Bahasa Sunda Ciamis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sunda Ciamis
Dialek Tenggara
Basa Sunda Ciamis
ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮎᮤᮃᮙᮤᮞ᮪
Senarai kosakata khas yang digunakan di Kabupaten Ciamis
Senarai kosakata khas yang digunakan di Kabupaten Ciamis[1]
Dituturkan diIndonesia
WilayahJawa Barat

Jawa Tengah

EtnisSunda
Banyumasan
Penutur bahasa
± 1.8 juta  (2020)[4][5][6][a]
Kode bahasa
ISO 639-3
Glottologciam1234
Linguasfer31-MFN-ag
alt=   Area tempat dituturkannya bahasa Sunda Ciamis secara mayoritas   Area tempat dituturkannya bahasa Sunda Ciamis secara minoritas
  Area tempat dituturkannya bahasa Sunda Ciamis secara mayoritas
  Area tempat dituturkannya bahasa Sunda Ciamis secara minoritas
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA

Bahasa Sunda Ciamis atau dialek Ciamis[b] atau dialek Tenggara adalah sebutan untuk ragam percakapan bahasa Sunda yang dituturkan oleh masyarakat di wilayah tenggara Provinsi Jawa Barat terutama Kabupaten Ciamis,[8][9] Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran dan di wilayah barat daya Provinsi Jawa Tengah seperti Kabupaten Cilacap.[10] Dialek ini merupakan varietas bahasa dan dianggap berada di salah satu sisi kontinum linguistik dengan bentuk standar bahasa Sunda yaitu bahasa Sunda Priangan yang berada di sisi lainnya, sehingga menyebabkan adanya beberapa variasi leksikon yang berbeda, tetapi secara umum tidak terdapat perbedaan linguistik yang signifikan dengan bahasa Sunda Priangan.[butuh rujukan]

Keragaman kebahasaan di daerah Ciamis dipengaruhi oleh letak geografis yang dikelilingi oleh kabupaten dan daerah yang secara kebahasaan dianggap berbeda, di sebelah barat laut, timur laut, barat daya keadaan geografisnya bergunung-gunung, kemudian dataran rendah berupa rawa di sebelah timur (tengah dan selatan), keadaan jalan raya yang membelah dan membuka Ciamis ke barat ke Tasikmalaya, serta ke timur ke Jawa Tengah.[8]

Pengantar[sunting | sunting sumber]

Secara geografis, Kabupaten Ciamis (juga mencakup Kota Banjar & Kabupaten Pangandaran) dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang memiliki ciri pemakaian bahasa yang berbeda-beda. Kabupaten Tasikmalaya di sebelah barat dianggap sebagai peralihan bahasa Sunda dialek Priangan. Kabupaten Majalengka dan Kuningan di sebelah utara dianggap sebagai daerah dialek bahasa Sunda yang berbeda dengan bahasa Sunda dialek Priangan. Provinsi Jawa Tengah di sebelah timur merupakan daerah bahasa lain. Kondisi geografis yang seperti inilah yang memunculkan dugaan adanya pengaruh terhadap pemakaian bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis.[11]

Ciamis sebagai suatu kesatuan geografis juga kemungkinan memperlihatkan kekhasan pemakaian bahasa tertentu sehingga sering terdengar orang awam di Jawa Barat menyebut ada yang disebut "bahasa Sunda dialek Ciamis".[c][11][8]

Artikel ini akan menjelaskan pemerian bahasa Sunda Ciamis yang menyangkut dengan hal-hal seperti, bunyi-bunyi bahasa, pemakaian unsur-unsur khas, variasi kebahasaan yang terikat dengan kewilayahan, pengaruh dari bahasa asing, dan beberapa gejala bahasa lainnya.[11]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Wilayah kebahasaan[sunting | sunting sumber]

Peta wilayah penggunaan bahasa di Kabupaten Ciamis.[12]

Secara administratif, Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah timur. Wilayah penggunaan bahasa Sunda selain di Kabupaten Ciamis, juga digunakan di wilayah Provinsi Jawa Tengah terutama di perbatasan Ciamis bagian timur sebelah utara yang bentuk wilayah penggunaannya menjorok ke dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah (Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, dan Cimanggu).[13][14]

Lingkup penggunaan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sunda Ciamis digunakan di berbagai hal dan dalam berbagai keadaan, misalnya, di rumah, di sekolah, di masyarakat, dalam korespondensi, dan dalam media massa. Penggunaan di rumah dapat terjadi antara pembicaraan seorang anak dengan ayah, ibu, sanak saudara, famili lain, dan pramuwismanya. Penggunaan di sekolah antara lain meliputi bahasa pengantar, pergaulan antar peserta didik, antarguru, dan antar guru dan peserta didik. Penggunaan di masyarakat berlangsung dengan tetangga, kelompok etnik, berlangsung di masjid atau gereja, dalam pekerjaan, dan dalam hiburan. Penggunaan dalam korespondensi berlangsung dalam surat menyurat, baik resmi maupun pribadi. Penggunaan dalam media massa antara lain terjadi melalui radio, televisi, bioskop, rekaman, surat kabar, majalah, buku, dan pidato.[15]

Status bahasa[sunting | sunting sumber]

Menurut para penuturnya, bahasa Sunda Ciamis adalah bahasa baku karena dianggap memiliki pembakuan, otonomi, kesejarahan, dan vitalitasnya tersendiri, selain itu, para penuturnya menganggap bahwa bahasa Sunda mempunyai status yang tidak rendah. Seperti yang dibuktikan dengan penggunaan bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis yang cukup intensif.[16]

Peranan bahasa[sunting | sunting sumber]

Sesuai dengan kedudukannya, bahasa Sunda Ciamis berperan sebagai bahasa daerah dan dianggap penting sekali hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia. Dalam berbagai situasi dan kepentingan, bahasa Sunda Ciamis selalu disesuaikan. Menurut pengamatan yang telah dilakukan, bahasa Sunda Ciamis dianggap sangat penting oleh para penuturnya, di samping bahasa Indonesia yang juga mempunyai peranan yang sama pentingnya dalam kehidupan para penutur tersebut.[17][18]

Tradisi sastra[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sunda Ciamis digunakan dalam berbagai bentuk karya sastra, baik itu berupa sastra lisan, maupun sastra tulisan. Penggunaannya dapat dilihat dalam beberapa buah cerita rakyat yang diungkapkan menggunakan bahasa Sunda Ciamis.[19]

Contoh Tokoh sastra/sastrawan yang kerap mempergunakan bahasa Sunda Ciamis dalam karya-karyanya adalah Ahmad Bakri, yang merupakan seorang sastrawan dari daerah Rancah, Ciamis.[20] Beberapa karya-karyanya dapat dilihat di Google Books seperti contohnya, Payung Butut, Rajapati di Pananjung, dan Sudagar Batik.

Fonologi[sunting | sunting sumber]

Fonologi yang ditemukan pada bahasa Sunda Ciamis tidak menunjukkan adanya perbedaan dengan fonologi bahasa Sunda Standar.

Konsonan[sunting | sunting sumber]

Konsonan[21]
Cara Ucapan Dasar Ucapan
Bibir Ujung Lidah Daun Lidah Punggung Lidah Anak Tekak
Letus Tak bersuara p t c k
Bersuara b d j ɡ
Geser Tak bersuara s h
Bersuara
Nasal m n n ŋ
Sampingan l
Getar r
Luncuran w y

Vokal[sunting | sunting sumber]

Vokal[21]
Depan Tengah Belakang
Tinggi i u
ɤ
Sedang ə
Agak Rendah ɛ ɔ
Rendah a

Macam dan distribusi fonem[sunting | sunting sumber]

Tabel fonologi untuk bahasa Sunda Ciamis.

Bagan di bawah ini menunjukkan macam dan fonem bahasa Sunda Ciamis.[22]

Distribusinya adalah sebagai berikut:
/p/: Konsonan tak bersuara, bibir, letus[23]
Misalnya:
patimuʔ : bertemu
ʔampah : rata
ʔrɛpʡ : habis
/b/: Konsonan bersuara, bibir, letus[23]
Misalnya:
bəŋkokʡ : sawah/tanah inventaris desa
gɔbagʡ : permainan anak-anak
ragabʡ : 1. gembira

2. canggung

/m/: Konsonan bibir, sengau[23]
Misalnya:
mɛmɛnɛran : berpacaran
kasumpɔnan : terpenuhi
kulicəm : muka masam
/w/: Konsonan bibir, luncuran[23]
Misalnya:
wadɛh : kurang pantas
hɛwaʔ : kurang pantas
ciŋcauw : cincau
/t/: Konsonan tak bersuara, ujung lidah, letus[23]
Misalnya:
tuguʔ : keluarga
talitian : arisan
badaratʡ : 1. jalan kaki

2. berburu babi

/d/: Konsonan bersuara, ujung lidah, letus[23]
Misalnya:
danas : nanas
cɛdol : gurau
ŋelodʡ : memutar
/s/: Konsonan tak bersuara, ujung lidah, geseran[23]
Misalnya:
sɛdol : tidak berhati-hati
kɔsaraʔ : tambang besar
nərpas : menerobos, memintas
/l/: Konsonan ujung lidah, sampingan[24]
Misalnya:
ligar : mekar
lələtʡ : berputar dengan cepat
[kɔdɔl] : tumpul
/r/: Konsonan ujung lidah, getar[24]
Misalnya:
rɔrɔs : (kata umpatan)
gɔrɔl : arisan pekerjaan
lilingir : tepi, sisi
/c/: Konsonan tak bersuara, daun lidah, letus[24]
Misalnya:
cɔdɛr : jahil
cɔcɔh : kata umpatan
/j/: Konsonan bersuara, daun lidah, letus[24]
Misalnya:
jahatʡ : 1. boros

2. jahat

titələjɔgʡ : terantuk
/ɳ/: Konsonan daun lidah, sengau[24]
Misalnya:
ɳasapʡ : persiapan berladang
babaɳɔn : mencuci tangan
/y/: Konsonan daun lidah, luncuran[24]
Misalnya:
yapʡ : mari ke sini
dayaŋ : wanita tuna susila
dɤy : 1. pemanja (bagi anak laki-laki)

2. sebutan (bagi orang yang lebih muda)

/k/: Konsonan tak bersuara, punggung lidah, letus[24]
Misalnya:
kalagian : tidak seperti biasanya
kɔwakan : cerukan air (di sawah atau di sungai)
bəsəŋɛkʡ : lodeh cabai
/g/: Konsonan bersuara, punggung lidah, letus[25]
Misalnya:
gambuh : dalang
digalɔkʡ : dicampur
ɳəntɔgʡ : 'itik manila'
/n/: konsonan punggung lidah, sengau[26]
Misalnya:
ŋalɔŋ : bertandang
ŋankriŋ : taluan lesung (waktu hendak selamatan)
ŋɔbɛŋ : menangkap ikan hanya dengan tangan
/h/: konsonan tak bersuara, anak tekak, geseran[26]
Misalnya:
hagɤy : ya
mahprahan : memberitahukan pertemuan
lɛmpɛh : reda
/i/: vokal depan, agak tinggi, tak bundar[26]
Misalnya:
ʔicakan : petak sawah kecil
bəlikan : cepat tersinggung
cipatiʔ : santan
/ɛ/: vokal depan, agak rendah, tak bundar[26]
Misalnya:
ʔɛtɛh : 'panggilan (untuk wanita yang lebih tua)'
bɛŋkoŋ : dukun sunat
gulɛʔ : gulai
/a/: vokal tengah, rendah, tak bundar[26]
Misalnya:
ʔamriŋ : habis
sanaɔn : berapa
muharaʔ : muara
/ə/: vokal tengah, sedang, tak bundar[26]
Misalnya:
ʔəndiʔ : mana
budəgʡ : tuli
/ɤ/: vokal belakang, tinggi, bundar[27]
Misalnya:
ʔɤcɤʔ : sebutan (untuk wanita yang lebih tua)
sɤsɤrian : tertawa-tawa
: mari ke sini
/ɔ/: vokal belakang, agak rendah, bundar[28]
Misalnya:
ʔɔgɔʔ : manja
ŋɔbɔs : berbincang-bincang
ŋalɛkoʔ : berliku-liku
/u/: vokal belakang, tinggi, bundar[28]
Misalnya:
ʔusumŋijih : musim hujan
ŋulucur : memancar
ləduʔ : malas

Catatan[sunting | sunting sumber]

  • Konsonan letus pada posisi akhir tidak dilepas.[28]
  • Konsonan /c/, /j/, sengau /ɳ/, serta vokal /ə/ tidak terdapat pada posisi akhir.[28]
  • Konsonan /k/ pada posisi akhir diucapkan jelas, tidak dilepas dan tidak berupa hamzah (glotal).[28]
  • Bunyi hamzah /ʔ/ pada awal kata yang dimulai dengan vokal, pada tengah kata di antara dua vokal yang sejenis, dan pada akhir kata dengan suku terbuka tidak bersifat fonemis.[28]

Gugus konsonan[sunting | sunting sumber]

Gugus konsonan yang dimiliki oleh bahasa Sunda Ciamis berupa konsonan letus yang diikuti oleh /r/, /l/, atau /y/, dan konsonan /s/ yang diikuti /r/ atau /l/. Di bawah ini dijabarkan beberapa contohnya[29]

pr : ʔamprok : berjumpa
pl : caplakʡ : alat pertanian
py : ampyaŋ : (panganan)
br : dɔbrah : bobol
bl : ʔɔblɔkʡ : sejenis bakul
by : ʔubyagʡ : umum
tr : kɔntraŋ : sejenis keranjang
dr : balɛndraŋ : sayur sisa
kr : ŋankriŋ : taluan lesung (waktu hendak selamatan)
kl : klandiŋan : petai cina
gr : jagragʡ : tersedia
gl : səglɔŋ : telan
cr : kancraʔ : ikan mas
cl : clɔbɛkan : petak sawah kecil
jr : gajrugʡ : gapai
jl : gajləŋ : lompat
sr : sraŋɛŋɛʔ : matahari

Kontras konsonan dan vokal[sunting | sunting sumber]

Dalam wilayah ucapan dicurigai adanya beberapa kontras konsonan dan vokal yang di antaranya:[30]

/p : t/ paraʔ : taraʔ : langit-langit : tak pernah
/c : k/ dicanduŋ : dikanduŋ : dimadu : dikandung
/b : d/ bukaʔ : dukaʔ : buka : tidak tahu
/j : g/ jəroʔ : gəroʔ : dalam : panggil
/s : h/ panas : panah : panas : panah
/m : n/ manah : nanah : hati : nanah
/l : r/ lanjaŋ : ranjaŋ : gadis : tempat tidur
/w : y/ ʔawi : ʔayi : bambu : adik
/i : u/ ʔirit : ʔirut : hemat : tarik
/ɤ : u/ tɤtɤp : tutup : tatap : tutup
/ɛ : ə/ sɛrah : sərah : bulir padi : serah
/a : ɔ/ jagaʔ : jagoʔ : kelak : jago

Unsur-unsur khas[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Prawiraatmaja, Suriamiharja & Hidayat dalam buku Geografi Dialek Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis (1979), ditemukan adanya unsur-unsur yang khas dipergunakan di wilayah Kabupaten Ciamis, juga di dalam buku Kamus Basa Sunda (2006) karya R.A. Danadibrata, tercatat beberapa entri yang memuat kosakata khas yang digunakan di wilayah Ciamis,[31] unsur-unsur tersebut dijabarkan di bawah ini.[32][33][34]

Unsur leksikal[sunting | sunting sumber]

No. Leksikon Glos Ref. No. Leksikon Glos Ref. No. Leksikon Glos Ref. No. Leksikon Glos Ref.
1 amring habis [35] 11 karari daun kelapa kering [36] 21 kosi pernah [37] 31 mantak kalau-kalau [38]
2 ligar mekar [39] 12 corabi serabi [40] 22 tugu keluarga [41] 32 kalagian tumben [36]
3 mantang ubi jalar [42] 13 bagedor pohon pisang [43] 23 lalangko alat pemikul [44] 33 sanaon berapa [45]
4 becis dingin [46] 14 géndot genjer [47] 24 kancra ikan mas [48] 34 kodol tumpul [49]
5 garit/garitan alat pertanian [50] 15 jahat boros [51] 25 amil lebai [52] 35 bagbagan tempat

mencuci di pinggir kolam

[53]
6 bédan jelek [46] 16 janggél (panganan) [54] 26 ngaruy gerimis [55] 36 belis setan [56]
7 cipatri santan [57] 17 tukang kemasan tukang mas [58] 27 hageuy ya [59] 37 béngkong dukun sunat [60]
8 pané dulang [61] 18 usuk kaso-kaso [61] 28 nyéréd menarik dari depan [62] 38 gandul pepaya [63]
9 gobag (permainan anak-anak) [64] 19 kuwu kepala desa [65] 29 padasan tempat wudu [66] 39 cuang (mari) kita [67]
10 danas nanas [68] 20 golongan kepala kampung [69] 30 roros (kata umpatan) [70] 40 ogén juga [71]

Unsur morfologis[sunting | sunting sumber]

Unsur khas yang ditemukan dalam tataran leksikal di antaranya yaitu:[55]

  1. pak- (awalan), sebuah morfem sintaktik[72]

Unsur morfosintaksis[sunting | sunting sumber]

  1. ka-(A)/sing ka-(A) = sing (A) dalam bahasa Sunda Standar.[73]

Variasi kebahasaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan daerah kebahasaannya, kekhasan bahasa Sunda Ciamis juga dapat dibagi lagi ke dalam beberapa sub-wilayah, seperti daerah utara dan daerah selatan. Perbandingan kekhasan daerah utara dan selatan tersebut dapat dijabarkan di bawah ini.[74]

No. Utara Selatan Ref. Glos No. Utara Selatan Ref. Glos No. Utara Selatan Ref. Glos
1 énéng gudél [75] anak kerbau 9 jango angkatan [76] tangkai sejenis

alat penangkap ikan

17 léngké langko/lalangko [44] alat pemikul
2 anak sapi gudél [77] anak sapi 10 galah gobag [64] permainan

anak-anak

18 muhara muara [78] muara
3 papangé bangbarung

babancik

[79] kayu bagian

pintu yang terlangkahi

11 bagedor gebog

gedebong

gedebog

[43] pohon pisang 19 oblok tolombon leutik [80] sejenis bakul
4 warang bésan [81] besan 12 janggél ganyél

baganyél

jalén

[54] panganan 20 raginang rangginang [82] panganan
5 (ka)lungguh(an) bengkok [83] sawah/tanah

inventaris desa

13 kacang

banten

kacang

manila

[84] kacang tanah 21 sangu poé sangu wadang [85] nasi sisa
6 cingcau camcau [86] cincau 14 lurah/rurah golongan [69] kepala kampung 22 sorabi surabi [40] serabi
7 cipatri cipatri [87] santan 15 icakan kotakan [88] petak sawah kecil 23
8 ganong derep [89] menuai 16 kungsi kosi [37] pernah 24

Variasi di daerah pesisir[sunting | sunting sumber]

Di daerah pesisir seperti Pangandaran, bahasa Sunda memiliki beberapa variasi lagi yang berkenaan dengan lafal, bentuk kata, dan arti. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Afsari dan Muhtadin (2019) dalam jurnal kebahasaan Pustaka,[90] ditemukan adanya perbedaan fonologis, perbedaan morfologis, perbedaan semantis, dan perbedaan onomasiologis, seperti yang dijabarkan di bawah ini.[91][92][93]

Perbedaan fonologis Perbedaan morfologis Perbedaan semantis Perbedaan onosmasiologis
Variasi

bahasa

Bentuk

Standar

Glos Variasi

bahasa

Bentuk

Standar

Glos Variasi

bahasa

Bentuk

Standar

Glos Variasi

bahasa

Bentuk

Standar

Glos
cucun turun turun koh ongkoh (kata penujuk) kanjat meujeuhna cukup atau pas (sesuai) siram mandi mandi
uhun muhun iya curugan curug air terjun kunir konéng kunyit tangkar tulang sapi tulang sapi[d]
miando mindo menambah nasi harah har (interjeksi) balandongan panggung panggung pertunjukan
baé waé lagi, saja samarukeun sarukeun disamakan mendi mana mana

Begitu pula dengan hasil penelitian Widyastuti (2017) dalam jurnal bahasa sastra dan budaya Lokabasa,[94] ditemukan bermacam-macam istilah pemakaian bahasa Sunda di wilayah Sidamulih, Pangandaran yang berbeda dengan bahasa Sunda baku,[95] berkenaan dengan istilah keturunan,[96] kata ganti,[96] bagian rumah,[97] peralatan,[97] makanan dan minuman,[97] penyakit,[97] pekerjaan,[97] tumbuhan dan buah-buahan,[97] hewan,[98] sifat-sifat manusia,[98] musim dan keadaan alam,[98] serta istilah kehidupan desa dan masyarakat.[98] Ditemukan pula adanya perbedaan fonetik,[99] semantis,[100] onosmasiologis,[101] dan semasiologis.[102]

Gejala bahasa lainnya[sunting | sunting sumber]

Adanya gejala-gejala dalam bahasa Sunda Ciamis menimbulkan perbedaan bunyi yang menciptakan variasi berupa sinonoim atau kata-kata yang maknanya sama tetapi bunyinya berbeda. Gejala-gejala tersebut dijabarkan di bawah ini.[103]

Variasi bunyi[sunting | sunting sumber]

Variasi kosakata untuk menyatakan konsep "tumpul" di wilayah Ciamis

Vokal[sunting | sunting sumber]

  1. ɤ dan e : lɤpɤt dan lepetʡ 'sejenis lontong'[104]
  2. a dan ɔ : dɔbrah dan dɔbroh 'bobol'[104]
  3. ɛ dan ɔ : cɛlɛbɛkan dan cɔlɔbɛkan 'petakan sawah kecil'[104]
  4. a dan ə : diharəbʡ dan dihərəbʡ 'diiris'[104]
  5. u dan ɔ : kusi dan kɔsi 'pernah'[104]
  6. a dan i : kalikibən dan kilikibən 'sakit perut setelah makan'[104]
  7. a dan ɛ : gandonɤn dan gɛndonɤn gondok'[104]
  8. i dan ɛ : niniʔ dan nɛnɛʔ 'nenek'[104]
  9. i dan ɔ : ʔəniŋ dan ʔənɔŋ 'sebutan untuk perempuan'[104]
  10. i dan ə : patimuʔ dan patemuʔ 'bertemu'[104]

Konsonan[sunting | sunting sumber]

  1. h dan k : digalɔh dan digalɔk 'dicampur'[104]
  2. g dan h : gədəbɔgʡ dan gədəbɔŋ 'pohon pisang'[104]
  3. g dan r : gədəbɔgʡ dan gədəbɔr 'pohon pisang'[104]
  4. ŋ dan r : gədəbɔŋ dan gədəbɔr 'pohon pisang'[104]
  5. b dan p : cɛlɛbɛkan dan cɛlɛpɛkan 'petakan sawah kecil'[104]
  6. c dan s : kacumpɔnan dan kasumpɔnan 'terpenuhi'[104]
  7. d dan g : danas dan ganas 'nanas'[104]
  8. l dan h : gaɳɔl dan gaɳɔh 'sejenis ubi'[104]
  9. l dan b : gudɛl dan gudɛbʡ 'anak kerbau'[104]
  10. p dan t : lɛspar dan lɛstar 'datar'[104]
  11. b dan g : bəncɔy dan gəncɔy 'sejenis kepundung'[104]
  12. t dan d : bɛtan dan bɛdan 'jelek'[104]
  13. ŋ dan n : taluŋtas dan taluntas 'beluntas'[104]
  14. n dan r : risban dan risbar 'bakau'[104]
  15. w dan t : waluntas dan taluntas 'beluntas'[104]
  16. w dan b : wakul dan bakul 'dicampur'[104]

Penggugusan[sunting | sunting sumber]

  1. pontan → pɔntran 'tempat membawa makanan'[105]
  2. cɔlɔbɛkan → clɔbɛkan 'petakan sawah kecil'[105]
  3. cipatiʔ → cipatriʔ 'santan'[105]

Penghilangan fonem di awal[sunting | sunting sumber]

  1. naran → ʔaran 'nama'[105]
  2. tɛtɛh → ʔɛtɛh 'sebutan untuk wanita yang lebih tua[105]
  3. bibi → ʔibi 'bibi'[105]

Penghilangan fonem di tengah[sunting | sunting sumber]

  1. buhayaʔ → buayaʔ 'buaya'[105]
  2. muharaʔ → muaraʔ 'muara'[105]
  3. titiŋkuhɤn → titiŋkuɤn 'sejenis penyakit'[105]

Penghilangan fonem di akhir[sunting | sunting sumber]

  1. saladah → saladaʔ 'selada'[105]
  2. ganɔl → ganɔʔ 'sejenis ubi'[105]

Penambahan fonem di awal[sunting | sunting sumber]

  1. bal → ʔəbal 'bola'[105]
  2. bel → ʔəbel 'sejenis kapak'[105]
  3. wɔŋ → ʔəwɔŋ 'orang'[105]

Penambahan fonem di tengah[sunting | sunting sumber]

  1. mutuʔ → muntuʔ 'muntu'[105]
  2. matakʡ → mantakʡ 'kalau-kalau'[105]
  3. gəbɔgʡ → gədəbɔgʡ 'pohon pisang'[105]

Penambahan unsur ka di awal[sunting | sunting sumber]

  1. mɛntɛŋ → kamɛntɛŋ '(sejenis) dukuh'[e][105]

Penambahan unsur ra di awal[sunting | sunting sumber]

  1. mɛntɛŋ → ramɛntɛŋ '(sejenis) dukuh'[105]

Penggabungan[sunting | sunting sumber]

  1. saladah aɛr → saladaɛr 'selada air'[f][106]

Metatesis[sunting | sunting sumber]

  1. lɔgɔjɔ → gɔlɔjɔʔ 'algojo'[106]
  2. ŋədul → ŋəlud 'malas'[106]
  3. laduʔ → daluʔ 'terlalu masak'[106]

Perulangan suku kata awal (dwipurwa)[sunting | sunting sumber]

  1. bɛlɛcɛkʡ → bɛbɛlɛcɛkʡ 'petak sawah kecil'[106]
  2. caŋkir → cacaŋkir 'gelas'[106]
  3. dəmpəl → dədəmpəl 'panganan dari jagung'[106]
  4. gajih → gagajih 'lemak'[106]
  5. jəŋkɔk → jəjəŋkɔk 'kursi kecil'[106]
  6. kərak → kəkərakʡ 'intip'[106]
  7. lamukʡ → lalamukʡ 'mega'[106]
  8. mutuʔ → mumutuʔ 'muntu'[106]

Variasi perulangan utuh (dwilingga) dan perulangan suku kata awal (dwipurwa)[sunting | sunting sumber]

  1. ʔɤrihʔ ɤrihɤn → ʔɤɤrihɤn 'sejenis penyakit'[106]
  2. kamiʔ kamian → kakamian 'masing-masing'[106]
  3. mɛnɛrmɛnɛran → mɛmɛnɛran 'berkasih-kasihan'[106]

Perulangan utuh (dwilingga) dan perubahan vokal[sunting | sunting sumber]

  1. ʔumah ʔumah 'berumah tangga'[106]
  2. sanakʡ sanakʡ 'saudara sepupu'[106]
  3. rawas rawas 'sayup-sayup, samar-samar'[106]
  4. tabaŋ tabaŋ 'samar-samar'[106]
  5. camatʡ cimutʡ 'makan tidak bernafsu'[106]
  6. kulaŋ kalɛŋ 'tangkai alat penangkap ikan'[106]
  7. putar patɛr 'tak terkelola'[106]
  8. sipah sipih 'jahil'[106]
  9. ʔugaʔ ʔagɛʔ 'bergegas'[106]
  10. umplaŋampleŋ 'luntang-lantung'[106]
  11. uŋkal ɛŋkɔl 'berbelit-belit'[107]
  12. ʔurayʔaruy 'ke sana ke mari bersama-sama'[107]

Tambah unsur an di akhir[sunting | sunting sumber]

  1. garitʡ-garitan 'alat pertanian'[107]
  2. cəprɛtʡ-cəprɛtan 'alat tukang kayu'[107]

Di samping gejala sinonim, ditemukan pula gejala homonim atau kata yang sebentuk tetapi mempunyai makna yang berbeda.[107]

ʔirigʡ 1. 'tempat menjemur opak' 2. 'alat penangkap ikan'
jahatʡ 1. 'boros' 2. 'jahat'
badaratʡ 1. 'jalan kaki' 2. 'berburu babi'
kaguguʔ 1. 'ingin tertawa' 2. 'terbawa'
ŋalɔŋ 1. 'bergadang' 2. 'menatap lama misalnya dari jendela'
kapiŋ 1. 'tanggal' 2. 'batas'
mancuŋ 1. 'mancung' 2. 'seludang kelapa'
ləpatʡ 1. 'lupa' 2. 'salah'
ligar 1. 'mekar' 2. 'luruh'
jarambah 1. 'senang bermain jauh' 2. 'tempat mencuci di atas kolam'
gəbɔgʡ 1. 'pohon pisang' 2. 'sejenis bakul'
ragabʡ 1. 'canggung' 2. 'senang'
katikʡ 1. 'didik' 2. 'pakai'
kəciŋ 1. 'penakut' 2. 'kecut' 3. 'malas'
ɳeredʡ 1. 'menarik' 2. 'mendorong' 3. 'menggeser'

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ didasarkan pada hitungan kasar jumlah penduduk di wilayah tersebut dan asumsi semua penduduk di wilayah tersebut menggunakan dialek ini
  2. ^ Glottolog versi 4.5 menuliskan dialek Ciamis dengan kesalahan penulisan sebagai Ciamas[7]
  3. ^ Kebenaran pendapat umum ini masih harus terus dibuktikan, antara lain dengan meneliti kekhasan kebahasaan di kabupaten-kabupaten dan daerah sekeliling Kabupaten Ciamis, dan kemudian membandingkannya dengan kekhasan kebahasaan di daerah Ciamis yang telah dikemukakan.
  4. ^ kata tangkar di daerah Pangadaran digunakan untuk menyatakan tulang sapi, sedangkan dalam bahasa Sunda Priangan, tangkar digunakan untuk menyatakan tulang hewan yang masih muda atau lunak, seperti tulang telinga dan tulang iga pada burung.
  5. ^ Unsur ka di sini bukan merupakan awalan karena ka berhadapan dengan kata benda. Dalam bahasa Sunda tidak ada ka awalan yang diikuti kata benda.
  6. ^ Kata saladah 'selada' dan aɛr 'air' diduga menjadi asal dari kata ini.

Sitiran[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 32-33.
  2. ^ Wahyuni (2010), hlm. 72.
  3. ^ Hidayat (2014), hlm. 2.
  4. ^ Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis (2020).
  5. ^ Maarif (2021).
  6. ^ Kementerian Dalam Negeri (2020).
  7. ^ Hammarström, Forkel & Haspelmath (2021).
  8. ^ a b c Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 70.
  9. ^ Wagiati, Darmayanti & Zein (2021), hlm. 154.
  10. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 71.
  11. ^ a b c Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 18.
  12. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 13.
  13. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 11.
  14. ^ Wagiati, Darmayanti & Zein (2021), hlm. 160.
  15. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 12.
  16. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 13-14.
  17. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 14.
  18. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 15.
  19. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 16-17.
  20. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 17.
  21. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 19.
  22. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 18-23.
  23. ^ a b c d e f g Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 20.
  24. ^ a b c d e f g Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 21.
  25. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 21-22.
  26. ^ a b c d e f Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 22.
  27. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 22-23.
  28. ^ a b c d e f Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 23.
  29. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 23-24.
  30. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 24.
  31. ^ Wahya (2018), hlm. 165.
  32. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 25-37.
  33. ^ Wahya (2018), hlm. 162.
  34. ^ Wahya (2018), hlm. 166.
  35. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 80.
  36. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 31.
  37. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 133.
  38. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 33.
  39. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 92.
  40. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 175.
  41. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 134.
  42. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 93.
  43. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 114.
  44. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 136.
  45. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 170.
  46. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 27.
  47. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 116.
  48. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 137.
  49. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 145.
  50. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 99.
  51. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 120.
  52. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 138.
  53. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 85.
  54. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 121.
  55. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 26.
  56. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 89.
  57. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 28.
  58. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 125.
  59. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 30.
  60. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 90.
  61. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 128.
  62. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 154.
  63. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 115.
  64. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 110.
  65. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 130.
  66. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 156.
  67. ^ Danadibrata (2006), hlm. 149.
  68. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 111.
  69. ^ a b Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 131.
  70. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 166.
  71. ^ Danadibrata (2006), hlm. 472.
  72. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 173.
  73. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 37.
  74. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 60-61.
  75. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 81.
  76. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 109.
  77. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 82.
  78. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 147.
  79. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 86.
  80. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 155.
  81. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 91.
  82. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 168.
  83. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 100.
  84. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 124.
  85. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 172.
  86. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 102.
  87. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 103.
  88. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 132.
  89. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 105.
  90. ^ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 13-16.
  91. ^ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 14.
  92. ^ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 15.
  93. ^ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 16.
  94. ^ Widyastuti (2017), hlm. 101-111.
  95. ^ Widyastuti (2017), hlm. 103.
  96. ^ a b Widyastuti (2017), hlm. 104.
  97. ^ a b c d e f Widyastuti (2017), hlm. 105.
  98. ^ a b c d Widyastuti (2017), hlm. 106.
  99. ^ Widyastuti (2017), hlm. 106-107.
  100. ^ Widyastuti (2017), hlm. 108.
  101. ^ Widyastuti (2017), hlm. 109-110.
  102. ^ Widyastuti (2017), hlm. 110.
  103. ^ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 64-69.
  104. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 64.
  105. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 67.
  106. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 68.
  107. ^ a b c d e Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 69.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Sampul buku Geografi Dialek Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis

Bahasa Sunda Ciamis[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sunda Umum[sunting | sunting sumber]