Bahasa Lamma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lamma
Dituturkan diIndonesia
WilayahNusa Tenggara Timur
Penutur bahasa
10,300  (2014)[1]
Dialek
Lamma
Mauta
Tubbe
Kode bahasa
ISO 639-3lev
Glottologlamm1241[2]
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.

Bahasa Lamma adalah salah satu dari tiga belas bahasa yang berasal dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat di Pantai Timur yang meliputi Desa Kalondama, Desa Tude dan Desa Mauta. Di sana terdapat beberapa kelompok masyarakat, mulai dari Boloang, Latuna dan Mogon Ba'a di Desa Kalundama; Lau Uki, Pontaru dan Air Panas di Desa Tude serta Kapas, Kampung Baru dan Koliabang di Desa Mauta. Jumlah penuturnya mencapai sekitar 10.000 orang.[3]

Berdasarkan penelitian pada prefiks posesif, Capell (1994) awalnya beranggapan bahwa bahasa-bahasa Timor-Alor-Pantar berkaitan dengan bahasa-bahasa Papua Barat yang ada di Maluku Utara dan ujung Nugini.[4] Namun dugaan ini kemudian dibantah oleh Wurm et al. (1975) yang kemudian mengelompokkan bahasa ini sebagai anggota dari keluarga rumpun bahasa Trans-Nugini.[5]

Dialek[sunting | sunting sumber]

Bahasa Lamma memiliki 3 dialek utama. Pertama adalah dialek Tubbe yang dituturkan di Puntaru dan Air Panas. Dialek kedua adalah Mauta yang dituturkan di Kakamauta, Alimakke, Lauki, Kapas, Kolihabbang dan Alikallang. Terakhir adalah dialek Lamma yang dituturkan di Kalondama dan Latuna. Berikut adalah contoh perbedaan dialek satu sama lain:[6]

Tubbe Mauta Lamma Arti
bis bis salepi ‘tukar’
haweri haweri bana ‘banyak’
kalla kalla kisang ‘kecil’
karani karani sinnal Canarium sp.’
sai hoba hobi ‘gemetar’

Fonologi[sunting | sunting sumber]

Vokal[sunting | sunting sumber]

Bahasa Lamma memiliki 5 buah huruf vokal, yakni /a/, /i/, /u/, /e/ dan /o/. Berikut adalah contohnya:[3]

Vokal Contoh kata Arti
/a/ kolema

rapa

ubi jalar

kandang

/i/ iang

haiya

bakar

hujan

/u/ sulla

ummu

berat

kulum

/e/ ena

peda

hitam

parang

/o/ ora

arroga

besar

merah

Konsonan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Lamma memiliki 31 buah konsonan yang terdiri dari 15 konsonan pendek, 2 konsonan semi vokal, 10 konsonan panjang dan 4 gugus konsonan rangkap.[3]

Jenis-jenis Konsonan Contoh
Konsonan pendek /p/, /b/, /k/, /m/, /n/, /d/, /l/, /r/, /s/, /h/, /g/, /n/, /?/ dan /j/
Semivokal /w/ dan /y/
Konsonan panjang /l:/, /m:/, /n/, /k:/, /g:/, /d:/, /p:/, /t:/, /s:/, dan /b:/
Gugus konsonan /gr/, /kl/, /br/ dan /tr/

Konsonan dalam Bahasa Lamma memiliki aturan penempatannya masing-masing. Misalnya, konsonan /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /?/, /j/, /w/, /y/, /m/ dan /n/ tidak bisa digunakan pada akhir kata, melainkan bisa digunakan pada awal dan tengah kata. Konsonan panjang terdapat hanya terdapat pada tengah kata sementara konsonan rangkap hanya terdapat pada awal kata. Dari semua konsonan, hanya konsonan /s/, /l/ dan /r/ saja yang dapat menempati semua posisi.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The Alor-Pantar languages:". 
  2. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Lamma (Pantar Barat)". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  3. ^ a b c d Nitbani, Samuel H.; Jeladu Kosmas dkk. (2001). Struktur Bahasa Lamma (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 6–26. ISBN 978-9796851911. 
  4. ^ Capell, A. 1944. Peoples and languages of Timor. Oceania 14(3).191-219.
  5. ^ Wurm, S.A., C.L. Voorhoeve & K.A. McElhanon. 1975. The Trans–New Guinea Phylum in general. New Guinea Area Languages and Language Study, vol. I, Papuan Languages and the New Guinea Linguistic Scene, ed. by S.A. Wurm, 299-322. (Pacific Linguistics C-38). Canberra: Australian National University.
  6. ^ Holton, Gary (2014). "Western Pantar". Dalam Schapper, Antoinette. The Papuan Languages of Timor, Alor and Pantar: Volume 1: Sketch Grammars. Walter de Gruyter. hlm. 23–96. 

Bacaan[sunting | sunting sumber]

  • Grimes, Charles E., Tom Therik, Barbara Dix Grimes & Max Jacob. 1997. A guide to the people and languages of Nusa Tenggara. (Paradigma series B 1). Kupang, Indonesia: Universitas Kristen Artha Wacana and Alfa Omega Foundation.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]