Bahasa Tereweng
Tampilan
Tereweng adalah bahasa Alor–Pantar yang dituturkan oleh masyarakat etnik Tereweng di Pulau Tereweng,[4] sebelah tenggara Pantar.[5] Bahasa ini sangat terkait erat dengan bahasa Blagar, terkadang dianggap sebagai dialeknya, atau lebih jauh lagi dengan bahasa Retta.[6]
Jumlah penuturnya sekitar 1.100 orang, sebagian besar di antaranya adalah multibahasa, mampu berbicara bahasa Melayu Alor dan bahasa Indonesia.[1] Penuturnya sebagian besar adalah Muslim, terutama memiliki hubungan dekat dengan suku Blagar.[7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 "Tereweng language". globalrecordings.net (dalam bahasa Inggris). Global Recording. Diakses tanggal 2025-12-30.
- ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Tereweng". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
- ↑ "Bahasa Tereweng". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
- ↑ Dwi Putrohari, Rovicky; Simanjuntak, Truman; Sudoyo, Herawati; Lauder, Multamia R.M.T.; Lauder, Allan F.; Neonbasu, Pater Gregorius; Poelinggomang, Edward L.; Usmany, Dessy Polla; Yapsenang, Yudha; Kleden-Probonegoro, Ninuk (2015). "Potret Bahasa-bahasa Maluku Utara dan Representasi Melanesia". Diaspora Melanesia di Nusantara. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 243. ISBN 978-602-1289-19-8. OCLC 1255403957.
- ↑ Djawa, Alex; Sanga, Felysianus; Tans, Felix; Nai, Firmina A.; Pada, Hendrina (2019). "Pemetaan Bahasa di Pulau Alor". Jurnal Lazuardi (Edisi 2nd). Kupang: Universitas Nusa Cendana. hlm. 171–185. doi:10.53441/jl.Vol2.Iss2.6. ISSN 2685-1625.
- ↑ Tereweng di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
- ↑ Gomang, Syarifuddin R. (2006). "Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia and Oceania". Muslim and Christian alliances: ‘Familial relationships’ between inland and coastal peoples of the Belagar community in eastern Indonesia (PDF) (dalam bahasa Inggris). Vol. 162 (4). Leiden: Universitas Leiden. hlm. 468–489. doi:10.1163/22134379-90003663.