Ejaan yang Disempurnakan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (disingkat EYD) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dari tahun 1972 hingga 2015 dan kembali berlaku sejak 2022.[1] Ejaan ini menggantikan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi dan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Menurut Juanda, Cece, dan Nani dalam Pembinaan Bahasa Indonesia (2017: 19), Ejaan Yang Disempurnakan kini telah digunakan sebagai acuan dalam penulisan bahasa Indonesia. EYD ini telah diberlakukan dan diresmikan pada masa pemerintahan Soeharto, tepatnya 26 Agustus 1972. Pemberlakuan pemakaian EYD diperkuat dengan keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972. EYD merupakan ejaan yang berlaku pada tahun 1972. Ejaan tersebut merupakan pengganti dari beberapa ejaan yang mendahuluinya, seperti Ejaan Republik dan Soewandi.

Ejaan ini sempat digantikan oleh EBI sejak tahun 2015 hingga edisi kelima dirilis pada Agustus 2022 yang juga merestorasi nama EYD.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

1972[sunting | sunting sumber]

Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh panitia Ejaan Malindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no.062/67, pada tanggal 19 September 1967.

Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu ("Rumi" dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke XXVII, tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaian ejaan baru untuk bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan hasil yang dicapai oleh kerja panitia ejaan bahasa Indonesia yang telah dibentuk pada tahun 1966. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta penyempurnaan daripada Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik yang dipakai sejak bulan Maret 1947.

Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah".

Revisi 1987[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.

Revisi 2009[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.[2]

Revisi 2015[sunting | sunting sumber]

Tahun 2015, Ejaan yang Disempurnakan disebut sebagai Ejaan Bahasa Indonesia.

Revisi 2022[sunting | sunting sumber]

Tahun 2021, Ejaan Bahasa Indonesia digantikan lagi oleh revisi yang disebut Ejaan yang Disempurnakan, sesuai Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 0321/I/BS.00.00/2021, namun setahun kemudian keputusan tersebut dibatalkan oleh Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 yang memuat versi yang kemudian disebut sebagai EYD Edisi V.

Perbedaan dengan ejaan sebelumnya[sunting | sunting sumber]

Perubahan yang terdapat pada Ejaan Baru atau Ejaan LBK (1967), antara lain:

  • "tj" menjadi "c": tjutji → cuci
  • "dj" menjadi "j": djarak → jarak
  • "j" menjadi "y": sajang → sayang
  • "nj" menjadi "ny": njamuk → nyamuk
  • "sj" menjadi "sy": sjarat → syarat
  • "ch" menjadi "kh": achir → akhir

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EYD, antara lain:

  • Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
  • Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya2 pada kata furqan, dan xenon.
  • Awalan "di-" dan kata depan "di" dibedakan penulisannya. Kata depan "di" pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara "di-" pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EYD adalah:

  1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
  2. Penulisan kata.
  3. Penulisan tanda baca.
  4. Penulisan singkatan dan akronim.
  5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
  6. Penulisan unsur serapan.

Sebelumnya "oe" sudah menjadi "u" saat Ejaan Van Ophuijsen diganti dengan Ejaan Republik. Jadi sebelum EYD, "oe" sudah tidak digunakan.

Untuk penjelasan lanjutan tentang penulisan tanda baca, dapat dilihat pada Penulisan tanda baca sesuai EYD

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Dalam penggunaannya pada nama, sering kali masih menggunakan ejaan lama, misalnya Soekarno, yang sudah lebih dulu terkenal, dan terkadang dalam nama modern dicampur dengan ejaan baru, seperti nama belakang Megawati Soekarnoputri (bukan Sukarnoputri maupun Soekarnopoetri).

Dalam penggunaannya di luar Indonesia, beberapa orang dapat memilih untuk mengejanya dengan ejaan asing (bukan Belanda / Ejaan Lama). Misalnya, musisi Stephanie Poetri mengeja nama keduanya (nama tengahnya) mirip kata bahasa Inggris poetry (puisi), alih-alih putri.

Kemiripan dengan bahasa lain[sunting | sunting sumber]

Ejaan EYD beberapa mirip dengan bahasa Inggris, seperti penulisan huruf vokal (a, i, u, e, o) sehingga banyak kata yang diserap secara utuh dari bahasa Inggris seperti solder, pistol, sandal, dll. dan ada juga kata yang serupa tetapi artinya berbeda, seperti kata "Air" dalam bahasa Indonesia memiliki arti cairan sedangkan "Air" dalam bahasa Inggris memiliki arti udara.[butuh rujukan]

Ciri Khusus EYD Dari Tahun Ke Tahun[sunting | sunting sumber]

Menurut, (Yerry, Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia, 1 Februari 2018: 122-124) ada beberapa ciri khusus dari penyempurnaan EYD tahun 1972, 1987, dan 2009 yaitu sebagai berikut:

  • Tahun 1972
  1. Huruf diftong terdapat pada belakang kata saja.
  2. Huruf gabungan konsonan kh, ng, ny, dan sy digolongkan dalam huruf konsonan.
  3. Huruf kapital masih konsisten digunakan.
  4. Yang diatur dalam penulisan hanya dua jenis huruf yaitu huruf miring dan huruf kapital.
  5. Angka yang menyatakan nilai mata uang ditulis dengan spasi.
  6. Tanda petik ada dua macam yaitu, tunggal dan ganda.
  7. Kata ulang biasa ditambahkan dengan angaka (2).
  • Tahun 1988
  1. Huruf kapital yang menunjukan hubungan dengan unsur tuhan terdapat catatan khusus.
  2. Huruf kapital untuk nama orang ditambahkan catatan.
  3. Huruf kapital untuk nama unsur geografi ditambahkan catatan.
  4. Huruf kapital pada nama resmi badan dan dokumen ditambahkan catatan.
  5. Penulisan angka pada nilai uang menggunakan spasi antara lambang dengna angka.
  • Tahun 2009
  1. Oi merupakan huruf diftong yang biasa ditemukan diposisi tengah maupun akhir.
  2. Huruf gabungan konsonan kh, ng, ny, dan sy digolongkan dalam huruf konsonan.
  3. Yang diatur dalam penulisan hanya dua jenis huruf yaitu huruf miring dan huruf kapital.
  4. Penulisan garis miring digunakan dalam pemenggalan naskah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "EYD V". ejaan.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2022-08-22. 
  2. ^ Ejaan bahasa Indonesia

Pranala luar[sunting | sunting sumber]