Partai Nasional Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Partai Nasional Indonesia
Pemimpin Soekarno
Ketua Ir. Soekarno
Pendiri Ir. Soekarno (Ketua)
Dr. Tjipto Mangunkusumo
Mr. E.S. Budyarto Martoatmodjo
Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo (Sekretaris/Bendahara)
Dr. Samsi Sastrowidagdo (Anggota)
Mr. Sartono (Anggota)
Mr. Sunario (Anggota)
Ir. Anwari (Anggota)
Didirikan 4 Juli 1927 (1927-07-4)
Bergabung ke dalam Partai Demokrasi Indonesia
Diteruskan oleh Partai Demokrasi Indonesia
Partai Indonesia
PNI Baru
PNI Marhaenisme
PNI Supeni
PNI Massa Marhaen
Kantor pusat Regentsweg 8, Bandoeng.
Ideologi Nasionalisme

Partai Nasional Indonesia atau dikenal juga PNI adalah partai politik tertua di Indonesia. Partai ini didirikan pada 4 Juli 1927 [note 1] dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya pada saat itu adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo.[2]

Linimasa Perserikatan Nasional Indonesia ke Partai Nasional Indonesia[sunting | sunting sumber]

Propaganda PNI pada tahun 1920-an
Foto para pendiri PNI yang merupakan arsip dari gedung Museum Sumpah Pemuda.

Didirikan di Bandung oleh para tokoh nasional seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo. Selain itu para pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club (ASC) yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut pula bergabung dengan partai ini.

Berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia menjadi Partai Nasional Indonesia

PNI dianggap membahayakan Belanda karena menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan kemerdekaan sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan pada tanggal 24 Desember 1929. Penangkapan baru dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 terhadap tokoh-tokoh PNI di Yogyakarta seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja

Pengadilan para tokoh yang ditangkap ini dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1930. Setelah diadili di pengadilan Belanda maka para tokoh ini dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung.[3] Dalam masa pengadilan ini Ir. Soekarno menulis pidato Indonesia Menggugat dan membacakannya di depan pengadilan sebagai gugatannya.

Pimpinan PNI, Ir. Soekarno diganti oleh Mr. Sartono. Mr. Sartono kemudian membubarkan PNI dan membentuk Partindo pada tanggal 25 April 1931.[3] Moh. Hatta yang tidak setuju pembentukan Partai Indonesia akhirnya membentuk PNI-Baru atau Pendidikan Nasional Indonesia. Ir. Soekarno bergabung dengan Partindo. [note 2]

Ir. Soekarno ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores sampai dengan 1942.

Moh. Hatta dan Syahrir dibuang ke Bandaneira sampai dengan 1942.

PNI memenangkan Pemilihan Umum 1955.

PNI bergabung dengan empat partai peserta pemilu 1971 lainnya membentuk Partai Demokrasi Indonesia [note 3]

Dipimpin oleh Supeni, mantan Duta besar keliling Indonesia, PNI didirikan kembali.

PNI menjadi peserta pemilu 1999.

PNI berubah nama menjadi PNI Marhaenisme dan diketuai oleh Rachmawati Soekarnoputeri, anak dari Soekarno.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Partai Penerus[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Adam Malik dalam buku ini menjelaskan bahwa dipilihnya tanggal 4 Juli itu bukan merupakan sebuah kebetulan akan tetapi lebih berkaitan dengan hari kemerdekaan Amerika Serikat yang mana sejarah mencatat bahwa proklamasi kemerdekaan Amerika berlangsung pada tanggal 4 Juli 1776 di Philadelpia dan pidato Soekarno pada Sidang Umum PBB ke-XV tanggal 30 September 1960 dengan judul Membangun Dunia Kembali (To Build The World a New)[1]
  2. ^ Tujuan pokok Partindo sama dengan PNI-Lama, yaitu mencapai Indonesia merdeka dengan menjalan kan politik non-kooperasi terhadap pemerintahan Belanda. Tindakan Sartono ini mendapat reaksi keras dari anggota PNI-Lama, di antaranya Hatta dan Sutan Sjahrir, serta golongan yang tidak menyetujui dengan pembubaran ini. Mereka membentuk Golongan Merdeka dan menjadi organisasi baru bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru). Partindo dan PNI-baru bersaing dalam memperoleh simpati rakyat.
  3. ^ Salah satu cara rezim Orde Baru mengkontrol partai politik dalam pluralitas demokrasi melalui penyederhanaan seluruh golongan sosial politik menjadi tiga partai di Indonesia. Hal ini kemudian dilegitimasi melalui keluarnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Malik, Adam (1982). Mengabdi republik, Gunung Agung. 
  2. ^ "Membangkitkan Kembali Bangsa Dengan Jiwa Besar Bung Karno", A. Umar Said Personal Website, 3 Mei 2001
  3. ^ a b "Pergerakan Nasional Indonesia", Sri Pangestri Dewi Murni - Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU, 2005