Bahasa Lematang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lematang
Latak Lematang
Dituturkan di Indonesia
Wilayah
EtnisLematang
Penutur bahasa
311.000  (2020)[1]
Dialek
Megang[2]
Rambang[3]
Rambutan[3]
Tanjung[2]
Ujanmas[3]
Status resmi
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
Kode bahasa
ISO 639-3lmt
Glottologlema1244[4]
Frameless
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA

Bahasa Lematang (Latak Lematang) adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan secara dominan oleh etnis Lematang (Jeme Lematang), yang merupakan etnis pribumi yang berasal dari daerah sekitar Sungai Lematang di Sumatra Selatan.[2][3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bahasa ini telah dipertuturkan oleh etnis Lematang sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Namun dengan seiring perkembangan jaman, bahasa Lematang mulai terkikis penggunaannya dikarenakan proses globalisasi yang mendorong masyarakat etnis Lematang untuk bertutur dalam bahasa-bahasa yang lain (terutama bahasa Melayu Palembang, Indonesia, maupun Inggris) guna menyesuaikan perkembangan pergaulan sosial.[2] Berdasarkan Statistik Kebahasaan, Kesastraan, dan Perbukuan 2020, bahasa Lematang bersama dengan bahasa Sakai dan bahasa Tungkal dikategorikan sebagai bahasa-bahasa di pulau Sumatra yang hampir mengalami kepunahan.

Upaya revitalisasi[sunting | sunting sumber]

Melihat pentingnya pemeliharaan kebudayaan maupun kebahasaan masyarakat lokal, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai mengadakan revitalisasi bahasa Lematang guna menghidupkan dan merangsang kembali minat dan bakat para masyarakat etnis Lematang (khususnya generasi muda) akan bahasa pribumi leluhur mereka.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Bahasa Lematang berdasarkan penggolongan linguistiknya merupakan bagian dari rumpun bahasa Musi maupun Melayu Tengah , yang merupakan salah satu golongan linguistik utama rumpun bahasa Hesperonesia yang secara umum dipertuturkan di wilayah tenggara pulau Sumatra.[2]

Dialek[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan data resmi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), bahasa Lematang memiliki beberapa dialek yang terdiri dari:[3][2]

Kosakata[sunting | sunting sumber]

Berikut merupakan beberapa contoh kosakata bahasa Lematang (dalam dialek Megang dan Tanjung) berdasarkan data resmi yang dihimpun dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:[2]

Bahasa Lematang Megang Bahasa Lematang Tanjung Terjemahan
aban remang awan
baleq aleh kembali
ngedau nguring berbaring
nyembab mengkaq bengkak
ngoq lawan dan
  • pedaq
  • pehaq
paraq dekat
tecancang tegaq diri
ajoqke julaq dorong
kusuti kasak gosok
sabu kucam hapus
mbiq mbuq ibu
hendung keleman kabut
ule'nye kerne sebab
kama kedelat kotor
sawat gotok lempar
liou ayiq liyur ludah
hasitu urang tu mereka
peha pra peras
bai betino perempuan
pusat ligat pusar
kutut unjuq tarik
de'qde daq tidak
ayeq ayiq air

Sebagai kosakata urun[sunting | sunting sumber]

Bahasa Lematang merupakan salah satu bahasa pribumi yang membentuk bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "akai" digunakan sebagai panggilan khusus kepada sesama besan perempuan. Kata tersebut berakar dari struktur keluarga dalam sosiokultural etnis Lematang. Kode bahasa untuk bahasa Lematang adalah [ Lmt ] berdasarkan kode bahasa-bahasa nasional Republik Indonesia yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lematang di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
  2. ^ a b c d e f g Fonologi dan Morfologi Bahasa Lematang [Phonology and Morphology of Lematang Language]. Jakarta: Language Development Center of the Republic of Indonesia. 1996. ISBN 979-459-674-4. 
  3. ^ a b c d e "Peta Bahasa: Bahasa Lematang". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. 
  4. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Lematang". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]