Sarawak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sarawak
Negara bagian
Bumi Kenyalang[1]
Bendera Serawak
Bendera
Lambang Serawak
Lambang
Julukan: Bumi Kenyalang
Semboyan: "Bersatu, Berusaha, Berbakti"
Lagu: Ibu Pertiwiku[2]
   Sarawak di    Malaysia
   Sarawak di    Malaysia
Ibukota Kuching
Divisi
Pemerintahan[5][6]time
 • Yang Di-Pertua Negeri Pehin Sri Abdul Taib Mahmud
 • Kepala Menteri Tan Sri Datuk Amar Adenan Satem (BN)
Area[7]
 • Total 124.450 km2 (48,050 sq mi)
Populasi (2015)[8]
 • Total 2.636.000
 • Kepadatan Bad rounding here21/km2 (Bad rounding here55/sq mi)
Indeks Pembangunan Manusia[9]
 • HDI (2010) 0.692 (high) (ke-11)
Zona waktu Waktu Standar Malaysia[10]
Kode pos 93xxx[11] sampai 98xxx[12]
Kode telepon 082 sampai 086[13]
Plat kendaraan QA sampai QT[14]
Kesultanan Brunei Abad ke-15[15]
Dinasti Brooke 1841
Pendudukan Jepang 1941–1945
Koloni Mahkota Britania 1946
Kemerdekaan 22 Juli 1963[16][17][18][19]
Aksesi dengan Federasi Malaya untuk membentuk Malaysia[20] 16 September 1963a[21]
Situs web www.sarawak.gov.my
a Disamping fakta bahwa Federasi Malaysia baru berdiri pada 16 September 1963, 31 Agustus (kemerdekaan Malaya) dirayakan sebagai hari kemerdekaan Malaysia. Sejak 2010, 16 September disahkan sebagai hari Malaysia.[22]

Sarawak (/səˈrɑːwɒk/; Melayu: [saˈrawaʔ]) adalah salah satu dari dua negara bagian Malaysia di Borneo (yang lainnya adalah Sabah). Teritorial tersebut memiliki tingkat otonomi dalam pemerintahan, imigrasi, dan yudisier yang berbeda dari negara-negara bagian di semenanjung Malaysia. Sarawak terletak di barat laut Borneo, berbatasan dengan Sabah di timur laut, Kalimantan, bagian Indonesia dari Borneo, di bagian selatan, dan berpapasan dengan negara independen Brunei. Ibukotanya, Kuching, adalah pusat ekonomi negara bagian tersebut dan kursi dari pemerintahan negara bagian Sarawak. Kota lainnya di Sarawak meliputi Miri, Sibu, dan Bintulu. Menurut sensus 2015 di Malaysia, populasi di negara bagian tersebut sejumlah 2,636,000 orang.[8] Sarawak memiliki iklim khatulistiwa dengan hutan hujan tropis dan spesies hewan dan tumbuhan yang beragam. Negara bagian tersebut memiliki beberapa sistem gua penting di Taman Nasional Gunung Mulu. Sungai Rajang adalah sungai terpanjang di Malaysia; Bendungan Bakun, salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara, terletak di salah satu anak sungainya. Gunung Murud adalah titik tertinggi di Sarawak.

Pemukiman manusia terawal di Sarawak bermula dari 40,000 tahun yang lalu di Gua-Gua Niah. Negara bagian tersebut telah memiliki hubungan dagang dengan Tiongkok pada abad ke-8 sampai ke-13 Masehi. Wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Kekaisaran Brunei pada abad ke-16. Negara bagian tersebut diperintah oleh keluarga Brooke pada abad ke-19 dan ke-20. Pada Perang Dunia II, negara bagian tersebut diduduki oleh Jepang selama tiga tahun sebelum dijadikan sebagai Koloni Mahkota Britania pada 1946. Pada 22 Juli 1963, Sarawak meraih pemerintahan sendiri oleh Inggris. Setelah itu, Sarawak menjadi salah satu anggota pendiri Federasi Malaysia (didirikan pada 16 September 1963) bersama dengan Borneo Utara (sekarang Sabah), Singapura (keluar pada 1965), dan Federasi Malaya (Semenanjung Malaysia atau Malaysia Barat). Namun, federasi tersebut ditentang oleh Indonesia, dan berujung pada konfrontasi Indonesia–Malaysia selama tiga tahun. Negara bagian tersebut juga mengalami pemerontakan komunis dari 1960 sampai 1990.

Negara bagian tersebut dikenal karena keragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa. Kepala negara bagiannya adalah Gubernur, yang sekarang dikenal sebagai Yang di-Pertua Negeri, sementara kepala pemerintahannya adalah Ketua Menteri. Sistem pemerintahannya mengikuti sistem parlementer Westminster dan memiliki sistem legislatur terawal di Malaysia. Negara bagian tersebut terbagi dalam distrik dan divisi administratif. Inggris dan Melayu adalah dua bahasa resmi di negara bagian tersebut; tidak ada agama resmi disana. Museum Negara Bagian Sarawak adalah museum tertua di Borneo. Negara bagian tersebut dikenal karena alat musik tradisional-nya, sapeh. Festival Musik Hutan Hujan Sedunia adalah salah satu acara musik utama di Malaysia. Sarawak adalah satu-satunya negara bagian di Malaysia yang merayakan perayaan Gawai Dayak.

Sarawak memiliki keragaman sumber daya alam, dan ekonominya sangat berorientasi ekspor, terutama minyak dan gas, kayu, dan minyak sawit. Industri lainnya meliputi pabrik, energi dan pariwisata.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Penjelasan resmi dari kata "Sarawak" adalah bahwa kata tersebut berasal dari kata Melayu Sarawak serawak, yang artinya antimon. Penjelasan populer lainnya namun tak resmi adalah bahwa kata tersebut berasal dari sebuah akronim dari empat kata Melayu yang dikeluarkan oleh Pangeran Muda Hashim (paman Sultan Brunei), Saya serah pada awak (Aku menyerahkannya kepadamu) saat ia memberikan Sarawak kepada James Brooke pada 1841.[23] Namun, penjelasan semacam itu memiliki beberapa keraguan karena wilayah tersebut telah dinamai Sarawak sebelum kedatangan Brooke, dan kata awak tak pernah ada dalam pengucapan Melayu Sarawak sebelum pembentukan Malaysia.[24]

Sarawak juga berjuluk "Tanah Rangkong" (Bumi Kenyalang) karena rangkong merupakan sebuah simbol kebudayaan penting untuk suku Dayak di Sarawak. Diyakini jika rangkong terlihat terbang di atas pemukiman, maka akan mendatangkan keberuntungan untuk masyarakat lokal. Sarawak juga memiliki 8 dari 56 spesies rangkong di dunia. Rangkong badak adalah burung negara bagian Sarawak.[25]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Bagian utama Gua-Gua Niah

Para pemukim pertama yang mengunjungi Mulut Barat Gua-Gua Niah (berjarak 110 kilometer (68 mi) dari barat daya Miri)[26] 40,000 tahun yang lalu saat Borneo terhubung dengan daratan utama Asia Tenggara. Lanskap di sekitar Gua-Gua Niah lebih kering dan lebih terekspos ketimbang sekarang. Pada jaman prasejarah, Gua-Gua Niah dikelilingi oleh kombinasi hutan tertutpup dengan semak, taman, rawa dan sungai. Para pemukim dapat bertahan hidup di hutan hujan melalui berburu, memancing, dan meramu moluska dan tumbuhan-tumbuhan pangan.[27] Ini dibuktikan dari penemuan tengkorak manusia modern, yang dijuluki "Tengkorak Dalam", di sebuah kedalaman yang digali oleh Tom Harrisson pada 1958;[26][28] penemuan tersebut juga merupakan tengkorak manusia modern tertua di Asia Tenggara.[29] Tengkorak tersebut diyakini berasal dari seorang gadis remaja berusia 16 sampai 17 tahun.[27] Situs-situs penguburan Mesolitikum dan Neolitikum juga ditemukan.[30] Wilayah di sekitaran Gua-Gua Niah telah dijadikan Taman Nasional Niah.[31]

Situs arkeologi lainnya ditemukan di wilayah tengah dan selatan Sarawak. Ekskavasi lainnya yang dilakukan oleh Tom Harrisson pada 1949 mengangkat serangkaian keramik Tiongkok di Santubong (dekat Kuching) yang berasal dari zaman dinasti Tang dan Song pada abad ke-8 sampai ke-13 Masehi. Diyakini, Santubong telah menjadi pelabuhan penting di Sarawak pada masa tersebut, namun kepentingannya menurun pada masa Dinasti Yuan, dan pelabuhan tersebut gulung tikar pada zaman Dinasti Ming.[32] Situs arkeologi lainnya di Sarawak berada di distrik Kapit, Song, Serian, dan Bau.[33]

Kekaisaran Brunei[sunting | sunting sumber]

Pemandangan sungai dari lepas jangkar Sarawak, Borneo, kr. 1800an. Lukisan dari National Maritime Museum, London.

Pada abad ke-16, wilayah Kuching[34] yang dikenal oleh para kartografer Portugis sebagai Cerava, menjadi salah satu dari lima pelabuhan besar di pulau Borneo.[35] Wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Kekaisaran Brunei dan pemerintahannya sendiri berada di bawah pimpinan Sultan Tengah.[15] Pada awal abad ke-19, Sarawak menjadi teritorial yang kurang terperintah di bawah kekuasaan Kesultanan Brunei. Kekaisaran Brunei hanya memerintah di sepanjang kawasan pesisir Sarawak yang dipegang oleh para pemimpin Melayu semi-independen. Sehingga, wilayah dalam Sarawak utamanya didominasi suku-suku yang terdiri dari suku Iban, Kayan, dan Kenyah yang agresif dalam ekspansi teritorial mereka.[36] Setelah penemuan tambang entimon di kawasan Kuching, Pangeran Indera Mahkota (perwakilan Sultan Brunei) mulai mengembangkan wilayah tersebut antara 1824 dan 1830. Saat produksi antimon meningkat, Kesultanan Brunei meraih pajak tinggi dari Sarawak; hal ini berujung kepada ketegangan dan pertikaian saudara.[37] Pada 1839, Sultan Omar Ali Saifuddin II (1827–1852), Sultan Brunei, memerintahkan Pangeran Muda Hashim (paman Sultan Brunei) untuk mengembalikan tatananl peristiwa tersebut terjadi saat James Brooke (penjelajah Inggris) datang ke Sarawak, dan Pangeran Muda Hashim meminta bantuan dalam hak materi, namun Brooke menolaknya.[38] Namun, ia sepakat untuk permintaan tersebut pada kunjungan berikutnya ke Sarawak pada 1841. Pangeran Muda Hashim menandatangani sebuah traktat pada 1841 yang menyerahkan Sarawak kepada Brooke. Pada 24 September 1841,[39] Pangeran Muda Hashim memberikan gelar gubernur kepada James Brooke. Pelantikan tersebut kemudian dikonfirmasikan oleh Sultan Brunei pada Juli 1842. Pada Oktober 1843, James Brooke memutuskan untuk mengambil satu langkah tambahan dan mengangkat Pangeran Muda Hashim dalam Dewan Brunei Court sesiao dengan nasehat Hashim kepada Brooke. Dewan Brunei tak senang dengan pelantikan Hashim dan memerintahkan pemilihannya yang berujung dengan kematiannya pada 1845. Akibatnya, James Brooke membombardir ibukota Brunei. Sultan Brunei memutuskan untuk mengirim sebuah surat permintaan maaf kepada Ratu Viktoria dan mengakui posisi James Brooke di Sarawak dan hak-hak pertambangannya tanpa membayar upeti kepada Dewan Brunei.[40] Pada 1846, Brooke secara efektif menjadi Rajah Sarawak dan mendirikan Dinasti Rajah Putih Sarawak setelah kematian Pangeran Muda Hashim.[41][42]

Dinasti Brooke[sunting | sunting sumber]

Brooke memerintah wilayah tersebut dan meluaskannya ke wilayah utara sampai ia meninggal pada 1868. Ia digantikan oleh keponakannya Charles Anthoni Johnson Brooke, yang digantikan oleh putranya, Charles Vyner Brooke, pada kondisi Charles harus memerintah atas saran dari saudara Vyner Brooke Bertram Brooke.[43] James dan Charles Brooke menandatangani traktat-traktat dengan Brunei sebagai sebuah strategi untuk meluaskan perbatasan-perbatasan wilayah Sarawak. Pada 1861, wilayah Bintulu diserahkan kepada James Brooke. Pada 1883, Sarawak meluas sampai Sungai Baram (dekat Miri). Limbang diakuisisi pada 1885 dan kemudian masukkan dalam wilayah Sarawak pada 1890. Perluasan Sarawak selesai pada 1905 saat Lawas diserahkan kepada pemerintah Brooke.[44][45] Sarawak dibagi dalam lima divisi, berdasarkan pada perbatasan wilayah dari wilayah yang diakuisisi oleh keluarga Brookes sepanjang tahun. Setiap divisi dikepalai oleh seorang Residen.[46] Sarawak diakui sebagai sebuah negara independen oleh Amerika Serikat pada 1850 dan Britania Raya pafa 1864. Negara tersebut mengeluarkan mata uang pertamanya sebagai dolar Sarawak pada 1858.[47] Namun, dalam konteks Malaysia, Brooke dipandang sebagai penjajah.[48]

Sebuah perangko pembayaran Sarawak 1888 yang menampilkan gambar Charles Brooke

Dinasti Brooke memerintah Sarawak selama seratus tahun sebagai "Rajah Putih".[49] Dinasti tersebut mengadopsi kebijakan paternalisme untuk melindungi kepentingan penduduk asli dan seluruh kesejahteraan mereka. Pemerintah Brooke mendirikan sebuah Dewan Tinggi yang terdiri dari para pemimpin Melayu yang menasehati Rajah pada seluruh aspek pemerintahan.[50] Pertemuan Dewan Umum pertama diadakan di Bintulu pada 1867. Dewan Tinggi adalah majelis legislatif negara tertua di Malaysia.[51] Sementara itu, suku Iban dan suku-suku Dayak lainnya dinaungi sebagai militia.[52] Dinasti Brooke juga mengadakan imigrasi pedagang Tionghoa untuk pengembangan ekonomi, khususnya sektor pertambangan dan pertanian.[50] Kapitalis Barat ditolak untuk memasuki negara tersebut sementara misionaris Kristen ditoleransi.[50] Pembajakan, perbudakan, dan pemburuan kepala juga dilarang.[53] Borneo Company Limited dibentuk pada 1856. Perusahaan tersebut terlibat dalam sebagian besar bisnis di Sarawak seperti perdagangan, perbankan, pertanian, eksplorasi mineral, dan pengembangan.[54]

James Brooke awalnya tinggal di sebuah rumah Melayu yang dibangun di Kuching. Pada 1857, para penambang emas Tionghoa Hakka dari Bau, di bawah kepemimpinan Liu Shan Bang, menghancurkan tempat tinggal Brooke. James Brooke melarikan diri dan membentuk pasukan yang lebih besar bersama dengan Charles Brooke[55] dn para pendukung Malayo-Ibannya.[50] Beberapa hari kemudian, tentara Brooke berhasil memotong rute pelarian para pemberontak Tionghoa, yang dihabisi setelah dua bulan pertikaian.[56] Keluarga Brooke kemudian membangun sebuah rumah pemerintahan baru di pinggiran Sungai Sarawak, Kuching yang sekarang dikenal sebagai Astana.[57][58] Sebuah faksi anti-Brooke di Pemerintahan Brunei menyerah pada 1860 di Mukah. Pemberontakan terkenal lainnya yang berhasil ditumpas oleh keluarga Brooke meliputi orang-orang yang dipimpin oleh seorang kepala suku Iban Rentap (1853 – 1863), dan seorang pemimpin Melayu bernama Syarif Masahor (1860 – 1862).[50] Akibatnya, serangkaian benteng dibangun di sekitaran Kuching untuk melindungi kekuasaan Rajah. Benteng-benteng tersebut meliputi Benteng Margherita, yang diselesaikan pada 1879.[58] Pada 1891, Charles Anthoni Brooke mendirikan Museum Sarawak, museum tertua di Borneo.[58][59] Pada 1899, Charles Anthoni Brooke menjinakkan peperangan antar-suku di Marudi. Pada 1910, sumur minyak pertama dibor di Sarawak. Galangan dok Brooke dibuka pada 1912. Anthony Brooke lahir pada tahun yang sama dan menjadi Rajah Muda pada 1939.[60]

Pada 1941, pada perayaan keseratus pemerintahan Brooke di Sarawak, konstitusi baru diperkenalkan untuk membatasi kekuasaan Rajah dan memperbolehkan orang Sarawak unbtuk memainkan peran yang lebih besar dalam memfungsikan pemerintah.[61] Namun, konstitusi tersebut mengandung iregularitas, termasuk sebuah perjanjian rahasia yang dibuat antara Charles Vyner Brooke dan para pejabat pemerintah Inggris, dimana Vyner Brooke menyerahkan Sarawak sebagai Koloni Mahkota Britania dalam mengembalikan kompensasi keuangan kepadanya dan keluarganya.[49][62]

Pendudukan Jepang dan pembebasan Sekutu[sunting | sunting sumber]

Pemandangan udara kamp tahanan perang Batu Lintang; foto diambil pada atau setelah 29 Agustus 1945.
Upacara penyerahan resmi Jepang kepada pasukan Australia di Kuching pada 11 September 1945.

Pemerintahan Brooke, di bawah kepemimpinan Charles Vyner Brooke, mendirikan beberapa bandar udara di Kuching, Oya, Mukah, Bintulu, dan Miri untuk persiapan dalam peristiwa perang. Pada 1941, Inggris menarik pasukan pertahannnya dari Sarawak dan kembali ke Singapura. Karena Sarawak menjadi tidak terjaga, rezim Brooke memutuskan untuk mengadopsi kebijakan bumi hangus dimana instalasi-instalasi minyak di Miri akan dihancurkan dan pangkalan udara Kuching dipertahankan selama mungkin sebelum kemudian dihancurkan. Sementara itu, pasukan Jepang memutuskan untuk menyerbu Borneo Britania untuk mempertahankan sisi timur mereka dalam Kampanye Malaya dan untuk memfasilitasi invasi mereka ke Sumatra dan Jawa Barat. Sebuah pasukan invasi Jepang yang dipimpin oleh Kiyotake Kawaguchi mendarat di Miri pada 16 Desember 1941 (dalapan hari dalam Kampanye Malaya) dan menaklukan Kuching pada 24 Desember 1941. Pasukan Inggris yang dipimpin oleh Letnan Kolonel C. M. Lane memutuskan untuk retret ke Singkawang di Borneo Belanda yang berbatasan dengan Sarawak. Setelah sepuluh minggu bertempur di Borneo Belanda, pasukan Sekutu menyerah pada 1 April 1942.[63] Saat Jepang menginvasi Sarawak, Charles Vyner Brooke telah pergi ke Sydney (Australia) sementara para perwiranya ditangkap oleh Jepang dan dimasukkan ke kamp Batu Lintang.[64]

Sarawak masih menjadi bagian dari Kekaisaran Jepang selama tiga tahun delapan bulan. Sarawak, bersama dengan Borneo Utara dan Brunei, membentuk sebuah unit administratif tunggal yang bernama Kita Boruneo (Borneo Utara)[65] di bawah Angkatan Darat ke-37 Jepang yang bermarkas besar di Kuching. Sarawak terbagi dalam tiga provinsi, yakni: Kuching-shu, Sibu-shu, dan Miri-shu, yang masing-masing berada di bawah kepemimpinan Gubernur Provinsial Jepang mereka masing-masing. Pada dasarnya, Jepang masih memakai mesin administratif pra-perang dan memangku Jepang untuk posisi pemerintahan. Pemerintahan dalam negeri Sarawak terdiri dari kepala desa dan polisi penduduk asli, di bawah pimpinan Jepang. Meskipun orang Melayu biasanya bersikap baik terhadap Jepang, suku-suku asli lainnya seperti Iban, Kayan, Kenyah, Kelabit dan Lun Bawang memandang buruk mereka karena kebijakan-kebijakan seperti buruh paksa, pemaksaan mengirimkan kebutuhan makanan, dan penyiataan senjata api. Jepang tidak menyediakan kekuatan besar dalam melumpuhkan penduduk Tionghoa karena Tionghoa di negara bagian tersebut umumnya apolitis. Namun, sejumlah besar Tionghoa berpindah dari kawasan pedesaan ke wilayah yang kurang terakses untuk menghindari kontak dengan Jepang.[66]

Pasukan Sekutu kemudian membentuk Unit Khusus Z untuk menyabotase operasi-operasi Jepang di Asia Tenggara. Bermula pada Maret 1945, para komandan Sekutu diterjunkan ke hutan-hutan Borneo dan mendirikan beberapa markas di Sarawak di bawah sebuah operasi yang bernama kode "Semut". Ratusan orang asli dilatih untuk meluncurkan pemberontakan melawan Jepang. Intelijensi yang dikumpulkan dari operasi tersebut membantu pasukan Sekutu (yang dikepalai oleh Australia) untuk menaklukan kembali Borneo pada Mei 1945 melalui Operasi Oboe Six.[67] Hal ini berujung pada menyerahnya Jepang kepada pasukan Australia pada 10 September 1945 di Labuan,[68][69] disusul oleh upacara penyerahan resmi di Kuching di atas Corvette Australia HMAS Kapunda pada hari berikutnya.[70] Sarawak kemudian ditempatkan di bawah Pemerintahan Militer Inggris sampai April 1946.[71]

Koloni mahkota Inggris[sunting | sunting sumber]

Unjuk rasa Anti-Penyerahan di Sarawak

Setelah perang, pemerintah Brooke tidak berniat membangun kembali Sarawak. Charles Vyner Brooke juga tak mengkehendaki pengambilalihan kekuasaannya kepada pewaris tahtanya, Anthony Brooke (keponakannya, putra tunggal Bertram Brooke) karena perbedaan tajam antara mereka.[36] Di samping itu, istri Vyner Brook, Sylvia Brett, juga berusaha untuk mendiskreditkan Anthony Brooke sesambil berupaya agar putrinya sendiri mendapatkan tahta tersebut. Sehingga, Vyner Brooke memutuskan untuk menyerahkan kedaulatan Sarawak kepada Mahkota Inggris.[62] Undang-Undang Penyerahan dibuat di Dewan Negri (sekarang Majelis Legislatif Negara Bagian Sarawak) dan debat berlangsung selama tiga hari. Undang-Undang tersebut disahkan pada 17 Mei 1946 dengan suara mayoritas (19 lawan 16 suara). Para pendukung undang-undang tersebut kebanyakan adalah para pejabat Eropa, sementara orang-orang Melayu menentang undang-undang tersebut. Hal ini menyebabkan ratusan PNS Melayu mengundurkan diri sebagai bentuk protes, merebakkan gerakan anti-penyerahan dan pembunuhan gubernur kolonial kedua Sarawak Sir Duncan Stewart oleh Rosli Dhobi.[72]

Anthony Brooke menentang penyerahan teritorial Rajah kepada Mahkota Inggris. Sehingga, ia ikut dalam kelompok anti-penyerahan di Sarawak, khususnya setelah pembunuhan Sir Duncan Stewart.[73] Anthony Brooke melanjutkan klaim kedaulatan sebagai Rajah Sarawak bahkan setelah Sarawak menjadi sebuah koloni Mahkota Inggris pada 1 Juli 1946.[62] Karena itu, ia diusir dari Sarawak oleh pemerintah kolonial[50] dan baru diperbolehkan kembali pada 17 tahun berikutnya untuk kunjungan nostalgia, saat Sarawak menjadi bagian dari Malaysia.[74] Pada 1950, seluruh gerakan anti-penyerahan di Sarawak diredam oleh pemerintah kolonial.[36] Pada 1951, Anthony mencairkan kembali seluruh klaim-klaimnya terhadap tahta Sarawak setelah ia menggunakan tuntutan hukum terakhirnya di Dewan Penasehat.[74]

Kemerdekaan dan Federasi Malaysia[sunting | sunting sumber]

Tan Sri Datuk Amar Stephen Kalong Ningkan mendeklarasikan pembentukan Federasi Malaysia pada 16 September 1963

Pada 27 Mei 1961, Tunku Abdul Rahman, perdana menteri Federasi Malaya, mengumumkan sebuah rencana untuk membentuk federasi yang lebih besar bersama dengan Singapura, Sarawak, Sabah dan Brunei, yang disebut Malaysia. Rencana terserebut menyebabkan para pemimpin lokal di Sarawak waspada terhadap niat Tunku dalam pandangan perbedaan besar dalam pengembangan sosioekonomi di negara-negara Borneo. Hal tersebut menjadi kekhawatiran besar yang tanpa lembaga politik yang kuat, negara-negara Borneo akan menjadi subyek kolonisasi Malaya. Sehingga, berbagai partai politik di Sarawak didirikan untuk melindunhi kepentingan komunitas yang mereka wakili. Pada 17 Januari 1962, Komisi Cobbold dibentuk untuk menggerakan dukungan Sarawak dan Sabah terhadap federasi tersebut. Antara Februari dan April 1962, komisi tersebut mendatangkan lebih dari 4,000 orang dan meraih 2,200 memoranda dari berbagai kelompok. Komisi tersebut dilaporkan membagi dukungan terhadap penduduk Borneo. Namun, Tunku menyatakan bahwa jumlah dukungannya sejumlah 80 persen untuk federasi tersebut.[75][76] Sarawak membuat sebuah perjanjian 18 poin untuk mengamankan kepentingannya di federasi tersebut. Pada 26 September 1962, Dewan Negri Sarawak mengesahkan sebuah resolusi yang mendukung federasi tersebut dengan sebuah kondisi yang kepentingam orang Sarawak tidak akan kompromikan. Pada 23 Oktober 1962, lima partai politik di Sarawak membentuk sebuah front persatuan yang mendukung pembentukan Malaysia.[77] Sarawak resmi meraih kemerdekaan pada 22 Juli 1963,[16][17][18] dan kemudian membentuk federasi Malaysia dengan Malaya, Borneo Utara, dan Singapura pada 16 September 1963.[78][79]

Sarawak Rangers yang terdiri dari suku Iban melompat dari helikopter Bell UH-1 Iroquois Angkatan Udara Kerajaan Australia untuk mempertahankan perbatasan Malaysia–Thailand dari serangan gerilya potensial pada 1965, dua tahun sebelum dimulainya pemberontakan komunis kedua di Semenanjung Malaya pada 1968.

Federasi Malaysia mengadapi penentangan dari Filipina, Indonesia, Partai Rakyat Brunei, dan Organisasi Komunis Clandestine (OKC). Filipina dan Indonesia mengklaim bahwa Inggris akan "me-neokolonialisme-kan" negara-negara Borneo melalui federasi tersebut.[80] Sementara itu, A. M. Azahari, pemimpin Partai Rakyat Brunei, mengadakan Pemberontakan Brunei pada Desember 1962 dalam rangka menolak federasi Malaysia.[81] Azahari mengambil wilayah Limbang dan Bekenu sebelum dikalahkan oleh pasukan militer Inggris yang dikirim dari Singapura. Mengklaim bahwa pemberontakan Brunei adalah bukti penentangan solid terhadap federasi Malaysia, Presiden Indonesia Sukarno memerintahkan sebuah konfrontasi militer dengan Malaysia, mengirim para sukarelawan bersenjata dan kemudian pasukan militer ke Sarawak. Sarawak menjadi flashpoint pada masa konfrontasi Indonesia–Malaysia antara 1962 dan 1966.[82][83] Konfrontasi semacam itu meraih dukungan kecil dari orang-orang Sarawak kecuali untuk OKC. Ribuan anggota OKC datang ke Kalimantan dan dilatih oleh Partai Komunis Indonesia. Pada masa konforntasi tersebut, sekitar 10,000 sampai 150,000 pasukan Inggris ditempatkan di Sarawak, bersama dengan pasukan Australia dan Selandia Baru. Saat Suharto menggantikan Sukarno sebagai presiden Indonesia, negosiasi dimulai kembali antara Malaysia dan Indonesia yang berujung pada akhir konfrontasi pada 11 Agustus 1966. Pada 1967, sebuah perjanjian baru ditandatangani yang meminta siapapun yang berharap untuk melintasi perbatasan Sarawak – Kalimantan untuk melakukan pengecekan di pos kontrol perbatasan.[80]

Setelah pembentukan Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, ideologi Maoisme mulai memprenetrasi sekolah-sekolah Tionghoa di Sarawak. Kelompok komunis pertama di Sarawak dibentuk pada 1951, yang bermula di SMP Chung Hua (Kuching). Kelompok tersebut digantikan oleh Liga Pembebasan Sarawak (LPS) pada 1954 (juga dikenal sebagai OKS oleh sumber-sumber pemerintah). Aktivitasnya menyebar dari sekolah ke serikat dagang dan petani. Aktivitias OKS umumnya terkonsentrasi di wilayah selatan dan tengah Sarawak. Kelompok tersebut juga berhasil mempenetrasikan sebuah partai politik bernama Partai Persatuan Rakyat Sarawak (PPRS). OKS berusaha untuk mewujudkan sebuah negara komunis di Sarawak melalui jalur konstitusional namun pada masa konfrontasi, kelompok tersebut melakukan perjuangan bersenjata melawan pemerintah.[36] Weng Min Chyuan dan Bong Kee Chok adalah dua pemimpin terkenal OKS. Setelah itu, pemerintah Sarawak mulai mendirikan Desa-Desa Baru di sepanjang jalan Kuching – Serian untuk menghindari masyarakat dari bantuan komunis. OKS secara resmi membentuk Partai Komunis Kalimantan Utara (PKKU) pada 1970. Pada 1973, Bong menyerah kepada ketua menteri Abdul Rahman Ya'kub; hal tersebut secara signifikan mengurangi kekuatan partai komunis. Namun, Weng, yang memimpin OKS dari Tiongkok sejak pertengahan 1960an, menyerukan perjuangan bersenjata melawan pemerintah, yang setelah 1974 berlanjut di Delta Rajang. pada 1989, Partai Komunis Malaya (PKM) menandatangani sebuah perjanjian perdamaian dengan pemerintah Malaysia. Hal ini menyebabkan PKKU membuka kembali negosiasi dengan pemerintah Sarawak, yang berujung pada perjanjian damai pada 17 Oktober 1990. Perdamaian direstorasi di Sarawak setelah kelompok akhir beranggotakan 50 gerilyawan komunis menurunkan senjata mereka.[84][85]

Politik[sunting | sunting sumber]

Pemerintah[sunting | sunting sumber]

Garis waktu partai politik di Sarawak

Kepala negara bagian Sarawak adalah Yang di-Pertua Negeri (juga dikenal sebagai TYT atau Gubernur Negara Bagian), sebuah jabatan yang sebagian besar simbolik, yang dilantik oleh Yang di-Pertuan Agong (raja) Malaysia.[86] TYT melantik ketua menteri sebagai kepala negara. Umumnya, pemimpin partai yang mendapatkan suara mayoritas Majelis Legislatif negara bagian tersebut dilantik sebagai ketua menteri. Para perwakilan terpiki dikenal sebagai anggota majelis negara bagian. Majelis negara bagian mengesahkan hukum-hukum pada subyek yang tidak berada di bawah yuridiksi Parlemen Malaysia seperti administrasi lahan, pekerjaan, kehutanan, imigrasi, perkapalan dagang dan perikanan. Pemerintah negara bagian diurus oleh ketua menteri dan menteri-menteri kabinet dan asisten-asisten menterinya.[87]

Untuk melindungi kepentingan orang-orang Sarawak di federasi Malaysia, pengamanan khusus dimasukkan dalam Konstitusi Malaysia. Sarawak memiliki kekuasaan untuk mengkontrol entri tersebut dan keresidenan non-Sarawak dan non-Sabah. Hanya pengacara yang tinggal di Sarawak yang dapat berpraktik hukum disana. Mahkamah Tinggi Sarawak adalah Mahkamah Tinggi independen di Semenanjung Malaysia. Ketua menteri Sarawak harus berkonsultasi sebelum pelantikan ketua hakim Mahkamah Tinggi Sarawak. Terdapat juga Mahkamah Penduduk Asli di Sarawak. Sarawak meraih pemberian khusus dari pemerintah federal dan mengubah pajak penjualannya sendiri. Penduduk asli di Sarawak menikmati hak-hak khusus seperti kuota dan pekerjaan dalam layanan publik, beasiswa, penempatan universitad, dan ijin usaha.[88] Pemerintah lokal di Sarawak adalah independen menurut hukum otoritas lokal yang diberlakukan oleh parlemen Malaysia.[89]

Gedung Majelis Negara Bagian yang diduduki Majelis Legislatif Negara Bagian Sarawak

Partai-partai politik besar di Sarawak terbagi dalam tiga kategori: penduduk asli non-Muslim, penduduk asli Muslim, dan non-penduduk asli; namun, partai-partai tersebut juga dapat meliputi anggota-anggota dari lebih dari satu kelompok.[90] Partai politik pertama, Partai Persatuan Rakyat Sarawak (PPRS), didirikan pada 1959, disusul oleh Parti Negara Sarawak (PANAS) (pada 1960) dan Partai Nasional Sarawak (SNAP) (pada 1961). Partai politik besar lainnya seperti Parti Pesaka Sarawak (PESAKA) muncul pada 1962.[36] Sarawak telah menjadi kekuasaan politik dari pemerintahan Partai Aliansi dan, kemudian, penerusnya koalisi Barisan Nasional (BN) sejak pembentukan Malaysia pada 1963. Stephen Kalong Ningkan (dari SNAP) menjadi Ketua Menteri Sarawak pertama dari 1963 sampai 1966 setelah kemenangannya dalam pemilihan dewan lokal. Namun, ia dilengserkan pada 1966 oleh Tawi Sli (dari PESAKA) dengan bantuan pemerintah federal Malaysia, yang menyebabkan krisis konstitusional Sarawak 1966.[36] Iklim politik di negara bagian tersebut stabil sampai Urusan Dewan Ming 1987, sebuah kudeta politik yang diadakan oleh paman Abdul Taib Mahmud untuk melengserkan koalisi BN pimpinan Taib. Namun, kudeta tersebut gagal dan Taib masih mempertahankan status ketua menterinya.[91]

Pada 1970, pemilihan negara bagian Sarawak pertama diadakan, dimana para anggota Dewan Negri (sekarang Majelis Legislatif Negara Bagian Sarawak) dipilih langsung oleh para pemilih. Pemilihan tersebut juga menandai permulaan dominasi etnis Melanau dalam politik Sarawak oleh Abdul Rahman Ya'kub dan Abdul Taib Mahmud. Pada tahun yang sama, Partai Komunis Kalimantan Utara (PKKU) dibentuk, yang melakukan perang gerilya melawan pemerintahan negara bagian Sarawak yang baru terpilih. Partai tersebut dibubarkan setelah menandatangani perjanjian damai pada 1990.[85] Pada 1973, Parti Pesaka Bumiputera Bersatu (PBB) lahir setelah penggabungan beberapa partai.[92] Partai tersebut kemudian akan menjadi tulang punggung koalisi BN Sarawak. Sejak 1983, sebuah partai yang berbasis Dayak, SNAP, telah terpecah menjadi beberapa pecahan partai karena krisis-krisis kepemimpinan bertubi-tibu.[93][94] Sarawak awalnya mengadakan pemilihan negara bagian bersamaan dengan pemilihan parlementer nasional. Namun, ketua menteri pada waktu itu Abdul Rahman Ya'kub menunda pembubaran majelis negara bagian selama setahun untuk menyiapkan tantangan yang yang ditaruh oleh partai-partai oposisi dan untuk menyelesaikan alokasi kursi untuk partai SNAP yang baru masuk dalam BN Sarawak.[95] Hal ini menjadikan Sarawak satu-satunya negara bagian di Malaysia yang mengadakan pemilihan negara bagian terpisah dari pemilihan-pemilihan parlementer nasional sejak 1979.[96]

Pada 1978, Partai Aksi Demokrat (PAD) menjadi partai berbasis Malaysia Barat pertama yang membuka cabang-cabangnya di Sarawak.[92] Partai tersebut mendapatkan mayoritas dukungannya dari pusat-pusat perkotaan sejak pemilihan negara bagian 2006 dan menjadi partai oposisi terbesar di Sarawak.[97] Pada 2010, partai tersebut membentuk koalisi Pakatan Rakyat dengan Parti Keadilan Rakyat (PKR) dan Parti Islam Se-Malaysia (PAS); dua partai tersebut telah aktif di Sarawak antara 1996 dan 2001.[98] Sarawak adalah satu-satunya negara bagian di Malaysia dimana partai-partai komponen yang berbasis di Semenanjung dalam koalisi BN, khususnyaUMNO, tidak aktif dalam politik Sarawak.[99]

Divisi administratif[sunting | sunting sumber]

Divisi[sunting | sunting sumber]

Tak seperti negara bagian lainnya di Malaysia Barat, Sarawak terbagi dalam divisi-divisi ketimbang distrik. Setiap divisi dikepalai oleh satu residen. Saat ini, negara bagian tersebut terbagi dalam 12 divisi:[86][100]

Distrik[sunting | sunting sumber]

Divisi-divisi tersebut kemudian terbagi dalam distrik-distrik, setiap distrik dikepalai oleh seorang pejabat distrik; setiap distrik terbagi dalam subdistrik, setiap subdistrik dikepalai oleh Pejabat Pemerintahan Sarawak (PPS). Sekarang, terdapat sekitar 39 distrik di negara bagian tersebut. Terdapat juga satu Pejabat Pengembangan untuk setiap Divisi dan Distrik untuk mengimplementasikan proyek-proyek pengembangan. Untuk setiap distrik, pemerintah negara bagian memilih seorang kepala desa (dikenal sebagai ketua kampung atau penghulu) untuk setiap desa.[86][100] 39 pemerintah lokal di Sarawak berada di bawah yuridiksi Kementerian Pemerintah Lokal dan Pengembangan Masyarakat Sarawak.[101] Daftar divisi, distrik, dan subdistrik ditampilkan dalam tabel di bawah ini:[7]

Divisi Distrik Subdistrik
Kuching Kuching Padawan
Bau
Lundu Sematan
Samarahan Samarahan
Asajaya Sadong Jaya
Simunjan Sebuyau
Serian[3] Serian Siburan
Tebedu
Sri Aman Sri Aman Lingga
Pantu
Lubok Antu Engkilili
Betong Betong Spaoh
Debak
Pusa[102] Maludam
Saratok
Kabong Roban
Sarikei Sarikei
Meradong
Julau
Pakan
Mukah Mukah Balingian
Dalat Oya
Daro
Matu Igan
Tanjung Manis
Sibu Sibu
Kanowit
Selangau
Kapit Kapit Nanga Merit
Song
Belaga Sungai Asap
Bintulu Bintulu
Tatau
Sebauh
Miri Miri Bario
Marudi Mulu
Subis Niah
Beluru Tinjar
Telang Usan Long Lama
Long Bedian
Limbang Limbang Nanga Medamit
Lawas Sundar
Trusan

Keamanan[sunting | sunting sumber]

Pasukan bersenjata paramiliter pertama di Sarawak, sebuah resimen yang dibentuk oleh rezim Brooke pada 1862, dikenal sebagai Sarawak Rangers.[103] Resimen tersebut telah membantu pemerintahan Brooke untuk menjinakkan negara bagian tersebut, dan ikut dalam perang gerilya melawan Jepang, dalam Masa Darurat Malaya dan Pemberontakan Komunis Sarawak melawan komunis. Resimen tersebut dikenal karena kemampuannya dalam mengarungi hutan. Setelah pembentukan Malaysia, resimen tersebut dimasukkan ke dalam pasukan militer Malaysia dan sekarang dikenal sebagai Resimen Ranger Kerajaan.[104] Pada 1888, Sarawak, bersama dengan Borneo Utara tetangganya, dan Brunei, menjadi protektorat Inggris, dimana tugas kebijakan luar negeri ditengani Inggris dalam rangka perlindungan militer.[105] Keamanan Sarawak juga menjadi tanggung jawab Australia dan Selandia Baru.[106] Setelah pembentukan Malaysia, pemerintah federal Malaysia secara tunggal bertanggung jawab untuk kebijakan luar negeri dan pasukan militer di negara tersebut.[107][108]

Persengketaan wilayah[sunting | sunting sumber]

Sarawak telah menghadapi beberapa persengketaan wilayah, yang meliputi dengan negara-negara tetangga Malaysia yakni Brunei dan Indonesia, serta dengan Tiongkok atas kepemilikan pulau-pulau di Laut Tiongkok Selatan.[109][110][111] Pada 2009, Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengklaim bahwa Brunei telah menurunkan klaimnya atas Limbang.[112] Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Menteri Laut Negeri Brunei Lim Jock Seng, yang menyatakan bahwa masalah tersebut tak pernah didiskusikan pada pertemuan.[113] Sarawak mengklaim Karang James (Beting Serupai) dan Karang Luconia (Beting Raja Jarum/Patinggi Ali) sebagai bagian dari zona ekonomi eksklusif-nya (ZEE).[114] Sementara itu, terdapat beberapa masalah perbatasan Sarawak – Kalimantan yang diduduki oleh Indonesia.[115]

Lingkungan hidup[sunting | sunting sumber]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sarawak terletak di barat laut Borneo seperti yang terlihat dari citra satelit NASA.

Total luas tanah Sarawak sebesar hampir 124,450 square kilometer (48,050 sq mi), dan membentang dari lintang utara 0° 50′ dan 5° dan bujur timur 109° 36′ dan 115° 40′ E. Sarawak meliputi 37.5 persen dari total wilayah Malaysia.[116] Wilayah tersebut terdiri dari kawasan hutan hujan tropis besar dengan tumbuhan dan spesies hewan yang berlimpah.[117]

Negara bagian memiliki garis pesisir sepanjang 750 kilometer (470 mi), yang terlewati oleh pesisir Brunei dengan luas sekitar 150 kilometer (93 mi) di bagian utara. Sarawak terpisah dari Borneo Kalimantan dengan rangkaian perbukitan dan pegunungan tingga yang merupakan bagian dari rangkaian gunung tengah Borneo. Rangkaian tersebut membentang sampai ke utara, dan bagian tertingginya berada di dekat Sungai Baram di puncak Gunung Batu Lawi dan Gunung Mulu. Gunung Murud adalah titik tertinggi di Sarawak.[19] Taman Nasional Perbukitan Lambir dikenal karena berbagai air terjunnya.[118] Sebuah ruang bawah tanah terbesar di dunia, Ruang Sarawak, terletak di dalam Taman Nasional Gunung Mulu. Tempat wisata di taman tersebut meliputi Gua Rusa (gua terbesar kedua di dunia)[119] dan Gua Air Bersih (sistem gua terpanjang di Asia Tenggara).[120][121] Taman nasional tersebut juga menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.[122]

Sarawak umumnya terbagi dalam tiga kawasan ekologi. Kawasan pesisir memiliki ketinggian yang rendah dan datar dengan wilayah-wilayah rawa yang besar dan lingkungan basah lainnya. Pantai-pantai di Sarawak meliputi: pantai Pasir Panjang[123] dan Damai di Kuching,[124] pantai Tanjung Batu di Bintulu,[125] dan pantai Tanjung Lobang[126] dan Hawaii di Miri.[127] Kawasan dataran tinggi dikenal karena kebanyakan lahan yang ditinggali dan dimana kebanyakan kota ditemukan. Pelabuhan Kuching dan Sibu dibangun beberapa jarak dari pesisir sungai. Bintulu dan Miri dekat dengan garis pesisir dimana pdrbukitan membentang sampai Laut Tiongkok Selatan. Kawasan ketiganya adalah kawasan pegunungan di sepanjang perbatasan Kalimantan – Borneo dan dengan dataran tinggi Kelabit (Bario), Murut (Ba'kelalan) dan Kenyah (Usun Apau Plieran) di bagian utara.[19]

Sungai Rajang adalah sungai terpanjang di Malaysia

Sungai-sungai besar di Sarawak adalah Sungai Sarawak, Sungai Lupar, Sungai Saribas, dan Sungai Rajang. Sungai Sarawak adalah sungai utama yang mengalir melalui Kuching. Sungai Rajang adalah sungai terpanjang di Malaysia, yang memiliki panjang 563 kilometer (350 mi) termasuk Sungai Balleh, anak sungainya. Sampai ke utara, Sungai Baram, Sungai Limbang, dan Sungai Trusan bermuara ke Teluk Brunei.[19]

Sarawak memiliki geografi tropis dengan iklim khatulistiwa. Hal tersebut menyebabkan dua musim muson: muson timur laut dan muson barat daya. Muson timur laut terjadi antara November dan Februari, yang menyebabkan hujan deras; museon barat daya menyebabkan hujan berkurang. Iklim tersebut stabil sepanjang tahun kecuali untuk dua muson tersebut. Rata-rata suhu harian beragam dari 23 °C (73 °F) pada pagi hari sampai 32 °C (90 °F) pada siang hari, dengan Miri memiliki rata-rata suhu terencam dibandingkan kota-kota besar lainnya di Sarawak. Miri juga memiliki waktu sinar mata hari yang paling banyak (lebih dari enam jam sehari), sementara wilayah lainnya mendapatkan sinar matahari selama lima sampai enam jam sehari. Kelembapan biasanya tinggi dengan ukuran mencapai 68 persen. Curah hujan tahunan beragam antara 330 sentimeter (130 in) dan 460 sentimeter (180 in), yang berlangsung selama 220 hari setahun.[116] Lothosol dan lithosol meliputi 60 persen kandungan tanah, sementara podsol meliputi 12 persen kandungan tanah di wilayah Sarawak. Alluvium ditemukan di wilayah pesisir dan bersungai sementara 12 persen wilayah Sarawak diliputi hutan gambut.[116]

Sarawak terbagi dalam dua kawasan geologi: Lempeng Sunda, yang membentang dari barat daya Sungai Batang Lupar (dekat Sri Aman) dan membentuk ujung selatan Sarawak, dan kawasan geosinklin, yang membentang dari timur laut sampai Sungai Batang Lupar, membentuk wilayah utara dan tengah Sarawak. Batu tertua di selatan Sarawak adalah sekis, yang terbentuk pada zaman Carboniferous dan Permian Rendah. Sementara batuan beku termuda di kawasan tersebut adalah andesit, yang ditemukan di Sematan. Pembentukan geologi wilayah tengah dan utara dimulai pada akhir zaman Kapur. Beberapa jenis batuan yang dapat ditemukan di tengah dan utara Sarawak adalah batuserpih, batu pasir, dan rijang.[116]

Keragaman hayati[sunting | sunting sumber]

Garis pesisir Sarawak diselimuti dengan hutan mangrove dan nipah. Hutan tersebut meliputi dua persen dari total wilayah hutan di Sarawak, yang paling umum ditemukan di wilayah estuarine Kuching, Sarikei, dan Limbang. Pohon-pohon besar yang ditemukan disana meliputi: bako (Rhizophora), palem nipah (Nypa fruticans), dan nibong (Oncosperma tigillarium). Hutan gambut meliputi 16 persen wilayah hutan yang terkonsentrasi di selatan Miri dan hilir Lembah Baram. Pohon-pohon utama di hutan gambut tersebut meliputi: ramin (Gonystylus bancanus), meranti (spesies Shorea), dan medang jongkong (Dactylocladus stenostachys). Hutan Kerangas meliputi lima persen dari total wilayah hutan, sementara hutan-hutan Dipterocarpaceae meliputi wilayah-wilayah pegunungan[116] Beberapa spesies tumbuhan dipelajari untuk keperluan pengobatannya.[128]

Sebuah jalan menuju Taman Nasional Perbukitan Lambir.

Hutan hujan Sarawak memiliki salah satu konsentrasi tertinggi dari spesies per area unit di dunia. Negara bagian tersebut memiliki sekitar 185 spesies mamalia, 530 spesies burung, 166 spesies ular, 104 spesies kadal, dan 113 spesies amfibi. Negara bagian tersebut juga meliputi 19 persen mamalia, 6 persen burung, 20 persen ular dan 32 spesies kadal sebagai spesies endemik. Spesies-spesies tersebut kebanyakan ditemukan di Kawasan yang Dilindungi Penuh. Terdapat 2,000 spesies pohon, 1,000 spesies mawar, 757 spesies tumbuhan paku dan 260 spesies palem.[129] Negara bagian tersebut juga merupakan habitat hewan-hewan terancam, yang meliputi gajah kalimantan, bekantan, orangutan dan badak.[130][131][132][133][134] Pusat Kehidupan Liar Matang, Cagar Alam Semenggoh, dan Suaka Margasatwa Lanjak Entimau[135] dikenal karena program perlindungan orangutan mereka.[136][137] Taman Nasional Talang – Satang dikenal karena inisiatif konservasi penyu-nya.[138] Pengamatan burung adalah sebuah aktivitas umum di berbagai taman nasional seperti Taman Nasional Gunung Mulu, Taman Nasional Perbukitan Lambir,[139] dan Taman Nasional Similajau.[140] Taman Nasional Miri – Sibuti dikenal karena terumbu karangnya[141] dan Taman Nasional Gunung Gading dikenal karena bunga-bunga Rafflesia-nya.[142] Taman Nasional Bako, taman nasional tertua di Sarawak, dikenal karena 275 spesies bekantan-nya,[143] dan Taman Pemakan Serangga Padawan dikenal karena berbagai tumbuhan pemakan serangga karnivora-nya.[144] Pada 1854, Alfred Russel Wallace mengunjungi Sarawak. Setahun kemudian, ia merumuskan "Hukum Sarawak" yang membentuk dasar teori seleksi alam.[145]

Pemerintah negara bagian Sarawak telah mengeluarkan beberapa hukum untuk melindungi hutan dan spesies liar terancam, yang merliputi Undang-Undang Kehutanan 1958,[146] Undang-Undang Perlindungan Kehidupan Liar 1998,[147] dan Undang-Undang Suaka Margasatwa dan Cagar Alam Sarawak.[148] Beberapa spesies yang dilindingi adalah orangutan, penyu hijau, kubung, dan Bycanistes fistulator. Di bawah Undang-Undang Perlindungan Kehidupan Liar 1998, penduduk asli Sarawak diberi ujun untuk berburu hewan-hewan liar di hutan namun tidak boleh memiliki daging seberat lebih dari 5 kilogram (11 lb).[149] Departemen Kehutanan Sarawak didirikan pada 1919 untuk melindungi sumber daya hutan di negara bagian tersebut.[150] Setelah kritikan internasional terhadap industri penebangan di Sarawak, pemerintah negara bagian memutuskan untuk meniadakan Departemen Kehutanan Sarawak dan membentuk Perusahaan Kehutanan Sarawak pada 1995.[151][152] Pusat Keragaman Hayati Sarawak dibentuk pada 1997 untuk konservasi, perlindungan dan pengembangan keragaman hayati di negara bagian tersebut.[153]

Masalah konservasi[sunting | sunting sumber]

Sebuah kamp penebangan di sepanjang Sungai Rajang

Persentase hutan saat ini yang menyelimuti Sarawak telah menjadi kontroversial. Ketua menteri Abdul Taib Mahmud mengklaim bahwa negara bagian tersebut meliputi 70 persen hutan pada 2011 dan 48 persen pada 2012.[154] Namun, pada 2012 menteri kabinetnya mengklaim bahwa hutannya meliputi 80 persen.[154] Pemerintah Sarawak juga berencana untuk memulihkan 60 persen hutan pada tahun-tahun mendatang.[155] Departemen Kehutanan Sarawak menyatakan bahwa hutannya meliputi 80 persen pada 2012.[156] Sebaliknya, media asing menyatakan bahwa Srawak telah kehilangan 90 persen hutannya[157][158] dengan hanya 3 persen sampai 5 persen yang masih ada.[159] Menurut Wetlands International, 10 persen dari seluruh hutan Sarawak dan 33 persen hutan gambut digunduli antara 2005 dan 2010, yang 3.5 kali lebih tinggi ketimbang total tingkat pengawahutanan di Asia dan 11.7 kali lebih dari pengawahutanan gambut di Asia.[160][161]

Hutan-hutan hujan Sarawak secara bertahap berkurang karena industri penebangan dan penanaman kelapa sawit.[162] Masalah hak asasi manusia Penan dan pengawahutanan di Sarawak menjadi masalah lingkungan hidup internasional saat aktivis Swiss Bruno Manser masuk Sarawak dari 1984 sampai 2000.[163] Pengawahutanan berdampak pada kehidupan suku-suku pribumi, khususnya Penan, yang hidupnya sangat bergantung pada produksi hutan. Hal tersebut menyebabkan beberapa blokade oleh suku-suku asli, pada 1980an dan 1990an melawan perusahaan-perusahaan penebangan yang merampas tanah mereka.[164] Terdapat juga kasus dimana lahan-lahan yang dimiliki penduduk asli diberikan kepada perusahaan penanaman dan kayu tanpa ijin penduduk lokal.[165] Penduduk pribumi menuntut penindakan hukum untuk pengembalian hak atas lahan mereka. Pada 2001, Pengadilan Tinggi Sarawak secara penuh penindakan lahan penduduk asli yang diklaim oleh orang Rumah Nor, namun hanya sebagian pada 2005. Namun, kasus tersebut dipandang sebagai preseden, yang menyebabkan kebanyakan hak atas lahan penduduk asli dipegang oleh pengadilan tinggi pada tahun-tahun berikutnya.[166][167] Kebijakan mega-bendungan Sarawak seperti proyek Bendungan Bakun dan Bendungan Murum telah merampas ribuan hektar hutan dan meminggirkan ribuan penduduk asli.[168][169] Sejak 2013, proyek Bendungan Baram yang direncanakan ditunda karena protes-protes dari suku-suku pribumi lokal.[170] Sejak 2014, pemerintah Sarawak di bawah ketua menteri baru Adenan Satem mulai menindak penebangan ilegal di negara bagian tersebut dan meragamkan ekonomi negara bagian tersebut.[171] Pada 2016, lebih dari 2 juta hektar hutan, yang sebagian besar adalah tempat tinggal orangutan, dideklarasikan menjadi kawasan yang dilindungi.[172]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]


Circle frame.svg

Pembagian PDB Sarawak menurut Sektor (2015)[173]

  Jasa (38.9%)
  Pabrik (27.4%)
  Pertambangan & Galian (19.5%)
  Pertanian (9.9%)
  Pembangunan (5.8%)
  Barang-Barang Impor (1.3%)
Sebuah pelabuhan gas alam cair di Bintulu, Sarawak

Sarawak memiliki sumber daya alam yang beragam. Sektor-sektor primer seperti pertambangan, pertanian da kehutanan meliputi 32.8 persen ekonomi negara bagian tersebut pada 2013.[173] Kontributor-kontributor utama dalam industri pabrik adalah makanan dan minuman, produk-produk rotan dan berbasis kayu, produk-produk metal dasar, dan produk-produk petrokimia.[7] Selain itu, sektor jasa meliputi jasa transportasi kargo, transportasi udara, dan pariwisata.[173] Dari 2000 sampai 2009, Sarawak memiliki tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5.0 persen.[174] Pertumbuhan PDB tahunan bertumbuh dari 2006 sampai 2013, dari −2.0 persen (2009) menjadi 7.0 persen (2010) dengan simpangan baku sebesar 3.3 persen. Sarawak berkontribusi 10.1 persen PDB Malaysia selama sembilan tahun sampai 2013, menjadikannya kontributor terbesar ketiga setelah Selangor (22.2 persen) dan Kuala Lumpur (13.9 persen) [173] PDB Sarawak bertumbuh dari RM 527 juta (US$171.3 juta) pada 1963 menjadi RM 58 miliar (US$17.4 miliar) pada 2013,[175] meningkat 110 kali lipat. Pada saat yang sama, PDB per kapita loncat dari RM 688 (US$223.6) menjadi RM 46,000 (US$13,800), menggelembung 60 kali lipat.[176] Sarawak memiliki PDB per kapita tertinggi ketiga [RM 44,437 (US$1331.1)] di Malaysia; setelah Kuala Lumpur dan Labuan.[177] Pemerintah negara bagian Sarawak dapat menjalankan surplus fiskal selama tujuh tahun sampai 2013, didukung oleh industri minyak dan gas yang meliputi 34.8 persen dari pendapatan negara bagian tersebut. Sarawak juga meraih RM 9.6 miliar (US$2.88 miliar) dari investasi asing dimana 90 persen investasi tersebut datang dari Sarawak Corridor of Renewable Energy (SCORE). SCORE adalah koridor ekonomi terbesar kedua di Malaysia.[173]

Sangat berorientasi ekspor, ekonomi Sarawak dapat menjangkau harga-harga komoditas global. Total ekspor sesuai dengan persentasi PDB adalah lebih dari 100 persen pada 2013 sementara total perdagangannya mencapai 130 persen. Ekspor gas alam cair meliputi lebih dari setengah total ekspor negara bagian tersebut sementara ekspor minyak bumi meliputi 20.8 persen. Sementara itu, minyak sawit dan kayu meliputi 9.0 persen total ekspor.[173] Sarawak sekarang meraih 5 persen royalti minyak (persentase produksi minyak dibayar oleh perusahaan pertambangan kepada pemilik lease) dari Petronas atas eksploitasi minyak di wilayah perairan Sarawak.[178] Kebanyakan deposit minyak dan gas berada di lepas pesisir sebelah Bintulu dan Miri di cekungan Balingian, cekungan Baram, dan sekitaran karang Luconia.[179] Sarawak juga merupakan salah satu eksportor kayu kulit keras tropis, yang meliputi 65 persen dari total ekspor kayu Malaysia pada 2000. Statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terakhir pada 2001 memperkirakan ekspor kayu Sarawak rata-rata sebesar 14,109,000 cubic meter (498,300,000 cu ft) per tahun antara 1996 dan 2000.[180] Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC Bank) adalah bank asing pertama yang membuka cabang-cabangnya di Sarawak pada 1955. Selain bank-bank domestik, 18 bank Eropa, 10 bank Timur Tengah, 11 bank Asia dan lima bank Amerika Utara memiliki cabang-cabang lokalnya di Sarawak.[181] Terdapat juga beberapa perusahaan yang berbasis di Sarawak yang terlibat dalam berbagai sektor ekonomi seperti Cahya Mata Sarawak Berhad (CMSB), Naim Holdings, Rimbunan Hijau, Ta Ann Holdings, Shin Yang, Samling, WTK (Wong Tuong Kwang) Holdings dan KTS (启德行) Group.[182]

Indeks harga konsumen (IHK) Sarawak sangat terkorelasi dengan IHK Malaysia, dengan rata-rata inflasi antara 2.5 dan 3.0 persen dari 2009 sampai 2013 dengan tertinggi pada 2008 (10.0 persen) dan terendah pada2009 (−4.0 persen).[173] Ketidakseimbangan pendapatan di Sarawak tidak menunjukkan perubahan signifikan dari 1980 sampai 2009, dengan koefisien Gini meningkat antara 0.4 dan 0.5.[183][184] Sarawak mengalami penurunan tingkat kemiskinan dari 56.5 persen (1975) menjadi kurang dari 1 persen (2015).[185] Tingkat pengangguran juga menurun dari 4.6 persen (2010)[186] menjadi 3.1 persen (2014).[185]

Energi[sunting | sunting sumber]

Turbin-turbin di dalam tempat pembangkit listrik Bendungan Bakun. Bendungan tersebut adalah sumber utama energi listrik di Sarawak.

Sarawak Energy Berhad (SEB) bertanggung jawab untuk penggenerasian, pentransmisian, dan pendistribusian aliran listrik di seluruh Sarawak.[187] Terdapat tiga bendungan operasional di Sarawak pada 2015: Bendungan Batang Ai,[188] Bendungan Bakun,[189] dan Bendungan Murum[190] dengan beberapa lainnya yang masih dipelajari dan direncanakan.[188] Sarawak juga mengirim energi listriknya dari penanaman energi batubara dan stasiun kekuatan termal menggunalan gas alam cair.[187][191] Total kapasitas arus listrik di negara bagian tersebut akan mencapai 7,000 MW pada 2025.[192] Di samping menyediakan listrik kepada negara bagian tersebut, Sarawak Energy juga mengekspor listrik ke wilayah tetangganya, Kalimantan Barat, Indonesia.[193] Sumber-sumber energi alternatif seperti biomassa, pasang surut, surya, angin, dan bendungan Mikro hidro juga dieksplor untuk potensi mereka dalam memberikan kekuatan listrik.[194]

Sarawak Corridor of Renewable Energy (SCORE) didirikan pada 2008 dan direncanakan untuk pengembangan lebih lanjut sampai 2030 untuk mengekspolitasi sumber-sumber energi beragam di negara bagian tersebut (Bendungan Murum, Bendungan Baram, Bendungan Baleh, dan penanaman energi berbasis batubara)[195] dan untuk mengembangkan 10 industri berprioritas tinggi[196] seperti aluminium, glass, baja, minyak, perikanan, ternak, kayu, dan pariwisata.[197] Regional Corridor Development Authority (RECODA) adalah badan pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengawasi SCORE.[198] Wilayah tengah Sarawak dinaungi di bawah SCORE dan meliptui wilayah-wilayah besar seperti Samalaju (dekat Bintulu), Tanjung Manis, dan Mukah.[199] Pada 2008, Samalaju direncanakan untuk dikembangkan menjadi sebuah taman industrial,[200] dengan Tanjung Manis sebagai pusat makanan halal,[201] dan Mukah sebagai pusat administratif untuk SCORE dengan fokus penelitian dan pengembangan berbasis sumber daya.[202]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Band Gipsi Perancis tampil pada Festival Musik Hutan Hujan Dunia 2006

Pariwisata memainkan peran besar dalam ekonomi negara bagian tersebut yang memberikan 9.3 persen PDB negara bagian tersebut pada 2015.[203] Badan Pariwisata Sarawak bertanggungjawab untuk promosi pariwisata di negara bagian tersebut di bawah naungan Kementerian Pariwisata Sarawak. Sementara itu, sektor-sektor pariwisata swastra disatukan di bawah Federasi Pariwisata Sarawak. Biro Konvensi Sarawak bertanggung jawab untuk mengadakan konvensi, konferensi, dan acara-acara perusahan yang diadakan di Pusat Konvensi Borneo Kuching.[204] Kebanyakan pendatang asing datang dari Brunei, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Tiongkok.[205] Penghargaan Pariwisata Rangkong Sarawak diadakan setiap dua tahun untuk menghargai sektor pariwisata terbaik di negara bagian tersebut.[206] Festival Musik Hutan Hujan Dunia adalah acara "musik dunia" perdana di kawasan tersebut, yang dihadiri lebih dari 20,000 orang setiap tahun.[207] Acara-acara yang giat diadakan di Sarawak adalah Festival Film Internasional Perbara, Festival Musik Asia, Festival Jazz Borneo, Festival Kebudayaan Borneo, dan Festival Layangan Internasional Borneo.[204] Kompleks perbelanjaan besar di Sarawak meliputi mal The Spring, Boulevard, Hock Lee Centre, City One di Kuching,[208] dan mal Bintang Megamall, Boulevard, Imperial Mall, dan Miri Plaza di Miri.[209] Ibukota Sarawak Kuching telah disebut sebagai salah satu tempat tujuan pensiun di Malaysia.[210][211][212]

Statistik Kedatangan Wisatawan Sarawak[203][205][213]
Kunci Indikator Pariwisata 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Kedatangan Asing (juta) 1.897 2.343 2.635 2.665 2.996 2.497
Kedatangan Domestik (Malaysia Barat & Sabah) (juta) 1.373 1.452 1.434 1.707 1.862 2.020
Total Kedatangan (juta) 3.271 3.795 4.069 4.372 4.858 4.517
Total Penerimaan Pariwisata, miliar (RM) 6.618 7.914 8.573 9.588 10.686 9.870
Total Penerimaan Pariwisata, miliar (setara USD) 1.489 2.374 2.786 2.876 3.206 N/A

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Tingkat pengembangan infrastruktur di Sarawak relatif rendah dibandingkan di Semenanjung Malaysia.[214] Kementerian Pengembangan Infrastruktur dan Komunikasi Sarawak bertanggung jawab untuk pengembangan infrastruktur dan telekomunikasi di Sarawak.[215] Sarawak memiliki 21 estate industrial, dengan empat agensi utama yang bertanggung jawab untuk implementasi dan pengembangan mereka.[216] Pada 2009, 94 persen kawasan perkotaan disuplai dengan listrik; persentase kawasan pedesaan dengan listrik meningkat dari 67 persen pada 2009[217] menjadi 91 persen pada 2014.[218] Dalam hal telekomunikasi, pada 2013 persebaran jalur telepon di Sarawak sebesar 25.7 persen, dan persentase orang yang menggunakan telepon peranti bergerak sebesar 93.3 persen. Penggunaan komputer sebesar 45.9 persen pada tahun yang sama; persentase orang yang menggunakan internet adalah 58.5 persen di kawasan perkotaan dan 29.9 persen di kawasan pedesaan.[219] Sacofa Sdn Bhd (Sacofa Private Limited) yang dimiliki negara bertanggung jawab untuk membangun menara-menara telekomunikasi di Sarawak.[220] Sarawak Information Systems Sdn Bhd (SAINS) bertanggung jawab untuk implementasi dan pengembangan teknologi informasi di Sarawak.[221] Pada 2012, Sarawak memiliki 63 kantor pos, 40 kantor pos kecil, dan lima layanan pos peranti bergerak.[222] Persebaran pengiriman surat di kawasan pedesaan adalah 60 persen pada 2015.[223]

Kuching Water Board (KWB) dan Sibu Water Board (SWB) bertanggung jawab untuk manajemen suplai air di wilayah mereka masing-masing. LAKU Management Sdn Bhd milik negara mengurusi suplai air untuk Miri, Bintulu, dan Limbang.[224] Departemen Suplai Air Pedesaan mengurusi suplai air untuk wilayah-wilayah sisanya.[225] Pada 2014, 82 persen kawasan pedesaan memiliki suplai air tawar.[218]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Kelompok etnis di Sarawak (2014)[226]
Etnis Persen
Iban
  
30%
Melayu
  
24.4%
Tionghoa
  
24.2%
Bidayuh
  
8.4%
Melanau
  
6.7%
Orang Ulu
  
5.4%
India
  
0.3%
Lain-lain
  
0.3%

Menurut sensus Malaysia 2015, populasi Sarawak berjumlah 2,636,000, menjadikannya negara bagian paling berpenduduk keempat di Malaysia.[8] Namun, karena wilayahnya yang besar, negara bagian tersebut memiliki kepadatan penduduk terendah di Malaysia, yang meliputi 20 orang per km2. Rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk per tahun dari 2000 sampai 2010 adalah 1.8 persen.[7] Pada 2014, 58 persen penduduk berada di perkotaan sementara 42 persen penduduk tinggal di kawasan pedesaan.[227] Pada 2011, tingkat kelahiran di Sarawak adalah 16.3 per 1000 orang, tingkat kematian adalah 4.3 per 1000 populasi, dan tingkat kematian bayi adalah 6.5 per 1000 kelahiran.[228]

Sarawak memiliki lebih dari 40 kelompok sub-etnis, yang masing-masing memiliki bahasa, budaya dan gaya hidup khasnya sendiri. Kota-kota besar umumnya ditinggali oleh Melayu, Melanaus, Tionghoa, dan sejumlah kecil Iban dan Bidayuh yang berpindah dari kampung halaman mereka untuk mendapatkan pekerjaan.[229] Masalah KTP untuk orang asli yang lahir di wilayah-wilayah tak tersentuh masih menjadi tantangan. Masalah tersebut menyebabkan ribuan orang Penin menjadi tak bernegara.[230][231][232] Sarawak memiliki 150,000 buruh migran terdaftar yang bekerja sebagai buruh domestik atau dalam penanaman, pabrik, pembangunan, jasa dan pertanian.[233] Namun, total jumlah imigran gelap mencapai 320,000 sampai 350,000 orang.[234] Bumiputera merujuk kepada orang Melayu dan kelompok pribumi lainnya di Semenanjung Malaysia, Sarawak dan Sabah. Kelompok suku bangsa tersebut umumnya memiliki hak-hak khusus dalam pendidikan, pekerjaan, keuangan dan jabatan politik.[235] Orang Asal merujuk kepada seluruh kelompok pribumi di Malaysia kecuali Melayu.[236]

Kelompok etnis[sunting | sunting sumber]

Umumnya, Sarawak memiliki enam kelompok etnis besar: Iban, Tionghoa, Melayu, Bidayuh, Melanau, dan Orang Ulu.[229] Beberapa kelompok etnis kecil meliputi: Kedayan, Jawa, Bugis, Murut, dan India.[237] Istilah Dayak umumnya digunakan untuk merujuk kepada suku Iban dan Bidayuh. Istilah tersebut seringkali digunakan dalam konteks nasionalistik.[238] Pada 2015, pemerintah federal Malaysian mengakui penggunaan istilah tersebut pada bentuk-bentuk resmi.[239]

Iban[sunting | sunting sumber]

Seorang prajurit Iban mengenakan pakaian tradisional.

Sarawak memiliki jumlah orang Iban tertinggi di Borneo, dengan jumlah 745,400 orang.[240] Mereka juga dikenal sebagai Dayak Laut. Sejumlah besar orang Iban menganut Kristen. Orang-orang Iban awalnya tinggal di wilayah sekitaran cekungan Rajang, namun setelah ekspedisi militer Brooke, mereka secara bertahap berpindah ke wilayah utara Sarawak. Pemukiman Iban biasanya berbentuk rumah panjang. Rumah panjang tersebut adalah sebuah unit pertahanan pada masa lalu, saat perburuan kepala masih lazim. Saat ini, tempat tersebut masih menjadi simbol ritual bagi para penghuninya. Pada masa lalu, orang-orang Iban membuat hierarki status seperti raja berani, orang mayuh (orang biasa), dan ulun (budak). Namun, pada era Brooke, masyarakat Iban disusun ulang menjadi jabatan-jabatan resmi seperti tuai rumah (kepala keluarga), penghulu (kepala wilayah), dan temenggong (kepala tertinggi).[241] Mereka masih menjalani beberapa ritual tradisional dan kepercayaan mereka seperti Gawai Antu (perayaan orang mati) dan Gawai Dayak (Perayaan Panen).[242]

Tionghoa[sunting | sunting sumber]

Wanita Tionghoa Sarawak mengenakan busana tradisional Cheongsam.

Para pedagang Tionghoa mula-mula datang ke Sarawak pada abad ke-6 Masehi. Populasi Tionghoa saat ini terdiri dari komunitas yang berasal dari imigran pada zaman Brooke.[19] Migran-migran tersebut mula-mula bekerja sebagai buruh di pertambangan emas di Bau, Sarawak. Berbagai kelompok dialek ditemukan pada kalangan Tionghoa Sarawak; Kanton, Foochow, Hakka, Hokkien, Teochew, dan Henghua (orang Putian). Mereka merayakan perayaan-perayaan kebudayaan besar seperti Perayaan Hantu Lapar dan Tahun Baru Imlek. Kebanyakan Tionghoa Sraawak menganut Buddha dan Kristen.[49] Di Kuching, kebanyakan Tionghoa tinggal di dekat Sungai Sarawak, sebuah kawasan yang kemudian membentuk Chinatown.[243] Pada 1901, Wong Nai Siong membawa rombongannya untuk bermukim di Sibu, dekat Sungai Rajang.[244] Tionghoa kemudian bekerja di pertambangan batubara dan ladang minyak di Miri·[243] Tionghoa Sarawak dipengaruhi oleh Kuomintang dan kemudian Partai Komunis Tiongkok sebelum mengadopsi ideologi nasionalisme Sarawak setelah 1963.[245]

Melayu[sunting | sunting sumber]

Gadis-gadis Melanau mengenakan Baju Kurung tradisional.

Suku Melayu biasanya merupakan petani. Mereka memilih membangun pemukiman (desa-desa Melayu) di sepanjang tepian sungai. Saat ini, mereka bermigrasi ke wilayah perkotaan dan bekerja dalam sektor negeri dan swasta. Mereka dikenal karena kerajinan perak dan kuningan, ukiran kayu, dan tekstil buatan mereka.[19] Beberapa desa Melayu khas terletak di sepanjang pinggiran sungai dekat Benteng Margherita, di belakang Masjid Kuching, dan di kaki Gunung Santubong.[246] Terdapat beberapa teori tentang asal muasal Melayu di Sarawak. James Brooke memberikan istilah tersebut untuk pertama kalinya kepada kaum Muslim penduduk asli di wilayah pesisir Sarawak. Namun, tidak semua Muslim di Sarawak adalah Melayu. Kebanyakan suku Melanau juga menganut Islam.[80][note 1] Teori-teori lainnya mengklaim bahwa Melayu datang dari Kepulauan Melayu (terutama Jawa atau Sumatra), bangsa Arab dari Timur Tengah, atau melalui perpindahan budaya dan agama penduduk asli Sarawak.[247]

Melanau[sunting | sunting sumber]

Melanau berasal dari Sarawak. Kebanyakan dari mereka datang dari kota pesisir Mukah.[248] Mereka biasanya tinggal di rumah-rumah tinggi, namun setelah mengadopsi gaya hidup Meoayu, mereka tinggal di desa-desa. Mereka bekerja sebagai nelayan, pembuat perahu, dan pengrajin. Mereka awalnya mempraktikan paganisme dan merayakan perayaan Kaul namun sekarang kebanyakan dari mereka adalah Muslim.[19][80][note 2][249]

Bidayuh[sunting | sunting sumber]

Seorang gadis Bidayuh.

Bidayuh buasanya tinggal di bagian selatan Sarawak sepert Lundu, Bau, Serian, dan munisipalitas Padawan.[250] Mereka dikenal sebagai Dayak Darat karena mereka biasanya tinggal di kaki pegunungan batu gamping. Mereka terdiei dari beberapa kelompok sub-etnis seperti Jagoi, Biatah, dan Selakau, dan berbucara dengan dialek yang tak berbeda jauh.[251] Meskipun demikian, mereka menerima bahasa Inggris dan Melayu sebagai bahasa umum mereka. Mereka dikenal karena beberapa alat musik seperti drum raksasa dan instrumen perkusi bambu yang dikenal sebagai pratuakng. Seperti halnya Iban, pemukiman tradisional mereka adalah rumah panjang, namun mereka juga membangun rumah melingkar baruk untuk pertemuan komunitas. Mayoritas Bidayuh menganut Kristen.[19]

Orang Ulu[sunting | sunting sumber]

Nama Orang Ulu artinya "orang hulu" dalam bahasa Iban. Suku tersebut meliputi sejumlah suku yang tinggal hulu sungai wilayah Sarawak seperti suku Kenyah, Kayan, Lun Bawang, Kelabit, Penan, Bisaya, dan Berawan.[19] Awalnya pemburu kepala, kebanyakan dari mereka tinggal di Bario, Ba'kelalan, Belaga, dan dekat cekungan drainase Sungai Baram.[252] Mereka menghias rumah-rumah panjang dengan mural dan ukiran kayu. Mereka juga dikenal karena membangun perahu, karya manik-manik dan mentato.[19] Alat-alat musik terkenal dari Orang Ulu adalah sapeh dari Kayan dan sampe' dari Kenyah dan band bambu Lun Bawang. Suku Kelabit dan Lun Bawang dikenal karena produksi beras harum mereka.[252] Kebanyakan Orang Ulu menganut Kristen.[19]

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama di Sarawak (2010)[253]
Agama Persen
Kristen
  
42.6%
Islam
  
32.2%
Buddha
  
13.5%
Agama tradisional Tionghoa
  
6.0%
Tak beragama
  
2.6%
Tidak diketahui
  
1.9%
Lain-Lain
  
1.0%
Hindu
  
0.2%

Meksipun Islam adalah agama resmi dari federasi tersebut, Sarawak tak memiliki agama negara bagian resmi.[254] Namun, pada masa kepemimpinan Abdul Rahman Ya'kub, Konstitusi Sarawak diamandemenkan untuk menjadikan Yang di-Pertuan Agong sebagai kepala Islam di Sarawak dan mengukuhkan hukum-hukum yang mengesahkan urusan-urusan Islam. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan Islam dapat dirumuskan di Sarawak dan juga memungkinkan pendirian badan-badan negara bagian Islam. Undang-Undang Majlis Islam 1978 dikeluarkan untuk membentuk Pengadilan-Pengadilan Syariah di Sarawak dengan tugas mengurusi perkawinan, pengasuhan anak, pertunangan, warisan dan kasus kejahatan di negara bagian tersebut. Sebuah pengadilan banding dan Pengadilan Kadi juga dibentuk.[95][note 3]

Sarawak adalah satu-satunya negara bagian di Melaysia dimana Kristen mengalahkan jumlah Muslim. Misionaris-misionaris Kristen terawal di Sarawak diluncurkan oleh Gereja Inggris (Anglikan) pada 1848, disusul oleh Katolik Roma pada beberapa tahun kemudian, dan Methodis pada 1903. Misionaris-misionaris tersebut mula-mula ditempatkan pada kalangan imigran Tionghoa sebelum merambah ke animis penduduk asli.[255] Denominasi Kristen lainnya di Sarawak adalah Sidang Injil Borneo (SIB),[256] dan Baptis.[257] Penduduk pribumi seperti Iban, Bidayuh, dan Orang Ulu mengadopsi Kristen meskipun mereka masih melakukan beberapa ritus agama tradisional mereka. Beberapa Muslim berasal dari kelompok etnis Melayu, Melanau, dan Kayan. Buddha, Tao, dan agama tradisional Tionghoa umumnya dianut oleh Tionghoa Malaysia.[258] Agama kecil lainnya di Sarawak adalah Baha'i,[259] Hindu,[260] Sikh,[261] dan animisme.[262]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Inggris adalah bahasa tunggal resmi Sarawak dari 1963 sampai 1974 karena ketua menteri pertama Sarawak Stephen Kalong Ningkan menentang penggunaan bahasa Melayu di Sarawak.[263] Pada 1974, ketua menteri baru Abdul Rahman Ya'kub mengadopsi bahasa Melayu dan Inggris sebagai dua bahasa resmi Sarawak.[95][note 4] Ia juga mengubah bahasa pengantar pelajaran di sekolah-sekokah dari Inggris ke Melayu.[264] Saat ini, Inggris digunakan dalam pengadilan, majelis legislatif, dan agensi-agensi pemerintahan tertentu di Sarawak.[265][266] Pada 18 November 2015, Ketua Menteri Sarawak Adenan Satem mengumumkan adopsi bahasa Inggris sebagai bahasa resmi Sarawak, bersama dengan Melayu.[267]

Bahasa Melayu, yang dikenal sebagai Bahasa Sarawak (atau Melayu Sarawak), adalah bahasa utama Melayu Sarawak dan suku pribumi lainnya. Bahasa Sarawak adalah sebuah dialek berbeda dari yang dipakai di semenanjung. Bahasa Iban juga dipakai 34 persen populasi Sarawak sementara bahasa Bidayuh, dengan enam dialek utama, dipakai oleh 10 persen populasi. Orang Ulu memiliki sekitar 30 dialek bahasa yang berbeda. Tionghoa umumnya menggunakan Tionghoa Standar meskipun mereka juga memakai beberapa dialek berbeda seperti Hokkien, Hakka, Foochow, dan Teochew.[268]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ishikawa, 2010. The word "Malay" is widely used in Sarawak because in 1841 James Brooke brought it with him from Singapore, (page 140)
  2. ^ Ishikawa, 2010 (page 169)
  3. ^ Faisal, 2012. Negri is empowered to make provisions for regulating Islamic affairs... (page 86)
  4. ^ Faisal, 2012 ... to make Bahasa Malaysia and English as negeri's official languages. (page 84)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Profil Negeri Sarawak (Sarawak state profile)". Jabatan Penerangan Malaysia (Malaysian Information Department). Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 April 2015. Diakses tanggal 12 January 2016. 
  2. ^ "Sarawak State Anthem". Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 12 January 2016. 
  3. ^ a b Samuel Aubrey (12 April 2015). "Serian now a division". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 July 2015. Diakses tanggal 15 May 2015. 
  4. ^ "Administrative Divisions and Districts". The Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 July 2015. Diakses tanggal 23 July 2015. 
  5. ^ "Yang di-Pertua Negeri". Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 12 January 2016. 
  6. ^ "Chief Minister of Sarawak". Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 12 January 2016. 
  7. ^ a b c d "Sarawak – Facts and Figures 2011" (PDF). Sarawak State Planning Unit, Chief Minister Department. pp. 5, 9, 15, 22. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 24 November 2015. Diakses tanggal 24 November 2015. 
  8. ^ a b c "Population by States and Ethnic Group". Department of Information, Ministry of Communications and Multimedia, Malaysia. 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 February 2016. Diakses tanggal 12 February 2015. 
  9. ^ "General Information". Centre for public policies studies. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 October 2015. Diakses tanggal 19 November 2016. 
  10. ^ "Facts of Sarawak". The Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 July 2015. Diakses tanggal 23 July 2015. 
  11. ^ "Postal codes in Sarawak". cybo.com. Diakses tanggal 23 July 2015. 
  12. ^ "Postal codes in Miri". cybo.com. Diakses tanggal 23 July 2015. 
  13. ^ "Area codes in Sarawak". cybo.com. Diakses tanggal 22 July 2015. 
  14. ^ Soon, Teh Wei (23 March 2015). "Some Little Known Facts On Malaysian Vehicle Registration Plates". Malaysian Digest. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 July 2015. Diakses tanggal 8 July 2015. 
  15. ^ a b Rozan Yunos (28 December 2008). "Sultan Tengah — Sarawak's first Sultan". The Brunei Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 April 2014. Diakses tanggal 3 April 2014. 
  16. ^ a b "The National Archives DO 169/254 (Constitutional issues in respect of North Borneo and Sarawak on joining the federation)". The National Archives. 1961–1963. Diakses tanggal 23 April 2015. 
  17. ^ a b Vernon L. Porritt (1997). British Colonial Rule in Sarawak, 1946–1963. Oxford University Press. ISBN 978-983-56-0009-8. Diakses tanggal 7 May 2016. 
  18. ^ a b Philip Mathews (28 February 2014). Chronicle of Malaysia: Fifty Years of Headline News, 1963–2013. Editions Didier Millet. pp. 15–. ISBN 978-967-10617-4-9. 
  19. ^ a b c d e f g h i j k Frans Welman. Borneo Trilogy Sarawak: Volume 2. Booksmango. pp. 132, 134, 136–138, 177. ISBN 978-616-245-089-1. Diakses tanggal 28 August 2013. 
  20. ^ Malaysia Act 1963. Retrieved on 12 August 2011.
  21. ^ Agreement relating to Malaysia between United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, Federation of Malaya, North Borneo, Sarawak and Singapore
  22. ^ Yeng, Ai Chun (19 October 2009). "Malaysia Day now a public holiday, says PM". Diakses tanggal 7 August 2015. 
  23. ^ "Origin of Place Names – Sarawak". Perpustakaan Nasional Malaysia. 2000. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 February 2008. Diakses tanggal 3 June 2010. 
  24. ^ Kris, Jitab (23 February 1991). "Wrong info on how Sarawak got its name". New Sunday Times. Diakses tanggal 14 November 2015. 
  25. ^ "The magnificent hornbills of Sarawak". The Borneo Post. 12 July 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 August 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  26. ^ a b "Niah National Park – Early Human settlements". Sarawak Forestry. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 February 2015. Diakses tanggal 23 March 2015. 
  27. ^ a b Faulkner, Neil (7 November 2003). Niah Cave, Sarawak, Borneo. Current World Archaeology Issue 2. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 March 2015. Diakses tanggal 23 March 2015. 
  28. ^ "History of the Great Cave of Niah". Australian Broadcasting Corporation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 November 2014. Diakses tanggal 23 March 2015. 
  29. ^ "Niah Cave". humanorigins.si.edu. Smithsonian National Museum of Natural History. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 November 2013. Diakses tanggal 23 March 2015. 
  30. ^ Hirst, K. Kris. "Niah Cave (Borneo, Malaysia) – Anatomically modern humans in Borneo". about.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 December 2013. Diakses tanggal 23 March 2015. 
  31. ^ "Niah National Park, Miri". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 December 2015. Diakses tanggal 26 December 2015. 
  32. ^ Zheng, Dekun (1 January 1982). Studies in Chinese Archeology. The Chinese University Press. pp. 49, 50. ISBN 978-962-201-261-5. Diakses tanggal 29 December 2015. In case of Santubong, its association with T'ang and Sung porcelain would necessary provide a date of about 8th – 13th century A.D. 
  33. ^ "Archeology". Sarawak Muzium Department. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 October 2015. Diakses tanggal 28 December 2015. 
  34. ^ Broek, Jan O.M. (1962). "Place Names in 16th and 17th Century Borneo". Imago Mundi 16 (1): 134. doi:10.1080/03085696208592208. JSTOR 1150309. Carena (for Carena), deep in the bight, refers to Sarawak, the Kuching area, where there is clear archaeological evidence of an ancient trade center just inland from Santubong. 
  35. ^ Donald F, Lach (15 July 2008). Asia in the Making of Europe, Volume I: The Century of Discovery, Book 1. University of Chicago Press. p. 581. ISBN 978-0-226-46708-5. Diakses tanggal 21 March 2016. ... but Castanheda lists five great seaports that he says were known to the Portuguese. In his transcriptions they are called "Moduro" (Marudu?), "Cerava" (Sarawak?), "Laue" (Lawai), "Tanjapura" (Tanjungpura), and "Borneo" (Brunei) from which the island derives its name. 
  36. ^ a b c d e f Alastair, Morrison (1 January 1993). Fair Land Sarawak: Some Recollections of an Expatriate Official. SEAP Publications. pp. 10, 14, 95, 118–120. ISBN 978-0-87727-712-5. Diakses tanggal 29 October 2015. ... the great Iban, and Kayan-Kenyah migrations were taking place inland, destroying or absorbing many of the former much less organised occupants of the land.(page 10) ... Although nominal control of Sarawak coast continued, it came to exercised largely by semi-independent Malay chiefs, many of part Arab blood.(page 10) ... There has been serious differences between Rajah and his brother and nephew (page 14) ... The first Communist group to be formed in Sarawak ... (page 95) ... The first political party, the Sarawak United Peoples' Party (SUPP) ... (page 118) ... By 1962, there were six parties ... (page 119) 
  37. ^ Trudy, Ring; Noelle, Watson; Paul, Schellinger (12 November 2012). Asia and Oceania: International Dictionary of Historic Places. SEAP Publications. p. 497. ISBN 978-0-87727-712-5. Diakses tanggal 29 October 2015. 
  38. ^ B.A., Hussainmiya (2006). "The Brookes and the British North Borneo Company". Brunei - Revival of 1906 - A popular history (PDF). Bandar Seri Begawan: Brunei Press Sdn Bhd. p. 6. ISBN 99917-32-15-2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2 December 2016. Diakses tanggal 2 December 2016. 
  39. ^ R, Reece. "Empire in Your Backyard – Sir James Brooke". Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 March 2015. Diakses tanggal 29 October 2015. 
  40. ^ Graham, Saunders (5 November 2013). A History of Brunei. Routledge. p. 74-77. ISBN 9781136873942. Diakses tanggal 24 November 2016. 
  41. ^ James Leasor (1 January 2001). Singapore: The Battle That Changed the World. House of Stratus. pp. 41–. ISBN 978-0-7551-0039-2. 
  42. ^ Alex Middleton (June 2010). "Rajah Brooke and the Victorians". The Historical Journal 53 (2): 381–400. doi:10.1017/S0018246X10000063. ISSN 1469-5103. Diakses tanggal 24 December 2014. 
  43. ^ Mike, Reed. "Book review of "The Name of Brooke – The End of White Rajah Rule in Sarawak" by R.H.W. Reece, Sarawak Literary Society, 1993". sarawak.com.my. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 June 2003. Diakses tanggal 7 August 2015. 
  44. ^ James, Stuart Olson (1996). Historical Dictionary of the British Empire, Volume 2. Greenwood Publishing Group. p. 982. ISBN 978-0-313-29367-2. Diakses tanggal 29 October 2015. Brooke and his successors enlarged their realm by successive treaties of 1861, 1882, 1885, 1890, and 1905. 
  45. ^ "Chronology of Sarawak throughout the Brooke Era to Malaysia Day". The Borneo Post. 16 September 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 February 2015. Diakses tanggal 29 October 2015. 1861 Sarawak is extended to Kidurong Point. ... 1883 Sarawak extended to Baram River. ... 1885 Acquisition of the Limbang area, from Brunei. ... 1890 Limbang added to Sarawak. ... 1905 Acquisition of the Lawas Region, from Brunei. 
  46. ^ Lim, Kian Hock (16 September 2011). "A look at the civil administration of Sarawak". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 February 2015. Diakses tanggal 21 November 2015. It seems the idea of dividing the state into divisions by the Brooke government was not implemented purely for administrative expediency but rather the divisions mark the new areas ceded by the Brunei government to the White Rajahs. This explains why the original five divisions of the state were so disproportionate in size. 
  47. ^ Cuhaj, George S (2014). Standard Catalog of World Paper Money, General Issues, 1368–1960. F+W Media. p. 1058. ISBN 978-1-4402-4267-0. Diakses tanggal 13 January 2016. Sarawak was recognised as a separate state by the United States (1850) and Great Britain (1864), and voluntarily became a British protectorate in 1888. 
  48. ^ Rujukan Kompak Sejarah PMR (Compact reference for PMR History subject) (dalam Malay). Arah Pendidikan Sdn Bhd. 2009. p. 82. ISBN 978-983-3718-81-8. Diakses tanggal 13 January 2016. 
  49. ^ a b c Frans, Welman (2011). Borneo Trilogy Sarawak: Volume 1. Bangkok, Thailand: Booksmango. p. 177. ISBN 978-616-245-082-2. Diakses tanggal 2 November 2015. The Brooke Dynasty ruled Sarawak for a hundred years and became famous as the "White Rajahs", accorded a status within the British Empire similar to that of the Indian Princes. 
  50. ^ a b c d e f Ooi, Keat Gin (2013). Post-war Borneo, 1945–50: Nationalism, Empire and State-Building. Routledge. pp. 7, 93, 98. ISBN 978-1-134-05803-7. Diakses tanggal 2 November 2015. Personal rule with heavy dose of parternalism was adopted by the first two Rajahs, who saw themselves as enlightened monarchs entrusted with a mandate to rule on behalf of indigenous peoples' and well being ... A Supreme Council comprising Malay Datus (non-royal chefs) advised rajah on all aspects of governance ... The entry of western capitalist enterprises were greatly restricted. Christian missionaries tolerated, and Chinese immigration promoted as catalyst of economic development (mining, commerce, agriculture).(page 7) ... This denial of entry to Anthony ... (page 93) ... The anti-cession movement was by the early 1950s effectively "strangled" a dead letter.(page 98) 
  51. ^ "Bintulu – Places of Interest". Bintulu Development Authority. Diakses tanggal 19 July 2015. 
  52. ^ Marshall, Cavendish (2007). World and Its Peoples: Eastern and Southern Asia, Volume 9. Bangladesh: Marshall Cavendish. p. 1182. ISBN 978-0-7614-7642-9. Diakses tanggal 2 November 2015. Malays worked in the administration, Ibans (indigenous peoples of Sarawak) in the militia, and Chinese as workers in the plantations. 
  53. ^ Lewis, Samuel Feuer (1 January 1989). Imperialism and the Anti-Imperialist Mind. Transaction Publishers. ISBN 978-1-4128-2599-3. Diakses tanggal 2 November 2015. Brooke made it his life task to bring to these jungles "prosperity, education, and hygiene"; he suppressed piracy, slave-trade, and headhunting, and lived simply in a thatched bungalow. 
  54. ^ "The Borneo Company Limited". National Library Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 October 2015. Diakses tanggal 25 January 2016. 
  55. ^ Sendou Ringgit, Danielle (5 April 2015). "The Bau Rebellion: What sparked it all?". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 March 2016. Diakses tanggal 22 March 2016. The Rajah then came back days later with a bigger army and bigger guns aboard the Borneo Company steamer, the Sir James Brooke together with his nephew, Charles Brooke. Most of the Chinese miners were killed in Jugan, Siniawan where they had set up their defences while some managed to escape to Kalimantan. 
  56. ^ "石隆门华工起义 (The uprising of Bau Chinese labourers)" (dalam Chinese). 国际时报 [International Times (Sarawak)]. 13 September 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 January 2013. Diakses tanggal 22 March 2016. 
  57. ^ Ting, John. "Colonialism and Brooke administration: Institutional buildings and infrastructure in 19th century Sarawak" (PDF). University of Melbourne. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 22 September 2015. Diakses tanggal 13 January 2016. Brooke also indigenised himself in terms of housing – his first residence was a Malay house. (page 9) ... Government House (Fig. 3) was built after Brooke's first house was burnt down during the 1857 coup attempt. (page 10) 
  58. ^ a b c Simon, Elegant (13 July 1986). "SARAWAK: A KINGDOM IN THE JUNGLE". The New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 November 2015. Diakses tanggal 2 November 2015. The Istana, the palace built by the Brookes on a bend in the Sarawak River, still looks coolly over the muddy waters into the bustle of Kuching, the trading town James Brooke made his capital. ... Today, the Istana is the State Governor's residence, ... To protect his kingdom, Brooke built a series of forts in and around Kuching. Fort Margherita, named after Ranee Margaret, the wife of Charles, the second Rajah, was built about a mile downriver from the Istana. 
  59. ^ Saiful, Bahari (23 June 2015). "Thrill is gone, state museum stuck in time — Public". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 October 2015. Diakses tanggal 2 November 2015. The Sarawak Museum, being Borneo's oldest museum, should look into allocating a curator to be present and interacting with visitors at all times, he lamented. 
  60. ^ "History of Sarawak". Brooke Trust. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 November 2016. Diakses tanggal 29 November 2016. 
  61. ^ "Centenary of Brooke rule in Sarawak – New Democratic Constitution being introduced today". The Straits Times (Singapore). 24 September 1941. Diakses tanggal 2 November 2015. 
  62. ^ a b c David, Leafe (17 March 2011). "The last of the White Rajahs: The extraordinary story of the Victorian adventurer who subjugated a vast swathe of Borneo". Mail Online (UK). Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 July 2015. Diakses tanggal 2 November 2015. He denied these charges, but he was never allowed to inherit the rule of Sarawak because in 1946 Vyner agreed to cede it to the British Crown in return for a substantial financial settlement for him and his family. So it became Britain's last colonial acquisition. 
  63. ^ Klemen, L (1999). "The Invasion of British Borneo in 1942". dutcheastindies.webs.com. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  64. ^ "The Japanese Occupation (1941 – 1945)". The Sarawak Government. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  65. ^ Gin, Ooi Keat (1 January 2013). "Wartime Borneo, 1941–1945: a tale of two occupied territories". Borneo Research Bulletin. Diakses tanggal 3 November 2015. Occupied Borneo was administratively partitioned into two halves, namely Kita Boruneo (Northern Borneo) that coincided with pre-war British Borneo (Sarawak, Brunei, and North Borneo) was governed by the IJA, ... 
  66. ^ Paul H, Kratoska (13 May 2013). Southeast Asian Minorities in the Wartime Japanese Empire. Routledge. pp. 136–142. ISBN 978-1-136-12506-5. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  67. ^ Ooi, Keat Gin. "Prelude to invasion: covert operations before the re-occupation of Northwest Borneo, 1944 – 45". Journal of the Australian War Memorial. Diakses tanggal 3 November 2015. However, as the situation developed, the SEMUT operations were divided into three distinct parties under individual commanders: SEMUT 1 under Major Tom Harrisson; SEMUT 2 led by Carter; and SEMUT 3 headed by Captain W.L.P. ("Bill") Sochon. The areas of operation were: SEMUT 1 the Trusan valley and its hinterland; SEMUT 2 the Baram valley and its hinterland; SEMUT 3 the entire Rejang valley. {22} Harrisson and members of SEMUT 1 parachuted into Bario in the Kelabit Highlands during the later part of March 1945. Initially, Harrisson established his base at Bario; then, in late May, shifted to Belawit in the Bawang valley (inside the former Dutch Borneo) upon the completion of an airstrip for light aircraft built entirely with native labour. In mid-April, Carter and his team (SEMUT 2) parachuted into Bario, by then securely an SRD base with full support of the Kelabit people. Shortly after their arrival, members of SEMUT 2 moved to the Baram valley and established themselves at Long Akah, the heartland of the Kenyahs. Carter also received assistance from the Kayans. Moving out from Carter's party in late May, Sochon led SEMUT 3 to Belaga in the Upper Rejang where he set up his base of operation. Kayans and Ibans supported and participated in SEMUT 3 operations. 
  68. ^ "Historical Monument – Surrender Point". Official Website of Labuan Corporation. Labuan Corporation. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  69. ^ Rainsford, Keith Carr. "Surrender to Major-General Wootten at Labuan". Australian War Memorial. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  70. ^ "HMAS Kapunda". Royal Australian Navy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 March 2016. Diakses tanggal 12 June 2016. 
  71. ^ "British Military Administration (August 1945 – April 1946)". The Sarawak Government. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  72. ^ "Sarawak as a British Crown Colony (1946–1963)". The Official Website of the Sarawak Government. Diakses tanggal 7 November 2015. 
  73. ^ Mike, Thomson (14 March 2012). "The stabbed governor of Sarawak". BBC News. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  74. ^ a b "Anthony Brooke". The Daily Telegraph. 6 March 2011. Diakses tanggal 3 November 2015. ... when his legal challenge to the cession was finally dismissed by the Privy Council in 1951, he renounced once and for all his claim to the throne of Sarawak and sent a cable to Kuching appealing to the anti-cessionists to cease their agitation and accept His Majesty's Government. The anti-cessionists instead continued their resistance to colonial rule until 1963, when Sarawak was included in the newly independent federation of Malaysia. Two years later, Anthony Brooke was welcomed back by the new Sarawak Government for a nostalgic visit. 
  75. ^ "Formation of Malaysia 16 September 1963". Arsip Nasional Malaysia. Diakses tanggal 8 November 2015. 
  76. ^ JC, Fong (16 September 2011). "Formation of Malaysia". The Borneo Post. Diakses tanggal 8 November 2015. 
  77. ^ Tai, Yong Tan (2008). "Chapter Six: Borneo Territories and Brunei". Creating "Greater Malaysia": Decolonization and the Politics of Merger. Institute of Southeast Asian Studies. pp. 154–169. ISBN 978-981-230-747-7. Diakses tanggal 8 November 2015. 
  78. ^ "Trust and Non-self governing territories". United Nations. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 May 2011. Diakses tanggal 2 April 2016. 
  79. ^ "United Nations Member States". United Nations. 3 July 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 March 2016. Diakses tanggal 1 April 2016. 
  80. ^ a b c d Ishikawa, Noboru (15 March 2010). Between Frontiers: Nation and Identity in a Southeast Asian Borderland. Ohio University Press. pp. 86–88,140,169. ISBN 978-0-89680-476-0. Diakses tanggal 9 November 2015. The word "Malay" is widely used in Sarawak because in 1841 James Brooke brought it with him from Singapore, where it had been vaguely applied to all the coast-dwelling seafaring Muslims of the Indonesia Archipelago, particularly those of Sumatra and the Malayan Peninsula. 
  81. ^ "Brunei Revolt breaks out – 8 December 1962". National Library Board (Singapore). Diakses tanggal 9 November 2015. The sultan of Brunei regarded the Malaysia project as "very attractive" and had indicated his interest in joining the federation. However, he was met with open opposition from within his country. The armed resistance challenging Brunei's entry into Malaysia that followed became a pretext for Indonesia to launch its policy of Konfrontasi (or Confrontation, 1963–1966) with Malaysia. 
  82. ^ United Nations Treaty Registered No. 8029, Manila Accord between Philippines, Federation of Malaya and Indonesia (31 July 1963) Archived 11 October 2010 at the Wayback Machine.. Retrieved on 12 August 2011.
  83. ^ United Nations Treaty Series No. 8809, Agreement relating to the implementation of the Manila Accord Archived 12 October 2011 at the Wayback Machine.. Retrieved on 12 August 2011.
  84. ^ James, Chin. "Book Review: The Rise and Fall of Communism in Sarawak 1940–1990". Kyoto Review of South East Asia. Diakses tanggal 10 November 2015. 
  85. ^ a b Chan, Francis; Wong, Phyllis (16 September 2011). "Saga of communist insurgency in Sarawak". The Borneo Post. Diakses tanggal 10 January 2013. 
  86. ^ a b c "About Sarawak – Governance". Official website of State Planning Unit – Chief Minister's Department of Sarawak. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 September 2013. Diakses tanggal 14 November 2015. 
  87. ^ "My Constitution: Sabah, Sarawak and special interests". Malaysian Bar. 2 February 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 November 2015. Diakses tanggal 13 November 2015. 
  88. ^ "My Constitution: About Sabah and Sarawak". Malaysian Bar. 10 January 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 November 2015. Diakses tanggal 13 November 2015. 
  89. ^ Article 95D, Constitution of Malaysia. Accessed on 6 August 2008.
  90. ^ R.S, Milne; K.J, Ratnam (2014). Malaysia: New States in a New Nation. Routledge. p. 71. ISBN 978-1-135-16061-6. Diakses tanggal 14 November 2015. ... the major parties in each state fall quite neatly into three categories: native-non-Muslim, native-Muslim, and non-native. 
  91. ^ "SPECIAL REPORT: The Ming Court Affair (subscription required)". Malaysiakini. 9 January 2013. Diakses tanggal 23 June 2014. 
  92. ^ a b Chin, James (1996). "The Sarawak Chinese Voters and Their Support for the Democratic Action Party (DAP)" (PDF). Southeast Asian Studies (Kyoto University Research Information Repository) 34 (2): 387–401. Diakses tanggal 19 June 2014. 
  93. ^ Tawie, Joseph (9 January 2013). "SNAP faces more resignations over BN move". Free Malaysia Today. Diakses tanggal 19 June 2014. 
  94. ^ Mering, Raynore (23 May 2014). "Analysis: Party loyalty counts for little in Sarawak". The Malay Mail. Diakses tanggal 19 June 2014. 
  95. ^ a b c Faisal, S Hazis (2012). Domination and Contestation: Muslim Bumiputera Politics in Sarawak. Institute of Southeast Asian Studies. pp. 84, 86, 97. ISBN 978-981-4311-58-8. Diakses tanggal 11 December 2015. Rahman was responsible for inserting a provision on Islam, known as Article 4(1) and (2), in the negeri constitution, which states that "The Yang di-Pertuan Agong shall be the Head of religion of Islam in Sarawak" and the Council Negri is empowered to make provisions for regulating Islamic affairs through a Council to advise the Yang di-Pertuan Agong."(page 86) ... Rahman also introduced several policy changes aimed at accelerating the central state's Malaysianisation process. First, the strongman-politician introduced a motion in the Council Negri to make Bahasa Malaysia and English as negeri's official languages. The motion was unanimously passed on 26 March 1974.(page 84)  ... The strongman-politician postponed the negeri election because he was not ready to face the wrath of opposition parties, especially PAJAR. Furthermore, SBN was facing an internal conflict over the allocation of negeri seats, especially after the inclusion of SNAP as the third member of the coalition. So, for the first time, parliamentary and negeri elections were held separately.(page 91) 
  96. ^ Cheng, Lian (7 April 2013). "Why Sarawak is electorally unique". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 June 2015. Diakses tanggal 12 January 2016. For this reason, Sarawak held its state and parliamentary elections separately – and has been adhering to the practice since 1979 whereas all the other states still hold the two elections concurrently (see Table). 
  97. ^ "BN retains Sarawak, Taib sworn in as CM". Free Malaysia Today. 16 April 2011. Diakses tanggal 23 June 2014. 
  98. ^ Chua, Andy (24 April 2010). "DAP: Sarawak Pakatan formed to promote two-party system". The Star (Malaysia) (Star Publications). Diakses tanggal 23 June 2014. 
  99. ^ Ling, Sharon (14 February 2014). "Muhyiddin: Umno need not be in Sarawak". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 23 June 2014. 
  100. ^ a b "Sarawak population". The Official Portal of the Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 14 November 2015. 
  101. ^ "Organisation Structure". Official Website of Ministry of Local Government and Community Development. Diakses tanggal 14 November 2015. 
  102. ^ "New district status to accelerate growth". The Borneo Post. Diakses tanggal 18 April 2016. 
  103. ^ Nicholas, Taring (29 August 2003). Imperialism in Southeast Asia. Routledge. p. 319. ISBN 978-1-134-57081-2. Diakses tanggal 23 December 2015. Charles Brooke set up the Sarawak Rangers in 1862 as a paramilitary force for pacifying 'ulu' Dayaks. 
  104. ^ "Royal Ranger Regiment (Malaysia)". discovermilitary.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 December 2012. Diakses tanggal 22 December 2015. 
  105. ^ Charles, de Ledesma; Mark, Lewis; Pauline, Savage (2003). Malaysia, Singapore, and Brunei. Rough Guides. p. 723. ISBN 978-1-84353-094-7. Diakses tanggal 2 November 2015. In 1888, the three states of Sarawak, Sabah, and Brunei were transformed into protectorates, a status which handed over the responsibility for their foreign policy to the British in exchange for military protection. 
  106. ^ John Grenville; Bernard Wasserstein (4 December 2013). The Major International Treaties of the Twentieth Century: A History and Guide with Texts. Taylor & Francis. pp. 608–. ISBN 978-1-135-19255-6. 
  107. ^ "Ninth schedule – Legislative lists". Commonwealth Legal Information Institute. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 September 2014. Diakses tanggal 22 December 2015. 
  108. ^ Chin Huat, Wong (27 September 2011). "Can Sarawak have an army?". Free Malaysia Today. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 December 2015. Diakses tanggal 22 December 2015. 
  109. ^ R. Haller-Trost (1994). The Brunei-Malaysia Dispute Over Territorial and Maritime Claims in International Law. IBRU. pp. 20–. ISBN 978-1-897643-07-5. 
  110. ^ Jenifer Laeng (3 June 2015). "China Coast Guard vessel found at Luconia Shoals". The Borneo Post. Diakses tanggal 3 June 2015. 
  111. ^ "Presence of China Coast Guard ship at Luconia Shoals spooks local fishermen". The Borneo Post. 27 September 2015. Diakses tanggal 28 September 2015. 
  112. ^ Ubaidillah Masli (17 March 2009). "Brunei drops all claims to Limbang". The Brunei Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 July 2014. Diakses tanggal 23 August 2013. 
  113. ^ Ubaidillah Masli (18 March 2009). "Limbang issue was never discussed: Pehin Dato Lim". The Brunei Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 February 2014. Diakses tanggal 23 August 2013. 
  114. ^ "Loss of James Shoal could wipe out state's EEZ". The Borneo Post. 5 February 2014. Diakses tanggal 17 May 2014. 
  115. ^ "Border disputes differ for Indonesia, M'sia". Daily Express. 16 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 February 2016. Diakses tanggal 16 October 2015. 
  116. ^ a b c d e "Geography of Sarawak". Official website of state planning unit Chief Minister's Department of Sarawak. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 April 2015. Diakses tanggal 14 November 2015. 
  117. ^ "Borneo plants". World Wide Fund for Nature. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 April 2016. Diakses tanggal 2 December 2016. 
  118. ^ "Lambir Hills National Park". Sarawak Forestry Corporation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 May 2015. Diakses tanggal 26 December 2015. 
  119. ^ "Deer Cave and Lang's Cave". Mulu National Park. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 July 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  120. ^ "Clearwater cave and Wind Cave". Gunung Mulu National Park. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 July 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  121. ^ "Gunung Mulu National Park". Malaysia Tourism Promotion Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 October 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  122. ^ "Gunung Mulu National Park". UNESCO. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 October 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  123. ^ "Pasir Panjang, Kuching". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 December 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  124. ^ "Damai Beach Resort". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 December 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  125. ^ "Tanjung Batu Beach, Bintulu". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  126. ^ "Brighton Beach/Tanjung Lobang". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 April 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  127. ^ "Hawaii Beach". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 April 2015. Diakses tanggal 27 December 2015. 
  128. ^ "Medicinal plants around us". The Malaysian Nature Society (The Borneo Post). 24 August 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 August 2014. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  129. ^ "Sarawak National Park – Biodiversity Conservation". Sarawak Forestry Department. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  130. ^ "Rainforest is destroyed for palm oil plantations on Malaysia's island state of Sarawak (Image 1)". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 February 2011. Diakses tanggal 21 August 2014. 
  131. ^ "Rainforest is destroyed for palm oil plantations on Malaysia's island state of Sarawak (Image 2)". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 February 2011. Diakses tanggal 21 August 2014. 
  132. ^ "Rainforest is destroyed for palm oil plantations on Malaysia's island state of Sarawak (Image 3)". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 February 2011. Diakses tanggal 21 August 2014. 
  133. ^ "Sumatran Orangutans' rainforest home faces new threat". Agence France-Presse. The Borneo Post. 5 May 2013. Diakses tanggal 21 August 2014. 
  134. ^ Meijaard, E.; Nijman, V. & Supriatna, J. (2008). "Nasalis larvatus". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal 4 January 2009. 
  135. ^ "25 success stories". International Tropical Timber Organization (ITTO). pp. 44–45. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 June 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  136. ^ "Semenggoh Nature Reserve". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  137. ^ "Matang Wildlife Centre". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  138. ^ "Talang-Satang National Park". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  139. ^ "Birding in Sarawak". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  140. ^ "Similajau National Park". Sarawak Toursim Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  141. ^ "Diving in Miri-Sibuti Coral Reefs National Park". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  142. ^ "Gunung Gading National Park". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  143. ^ "Bako National Park". Sarawak Forestry Corporation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 September 2015. Diakses tanggal 26 December 2015. 
  144. ^ "Padawan Pitcher Plant & Wild Orchid Centre". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 April 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  145. ^ Rogers, Alan (14 July 2013). "Wallace and the Sarawak Law". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 November 2016. Diakses tanggal 15 November 2016. 
  146. ^ Forests Ordinance Chapter 126 (PDF) (1958 ed.). Kuching, Sarawak: Sarawak Forestry Corporation. 31 July 1998. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  147. ^ Wild Life Protection Ordinance, 1998 – Chapter 26 (PDF). Kuching, Sarawak: Sarawak Forestry Corporation. 1998. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  148. ^ "Malaysia:Sarawak Natural Parks and Nature Reserve Ordinance". GlobinMed. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  149. ^ Lian, Cheng (31 March 2013). "Protected wildlife on the menu". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 April 2013. Diakses tanggal 16 November 2015. Hunting wild animals for food is a culture of Sarawak natives. Though most of them have adapted to modern ways, there are some groups such as the Penans still relying on wild animals as the main source of protein. As such, it is permissible for them to possess the meat of animals listed under the "restricted" category. These are wildlife which are protected but breeding in large number such as the wild boars. However, the meat to be taken should not exceed five kgs [sic] under the Wild Life Protection Ordinance 1998 (Amendment 2003). 
  150. ^ "History". Official website of Forest Department Sarawak. Diakses tanggal 16 November 2015. Mr. J.P. Mead became the first Conservator of Forests, Sarawak Forest Department, in 1919. The objectives of the Department were to manage and conserve the State's forest resources. 
  151. ^ Barney, Chan. "6. INSTITUTIONAL RESTRUCTURING IN SARAWAK, MALAYSIA". Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 July 2012. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  152. ^ "Sarawak Forestry Corporation – About Us – FAQ". Sarawak Forestry Corporation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 May 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  153. ^ "About Sarawak Biodiversity Centre – Profile". Sarawak Biodiversity Centre. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 December 2014. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  154. ^ a b Joseph, Tawie (25 October 2012). "'What's really left of our forest, Taib?'". Free Malaysia Today. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 November 2012. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  155. ^ Lim, How Pim (28 February 2014). "Sarawak to maintain its 60 pct forest cover — Awang Tengah". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  156. ^ "Types and Categories of Sarawak's Forests". Sarawak Forest Department. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  157. ^ Rhett, A. Butler (28 March 2011). "Google Earth reveals stark contrast between Sarawak's damaged forests and those in neighboring Borneo states". Mongabay. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  158. ^ "Deforestation in Sarawak – Log tale". The Economist. 3 November 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 October 2015. Diakses tanggal 16 November 2015. 
  159. ^ Jerome, Chove; Jane, E Bryan; Philip, L Shearman; Gregory, P Asner; David, E Knapp; Geraldine, Aoro; Barbara, Lokes (17 July 2013). "Extreme Differences in Forest Degradation in Borneo: Comparing Practices in Sarawak, Sabah, and Brunei". Plos One 8 (7): e69679. doi:10.1371/journal.pone.0069679. PMC 3714267. 
  160. ^ "New figures: palm oil destroys Malaysia's peatswamp forests faster than ever". Wetlands International. 1 February 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 June 2015. Diakses tanggal 17 November 2015. Between 2005–2010 almost 353,000 hectare of the one million hectare peat swamp forests were opened up at high speed; largely for palm oil production. In just 5 years time, almost 10% of all Sarawak's forests and 33% of the peat swamp forests have been cleared. Of this, 65% was for conversion to palm oil production. 
  161. ^ "Malaysia destroying its forests three times faster than all Asia combined". The Daily Telegraph. 1 February 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 17 November 2015. "Total deforestation in Sarawak is 3.5 times as much as that for entire Asia, while deforestation of peat swamp forest is 11.7 times as much," the report said. 
  162. ^ Tom, Young (2 February 2011). "Malaysian palm oil destroying forests, report warns". The Guardian. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 May 2014. Diakses tanggal 28 July 2015. 
  163. ^ Elegant, Simon (3 September 2001). "Without a Trace". Time magazine Asia. Diakses tanggal 14 August 2014. (subscription required (help)). 
  164. ^ "Sarawak and the Penan". Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 July 2015. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  165. ^ "Native Customary Rights in Sarawak". Cultural Survival. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 October 2015. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  166. ^ "Rumah Nor: A Land Rights Case for Malaysia". The Borneo Project. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  167. ^ Jessica, Lawrence. "Earth Island News – Borneo Project – Indigenous victory overturned". Earth Island Institute. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  168. ^ Rhett, Butler. "Power, profit, and pollution: dams and the uncertain future of Sarawak". Mongabay. Diakses tanggal 17 November 2015. One dam has already displaced 10,000 native people and will flood an area the size of Singapore. 
  169. ^ "Bakun Dam". International Rivers. Diakses tanggal 17 November 2015. 
  170. ^ "Sarawak, Malaysia". International Rivers. Diakses tanggal 17 November 2015. Work on access roads to the dam site began but came to a halt in October 2013 when local communities launched two blockades to stop construction and other project preparations from proceeding. 
  171. ^ Vanitha, Nadaraj (21 September 2015). "Battle Against Illegal Logging in Sarawak Begins". The Establishment Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 September 2015. Diakses tanggal 18 November 2015. 
  172. ^ Mike Gaworecki (19 August 2016). "Sarawak establishes 2.2M acres of protected areas, may add 1.1M more". Mongabay. Diakses tanggal 22 August 2016. 
  173. ^ a b c d e f g "The State of Sarawak". Malaysia Rating Corporation Berhad. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 November 2015. Diakses tanggal 12 November 2015. 
  174. ^ Chang, Ngee Hui (2009). "High Growth SMEs and Regional Development – The Sarawak Perspective". State Planning Unit, Sarawak Chief MInister Department. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 November 2015. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  175. ^ "Zoom on historical exchange rate graph (MYR to USD)". fxtop.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 March 2016. Diakses tanggal 26 March 2016. 
  176. ^ Adrian, Lim (28 February 2014). "Sarawak achieves strong economic growth". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 July 2015. Diakses tanggal 18 November 2015. 
  177. ^ "Selangor leads GDP contribution to national economy". Malay Mail. 30 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 October 2015. Diakses tanggal 18 November 2015. 
  178. ^ Desmond, Davidson (6 August 2015). "Adenan pledges to keep fighting for 20% oil royalty". The Malaysian Insider. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 August 2015. Diakses tanggal 19 November 2015. Sarawak Chief Minister Tan Sri Adenan Satem today admitted the oil and gas royalty negotiations – for a hike of 15% from 5% to 20% – with Petronas and Putrajaya have ended in deadlock, but has vowed to fight for it "as long as I'm alive". 
  179. ^ Rasoul, Sorkhabi (2012). "Borneo's Petroleum Plays" 9 (4). GEO Ex Pro. Diakses tanggal 20 November 2015. A simplified map showing the distribution of major sedimentary basins onshore and offshore Borneo. 
  180. ^ "An overview of forest products statistics in South and Southeast Asia – National forest products statistics, Malaysia". Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 July 2015. Diakses tanggal 18 November 2015. In 2000, of the country's total sawlog production of 23 million m3, Peninsular Malaysia contributed 22 percent, Sabah 16 percent, and Sarawak 62 percent. Sawlog production figures for 1996–2000 are shown in Table 2. 
  181. ^ Sharon, Kong (1 September 2013). "Foreign banks in Sarawak". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 September 2013. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  182. ^ "Sarawak shakers". The Star (Malaysia). 27 March 2010. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  183. ^ Looi, Kah Yee (2004). "Chapter 5 – Income Inequality effects on growth-poverty relationship". A study the relationship between economic growth and poverty in Malaysia: 1970–2002 (Chapter 5). Universiti Malaya (Master Thesis). p. 86. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 6 April 2012. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  184. ^ Midin, Salad; Yu, Ji (23 November 2011). "Addressing the poor-rich gap". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 21 November 2015. PKR's Batu Lintang assemblyman See Chee How told the house a week ago that, in 2009, Sarawak recorded 0.448 on the index. A decade before that, Sarawak had better results at 0.407. 
  185. ^ a b "Poverty in Sarawak now below 1%". The Star (Malaysia). 27 August 2015. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  186. ^ "Sarawak unemployment at 4.6 pct in 2010". The Borneo Post. 16 March 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 October 2014. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  187. ^ a b "Generation Portfolio". Sarawak Energy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 November 2013. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  188. ^ a b "Hydroelectric Power Dams in Sarawak". Sarawak Integrated Water Resources – Management Master Plan. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 November 2015. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  189. ^ Jack, Wong (22 July 2014). "Bakun at 50% capacity producing 900MW". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 23 November 2015. 
  190. ^ Christopher, Lindom (11 July 2015). "Making HEPs in Sarawak safe". New Sarawak Tribune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 November 2015. Diakses tanggal 23 November 2015. ... Murum HEP had officially started commercial operation on 8 June 2015,"...  
  191. ^ "Core Business Activities". Sarawak Energy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 July 2015. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  192. ^ Wong, Jack (12 May 2014). "Sarawak Energy needs to raise generating capacity to 7,000 MW". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 23 November 2015. 
  193. ^ CK Tan (12 May 2016). "Malaysia exports electricity to Indonesia". Nikkei Asian Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 May 2016. Diakses tanggal 15 May 2016. 
  194. ^ "Research and Development – Introduction To Renewable Energy". Sarawak Energy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 July 2015. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  195. ^ "Development Strategy". Regional Corridor Development Authority. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 22 November 2015. 
  196. ^ "What is SCORE?". Regional Corridor Development Authority. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 22 November 2015. 
  197. ^ "Sarawak Corridor of Renewable Energy – Register your interest". Sarawak Corridor of Renewable Energy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 June 2014. Diakses tanggal 26 July 2015. 
  198. ^ "What is RECODA". Regional Corridor Development Authority. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 22 November 2015. 
  199. ^ "SCORE Areas". Sarawak Corridor of Renewable Energy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 June 2014. Diakses tanggal 31 July 2015. 
  200. ^ "Samalaju – SCORE". Regional Corridor Development Authority. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 22 November 2015. 
  201. ^ "Tanjung Manis – SCORE". Regional Corridor Development Authority. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 22 November 2015. 
  202. ^ "Mukah – SCORE". Regional Corridor Development Authority. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 22 November 2015. 
  203. ^ a b "Fewer tourists visited Sarawak last year, DUN told". The Borneo Post. Diakses tanggal 16 June 2016. 
  204. ^ a b "Sarawak's tourism strategy focuses on sustainable development". Oxford Business Group. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 November 2015. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  205. ^ a b "Pulling more tourists to Sarawak". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 August 2015. Diakses tanggal 7 July 2015. 
  206. ^ Ava, Lai (29 July 2015). "Valuable prizes await Hornbill winners". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 20 November 2015. 
  207. ^ "Sarawak fest certain to be a rare treat". Bangkok Post. 22 February 2011. Diakses tanggal 20 November 2015. (subscription required (help)). 
  208. ^ "Shopping Malls in Kuching". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 December 2015. Diakses tanggal 28 December 2015. 
  209. ^ "Shopping Malls in Miri". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 February 2015. Diakses tanggal 28 December 2015. 
  210. ^ Kathleen, Peddicord (10 December 2012). "The Most Interesting Retirement Spot You've Never Heard Of". U.S. News & World Report. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 April 2014. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  211. ^ Jean, Fogler. "Retirement Abroad: 5 Unexpected Foreign Cities". Investopedia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 April 2015. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  212. ^ "Why Malaysia is one of the top 3 countries for retirement". HSBC Bank Malaysia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 21 November 2015. 
  213. ^ "Visitor Arrivals into Sarawak 2015" (PDF). Ministry of Tourism, Arts and Culture Sarawak. Diakses tanggal 31 May 2016. 
  214. ^ OECD Investment Policy Reviews OECD Investment Policy Reviews: Malaysia 2013. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Publishing. 30 October 2013. p. 234. ISBN 978-92-64-19458-8. Diakses tanggal 17 December 2015. All the same, there are important variations in the quantity and quality of infrastructure stocks, with infrastructure more developed in peninsular Malaysia than in Sabah and Sarawak. 
  215. ^ "About Us". MIDCom. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  216. ^ "Industrial Estate by Division". Official Website of the Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 July 2015. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  217. ^ H., Borhanazad; S., Mekhilef; R, Saidur; G., Boroumandijazi (2013). "Potential application of renewable energy for rural electrification in Malaysia" (PDF). Renewable Energy 59: 211. Diakses tanggal 23 November 2015. 
  218. ^ a b Alexandra, Lorna; Doreen, Ling (9 October 2015). "Infrastructure crucial to state's goals". New Sarawak Tribune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 December 2015. Diakses tanggal 16 December 2015. "In 2014, 82% of houses located in Sarawak rural areas have access to water supply in comparison to 59% in 2009." Fadillah also said that the rural electricity coverage had improved over the last few years with 91% of the households in Sarawak having access to electricity in 2014 compared to 67% in 2009. 
  219. ^ "New technologies play a major role in Sarawak's development plans". Oxford Business Group. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 December 2015. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  220. ^ Mohd, Hafiz Mahpar (2 April 2015). "Cahya Mata Sarawak buys 50% of Sacofa for RM186m". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 17 December 2015. 
  221. ^ "About SAINS – Corporate Profile". Sarawak Information Systems Sdn Bhd. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  222. ^ "Pos Malaysia wheels brings mobile postal service to Lawas". Bernama. 15 February 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 December 2015. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  223. ^ Adib, Povera (29 October 2015). "Postal services improving in Sabah and S'wak". New Straits Times. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  224. ^ "Transport and Infrastructure". Official Website of the Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  225. ^ Harun, Jau (8 August 2015). "New department being set up". New Sarawak Tribune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 December 2015. Diakses tanggal 17 December 2015. 
  226. ^ "State statistics: Malays edge past Chinese in Sarawak". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 April 2016. Diakses tanggal 15 April 2016. 
  227. ^ "Johari: Urban-rural ratio to hit 65:35 within 10 years". The Star (Malaysia). 17 January 2014. Diakses tanggal 24 November 2015. 
  228. ^ "Vital Statistics Summary for Births and Deaths". Sarawak Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 12 January 2016. 
  229. ^ a b "The Sarawak People". Sarawak Tourism Federation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 January 2015. Diakses tanggal 24 November 2015. 
  230. ^ "Penans 'stateless' because of fines". The Star (Malaysia). 26 September 2005. Diakses tanggal 30 October 2016. 
  231. ^ Sheith Khidir, Abu Bakar (29 March 2016). "Stateless Penans demand citizenship papers". Free Malaysia Today. Diakses tanggal 30 October 2016. 
  232. ^ "Mobile unit makes NRD applications easy for Penan community". The Borneo Post. 7 April 2016. Diakses tanggal 30 October 2016. 
  233. ^ "Over 150,000 foreign workers in Sarawak hold temporary employment passes". The Sun Daily. 26 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 October 2015. Diakses tanggal 18 December 2015. 
  234. ^ Sulok, Tawie (11 April 2015). "Illegal immigrants in Sarawak a 'huge problem', deputy home minister admits". Malay Mail Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 October 2015. Diakses tanggal 18 December 2015. 
  235. ^ Ting, Su Hie; Rose, Louis (June 2014). "Ethnic Language Use and Ethnic Identity for Sarawak Indigenous Groups in Malaysia" 53 (1). Oceanic Linguistics. p. 92. doi:10.1353/ol.2014.0002. Diakses tanggal 30 November 2015. (subscription required (help)). In Malaysia, Bumiputera (literally translated as 'prince of the earth' or 'son of the land') refers to the Malay and other indigenous people. ... The Bumiputera in general enjoy special privileges as part of the affirmative action for advancement of the community, and these include priority in university entry, scholarships, and government jobs, special finance schemes, and political positions. 
  236. ^ "Indigenous peoples – (a) Land rights of Indigenous Peoples". Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 October 2015. Diakses tanggal 30 November 2015. 
  237. ^ Leong, Joe (4 August 2014). "Bizarre names like Tigabelas, Helicopter, Kissing in Borneo are real". The Ant Daily. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 November 2015. Diakses tanggal 24 November 2015. There are several other minor ethnic groups placed under the 'others', such as Indian, Eurasian, Kedayan, Javanese, Bugis and Murut. 
  238. ^ Winzeler, R.L. (2004). The Architecture of Life and Death in Borneo. University of Hawaii Press. p. 3. ISBN 978-0-8248-2632-1. Diakses tanggal 24 November 2015. ... it more popularly refers only to the Bidayuh and the Iban (the Land and Sea Dayaks respectively of the colonial tradition. 
  239. ^ "Putrajaya approves 'Dayak' for 'Race' category in all official forms". The Malaysian Insider. 31 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 November 2015. Diakses tanggal 24 November 2015. 
  240. ^ "State statistics: Malays edge past Chinese in Sarawak". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 April 2016. Diakses tanggal 15 April 2016. 
  241. ^ Keat, Gin Ooi (2004). Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, Volume 1. ABC-CLIO. pp. 623–625. ISBN 978-1-57607-770-2. Diakses tanggal 25 November 2015. Ibans are found in all political divisions of Borneo but in largest numbers in Sarawak. ... Christian missionaries have been active among the Ibans for more than a century, and today many Ibans are Christians. 
  242. ^ "Our People – Iban – The official travel website for Sarawak, Malaysian Borneo". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 November 2015. Diakses tanggal 25 November 2015. 
  243. ^ a b "Our people – Chinese". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 July 2015. Diakses tanggal 28 November 2015. 
  244. ^ John, Barwick. "Huang Naishang (1844–1924)". Biographical Dictionary of Chinese Christianity. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 May 2013. Diakses tanggal 21 July 2015. Shortly thereafter, Huang decided to start a new settlement of Chinese in Malaysia in order to escape China's despotism and Fujian's poverty. ... In 1901, Huang traveled with settlers from Fujian to Sibu, where he founded New Fuzhou. 
  245. ^ Voon, J.C. (2002). "Sarawak Chinese political thinking : 1911–1963". Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS). Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 November 2015. Diakses tanggal 30 November 2015. 
  246. ^ "Our people – Malay – The official website for Sarawak Malaysian Borneo". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 November 2015. Diakses tanggal 30 November 2015. 
  247. ^ Jeniri, Amir (2015). "Asal usul Melayu Sarawak: menjejaki titik tak pasti (Asal muasal Melayu Sarawak: Penyelidikan poin-poin tak pasti)". Jurnal Antarabangsa Dunia Melayu (Jurnal Internasional Dunia Melayu) (dalam Melayu) (Fakultas Ilmu Sosial, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS)) 8 (1). Diakses tanggal 30 November 2015. 
  248. ^ "Journey to Melanau heartland". Situs web perjalanan resmi untuk Sarawak, Malaysian Borneo. Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 December 2015. Diakses tanggal 7 December 2015. 
  249. ^ "Miri Visitors' Guide – Miri's inhabitants". gomiri.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 May 2015. Diakses tanggal 8 August 2015. 
  250. ^ "Our people – Bidayuh". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 December 2015. Diakses tanggal 7 December 2015. 
  251. ^ "Bidayuh longhouse". Sarawak Cultural Village. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 July 2012. Diakses tanggal 7 December 2015. 
  252. ^ a b Erivina. "Our people – Orang Ulu". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 February 2015. Diakses tanggal 10 December 2015. 
  253. ^ "Taburan Penduduk dan Ciri-ciri asas demografi (Population Distribution and Basic demographic characteristics 2010)" (PDF). Department of Statistics, Malaysia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 22 May 2014. Diakses tanggal 11 December 2015.  p. 13
  254. ^ "Explanation sought on real status of S'wak's official religion". The Borneo Post. 12 December 2015. Diakses tanggal 11 December 2015. The Sarawak State Constitution is clear—Sarawak has no official religion, but the official website stated otherwise. This matter was pointed out by YB Baru Bian (Ba Kelalan assemblyman and state PKR chairman) in his letter to the state secretary in July this year, and no action was taken. 
  255. ^ Carlo, Caldarola (1982). Religions and Societies, Asia and the Middle East. Walter de Gruyter. p. 481. ISBN 978-90-279-3259-4. Diakses tanggal 15 December 2015. 
  256. ^ "SIB & BEM – A Brief Introduction to Origin of SIB". SIB Grace. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 November 2013. Diakses tanggal 15 December 2015. 
  257. ^ "List of Baptist churches in Sarawak". Malaysia Baptist Convention. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 October 2014. Diakses tanggal 15 December 2015. 
  258. ^ Carl, Skutsch (7 November 2013). Encyclopedia of the World's Minorities. Routledge. p. 781. ISBN 978-1-135-19388-1. Diakses tanggal 15 December 2015. 
  259. ^ "Malaysia Bahai's – Sarawak". bahai.org.my. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 March 2016. Diakses tanggal 1 April 2016. 
  260. ^ Chieng, Connie (17 August 2015). "Sarawak is a blessed land of harmony". New Sarawak Tribune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 April 2016. Diakses tanggal 1 April 2016. 
  261. ^ "Sikh Temple". Sarawak Tourism Board. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 March 2016. Diakses tanggal 1 April 2016. 
  262. ^ "Animism is alive and well in South-East Asia: What can we learn?". Pravda.ru. 24 March 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 April 2016. Diakses tanggal 1 April 2016. 
  263. ^ John, Postill (15 May 2006). Media and Nation Building: How the Iban became Malaysian. Berghahn Books. p. 58. ISBN 978-0-85745-687-8. Diakses tanggal 13 November 2015. because of his strong defence of English as the language of instruction in Sarawak ... ,(page 58) 
  264. ^ "Former Education Minister Calls For Return To Teaching Maths, Science In BM". Bernama. 12 November 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 July 2011. Diakses tanggal 13 November 2015. 
  265. ^ Sulok, Tawie (20 February 2012). "Usage of English, native languages officially still legal in Sarawak". The Sun Daily. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 November 2015. Diakses tanggal 13 November 2015. 
  266. ^ "My Constitution – Sabah and Sarawak". Malaysian Bar. Diakses tanggal 13 November 2015. English was the official language of the State Legislative Assemblies and Courts in Sabah and Sarawak on Malaysia Day, 16 September 1963. Any change of the official language to Bahasa Melayu can only become effective when the State Legislative Assembly of Sabah or Sarawak agrees to adopt federal laws that make Bahasa Melayu the official language. 
  267. ^ Ogilvy, Geryl (18 November 2015). "Sarawak to recognise English as official language besides Bahasa Malaysia". The Borneo Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 March 2016. Diakses tanggal 2 April 2016. 
  268. ^ "Sarawak, a land of many tongues". The Borneo Post. 23 December 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 November 2015. Diakses tanggal 13 November 2015. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]