Bahasa Sunda Bogor

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sunda Bogor
Basa Sunda Bogor
ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮧᮌᮧᮁ
Dituturkan di Indonesia
Wilayah Jawa Barat
Penutur bahasa
± 7.1 juta  (2020)[1]
Status resmi
Diatur olehBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa[2][3]
Kode bahasa
ISO 639-3
LINGUIST List
sun-bog
Glottologbogo1241
Linguasfer31-MFN-ae
{{{mapalt}}}
  Area di mana bahasa Sunda Bogor adalah mayoritas
  Area di mana bahasa Sunda Bogor adalah minoritas
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA

Bahasa Sunda Bogor[4] (Sunda: ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮧᮌᮧᮁ, translit. Basa Sunda Bogor) atau Dialek Bogor[5] adalah sebuah dialek dari Bahasa Sunda yang dituturkan di sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.[6] Dialek ini memiliki memiliki beberapa perbedaan dengan Bahasa Sunda Standar/Dialek Priangan dan lebih berhubungan dekat dengan Bahasa Sunda Banten,[7][8] tetapi penutur dialek ini masih mengenal Tatakrama bahasa Sunda (sistem tuturan honorifik pada bahasa Sunda) seperti yang digunakan pada dialek Priangan meskipun penggunaannya tidak terlalu ketat.[butuh rujukan]

Ciri-ciri khusus Bahasa Sunda yang digunakan di wilayah kabupaten Bogor diduga dapat terjadi dalam berbagai tataran kebahasaan; misalnya, dalam bidang fonologi, morfologi, leksis, sintaksis, semantik, dan beberapa ciri prosodi seperti pitch, stress, dinamik, tempo, jeda, intonasi, dan kontur. Keseluruhannya dipergunakan dalam pengucapan bahasa Sunda sehari-hari.[9]

Kedudukan dan peranan

Oleh para pemakainnya, bahasa Sunda Bogor dianggap memiliki peranan yang sangat penting, sejalan dengan situasi dan kepentingan pemakaian bahasa, hal ini sesuai dengan kedudukannya sebagai bahasa daerah dengan fungsi bahasa Indonesia. Di mana bahasa Indonesia juga memiliki peranan penting di samping penggunaan bahasa Sunda dialek Bogor bagi para penuturnya.[10]

Kedudukan bahasa Sunda Bogor cukup kuat, sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi intra daerah dan budaya. Bahkan menurut informasi dari para pejabat setempat, bahasa Sunda Bogor sering sangat membantu penyampaian informasi dari atas ke bawah, serta dari pejabat dan aparat kepada rakyat. Dilihat dari segi penggunaannya yang seperti itu, di samping sebagai bahasa daerah, bahasa Sunda Bogor mempunyai kedudukan dampingan bagi bahasa Indonesia, termasuk dalam menjalankan administrasi pemerintahan yang sifatnya lisan.[10]

Tradisi sastra

Seperti halnya di beberapa daerah lainnya. Telah lama dikenal di Jawa Barat sastra daerah yang diungkapkan dalam bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Sunda. Sastra yang diungkapkan dalam bahasa Sunda ini dikenal dengan sebutan sastra Sunda. Pada masa-masa yang lebih awal sastra Sunda lisan lebih dahulu berkembang di masyarakat Sunda, termasuk di daerah kabupaten Bogor dan kota Bogor. Pada masa-masa itu puisi yang berupa mantra dan sindir 'pantun'. Demikian juga bentuk prosa seperti dongeng dan carita pantun sudah menjadi khazanah tradisi masyarakat Sunda. Setelah masyarakat mengenal tulisan, baik tulisan atau aksara Sunda, Arab, maupun Latin. Sastra tulis mulai pula dikenal dan digemari masyarakat. Tradisi sastra tulis Sunda berlaku dan tetap digemari masyarakat hingga kini.[10]

Kekhasan

Secara geografis, wilayah pemakaian bahasa Sunda dialek Bogor meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten Bogor terutama di wilayah selatan dan seluruh kecamatan di Kota Bogor,[11] kecuali beberapa daerah seperti Gunungsindur, Rumpin, Jasinga Raya yang menggunakan dialek Banten dan Cibinong yang digolongkan menggunakan dialek atau bahasa yang berbeda.[12] Dialek Bogor memiliki beberapa leksikon-leksikon atau unsur-unsur leksikal yang khas dipergunakan di wilayah kabupaten Bogor, di antaranya yaitu:[13][14]

  • "sangeuk" berarti "malas" (bahasa Sunda standar: horéam);
  • "nyaneut" berarti "mengudap" (bahasa Sunda standar: ngopi);[a]
  • "joré" berarti "jelek" (bahasa Sunda standar: goréng);
  • "tundun" berarti "rambutan" (bahasa Sunda standar: rambutan);[15]
  • "doang" berarti "saja" (bahasa Sunda standar: hungkul); misal dalam kalimat "ngan boga hiji doang" yang berarti "hanya punya satu saja";
  • "nyaah" berarti "sayang" (bahasa Sunda standar: lebar) dalam konteks menyesali; misalnya "nyaah, ari duit jang dipaké ulin hungkul mah" yang berarti "sayang, jika uang hanya dipakai untuk bermain saja." Dalam bahasa Sunda standar, kata "nyaah" hanya diperuntukkan untuk manusia atau makhluk hidup lainnya, namun dalam dialek Bogor, bisa digunakan untuk semua benda termasuk benda mati.
  • "kékéncéng" berarti "wajan" (bahasa Sunda standar: katél[b]);
  • "cucurak" berarti "makan bersama" (bahasa Sunda standar: botram); merupakan sebuah tradisi pada masyarakat Sunda pada zaman dahulu, di mana setelah mereka pulang berladang mereka akan melakukan makan bersama dengan rekan-rekan mereka dengan beralaskan daun pisang;
  • "enéng" berarti "anak" dalam konteks pronomina tanpa memandang jenis kelamin, dalam bahasa Sunda standar, dibedakan menjadi dua yaitu: anak perempuan=enéng, anak laki-laki=ujang;
  • "tilok" berarti "jarang" (bahasa Sunda standar: tara);
  • "sampé"/"nyampé" berarti "sampai" (bahasa Sunda standar: tepi/nepi);
  • "ilok" berarti "masa" (bahasa Sunda standar: piraku/maenya) dalam bentuk adverbia; misalnya "ah, ilok bisa kitu?" berarti "ah, masa bisa seperti itu?
  • "sipeunteu" berarti "mencuci muka" (bahasa Sunda standar: tamas) dalam tingkatan bahasa halus (bahasa Sunda: basa hormat/basa lemes), dalam konteks bahasa formal/biasa, kedua dialek sama-sama menggunakan kata "sibeungeut";
  • "nyaré" (bersal dari kata "saré" yang bermakna "tidur") berarti "menginap" (bahasa Sunda standar: ngéndong);
  • "parangsa" berarti "kukira" (bahasa Sunda standar: panyana); contoh kalimatnya: "parangsa téh saha, ari pék téh manéh" yang berarti "kukira siapa, ternyata kamu";
  • "danas" berarti "nanas" (bahasa Sunda standar: ganas);[16]
  • "aseupan" berarti "kukusan" (bahasa Sunda standar: haseupan);
  • "hi'id" berarti "kipas bambu" (bahasa Sunda standar: hihid);
  • "purukuyan" berarti "pedupaan" (bahasa Sunda standar: parupuyan);
  • "silaru" berarti "laron" (bahasa Sunda standar: siraru);
  • "tumbiri" berarti "pelangi" (bahasa Sunda standar: katumbiri);
  • "teprok" berarti "bertepuk tangan" (bahasa Sunda standar: keprok);
  • "cérécét" berarti "saputangan" (bahasa Sunda standar: carécét);
  • "réhé" berarti "sepi" (bahasa Sunda standar: tiiseun/sepi);
  • "endek" berarti "akan" (bahasa Sunda standar: arék);
  • "haju" berarti "lalu"/"terus" (bahasa Sunda standar: laju);
  • "kos" berarti "seperti" (bahasa Sunda standar: kawas); misalnya "éta sapatu téh kos nu aing boga" yang berarti "itu sepatu seperti kepunyaanku"

Fonologi

Sistem fonologi dan morfologi bahasa Sunda Bogor tidak begitu berbeda dengan sistem fonologi dan morfologi bahasa Sunda lulugu.[17]

Vokal

1. Vokal[18]
Depan Tengah Belakang
Tinggi i o
ɤ
Sedang ə
Agak Rendah ɔ
Rendah a

Konsonan

2. Konsonan[18]
Cara Ucapan Dasar Ucapan
Bibir Ujung Lidah Daun Lidah Punggung Lidah Anak Tekak
Letus nirsuara p t c k ʔ
bersuara b d ɟ ɡ
Geser nirsuara s h
bersuara
Nasal m n ɲ ŋ
Sampingan l
Getar r
Luncuran w j

Macam dan Distribusi

Macam fonem bahasa Sunda di daerah kabupaten Bogor terlihat pada bagan di bawah ini.

Distribusinya adalah sebagai berikut:
/p/: Konsonan letus, tak bersuara, bibir[19]
Misalnya:
[pɛdɛt] 'burung ketilang'
[ʔɔmpɔd] 'penakut'
[gəlap] 'guntur'
/b/: Konsonan letus, bersuara, bibir[19]
Misalnya:
[bəgɔg] 'kera'
[surubahaʔ] 'serabi'
[kəkəb] 'tempat nasi bertutup'
/m/: Konsonan sengau, bibir[19]
Misalnya:
[mɘrɘñiʔ] 'makan sedikit-sedikit'
[ləmpəh] 'bubur tepung'
[gətəm] 'masam budi'
/w/: Konsonan luncuran, bibir[19]
Misalnya:
[wadaŋ] 'nasi kemarin'
[cincaw] 'cincau'
/t/: Konsonan letus, tak bersuara, ujung lidah[20]
Misalnya:
[tapay] 'tapai'
[kɔtek] 'congek'
[salimut] '(penganan)'
/d/: Konsonan bersuara, ujung lidah, letus[20]
Misalnya:
[dəlitan] 'mudah tersinggung'
[pandariŋan] 'tempat menyimpan beras'
[kalɛkɛd] 'lamban'
/s/: Konsonan tak bersuara, ujung lidah, letus[20]
Misalnya:
[səkutəŋ] 'sekoteng'
[?asɤm] 'asam'
[nanas] 'nanas'
/l/: Konsonan ujung lidah, sampingan[20]
Misalnya:
[lɛtəran] 'literan beras'
[pəlandiŋan] 'petai cina'
[bɔbɔl] 'bobol'
/rc/: Konsonan ujung lidah, getar[20]
Misalnya:
[rampadan] 'baki kuningan'
[marbɔt] 'penabuh beduk'
[lɤkɤr] 'tempat dandang'
/c/: Konsonan tak bersuara, daun lidah, letus[20]
Misalnya:
[cɛdɛt] 'burung ketilang'
[kicik] 'anak anjing'
/j/: Konsonan bersuara, daun lidah, letus[20]
Misalnya:
[jəjəŋklɔk] 'bangku kecil'
[panəjəg] 'pesuruh desa'
/n/: Konsonan daun lidah, sengau[21]
Misalnya:
[ñɛndɛr] 'menyandar'
[ʔɔnɔŋ-ʔɔnɔŋ] 'sejenis ikan'
/y/: Konsonan daun lidah, luncuran[21]
Misalnya:
[yɤh] 'ini'
[parukuyan] 'pedupaan'
[ʔɔcɔy] 'congek'
/k/: Konsonan tak bersuara, punggung lidah, letus[21]
Misalnya:
[kapintik] 'terpukul'
[tambakaŋ] 'sejenis ikan'
[kɔdɔk] 'katak'
/g/: Konsonan bersuara, punggung lidah, letus[21]
Misalnya:
[garahaʔ] 'gerhana'
[ŋagarɔkan] 'membuat garis petak sawah'
[ʔɛntɔg] 'itik manila'
/n/: konsonan punggung lidah, sengau[21]
Misalnya:
[ŋɔkɔp] 'minum dari bumbung bambu'
[nɔŋtrɔŋ] 'memukul kentongan dipercepat'
[wadaŋ] 'nasi sisa kemarin'
/h/: konsonan tak bersuara, anak tekak, geseran[21]
Misalnya:
[hajatan] 'selamatan'
[surubahaʔ] 'serabi'
[tɛtɛkɛh] 'tangga rumah'
/i/: vokal depan, agak tinggi, tak bundar[21]
Misalnya:
[ʔimpun] 'sejenis ikan
[jaliŋɤr] 'cepat kaki ringan tangan'
[kɔndaliʔ] 'tali kekang kerbau'
/ɛ/: vokal depan, agak rendah, tak bundar[22]
Misalnya:
[tɛtɛh] 'panggilan untuk wanita yang lebih tua'
[ŋɔsɛksrak] 'serba ingin tahu'
[lampɛyɛʔ] '(penganan)'
/a/: vokal tengah, rendah, tak bundar[22]
Misalnya:
[ʔamat] 'sangat'
[lɛŋotan] 'pelupa'
[gɤgɤra] 'cepat-cepat'
/ə/: vokal tengah, sedang, tak bundar[22]
Misalnya:
[ʔəndɤk] 'akan'
[cəcələmɛk] 'serba ingin tahu'
/ɤ/: vokal belakang, tinggi, bundar[22]
Misalnya:
[ʔɤʔɤrihɤn] 'tersedu-sedu'
[naɤn] 'apa'
[cɤcɤʔ] 'sebutan untuk wanita yang lebih tua'
/ɔ/: vokal belakang, agak rendah, bundar[22]
Misalnya:
[ʔɔsɔm] 'perangkap ikan'
[bɔbɔdɔr] 'badut'
[gɔlɔjɔʔ] 'algojo'
/u/: vokal belakang, tinggi, bundar[22]
Misalnya:
[ʔurakʔarik] 'sayur campur sisa kemarin'
[limuŋ] 'belut besar'
[lukuʔ] 'bajak'

Catatan

  • Konsonan letus pada posisi akhir tidak dilepas.[22]
  • Konsonan /c/, /j/, sengau /ñ/, serta vokal tidak terdapat pada posisi akhir.[22]
  • Konsonan /k/ pada posisi akhir diucapkan jelas, tidak dilepas dan tidak berupa hamzah (glotal).[23]
  • Bunyi hamzah /ʔ/ pada awal kata yang dimulai dengan vokal, pada tengah kata di antara dua vokal yang sejenis dan pada akhir kata dengan suku terbuka tidak bersifat fonemis.[23]

Gugus Konsonan

Gugus konsonan yang terdapat dalam bahasa Sunda Bogor ialah:[23]

py [ʔampyak] 'bangunan tambahan rumah'
pl [gaplak] '(sejenis) penganan'
dr [bɛndrɔŋ] '(sejenis) minuman'
tr [bacɛtrɔk] 'gado-gado'
bl [bɛlɛkɛtɛblɛʔ] 'sayur campur sisa kemarin'
sr [ŋɔsɛksrak] 'serba ingin tahu'
br [jabrug] '(sejenis) alat penangkap ikan'
kr [buŋkrɤn] 'anak ikan'
kl [jəjəŋklɔk] 'bangku kecil
gr [grahaʔ] 'gerhana'

Keterangan

  1. ^ dalam dialek Bogor, kata ngopi lebih dikenal sebagai aktivitas meminum kopi, seperti pada bahasa gaul
  2. ^ serapan dari bahasa Belanda

Lihat pula

Referensi

Catatan kaki

Daftar pustaka

Pranala luar