Bahasa Sunda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Sunda
Basa Sunda
ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ
Tulisan Sunda dalam aksara Sunda Baku
Tulisan Sunda dalam aksara Sunda Baku
Pelafalanbasa sʊnda
Dituturkan diIndonesia serta negara-negara dengan diaspora Sunda
WilayahUtamanya bagian barat Pulau Jawa dan provinsi lainnya di Indonesia
EtnisSunda
Penutur bahasa
42 juta penutur jati  (2016)[1]
Bentuk awal
Bentuk baku
DialekLihat pada artikel Dialek bahasa Sunda[2]
Modern:
   Alfabet Latin (Alfabet bahasa Sunda)
   Aksara Sunda Baku
Historis:
   Aksara Sunda Kuno
Status resmi
Diatur olehLembaga Basa jeung Sastra Sunda
Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat
Kantor Bahasa Banten
Kode bahasa
ISO 639-1su
ISO 639-2sun
ISO 639-3Mencakup:
sun – bahasa Sunda
bac – bahasa Sunda Badui
osn – bahasa Sunda Kuno
Glottologsund1252
Linguasfer31-MFN-a
{{{mapalt}}}
  Wilayah tempat bahasa Sunda adalah bahasa asli dan mayoritas
  Wilayah tempat bahasa Sunda adalah bahasa minoritas
  Komunitas diaspora Sunda yang menuturkan bahasa Sunda secara parsial
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA
Peta persebaran bahasa Sunda.
Seseorang yang berbicara menggunakan bahasa Sunda.

Bahasa Sunda (basa Sunda, aksara Sunda: ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ, Pegon: باسا سوندا) adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini umumnya dituturkan oleh penduduk bersuku Sunda di wilayah bagian barat pulau Jawa. Bahasa Sunda juga dituturkan oleh diaspora Sunda di beberapa wilayah lain di Indonesia dan di luar Indonesia dengan jumlah penutur setidaknya 42 juta orang pada tahun 2016.

Dialek[sunting | sunting sumber]

Peta linguistik (dialek bahasa Sunda: hijau) di Pulau Jawa bagian barat.

Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda mempunyai beberapa ragam. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda.[3] Dialek-dialek ini adalah:

Sejarah dan penyebaran[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda (Pasundan). Bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di sebagian selatan Kabupaten Brebes dan sebagian barat Cilacap, dikarenakan beberapa kecamatan di wilayah ini dahulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh.

Seiring transmigrasi dan imigrasi yang dilakukan etnis Sunda, penutur bahasa ini telah menyebar sampai ke luar pulau Jawa. Misalkan di Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara di mana penduduk etnis Sunda dengan jumlah signifikan menetap di wilayah tersebut.

Fonologi[sunting | sunting sumber]

Terdapat tujuh fonem vokal dalam bahasa Sunda: /a/, /ɛ/ é, /i/, /ɨ/ eu, /ə/ e, /u/ dan /ɔ/ o.[4]

Vokal
Depan Madya Belakang
Tertutup i ɨ u
Tengah ɛ ə ɔ
Terbuka a
Konsonan
Dwi-bibir Gigi Langit2
keras
Langit2
lunak
Celah
suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letup/Gesek p b t d k ɡ ʔ
Desis/Geser s h
Kepak/Hampiran   r l      
Semivokal w j

Sistem penulisan[sunting | sunting sumber]

Aksara Sunda (Kaganga)[sunting | sunting sumber]

Mulanya bahasa Sunda ditulis dengan aksara Sunda. Aksara Sunda merupakan salah satu aksara berumpun Brahmi yang diturunkan dari aksara Pallawa lewat aksara Kawi. Bukti-bukti tertulis mengenai evolusi aksara ini muncul di beberapa prasasti yang ditemukan dari abad ke-10 (era kerajaan Mataram Kuno) hingga abad ke-15 M pada masa keemasan Kerajaan Pajajaran. Prasasti yang diyakini merupakan kunci evolusi aksara Sunda adalah Prasasti Batutulis, Prasasti Astana Gede, dan Prasasti Kebantenan.[5][6]

Dahulu aksara ini dituliskan di permukaan batu. Pada abad ke-15 hingga ke-16, aksara Sunda kuno mulai berevolusi jauh dari aksara Kawi dan mudah dikenali perubahannya. Aksara ini kemudian lebih banyak ditulis di atas daun lontar. Aksara tersebut digunakan dalam penulisan naskah Bujangga Manik, Carita Parahyangan dan Carita Waruga Guru.[7] Naskah ini kelak dijadikan sebagai rujukan bagi pengembangan aksara Sunda yang kemudian, aksara Sunda baku.

Aksara Sunda Kuno memiliki sintaksis penulisan yang lebih kompleks, seperti adanya pasangan (hanya semua huruf pasangannya sama dengan huruf utama), huruf leu dan reu, dan jumlah guratan yang lebih banyak daripada aksara Sunda baku. Aksara Sunda baku mulai diperkenalkan pada dekade 1990-an untuk menggantikan peran Cacarakan. Saat ini, seluruh pembelajaran bahasa Sunda menggunakan aksara Sunda baku dan alfabet Latin.[8]

Alfabet Bahasa Sunda[sunting | sunting sumber]

Kolonialisasi di Nusantara menyebabkan aksara Sunda kuno menjadi terancam. Bersama dengan keluarnya ultimatum dari VOC pada tanggal 3 November 1705, aksara Sunda kuno dan Rikasara Cirebon punah. Setiap orang yang menulis dokumen-dokumen resmi hanya diperbolehkan menulis aksara Jawa yang dimodifikasi, abjad Pegon, dan alfabet Latin untuk menuliskan bahasa Sunda. Alfabet Latin sendiri mulai diintensifkan untuk mentranskripsi karya-karya yang ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno dan Pegon pada abad ke-19 hingga ke-20. Salah satu tokoh yang berjasa dalam transkripsi aksara Cacarakan dan Sunda ke Latin adalah seorang keturunan Bugis-Sunda bernama Daeng Kanduruan Ardiwinata (1866–1947) yang menulis buku berjudul Palanggéran Nuliskeun Aksara Sunda ku Aksara Walanda (terbitan Commissie voor de Volkslectuur tahun 1912) yang berisi aturan transkripsi bahasa Sunda menggunakan alfabet Latin serta Élmuning Basa Sunda (edisi I 1916 dan II 1917) yang berisi peraturan tata bahasa Sunda modern.[9][10][11]

Cacarakan[sunting | sunting sumber]

Cacarakan adalah aksara Jawa termodifikasi yang digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda, dan telah dipakai selama 300 tahun setelah keluarnya ultimatum dari VOC pada tanggal 3 November 1705 yang mewajibkan penggunaan aksara Jawa, abjad Pegon, dan alfabet Latin untuk menuliskan bahasa Sunda. Dengan lahirnya aksara Sunda baku, hanya sebagian kecil daerah di Jawa Barat masih mempertahankan Cacarakan untuk menulis bahasa Sunda.[12][11]

Abjad Pegon Sunda[sunting | sunting sumber]

Selain digunakan untuk menulis bahasa Jawa, abjad Pegon yang bersaudara dengan abjad Jawi (Arab-Melayu) juga digunakan untuk menulis bahasa Sunda, menggunakan huruf-huruf Arab standar dan huruf-huruf rekaan baru yang tidak ada dalam huruf Arab asli. Huruf-huruf itu juga tidak bisa dipahami oleh orang Arab jika mereka tak menguasai bahasa Sunda dengan huruf tersebut. Hadir bersamaan dengan Islam di Tatar Sunda, abjad Pegon menjadi materi yang masih diajarkan di sebagian kecil pesantren di wilayah barat pulau Jawa tempat bahasa Sunda berasal.[13][14][15]

Aksara Lain[sunting | sunting sumber]

Selain itu, ada beberapa aksara lain yang sempat digunakan dalam menuliskan bahasa Sunda terutama bahasa Sunda Kuno, contohnya adalah aksara Buda dan aksara Kawi, penggunaannya sempat tercatat dalam prasasti dan naskah-naskah kuno.

Tingkat tutur[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sunda mempunyai tingkat tutur yang mencakup aturan penggunaan ragam bahasa yang didasarkan kepada tingkat keakraban antara pembicara dan lawan bicara. Dalam bahasa Sunda, tingkat tutur seperti ini dikenal sebagai undak-usuk atau sekarang lebih dikenali sebagai tatakrama basa. Berdasarkan ragam bahasanya, dapat dibedakan menjadi hormat, loma, dan cohag. Sementara kosakata yang digunakan bisa dibedakan menjadi lemes pisan, lemes, sedeng, panengah, loma dan cohag.


Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Mempertahankan Eksistensi Bahasa Sunda | Pikiran Rakyat". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-09-27. Diakses tanggal 2017-06-27. 
  2. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2021). "Sundanese-Badui". Glottolog 4.5. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  3. ^ Misalkan Wurm dan Shirô Hattori dalam Language Atlas of Asia-Pacific (1983).
  4. ^ Müller-Gotama, Franz (2001). Sundanese. Languages of the World. Materials. 369. Munich: LINCOM Europa. 
  5. ^ Hartono, Dibyo,. Architectural conservation award Bandung = Penghargaan konservasi bangunan cagar budaya. Bandung, West Java, Indonesia. ISBN 978-979-692-541-4. OCLC 897825910. 
  6. ^ Danasasmita, M. (2001). Wacana bahasa dan sastra Sunda lama. Bandung: STSI Press. 
  7. ^ Ensiklopedi Sunda : alam, manusia, dan budaya, termasuk budaya Cirebon dan Betawi. Rosidi, Ajip, 1938-, Pustaka Jaya (Firm) (edisi ke-Cet. 1). [Jakarta]: Pustaka Jaya. 2000. ISBN 979-419-259-7. OCLC 45463431. 
  8. ^ Hasanah, A.; Gustini, N.; Rohaniawati, D. (2016). Nilai-Nilai Karakter Sunda. Yogyakarta: Deepublish. ISBN 9786024532574. 
  9. ^ Kartini, T. (1979). Daeng Kanduruan Ardiwinata, sastrawan Sunda. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  10. ^ Kridalaksana, Harimurti. (2008). Kamus linguistik (edisi ke-Ed. 4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-22-3570-8. OCLC 271724799. 
  11. ^ a b Sisi senyap politik bising. Budi Susanto, A., 1952-. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2007. ISBN 9789792116588. OCLC 262737609. 
  12. ^ Rosyadi (1997). Pelestarian dan usaha pengembangan aksara daerah Sunda. Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia. 
  13. ^ "BUDAYA – Mengenal Aksara Arab Pegon: Simbol Perlawanan dan Pemersatu Ulama Nusantara". Diakses tanggal 2019-09-05. 
  14. ^ "Huruf Pegon, Sarana Kreativitas Umat Islam di Jawa Masa Lalu". Poskota News (dalam bahasa Inggris). 2016-07-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-09-05. Diakses tanggal 2019-09-05. 
  15. ^ Sastra Jawa : suatu tinjauan umum. Sedyawati, Edi, 1938- (edisi ke-Cet. 1). Jakarta: Pusat Bahasa. 2001. ISBN 979-666-652-9. OCLC 48399092. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]