Alfabet Fonetis Internasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Alfabet Fonetis Internasional
International Phonetic Alphabet
IPA-en dan IPA-id.png
pelafalan "IPA" dalam Received Pronounciation ditulis dengan IPA ([aɪ pʰiː eɪ]) dan dalam bahasa Indonesia ditulis dengan [iː pε a] atau [i pε a]
Jenis aksara
Alfabet Featural sebagian
BahasaDigunakan untuk transkripsi fonetik dan fonemik bahasa apa pun
Periode
1888 (133 tahun yang lalu)
Silsilah
Arah penulisanKiri ke kanan
ISO 15924Latn, 215
Nama Unicode
Latin


Alfabet Fonetis Internasional (Inggris: International Phonetic Alphabet) atau disingkat IPA adalah sistem alfabet yang diterima dan dipakai secara luas sebagai medium rekam fonetik suara bahasa oral. Tidak seperti metode transkripsi lain yang umumnya terbatas pada rumpun bahasa tertentu, IPA mewakili keseluruhan fonem yang dengannya semua bahasa manusia dapat ditranskripsikan dalam bentuk tertulis dan dapat dimengerti dan diartikulasikan ulang. Sistem notasi ini dirancang dan dikembangkan oleh Perhimpunan Fonetis Internasional pada akhir abad ke-19 sebagai medium representasi baku penuangan bunyi bahasa ke dalam bentuk tertulis.[1] IPA adalah instrumen yang sering digunakan oleh leksikograf, pelajar dan pengajar bahasa asing, ahli bahasa, patolog yang berkenaan dengan bahasa, musikus, aktor, penerjemah, dan pencipta bahasa buatan.

Simbol IPA umumnya terdiri atas satu atau dua unsur, huruf dan diakritik yang umunya menyertai. Huruf IPA mengadopsi dan terinspirasi oleh Alfabet Latin. Diakritik dipakai untuk menjelaskan pembeda rinci antarfonem, misalnya seperti adisi bunyi sengau pada vokal, panjang bunyi, penekanan, dan nada.

Dari waktu ke waktu, terdapat perubahan set simbol pada IPA. Hingga 2005, terdapat total 107 huruf segmental, huruf untuk mewakili prosodi yang tak terhitung jumlahnya, 44 jenis diakritik, dan 4 simbol ekstraleksikal dalam set IPA.[2]

Pemetaan simbol dengan suara[sunting | sunting sumber]

Simbol-simbol IPA mengadopsi Alfabet Latin dan Alfabet Yunani, sebagian di antaranya diubah sedikit. Setiap simbol mengacu kepada suatu bunyi spesifik yang membedakan sebuah fonem di dalam sebuah bahasa dengan kata lainnya. Asas IPA adalah untuk mewakili tiap masing-masing bunyi distingtif (atau segmen) dengan satu simbol. Dengan demikian, IPA memiliki asas berikut:

  1. Umumnya tidak menggunakan simbol lebih dari satu untuk mewakili satu bunyi. Misalnya, dalam Bahasa Indonesia, bunyi yang diwakili oleh digraf ⟨ng⟩ atau ⟨kh⟩ dalam IPA dapat ditulis dengan /ŋ/ dan /x/. Multigraf dalam IPA dipakai jika bunyi yang dideskripsikan diartikulasikan bersamaan yang dinamakan afrikat.
  2. Tidak terdapat simbol yang memiliki bunyi kontekstual, seperti dalam beberapa ortografi bahasa-bahasa Eropa yang membedakan ⟨c⟩ keras (konsonan letup langit-langit belakang nirsuara) dan ⟨c⟩ lembut (yang dapat mewakili konsonan desis atau konsonan koartikulat). Dapat dilihat satu simbol dapat mewakili berbagai bunyi, IPA tidak memiliki asas demikian.
  3. IPA umumnya tidak mewakilkan simbol terpisah jika tidak terdapat bahasa yang membedakannya. Misalnya, konsonan kepak dan sentuhan adalah dua konsonan yang secara artikulatif berbeda. Namun, karena belum ada bahasa yang secara distingtif membedakan keduanya, IPA tidak menyediakan simbol yang berbeda untuk keduanya. Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam lingkup sempit IPA dapat dikatakan alfabet fonemis dan tdak sepenuhnya fonetis. Namun, bila terdapat bunyi yang secara fonemis mirip namun tetap dibedakan dalam bahasa tersebut, diakritik akan digunakan.

Rupa simbol[sunting | sunting sumber]

Rupa simbol yang dipilih secara eklektik dalam IPA didesain untuk selaras dengan rupa Alfabet Latin. Oleh karena itu, rupa karakter yang diderivasi dari huruf non-Latin dimodifikasi sedemikian rupa untuk selaras dengan yang lain. Misalnya bunyi konsonan desis langit-langit belakang bersuara diwakilkan dengan simbol gamma ⟨ɣ⟩ yang dimodifikasi dari simbol Alfabet Yunani ⟨γ⟩.

Beberapa simbol adalah turunan dari huruf yang sudah ada.

  1. Ekor yang meliuk ke kanan pada ⟨ɖ ɳ ʂ⟩, yang menandakan konsonan tarik-belakang, diderivasi dari bentuk kail pada huruf ⟨r⟩.
  2. Kail yang mengarah ke atas pada ⟨ɠ ɗ ɓ⟩ yang menandakan konsonan implosi.
  3. Beberapa konsonan sengau yang diderivasi dari simbol ⟨n⟩: ⟨n ɲ ɳ ŋ⟩ dengan ⟨ɲ⟩ and ⟨ŋ⟩ adalah ligatura gn dan ng dan ⟨ɱ⟩ adalah simbol ad hoc dari ⟨ŋ⟩.
  4. Terdapat simbol yang diderivasi dari huruf yang dibalikkan 180°, seperti 〈ɐ ɔ ə ɟ ɓ ɥ ɾ ɯ ɹ ʇ ʊ ʌ ʍ ʎ〉 yang diadopsi dari 〈a c e f ɡ h ᴊ m r t Ω v w y〉. Alasan di balik ini merujuk pada masa media cetak masih menggunakan set cap huruf untuk memotong biaya dengan membalikkan cap huruf yang sudah ada.

Rupa alfabet dan bunyi[sunting | sunting sumber]

IPA, berdasar pada Alfabet Latin, sangat meminimalisasi adopsi simbol non-Latin. Kebanyakan simbol untuk konsonan mewakili nilai bunyi yang kebanyakan bahasa punya. Misalnya simbol ⟨b d f g h k l m n p s t v w z⟩ mewakili bunyi seperti dalam ortografi Bahasa Inggris; huruf vokal ⟨a e i o u⟩ mewakili bunyi vokal seperti pada ortografi Bahasa Latin. Pada ortografi Bahasa Indonesia alfabet yang memiliki bunyi selaras dengan simbol IPA misalnya ⟨a b d f g h k l m n o p r s t u w z⟩.

Set huruf yang ada kemudian dikembangkan dengan huruf kapital, diakritik, dan modifikasi lain dengan membalikkan huruf 180°. IPA juga mengadopsi beberapa Huruf Yunani seperti ⟨β γ ε ɸ χ⟩, tetapi bunyi yang diwakilkan tak tentu sama seperti pada fonologi Bahasa Yunani.

Huruf IPA[sunting | sunting sumber]

Simbol yang digunakan pada IPA dibagi menjadi tiga kategori: konsonan tekanan paru-paru, konsonan non-paru-paru, dan vokal.

Konsonan[sunting | sunting sumber]

Konsonan tekanan paru-paru[sunting | sunting sumber]

Set simbol untuk konsonan tekanan paru-paru mewakili set konsonan yang disebabkan oleh hambatan aliran udara dari paru-paru oleh glotis atau organ lain yang ada di bagian mulut. Set konsonan tekanan paru-paru mencakup sebagian besar dari keseluruhan IPA. Hampir semua konsonan yang ada dalam Bahasa Indonesia termasuk dalam set ini.

Dalam carta tabel konsonan tekanan paru-paru, yang memuat kebanyakan daripada konsonan, disusun sebagai baris yang memuat cara artikulasi, yang berarti bagaimana konsonan dihasilkan, dan kolom yang menandakan daerah artikulasi, yang menandakan dimana letak artikulator konsonan yang menghasilkan konsonan tersebut.

Daerah Bibir Lidah tengah akar lidah Laring
Sengau m ɱ n ɳ̊ ɳ ɲ̟ ɲ̊ ɲ ŋ̊ ŋ ɴ
Henti/letup p b t d ʈ ɖ c ɟ k ɡ q ɢ ʡ ʔ
Geser sibilan s z ʃ ʒ ʂ ʐ ɕ ʑ
Geser non-sibilan ɸ β f v θ̼ ð̼ θ ð θ̱ ð̠ ɹ̠̊˔ ɹ̠˔ ɻ˔ ç ʝ x ɣ χ ʁ ʜ ʢ ħ ʕ h ɦ
Aproksiman ʋ ɹ ɹ ɻ j ɰ ʔ̞
Getar ʙ̥ ʙ r ɽ̊r̥ ɽ͡r ʀ̥ ʀ ʜ ʢ
Kepak ⱱ̟ ɾ̼ ɾ̥ ɾ ɽ̊ ɽ ɢ̆ ʡ̆
Geser sisi ɬ ɮ ɭ̊˔ ɭ˔ ʎ̝̊ ʎ̝ ʟ̝̊ ʟ̝
Hampir sisi l ɭ ʎ ʟ ʟ̠
Kepak sisi ɺ̥ ɺ ɭ̥̆ ɭ̆ ʎ̯ ʟ̆

Catatan

  • Dalam baris dimana beberapa huruf muncul sebagai pasangan (konsonan hambat), huruf yang terletak disebelah kanan melambangkan konsonan bersuara (kecuali [ɦ])[3], dan huruf disebelah kiri melambangkan konsonan nirsuara.
  • Karena IPA hanya menyediakan satu huruf per artikulasi dari konsonan lidah / koronal (kecuali konsonan (geser) frikatif), huruf ini biasanya tidak digunakan sebagaimana mestinya. Saat berhadapan dengan beberapa bahasa, huruf dapat ditambah dengan sebuah diakritik, misal konsonan dental, konsonan rongga-gigi, ataupun konsonan paska rongga-gigi, agar sesuai dengan pengucapan bahasa tersebut.
  • Area yang digelapkan menunjukan konsonan yang mustahil untuk diucapkan.
  • huruf [ʁ, ʕ, ʢ] dapat merepesentasikan geser bersuara maupun aproksiman.
  • Dalam beberapa bahasa, [h] dan [ɦ] tidak benar benar diletakan di kerongkongan, frikarif maupun aproksiman. Melainkan hanya berupa konsonan samar atau bahkan semu dalam beberapa fonem.[4]
  • Dalam konsonan [ʃ ʒ], [ɕ ʑ], dan [ʂ ʐ], yang menjadi artikuloris konsonan lebih ke bentuk lidah, daripada posisinya.
  • [ʜ, ʢ] didefinisikan sebagai konsonan hulu kerongkongan geser dalam bagian "simbol lain" di carta IPA resmi, namun simbol ini juga dapat dianggap sebagai konsonan getar ditempat artikuloris yang sama dengan [ħ, ʕ] dikarenakan karena lipatan arepiglotis biasanya semi terjadi.[5]
  • Beberapa konsonan yang tertera tidak dapat ditemukan di fonem bahasa manapun.

Konsonan non paru-paru[sunting | sunting sumber]

Konsonan non paru-paru adalah sebuah konsonan yang aliran udaranya tidak bergantung pada paru paru. Konsonan ini dapat ditemui dalam bentuk decakan (klik) (yang ditemukan di beberapa bahasa Khoisan, and tetangga bahasa Bantu di Afrika), letupan balik (implosif) (yang dapat ditemui di bahasa Sindhi, Hausa, Swahili and Vietnam), dan semburan (ejektif) (yang ditemui di bahasa Amerindian dan Kaukasus). Bahasa Indonesia memiliki konsonan sembur, yakni ɓ yang merupakan b dalam bahan.

Sembur Hentian ʈʼ ʡʼ
Geser t̪θʼ tsʼ t̠ʃʼ ʈʂʼ kxʼ qχʼ
Desis ɸʼ θʼ ʃʼ ʂʼ ɕʼ χʼ
Geser sisi tɬʼ cʎ̝̊ʼ kʟ̝̊ʼ
Desis sisi ɬʼ
Decak
(atas: Langbel.
bawah: tekak)
Halus


k‼
q‼

Bersuara ɡʘ
ɢʘ
ɡǀ
ɢǀ
ɡǃ
ɢǃ
ɡ‼
ɢ‼
ɡǂ
ɢǂ
Sengau ŋʘ
ɴʘ
ŋǀ
ɴǀ
ŋǃ
ɴǃ
ŋ‼
ɴ‼
ŋǂ
ɴǂ
ʞ
 
Sisian halus
Sisian bersuara ɡǁ
ɢǁ
Sisian sengau ŋǁ
ɴǁ
Letup balik Bersuara ɓ ɗ ʄ ɠ ʛ
Tidak bersuara ɓ̥ ɗ̥ ᶑ̊ ʄ̊ ɠ̊ ʛ̥

Catatan

  • Konsonan decak secara tradisional mengandung daerah artikulasi depan, biasanya disebut sebagai 'tipe' decak, atau secara historis disebut sebagai 'infulks', dan digabungkan dengan artikulasi kedua yang menjadikam konsonan decak digabungkan dengan penyuaraan, aspirasi, sengauan, gesekan, semburan, waktu sela, dan sebagainya yang disebut sebagai 'pendamping' decak atau 'efluks'. Huruf decak IPA yang digunakan untuk mengetahui tipe decak adalah konsonan decak itu sendiri (artikulasi depan dan pelepasan konsonan). Semua huruf decak hanya memerlukan setidaknya dua huruf untuk notasi yang sesuai k͡ǂ, ɡ͡ǂ, ŋ͡ǂ, q͡ǂ, ɢ͡ǂ, ɴ͡ǂ dsb., atau dengan urutan terbalik jika pembalikan konsonan mungkin untuk diucapkan. Huruf untuk mengasumsikan artikulasi kedua yang sering dijumpai sebagai transkripsi adalah k. Namun, beberapa ahli membedakan decakan dengan konsonan artikulasi ganda, karena konsonan kedua adalah bagian dari aliran udara.[6] Dalam transkripsi lain, huruf decak dapat mempresentasikan dua kriteria secara bersamaan, dengan menggunakan huruf konsonan decak dan diakritik, contoh: ǂ, ǂ̬, ǂ̃ dsb.
  • Huruf untuk konsonan letup-balik nirsuara ƥ, ƭ, ƈ, ƙ, ʠ tidak lagi dipertahankan oleh IPA, namun masih dapat ditemui di Unicode. Transkripsi pengganti untuk ini biasanya menggunakan diakritik nirsuara, contoh: ɓ̥, ʛ̥, dsb..
  • Huruf untuk konsonan letup-balik rongga-gigi bersuara, , tidak benar-benar diakui oleh IPA (Handbook, p. 166).
  • Diakritik sembur diletakan di bagian kanan konsonan, contoh : t͜ʃʼ, kʷʼ. Dalam transkripsi tak tetap, konsonan ini dapat dilambangkan dengan superskrip konsonan kerongkongan, namun sonoran tekanan paru-paru, seperti [mˀ], [lˀ], [wˀ], [aˀ] dapat ditraskripsikan dengan diakritik "deritan" [m̰], [l̰], [w̰], [a̰]).

Konsonan gesek[sunting | sunting sumber]

Konsonan gesek letup atau hentian afrikat dan konsonan letup artikulasi ganda dipresentasikan sebagai dua huruf dengan diakritik tie bar, entah diatas huruf maupun dibawahnya.[7] Konsonan gesek secara opsional juga dapat dilambangkan menggunakan ligatur walaupun tidak lagi resmi,[8] karena akan terjadi penambahan ligatur yang sangat besar, jika semua konsonan gesek dilambangkan dengan cara ini.

ligatur tie bar
ʣ d͡z
ʤ d͡ʒ
 – k͡p
ʦ t͡s
ʧ t͡ʃ
dsb.

Alternatif lainnya adalah notasi superskrip untuk pelepasan konsonan biasanya digunakan untuk melambangkan konsonan gesek, contoh untuk t͡s, ~ k͡x. Konsknan untuk letup langit-langit, yaitu c dan ɟ juga terkadang mirip dengan suara t͡ʃ dan d͡ʒ, dalam publikasi resmi IPA, konsonan ini diinterpretasikan secara hati-hati.

Daerah Bibir Lidah tengah akar lidah Laring
Konsonan tekanan paru-paru
Gesek sibilan t̪s̪ d̪z̪ ts dz t̠ʃ d̠ʒ ʈʂ ɖʐ
Gesek non-sibilan p̪f b̪v t̪θ d̪ð tɹ̝̊ dɹ̝ t̠ɹ̠̊˔ d̠ɹ̠˔ ɟʝ kx ɢʁ ʡʢ ʔh
Gesek sisi ʈɭ̊˔ ɖɭ˔ cʎ̝̊ ɟʎ̝ kʟ̝̊ gʟ̝
Konsonan sembur
Tengah t̪θʼ tsʼ t̠ʃʼ ʈʂʼ kxʼ qχʼ
Sisi tɬʼ cʎ̝̊ʼ kʟ̝̊ʼ

Konsonan ko-artikulasi[sunting | sunting sumber]

Konsonan ko-artikulasi adalah konsonan yang memiliki dua tempat artikulasi yang dibunyikan secara bersama-sama. Dalam bahasa Indonesia, [w] didalam "wajan", adalah sebuah konsonan ko-artikulasi, diucapkan dengan membulatkan bibir dan menaikkan lidah belakang. [ʍ] dan [ɥ] merupakan suara yang mirip. Dalam beberapa bahasa, konsonan letup dapat ditemui sebagai konsonan artikulasi ganda.

Simbol-simbol di sebelah kanan adalah bersuara, di sebelah kiri adalah tidak bersuara atau nirsuara.

Catatan

  • [ɧ], yang merupakan transkripsi dari Suara sj bahasa Swedia, dideskripsikan oleh IPA sebagai penggabungan [ʃ] dan [x] yang diucapkan secara hampir bersamaan. Namun, terkadang tidak ada bahasa yang benar-benar memiliki konsonan ini.[9]
  • Tie bar ganda maupun lebih dapat digunakan, sebagi contoh: a͡b͡c atau a͜b͜c. Contoh langsungnya, jika letup prasengau yang di transkripsikan sebagai m͡b, dan di artikulasikan dengan artikuloris letup ganda ɡ͡b, maka pranasal artikulasi letup ganda akan menjadi ŋ͡m͡ɡ͡b
  • Jika diakritik perlu diletakkan dibawah maupun diatas tiebar, maka diperlukan penggabungan grafis (U+034F), seperti 'mengunyah' dalam bahasa Margi [b͜͏̰də̀bdɷ̀].

Vokal[sunting | sunting sumber]

Posisi lidah di vokal kardinal depan, sebavai posisi tertinggi yang pernah digunakan untuk menentukan ketinggian vokal dan kebelakangan vokal
Foto sinar-X yang menunjukkan posisu lidah pada [i, u, a, ɑ].

IPA mendefinisikan vokal sebagai suara yang terjadi di pusat silabis.[10] Dibawah ini adalah bagan yang menunjukkan posisi vokal yang dipetakan oleh IPA untuk menunjukkan posisi lidah.

Depan Madya Belakang
Tertutup
Hmpr. tutup
1/2 tutup
Tengah
1/2 buka
Hmpr. buka
Terbuka

Sumbu vertikal dari bagan menunjukkan ketinggian vokal. Lidah akan lebih diturunkan di bagan lebih bawah, dan sebaliknya, akan naik di bagan lebih atas. Contohnya, [ɛ] (vokal dalam kata enak [ɛnaʔ]) terletak diantara vokal tengah dan vokal terbuka, karena posisi lidah berada ditengah-tengah vokal tengah dan vokal terbuka, atau dapat disebut sebagai vokal setengah terbuka. [i] (vokal dalam kata gigit [gigit]) terletak dibagian atas karena suara tersebut diucapkan dengan menaikkan lidah sampai ke langit-langit mulut.

Sementara, sumbu horizontal dari bagan menunjukkan kebelakangan vokal. Vokal yang memiliki cara artikulasi dengan meletakkan lidah lebih kedepan (seperti [a], vokal kedua dalam "keras" [kəras]) diletakkan lebih ke kiri dan vokal yang diletakkan dibelakang seperti [ɔ], suara yang sering ditemukan di bahasa Jawa contohnya "jawa" [jɔwɔ]) lebih diletakkan dikanan.

Vokal dipasangkan dengan huruf sebelah kanan menunjukkan vokal bulat dan sebelah kanan menunjukkan vokal takbulat.

Diakritik dan notasi prosodik[sunting | sunting sumber]

Diakritik digunakan untuk melambangkan detail fonem. Diakritik ditambajkan dalam huruf IPA untuk mengindikasikan modifikasi atau spesifikasi lebih dalam untuk pengucapan huruf tersebut.[11]

Dengan bantuan transkripsi superskrip, huruf IPA manapun dapat digunakan sebagai diakritik, mengandung elemen artikulasi huruf yang sebenarnya. Huruf superskrip yang diterakan dibawah adalah huruf superskrip yang memang disediakan dalam buku panduan IPA, penggunaan lain dapat diulastasikan dengan ([t] dengan pelepasan geser), ᵗs ([s] sebagai huruf onset), ⁿd (prasengauan [d]), ([b] dengan penyemburan suara), ([m] tekanan kerongkongan), sᶴ ([s] dengan suara [ʃ]), oᶷ ([o] dengan diftongisasi), ɯᵝ (kompresi vokal [ɯ]). Diakritik superskrip dapat diletakkan setelah huruf yang terjadi disambiguasi suara, maupun untuk detail fonetis diakhir suara. Contoh, pembibiran mungkin saja [k] dan [w] atau [k] dengan pelepasan bibir. Diakririk superskrip yang diletakkan sebelum huruf biasanya menunjukan modifikasi onset suara ( merupakan tekanan kerongkongan dari [m] , ˀm [m] dengan tekanan kerongkongan sebagai onset).

Diakritik Silablik
◌̩ ɹ̩ n̩ Silablik ◌̯ ɪ̯ ʊ̯ Non-Silablik
◌̍ ɻ̍ ŋ̍ ◌̑
Diakritik pelepasan konsonan
◌ʰ Aspirasi[a] ◌̚ Pelepasan tanpa suara
◌ⁿ dⁿ Pelepasan sengau ◌ˡ Pelepasan sisi
◌ᶿ tᶿ pelepasan konsonan frikatif gigi nirsuara ◌ˣ pelepasan konsonan frikatif langit-langit belakang nirsuara
◌ᵊ dᵊ Pelepasan vokal tengah madya
Diakritik Fonasi
◌̥ n̥ d̥ Nirsuara ◌̬ s̬ t̬ Bersuara
◌̊ ɻ̊ ŋ̊
◌̤ b̤ a̤ Suara hembus[a] ◌̰ b̰ a̰ Suara berderit
Diakritik artikulasi
◌̪ t̪ d̪ Gigi ◌̼ t̼ d̼ Linguolabial
◌͆ ɮ͆
◌̺ t̺ d̺ Apikal ◌̻ t̻ d̻ Laminal
◌̟ u̟ t̟ Lanjutan (depan) ◌̠ i̠ t̠ Dibelakangkan
◌˖ ɡ˖ ◌˗ y˗ ŋ˗
◌̈ ë ä Dipusatkan ◌̽ e̽ ɯ̽ Ditengah-madyakan
◌̝ e̝ r̝ Penaikkan ◌̞ e̞ β̞ Penurunan
◌˔ ɭ˔ ◌˕ y˕ ɣ˕
Diakritik ko-artikulasi
◌̹ ɔ̹ x̹ Pembulatan ◌̜ ɔ̜ xʷ̜ Kurang bulat
◌͗ y͗ χ͗ ◌͑ y͑ χ͑ʷ
◌ʷ tʷ dʷ Pembibiran ◌ʲ tʲ dʲ Palatalisasi
◌ˠ tˠ dˠ Peletakan langit-langit belakang ◌̴ [[|ɫ]] Peletakan langit-langit belakang atau faringealisasi
◌ˤ tˤ aˤ Faringealisasi
◌̘ e̘ o̘ Posisi lanjutan akar lidah ◌̙ e̙ o̙ Penarikan kebelakang akar lidah
◌̃ ẽ z̃ Penyegauan ◌˞ ɚ ɝ Rhotik

Ekstensi[sunting | sunting sumber]

Bagan dari ekstensi Alfabet Fonetis Internasional, tahun 2015
konsonan yang tidak terdapat di bagan IPA standar
dwibib.
(bilab.)
bibir
gigi
(labio-
dent.)
bibir
ronggi.
(labio-
alveolar)
bibir
gigi
(dento-
labial)
dwigi. bibir
lidah
(ling.-
lab.)
inter-
gigi
ronggi.
(bawah)
tarik
bel.
langit
langit
langit.
langit
bel.
lagbel.
laring
laring
atas
Letup p̪ b̪ p͇ b͇ p͆ b͆ t̼ d̼ t̪͆ d̪͆ (𝼃 𝼁) ꞯ 𝼂
Denasalisasi ɳ͊ ɲ͊ ŋ͊
Sengau (Nasal) n̪͆ (𝼇)
Geseran sengau m̥͋ m͋ n̥͋ n͋ ɳ̥͋ ɳ͋ ɲ̥͋ ɲ͋ ŋ̥͋ ŋ͋
Getar r̪͆ 𝼀 (ʩ𐞪)
Geseran median f͇ v͇ f͆ v͆ h̪͆ ɦ̪͆ θ̼ ð̼ θ̪͆ ð̪͆ θ͇ ð͇ ʩ ʩ̬
Geseran sisi ɬ̼ ɮ̼ ɬ̪͆ ɮ̪͆ 𝼅 𝼆 𝼆̬ 𝼄 𝼄̬
Median+geseran sisi ʪ ʫ
Hampir sisi l̪͆
Perkusif ʬ ʭ (¡)

Bagian yang digelapkan menandakan penyebutan yang dianggap mustahil.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Handbook of the International Phonetic Association : a guide to the use of the International Phonetic Alphabet. Cambridge, U.K. New York, NY: Cambridge University Press. 1999. ISBN 978-0-521-65236-0. OCLC 40305532. 
  2. ^ "Reproduction of The International Phonetic Alphabet (Revised to 2005)". The International Phonetic Association. Juli 2012. Diarsipkan dari versi asli Parameter |archive-url= membutuhkan |url= (bantuan) tanggal Parameter |archive-url= membutuhkan |archive-date= (bantuan). 
  3. ^ Ladefoged and Maddieson, 1996, Sounds of the World's Languages, §2.1.
  4. ^ Ladefoged and Maddieson, 1996, Sounds of the World's Languages, §9.3.
  5. ^ Esling (2010), hlm. 688–9.
  6. ^ Amanda L. Miller et al., "Differences in airstream and posterior place of articulation among Nǀuu lingual stops". Submitted to the Journal of the International Phonetic Association. Retrieved 27 May 2007.
  7. ^ "Phonetic analysis of Afrikaans, English, Xhosa and Zulu using South African speech databases". Ajol.info. Diakses tanggal 20 November 2012. It is traditional to place the tie bar above the letters. It may be placed below to avoid overlap with ascenders or diacritic marks, or simply because it is more legible that way, as in Niesler, Louw, & Roux (2005) 
  8. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama IPA 1999
  9. ^ Ladefoged, Peter; Ian Maddieson (1996). The sounds of the world's languages. Oxford: Blackwell. hlm. 329–330. ISBN 0-631-19815-6. 
  10. ^ International Phonetic Association, Handbook, p. 10.
  11. ^ International Phonetic Association, Handbook, pp. 14–15.