Rumpun bahasa Batak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Rumpun bahasa Batak
Persebaran
geografis:
Sumatra, Indonesia
Rumpun bahasa:Austronesia
Pembagian:
  • Batak Utara
  • Batak Selatan
ISO 639-2 / 5:btk
Glottolog:toba1265[1]

Rumpun bahasa Batak adalah sekelompok bahasa berkerabat yang dituturkan di bagian utara Sumatra, Indonesia. Rumpun ini merupakan bagian dari subkelompok Sumatra Barat Laut–Kepulauan Penghalang bersama bahasa Mentawai dan Nias di dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.

Pembagian[sunting | sunting sumber]

Persebaran bahasa-bahasa Batak di Sumatra bagian utara.
  Karo
  Pakpak
  Toba

K. Alexander Adelaar (1981) mengelompokkan bahasa-bahasa Batak sebagai berikut:[2]

Petrus Voorhoeve (1955) sebelumnya menggolongkan Simalungun sebagai cabang ketiga bahasa Batak yang memiliki ciri dari kelompok Utara maupun Selatan.[3] Akan tetapi, Adelaar berpendapat bahwa ciri-ciri Utara yang ada di Simalungun merupakan pinjaman. Secara fonologi, Simalungun lebih dekat dengan bahasa-bahasa Batak Selatan; kedekatan ini juga didukung dengan beberapa bukti leksikal.[4] Kajian leksikostatistik menunjukkan bahwa kosakata dasar bahasa Karo 76% kognat dengan Alas, 81% dengan Pakpak, dan 80% dengan Simalungun. Penutur bahasa Karo dan Toba tidak dapat saling memahami.[5]

Klasifikasi Adelaar di atas telah diadopsi oleh Glottolog (per edisi 4.3).[a]

Rekonstruksi[sunting | sunting sumber]

Proto-Batak
Rekonstruksi darirumpun bahasa Batak
Bentuk awal
rekonstruksi

Adelaar (1981) telah merekonstruksi fonologi bahasa Proto-Batak, leluhur dari seluruh bahasa-bahasa Batak, berdasarkan data dari kelompok Utara maupun Selatan.[6]

Konsonan Proto-Batak[7]
Labial Alveolar Palatal Velar Glotal
Hambat taksuara *p *t *c *k
bersuara *b *d *j
Desis *s *h
Sengau *m *n
Semivokal *w *y
Lateral *l
Getar *r
Vokal Proto-Batak[7]
Depan Tengah Belakang
Tertutup *i *u
Sedang
Terbuka *a

Selain vokal di atas, terdapat pula tiga diftong di posisi akhir, yaitu *-uy, *-ey, dan *-ow.[7]

Beberapa bunyi Proto-Batak mengalami perubahan pada bahasa-bahasa turunannya, sebagaimana diringkaskan di bawah ini:

  • Proto-Batak *k menjadi h di posisi awal dan tengah pada bahasa-bahasa Batak Selatan.[8]
Proto-Batak *kalak > Toba, Simalungun halak; Karo kalak 'orang'
Proto-Batak *dukut > Toba, Simalungun duhut; Karo dukut 'rumput'
  • Proto-Batak *h hilang di Toba, Angkola and Mandailing.[8]
Proto-Batak *pərəh > Toba poro, Simalungun poroh, Karo pereh /pərəh/ 'perah'
  • Konsonan hambat *b, *d, dan *g hanya dipertahankan di bahasa Simalungun. Di bahasa Toba, Angkola dan Mandailing, konsonan ini berubah menjadi taksuara (/p/, /t/, /k/) sementara di bahasa-bahasa Batak Utara, konsonan ini berubah menjadi bunyi sengau yang diucapkan pada tempat artikulasi yang sama/homorganik (/m/, /n/, /ŋ/).[9]
Proto-Batak *abab > Simalungun abab, Toba abap, Karo abam 'abu'
Proto-Batak *dələg > Simalungun dolog, Toba dolok, Karo deleng /dələŋ/ 'gunung'.
  • Vokal *ə bergeser ke /o/ di bahasa-bahasa Selatan. Bunyi ini dipertahankan di Utara, walaupun bergeser ke /o/ di kosakata monosilabis dan sebelum -h dalam bahasa Dairi.[10]
Proto-Batak *ənəm > Karo enem (/ənəm/), Toba onom 'enam'
Proto-Batak *tanəh > Karo taneh (/tanəh/), Dairi tanoh, Toba tano 'tanah'
  • Diftong Proto-Batak hanya bertahan di Simalungun, dan bergeser menjadi monoftong pada bahasa-bahasa Batak yang lain.[11]
Proto-Batak *apuy > Simalungun apuy; api 'api' dalam ragam lainnya.
Proto-Batak *matey > Simalungun matei; mate 'mati' dalam ragam lainnya.
Proto-Batak *pulow > Simalungun pulou; pulo 'pulau' dalam ragam lainnya.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Glottolog menggunakan istilah "Batakic" untuk rumpun Batak secara keseluruhan dan "Tobaic" untuk Toba-Angkola-Mandailing.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Batakic". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  2. ^ Adelaar 1981, hlm. 17–18.
  3. ^ Voorhoeve, Petrus (1955). Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Den Haag: Nijhoff. hlm. 9. 
  4. ^ Adelaar 1981, hlm. 14–15.
  5. ^ Woollams, Geoff (2005). "Karo Batak". Dalam K. Alexander Adelaar; Nikolaus Himmelmann. The Austronesian Languages of Asia and Madagascar. London dan New York: Routledge. hlm. 535. ISBN 9780700712861. 
  6. ^ Adelaar 1981.
  7. ^ a b c Adelaar 1981, hlm. 18.
  8. ^ a b Adelaar 1981, hlm. 14.
  9. ^ Adelaar 1981, hlm. 13–14.
  10. ^ Adelaar 1981, hlm. 11–12.
  11. ^ Adelaar 1981, hlm. 12.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Adelaar, K. Alexander (1981). "Reconstruction of Proto-Batak Phonology". Dalam Robert A. Blust. Historical Linguistics in Indonesia: Part I. NUSA: Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia. 10. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. hlm. 1–20.