Abjad Pegon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Abjad Pegon
Abjad Arab-Jawa
Jenis aksara
Abjad
Bahasa
Silsilah

Abjad Pegon (أبجد ڤيگون) adalah abjad Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, dan Sunda. Kata pegon konon berasal dari kata berbahasa Jawa pégo yang berarti 'menyimpang'. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Meski abjad ini benar-benar diturunkan langsung dari abjad Arab, abjad ini, bersama abjad Jawi diyakini masih bersaudara dengan abjad Persia yang juga diturunkan dari abjad Arab.[1] Abjad tersebut kini dipakai untuk menulis bahasa Persia dan Urdu.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pegon sendiri digunakan di kalangan umat Muslim, yang hidup dari pendidikan agama di pesantren. Pegon sendiri muncul bersama Islam di Jawa. Pada saat itu, orang-orang Jawa masih menggunakan aksara Kawi dan aksara Jawa untuk menuliskan teks berbahasa Jawa klasik, dan aksara Sunda kuno untuk menuliskan bahasa Sunda klasik. Ketika Islam masuk ke Tanah Jawa, penggunaan abjad Arab sangat diintensifkan, karena dibutuhkan untuk memaknai kitab-kitab Al-Qur'ān, tafsirnya, serta kitab-kitab ḥadiṡ. Untuk berkomunikasi dengan orang Jawa yang menuturkan bahasa Jawa, para 'ulama kemudian mengadaptasi abjad Arab yang digunakan olehnya sebagai bahasa sehari-hari ke dalam bahasa Jawa. Mereka menulisnya agar orang-orang Jawa lebih mudah dalam memahami agama, terlebih metode dakwah keliling saat itu masih lazim untuk menyiarkan Islam. Di era Walisongo, contoh kitab misalnya Suluk Sunan Bonang, yang diyakini merupakan buah karya Sunan Bonang.[2]

Di wilayah Melayu sendiri, abjad yang masih bersaudara dengan Pegon adalah abjad Jawi, digunakan untuk menulis bahasa Melayu.[3] Dalam perkembangannya, seluruh lembaga pendidikan agama Islam di Jawa maupun Sumatra menggunakan kitab-kitab dengan abjad Arab, baik dalam bahasa Arab sendiri maupun bahasa-bahasa yang dipakai di daerah setempat, utamanya bahasa Melayu, Jawa, sampai Thailand selatan.[2]

Sayangnya, abjad Arab asli ini tidak mendukung fonem-fonem bahasa Jawa seperti e atau o, ca, pa, dha, nya, tha, dan nga. Pada akhirnya, di samping mengadopsi huruf-huruf asli Arab, abjad ini juga mengadopsi abjad Persia yang memiliki fonem-fonem tersebut selain dha dan tha.[4] Pada akhirnya, huruf-huruf baru diciptakan, yang diyakini diturunkan dari abjad Persia seperti ca dan gaf. Huruf-huruf lainnya diyakini diciptakan berdasarkan huruf asli Arab, misalnya pa dari fa' yang diberi tiga titik, atau ca dari jim diberi tiga titik. Pada masa lalu, Pegon ditulis dengan harakat untuk membedakan e dan o, namun saat ini abjad Pegon sudah tidak lagi menggunakan harakat (beberapa orang menyebut ini Gundhil).[5] Karena abjad ini digunakan untuk menulis bahasa Jawa, maka orang Arab tidak mampu membaca teks ini sebelum mampu mempelajari bahasa Jawa karena ada huruf-huruf yang dianggap "asing" bagi mereka.

Saat ini huruf pegon di Jawa dipergunakan oleh kalangan umat Muslim, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis tafsiran atau arti pada Al-Qur'ān, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon. Misalkan naskah-naskah Serat Yusup.

Daftar aksara[sunting | sunting sumber]

Transkripsi didasarkan pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 158 Tahun 1987 dan No. 0543b/U/1987.

Konsonan[sunting | sunting sumber]

Warna hijau menunjukkan aksara tersebut bukan huruf asli Arab.

Abjad Pegon
ح چ ج ث ت ب ا
ḥāʾ ca jīm ṡaʾ tāʾ bāʾ ʾalif
س ز ر ڎ ذ د خ
sīn zāi rāʾ dha żāl dāl khāʾ
ع ظ ڟ ط ض ص ش
ʿain ẓāʾ tha ṭāʾ ḍād ṣād syīn
ك ق ڤ ف ڠ غ
gaf kāf qāf pa fāʾ nga ġain
ي ه و ڽ ن م ل
yāʾ hāʾ wāu nya nūn mīm lām

Harakat[sunting | sunting sumber]

Dalam penulisan Pegon,

  • harakat fatḥah digunakan untuk membedakan fonem i dan é, serta u dan o,
  • penanda konsonan mati dilambangkan dengan huruf tanpa harakat, serta
  • vokal pepet ê dilambangkan dengan simbol mad
كا كي كو كَي كَو كٓ
ka ki ku ko

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "KHAS – Katakan dengan Pegon (2)". Diakses tanggal 2019-09-05. 
  2. ^ a b "BUDAYA – Mengenal Aksara Arab Pegon: Simbol Perlawanan dan Pemersatu Ulama Nusantara". Diakses tanggal 2019-09-05. 
  3. ^ Tjandrasasmita, Uka. (2006). Kajian naskah-naskah klasik dan penerapannya bagi kajian sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI. ISBN 9789797971038. OCLC 225432054. 
  4. ^ "KHAS – Katakan dengan Pegon (2)". Diakses tanggal 2019-09-05. 
  5. ^ "Huruf Pegon, Sarana Kreativitas Umat Islam di Jawa Masa Lalu". Poskota News (dalam bahasa Inggris). 2016-07-01. Diakses tanggal 2019-09-05. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Arps, B. (1992). Tembang in Two Traditions (Doctoral thesis). Leiden: Rijksuniversiteit de Leiden. 
  • Pigeaud, Th. (1970). Literature of Java. III. Leiden: Leiden University Press. hlm. 76–80. 
  • Pudjiastuti, Titik (2000). Sadjarah Banten: suntingan teks dan terjemahan disertai tinjauan aksara dan amanat (S3 thesis). Universitas Indonesia.