Suku Dayak Iban

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Suku Iban)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Dayak Iban
Iban girls.jpg
Gadis Iban mengenakan pakaian adat lengkap dalam festival Gawai di Debak, Betong, Sarawak
Total populasi 700.000 (Sarawak)
Wilayah dengan populasi signifikan Sarawak, Brunei & Kalimantan Barat
Bahasa Iban
Agama Kristen Katolik, Kristen Protestan dan Islam
Kelompok etnis yang berhubungan Kantu, Mualang, Seberuang, Bugau & Sebaru'
Masyarakat Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat.

Suku Dayak Iban, adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Sarawak, dan Brunei. Kata Iban berasal dari bahasa Iban asli yang bermaksud manusia atau orang.Bangsa Iban bermaksud bangsa manusia..


Mengikut sejarah lisan , pembentukan dan perkembangan budaKya sosial Dayak Iban terjadi ketika era PEMERINTAHAN KERAJAAN IBAN PANGGAU LIBAU di Tampun Juah, sebelum berpecah kepada beberapa subsuku-subsuku yang ada sekarang. Dalam jurnal yang ditulis oleh Charles Broke, selama masa kolonial Inggris dan Belanda, kelompok Dayak Iban sebelumnya dikenal sebagai "SEA DAYAK" ini kerana pada kurun ke 17 hingga ke 19 telah menyaksikan kemunculan orang Iban di lautan china selatan .Tradisi memenggal kepala musuh di lautan atau tradisi Kayau telah menggerunkan para pelayar Eropah hingga tercatat di dalam sejarah maritim bangsa Eropah sebagai "VIKINGS OF EASTERN SEA " dan "KING OF SEA BORNEO " bersama dengan orang Iranum dan Balingingi dari kepulauan Filipina.Kata Sea Dayak kemudian diterjermah kepada Dayak Laut. (bahasa Inggris:Sea Dayak).[1]

Suku Dayak Iban adalah bangsa peribumi tertua di Sarawak dan Asia.Ini dibuktikan dengan penemuan bukti sains artifak purba di Gua Niah yang dianggarkan berusia 40,000 tahun SM hingga 65,000 tahun SM.seterusnya membuktikan bahawa Dayak Iban Nenek moyang kepada ratusan sub suku dan etnik di Pulau Borneo dan pulau sekitarnya.

WARISAN TATTOO BUDAYA ASAL DARI DAYAK IBAN. Bagi suku Dayak Iban, tradisi tato menjadi bahasa verbal yang sakral sebagai simbol pencapaian hidup. Tato yang menghiasi tubuh mereka adalah bentuk penghargaan atas diri mereka tetang pencapaian hidup. Pencapaian hidup itu terbagi dalam tiga era, yaitu era mengayau (peperangan), era bejalai (merantau) jauh bagi laki-laki, dan era modern.[2]

Suku-suku yang termasuk Rumpun Iban (Ibanic) dengan kode bahasa: IBA, diantaranya:

  1. Suku Iban di Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  2. Suku Iban di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  3. Suku Iban Brunei di Brunei (kode bahasa: IBA)
  4. Suku Iban Merotai di Sabah (kode bahasa: IBA)
  5. Suku Mualang di Kalimantan Barat (kode bahasa: MTD)
  6. Suku Seberuang di Kalimantan Barat (kode bahasa: SBX)
  7. Suku Sebuyau di Sarawak (kode bahasa: SNB)
  8. Suku Balau di Sarawak (kode bahasa: BLG)
  9. Suku Remun di Sarawak (kode bahasa: IKG)
  10. Suku Iban Kantu di Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  11. Suku Iban Bugau di Sarawak dan Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  12. Suku Iban Desa di Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  13. Suku Iban Dau di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  14. Suku Iban Lemanak di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  15. Suku Iban Skrang di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  16. Suku Iban Ulu Ai di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  17. Suku Iban Undup di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  18. Suku Iban Batang Lupar di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  19. Suku Selakau di Sarawak (kode bahasa: IBA)
  20. Suku Ketungau di Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  21. Suku Senganan di Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  22. Suku Sebaru di Kalimantan Barat (kode bahasa: IBA)
  23. Suku Iban Peranakan (Perkahwinan campuran antara Dayak Iban dengan suku-suku lain)

Pengait Iban dalam kategori rumpun Dayak Laut ialah:

  1. Dayak Kendayan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah (kode bahasa: KNX)
  2. Dayak Keninjal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah (kode bahasa: KNL)
  3. Dayak Malayic di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah (kode bahasa: XDY)
  4. Urak Lawoi di Selatan Thailand dan Semenanjung Malaysia (kode bahasa: URK)

Lagu Daerah Dayak Iban[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) (1923)Popular Mechanics Des 1923. hlm. 862. 
  2. ^ Hartono, Bonfilio Yosafat (April 2021). "Kalimantan memiliki pusparagam budaya yang begitu kaya". National Geographic Indonesia: 32–39.