Bahasa Ekari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bahasa Ekari
Ekagi, Kapauku, Mee
Dituturkan diIndonesia
WilayahPapua
EtnisSuku Ekari
Penutur bahasa
tak diketahui (100.000; versi 1987)[1]
Kode bahasa
ISO 639-3ekg
Glottologekar1243[2]
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.

Bahasa Ekari (juga disebut sebagai bahasa Ekagi, Kapauku, atau Mee) merupakan sebuah bahasa Trans–Nugini yang dituturkan di bagian barat wilayah pegunungan Provinsi Papua, terutama di Kabupaten Paniai. Penuturnya berjumlah sekitar 100.000 orang.[1]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Bahasa Ekari termasuk ke dalam rumpun bahasa Danau Paniai yang dipertuturkan di wilayah sekitaran tiga danau besar: Paniai, Tage dan Tigi, yang secara kolektif juga disebut sebagai Wissel Lakes (Danau-Danau Wissel) dalam beberapa literatur berbahasa Inggris.[1][3][4] Rumpun bahasa Danau Paniai merupakan satu di antara beberapa subkelompok yang status keanggotaanya pada rumpun bahasa Trans–Nugini (TNG) dianggap relatif kuat.[5] Subkelompok Danau Paniai secara umum dianggap berkerabat erat dengan beberapa subkelompok TNG lainnya yang dipertuturkan di bagian barat Papua, terutama rumpun bahasa Dani. Menurut William Foley, dua subkelompok ini membentuk rumpun bahasa Papua Pegunungan Barat,[4] sementara Malcolm Ross mengusulkan bahwa keduanya merupakan bagian dari linkage[a] lebih besar dengan nama "Trans–Nugini Barat" yang juga mencakup, antara lain, bahasa-bahasa Bomberai Barat dan Timor–Alor–Pantar.[3][6]

Demografi dan persebaran[sunting | sunting sumber]

Bahasa Ekari dipertuturkan oleh sekitar 100.000 orang di wilayah barat pegunungan Provinsi Papua, terutama di Kabupaten Paniai. Wilayah penutur bahasa Ekari merupakan daerah dengan banyak gunung dan lembah, yang hampir seluruhnya berada di ketinggian lebih dari 1500 meter di atas permukaan laut.[1]

Fonologi[sunting | sunting sumber]

Terdapat 15 fonem segmental dalam bahasa Ekari, dengan rincian 10 fonem konsonan dan 5 fonem vokal.[7]

1. Konsonan[7]
Bibir Alveolar Palatal Velar
Nasal m n
Letup nirsuara p t k
bersuara b d ɡ [ɡˡ]
Aproksiman w j

Fonem /ɡ/ diucapkan secara lateral sebagai [ɡˡ]. Jika fonem /k/ dan /ɡ/ didahului oleh bunyi vokal belakang, keduanya akan diucapkan dengan labialisasi, seperti dalam kata okei [okʷei] 'mereka' dan euga [euɡˡʷa] 'lebih'. Fonem /j/ memiliki alofon [ʝ] jika diucapkan sebelum /i/, semisal dalam kata yina [ʝina] 'serangga'.[7]

2. Vokal[7]
Depan Madya Belakang
Tertutup i u
1/2 terbuka e [ɛ] o
Terbuka a
Diftong ei   ai   eu   au   ou

Bahasa Ekari membedakan antara vokal panjang dan pendek; perbedaan panjang vokal dapat mengubah arti, semisal dalam kata iye 'daun' vs. iyee 'kelakuan', ena 'satu' vs. enaa 'baik', dan miyo 'bawah' vs. miyoo 'kecil'. Marion Doble menganalisis vokal panjang dalam bahasa Ekari sebagai geminasi vokal yang terdiri dari dua mora seperti dalam diftong. Ada dua aksen nada (pitch-accent) berbeda dalam bahasa Ekari, yaitu nada netral dan tinggi. Nada netral mencakup nada menengah dan rendah yang penggunaannya dapat diprediksi tergantung posisinya dalam sebuah kata. Nada tinggi yang persebarannya lebih terbatas berkontras dengan nada netral, seperti dalam kata ii 'ya' vs. íí 'pasir' dan iyee 'kelakuan' vs. iyéé 'sembilan'.[7][8]

Tata bahasa[sunting | sunting sumber]

Sintaksis[sunting | sunting sumber]

Dalam kalimat transitif independen, struktur yang paling sering digunakan adalah subjek–objek–predikat (SOP), seperti dalam contoh berikut:[9]

Meido kodo nota noogai
orang-orang p ubi jalar makan
'Orang-orang itu makan ubi jalar'

Struktur OSP juga dapat digunakan untuk memberi penekanan pada objek. Susunan ini lebih umum ditemui pada kalimat dependen.[9]

Nota kodo okei noogai
ubi jalar p mereka makan
'Ubi jalar itu mereka makan'

Kata benda[sunting | sunting sumber]

Nomina dalam bahasa Ekari terdiri dari empat jenis: (1) nomina dasar, (2) nomina yang terikat bentuk posesif, (3) nomina yang diturunkan dari kata dasar dengan cara yang tidak reguler, serta (4) nomina yang dibentuk dari gabungan nomina lainnya. Contoh bagi jenis nomor (3) adalah kata makiyo 'desa, negara' yang diturunkan dari kata maki 'tanah', ayeyoka 'bayi' dari yoka 'anak', dan iyee piyee 'adat-istiadat' dari iyee 'kelakuan'. Untuk nomor (4), contohnya adalah kata ebepeka 'wajah' dari gabungan kata ebe 'mulut' + peka 'mata' dan kapogeiye 'kertas' dari kapoge 'lembaran' + iye 'daun.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sebuah linkage adalah "sekelompok bahasa yang terbentuk melalui proses diversifikasi bertahap dari sebuah (atau sebagian dari) rangkaian dialek purba alih-alih protobahasa yang berdiri sendiri." Tidak seperti subkelompok dengan satu set inovasi bersama yang dapat ditemukan pada seluruh bahasa turunan, persebaran inovasi dalam sebuah linkage tumpang tindih dan tidak merata.[6]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Doble 1987, hlm. 55.
  2. ^ Nordhoff, Sebastian; Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2013). "Ekari". Glottolog. Leipzig: Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology. 
  3. ^ a b Ross 2005, hlm. 22–23, 35.
  4. ^ a b Foley 2000, hlm. 363.
  5. ^ Pawley & Hammarström 2018, hlm. 31.
  6. ^ a b Ross 2005, hlm. 36.
  7. ^ a b c d e Doble 1987, hlm. 58.
  8. ^ Doble 1987, hlm. 59.
  9. ^ a b Doble 1987, hlm. 56.
  10. ^ Doble 1987, hlm. 62.

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • Doble, Marion (1987). "A Description of Some Features of Ekari Language Structure". Oceanic Linguistics. 26 (1/2): 55–113. JSTOR 3623166. 
  • Foley, William A. (2000). "The Languages of New Guinea". Annual Review of Anthropology. 29: 357–404. JSTOR 22342. 
  • Pawley, Andrew; Hammarström, Harald (2018). "The Trans New Guinea family". Dalam Bill Palmer. The Languages and Linguistics of the New Guinea Area: A Comprehensive Guide. The World of Linguistics. 4. Berlin: De Gruyter Mouton. hlm. 21–196. ISBN 9783110286427. 
  • Ross, Malcolm (2005). "Pronouns as a preliminary diagnostic for grouping Papuan languages". Dalam Andrew Pawley; Robert Attenborough; Robin Hide; Jack Golson. Papuan pasts: cultural, linguistic and biological histories of Papuan-speaking peoples. Pacific Linguistics. 572. Canberra: Pacific Linguistics. hlm. 15–66. ISBN 0858835622. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]