Bahasa Melayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Melayu
Bahasa Melayu
بهاس ملايو
ꤷꥁꤼ ꤸꥍꥍꤾꤿꥈ
Dituturkan di
WilayahAsia Tenggara Maritim
EtnisMelayu, lalu menjadi basantara oleh penduduk Nusantara dan Semenanjung Malaka
Penutur bahasa
10,3 juta penutur di Malaysia[1]
, 77 juta di Asia Tenggara (terutama di Nusantara)[2] lebih dari 290 juta dengan penutur bahasa Indonesia dan dengan penutur di wilayah diaspora[3] (tidak tercantum tanggal)
Bentuk awal
Bentuk baku
Bahasa Indonesia
Bahasa Malaysia
Alfabet Latin
Abjad Jawi[4]
Aksara Thai (di Thailand)
Aksara Rencong dan Rejang (Surat Ulu)
Braille Bahasa Melayu
Sistem Isyarat Bahasa Indonesia
Kode Tangan Bahasa Malaysia
Status resmi
Bahasa resmi di
 Brunei
 Indonesia (sebagai Bahasa Indonesia)
 Malaysia (juga disebut Bahasa Malaysia)
 Singapura
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
 ASEAN
Diatur olehBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Indonesia)
Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia)
Dewan Bahasa dan Pustaka (Brunei)
Majelis Bahasa Melayu Singapura (Singapura)
Majelis Bahasa Brunei-Indonesia-Malaysia (gabungan)
Kode bahasa
ISO 639-1ms
ISO 639-2may (B)
msa (T)
ISO 639-3msakode inklusif
Kode individual:
zlm – Bahasa Melayu (Bahasa Individu)
kxd – Bahasa Melayu Brunei
ind – Bahasa Indonesia
zsm – Bahasa Malaysia
jax – Bahasa Melayu Jambi
meo – Bahasa Melayu Kedah
plm – Bahasa Melayu Palembang
xmm – Bahasa Melayu Manado
mui – Bahasa Melayu Musi
zmi – Bahasa Melayu Negeri Sembilan
max – Bahasa Melayu Maluku Utara
mfa – Bahasa Melayu Kelantan-Pattani
Glottologindo1326  (cocok sebagian)[6]
Linguasfer31-MFA-a
{{{mapalt}}}

Bahasa Melayu (Arab Jawi: بهاس ملايو, Abjad Rejang: ꤷꥁꤼ ꤸꥍꤾꤿꥈ) adalah suatu bahasa Austronesia yang dituturkan di wilayah Nusantara dan di Semenanjung Malaka. Asal usul pertumbuhan bahasa Melayu berasal dari Sumatra Selatan di sekitar Jambi dan Palembang.[7] Catatan terawal bahasa Melayu Kuno adalah sebuah prasasti bertarikh 682 Masehi yang dijumpai di Sumatra Selatan.

Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei Darussalam, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia): bahasa nasional Singapura: dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai Bahasa Indonesia). Bahasa Melayu merupakan basantara dalam kegiatan perdagangan dan keagamaan di Nusantara sejak abad ke-7. Migrasi kemudian juga turut memperluas pemakaiannya. Selain di negara yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand Selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Natal dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia.

Di Indonesia, bahasa ini berkembang dan dibakukan menjadi bahasa Indonesia. Pemerintah Malaysia pernah bermaksud untuk menamakan bahasa kebangsaan sebagai "bahasa Malaysia" sebagai bahasa yang diusulkan yang berlawanan dengan bahasa Indonesia yang sebenarnya dianggap Malaysia sebagai bahasa baku Melayu yang dibakukan dan digunakan secara resmi sebagai bahasa kebangsaan di Indonesia, tetapi konsep itu bertentangan dengan keterangan bahasa kebangsaan yang termaktub dalam Pasal 152 Undang-Undang Dasar Federasi Malaysia. Bahasa Melayu Piawai (disebut juga sebagai bahasa Melayu Baku, bahasa baku Melayu, atau bahasa piawai Melayu) adalah bahasa Melayu Johor-Riau yang berasal dari Johor (Malaysia) & Kepulauan Riau (Indonesia), seperti yang disepakati dan diakui oleh Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Bahasa Melayu Johor-Riau selanjutnya dikenal sebagai induk kelahiran bahasa Melayu yang dipakai sebagai bahasa resmi kebangsaan pada zaman modern. Di Malaysia, bahasa Melayu mengalami perubahan nama beberapa kali. Pada awal 1970-an, Bahasa Melayu di Malaysia dinamakan "bahasa Malaysia" atas sebab politik, yang berlawanan dengan bahasa Indonesia. Namun, nama "bahasa Melayu" digunakan kembali dalam masyarakat. Mulai tahun 2007, bahasa kebangsaan Malaysia dinamakan kembali menjadi "bahasa Malaysia" sebagai simbol bahwa bahasa ini adalah bahasa untuk semua dan tidak memandang kaum (tanpa membedakan ras). Namun begitu, hal tersebut tidaklah dapat dibenarkan sebab menurut Pasal 152 Undang-Undang Dasar Federasi Malaysia, menyebut bahwa: "Bahasa kebangsaan adalah "bahasa Melayu". Sampai saat ini, tidak ada perubahan nama bahasa Melayu ke bahasa Malaysia terjadi.[8]

Bahasa Melayu mempunyai banyak dialek dan setiap dialek mempunyai perbedaan kentara dari segi pengucapan dan kosakata. Misalnya, bahasa Melayu Riau berbeda dialek dengan bahasa Melayu Palembang, Jambi, dan Bengkulu. Melayu Riau menggunakan dialek "e" sedangkan bahasa Melayu Palembang, Jambi, dan Bengkulu menggunakan dialek "o". Selain itu, bahasa yang digunakan oleh masyarakat peranakan atau Tionghoa Selat (campuran pendatang Tionghoa dan penduduk asal) merupakan campuran antara Bahasa Melayu dan dialek Hokkien. Bahasa ini dahulunya banyak digunakan di negeri-negeri Selat seperti Sumatra Utara (terutama di Medan), Riau, Pulau Pinang dan Melaka. Walau bagaimanapun, kini kaum peranakan lebih gemar berbahasa Hokkien atau Inggris. Bahasa Melayu merupakan bahasa aglutinatif, artinya makna perkataan dapat diubah dengan menambahkan imbuhan tertentu. Umumnya, kata dasar (atau kata akar) terdiri dari kata kerja.

Penggunaan bahasa Melayu di negara-negara ini berbeda bergantung kepada sejarah dan budaya. Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di Malaysia pada 1968, tetapi bahasa Inggris masih digunakan dengan luas terutama sekali di kalangan masyarakat Tionghoa dan India, sama seperti di Brunei. Berbeda di Indonesia, bahasa Indonesia berhasil menjadi bahasa perantaraan utama atau lingua franca untuk rakyatnya yang berbilang kaum (multiras) karena usaha gigih pemerintah Indonesia dalam menggalakkan penggunaan bahasa Indonesia. Di Timor Leste, meski telah terlepas dari Indonesia, bahasa Indonesia masih tetap dipertahankan sebagai bahasa resmi utamanya sebagai "bahasa kerja". Di Singapura, bahasa Melayu dipertahankan statusnya sebagai bahasa kebangsaan walaupun Singapura mempunyai empat bahasa resmi (yaitu bahasa Inggris, Cina, India, dan Melayu.) Di selatan Thailand, bahasa Melayu digunakan oleh orang-orang dari Kesultanan Patani (orang Melayu Pattani), tetapi tidak memperoleh sebarang pengakuan dari pemerintah.

Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia), MABBIM, atau Perdana Menteri Malaysia pernah mengusulkan bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi ASEAN mengingat lebih dari separuh jumlah penduduk ASEAN mampu bertutur dalam bahasa Melayu (jika penutur bahasa Indonesia tergolong dalam sensus). Namun, usulan itu mendapat pertentangan dari sebagian pihak di Indonesia sebab lebih banyak penutur bahasa Indonesia dalam perhitungan dibandingkan dengan penutur bahasa Melayu, dan pada dasarnya bahasa Indonesia masih dapat dipahami oleh sebagian besar penutur bahasa Melayu terutama yang sudah terbiasa dengan bahasa Melayu Baku (juga disebut bahasa Melayu Piawai, bahasa standar Melayu, atau bahasa baku Melayu) yang sememangnya berasal dari bahasa Melayu Riau.[9][10] Pada masa lampau, Indonesia pernah berencana keluar dari MABBIM, tetapi pihak Malaysia memohon agar Indonesia tetap menganggotai organisasi itu untuk meneruskan sinergi dan kerja sama untuk mewujudkan bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa perantara di ASEAN.[11]

Penggolongan[sunting | sunting sumber]

Dari segi linguistik, kini ditentukan suatu rumpun bahasa Melayu yang terdiri dari 45 bahasa yang pada gilirannya dibagi dalam kelompok berikut:

  • Selain itu, masih banyak lagi dialek-dialek dari Bahasa lokal masyarakat-masyarakat Melayu.

Kelompok Melayu tersebut adalah yang terbesar dalam Rumpun Bahasa Melayik.

Perbandingan[sunting | sunting sumber]

Persamaan antara berbagai contoh bahasa dari beberapa bahasa-bahasa kerabat Melayu atau bahasa yang berkerabat dekat dengan Melayu (serumpun Melayu) misalnya dapat dilihat dalam perbandingan kosakata berikut:

Indonesia apa laut lihat kucing pergi ular keras manis lutut
Malaysia apa laut lihat kucing pergi ular keras manis lutut
Melayu Palembang apo laot jingok/selek koceng pegi ular keras manes lutut
Melayu Pontianak ape laot liat kucing pegi ulagh keghas manes lutut
Banjar apa laut liat kucing tulak ular karas manis lintuhut/tu'ut
Minangkabau apo laui liai/calia kuciang pai ula kareh manih lutui
Kerinci (Dialek Siulak) apo laut kima, celik, kileh kucek pegi ula kereh manih lutut
Pekal apo lawik liek kucing lalui ulah kehas manis lutuik
Kelantan-Pattani penamo lauʔ lihaʔ kucing gi ula kerah manih lutuʔ
Melayu Setul (Satun) penamɑ lawt lihayt kucin pi ulaq keghaih manih lutuy
Besemah ape laot kinak kuceng pegi ulagh keghas manes lutut
Teringin apa laut liat kucing pogi ular koras manis lentuhut

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatra, di wilayah yang sekarang dianggap sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Istilah "Melayu" sendiri berasal dari Kerajaan Minanga (Malayu) awal yang bertempat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat. Akibat penggunaannya yang luas, berbagai varian bahasa dan dialek Melayu berkembang di Nusantara.

Ada tiga teori yang dikemukakan tentang asal usul penutur bahasa Melayu (atau bentuk awalnya sebagai anggota bahasa-bahasa Dayak Malayik).[12] Hudson (1970) melontarkan teori asal dari Kalimantan, berdasarkan kemiripan bahasa Dayak Malayik (dituturkan orang-orang Dayak berbahasa Melayu) dengan bahasa Melayu Kuno, penuturnya yang hidup di pedalaman, dan karakter kosakata yang konservatif.[13] Kern (1888) beranggapan bahwa tanah asal penutur adalah dari Semenanjung Malaya dan menolak Kalimantan sebagai tanah asal. Teori ini sempat diterima cukup lama (karena sejalan dengan teori migrasi dari Asia Tenggara daratan) hingga akhirnya pada akhir abad ke-20 bukti-bukti linguistik dan sejarah menyangkal hal ini (Adelaar, 1988; Belwood, 1993) dan teori asal dari Sumatra yang menguat, berdasarkan bukti-bukti tulisan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Lihat pula: Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia.[14],[15]

Prasasti Telaga Batu, salah satu catatan bahasa Melayu terawal.

Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu Kuno berasal dari abad ke-7 Masehi, dan tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di bagian selatan Sumatra dan wangsa Syailendra di beberapa tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan aksara Pallawa.[16] Selanjutnya, bukti-bukti tertulis bermunculan di berbagai tempat, meskipun dokumen terbanyak kebanyakan mulai berasal dari abad ke-18.

Sejarah penggunaan yang panjang ini tentu saja mengakibatkan perbedaan versi bahasa yang digunakan. Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu ke dalam tiga tahap utama, yaitu

Walaupun demikian, tidak ada bukti bahwa ketiga bentuk bahasa Melayu tersebut saling bersinambung. Selain itu, penggunaan yang meluas di berbagai tempat memunculkan berbagai dialek bahasa Melayu, baik karena penyebaran penduduk dan isolasi, maupun melalui pengkreolan.

Selepas masa Sriwijaya, catatan tertulis tentang dan dalam bahasa Melayu baru muncul semenjak masa Kesultanan Malaka (abad ke-15). Laporan Portugis dari abad ke-16 menyebut-nyebut mengenai perlunya penguasaan bahasa Melayu untuk bertransaksi perdagangan. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Portugis di Malaka, dan bermunculannya berbagai kesultanan di pesisir Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, serta selatan Filipina, dokumen-dokumen tertulis di kertas dalam bahasa Melayu mulai ditemukan. Surat-menyurat antarpemimpin kerajaan pada abad ke-16 juga diketahui telah menggunakan bahasa Melayu. Karena bukan penutur asli bahasa Melayu, mereka menggunakan bahasa Melayu yang "disederhanakan" dan mengalami percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah menggunakan huruf Arab (kelak dikenal sebagai huruf Jawi) atau juga menggunakan huruf setempat, seperti hanacaraka.[16]

Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern dimulai ketika Raja Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga, secara sistematis menyusun kamus ekabahasa bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama) pada pertengahan abad ke-19. Perkembangan berikutnya terjadi ketika sarjana-sarjana Eropa (khususnya Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis karena menganggap penting menggunakannya dalam urusan administrasi. Hal ini terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Bahasa Melayu Modern dicirikan dengan penggunaan alfabet Latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat populer bahasa ini.

Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya, bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya "bahasa Melayu Balai Pustaka"[17] atau "bahasa Melayu van Ophuijsen". Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk penggunaan di Hindia Belanda. Ia juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, "bahasa Melayu van Ophuijsen" ini kemudian dikenal luas di kalangan orang-orang pribumi dan mulai dianggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan.

Pengenalan varian kebangsaan ini mendesak bentuk-bentuk bahasa Melayu lain, termasuk bahasa Melayu Tionghoa, sebagai bentuk cabang dari bahasa Melayu Pasar, yang telah populer dipakai sebagai bahasa surat kabar dan berbagai karya fiksi pada dasawarsa-dasawarsa akhir abad ke-19. Bentuk-bentuk bahasa Melayu selain varian kebangsaan dianggap bentuk yang "kurang mulia" dan penggunaannya berangsur-angsur melemah.

Pemeliharaan bahasa Melayu baku (bahasa Melayu Riau) terjaga akibat meluasnya penggunaan bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Sikap orang Belanda yang pada waktu itu tidak suka apabila orang pribumi menggunakan bahasa Belanda juga menyebabkan bahasa Melayu menjadi semakin populer.

Pada awal tahun 2004, Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia) dan Majelis Bahasa Brunei Darussalam - Indonesia - Malaysia (MABBIM) berencana menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam organisasi ASEAN, dengan memandang lebih separuh jumlah penduduk ASEAN mampu bertutur dalam bahasa Melayu. Rencana ini belum pernah terwujud, tetapi ASEAN sekarang selalu membuat dokumen asli dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa resmi masing-masing negara anggotanya.

Perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia[sunting | sunting sumber]

Untuk artikel lanjutan, lihat Perbedaan antara bahasa Melayu Baku dan bahasa Indonesia atau Perbedaan pelafalan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia

Perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda, sebab bahasa Indonesia sendiri pada dasarnya didasarkan kepada bahasa Melayu dialek Riau yang merupakan bahasa Melayu Baku yang juga dipakai di Malaysia sebagai bahasa standar atau lazim disebut dengan "bahasa Melayu Baku". Namun, jika dibedakan dari segi sejarah, budaya, perlakuan tata bahasa masing-masing, dan lain-lain, terlihat jelas bahwa ada perbedaan yang kentara antara kedua bahasa. Penutur bahasa Melayu di tiga negara kebanyakan dapat memahami bahasa Indonesia, tetapi penutur bahasa Indonesia kebanyakan tidak dapat memahami bahasa Melayu sebab ada banyak perbedaan dari segi ejaan dan kosakata. Bahasa Indonesia pun diartikan berbeda dari bahasa Melayu yang lazim dituturkan di Malaysia karena mempunyai banyak perkataan yang berasal dari bahasa Kawi, Jawa, Sunda, Betawi, Bali, Madura, Minangkabau, Belanda, dan lain-lain, walaupun sebenarnya bahasa Melayu yang dipakai di Malaysia pun banyak menyerap kata pinjaman dari bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti bahasa Melayu Palembang, Minangkabau, Jawa, Sunda, Betawi, Bali, Madura, Lampung, Banjar, Waropen, Wolio, Yamdena, dan lain-lain, logat daerah seperti bahasa Melayu Kedah, Terengganu, dan lain-lain di Semenanjung Malaya, bahasa daerah seperti bahasa Iban dan lain-lain di Sabah dan Sarawak, dan bahasa daerah Filipina yang dituturkan oleh diaspora Filipina seperti bahasa Kapampangan, Pangasinan, dan lain-lain di Sabah-Sarawak, serta bahasa Melayu Brunei dan Singapura untuk memperkaya kosakata bahasa Melayu di Malaysia walaupun belum pernah dituturkan dan didengari. Hal ini dapat dilihat dalam Kamus Dewan Perdana yang merupakan kamus terkini, terlengkap, dan terutama di Malaysia pada saat ini. Bahasa Melayu di Malaysia mempunyai rujukan seperti Kamus Dewan (setara dengan KBBI), Ejaan Rumi Baharu (setara dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) atau kini disebut Pedoman Ejaan Umum Bahasa Indonesia (PUEBI)), Tatabahasa Dewan (setara dengan Tata Bahasa Baku Indonesia (TBBI)).

Definisi bahasa Melayu tinggi dan bahasa Melayu baku[sunting | sunting sumber]

Konsep bahasa Melayu tinggi merujuk kepada penggunaan bahasa Melayu dalam konteks wacana ilmiah dan berkaitan dengan peradaban. Bahasa Melayu tinggi sering dirujuk sebagai wahana untuk melahirkan gagasan dan wawasan yang berkaitan dengan keilmuan dan kebudayaan. Bahasa Melayu tinggi lazimnya digunakan dalam seminar, persidangan, atau kongres yang berkaitan dengan bahasa, budaya ataupun bidang ilmiah yang lain.

Bahasa Melayu baku pula adalah bahasa Melayu yang sempurna dari segi penggunaan aspek bahasanya, yaitu ejaan, tata bahasa, istilah, penggunaan kata, laras bahasa, dan pengucapan.

Kronologi pembentukan istilah bahasa Melayu[sunting | sunting sumber]

  • 1956, 22 Juni: Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) didirikan sebagai sebuah badan pemerintah Malaysia untuk menggerakkan dan memartabatkan bahasa Melayu sebagai sebuah bahasa kebangsaan, bahasa resmi, dan bahasa ilmu.
  • 1960-an: Akhiran "si" (misalnya, "ekonomis" untuk "economical" dalam bahasa Inggris) dan "isasi" (misalnya, organisasi) mulai diserap ke dalam bahasa Melayu di tiga negara dari akhiran bahasa Belanda, "tie" dan "isatie", melalui bahasa Indonesia.[18]
  • 1970-an:
  • 1980-an:
    • Menjelang pertengahan dasawarsa ini, akhiran "isasi" atau "ifikasi" yang sangat digemari pada 1960-an dan 1970-an semakin digantikan oleh penggunaan "pe-an" oleh para penerbit karya ilmiah di Malaysia, tanpa sebarang dorongan dari DBP.[20] Contoh:
      • Modenisasi: Pemodenan
      • Islamisasi:Pengislaman
      • Klasifikasi: Pengelasan.
    • 1980: Satu ketetapan dicapai oleh Sidang Majelis Bahasa Malaysia-Indonesia di Bali, Indonesia bahwa "de-" dalam istilah ilmiah digantikan dengan "nyah-" (kata asli) di Malaysia (misalnya "mendewarnakan" dijadikan "menyahwarnakan") dan "awa-" (serapan bahasa Sanskerta) di Indonesia (misalnya, "dehumidification" diterjemahkan menjadi "pengawalembapan", "decontamination" menjadi "pengawatularan", "dehydration" menjadi "pengawahidratan", dan "decolourization" menjadi "pengawawarnaan" walaupun pada akhirnya bentuk serapan langsung seperti "dehumidifikasi", "dekontaminasi", "dehidrasi", dan "dekolorisasi" lebih digemari di Indonesia. Bentuk terjemahan ini masih dapat ditemukan dalam Glosarium Pusat Bahasa. Malaysia lebih memilih untuk tidak menyerap mentah-mentah dan mempertahankan awalan nyah- (berarti hilang, buang, hapus) untuk menerjemahkan berbagai kata ilmiah seperti "decontamination" menjadi "penyahcemaran", "decolonization" menjadi "penyahjajahan", "denazification" menjadi "penyahnazian", "deplatforming" menjadi "penyahsaranaan", "decommunization" menjadi "penyahkomunisan", "demagnetization" menjadi "penyahmagnetan", "demonetization" menjadi "penyahwangan", "decalcification" menjadi "penyahkapuran" atau "penyahkalsiuman", "deactivation" menjadi "penyahaktifan", "delisting" menjadi "penyahsenaraian", "defeminization" menjadi "penyahpuanan" atau "penyahbetinaan", "demasculinization" menjadi "penyahjantanan", "dewesternization" menjadi "penyahbaratan", "dewatering" menjadi "penyahairan", "deodorant" menjadi "penyahbau", dan sebagainya, bahkan digunakan untuk menerjemahkan awalan un- seperti "unfollow" menjadi "nyahikut", "uninstall" menjadi "nyahpasang", "unmute" menjadi "nyahsenyap" atau "nyahredam", "unsubscribe" menjadi "nyahlanggan", dan sebagainya dan awalan dis- seperti "discharge" menjadi "nyahcas", "disinfection" menjadi "penyahjangkitan", "disinfectant" menjadi "penyahjangkit", dan sebagainya).[21][22]
  • Tahun tidak diketahui
    • Malaysia meminjam kata "Anda" (Rosihan Anwar), "santai" (Wartawan Tempo dan sastrawan, Bur Rusanto pada tahun 1972 sebagai padanan "relax", dari bahasa Komering), "gengsi" (Rosihan Anwar, dari bahasa Minangkabau), "heboh" (Pemimpin Redaksi Harian Abadi, H. Sidi Mohammad Sjaaf yang berarti "gaduh", "ribut", "huru-hara", dan sebagainya, sering digunakan di Sumatra Barat), "pemuda-pemudi", "saudara-saudari", "mahasiswa-mahasiswi" (wartawan, Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo dari Kongres Bahasa Indonesia 1938 bersama Soemanang), "mantan" (Budayawan asal Kab. Pagaralam, Sumatra Selatan, Ahmad Bastari Suan, berasal dari Basemah, Komering, dan Rejang yang berarti "tidak berfungsi lagi". Di Indonesia, awalnya kata "mantan" mengacu pada jabatan, tetapi kini meluas terhadap kedudukan seperti "mantan pacar"), "wartawan" (wartawan, Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo dari Kongres Bahasa Indonesia I 1938 dan dipopulerkan oleh harian Soeara Oemoem Surabaya untuk menggantikan istilah "journalist" dalam bahasa Belanda), "prestasi" (dari bahasa Belanda. Indonesia menggunakannya untuk menerjemahkan kata "achievement", sedangkan Malaysia menggunakannya untuk menerjemahkan kata "performance" dan "achievement"), dan sebagainya, sedangkan Indonesia meminjam kata "ceria", "tayang", dan sebagainya dari Malaysia. Bahkan, kata "cikgu" mulai meluas di Indonesia)[23][24][25][26][27]

Bunyi[sunting | sunting sumber]

Salah satu faktor utama yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa yang sangat mudah untuk dipelajari disebabkan oleh sistem fonologi yang amat mudah. Bisa dikatakan hampir setiap huruf Latin mewakili satu sebutan fonem.

Daftar fonem konsonan di dalam bahasa Melayu
Bibir Bibir-
gigi
Gigi Rongga-
gigi
Pascarongga-
gigi
Langit-langit Velum Uvula Celah suara
Letupan/
Hentian
p [p] b [b] t [t] d [d] k [k] g [g] q [q] k [ʔ]
Sengau m [m] n [n] ny [ɲ] ng [ŋ]
Desis f [f] v [v, ʋ] ś [θ] ż [ð] s [s] z [z] sy [ʃ, ʂ, sj] kh [x] h [h]
Gesek c [] j []
Hampiran w [w] y [j]
Getar r [r]
Kepak r [ɾ]
Sisian l [l]

Catatan Ortografik:

  • Huruf k pada akhir perkataan atau sebelum konsonan dalam perkataan Melayu asli disebut [ʔ].
  • Kombinasi bagi sebutan [ŋg] diwakili sebagai ngg.
  • Huruf x biasanya dibunyikan sebagai [ks], [s] atau [z].
Daftar fonem vokal di dalam bahasa Melayu
Ketinggian Depan Tengah Belakang
Tertutup i [i] u [u]
Pertengahan e [e, ɛ] e [ə] o [o, ɔ]
Terbuka a [a] a [ɑ]
Daftar diftong di dalam Bahasa Melayu
Ortografi IPA
ai [aɪ̯, ai]
au [aʊ̯, au]
ua [ua]

Terdapat 2 sebutan vokal yang diwakili oleh huruf "e", yaitu [e, ɛ] dan [ə]. Pelajar bahasa Melayu berupaya untuk membedakan antara 2 sebutan tersebut setiap kali mempelajari perkataan baru.

Di dalam beberapa tempat, di Semenanjung Malaysia, terutamanya di kawasan tengah dan selatan, kebanyakan perkatan yang berakhir dengan huruf a selalu diucapkan sebagai [ə] pepet. Lain halnya dengan bahasa Indonesia, perkataan yang berakhir dengan huruf a selalu diucapkan a juga. Di Indonesia banyak dialek Melayu sehingga pengucapan huruf a di belakang berbeda-beda setiap daerah, contohnya di provinsi Riau, Melayu Pontianak, Melayu Kayong, Melayu Langkat d Deli ,Melayu Singkawang Kalbar, /Melayu Sambas Kalbar huruf tersebut diucapkan sebagai [ə], di provinsi DKI Jakarta, Musi Rawas dan Melayu Sambas, huruf tersebut diucapkan e (dalam kata enak), diucapkan "o" oleh Melayu Bengkulu, Melayu Asahan, Melayu Batubara, Kualuh, Bilah, Melayu Palembang, Melayu Jambi, Minangkabau, dan diucapkan "a" seperti bahasa Melayu Baku dalam bahasa Banjar, Kutai, Berau, Kedayan, Kanayatn, Salako, Melayu Ambon, Melayu Manado dan kawasan timur Indonesia.

Kata serapan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Melayu telah menyerap kata-kata dari bahasa Sanskrit, Bahasa Tamil, Bahasa Portugis, Bahasa Belanda, setengah logat Cina dan lebih kini, bahasa Arab (khususnya dalam banyak istilah keagamaan), Bahasa Inggris (khususnya banyak istilah ilmiah dan teknologi).

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ethnologue report for language code: zsm. Ethnologue.com. Diakses pada 19-10-2010.
  2. ^ Mikael Parkvall, "Världens 100 största språk 2007", Nationalencyklopedin
  3. ^ Uli, Kozok (10 Maret 2012). "How many people speak Indonesian". University of Hawaii at Manoa. Diakses tanggal 20 October 2012. 
  4. ^ "Kedah MB defends use of Jawi on signboards". The Star. 26 Agustus 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 October 2012. 
  5. ^ "East Timor Languages". www.easttimorgovernment.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal 30 July 2018. 
  6. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Kepulauan Melayu-Indonesia". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  7. ^ "Laman web Penerbit USM: Bahasa Melayu". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-05-04. Diakses tanggal 2007-10-27. 
  8. ^ Teks PDF oleh Jabatan Pengajian Tinggi, Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia-Perkara 152. Bahasa kebangsaan.
  9. ^ Chairman’s Statement of the 12th ASEAN Plus Three Summit
  10. ^ ASEAN Regional Plan of Action
  11. ^ Kutipan:"Maka apabila Indonesia menyatakan hasrat untuk meninggalkan Mabbim tidaklah menghairankan menteri luar kita merayu agar “meneruskan sinergi dan kerjasama dalam merealisasikan Bahasa Melayu sebagai lingua franca di rantau Asean”. Rayuan itu dituju kepada Indonesia yang sudah siap untuk menceraikan Malaysia dan Brunei untuk membawa bahasa Indonesia (tanda miring digugurkan) ke PBB sendirian, meneruskan langkah sastera mereka juga sendirian (sila faham, mereka punya Eka Kurniawan untuk membawa sastera Indonesia pergi jauh) dan mengembangkan bahasa Indonesia sendiri-sendiri kerana selama ini pun bahasa Melayu (dengan tanda miring) Indonesia itu pakatan sia-sia yang tidak lagi boleh diharap." freemalaysiatoday.com.
  12. ^ Adelaar, K.A. Malayic Dayak: Arguments for a Bornean Homeland of Malay
  13. ^ (Indonesia) Yassir Nasanius, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Pusat Kajian Bahasa dan Budaya, PELBBA 18: Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atma Jaya: kedelapan belas, Yayasan Obor Indonesia, 2007, ISBN 979-461-527-7, 9789794615270
  14. ^ Ruptures and departures By Corazon D. Villareal, Lily Rose R. Tope, Patricia May B. Jurilla, University of the Philippines. Dept. of English Studies and Comparative Literature, University of the Philippines
  15. ^ Malay literature By Dewan Bahasa dan Pustaka
  16. ^ a b Ikram, A. 2008. Bahasa Melayu penyebar budaya. Naskah-naskah sebagai saksi persebaran bahasa[pranala nonaktif permanen]. Jurnal ATL Vol. 1. Diakses dari laman Melayu Online 6-5-2009.
  17. ^ H.B. Jassin (1985, hal. 8) memberikan pendapat seperti ini. Lihat Hasjim, Nafron. Peranan Penerbit dalam Pembinaan Bahasa Indonesia. Dalam: Hasan Alwi, Dendy Sugono, Anton M. Moeliono. Telaah Bahasa dan Sastra. Yayasan Obor Indonesia. 1999. Hal. 260.
  18. ^ Asmah Haji Omar. Bahasa Malaysia Saintifik, Terbitan Kedua (2005), m.s. 32. Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 983-62-8164-9
  19. ^ Asmah Haji Omar. Bahasa Malaysia Saintifik, Terbitan Kedua (2005), m.s. 32. Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 983-62-8164-9
  20. ^ Asmah Haji Omar. Bahasa Malaysia Saintifik, Terbitan Kedua (2005), m.s. 34. Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 983-62-8164-9
  21. ^ Asmah Haji Omar. Bahasa Malaysia Saintifik, Terbitan Kedua (2005), m.s. 26. Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 983-62-8164-9
  22. ^ Sosok Pokok MABBIM. Repositori Kemendikbud.
  23. ^ Dari manakah asal dan makna kata mantan, Kantor Bahasa Bengkulu.Kemdikbud.
  24. ^ Bahasa Jurnalistik, perpustakaan.kominfo.go.id.
  25. ^ Peran Wartawan Memajukan Bahasa Indonesia, solopos.com
  26. ^ Wartawan Nyentrik dan Berkaliber itu Bernama..., jpnn.com.
  27. ^ Peran Pers Memajukan Bahasa Indonesia, harianjogja.com.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Adelaar, K.A. 1988. More on Proto-Malayic. Dalam: Mohd. Thani Ahmad dan Zaini Mohammed Zain (peny.) Rekonstruksi dan cabang-cabang Bahasa Melayu induk, pp. 59–77. Seri monograf sejarah bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Bellwood, P. 1993. Cultural and biological differentiation in peninsular Malaysia: the last 10,000 years. Asian Perspectives 32:37-60.
  • Hudson, A.B. 1970. A note on Selako: Malayic Dayak and Land Dayak languages in West Borneo. Sarawak Museum Journal 18:301-318.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]