Lompat ke isi

Bahasa Jawa Indramayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Jawa Indramayu
ꦧꦱꦗꦮꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ
Basa Jawa Indramayu
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
EtnisJawa
Penutur
± 2 juta penutur jati (2020)
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Posisi bahasa Jawa Indramayu dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

Catatan:

Simbol "" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
Aksara Jawa
Abjad Pegon
Alfabet Latin
Status resmi
Diatur olehLembaga Bahasa dan Sastra Jawa Indramayu
Kode bahasa
ISO 639-3
LINGUIST List
LINGUIST list sudah tidak beroperasi lagi
jav-ind
Glottologindr1248[1]
 Portal Bahasa
L B PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

Bahasa Jawa Indramayu atau dialek Dermayu (Aksara Jawa: ꦧꦱꦗꦮꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ) adalah dialek bahasa Jawa modern dan termasuk salah satu dialek konservatif dari Bahasa Jawa yakni mempertahankan karakteristik kuno selain Bahasa Jawa Serang dan Bahasa Jawa Tegal. Dialek Dermayu dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama di Kabupaten Indramayu, sebagian utara dan timur Kabupaten Subang, serta sebagian utara Kabupaten Karawang.[2][3] Bahasa Jawa Indramayu juga merupakan turunan dari Bahasa Jawa Pertengahan dan memiliki banyak kesamaan dengan rumpun bahasa Jawa modern lainnya terutama ragam dialek kulonan. Bahasa Jawa Indramayu melestarikan banyak kosakata dari Bahasa Jawa Kuno.

Perbedaan yang mencolok dari kebudayaan masyarakat Indramayu dengan kebudayaan masyarakat Jawa Barat pada umumnya terdapat pada bahasa yang digunakan.[4] Sebagian besar masyarakat Indramayu menggunakan bahasa Jawa Indramayu sebagai bahasa daerahnya, selain itu Bahasa Jawa Indramayu masih banyak melestarikan kosakata Jawa kuno misalnya seperti reang (saya), bobat (berbohong), miyang (berangkat), ncak (coba), manjing (masuk), pragat (selesai), toli (lalu), ngorong (haus), belih (tidak), kuwu (kepala désa) yang sudah tidak dapat ditemui di bahasa Jawa Baku (Dialek Jogja-Solo), selain itu di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Lelea dan Kecamatan Kandanghaur ada juga yang menggunakan bahasa Sunda fase lama (dialek Indramayu), juga di kecamatan Anjatan (Mangunjaya), Cikedung, Gantar, Haurgeulis, dan Terisi yang menggunakan bahasa Sunda fase baru (dialek Priangan).

Pada dasarnya bahasa Jawa yang dipertuturkan di Indramayu dan sekitarnya merupakan bagian dari rumpun dialek bahasa Jawa.[5] Masyarakat Indramayu umumnya dapat berbicara dalam dua bahasa dengan baik atau dapat saling mengerti walaupun mereka masing-masing menggunakan bahasa yang berbeda.[6]

Asal-usul

[sunting | sunting sumber]

Arya Wiralodra sebagai pendiri Indramayu menjadi tonggak awal digunakannya bahasa Jawa di Indramayu.[5] Ia diketahui memiliki beberapa julukan di antaranya Pangeran Gagak Wiralodra, Pangeran Darmawijaya dan Pangeran Indrawijaya. Arya Wiralodra adalah putra Adipati Singalodra penguasa Bagelen dari Jawa Tengah.[7] Dalam Babad Dermayu koleksi Museum Sri Baduga, diriwayatkan bahwa Arya Wiralodra adalah tokoh yang gagah berani dan memiliki senjata pusaka bernama Cakra Udaksana.[8] Arya Wiralodra dinilai sebagai sosok pemimpin ideal yang menjadi kebanggaan masyarakat Indramayu. Hal ini dibuktikan dengan pemeliharaan situs peninggalan Arya Wiralodra beserta keturunannya yang masih dirawat dengan baik bahkan direvitalisasi beberapa kali dengan biaya yang cukup besar.

Perkembangan

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Jawa di Indramayu kian mengalami perkembangannya ketika kebijakan Kesultanan Mataram yang mengangkat pejabat-pejabat bawahannya untuk menjaga perbatasan di wilayah Cimanuk. Mereka juga diberi tugas untuk mengolah lumbung padi dan memproduksi beras.[9] Hal ini diperkuat dengan catatan dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian bahwa orang Sunda baru mulai bercocok tanam paling cepat abad ke-16 dan semakin berkembang pada abad ke-17, karena mereka terbiasa berladang.[10] Kegiatan bersawah mulai dikenalkan oleh pasukan Mataram yang sengaja didatangkan ke Indramayu untuk mengolah lumbung padi dan memasok beras kepada pasukan Mataram yang sedang berperang melawan VOC di Batavia pada tahun 1628.[11]

Pada abad ke-19, pertanian dengan cara bersawah menjadi kegiatan utama masyarakat Indramayu secara umum karena hasilnya lebih menguntungkan.[11] Bukti lebih lanjut dapat ditemukan dalam Dagh Register yang ditulis oleh VOC pada 9 Desember 1693, melaporkan adanya kegiatan pertanian padi yang dilakukan secara berturut-turut di wilayah Indramayu.[12] Sejak saat itu, Indramayu menjadi daerah di pesisir utara Jawa yang memiliki area persawahan yang cukup luas. Hal ini yang mendorong masyarakat Indramayu lebih dahulu mengenal sistem bersawah dibanding dengan daerah pedalaman Jawa Barat yang masih bergantung dengan sistem berladang.[13] Meskipun di pesisir utara Jawa tidak terkena hujan musim kemarau, tetapi masyarakat Indramayu sudah lebih dahulu mengenal sistem irigasi sehingga penanaman padi tetap dapat dilakukan sepanjang tahun.[13]

Berkembangnya sistem pertanian yang terjadi di Indramayu tidak hanya membawa perubahan budaya tetapi juga bahasa.[4] Hal ini yang memengaruhi bahasa Jawa Indramayu lambat laun kian berkembang. Indramayu yang berada di wilayah perbatasan Sunda dan Jawa menjadikan penduduknya dapat memahami dua bahasa dengan baik walaupun dalam percakapan sehari-hari antar keduanya masing-masing saling menggunakan bahasanya tersendiri, tetapi tetap komunikatif.[5]

dalam Bahasa Jawa Indramayu fonem a masih tetap di ucapkan a seperti Bahasa Jawa Kuno semisal seperti bunyian pada kata ana, apa, teka, pira, serta konsonan akhir k juga diucapkan secara jelas dan tegas seperti Bahasa Jawa Kuno semisal pada bunyian kata kacek, anak, berbeda halnya dengan Bahasa Jawa Baku (Solo-Yogyakarta) yang cenderung menukar konsonan a menjadi o/å serta mengucapkan konsonan k akhir secara melunak, akan tetapi Bahasa Jawa Indramayu sudah tidak mengenal retofleks t - th dan d - dh, konsonan d diucapakan lebih mirip dengan konsonan d dalam Bahasa Sunda, yakni di ucapkan dengan langit-langit mulut, berbeda halnya dengan dialek kulonan lainya seperti Bahasa Jawa Tegal dan Bahasa Jawa Banyumasan yang masih mengenal retofleks seperti dialek Bahasa Jawa lainya.

Berikut ini perbandingan kosakata dialek bahasa Jawa, yang meliputi dialek Indramayu, Banyumasan, Tegal, dan Pekalongan.

Indramayu Banyumasan Tegal Pekalongan Makna
kula, kita, réang, isun inyong, nyong enyong, nyong enyong, aku aku
dika, sampéan, sira, ira rika, ko, koe,

sira (dialek bruno)

rika, sampéan, kowén sampéan, kowé kamu
kita kabéh awaké déwék awaké déwék awaké déwék kami
sira kabéh rika kabéh kowén kabéh kowé kabéh kalian
kién, iki kiyé, keh, iki kiyé, iki kiyé, iki ini
kuén, kuh, iku kuwé, ikuh, iku kuwé, ikuh kuwi itu
kéné, méné kéné, mengéné kéné, méné kéné, mréné, méné sini
kana, mana kana, mengana kana, mana kana, månå, mrånå sana
kepribén, kepriwén kepribé, kepriwé kepribén, keprimén kepriyé bagaimana
ora, belih, bli, dudu, sejen ora, udu, séjén ora, belih, dudu, séjén ora, udu, bleh, séjén tidak, bukan

Perbandingan kosakata antara Dialek Jawa Indramayu dengan Dialek Jawa Standar

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini perbandingan kosakata antara bahasa Jawa Indramayu dengan bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta). masih banyak kosakata Jawa Kuno yang digunakan di dialek Indramayu tetapi sudah tidak digunakan di Bahasa Jawa Wétanan / Bahasa Jawa Baku (Solo-Yogya), contoh kosakata dari bahasa jawa kuno : kuwu, parêk, reang, kita, langka, bêngen, manjing, ncak, belih, toli, ngorong, miyang, pragat, bobad, kaligane dll.

Jawa Indramayu Jawa standar
(Solo–Yogya)
Glosa
kita, reang, kula, isun

aku, kulå, ingsun saya
têk tak, dak kata ganti orang (aku, saya)
sira, ko, sampéyan

(Contoh: sira wis mangan durung ?)

sampéyan, kowe kamu
dika

(Contoh: dika wong endi?)

panjenengan, ndiko anda
deweke deweke, deke dia
-réyang, kita, -isun

(Contoh: bukune réyang, bukune kita)

-ku akhiran aku
-ira, -nira

(Contoh: bukunira, umahira)

-mu (Contoh: bukumu, umahmu-nirå (jarang digunakan) akhiran kamu
baé waé saja
aran jênêng, aran nama
arêp, garêp arêp (ngoko)

badhe (krama)

akan
dau, nêmbé, tas

(Contoh: dau bae tangi)

nêmbé, tas baru saja
maning manéh, manéng lagi
manjing

(Contoh: mene gah manjing ning umahe kita)

mlêbu masuk
metu metu (ngoko)

mêdal (krama)

keluar
mari, mandhêg mandhêg berhenti
mangan mangan, madhang makan
ngupai, ngêmai,

(Contoh: arep têk pai es gelem belih ?)

ngêwéi, menehi, ngênei memberi
ning

(Contoh: reang lagi ning dermayu)

ning, nang di / ke
wekna, paiaken, wekaken wenehna berikan
puhjaré

(Contoh: puhjare sira bae)

sekarêpé, åpå jaré terserah
cak, jajal jajal coba
olih oléh dapat
laka, ora ana ora ånå, ora enek tidak ada
parêk cêrak, cêdhak dekat
marêki, marani marani, nyêdaki menghampiri / mendekati
gulati, golati, luru

(Contoh: wis têk gulati tapi laka)

goléki mencari
dhikit, dhingin, dhipit

(Contoh: reyange arep turu dhipit)

dhisik, dhimin dulu
ngulu dhisik duluan
kosi nganti, ngasi hingga
ora, bli, bêlih ora tidak
wêruh wêruh, ngêrti tau
blolih, ora olih ora oléh tidak boleh
blènak, ora enak ora enak, ora ecå tidak enak
bêli pati, ora pati ora pati tidak terlalu
jokot, ngêmét, jukut jupuk, jukuk ambil
tiba tibå jatuh
tampa tåmpå, narimå terima
bêngén biyén dahulu
mêndak kêpêthuk (ngoko)

kêpêndhak (krama)

bertemu
toang dalan mbulak jalan panjang dan sepi dikelilingi sawah
kédêr bingung, liwung bingung
têkang têkan sampai
klalén lali, klalén lupa
kanda kåndå, ngomong berbicara
kiwé kiwå kiri
kiyên, kih iki, ki ini
ênyah ênyoh nih
kuwên, iku, kuh kuwi, iku itu
kaên, ika kae itu (jauh)
kéné, méné kéné, mréné sini
kana, mana kånå, mrånå sana
kêpriwén, priwen kêpiyé, piyé bagaimana
dêlêng, pandêng dhelok, dêlêng, sawang lihat
jor jar biar
dudu, séjén dudu, bedå, seje bukan
masih isih,taksìh, ijih masih
kêmpong, ngêlih luwé, ngêlìh lapar
mêlas mêsakké, melas kasihan
mêngkénén, kénén ngéné, mangkéné begini
mengkonon, konon ngono, mangkono begitu
ambir, bagén, éndah, soke, bari, amprih, gén, bén biar, agar, supaya
bari

(Contoh: tuku kopi bari ngudud)

sambi / nyambi sembari, sambil
miyang, mangkat mangkat berangkat
sing

(Contoh: reang sing dermayu)

såkå, sakìng dari
bêluk celuk, ngundang, nyêluk memanggil
kêcêluk kondang terkenal
nok/sênok, sênang gênduk, tolé/nang sapaan perempuan dan laki-laki
yayu mbakyu kakak perempuan
aang, kakang kakang, kang mas kakak laki-laki
bokat, bokatan mbok mênåwå barangkali
baka, yén, lamun

(Contoh: baka beli gelem mah ora apa apa)

yén, nek, lamun (jarang digunakan) jika
batur kåncå, batùr teman
setitik sathithik, sithik sedikit
sukiki sesuk besok
sêkiên saiki sekarang
êntok êntek habis
ngêrungu, kêrungu krungu mendengar
arêpan, adêpan ngarêp, ngarepan depan
gêdang gêdhang pisang
gêlis gêlis, cêpêt cepat
turu turu (ngoko)

saré, tilêm (krama)

tidur
adoh adoh (ngoko)

tebìh (krama)

jauh
adus adùs (ngoko)

siram (krama)

mandi
angel angel (ngoko)

seså (krama)

susah
amba åmbå, bawerå (ngoko)

wiyar (krama)

luas
ayam pitìk, ayam ayam
dudu dudu (ngoko)

sanes (krama)

bukan
dêmên tresna, dhêmên cinta
sing sìng, kang yang
wayah wayah (ngoko)

wanci (krama)

waktu
lor lor (ngoko)

ler (krama)

utara
kidul kidùl (ngoko) selatan
wetan wetan, etan timur
kulon kulon (ngoko)

kilen (krama)

barat
katon katon, ketok (ngoko)

kêtingal (krama)

terlihat
tonggoni, enteni tunggoni, enteni tunggu
takon takon (ngoko)

tanglêd (krama)

tanya
awan awan (ngoko)

sontên (krama)

siang
ana ånå , enek (ngoko)

wontên (krama)

ada
aja åjå (ngoko)

ampun (krama)

jangan
bêras bêras (ngoko)

uwos (krama)

beras
balik bali, mulìh (ngoko)

wangsul (krama)

pulang
eling elìng (ngoko)

emut (krama)

ingat
kabeh kabeh (ngoko)

sêdåyå (krama)

semua
sedulur sedulur (ngoko)

sêdherek (krama)

saudara
due duwe, darbe (ngoko)

gadhah, kagungan (krama)

punya
lunga lungå (ngoko)

tindhak, kesah (krama)

pergi
lanang lanang (ngoko)

jalêr (krama)

lelaki
lara lårå (ngoko)

gêrah (krama)

sakit
melu melu (ngoko)

ndherek (krama)

ikut
rumasa rumangsa merasa
sêga sêgå (ngoko)

sekùl (krama)

nasi
wadon wadon, wedok (ngoko)

estri (krama)

perempuan
jaluk jaluk (ngoko)

nyuwun (krama)

minta
jaba jåbå (ngoko)

jawi (krama)

luar
jero jero (ngoko)

mlêbêt (krama)

dalam
jaré jaré (ngoko)

tirosé (krama)

katanya
kudu kudu (ngoko)

kêdah (krama)

harus
êndas, sirah sirah

êndas (hanya untuk hewan)

kepala
endi endi (ngoko)

pundi (krama)

mana
gêlêm gêlêm (ngoko)

kêrså, purun (krama)

ingin/mau
karo karo (ngoko)

kalihan (krama)

dengan
kaya kåyå (ngoko)

kados (krama)

seperti
kêlambi klambi (ngoko)

raksukan (krama)

baju
lawas, suwe suwe, lawas lama
têka têkå (ngoko)

rawuh, dugi (krama)

datang
pada pådå (ngoko)

sami (krama)

sama
pira pirå (ngoko)

pintên (krama)

berapa
durung durung, urung (ngoko)

dereng (krama)

tunggu
wis uwis, wis (ngoko)

sampun (krama)

sudah
tuku tuku, tumbas beli
udan udan (ngoko)

jawah (krama)

hujan
wani wani (ngoko)

wantun (krama)

berani
wêdus wêdhùs (ngoko)

mêndhå (krama)

kambing
gawa gåwå (ngoko)

bêktå (krama)

bawa
mêkaya, molah, mênggawé nyambut gawé, mêgawé bekerja
pragat, bubar rampung, bar selesai
sêngit gêthing benci
dodok lungguh duduk
glendeng sambat mengeluh
guri buri, guri belakang
mêndhêg dhodhok duduk jongkok
mêlaku mlaku berjalan
kunyuk, kêthèk munyùk, kêthèk monyet
rega regå (ngoko)

rêgi (krama)

harga
sanja tilìk, sanjang mengunjungi
têmbêlèk têlèk, têmbêlèk kotoran hewan
tlepong tlethong kotoran sapi
toli bar ngono lalu
kêduhung, keloas, mêngkêl kêduwùng, mangkêl kecewa
kêtuwon nelångså, kêtuwon sedih
kênyoh mamah kunyah
kênang, karna krånå, mergané karena
kiwé kiwå kiri
kuwu lurah kepala desa
lêbu balé deså balai desa / balai kelurahan
laki, rabi, bojo bojo suami, istri
lakine reyang, lakine kita bojoku suami ku
rabine reyang, rabine kita bojoku istri ku
anak, bocah anak, bocah, lare, yogå anak
putu putu cucu
sabrang lombok cabai
kêtangguan konangan, kêruhan ketahuan
kabêran kêbênêran kebetulan
bobad ngapusi bohong
genae gone, gene tempatnya
gulêt, tukaran gelut, tukaran bertengkar
dake, deke duwek'e, wek'e, dek'e kepunyaan
kaligane ujug-ujug tiba-tiba
pêgot pêdhot putus
srawat sawat lempar
gêburena jêburnå tenggelamkan di air
laut segårå, laut laut
kêngulu bantal, ganjêl sirah bantal
sangkane mangkane, mulane maka dari itu
sada rådå agak
ngurupi, murupan ijolan, urupan bertukar
kari-kari pungkasan, keri-keri akhir
kari kari tinggal / sisa
mung mung, gur hanya
mêlang sumêlang gelisah, khawatir
(se)delat maning, mêngko dipit (se)dhelå, mêngko disik, kosik, sik sebentar lagi
nyupang pêsugihan menambahkan kekayaan dengan jalan haram
rêrasan rasan-rasan menggosip
gêrigis tlêthik, grimis gerimis
gigir gêgêr punggung
bayian, babaran babaran lahiran
mimi mak, biyung, ibu ibu
mama, bapa råmå, bapak bapak
ngrongokaken, ngrongokna ngrungokake (ngoko)

mirêngakên (krama)

mendengar
ngomongaken, ngomongna ngomongake (ngoko)

ngomongaken (krama)

membicarakan
ngejoraken, ngejorna ngejarke, ngumbarake (ngoko)

ngejaraken, ngumbaraken (krama)

membiarkan
siji siji satu
loro loro dua
têlu têlu tiga
papat papat empat
lima limå lima
enem enem enam
pitu pitu tujuh
wolu wolu delapan
sanga sångå sembilan
sêpuluh sêpulùh sepuluh
sêwêlas sêwêlas sebelas
selikur sêlikùr dua puluh satu
selawe selawe dua puluh lima
sekêt sekêt lima puluh
satus satùs seratus
sewu sewu seribu

Pengaruh bahasa Sunda

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Jawa Indramayu juga sedikit diwarnai oleh Bahasa Sunda karena di wilayah Kabupaten Indramayu juga terdapat sebagian kecil penduduk yang berbahasa Sunda utamanya Bahasa Sunda Indramayu dan Bahasa Sunda Priangan, sehingga beberapa kosakata Sunda juga terserap ke Bahasa Jawa yang digunakan di Indramayu, walaupun demikian sebagian besar kosakata Bahasa Jawa Indramayu yakni sekitar 71,5 persen sama dengan Bahasa Jawa modern maupun Bahasa Jawa Kuno sehingga Bahasa mayoritas yang dituturkan di Indramayu adalah Bahasa Jawa dengan dialek khas Indramayu, penelitian menunjukkan perbedaan Bahasa Jawa Indramayu dengan Bahasa Jawa standar hanya sekitar 28,5 persen [14] dalam hal ini perbedaanya merupakan serapan dari bahasa lain (misalnya Sunda, Arab, Belanda) maupun kosakata khas dari Jawa Indramayu.

Contoh Pengaruh Sunda:

Jawa Indramayu Bahasa Sunda Bahasa Jawa Standar
(Solo–Yogya)
Bahasa Indonesia
angger angger tetep tetap
bangor bangor dhablêg nakal
banjur, sébor banjur, cébor guyang, siram menyiram dengan air
blésak blangsak ålå, èlèk buruk, jelek
gati, angel gati, hese angel susah
ilok kungsi, ilok tau pernah
kêgugu kagugu lucu lucu
da, mah da, mah, teh, atuh tåh, og, ik kalimat penegas
matak matak mergå sebab
murag murag tibå jatuh
murun meureun paling, menåwå barangkali
ngecaprak ngacaprak ngecipris, ngomong wae, ngomong terùs berbicara tanpa henti
ngan, mung ngan mung, gur, kur hanya
ongkoh, uga ongkoh ugå juga
padu padu anggêre asalkan
puguh puguh pancen, mestine tentu, pasti
pamali, dusun pamali, dusun ora ilok pantangan, tidak pantas
runtah runtah larahan/rarahan, uwuh sampah
rungsing rungsing rewel, ruwêd suka menangis, banyak bicara, rumit, pusing
satoan satoan kéwan hewan
sok sok monggo silahkan
wilujêng wilujêng sugêng, wilujêng selamat

(contoh: selamat pagi, selamat datang)

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Jawa Indramayu". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
  2. "Kamus Bahasa Jawa Indramayu Indonesia Lengkap". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-16. Diakses tanggal 2019-08-11.
  3. "Sekilas Indramayu – Situs resmi kab. Indramayu". indramayukab.go.id. Diakses tanggal 2019-08-11.
  4. 1 2 Dasuki, H. A.; Sardjono, J. P.; Sumardjo; Djamara (1977). Sejarah Indramayu. Indramayu: Pemerintah Kabupaten Derah Tingkat II Indramayu. hlm. 359.
  5. 1 2 3 Kasim, Supali (2020). Bahasa Jawa Indramayu: Latar Sosiolingustik, Dialektiktologi, Politisasi & Pemertahanan Bahasa. Indramayu: Rumah Pustaka. hlm. 188. ISBN 9786237788652.
  6. Dahuri, Rokhimin; Irianto, Bambang; Arovah, Eva Nur (2004). Budaya Bahari-Sebuah Apresiasi di Cirebon. Jakarta: PNRI. hlm. 103. ISBN 9793747064.
  7. Prawiradiredja, Mohammed Sugianto (2005). Cirebon: Falsafah, Tradisi, dan Adat Budaya. Jakarta: PNRI. hlm. 39–41. ISBN 9793747161.
  8. Tim Peneliti-Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) Jawa Barat (2008), Babad Dermayu, Bandung: Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, hlm. 211
  9. Kasim, Supali (2011). Menapak Jejak Sejarah Indramayu. Yogyakarta: Frame Publishing. hlm. 87. ISBN 9786025557286.
  10. Ekadjati, Edi S. (2005). Kebudayaan Sunda-Zaman Pajajaran. Jilid II. Bandung: Pustaka Jaya. hlm. 151. ISBN 9794193348.
  11. 1 2 Collier, William L; Sajogyo (peny.) (1986). Budidaya Padi di Jawa. Jakarta: Gramedia. hlm. 339.
  12. Lubis; Herlina, Nina; dkk (2003). Sejarah Tatar Sunda. Jilid I. Bandung: Satya Historika. hlm. 61. ISBN 9799635365.
  13. 1 2 Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya. Jilid I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 23. ISBN 9789796054527.
  14. https://www.detik.com/jabar/cirebon-raya/d-7940001/kenapa-indramayu-bahasa-jawa-meski-ada-di-jawa-barat-ini-sejarahnya.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]