Bahasa Kao

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Bahasa Kao adalah salah satu bahasa etnik asal Halmahera Utara. Bahasa Kao merupakan bahasa rumpun bahasa non-Austronesia yang dikategorikan sebagai bahasa yang terancam punah. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat Desa Kao, Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

Survei terakhir pada tahun 2008 yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun menyebutkan, Bahasa Kao hanya digunakan dalam ranah keluarga oleh mereka yang berusia di atas 40 tahun. Dalam acara adat, sosial atau keseharian, maupun upacara keagamaan, bahasa Kao tidak lagi digunakan.[1]

Sejarah dan Penyebaran[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kao lahir dari sejarah panjang mayarakat Kao dalam bidang perdagangan. Terbukanya pengaruh kebudayaan yang dibawa oleh para pendatang melahirkan akulturasi dan inkulturasi sesuai dengan nilai yang dianggap luhur oleh masyarakat. Produk dari hal tersebut salah satunya adalah bahasa. Namun, seiring berkembangnya zaman, berbagai perpindahan yang dilakukan oleh masyarakat Kao untuk mencukup kebutuhan turut mempengaruhi penggunaan bahasa.

Saat ini bahasa Kao hidup di antara para penutur bahasa Melayu Ternate dan terancam oleh hegemoni para pendatang. Akan tetapi, upaya pelestarian ini masih dilakukan dengan pagelaran kesenian, misalnya Gala Kao yang dilakukan dengan memperdengarkan pantun-pantun berbahasa Kao. Meskipun penggunaannya dalam keseharian sudah tidak lagi digunakan, tetapi masyarakat Kao masih mengakui bahwa bahasa tersebut adalah bahasa asli mereka.

Persebaran bahasa Kao saat ini terdapat di pedalaman Halmahera Utara, muara Sungai Kao, dan wilayah ibu kota Kao (Desa Kao).[2]

Penutur Bahasa[sunting | sunting sumber]

Dilihat dari penuturnya, diketahui semakin tua penutur bahasa, semakin fasih juga bahasanya. Berikut adalah rentang usia penutur bahasa Kao.

  1. 60 tahun ke atas: sangat fasih. Mengerti kata-kata lama yang kompleks.
  2. 50--59 tahun: fasih. Tidak memahami pembendaharaan kata yang kompleks.
  3. 40--49 tahun: kurang fasih. Mereka mengerti dan berkomunikasi dalam bahasa Kao dengan cukup fasih.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Retnowati, Endang (2016). Identitas Bahasa dan Kebudayaan Etnik Minoritas Kao (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 252. ISBN 978-979-799-778-6. 
  2. ^ Lewis, M., Paul (2009). Ethnologue: Languages of The World (Edisi Keenam). Dallas, Texas: SIL International. 

Retnowati, Endang. (2016). Identitas Bahasa dan Kebudayaan Etnik Minoritas Kao. Jakarta: LIPI Press.

Lewis, M., Paul. (2009). Ethnologue: Languages of The World (Edisi Keenam). Dallas, Texas: SIL International.