Kota Singkawang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Singkawang)
Kampung Singkawang
Transkripsi bahasa daerah
 • Hanzi山口洋
 • Pinyinshān kǒu yáng
 • Hakkasan khew jong
 • Dayak SalakoSakawokng
 • Jawiكوتا سيڠ كوانڠ
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, 2020
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, 2020
Lambang resmi Kampung Singkawang
Julukan: 
Hong Kong van Borneo
Motto: 
Bersatu untuk maju
Peta
Peta
Kampung Singkawang di Kalimantan
Kampung Singkawang
Kampung Singkawang
Peta
Kampung Singkawang di Indonesia
Kampung Singkawang
Kampung Singkawang
Kampung Singkawang (Indonesia)
Koordinat: 0°54′00″N 108°59′00″E / 0.9°N 108.9833°E / 0.9; 108.9833
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Barat
Tanggal berdiri17 Oktober 2001 (umur 20)
Dasar hukumUU RI Nomor 12 Tahun 2001
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 5
  • Kelurahan: 26
Pemerintahan
 • Wali KotaTjhai Chui Mie, S.E., M.H.
 • Wakil Wali KotaDrs. H. Irwan, M.Si
Luas
 • Total504,00 km2 (194,60 sq mi)
Populasi
 • Total239.260
 • Kepadatan475/km2 (1,230/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 52,91%
Buddha 33,82%
Kristen 12,81%
- Katolik 7,43%
- Protestan 5,38%
Konghucu 0,43%
Hindu 0,02%
Lainnya 0,01%[3]
 • BahasaIndonesia, [[Bahasa Melayu Singkawang- Sambas Hakka, Dayak, Jawa, Madura
 • IPMKenaikan 72,11 (2021)
Tinggi[4]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode area telepon+62 562 [5]
Pelat kendaraanKB xxxx C*
Kode Kemendagri61.72 Edit the value on Wikidata
APBDRp 918.979.778,415[6](2018)
DAURp 523.133.242.000,- (2020)[7]
Situs websingkawangkota.go.id

Singkawang adalah sebuah kampung yang terletak di pedalaman Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kampung ini terletak sekitar 145 km sebelah Utara dari Kota Elit Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakkok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Dayak Salako, yaitu Sakawokng yang berarti Wilayah rawa-rawa yang sangat luas (Semuanya rawa). Sumber: Buku berjudul Austronesia Dayakka oleh Simon Takdir. Selain itu, masyarakat Tionghoa Hakka di Sakawokng juga menamai daerah ini dalam bahasa Hakka sebagai "San-Khew-Jong" (arti: Gunung-Mulut-Laut), yang memiliki makna "Kota yang berada di kaki gunung dekat laut dan di dalamnya memiliki sungai yang mengalir dari hulu hingga ke hilir dan bermuara di mulut sungai (estuari)."

Pada tahun 2021, jumlah penduduk Kampung Singkawang sebanyak 239.260 jiwa, dan salah satu kota yang penduduknya sangat multietnis dan agama di Indonesia. Tahun 2022, Singkawang menempati urutan pertama sebagai Kota Anti Toleransi di Indonesia

Penduduk Singkawang pada tahun 2022 sebanyak 251.789 jiwa, dan salah satu kota multi etnis dan agama. Kampung ini disebut² sebagai kampung anti toleransi terbaik di Indonesia setelah Bali dan Jakarta"

Agama di Singkawang sebagai berikut: katolik 40% protestan 15% Buddha 25% dan Islam 20%

Suku di Singkawang : tionghoa 87% (Hakka 30%,Yue 20%wu 37%) 13 %

Melayu Singkawang Sambas, Dayak salako lainnya (Jawa,Batak,Sunda,melayu,Minang,Aceh,dan minahasa)""

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal Usul Singkawang[sunting | sunting sumber]

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang yang didatangkan langsung oleh Sultan Sambas untuk bekerja di pertambangan emas kebanyakan berasal dari negeri Tiongkok, sebelum mereka menuju ke Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya dan Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas).

Pada masa itu, penduduk pendalaman Dayak Salako menyebut Singkawang dengan kata "Sakawokng" (Bahasa Dayak Salako), yang artinya Daerah rawa-rawa yang sangat luas dan terletak di pinggir pantai. Dayak Salako merupakan bagian dari prajurit dan intelijen Kesultanan Sambas yang diberikan wilayah teritorial di Binua Saragantung Sakawokng.

Pada dasarnya suku Dayak Salako telah lama mendiami wilayah adat Sakawokng sebelum menjadi wilayah perdagangan yang ramai. Suku Tionghoa Hakka yang berasal dari Tiongkok Selatan yang mayoritas adalah petani, pedagang, dan penambang emas pada saat itu masuk ke wilayah Sakawokng melalui sungai-sungai kecil di wilayah Sado (Sedau). Pada awalnya, wilayah Singkawang masih berupa hutan belantara yang luas serta dipenuhi oleh rawa-rawa. Melihat letak geografisnya, para pendatang Tionghoa Hakka menamai daerah ini dalam bahasa Hakka sebagai "San Khew Jong" (山口洋).

Kata "San" (山) yang artinya Gunung dan Hutan, kata "Khew" (口) yang artinya Mulut Sungai, serta kata "Jong" (洋) yang artinya Laut. Tiga suku kata tersebut sangat menggambarkan letak geografis Singkawang yang dikelilingi oleh gunung-gunung dan berdekatan dengan laut serta memiliki sungai yang mengalir dari hulu hingga hilir dan bermuara di mulut sungai (estuari). Secara kebetulan atau tidak, nama San Khew Jong yang diberikan oleh para pendatang Tionghoa Hakka tersebut memiliki bunyi dan makna yang sama dengan nama Sakawokng yang telah lebih dulu dinamakan oleh para leluhur Dayak Salako. Hal ini menunjukkan adanya interaksi yang terjalin secara baik sejak dahulu kala antara masyarakat Tionghoa Hakka dengan masyarakat adat Dayak Salako Sakawokng terutama dalam hal bahasa dan budaya.

Pembentukan Kota Administratif Singkawang[sunting | sunting sumber]

Kota Singkawang semula merupakan bagian dan ibu kota dari wilayah Kabupaten Sambas (UU Nomor 27 Tahun 1959) dengan status Kecamatan Singkawang dan pada tahun 1981 kota ini menjadi Kota Administratif Singkawang (PP Nomor 49 Tahun 1981). Tujuan pembentukan Kota Administratif Singkawang adalah untuk meningkatkan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan secara berhasil guna dan berdaya guna dan merupakan sarana utama bagi pembinaan wilayah serta merupakan unsur pendorong yang kuat bagi usaha peningkatan laju pembangunan. Selain pusat pemerintahan Kota Administratif Singkawang ibu kota Sambas juga berkedudukan di Kota Singkawang.

Pembentukan Pemerintah Kota Singkawang[sunting | sunting sumber]

Kota Singkawang pernah diusulkan menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Singkawang yaitu melalui usul pemekaran Kabupaten Sambas menjadi 3 (tiga) daerah otonom. Namun Kotamadya Daerah Tingkat II Singkawang tidak langsung direalisir oleh Pemerintah Pusat. Saat itu melalui UU Nomor 10 Tahun 1999, hanya pemekaran Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkayang dari Kabupaten Sambas yang disetujui, sehingga wilayah Kota Administratif Singkawang menjadi bagian dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkayang, sekaligus menetapkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sambas beribu kota di Sambas.

Kondisi tersebut tidaklah membuat surut masyarakat Singkawang untuk memperjuangkan Singkawang menjadi daerah otonom, aspirasi masyarakat terus berlanjut dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Sambas dan elemen masyarakat seperti: KPS, GPPKS, Kekertis, Gemmas, Tim Sukses, LKMD, para RT serta organisasi lainnya. Melewati jalan panjang melalui penelitian dan pengkajian yang terus dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Barat maupun Tim Pemekaran Kabupaten Sambas yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bersama antara Bupati Sambas dan Bupati Bengkayang No. 257 Tahun 1999 dan No. 1a Tahun 1999, tanggal 28 September 1999, serta pengkajian dari Tim CRAIS, Badan Pertimbangan Otonomi Daerah. Akhirnya Singkawang ditetapkan sebagai daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang, dan diresmikan pada tanggal 17 Oktober 2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah atas nama Presiden Republik Indonesia.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Dengan luas wilayah 504 km², Singkawang terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di antara 0°44’55,85” - 1°01’21,51"LS 108°051’47,6”-109°010’19”BT. Singkawang merupakan kota yang berbatasan dengan Kuching, Malaysia.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayah Kota Singkawang adalah:

Utara Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas
Timur Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang
Selatan Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang
Barat Laut Cina Selatan, Laut Natuna.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Wali Kota[sunting | sunting sumber]

No. Wali Kota Dari Sampai Wakil Wali Kota Ket.
Awang Ishak Wali Kota Singkawang.jpg Awang Ishak 17 Oktober 2001 17 Desember 2002 Penjabat
1 17 Desember 2002 17 Desember 2007 Raymundus Sailan
2 Wali Kota Singkawang Hasan Karman.jpg Hasan Karman 17 Desember 2007 17 Desember 2012 Edy R. Yacoub
(1) Awang Ishak Wali Kota Singkawang.jpg Awang Ishak 17 Desember 2012 17 Desember 2017 Abdul Muthalib
3 Mayor of Singkawang Tjhai Chui Mie.jpg Tjhai Chui Mie 17 Desember 2017 Petahana Irwan

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Singkawang dalam dua periode terakhir.[8][9]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  PKB 4 Penurunan 3
  Gerindra 3 Penurunan 2
  PDI-P 6 Penurunan 5
  Golkar 2 Steady 2
  NasDem 3 Kenaikan 5
  PKS 2 Kenaikan 4
  PPP 2 Penurunan 1
  PSI (baru) 1
  PAN 1 Steady 1
  Hanura 2 Kenaikan 4
  Demokrat 3 Penurunan 2
  PKPI 2 Penurunan 0
Jumlah Anggota 30 Steady 30
Jumlah Partai 11 Steady 11


Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kota Singkawang terdiri dari 5 kecamatan dan 26 kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 232.993 jiwa dengan luas wilayah 504,00 km² dan sebaran penduduk 462 jiwa/km².[10][11] Kota Singkawang memperoleh status kota berdasarkan UU No. 12/2001, tanggal 21 Juni 2001. Berdasarkan Perda Kota Singkawang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Perubahan desa menjadi Kelurahan di Kota Singkawang dan Perda Nomor 2 Tahun 2003 tentang Pembentukan dan Perubahan Nama Kecamatan di Kota Singkawang sesuai dengan ketentuan tersebut di atas, terdapat 5 (lima) kecamatan dan 26 (dua puluh enam) kelurahan.

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Singkawang, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
61.72.02 Singkawang Barat 4
61.72.05 Singkawang Selatan 4
61.72.01 Singkawang Tengah 6
61.72.03 Singkawang Timur 5
61.72.04 Singkawang Utara 7
TOTAL 26

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Masjid Raya Kota Singkawang di malam hari
Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Kota Singkawang

Kota Singkawang merupakan salah satu pecinan terbesar di Indonesia karena dominan penduduknya adalah keturunan Tionghoa Hakka dan sebagian kecil Tionghoa Tio Ciu, dengan total persentase sekitar 42% dan selebihnya adalah orang Melayu Singkawang ( Suku Sambas) (30%), Dayak (10%), Jawa (10%), Madura (5%) dan pendatang lainnya. Populasi penduduknya terus mengalami peningkatan setiap tahun dengan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2006 adalah 5,6 persen. Berdasarkan data Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Singkawang pada tahun 2011, tercatat jumlah penduduk sebanyak 246.306 jiwa.

  • Singkawang Selatan

- Tahun 2006: 37.396 jiwa - Tahun 2007: 40.708 jiwa - Tahun 2008: 41.466 jiwa

  • Singkawang Timur

- Tahun 2006: 18.951 jiwa - Tahun 2007: 19.022 jiwa - Tahun 2008: 19.054 jiwa

  • Singkawang Utara

- Tahun 2006: 20.287 jiwa - Tahun 2007: 21.160 jiwa - Tahun 2008: 21.401 jiwa

  • Singkawang Barat

- Tahun 2006: 59.534 jiwa - Tahun 2007: 60.307 jiwa - Tahun 2008: 60.656 jiwa

  • Singkawang Tengah

- Tahun 2006: 52.132 jiwa - Tahun 2007: 55.882 jiwa - Tahun 2008: 56.330 jiwa

Iklim[sunting | sunting sumber]

Secara umum wilayah Kota Singkawang beriklim tropis dengan suhu rata-rata berkisar antara 21,8 °C sampai dengan 30,05 °C. Iklim tropis di wilayah Kota Singkawang termasuk klasifikasi iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2.819 mm/tahun atau 235 mm/bulan. Jumlah rata-rata hari hujan 157 hari/tahun atau rata-rata 13 hari hujan/bulan. Rata-rata kelembaban udara di kota Singkawang adalah 70%. Curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan September sampai dengan Januari dan curah hujan terendah antara bulan Juni sampai dengan Agustus. Kota Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan dataran rendah antara 50 meter s/d 100 meter di atas permukaan laut. Kota Singkawang yang terletak pada 0° LS dan 109° BT, wilayahnya merupakan daerah hamparan dan berbukit serta sebelah Barat berada pada pesisir laut.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Salah satu sudut Kota Singkawang

Pantai Pasir Panjang[sunting | sunting sumber]

Pantai Pasir Panjang telah lama menjadi tempat rekreasi yang terkenal di Kalimantan Barat. Posisinya yang menghadap ke laut Natuna serta didampingi beberapa pulau kecil di sekitarnya, antara lain pulau Lemukutan, pulau Kabung dan Pulau Randayan. Perahu-perahu kecil dan speed boat dapat disewa di sini untuk menuju ke pulau-pulau tersebut. Sebagai sebuah tempat rekreasi, objek wisata ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, antara lain hotel di sekitar pantai, cottage, toko-toko, diskotik dan fasilitas-fasilitas lainnya tersedia bagi wisatawan. Tempat ini sangat cocok bagi orang-orang yang menyukai olahraga renang, memancing, menyelam, dan ski air atau berselancar.

Pantai Pasir Panjang berada di Kecamatan Tujuhbelas, hanya 17 km dari pusat kota Singkawang. Kondisi jalan masuk telah beraspal dan dapat dilewati oleh kendaraan roda empat. Sarana transportasi dari dan ke Pasir Panjang berupa kendaraan umum, taksi, minibus maupun kendaraan pribadi. Hamparan pasir putih dan bebatuan yang memanjang disertai hembusan angin dan deburan ombak yang aman sebagai kawasan pemandian, suasana Pasir Panjang akan terasa pada saat matahari terbit dan tenggelam di cakrawala. Dengan ditemani deretan Gunung Besi dan pepohonan yang menaunginya semakin menambah keelokan dan kekhasan wilayah wisata ini. Fasilitas yang lengkap dan nyaman dapat anda rasakan saat berwisata atau berlibur ke pantai Pasir Panjang ini. Mulai penginapan, kolam renang keluarga, tempat bermain anak-anak, warung-warung makan hingga fasilitas olahraga seperti motorcross, road race dan gokart. Anda dapat pula memancing langsung ke kawasan laut.

Sinka Island Park[sunting | sunting sumber]

Salah satu tujuan wisata baru di Singkawang terletak di kawasan wisata Teluk Karang/Teluk Ma'jantuh. Terletak sebelah selatan kota Singkawang 8 km sebelum memasuki kota ini. Dari pinggir jalan raya Pontianak - Singkawang berjarak 3 km. Merupakan objek wisata masa depan yang menawarkan fasilitas hiburan modern dan alami, kawasan wisata tepi pantai ini menyajikan pemandangan pantai dan hiburan lainnya untuk keluarga yang ditopang dengan berbagai fasilitasnya, seperti delman maupun kuda bagi pengunjung yang dapat disewa untuk mengelilingi taman rekreasi ini. Selain itu pengelola menyediakan kolam renang, kantin dan fasilitas lainnya.

Sinka Zoo[sunting | sunting sumber]

Sinka Zoo terletak di sebelah kawasan Sinka Island Park, tepatnya di sebelah selatan dengan jarak 500 meter setelah memasuki Sinka Island Park. Keunikan kebun binatang ini terletak diberbagai penjuru mengelilingi gunung dan tampak keindahan laut dari atas gunung tersebut yang menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah, taman rekreasi ini juga memiliki mobil pembawa para wisatawan untuk mengelilingi gunung Bajau. Dari atas gunung ini kita dapat menyaksikan keindahan kota singkawang dengan jelas.

Taman Bukit Bougenville[sunting | sunting sumber]

Merupakan taman bunga yang terletak di sebelah selatan, tepatnya di Kelurahan Sijangkung dan berjarak ± 6 km dari pusat kota Singkawang. Posisinya terletak di kaki bukit berlatar belakang Gunung Pasi dan dikelilingi areal hutan dan perkebunan. Taman ini memiliki luas 1,5 ha. Walaupun bunga Bougenville yang menjadi tampilan utama, namun terdapat pula beragam bunga-bunga lainnya dan penataan taman yang asri untuk dapat dinikmati keluarga dan muda-mudi.

Fasilitas yang disediakan untuk pengunjung relatif telah memberikan kesan "kenyamanan" untuk dinikmati, mulai dari sarana publik seperti tempat parkir, musholla, pondok-pondok tempat bersantai, rest room, cafetaria, kolam renang mini untuk anak-anak hingga hutan homogen yang dinamakan "Area Super Sejuk" dan dapat digunakan untuk area fotografi pengantin, alam dan sebagainya. Dilengkapi keramahan yang menyapa anda dari tiap ruang hingga sajian menu sesuai selera.

Taman Chidayu[sunting | sunting sumber]

Berdampingan dengan taman Bougenville, Chidayu memiliki karakteristik khas dengan tempat pemancingan, pepohonan buah-buahan, taman bunga dan taman bermain anak-anak. Kesejukan hembusan angin dapat kita nikmati sembari melihat sunset di ufuk barat dan hidangan cafe Chidayu.

Taman Teratai Indah[sunting | sunting sumber]

Tidak sampai 10 menit dari kota, tempat rekreasi keluarga untuk menikmati pemandangan gunung yang berjejer menghiasi kota Singkawang dengan nuansa 'air' dapat pula bersenda gurau di danau buatan sembari mengengkol sepeda air, berenang bersama keluarga di kolam renang, dan menikmati sajian makanan dan minuman di restoran atau danau.

Pasar Hong Kong[sunting | sunting sumber]

Bukanlah persoalan jika anda merasa lapar di malam hari, karena deretan gerobak yang menjual berbagai jenis makanan di pasar Hong Kong siap mengisi perut Anda. Pasar Hong Kong adalah sebutan orang Singkawang untuk Jalan Bawal dan sekitarnya di malam hari. Di pagi dan siang harinya, lokasi ini hanyalah jalan biasa tempat berlalu-lalang berbagai kendaraan, namun ketika malam tiba akan dipadati gerobak-gerobak yang menjual berbagai jenis makanan.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya[sunting | sunting sumber]

Kota Singkawang juga dikenal dengan sebutan kota Seribu Kelenteng, karena di setiap sudut kota ini dapat ditemui banyak bangunan vihara atau lebih dikenal sebagai kelenteng atau pekong. Bangunan ini memiliki arsitektur yang khas, didominasi warna merah dan hiasan liong.

Danau Biru[sunting | sunting sumber]

Danau Biru Singkawang terletak di daerah Singkawang Timur tepatnya di daerah Wonosari, Roban yang hanya berjarak sekitar 6 km saja dari pusat kota Singkawang.[12]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Perayaan Tahun Baru Imlek Singkawang di malam hari pada tanggal 31 Januari 2014.

Cap Go Meh[sunting | sunting sumber]

Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan untuk menyambut tahun baru Imlek merupakan tradisi budaya termegah yang selalu dirayakan seluruh lapisan masyarakat Singkawang setiap tahun. Bagi mereka perayaan Imlek tidak ada bedanya dengan masyarakat Indonesia lainnya ketika merayakan Idul Fitri atau Natal.

Tahun baru Imlek muncul dari tradisi masyarakat Tiongkok yang dianggap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan sekaligus harapan agar musim berikutnya memperoleh hasil yang lebih baik. Imlek selalu dirayakan selama 15 hari berturut-turut dan hari puncak ke-15 disebut dengan Cap Go Meh. Dalam tradisi Tionghoa berarti malam ke-15 yang merupakan puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. Kalau mau ditelaah lebih jauh, Cap Go Meh di Indonesia sendiri merupakan perpaduan budaya Tiongkok dan Indonesia, yakni adanya lontong Cap Go Meh. Lontong adalah makanan asli Indonesia, sedangkan Cap Go Meh adalah tradisi yang lahir dari Imlek.

Puncak acara Imlek atau Cap Go Meh ini dimaksud untuk menangkal gangguan atau kesialan pada masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertunjukan Tatung (dibaca: Ta-Thung). Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung. Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya.

Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki siapa saja, tergantung apakah para pemeran Tatung memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum hari perayaan yang maksudnya agar mereka berada dalam keadaan suci sebelum perayaan.

Dalam atraksi Tatung yang sudah dirasuki roh orang meninggal bertingkah aneh, ada yang menginjak-injak sebilah mata pedang atau pisau, ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri. Anehnya para Tatung itu sedikit pun tidak tergores atau terluka. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah.

Di Singkawang banyak orang Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung, mereka terdorong berpartisipasi karena ritual Tatung mirip dengan upacara adat Dayak. Bahkan ada juga Tatung dari orang Tionghoa Hakka yang berpakain adat Dayak, hal ini dikarenakan roh yang memasuki tubuh mereka juga ada dari roh leluhur Dayak. Inilah salah satu keunikan akulturasi budaya Tionghoa-Dayak yang hanya bisa ditemukan di Provinsi Kalimantan Barat khususnya Kota Singkawang. Akulturasi ritual budaya Tionghoa dengan ritual penduduk lokal semacam ini tidak bisa ditemukan pada masyarakat Tionghoa di seluruh Asia Tenggara bahkan di seluruh dunia termasuk di daratan Tiongkok itu sendiri. Sejak pertama kali datang ke Singkawang ratusan tahun yang lalu masyarakat Tionghoa telah menjalin persahabatan erat dengan penduduk pribumi khususnya suku Dayak. Karena itu tidak ada kecanggungan di antara kedua etnis ini.

Gelombang migrasi besar-besaran pada tahun 1760, membawa masyarakat suku Tionghoa Hakka dari Guangdong China selatan yang mendarat di Pulau Kalimantan. Hal ini tidak terlepas dari peran Kesultanan Sambas yang secara berkala mendatangkan mereka untuk menetap dan bekerja sebagai kuli tambang emas dan intan di Monterado, Bengkayang, Kalimantan Barat. Meski secara fisik maupun budaya ada yang berasimilasi dengan penduduk lokal terutama masyarakat Dayak, mereka juga tetap mempertahankan bahasa dan adat istiadat leluhur Tionghoa Hakka mereka secara turun temurun hingga kini. Karena pada umumnya mereka penganut Kong Hu Cu dan Buddha maka perayaan imlek menjadi tradisi istimewa yang senantiasa mereka rayakan. Selain itu, masyarakat Tionghoa Singkawang yang beragama Kristen baik Protestan maupun Katolik tetap merayakan Imlek dengan penuh sukacita sebagai ajang berkumpul keluarga dan penegasan identitas mereka sebagai keturunan Tionghoa Hakka Indonesia.

Di era Orde Baru perayaan Imlek khususnya ritual Tatung dilarang dipertontonkan di depan umum. Tetapi pada era reformasi mantan Presiden Gus Dur mengizinkan kembali, bahkan pemerintahan berikutnya Megawati Soekarnoputri mengesahkan dalam bentuk undang-undang. Dengan demikian warga Tionghoa di Singkawang khususnya menjadi lebih leluasa untuk menjalankan tradisi atau upacara keagamaan mereka. Di dunia pariwisata, Tatung berpotensi untuk menarik turis dalam negeri dan mancanegara. Selain mengangkat nama Singkawang di dunia internasional, Tatung juga ikut meningkatkan perekonomian daerah setempat. Hal ini dibuktikan dengan adanya penetapan dari pemerintah pusat bahwa Festival Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang sudah masuk dalam kalender pariwisata nasional.

Gawai Dayak Naik Dango[sunting | sunting sumber]

Upacara Naik Dango yang merupakan kegiatan ritual seputar panen padi adalah ungkapan syukur masyarakat Dayak kepada Sang Pencipta akan hasil yang telah diperoleh. Upacara ini diadakan di setiap kabupaten termasuk kota Singkawang. Tempat penyelenggaraan dilaksanakan bergantian antar kecamatan setiap tahun, ditetapkan oleh Dewan Adat kabupaten setempat. Di samping upacara adat, diadakan pula pesta wisata dan budaya Naik Dango yang diisi dengan pertunjukan kesenian, lomba permainan tradisional, lomba kesenian daerah, pameran, seminar kebudayaan dan pasar rakyat.

Tari Tidayu[sunting | sunting sumber]

Tidayu adalah singkatan dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Tarian ini juga dikenal di beberapa daerah di pesisir barat Provinsi Kalimantan Barat. Tarian ini melambangkan keberagaman etnis di Kota Singkawang yang saling bahu membahu menjaga budaya leluhur.


Tari Jepin Singkawang[sunting | sunting sumber]

Tarian ini ciri khas masyarakat Melayu di Singkawang Kalimantan Barat masyarakat pesisir ciri khas gambus yang sangat kental.

Turun nya kesultanan Sambas

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Singkawang terkenal sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalimantan Barat setelah Kota Pontianak. Letaknya di pantai barat sangat strategis, yakni berada di antara kabupaten Sambas dan Bengkayang, sangat menguntungkan Singkawang dalam mengembangkan daerahnya sebagai sentra bisnis dan pemasaran produk dari dan ke wilayah di sekitarnya. Selain juga menampung dan mendistribusikan barang-barang yang tidak diproduksi di Singkawang dan daerah sekitarnya, seperti barang-barang sandang, alat-alat pertanian dan lainnya. Sebagian besar barang yang diperdagangkan merupakan hasil bumi, seperti produk pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan hasil kerajinan atau industri kecil di Singkawang dan kabupaten tetangga.

Pertanian dan Peternakan[sunting | sunting sumber]

Singkawang adalah wilayah yang cocok untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan hortikultura terdapat di Kecamatan Singkawang Selatan, Utara dan Timur. Wilayah itu memiliki potensi yang cukup besar, baik dari segi lahan yang tersedia maupun jenis tanaman yang sesuai untuk dikembangkan. Lahan yang luas dan tanah yang subur serta tenaga kerja 11.829 orang merupakan faktor yang sangat mendukung bagi pengembangan agroindustri.

Tanaman jagung, misalnya, banyak diusahakan di Singkawang Selatan dan Timur. Komoditas ini baru tahun 2001 diusahakan di Singkawang Selatan seluas 10 hektare. Kebutuhan jagung untuk pakan ternak-sebagian besar untuk ayam ras petelur di Singkawang sangat besar, yakni 100 ton per hari. Singkawang sendiri belum bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak tersebut, karena produksi tahun 2001 baru sekitar 20 ton. Hingga kini kebutuhan itu disuplai Kabupaten Bengkayang sebanyak 40 ton dan sisanya dari Semarang, Lampung, bahkan dari China.

Hasil pertanian itu selain dijual dalam bentuk buah segar, juga mulai diolah. Jeruk siam dan nanas, misalnya, dibuat sari jeruk, minuman ringan dan nanas dalam kaleng. Demikian pula pisang, dipasarkan dalam bentuk tepung pisang, pisang selai dan keripik pisang. Usaha industri ini mulai berkembang walau masih dalam skala industri kecil. Industri secara umum banyak terdapat di Singkawang Barat, berupa industri pengolahan bahan makanan dan minuman ringan. Ada juga industri furnitur dari kayu yang bahan baku serta pemasarannya bersifat lokal.

Hasil peternakan, terutama ayam petelur dan babi. Produksi peternakan selain untuk konsumsi sendiri, beberapa peternak besar, terutama telur ayam dan babi, juga dipasarkan ke luar Kota Singkawang. Bahkan telur ayam Singkawang menguasai hampir 95 persen pasar di Kalimantan Barat.

Industri[sunting | sunting sumber]

Hasil industri yang menjadi produk andalan adalah keramik. Industri ini telah lama berkembang dan pasarannya pun merambah ke mancanegara meskipun masih berskala industri kecil. Ada delapan unit usaha yang bergerak di bidang usaha keramik dan dikelola turun-temurun. Pembuatan keramik tradisional itu terdapat di Desa Sakkok, Kelurahan Sedau, Singkawang Selatan. Pembuatannya sangat menarik dan artistik bergaya asli warisan Dinasti Ming. Ciri khasnya terletak pada desain yang berupa gambar naga. Keramik ini telah memenuhi pasaran ekspor ke Singapura, Malaysia dan negara lainnya.

Kota Singkawang juga terkenal dari hasil industri kecil dengan makanan khasnya, yaitu tahu dan mie Singkawang dan makanan ini sering dijadikan oleh-oleh bagi para pelancong yang datang ke Singkawang. Rasa dan aroma tahu Singkawang memiliki ciri khas tersendiri. Makanan berbahan dasar kedelai yang dibuat secara tradisional ini terasa lembut dan terlihat bersih, berbeda dengan tahu umumnya yang mungkin terasa sedikit asam. Hasil sampingan dari pembuatan tahu Singkawang adalah bubur tahu dan air tahu.

Rencana[sunting | sunting sumber]

  • Kota Singkawang akan memiliki bandara untuk menghubungkan singkawang dengan kota lainya yaitu Bandar Udara Internasional Singkawang.
  • Pemerintah rencana pembangunan jalan tol Pontianak- Singkawang Bisa melewati Mempawah , Pelabuhan kijing, Sampai ke Singkawang timur , Sambas

Festival[sunting | sunting sumber]

Berbagai festival banyak digelar di kota ini, misalnya:

Kota Kembar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Kota Singkawang Dalam Angka 2021" (pdf). www.singkawangkota.bps.go.id. Diakses tanggal 1 Agustus 2021. 
  2. ^ "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2021" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 1 Agustus 2021. 
  3. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kota Singkawang". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 16 April 2021. 
  4. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 7 Maret 2022. 
  5. ^ "TELKOM - Informasi Kode Area dan Negara". Archived from the original on 2011-01-01. Diakses tanggal 2018-08-15. 
  6. ^ "APBD Singkawang Capai Rp.918,9 Miliar". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-07-25. Diakses tanggal 25 Juli 2018. 
  7. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 16 April 2021. 
  8. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Singkawang 2014-2019
  9. ^ "Perolehan Kursi DPRD Kota Singkawang 2019-2024". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-05-24. 
  10. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  11. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  12. ^ "Danau Biru, Keindahan dari Bekas Penambangan di Singkawang". Travelmate Kamu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-17. Diakses tanggal 17 April 2015. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]