Bahasa Kangean

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kangean
  • Bĕsa Kangéan  (Kangean)
  • Basa Kangayan ᨅᨔ ᨀᨂᨐᨚ  (Buginese)
  • Basa Kangayan 𑻤𑻰𑻠𑻢𑻬𑻨  (Makasar)
  • Bhāṣā Kāhyāngān ᬪᬱᬓᬳ᭄ᬬᬂᬳᬦ᭄  (Bali)
  • Basa Kangean  (Indonesian Bajau)
Dituturkan di
Wilayah
EtnisKangean
Penutur bahasa
± 126 ribu  (2010 sensus)[1]
Dialek
  • Dialek-dialek dalam bahasa Kangean
    • Dialek Darat
      • Dialek Duko
      • Dialek Dandung
      • Dialek Torjek
      • Dialek Laok Jangjang
    • Dialek Pesisir
      • Dialek Sapeken
      • Dialek Pajanagger
      • Dialek Pagerungan
      • Dialek Salarangan
      • Dialek Saebus
Modern:

Historis:

Status resmi
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
Kode bahasa
ISO 639-3kkv
Glottologkang1289[2]
{{{mapalt}}}
Wilayah dimana bahasa Kangean dituturkan secara dominan (Provinsi Jawa Timur terutama di Kepulauan Kangean; mencakup wilayah pulau Kangean, Sapeken, Paliat, Saubi, Soemoerboengkar, dan sebagian daerah-daerah di sekelilingnya)
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.

Bahasa Kangean (bahasa Kangean: Bĕsa Kangayan; bahasa Bugis: ᨅᨔ ᨀᨂᨐᨚ, translit. Basa Kangayan; bahasa Makassar: 𑻤𑻰𑻠𑻢𑻬𑻨; bahasa Inggris: Kangean language; Kangeanese language) adalah bahasa daerah atau bahasa etnis (bahasa Inggris: native or indigenous language) yang dituturkan oleh Suku Kangean yang berasal dari pulau Kangean di wilayah kepulauan Kangean.[3] Melalui diaspora masyarakat bersuku Kangean, bahasa ini juga dituturkan di beberapa wilayah lain terutama di daerah-daerah sekitar kepulauan Kangean seperti di Madura terutama daerah Sumenep, sebagian Surabaya, sebagian Malang, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta di wilayah luar negeri meliputi Semenanjung Kra maupun Singapura.[4]

Bahasa Kangean merupakan salah satu bahasa yang terdapat dalam rumpun bahasa Maduris-Kangeanesik yang bercabang dari rumpun Malayo-Sumbawa (alias 'rumpun bahasa Indonesia Barat') yang diturunkan dari rumpun Malayo-Polinesia yang merupakan cabang dari rumpun bahasa Austronesia.[5][6]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean memiliki ragam variasi dialek yang dapat dikenali melalui perbedaan fonologi, aksentologi, maupun idiomatologi yang umumya terbagi kedalam distribusi penggolongan melalui beberapa metode, yakni baik secara regional geografis maupun sosiokultural.

Regional Geografis[sunting | sunting sumber]

Secara regional geografis, pengelompokan dialek dapat dibedakan menjadi dua grup utama; yakni dialek darat dan pesisir.

  • Dialek Darat
  1. Dialek Duko (di Arjasa)
  2. Dialek Dandung (di Dandung)
  3. Dialek Torjek (di Torjek)
  4. Dialek Laok Jangjang (di Laok Jangjang)
  • Dialek Pesisir
  1. Dialek Pajanangger (di Pajanangger)
  2. Dialek Sapeken (di Sapeken)
  3. Dialek Pagerungan (di pulau Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil)
  4. Dialek Salarangan (di Salarangan)
  5. Dialek Saebus (di pulau Saebus)

Sosiokultural[sunting | sunting sumber]

Secara unggah-ungguh (tingkat kesopansantunan), dialek dalam bahasa Kangean dibedakan menjadi 3 bagian tingkatan; yakni Ako-Kao (disebut juga Eson-Sede atau Eson-Kake), Nira-Nae (disebut juga Die-Dika), dan Kaula-Panjenengan.

  • Ako-Kao (Eson-Sede atau Eson-Kake)

Pada tingkat ini, biasanya digunakan kepada orang sebaya.

  • Nira-Nae (Die-Dika)

Pada tingkat ini, biasanya digunakan oleh menantu kepada mertua.

  • Kaula-Panjenengan

Pada tingkat ini, biasanya digunakan kepada orang yang lebih tua.

Pronomina persona bahasa Kangean
Glos Bentuk bebas
Ako-Kao (Eson-Sede atau Eson-Kake) Nira-Nae (Die-Dika) Kaula-Panjenengan
1SG, 1PL.EXCL
'aku, saya, kami'
  • ako
  • eson
  • nira
  • die
kaula
2SG, 2PL
'kamu, Anda, kalian'
  • kao
  • sede
  • kake
  • nae
  • dika
panjenengan
3SG, 3PL
'dia/ia, beliau, mereka'
  • he
  • rea
dibikna kabih

Sistem Penulisan[sunting | sunting sumber]

Pada zaman modern, sistem penulisan bahasa Kangean menggunakan aksara Latin. Menurut sejarah perkembangannya, bahasa ini cenderung tidak memiliki suatu sistem penulisan yang dapat dipastikan, karena bahasa Kangean memiliki akar pengaruh sistem linguistik yang beragam dari masa ke masa.

Dalam bahasa Kangean, sistem penulisan kuno memiliki pengaruh dari bahasa-bahasa lain yang memainkan peranan cukup kuat. Dalam beberapa daerah di kepulauan Kangean, aksara yang digunakan dapat beragam, yakni diataranya meliputi aksara Lontarak (dikenali juga sebagai aksara Ugi/Bugis), aksara Makassar, aksara Kawi (Carakan Kuno), dan Pegon. Hal ini merupakan hasil dari pengaruh budaya suku-suku dari Sulawesi dan Kalimantan yang bermigrasi sejak ratusan hingga ribuan tahun dan berasimilasi dengan warga setempat yang melahirkan tradisi majemuk Kangean. Pengaruh budaya Jawa dan Madura juga memiliki andil utamanya pada masa kejayaan Majapahit dan Kadipaten Sumenep yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Kangean. Namun di lain sumber, penggunaan aksara Kawi di kepulauan Kangean cenderung dipengaruhi oleh suku Bali yang menggunakan aksara Kawi pada masa lampau, sebelum akhirnya berkembang menjadi aksara Bali.

Literatur[sunting | sunting sumber]

Literatur Kangean (bahasa Inggris: Kangeanese literature; Kangean literature) atau Sastra Kangean mencakup keseluruhan literatur oral dan yang dicatat atau ditulis dalam bahasa Kangean, maupun karya-karya sastra yang bersumber dari masyarakat Kangean yang diabadikan dalam bahasa-bahasa lain (namun literatur yang bukan berbahasa Kangean biasanya tidak dikonsiderasikan sebagai kanon). Literatur Kangean biasanya mengisahkan mengenai topik-topik yang berkaitan dengan cerita rakyat, dongeng, mitos, maupun catatan-catatan historis riil yang pernah terjadi pada masa lampau seperti contohnya yakni kisah para raja, kisah para perompak, dan lain sebagainya.

Salah satu literatur populer berbahasa Kangean yaitu folklor "Késah Lanun", yang mengisahkan mengenai perompak atau bajak laut yang berasal dari wilayah Lanao Selatan (Filipina) yang pernah berjaya menguasai wilayah laut dekat Kepulauan Kangean, Selat Makassar, sebagian Laut Jawa, hingga mencapai wilayah perairan kepulauan Riau dan Papua.[7]

Daftar Karya Sastra Kangean[sunting | sunting sumber]

  • Késah Lanun
  • Kandhana Rato Daeng Tjokro Bangkandhana Paq Dhalima — kisah mengenai penguasa (raja/ratu) Daeng Cokro Bangkandhana Paq Dhalima, tokoh yang berketurunan Bugis.
  • Khandana Radhin Djokomoerko
  • Kandhana Pandhita Siddik Sasmeto Ghoenong Pandeman — kisah mengenai pertapa (setara dengan konsep seorang buddha dalam ajaran Buddhisme) Siddik Sasmito dan sabdanya dari daerah Pandeman, Arjasa, pulau Kangean.
  • Salasila
  • Dhungengna Kandhulok
  • Dhungengna Matjan běn Kerbhi — dongeng mengenai harimau dan kerbau.
  • Dhungengna Ladhine
  • Dhungengna Sangembig
  • Dhungengna Bangbang Sutama — dongeng mengenai tokoh Bangbang Sutama.
  • Sang Embig
  • Dhungengna Toteq-Toteq bĕn Kapeteng
  • Jamaludin
  • Rato Kembang Koneng — kisah mengenai penguasa (raja/ratu) dari daerah Gua Koneng, Kalikatak, Arjasa, pulau Kangean.
  • Gondokoesoemo — literatur yang memiliki pengaruh Jawa.
  • Kandhana Radhin Somantre e naghara Kembhang-koneng — kisah mengenai Raden Sumantri dan sabdanya di daerah Gua Koneng, Kalikatak, Arjasa, pulau Kangean.
  • Kandhana pandhita Rahim e naghara Chibar-alam — kisah mengenai pertapa (setara dengan konsep seorang buddha dalam ajaran Buddhisme) Rahim dan sabdanya dari wilayah negeri Chibar(?).
  • Kandhana Dewi Rengganes — kisah mengenai Dewi Rengganis, seorang tokoh bangsawan (juga dikisahkan dalam Sastra Lombok dan Sastra Jawa).
  • Kandhana Bato-goenong
  • Djoko Sasigar — kisah mengenai tokoh Joko Sasigar (kemungkinan tokoh yang memiliki garis keturunan Jawa atau Bali secara susur galurnya).
  • Kandhana Radhin Bajanolla, pottrana Rato Eddjhim, adjhadhoeloek Ridjaloella e naghara — kisah mengenai Raden Bajanolla, putra sang Raja/Ratu Eddjhim, yang dijuluki sebagai Rijalulla (rajalela(?))-nya negeri.
  • Totoranna Sang Boekal bĕn Sang Katetempa - ujaran atau sabdanya Sang Bukal dan Sang Katetempa.

Daftar Literatur Kangean dalam bahasa lain[sunting | sunting sumber]

Bahasa Belanda[sunting | sunting sumber]

  • Kangeansch verhaal (bahasa Indonesia: Kisah Kangean) — kisah yang berkaitan dengan Kangean.
  • Een Uilenspiegel en een Dwerghert-verhaal in het Kangeansch[8] (bahasa Indonesia: Kisah uilenspiegel(?) dan rusa kerdil di Kangean) — Kisah mengenai uilenspiegel(?) dan rusa kerdil di Kangean.

Kosakata[sunting | sunting sumber]

Bilangan[sunting | sunting sumber]

Berikut merupakan kosakata untuk bilangan dalam bahasa Kangean:

Bahasa Kangean Bahasa Indonesia[9]
nul nol
hètong satu
duê' dua
têlo' tiga
êmpa' empat
lèma' lima
ênêm enam
pèto' tujuh
bêlu' delapan
sanga sembilan
hapoloh sepuluh
hagêmik dua puluh lima
habidêk -
têlong atos tiga ratus
lèmang atos lima ratus
pètong atos tujuh ratus
bêlung atos delapan ratus
  • sangang atos
  • hangang atos
sembilan ratus
haèbu seribu
dungèbu dua ribu
  • sangang èbu
  • hangang èbu
sembilan ribu
hapoloh èbu sepuluh ribu
hagêmik èbu dua puluh lima ribu
habidêk èbu -

Umum[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Indonesia[10]
  • (ungkapan untuk kalimat tanya)
  • (prefiks pembentuk verba)
Ako Aku
Aling Adik
-agên (sufiks) -kan (sufiks)
Ano Anu
Bêcèk Baik
Bêkésar Milik/hasil (dari) maharaja
Bêjêh Waktu
  • Bêni
  • Bêné
Bukan
Buco' Busuk
Cakalang Tongkol
Dina Sini
Dito Disitu
Diyê Situ
Duko Dukuh
Dulit Colek
Dumik Kecil
  • Di-
  • -an
Ègêl Lekas
Êncék Kata sapaan lelaki (keturunan Tionghoa)
  • Êngkong
  • Akong
Kakek (keturunan Tionghoa)
Ènom Minum
Ênya' Kata sapaan perempuan (keturunan Tionghoa)
Gêndêng Gendang
Gêrimis Ngeri
Giok Terlalu
Hajên Seperti
  • Halik
  • Haling

Sedikit

Ila' Lidah
Iyyê Kata sapaan lelaki (keturunan Arab)
Jêbê
  • Luar
  • Jawa
Jêk Masih
Ju -
Juko' Lauk
Kalopa Terlupa
Kandhêl Tebal
  • Katon
  • Ton
  • Terlihat
  • Lihat
Kêmbêng Bunga
Kênda' Pendek
Konéng Kuning
La'an Sudah
Labung Biarkan
Lanjêng Panjang
Laju Layu
Lakar Memang
Lèr Tunjukkan
Mamma Bagaimana
Mangkat Berangkat
Marènto Kala itu
Mé'an Mungkin
Mirah Merah
Mon Kalau
Morsal Durhaka
-na -nya
Napak Sampai
Nyai Nenek buyut (keturunan Jawa)
Ocak Ucap
Olo Kepala
Pabila Kapan
Pacénan Pecinan
Palapa Bumbu
  • Panggêk
  • Aranggêk
  • Tuai
  • Menuai
Pao Mangga
Parak Hampir
Patè Terlalu
Patèk Anjing
Rajê Raya
Rèa Dia
Rojêk Rujak
Sarèpah Kata sapaan perempuan (keturunan Arab)
Sela' Sempit
Sokêr Angkuh
Soko Kaki
Taci' Kakak perempuan (keturunan Tionghoa)
  • Toa
  • Maratoa
  • Matoa-toa
  • Oréng Toa
  • Tua
  • Mertua
  • Sok-sokan
  • Orang Tua
Yi Ya

Kata Serapan[sunting | sunting sumber]

Secara historis, bahasa Kangean memiliki banyak pengaruh dari elemen linguistik bahasa lain, utamanya dari bahasa-bahasa yang berasal dari Sulawesi, Kalimantan, Bali, maupun Jawa. Hal ini mengingat bahwa Kangean secara geografis terletak diantara pulau-pulau tersebut, dan juga secara susur galurnya, sebagian besar masyarakat suku Kangean berketurunan Sulawesi (Bugis, Makassar, Bajo, Mandar, dsb.) yang memberikan pengaruh signifikan terhadap perbendaharaan kata dalam bahasa Kangean.

Serapan dari bahasa-bahasa Sulawesi[sunting | sunting sumber]

Bahasa Bajo[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Bajo Arti dalam Bahasa Indonesia[11]
Diyê Atiye
  • Situ (bahasa Kangean)
  • Ini (bahasa Bajo)
Bêrak Berak Berat
Buco' Buco Busuk
Katon Katonan
  • Terlihat (bahasa Kangean)
  • Tahu (bahasa Bajo)
Mêlé Milli Beli
Ngèkét Ngeket Gigit
Ngota Nguta Muntah
Pao Pauh Mangga
Roma Roma Rumah
Sudu Sudu Sendok

Bahasa Bugis[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Bugis Arti dalam Bahasa Indonesia[12]
Cakalang Cakalang Tongkol
Langè' Langi' Langit
Maté Mate Mati
Matoa Matoa Bersifat tua
Toa Toa Tua
Olo Ulu Kepala
Juko' Juku' Lauk

Bahasa Makassar[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Makassar Arti dalam Bahasa Indonesia[13]
A (prefiks) A' (prefiks) -
Atè Ate Hati
Kalupa Kalúppa Terlupa
Kemma Kema Mana

Serapan dari bahasa-bahasa Kalimantan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Banjar[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Banjar Arti dalam Bahasa Indonesia[14]
Aling Ading Adik
Bêbinian Babinian Perempuan
  • Mun
  • Mon
Amun Kalau
Lalakèan Lalakian Lelaki
Nginum Nginum Minum
Pabila Pabila Kapan
Parak Parak Hampir

Serapan dari bahasa-bahasa Bali[sunting | sunting sumber]

Bahasa Bali[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Bali Arti dalam Bahasa Indonesia[15]
Dito Ditu Situ/Sana
Êna Ene Ini
Ênto Ento Itu
Jêbê Jawê Luar/Jawa
Paséra Sira Siapa
Patut Patut Benar

Serapan dari bahasa-bahasa Jawa[sunting | sunting sumber]

Bahasa Jawa[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kangean Bahasa Jawa Arti dalam Bahasa Indonesia[16]
Ano Anu Ambiguitas
Arêp Arêp Mau
Bêcèk Bêcik Baik
Bêjêh Wayah Waktu
Bêlu' Wolu Delapan
Gêndêng Gêndang Gendang
Ila' Ilat Lidah
Jêbê Jåbå Luar
Jêk Jék (dialek Jawa Timur) Masih
Kandhêl Kandhêl Tebal
Kêmbêng Kêmbang Bunga
Lakar Lakar Memang
Lèmang atos Limang atus Lima ratus
Lèr Lèr Tunjukkan
La'an La'an (dialek Jawa Timur) -
Mangkat Mangkat (dialek Jawa Tengah) Berangkat
Marè Mari Sudah
Nyai Nyai
  • Nenek buyut (keturunan Jawa; bahasa Kangean)
  • Nyai (bahasa Jawa)
Pèto' Pitu Tujuh
Pètong atos Pitung atus Tujuh ratus
Rojêk Rujak Rujak
Sanga Sångå Sembilan
Têlo' Têlu Tiga
Têlong atos Têlung atus Tiga ratus

Lihat Juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Total Populasi berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Sumenep". sumenepkab.bps.go.id. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep. 2013. Diakses tanggal 31 December 2020. Data Kecamatan Sapeken, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Kangayan di Kangean 
  2. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Kangean". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  3. ^ Kangean Speaking Peoples - Joshua Project
  4. ^ H. N. Kiliaan. 1897. Kangeansch. In Morphology and Syntaxis, 153-176. Batavia: Landsdrukkerij.
  5. ^ Eberhard, David M.; Simons, Gary F.; Fennig, Charles D. (2021). "Ethnologue: Languages of the World" (dalam bahasa Inggris). Dallas: SIL International. 
  6. ^ "Kangean language" [Bahasa Kangean]. Glottolog 4.4 (dalam bahasa Inggris). 
  7. ^ Bustami, Abd. Latif (2004). "Folklor Kangean: Suatu Kajian Cerita Bajak Laut (Lanun) Sebagai Sumber Sejarah Kawasan" [The Folklore of Kangean: Study of the Folklore of the Pirates (Lanun) as the Source of Regional History] (PDF). Diakses tanggal 20 Januari 2021. 
  8. ^ Ronkel, PH. S. Van (1900). Een Uilenspiegel en een Dwerghert-verhaal in het Kangeansch (dalam bahasa Belanda). Albrecht & Co.-M. Nijhoff. 
  9. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  10. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  11. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  12. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  13. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  14. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  15. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  16. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • David M. Eberhard and Gary F. Simons and Charles D. Fennig. 2021. Ethnologue: Languages of the World. Dallas: SIL International. (AES Status of Kangeanese language: Not Endangered, Kangean (kkv-kkv) = 6a* (Vigorous))
  • H. N. Kiliaan. 1897. Kangeansch. In Morphology and Syntaxis, 153-176. Batavia: Landsdrukkerij.
  • A. Teeuw. 1961. A Critical Survey of Studies on Malay and Bahasa Indonesia. (Koninklijk instituut voor taal-, land- en volkenkunde: Bibliographical Series, 5.) 's Gravenhage: Martinus Nijhoff. 179pp.
  • Alexander Adelaar. 2005. The Austronesian languages of South East Asia and Madagascar: a historical perspective. In Alexander Adelaar and Nikolaus Himmelmann (eds.), The Austronesian Languages of Asia and Madagascar, 1-41. London & New York: Routledge.