Alfabet bahasa Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Alfabet bahasa Indonesia modern adalah alfabet yang digunakan secara luas dalam bahasa Indonesia hingga saat ini. Alfabet bahasa Indonesia terdiri dari 26 huruf alfabet Latin dasar ISO tanpa diakritik apapun.[a]. Alfabet bahasa Indonesia juga mengenal beberapa dwihuruf, seperti konsonan ganda (ng, ny, kh, dan sy) dan diftong (ai, au, ei, dan oi) untuk menuliskan bunyi lafal yang ada dalam bahasa Indonesia tetapi tidak tersedia dalam alfabet Latin dasar. Namun semua dwihuruf dan diftong tersebut tidak dianggap sebagai bagian yang terpisah dari alfabet bahasa Indonesia.

Saat ini, Alfabet bahasa Indonesia menggunakan sistem ortografi Ejaan Bahasa Indonesia, yang diatur dalam PUEBI. Sistem ini menggantikan sistem Ejaan Yang Disempurnakan, yang telah digunakan sejak tahun 1972 hingga 2015, meskipun hampir tidak ada perbedaan antara EYD revisi terakhir dan EBI. Alfabet bahasa Indonesia dapat ditulis dalam berbagai macam gaya (termasuk gaya tulisan tangan yang dikenal di Indonesia, yaitu huruf lepas dan huruf tegak bersambung).

Huruf Kapital A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Huruf Kecil a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
fonem IPA a b d e, ɛ, ə f g h i k l m n o p k r s t u v~f w ks j z

Nama huruf dan pelafalan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Indonesia menggunakan nama huruf yang diadopsi dari alfabet bahasa Belanda, dengan beberapa pengubahan sepanjang dan setelah kolonialisme Belanda. Bahasa Indonesia memiliki ortografi fonemis, yaitu grafem yang berapa pada morfem-morfem dalam bahasa tersebut bersesuaian dengan peta fonemnya (meskipun tidak 100% karena ada alofon). Dengan kata lain, huruf-huruf dalam bahasa Indonesia dilafalkan sama dengan yang dieja, kecuali beberapa pengecualian tertentu yang sangat jarang. Namun, bila dibandingkan dengan dialek-dialek lain dari bahasa Melayu, termasuk bahasa Malaysia sebagai bahasa perantara di Malaysia, huruf dalam bahasa Indonesia memiliki fonem yang lebih stabil.

Huruf[1] Nama Suara Cat.
Kapital Kecil Sebutan IPA
A a a /a/ /a/
B b be /be/ /b/ [b]
C c ce /t͡ʃe/ /t͡ʃ/ [c]
D d de /de/ /d/ [d]
E e e /e/ /e/, /ɛ/, atau /ə/ [a]
F f ef /ef/ /f/ [e]
G g ge /ge/ /ɡ/ [f]
H h ha /ha/ /h/
I i i /i/ /i/ [g]
J j je /d͡ʒe/ /d͡ʒ/
K k ka /ka/ /k/ [h]
L l el /el/ /l/
M m em /em/ /m/
N n en /en/ /n/
O o o /o/ /o/ [i]
P p pe /pe/ /p/
Q q ki /ki/ /k/ [j]
R r er /er/ /r/
S s es /es/ /s/
T t te /te/ /t/
U u u /u/ /u/ [k]
V v ve /fe/ /v/~/f/ [l][e]
W w we /we/ /w/
X x eks /eks/ /ks/ [m]
Y y ye /je/ /j/
Z z zet /zet/ /z/ [n]

Q dan X sangat jarang digunakan di Indonesia, karena kedua huruf tersebut dalam bahasa asing kemungkinan besar akan diubah masing-masing menjadi huruf K dan KS bila diserap ke dalam Bahasa Indonesia, kecuali kata-kata tertentu yang berhubungan dengan keagamaan dan keilmuan.

Selain itu, terdapat pula dwihuruf yang tidak dianggap sebagai alfabet yang terpisah.

Huruf Suara Cat.
Konsonan ganda
kh /x/ [o]
ng /ŋ/
ny /ɲ/
sy /ʃ/ [p]
Diftong
ai /ai̯/ [q][r][s]
au /au̯/ [t][r][u]
ei /ei̯/ [q][r]
oi /oi̯/ [q][r]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Untuk mengurangi keraguan atau kebingungan dalam melafalkan huruf e dalam kata, di mana huruf e tersebut merepresentasikan 3 lafal yang berbeda dalam bahasa Indonesia, terdapat tiga bentuk huruf berdiakritik yang digunakan, yaitu é untuk /e/, è untuk /ɛ/, dan ê untuk /ə/. Namun, huruf berdiakritik tersebut biasanya hanya digunakan dalam kamus semata. Diakritik hampir tidak pernah ditemukan atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. ^ Bila berada di akhir kata, B sering dilafalkan sebagai [p].
  3. ^ Karena pengaruh dari bahasa Belanda dan Inggris, C kadang dilafalkan sebagai /s/ (meskipun tidak benar dalam kaidah bahasa Indonesia), seperti dalam kata AC (/ase/.
  4. ^ Bila berada di akhir kata, D sering dilafalkan sebagai [t].
  5. ^ a b Beberapa penutur melafalkan F dan V sebagai [p].
  6. ^ Bila berada di akhir kata, G sering dilafalkan sebagai [k].
  7. ^ I dapat dilafalkan sebagai [ɪ], yang dianggap sebagai alofon.
  8. ^ [ʔ] hanya muncul di akhir kata tertentu (atau kadang di tengah kata tertentu), dan sering dianggap sebagai alofon.
  9. ^ O dapat dilafalkan sebagai [ɔ] atau [ʊ], yang dianggap sebagai alofon.
  10. ^ Umumnya diucapkan sebagai /k/, namun dapat diucapkan sebagai [q] pada kata-kata serapan dari bahasa Arab.
  11. ^ U dapat dilafalkan sebagai [ʊ], yang dianggap sebagai alofon
  12. ^ Penutur bahasa Indonesia biasanya tidak membedakan antara /v/ dan /f/, dan menyebut V sebagai /f/.
  13. ^ Bila terdapat di awal kata, X akan diucapkan sebagai [s].
  14. ^ Kadang dilafalkan sebagai [s] atau [dʒ], menurut kebiasaan setempat dan letak huruf dalam kata.
  15. ^ Kh saat ini lebih sering dilafalkan sebagai [k], [h], atau bahkan [kh], tergantung kebiasaan setempat dan letak dalam kata. /x/ lebih sering dilafalkan dengan benar oleh para cendekiawan dan juga orang-orang yang memperdalam ilmu bahasa Arab.
  16. ^ Kadang dilafalkan sebagai /s/ oleh penutur tertentu, yang mungkin terpengaruh oleh bahasa daerah setempat.
  17. ^ a b c Bila disebutkan secara cepat, /i̯/ dilafalkan sebagai [ɪ̯]. Maka /ai̯/, /ei̯/, dan /oi̯/ masing-masing menjadi [aɪ̯], [eɪ̯], dan [oɪ̯].
  18. ^ a b c d Kadang /i̯/ dan /u̯/ dituliskan ke dalam beberapa sumber sebagai /j/ dan /w/.[2]
  19. ^ Dalam percakapan sehari-hari, /ai̯/ dapat disingkat menjadi /e/ atau /eʔ/.
  20. ^ Bila disebutkan secara cepat, /u̯/ dilafalkan sebagai [ʊ̯]. Maka /au̯/, bila dilafalkan secara cepat, akan menjadi [aʊ̯].
  21. ^ Dalam percakapan sehari-hari, /au̯/ dapat disingkat menjadi /o/.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Indonesian Phonetic Transcription – Formula – Examples". MasteringBahasa.com. 
  2. ^ Soderberg, Craig D.; Olson, Kenneth S. "Illustration of the IPA" (PDF). SIL International. International Phonetic Association.