Suku Sungkai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Suku Sungkai atau nama lengkapnya Suku Sungkai Bunga Mayang merupakan salah satu suku dari Lampung atau biasa dalam bahasa Lampung disebut sebagai Ulun Lampung ini berasal dari provinsi Lampung sebagai provinsi paling selatan di pulau Sumatra. Sebagian Ulun Lampung juga tersebar di selatan provinsi Sumatra Selatan seperti suku Komering. Suku Sungkai sendiri merupakan komunitas masyarakat adat yang hidup dibawah tradisi hukum adat Pepadun Lampung Lampung.[1] Suku lainnya yang hidup dibawah hukum adat Pepadun Lampung antara lain Suku Way Kanan Buway Lima, Suku Pubian Telu Suku, Suku Mego Pak Tulangbawang, dan Suku Abung Siwo Mego.[2]

Asal-Usul Suku Sungkai[sunting | sunting sumber]

Menurut penuturan Suntan Baginda Dulu di daerah Lampung Ragom pada tahun 1997 nenek moyang Suku Sungkai Bunga Mayang berasal dari Suku Komering yang bermigrasi dari Komering Bunga Mayang menuju kearah selatan Sumatra yang kini dikenal sebagai provinsi Lampung Sungkai menyusuri Way Sungkai pada tahun 1800 Masehi. Tujuan mereka bermigrasi adalah untuk mencari sumber kehidupan yang baru. Dalam perjalanan migrasi tersebut, mereka akhirnya membuka kampung baru atau disebut tiuh maupun pemukiman baru yang disebut dengan umbul setelah meminta bagian tanah kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 sampai dengan 1834 Masehi. Tanah tersebut akhirnya mereka peroleh setelah Mampu Begawi memenuhi syarat dari tetua Abung Buway Nunyai yaitu menyembelih kerbau sebanyak 64 ekor kemudian dibagikan ke seluruh Kebuayan (Keturunan) Abung. Setelah itu resmilah Suku Komering dengan marga Bunga Mayang menjadi Ulun Lampung dibawah hukum adat pepadun Lampung sebagai Suku Sungkai Bunga Mayang.[1]

Tradisi Pernikahan Dalam Suku Sungkai[sunting | sunting sumber]

Suku atau Ulun dalam budaya Lampung merupakan masyarakat yang menganut kekerabatan pertalian darah menurut garis keturunan ayah (Genelogis-Patrilinial) yang tiap-tiap keturunannya menurut asal-usul nenek moyang asalnya disebut Buway atau Buay. Setiap Kebuayan terdiri dari berbagai Jurai yang artinya terikat pada satu rumah asal (Nuwou Tubou, Lamban Tuha). Masyarakat adat Lampung terdiri dari Jurai Pepadun dan Jurai Saibatin. Suku Sungkai Bunga Mayang masuk kedalam Jurai Pepadun.

Tradisi pernikahan yang berlaku dalam adat Lampung adalah adat menerap (memakaikan cincin) setelah menikah dengan membayar Jujogh(Ngakuk Mulei) yang artinya pernikahan tersebut mengharuskan istri mengikuti dan menetap dengan kerabat suami. Bentuk pernikahan lain berupa Semanda yang merupakan kebalikan dari Jugogh yang artinya suami mengikuti dan menetap dengan kerabat istri. Jenjang pernikahan dapat ditempuh dalam dua cara. Cara pertama adalah berlarian (Sebambangan) yang dilakukan bujang dan gadis itu sendiri dan cara kedua adalah melamar orang tua (Cakak Sai Tuha) yang dilakukan oleh kerabat dari pihak laki-laki terhadap kerabat pihak perempuan di rumah orang tua mempelai perempuan.[3]

Buway Dalam Suku Sungkai[sunting | sunting sumber]

Suku Sungkai Bunga Mayang Lampung berasal dari 7 Buway (Keturunan Besar) yang terdiri dari Buway Indor Gajah atau Segajah, Buway Semenguk, Buway Selembasi, Buway Perja atau Serja yang merupakan keturunan Putri Silimayang, Buway Debintang, Buway Harayap, dan Buway Liwa.[4]

Buway Indor gajah[sunting | sunting sumber]

Buway Indor gajah merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi:

  • Labuhan Ratu Pasar
  • Cempaka Raja
  • Bumi Ratu
  • Negara Tulang Bawang
  • Labuhan Ratu Kampung
  • Mulungan Ratu
  • Ketapang[4]

Buway Semenguk[sunting | sunting sumber]

Buway Semenguk merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi:

  • Hanakau Jaya
  • Kota Negara Unggak (Udik)
  • Negeri Sakti
  • Kota Negara Liba (Ilir)[4]

Buway Selembasi[sunting | sunting sumber]

Buway Selembasi merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi:

  • Negeri Batin Jaya
  • Tanah Abang
  • Tanjung jaya
  • Pengiran Ratu Menong[4]

Buway Perja[sunting | sunting sumber]

Buway Perja atau Serja merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi:

  • Banjar Ratu
  • Pekuon Agung
  • Sri Agung
  • Negeri Ujung Karang
  • Haduyang Ratu
  • Negeri Ratu Perja
  • Banjar Negeri[4]

Buway Debintang[sunting | sunting sumber]

Buway Debintang merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi Bandar Agung.[4]

Buway Harayap[sunting | sunting sumber]

Buway Harayap merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi:

  • Negara Batin
  • Suku Jaya
  • Sukadana Unggak (Udik)
  • Negara Ratu
  • Gedung Batin
  • Negara Bumi
  • Sukadana Liba (Ilir)[4]

Buway Liwa[sunting | sunting sumber]

Buway Liwa merupakan keturunan Suku Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di kampung-kampung seluruh Kabupaten Lampung Utara yang wilayahnya meliputi:

  • Batu Raja
  • Kota Napal
  • Kubu Hitu
  • Gedung Ketapang
  • Banjar Ketapang[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Lampung, Teras (2016-09-21). "Jejak: Lampung Sungkai Bunga Mayang". Teras Lampung. Diakses tanggal 2019-03-22. 
  2. ^ developer, Lampost co (2017-08-26). "Ngantak Sansan". LAMPOST.CO - PORTAL BERITA LAMPUNG TERKINI. Diakses tanggal 2019-03-22. 
  3. ^ 0513033034, Liza Muflihah (2009). Pemilihan Jodoh Orang Lampung Saibatin Di Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran. Universitas Lampung: Digital Library. hlm. 2. 
  4. ^ a b c d e f g h 141601108, Yula Fadilah (2018). Pemberian Gelar Adat (Studi Tentang Prosedur, Makna, Fungsi Pemberian Gelar Adat, Pada Masyarakat Lampung Pepadun Sungkai Di Desa Gedung Ketapang, Kecamatan Sungkai Selatan, Kabupaten Lampung Utara). Universitas Lampung: DIgital Library. hlm. 12.