Bahasa Binan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kamus Bahasa Gay Edisi ke-7 oleh Agung Soedjono, Ibhoed dan Adi Wahono, peneliti dari GAYa Nusantara

Bahasa Binan (atau bahasa Banci, bahasa Bencong, bahasa Gay) adalah dialek bahasa Indonesia yang dipertuturkan oleh komunitas gay dan waria di Indonesia. Bahasa ini memiliki beberapa pola pembentukan kata yang teratur dan terdokumentasikan dalam tulisan dan ujaran.[1] Salah satu pola pembentukan kata yang paling umum adalah dengan mengganti suku kata terakhir dari kata bahasa Indonesia/bahasa daerah menjadi akhiran -ong (tetapi konsonan pertamanya dipertahankan) dan mengubah vokal suku kata sebelumnya menjadi bunyi e. Sebagai contoh, suku kata terakhir dalam kata banci diganti dengan akhiran -ong (tetapi konsonan c dipertahankan) dan huruf vokal suku kata sebelumnya diganti e sehingga menghasilkan kata bencong.

Perbendaharaan kata dalam bahasa Binan kebanyakan diturunkan dari bahasa Indonesia, dengan sedikit kata yang diturunkan dari bahasa daerah, seperti bahasa Jawa.[2]

Penamaan[sunting | sunting sumber]

Binan berasal dari kata banci dengan suku kata pertama ban diberi sisipan -in- dan suku kata berikutnya dihilangkan. Pembuatan kata baru dengan memberikan sisipan pada suku kata semacam ini cukup jamak dalam bahasa Binan, seperti kata bule menjadi binul, gay menjadi ginay dan lesbi menjadi lines.[3]

Sebagaimana sifat bahasa Binan sendiri yang sangat fleksibel, selain disebut bahasa Binan, bahasa ini juga bisa disebut bahasa Banci, bahasa Bencong, bahasa Binaria, bahasa Binanto Warsito dan bahasa Waria.[4]

Sebagian peneliti mencoba membedakan istilah bahasa Binan dengan bahasa Gay karena menggambarkan subjek yang berbeda. Istilah Binan/Banci/Bencong dihindari karena merupakan istilah yang digunakan untuk meremehkan/merendahkan waria. Meskipun demikian, kedua ragam bahasa ini dinyatakan sangatlah berdekatan.[5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bahasa Binan setidaknya sudah timbul pada kisaran tahun 1960-an di kalangan waria dan pria homoseksual Indonesia. Mulanya bahasa ini dikenal dengan sebutan Omong Cong atau Omong Ces, tetapi kemudian bahasa ini lebih dikenal dengan istilah bahasa Binan seperti sekarang. Sebagian kata dalam khazanah bahasa Binan lambat laun diterima dalam percakapan informal sehari-hari di luar komunitas waria/homoseksual.[6] Puncak penerimaan bahasa Binan dalam bahasa Indonesia gaul terjadi pada dasawarsa 1990. Televisi dan radio mulai diramaikan dengan penggunaan bahasa Binan sebagai bagian dari sajian hiburan. Kata-kata yang mulanya berasal dari bahasa Binan, mulai lazim terdengar dalam percakapan sehari-hari, seperti nepsong, bencong, lekong dll.[3]

Tata bahasa[sunting | sunting sumber]

Sebagai turunan dari bahasa Indonesia, bahasa Binan pada dasarnya memiliki struktur tata bahasa Indonesia. Bahasa Binan yang dituturkan di daerah, misalkan Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, memiliki sedikit perbedaan pada tataran leksikon yang berasal dari bahasa daerah. Perbedaan leksikon tersebut tidak mengakibatkan adanya bahasa Binan daerah, melainkan tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari bahasa Binan yang dipertuturkan secara nasional oleh komunitas-komunitasnya. Ada kalanya kosa kata bahasa Binan yang berasal dari bahasa daerah tersebar luas dan digunakan pada tingkat nasional.[7]

Leksikon dalam bahasa binan menunjukkan adanya serangkaian pola pembentukan kata yang cukup konsisten. Kosa kata bahasa Binan umumnya dibentuk dengan dua cara, yakni (1) perubahan bunyi dalam kata yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa indonesia; dan (2) penciptaan kata atau istilah baru atau pun penggeseran makna kata atau istilah (pelesetan) yang sudah ada dalam bahasa daerah atau bahasa indonesia.[6] Akan tetapi, penelitian lainnya memperinci proses-proses pembentukan istilah ini ke dalam empat jenis, yaitu penggantian silabis (syllabic substitution), neologisme, pergeseran makna (semantic shift) dan afiksasi.[8]

Sebagian kata baru dalam bahasa Binan tetap dapat dikombinasikan dengan afiksasi umum dalam bahasa Indonesia baku/gaul sesuai kebutuhan, seperti kata pacarpecong + akhiran -an → pecongan (pacaran); isap → esong + awalan ng- → ngesong (mengisap).

Penggantian silabis[sunting | sunting sumber]

Pada pertengahan 1990-an, pola pembentukan istilah baru dalam bahasa Binan yang paling populer adalah pola penggantian silabis. Dalam penggantian silabis, kata dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah diganti dengan kata lainnya yang memiliki kemiripan silabis/suku kata (umumnya suku kata pertama). Contohnya kata tidak yang diganti dengan kata tinta.[7] Pola pembentukan kata ini dipercayai berawal di Medan dan kemudian menyebar di semua kota-kota Indonesia.[6]

Di bawah ini akan dijabarkan beberapa contoh penggantian silabis berdasarkan kalompok asal katanya.

Berasal dari satu kata:

Kata bahasa Binan Kata yang dimaksud Kesamaan bunyi
Amplop Ampun amp
Mawar Mau ma(u)
Tinta Tidak ti
Mandala Mandi man
Belalang Beli be
Cumi Cium ci
Ember Emang em
Gilingan Gila gil
Kencana Kencing kenc
Pertiwi Perut per

Berasal dari dua kata atau lebih:

Kata bahasa Binan Kata yang dimaksud Kesamaan bunyi
Duka lara Dukun du
Beranak dalam kubur Berak ber
Gedung putih Gede ged
Pelita hati Pelit pel

Berasal dari nama tempat:

Kata bahasa Binan Kata yang dimaksud Kesamaan bunyi
Maluku Malu mal
Balikpapan (Kem)bali bal
Makassar Makan mak
Polonia Pulang p-l
Samarinda Sama-sama sama
Meksiko Madura m
Malacanang Lancang la-c
Malaysia Malu ma
Polandia Polisi pol
Mojokerto Mojok mojok

Berasal dari nama merek:

Kata bahasa Binan Kata yang dimaksud Kesamaan bunyi
Adidas ndesa (bahasa Jawa) d-s
Bodrex Bodoh bod
Bulgari Bule bul
Ciptadent Cipok (ciuman) cip
Motorola Motor motor
Panasonic Panas pan
Naspro Nasi nas
Bossini Bosan bos
Hemaviton Homo h-m
Rexona Rokok r

Berasal dari nama orang[9][10]:

Kata bahasa Binan Kata yang dimaksud Kesamaan bunyi
Endang Sulastri Enak sekali en s
Machica Mochtar Macet mac
Multatuli Mulut mul
Soraya Perucha Sakit perut s per
Titi DJ Hati-hati di jalan ti ti di j
Sundari Sukoco Sundal sunda
Mayangsari Main ma
Malida Sudrajat Malu mal
Aida Mustafa AIDS aid
Alyssa Soebandono Alis alis

Neologisme[sunting | sunting sumber]

Neologisme dalam bahasa Binan memungkinkan pembuatan kata baru, tidak berasal dari kata bahasa Indonesia/daerah yang sudah ada. Kata baru ini biasanya masih mengandung suku kata yang mirip dengan kata yang dimaksud dalam bahasa Indonesia/daerah, contohnya akika (aku), cuco' (cakep) dan jahara (jahat).

Kata bahasa Binan Kata yang dimaksud Kesamaan bunyi
Akika Aku ak
Lambreta Lambat lam
Takara Takut tak
Dolang Dulu d-l
Capcus Cabut ca

Pergeseran makna[sunting | sunting sumber]

Pergeseran makna adalah pola pembentukan istilah dalam bahasa Binan yang memberikan makna baru pada kosa kata bahasa Indonesia, tanpa memandang apakah memiliki kemiripan suku kata dengan makna yang dimaksud, contohnya istilah kucing untuk pekerja seks.

Kata bahasa Binan Arti
Cuci WC Menjilat pantat
Nyiur melambai Feminin
Kucing Pelacur laki-laki
Lubang buaya Orang yang suka disemburit
Mandi kucing Menjilati badan
Brondong Laki-laki muda

Afiksasi[sunting | sunting sumber]

Afiksasi atau pemberian imbuhan adalah salah satu pola umum pembentukan istilah baru dalam bahasa Binan. Afiksasi dapat berupa awalan (prefiks), sisipan (infiks) dan akhiran (sufiks). Pemberian afiksasi tak jarang juga disertai perubahan bunyi vokal dan penghilangan suku kata tertentu pada sebuah kata. Berbagai macam kaidah pemberian imbuhan ini akan dijelaskan satu per satu di bawah ini.

Awalan si-[sunting | sunting sumber]

Pola pembentukan kata baru dengan memberikan awalan si- ini dapat ditemui di Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Yogyakarta dan kota-kota berbasis budaya Jawa lainnya, dan umumnya berupa perubahan bunyi terhadap kata-kata bahasa Jawa. Pola pembentukan ini dilakukan dengan cara mempertahankan suku kata pertama kata dasar dan apabila suku kata pertama diakhiri dengan huruf vokal, maka konsonan dari suku kata berikutnya diikutkan. Kemudian dari suku kata tersebut diberikan awalan si-.[6]

Contoh:

  • banci → si + ban → siban
  • lanang (bahasa Jawa) → si + lan → silan
  • wedok (bahasa Jawa) → si + wed → siwed
  • homo → si + hom → sihom

Sisipan -in-[sunting | sunting sumber]

Pola pembentukan kata dengan sisipan -in- pada mulanya hanya dipakai di kawasan Jakarta dan Bandung, tetapi kemudian dalam perkembangannya juga menyebar ke kota-kota lain di Indonesia. Pola pembentukan ini menyisipkan sisipan -in- sesudah konsonan awal setiap suku kata pada suatu kata dasar, sehingga dua kali lebih panjang dari kata aslinya. Kadang kata yang menjadi panjang itu kemudian diperpendek dengan hanya mempertahankan suku kata pertama.[6]

Contoh:

  • bule → b-in-u + l-in-e → binuline → binul (diperpendek)
  • lesbi → l-in-es + b-in-i → linesbini → lines (diperpendek)
  • gay → g-in-ay → ginay
  • pereks (pelacur) → p-in-er + r-in-eks → pinerineks

Akhiran -ong[sunting | sunting sumber]

Pola pembentukan dengan akhiran -ong adalah salah satu pola pembentukan yang paling umum dan produktif dalam bahasa Binan. Bahasa dengan pola pembentukan kata ini juga bisa disebut omong cong atau bahasa ong-ong. Prosesnya dilakukan dengan cara mengganti suku kata terakhir menjadi -ong dan mengubah bunyi vokal suku kata sebelumnya dengan vokal è.[6] Konsonan pertama suku kata terakhir dipertahankan sehingga membentuk suku kata baru bersama akhiran -ong.

Contoh:

  • laki → la-k + ong → lekong
  • homo → ho-m + ong → hemong
  • banci → ban-c + ong → bencong
  • polisi → po-li-s + ong → polesong
  • napsu → nap-s + ong → nepsong
  • sakit → sa-k + ong → sekong
  • tua → tu-(w) + ong → tewong

Akhiran -es[sunting | sunting sumber]

Mirip dengan pola pembentukan dengan akhiran -ong, pola pembentukan akhiran -es juga banyak ditemui dalam bahasa Binan. Bahasa dengan pola pembentukan kata ini juga bisa disebut omong ces atau bahasa es-es. Prosesnya dilakukan dengan cara mengganti suku kata terakhir menjadi -es dan mengubah bunyi vokal suku kata sebelumnya dengan vokal è.[6] Konsonan pertama suku kata terakhir dipertahankan sehingga membentuk suku kata baru bersama akhiran -es.

Contoh:

  • laki → la-k + es → lekes
  • banci → ban-c + es → bences
  • pura(-pura) → pu-r + es → peres
  • tentara → ten-ta-r + es → tenteres

Akhiran -i[sunting | sunting sumber]

Sekitar pertengahan tahun 1990-an, pola pembentukan kata dengan akhiran -i muncul. Pola pembentukan kata baru berakhiran -i ini memiliki aturan yang mirip dengan pola pembentukan kata baru berakhiran -ong atau -es. Walaupun demikian, pola ini tidak sepopuler dan seproduktif akhiran -ong atau -es yang telah banyak menghasilkan kata baru. Hanya beberapa kata khusus saja yang lebih jamak menggunakan pola kata berakhiran -i dibandingkan ragamnya yang berakhiran -ong atau -es.[6]

Contoh:

  • kontol → kon-t + i → kenti
  • pantat → pan-t + i → penti

Akhiran -se'[sunting | sunting sumber]

Pola pembentukan dengan akhiran -se' memiliki aturan yang mirip dengan pola pembentukan kata dengan akhiran lainnya, yakni suku kata pertama (huruf vokal tidak diubah) dan konsonan pertama suku kata berikutnya dipertahankan, kemudian ditambahkan akhiran -se'. Kata se' sendiri (berasal dari kata sakit) juga dapat dimaknai sebagai gay/homoseks.[6]

Contoh:

  • homo → ho-m + se' → homse'
  • Cina → Ci-n + se' → Cinse'

Adakalanya akhiran -se' juga dikombinasikan dengan pola pembentukan kata lainnya, sebagai contoh:

  • dorong (dalam hal seks anal) → do-r + -ong/-es → derong/deres → derse

Akhiran -ce[sunting | sunting sumber]

Pola pembentukan berakhiran -ce tidak sering dibahas jika dibadingkan dengan pola-pola lain yang telah dijelaskan sebelumnya. Meskipun demikian, kata-kata dalam bahasa Binan dengan akhiran -ce lumayan banyak ditemukan.

Contoh:

  • murah → mu-r + ce → murce
  • dimana → di-man + ce → dimance
  • ke mana → ke-ma-n + ce → kemance

Akhiran -wati[sunting | sunting sumber]

Berbeda dengan pola-pola pembentukan kata sebelumnya yang secara morfologis tidak mempengaruhi arti kata dasar, akhiran -wati memiki fungsi untuk menunjukkan kata sifat dll. atau orang (umumnya merujuk gay/waria) yang melakukan perbuatan/memiliki sifat tersebut.

Contoh:

  • sibuk → sibuk + wati → sibukwati (orang yang sangat sibuk)[9]
  • rempong → rempong + wati → rempongwati (orang yang sangat repot/ribet)

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

Sebagai bahasa yang sangat dinamis, bahasa Binan terus memunculkan kata-kata baru dan juga afiksasi-afiksasi baru. Terdapat beberapa afiksasi yang belum banyak terdokumentasikan sehingga belum cukup kuat untuk dinyatakan sebagai pola pembentukan kata yang produktif. Contoh di antaranya seperti:

  • Sisipan -ri- sebagaimana di sukasukria[4]
  • Akhiran -dang sebagaimana di beginibegindang[4]
  • Akhiran -ose sebagaimana di apaapose
  • Akhiran -oska sebagaimana di apaaposka
  • Akhiran -dosdos sebagaimana di dimanadimandosdos
  • Akhiran -ara sebagaimana di jahatjahara

Singkatan dan lakuran[sunting | sunting sumber]

Walaupun tidak termasuk pola pembentukan kata tertentu, singkatan dan lakuran juga memegang peran signifikan dalam perkembangan bahasa Binan. Singkatan dapat mengacu pada arti secara langsung atau mengalami proses penggantian silabis untuk arti kata yang memiliki suku kata serupa.

Singkatan Kepanjangan Arti
BBC (bibisi)[9] British Broadcasting Corporation Becak
ATM[9] Anjungan Tunai Mandiri / Automated Teller Machine (?) Bisa di mana-mana, serba bisa (tentang hubungan seks)
PY[9] Pa-Yu (bahasa Jawa) Sudah laku
EGPCC[10] Emang Gue Pikirin Cuih Cuih Memangnya saya pikir cuih cuih
SDMB[10] Sori Dori Mori Bo'
BMW Biar Mampus Weice Ungkapan kekesalan
Lakuran Kepanjangan Arti
Peltu[9] Nempel metu (bahasa Jawa) Mudah ejakulasi
Sertu[9] Geser metu (bahasa Jawa) Mudah ejakulasi
Tubang Tua bangka Orang yang sudah tua sekali
Balon[5] Banci salon Banci yang bekerja di salon

Kata Serapan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Binan sebagai dialek bahasa Indonesia pada dasarnya mengambil kosa kata dari bahasa Indonesia. Akan tetapi, dalam perkembangannya juga diperkaya kata serapan dari pelbagai bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Bugis, Bali dll., maupun bahasa asing.

Serapan Belanda[sunting | sunting sumber]

Bahasa Belanda adalah salah satu bahasa asing yang memiliki pengaruh terhadap bahasa Binan. Kata bahasa Belanda yang diserap ke dalam bahasa Binan mengalami perubahan ejaan dan ada kalanya juga pergeseran makna.[11]

Contoh serapan dari bahasa Belanda:

  • Ik (aku) → eike
  • Jij (kamu) → yey
  • Jongen (pemuda) → yongen

Serapan Inggris[sunting | sunting sumber]

Selain bahasa Belanda, bahasa Inggris juga mempengaruhi perkembangan perbendaharaan bahasa Binan. Sebagai contoh:

  • Top (tentang posisi seks) → top
  • Versatile (tentang posisi seks) → versa[5], vers
  • Bottom (tentang posisi seks) → bot, boti, botita

Serapan Jawa[sunting | sunting sumber]

Kata serapan dari bahasa Jawa umumnya sudah mengalami perubahan yang disesuaikan dengan bahasa Binan.

Contoh serapan dari bahasa Jawa:

  • Lembeng (kemayu, tidak tegas) → lambada
  • Larang (mahal) → larasati
  • Luwe (lapar) → lewong
  • Silit (dubur) → sisilia

Intonasi[sunting | sunting sumber]

Walaupun intonasi tidak dibahas sesering leksikon, intonasi dalam bahasa Binan juga memiliki kekhasannya sendiri. Intonasi dalam bahasa ini sering dianggap feminin (bisa disebut dengan istilah ngondhek, megol, kriting, centil, melambai). Intonasi ini ditandai dengan nada yang tinggi dan naiknya intonasi pada akhir ucapan yang terasosiasi dengan keperempuanan dan kelembutan.[8][6]

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Terdapat sejumlah pendapat dari beberapa peneliti tentang apa fungsi bahasa Binan sebenarnya. Bahasa Binan pada dasarnya memiliki dua fungsi yang sering diperdebatkan, yakni bahasa Binan sebagai bahasa rahasia/sandi dan bahasa Binan sebagai bahasa interaksi. Menurut salah satu penelitian oleh Bahasa Binan memiliki empat fungsi[5], yakni

Bahasa rahasia[sunting | sunting sumber]

Intoleransi terhadap komunitas gay dan waria di Indonesia salah satunya mengakibatkan komunitas ini mendapatkan kecaman, deskriminasi dan bahkan perundungan. Oleh karenanya komunitas ini membentuk bahasa rahasia yang hanya diketahui kalangan sendiri untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya untuk menyamarkan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat pada umumnya.

Identitas[sunting | sunting sumber]

Bahasa Binan menjadi bagian dari identias komunitas gay dan waria di Indonesia. Bahasa Binan menjadi penanda dan ekspresi budaya dari komunitas gay dan waria.

Humor[sunting | sunting sumber]

Selain berfungsi sebagai ungkapan identitas, bahasa Binan sering berperan sebagai humor dalam berbagai kesempatan. Khususnya dalam bidang hiburan, bahasa Binan yang mengandung banyak kosa kata unik dan bahkan bombastis digunakan sebagai bagian dari humor.

Sarana sosial[sunting | sunting sumber]

Bahasa Binan pada banyak kesempatan juga digunakan kepada orang-orang heteroseksual, tidak lagi menjadi bahasa rahasia. Pada tahapan ini bahasa Binan telah menjadi register bahasa informal dari bahasa Indonesia.

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Bahasa Binan memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan kebahasaan dan budaya populer di Indonesia. Debby Sahertian mengumpulkan perbendaharaan bahasa Binan dan menerbitkannya dalam sebuah kamus yang diberi judul Kamus Bahasa Gaul (cetakan pertama tahun 1999). Kamus itu begitu populer hingga mencapai cetakan kesebelasnya hanya dalam kurun waktu empat tahun saja. Dengan diterbitkannya buku ini, perbendaharaan kata bahasa Binan terpampang ke khalayak umum. Dikatakan bahwa kalangan gay dan lesbian kala itu mengungkapkan kekesalannya karena Debby telah "membocorkan bahasa rahasia mereka" dan karena itu, Debby pernah menyatakan permohonanan maafnya secara terbuka. Semenjak Kamus Bahasa Gaul populer, perbincangan tentang bahasa ini terus mengemuka di tingkat nasional maupun internasional.[12][13]

Sahertian mengaku mempelajari bahasa Binan pertama kali ketika melawat ke Medan pada pertengahan 1990-an untuk sebuah pameran busana dan pengambilan gambar. Sahertian memerhatikan bahasa yang digunakan oleh para penata rambut gay yang ditemuinya saat itu dan menjadi tertarik. Sementara itu, ia mengaku menemukan istilah bahasa gaul yang terilhami dari kata tenda gaul, istilah untuk semacam kafe sederhana yang menjamur pascakrisis di penghujung 1990-an. Kafe-kafe ini umumnya dijalankan oleh pegawai-pegawai yang dipecat karena krisis. Di kafe ini, orang-orang datang untuk bergaul dan merumpi.[14]

Kata bahasa Binan seperti lines dan bencong telah masuk KBBI dalam ragam cakap.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Boellstorf (2004): 248
  2. ^ Oetomo, D. (2001). Memberi suara pada yang bisu. Yogyakarta: Galang Press.
  3. ^ a b Pratiwi, Sandhy Syari. 2010. Bahasa Binan dalam Komunikasi Antarpribadi di Kalangan Waria. Universitas Sumatera Utara. PDF
  4. ^ a b c M. Rafiek. Ragam bahasa Waria dalam Sinetron. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat.
  5. ^ a b c d Ni Kadek Ary Susandi, Ni Putu Rusanti dan I Putu Gede Sutrisna. 2018. "Gay Language in Bali: Sociolinguistic Study on Homosexual and Bisexual Men in Bali" Advances in Social Science, Education and Humanities Research, volume 166
  6. ^ a b c d e f g h i j "Bahasa Binan". GAYa NUSANTARA. 2015-08-17. Diakses tanggal 2019-05-24. 
  7. ^ a b Boellstorff, Tom. 2004. "Gay Language and Indonesia: Registering Belonging." Journal of Linguistic Anthropology, Vol. 14, Issue 2, pp. 248–268, ISSN 1055-1360, electronic ISSN 1548-1395.
  8. ^ a b "Bahasa Gay is Bahasa Gaul". Bahasakita.com (dalam bahasa Inggris). 2009-10-23. Diakses tanggal 2019-05-24. 
  9. ^ a b c d e f g Agung Soedjono, Ibhoed & Adi Wahono. Kamus Bahasa Gay Ed.7 GAYa Nusantara.
  10. ^ a b c "Kamus bencong". Scribd. Diakses tanggal 2019-05-26. 
  11. ^ Pesulima, Barbara. 2015. Pengaruh Bahasa Belanda dalam Bahasa Binan. DOC
  12. ^ Boellstorff, Tom (2007-04-25). A Coincidence of Desires: Anthropology, Queer Studies, Indonesia (dalam bahasa Inggris). Duke University Press. ISBN 9780822389538. 
  13. ^ Antiokhia (YAPAMA), Yayasan Pelayanan Media (2007-01-15). Tabloid Reformata Edisi 52 Januari Minggu II 2007. Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). 
  14. ^ Torchia, Christopher; Djuhari, Lely (2007-07-15). Indonesian Idioms and Expressions: Colloquial Indonesian at Work (dalam bahasa Inggris). Tuttle Publishing. ISBN 9781462916504. 

Pustaka lanjutan[sunting | sunting sumber]