/bangsal di mana Sultan Maulana Hasanuddin menyaksikan para prajuritnya berlatih di lapangan.
  • Motif Pamaranggen: Pamaranggen adalah nama tempat di mana para pengrajin dan asesoris keris di lingkungan Kesultanan Banten.
  • Motif Langenmaita: Langenmaita adalah nama tempat berlabuhnya kebahagiaan dalam mengarungi samudra cinta dengan kapal pesiar/dermaga.
  • Motif Mandalikan: Mandalikan adalah nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Arya Mandalika dalam penyebaran Agama lslam.
  • Motif Memoloan: Memoloan adalah nama sebuah kontruksi bangunan atap menara mesjid dan pendopo Kesultanan Banten.
  • Motif Kesatriaan: Kesatriaan adalah nama Sebuah perkampungan tempat belajar agama di pesantren lingkungan Kesultanan Banten.
  • Motif Kawangsan: Kawangsan adalah nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Wangsa dalam penyebaran Agama lslam.
  • Motif Kapurban: Kapurban adalah nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Purba dalam penyebaran Agama Islam.
  • Motif Kaibon: Kaibonan adalah nama sebuah bangunan pagar yang mengelilingi Keraton Istana Banten.
  • Motif Datulaya: Datulaya  dalah nama tempat tinggal Sultan Maulana Hasanuddin/tata ruang keluarga di Kesultanan Banten.

Tokoh-tokoh dari Suku Banten[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah tokoh-tokoh terkenal dari suku Banten:

Sultan-sultan dan tokoh kerajaan Banten lainnya[sunting | sunting sumber]

Agamawan[sunting | sunting sumber]

Pahlawan nasional dan tokoh pejuang lainnya[sunting | sunting sumber]

Politisi, negarawan, tokoh militer dan lain sebagainya[sunting | sunting sumber]

Aktor, aktris, penyanyi, dan lain sebagainya[sunting | sunting sumber]

  • Bing Slamet - Pelawak, Aktor, Penyanyi, Pencipta lagu

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. 
  2. ^ "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia 2011" (PDF). 2011-01-01. Diakses tanggal 2017-03-21. 
  3. ^ Bintang, Anugerah. "Suku Bangsa di Provinsi Banten". 
  4. ^ a b "Peringatan". sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 2017-03-21. 
  5. ^ a b c Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia – Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. 
  6. ^ Kemdikbud, Ditjenbud -. "Suku Banten | Kebudayaan Indonesia". kebudayaanindonesia.net. Diakses tanggal 2017-03-21. 
  7. ^ "Bahasa Sunda Banten » Perpustakaan Digital Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2017-04-01. 
  8. ^ developer, metrotvnews. "Bahasa dan Sastra Sunda Banten Terancam Punah". Diakses tanggal 2017-03-21. 
  9. ^ "Tarian Topeng Tani Banten Juara Umum Festival Pesona Serumpun Sebalai Nusantara". Bangka Pos. Diakses tanggal 2017-04-09. 
  10. ^ "5 Tari Tradisional Banten". TradisiKita, Indonesia. Diakses tanggal 2017-04-09. 
  11. ^ "DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PANDEGLANG". disbudpar.pandeglangkab.go.id. Diakses tanggal 2017-04-09. 
  12. ^ a b Kemdikbud, Ditjenbud -. "Kesenian Rampak Bedug dari Banten | Kebudayaan Indonesia". kebudayaanindonesia.net. Diakses tanggal 2017-03-21. 
  13. ^ a b Official NET News (2014-09-20), Budaya Desa Menes Pandeglang Banten - NET17, diakses tanggal 2017-04-09 
  14. ^ a b Netmediatama (2014-09-21), Menes - Pandeglang - Banten | Indonesia Bagus | Fransiska, Wilman & Yasmina| NetMediatama, diakses tanggal 2017-04-09 
  15. ^ VIVA.co.id, PT. VIVA MEDIA BARU -. "Cerita Makam Keramat Terpanjang di Tangerang" (dalam Indonesian). Diakses tanggal 2017-04-09. 
  16. ^ "7 Makanan Khas Banten yang Wajib Dicoba". Wisata Banten (dalam en-US). 2016-01-25. Diakses tanggal 2017-04-01. 
  17. ^ admin. "14 Makanan Khas Banten Paling Enak yang Wajib Anda Cicipi". Portalwisata.co.id (dalam id-ID). Diakses tanggal 2017-04-01. 
  18. ^ Widodo, Wahyu Setyo. "Liburan di Banten, Jangan Lupa Cicipi 10 Kuliner Khas Ini". detikTravel (dalam id-ID). Diakses tanggal 2017-04-01. 
  19. ^ Bantenurban TV (2016-07-19), Batik Banten Sebuah Rekonstruksi Sejarah ( Video Promosi ), diakses tanggal 2017-04-09 
  20. ^ Official NET News (2014-10-30), 85 Motif Batik Banten Mulai Dipasarkan -NET24, diakses tanggal 2017-04-09 
  21. ^ "Batik Banten – Seni Budaya Lokal Yang Mendunia | KotaSerang.com". kotaserang.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-04-09. 
  22. ^ Mulyadi (2016-11-13). "Ini Tiga Tokoh Dari Banten yang akan Diusulkan Mendapat Gelar Pahlawan". Ini Tiga Tokoh Dari Banten yang akan Diusulkan Mendapat Gelar Pahlawan (dalam id-ID). Diakses tanggal 2017-04-01. 

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  1. Claude Guillot, The Sultanate of Banten, Gramedia Book Publishing Division, Jakarta, 1990
  2. Adolf Heuken SJ, Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid II, Cipta Loka Caraka, Jakarta,2000
  3. Adolf Heuken SJ, Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid III, Cipta Loka Caraka, Jakarta,2000