Kota Depok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Koordinat: 6°22′21″S 106°49′39″E / 6.37250°S 106.82750°E / -6.37250; 106.82750

Kota Depok
Transkripsi bahasa daerah
 • Sundaᮓᮦᮕᮧᮊ᮪
 • Sunda LatinDépok
Panorama Kota Depok di Jalan Margonda Raya
Panorama Kota Depok di Jalan Margonda Raya
Bendera Kota Depok
Lambang resmi Kota Depok
Julukan: 
Kota Belimbing
Motto: 
Paricara dharma
(Sanskerta) Abdi kebaikan, kebenaran, dan keadilan
Himne daerah: Damai Depokku
Map of West Java highlighting Depok City.svg
Kota Depok di Jawa Barat
Kota Depok
Kota Depok
Kota Depok di Jawa
Kota Depok
Kota Depok
Kota Depok di Indonesia
Kota Depok
Kota Depok
Koordinat: 6°24′18″S 106°49′02″E / 6.405031°S 106.8173077°E / -6.405031; 106.8173077
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
Tanggal berdiri27 April 1999; 23 tahun lalu (1999-04-27)
Dasar hukumUndang-Undang Nomor 15 Tahun 1999
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 11
  • Kelurahan: 63
Pemerintahan
 • Wali KotaMohammad Idris
 • Wakil Wali KotaImam Budi Hartono
 • Sekretaris DaerahSupian Suri
 • Ketua DPRDYusufsyah Putra
Luas
 • Total200,29 km2 (77,33 sq mi)
 • Luas perairan1,69 km2 (0,65 sq mi)
Populasi
 • Total2.056.335
 • Peringkat8
 • Kepadatan9.421/km2 (24,400/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam (93,07%)
Kekristenan (6,37%)
Protestan (4,83%)
Katolik (1,54%)
Buddha (0,28%)
Hindu (0,17%)
Konghucu (0,08%)
Kepercayaan (0,03%)
 • Bahasa
 • IPMKenaikan 81,37 (2021)
sangat tinggi[2]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
Kode area telepon021
Pelat kendaraanB xxxx E**/Z**
Kode Kemendagri32.76 Edit the value on Wikidata
Kode SNI 7657-2010DPK
APBDRp 3,3 miliar (2023)[3]
DAURp 946.332.371.000.- (2022)[4]
Flora resmiBelimbing
Fauna resmiBurung Gagak
Situs webSitus web resmi

Depok adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Barat, Indonesia. Kota Depok merupakan bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabekpunjur dan berada di bagian selatan Jakarta. Kota Depok dibentuk dari wilayah Kota Administratif Depok dengan penambahan wilayah dari Kecamatan Limo, Kecamatan Cimanggis, dan Kecamatan Sawangan, serta sebagian dari Kecamatan Bojonggede yang digabungkan dengan Kecamatan Pancoran Mas.[5] Tanggal peresmian Kota Depok ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Depok

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Ketika zaman Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan Indonesia, wilayah Depok modern terpisah dalam tiga kawedanan yang berbeda di Kabupaten Bogor, diantaranya:[6][7]

Pada tahun 1898, 1909, dan 1933, Kecamatan Depok yang berada di bawah Kawedanan Parung tersebut masuk ke dalam suatu distrik yang berpusat di Parung, Afdeling Buitenzorg.[10][11][12] Setelah dihapusnya kawedanan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 1963,[13] Kecamatan Depok saat itu terdiri dari 11 desa, yaitu Depok, Depok Jaya, Pancoran Mas, Mampang, Rangkapan Jaya, Rangkapan Jaya Baru, Beji, Kemirimuka, Pondokcina, Tanahbaru, dan Kukusan.[14]

Depok pernah menjadi pusat Keresidenan Jakarta berdasarkan Keputusan Gubernur Batavia per tanggal 11 April 1949 Nomor Pz/177/G.R. yang dimuat di dalam Javasche Courant Nomor 31. Residensi ini membubarkan Regentschap Meester Cornelis yang terbentuk sejak 1925.[15]

Kota Depok (1999–sekarang)[sunting | sunting sumber]

Meningkatnya arus urbanisasi pada era 1960-an hingga 1970-an, DKI Jakarta di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin melakukan kajian dalam upaya perluasan wilayah Jakarta.[16] Saat itu, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik memetakan wilayah-wilayah yang berada di sekitar Jakarta, seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bekasi untuk menjadi sebuah kawasan baru yang dikembangkan. Menurut Ali Sadikin, gagasan tersebut akan memakai anggaran yang besar dan lebih dominan melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sebelumnya, pemerintah lebih dulu berinisiatif memperluas wilayah Jakarta hingga Ciawi, Cibinong, Bekasi, dan Tangerang. Oleh karenanya, Ali menugaskan jajarannya untuk mengkaji perluasan wilayah Jakarta. Alhasil, wilayah Cibinong, Bekasi, dan Depok dianggap strategis dan berpeluang untuk bergabung dengan DKI Jakarta. Hal inilah yang menjadi cikal bakal kawasan Jabodetabekpunjur.

Sebelum diusulkan menjadi kota madya, Wali Kota Administratif Depok, Badrul Kamal mengajukan beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor untuk bergabung dengan Depok. Pada saat itu, Kota Administratif Depok hanya memiliki tiga kecamatan, yaitu Pancoran Mas, Beji, dan Sukmajaya, di mana untuk membentuk sebuah kota diperlukan setidaknya enam kecamatan.[17]

Kemudian, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bogor mengadakan pertemuan untuk membahas pemekaran Kota Depok dari Kabupaten Bogor. Badrul menerangkan peluang Depok menjadi kota madya dari segi sosial, ekonomi, demografi, kebudayaan, politik, dan sebagainya.[17] Hasil pertemuan tersebut dibahas kembali dalam sidang pleno dan menyetujui pembentukan Kota Depok. Sepuluh hari kemudian, hasil sidang pleno itu diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat dan pada akhirnya berakhir di tingkat pusat, yakni Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya mengesahkan pembentukan Kota Depok bersamaan dengan Kota Cilegon pada tanggal 27 April 1999. Pengesahan undang-undang tersebut dikawal oleh tokoh masyarakat di Kota Depok. Seminggu setelahnya, Depok secara resmi berdiri sebagai kotamadya, sekaligus mengakhiri status Depok sebagai kota administratif.[5] Beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor, di antaranya Limo, Cimanggis, dan Sawangan, dimasukkan ke wilayah Kota Depok. Tidak hanya itu, desa-desa di Kecamatan Bojonggede digabungkan dengan Kecamatan Pancoran Mas, seperti Bojong Pondok Terong, Ratujaya, Pondok Jaya, Cipayung, dan Cipayung Jaya. Peresmian Kota Depok sekaligus melantik Badrul Kamal sebagai penjabat sementara Wali Kota Depok.[17]

Pada tahun 2007, subwilayah di Kota Depok dimekarkan menjadi 11 kecamatan dan 63 kelurahan. Pemekaran tersebut disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok. Berikut merupakan daftar kecamatan dan kelurahan yang dimekarkan:

  1. Kecamatan Bojongsari yang dimekarkan dari Kecamatan Sawangan, meliputi beberapa kelurahan, di antaranya Bojongsari Lama, Bojongsaribaru, Serua, Pondokpetir, Curug, Durenmekar, dan Durenseribu.
  2. Kecamatan Cilodong yang dimekarkan dari Kecamatan Sukmajaya, meliputi beberapa kelurahan, di antaranya Cilodong, Sukamaju, Kalibaru, Kalimulya, dan Jatimulya.
  3. Kecamatan Cinere yang dimekarkan dari Kecamatan Limo, meliputi beberapa kelurahan, di antaranya Cinere, Gandul, Pangkalan Jati, dan Pangkalan Jati Baru.
  4. Kecamatan Cipayung yang dimekarkan dari Kecamatan Pancoran Mas, meliputi beberapa kelurahan, di antaranya Cipayung, Cipayung Jaya, Ratujaya, Bojong Pondok Terong, dan Pondok Jaya.
  5. Kecamatan Tapos yang dimekarkan dari Kecamatan Cimanggis, meliputi beberapa kelurahan, di antaranya Tapos, Leuwinanggung, Sukatani, Sukamaju Baru, Jatijajar, Cilangkap, dan Cimpaeun.

Bergabungnya Kota Depok ke wilayah DKI Jakarta kembali diwacanakan oleh Wali kota Depok, Mohammad Idris.[18] Ia mencanangkan pembentukan Jakarta Raya seusai tidak lagi menjadi ibu kota Indonesia pada tahun 2024. Idris menuturkan bahwa Jakarta memiliki persamaan dengan daerah-daerah penyangganya, seperti Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Persamaan tersebut terkait dengan permasalahan-permasalahan yang ada, seperti kemacetan dan banjir, sehingga pembangunan dapat direalisasikan.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Wali Kota[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah daftar Wali Kota Depok secara definitif sejak tahun 2000 di bawah Pemerintah Republik Indonesia.

Nomor urut Wali Kota Potret Partai Awal Akhir Masa jabatan Periode Wakil Ref.
1   Badrul Kamal
(lahir 1945)
Independen 15 Maret 2000 15 Maret 2005 5 tahun, 0 hari 1
(2000)
Yus Ruswandi
2000–2005
[19][20]
2 Nur Mahmudi Ismail
(lahir 1961)
Mayor of Depok Nur Mahmudi Ismail (2011).jpg PKS 26 Januari 2006 26 Januari 2011 5 tahun, 0 hari 2
(2005)
Yuyun Wirasaputra
2006–2011
[21][22]
26 Januari 2011 26 Januari 2016 5 tahun, 0 hari 3
(2010)
Mohammad Idris
2011–2016
[23][24]
3 Mohammad Idris
(lahir 1961)
Mayor of Depok Mohammad Idris, 2021.png Independen 17 Februari 2016 17 Februari 2021 5 tahun, 0 hari 4
(2015)
Pradi Supriatna
2016–2021
[25]
PKS 26 Februari 2021 Petahana 1 tahun, 341 hari 5
(2020)
Imam Budi Hartono
2021–sekarang
[26][27]
[28]


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Depok berdasarkan asal partai politik dalam lima periode terakhir.

Periode Jumlah kursi Kursi PDI-P Kursi PAN Kursi PPP Kursi Golkar Kursi PKS Kursi PKB Kursi PBB Kursi PKP Kursi Demokrat Kursi Gerindra Kursi Hanura Kursi NasDem Kursi PSI Kursi PP Kursi TNI/Polri Kursi PDS
1999–2004 45 12 7 7 6 3 2 1 1 1 5
2004–2009 45 5 5 4 8 12 2 0 0 8 1
2009–2014 50 5 6 1 7 11 1 0 0 15 3 0 1
2014–2019 50 11 6 4 5 6 1 0 0 5 9 2 1
2019–2024 50 10 4 2 5 12 3 0 0 3 10 0 0 1
Jumlah 43 28 18 31 44 9 1 1 31 22 2 1 1 1 5 2


Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kota Depok memiliki 11 kecamatan dan 63 kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 1.809.120 jiwa dengan luas wilayah 200,29 km² dan sebaran penduduk 9.032 jiwa/km².[29][30]


Daftar Kecamatan dan Kelurahan di Kota Depok, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Ibu kota Jumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
32.76.06 Beji Beji 6
32.76.11 Bojongsari Bojongsari Lama 7
32.76.08 Cilodong Cilodong 5
32.76.02 Cimanggis Cisalak Pasar 6
32.76.09 Cinere Cinere 4
32.76.07 Cipayung Cipayung 5
32.76.04 Limo Limo 4
32.76.01 Pancoran Mas Depok 6
32.76.03 Sawangan Sawangan Lama 7
32.76.05 Sukmajaya Mekarjaya 6
32.76.10 Tapos Tapos 7
Jumlah 63


Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Karakteristik suku bangsa penduduk Kota Depok memiliki keberagaman. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2000, sebagian besar penduduk Kota Depok adalah orang Betawi, Jawa, dan Sunda. Jumlah yang signifikan juga berasal dari suku Batak, dan Minangkabau. Keberagaman suku bangsa di Kota Depok memengaruhi perbedaan budaya dan adat istiadat masyarakat. Berikut adalah besaran penduduk Kota Depok berdasarkan suku bangsa sesuai data Sensus Penduduk tahun 2000;[31]

No Suku Jumlah 2000 %
1 Betawi 390.419 34,20%
2 Jawa 320.770 28,10%
3 Sunda 292.706 25,65%
4 Batak 32.776 2,87%
5 Minangkabau 26.928 2,36%
6 Tionghoa 3.383 0,30%
7 Cirebon 833 0,07%
8 Suku lainnya 73.601 6,45%
Kota Depok 1.141.416 100%

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan Formal TK atau RA SD atau MI SMP atau MTs SMA atau MA SMK Perguruan Tinggi Lainnya
Negeri 3 207 34 15 4 5
Swasta 498 352 293 84 126 30 606
Total 501 559 327 99 130 35 606
Data Sekolah di Kota Depok
Sumber:[32][33]

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah jalur transportasi umum di Kota Depok:

Jalan raya[sunting | sunting sumber]

Terdapat ruas jalan tol berikut di Depok:

Jalan raya di Depok di antaranya adalah:

Selain itu, Kota Depok dilalui oleh Jalur KA Manggarai-Padalarang.

Terminal[sunting | sunting sumber]

Jalan Gedoran Depok №39, Depok, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat 16431.

Jalan Raya Bogor №12, Jatijajar, Kec. Tapos, Kota Depok, Jawa Barat 16451.

Jalan Sawangan Permai №36, Sawangan Baru, Kec. Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat 16511.

Jalan Raya Cipayung Jaya №41, Bojong Pondok Terong, Kec. Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat 16437

Jalan Raya Jatimulya №22, Jatimulya, Kec. Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat 16413.

Jalan Raya Leuwinanggung №17, Leuwinanggung, Kec. Tapos, Kota Depok, Jawa Barat 16456.[44][45]

Stasiun[sunting | sunting sumber]

Kota Depok memiliki 6 stasiun KRL, 1 stasiun LRT Jabodebek, diantaranya:

Selain itu, Kota Depok juga memiliki 1 stasiun yang sudah berhenti beroperasi dikarenakan Tragedi Ratu Jaya, yaitu:

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Perumahan[sunting | sunting sumber]

Menurut data Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok tahun 2022, jumlah perumahan di Depok hingga kini ada sekitar 520 perumahan.[46]

Tempat Ibadah[sunting | sunting sumber]

Depok memiliki 387 Masjid [47] dan 83 Musala, 33 Gereja Kristen, 5 Gereja Katolik Roma, 2 Pura, 1 Wihara, dan 1 Klenteng yang tersebar di 11 kecamatan.[48]

Museum[sunting | sunting sumber]

Kota Depok saat ini per tahun 2021-2022 sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan[49] untuk membangun pusat sejarah, dikarenakan Depok dulunya memiliki kaitan dengan Hindia Belanda. Terbukti dengan adanya Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein di Jalan Pemuda dan gereja-gereja berarsitektur Hindia Baru di sekitaran Depok Lama. Bahkan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns,[50] serius dalam menanggapi program penataan kawasan heritage yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Depok.[51]

Taman[sunting | sunting sumber]

Wali kota Depok Mohammad Idris menyebutkan ada hampir 100 taman di Kota Depok atau lebih tepatnya sekitar 65 taman. Angka ini lebih banyak apabila dibandingkan dengan Kota Bandung yang terkenal memiliki berbagai macam taman dengan beragam konsep yang kreatif.[52]

Stadion[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kota Depok meresmikan 5 stadion diantaranya 4 stadion umum dan 1 stadion internasional. Stadion ini diresmikan dikarenakan minat pemuda terhadap sepak bola cukup tinggi terlebih di Kota Depok. Berikut beberapa stadion yang sudah diresmikan:

WiFi gratis[sunting | sunting sumber]

Saat ini per tahun 2022, Diskominfo Depok sudah memasang WiFi gratis sebanyak 74 titik diseluruh kecamatan dan kelurahan. 11 titik dipasang tahun 2012, sedangkan 63 titik dipasang pada tahun 2013.[53]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Perkembangan Kota Depok dari aspek geografi, demografi maupun sumber pendapatan begitu pesat.[54] Ada beberapa indikator yang dapat dipergunakan sebagai acuan tentang pertumbuhan ekonomi di Kota Depok, diantaranya:

  1. Indeks daya beli masyarakat Depok semakin meningkat dan mengalami peningkatan dari 576,76 pada tahun 2006 menjadi 648,58 pada tahun 2010.[55]
  2. Capaian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Depok meningkat dari 6,54% pada 2016 menjadi 7,28% pada 2017.[56]
  3. Terjadi peningkatan dari tahun ke tahun pada peranan sektor tersier, yaitu dari 50,42% pada tahun 2006 menjadi 58,92% pada tahun 2010.[57]

Pusat perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

  • Cimanggis Square
  • Cinere Bellevue Mall
  • City Plaza Depok
  • Depok Town Square
  • Dmall
  • DTC Depok
  • ITC Depok
  • Mall Cimanggis
  • Mall Cinere
  • Margo City
  • Pesona Square
  • Transmart Dewi Sartika
  • Trans Studio Cibubur

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Catatan BKKBN menyebutkan bahwa Depok sendiri di tahun 2022, merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat dengan persentase stunting terendah, yakni hanya sebesar 12,3%.[58]

Rumah Sakit[sunting | sunting sumber]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Pada mulanya, masyarakat Depok memiliki latar belakang etnis Sunda. Setelah adanya pencampuran etnis, maka lahirlah Betawi dan mendiami wilayah Beji, Pancoran Mas, Limo, Cinere, hingga Sawangan. Munculnya etnis Betawi di Depok tidak terlepas dari kebudayaan Sunda, Tionghoa, dan Melayu, sehingga secara bahasa terdapat kesamaan. Kesenian-kesenian di Kota Depok memiliki corak kekhasan dari Betawi, salah satunya batik.[59] Motif batik khas Depok di antaranya ialah Batik Gong Si Bolong, Batik Belimbing Dewa, Batik Tugu Batu, dan Batik Ikan Hias.[60] Meski secara geografis Kota Depok berada di Jawa Barat, namun kebudayaan Betawi lebih dominan dan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Depok. Mereka memiliki kebiasaan untuk menetap dalam satu kampung dengan kerabat-kerabat yang masih satu garis keturunan atau nasab.

Secara turun temurun masyarakat Depok diwarisi oleh kebudayaan, seperti halnya seni musik. Gamelan Gong Si Bolong yang merupakan salah satu warisan budaya takbenda ini berfungsi sebagai pengiring wayang kulit Betawi, seni tarian Jaipong, hingga Tayuban. Selain itu, terdapat pula Marawis dan Hadroh Betawi sebagai pengiring selawatan dan nasyid yang identik dengan agama Islam.[61] Kesenian ini menggambarkan bahwa penduduk Kota Depok mayoritas memeluk Islam. Tidak hanya seni musik, Depok memiliki adat istiadat yang terkenal adalah Rebutan dandang.[62] Umumnya digelar saat pernikahan adat Betawi dengan diiringi tanjidor dan gambang kromong. Ketika tradisi tersebut berlangsung, mempelai wanita membawa dandang di atas punggungnya, kemudian mempelai pria beraksi dengan merebut dandang dari mempelai wanita.

Setelah terbentuknya Depok sebagai kotamadya pada 1999, beberapa kebudayaan baru lahir dengan ciri khas Betawi Pinggiran. Namun, ada pula budaya yang diwariskan sejak zaman dahulu dan dipraktekkan pertama kali di Depok, misalnya tarian daerah. Tarian-tarian daerah yang berasal dari Depok, antara lain Tari Godeg Ayu dari Cisalak, Tari Topeng Cisalak dari Cimanggis, dan Tari Nayuban dari Tanahbaru. Tarian khas Depok lainnya adalah Tari Greget Mpok yang merepresentasikan kehidupan remaja putri Betawi dan juga Tari Depok Go Lincah oleh Wali Kota Mohammad Idris pada 2019 dengan diperagakan oleh anak-anak, serta Tari Jangan Iri Manis atau Jari Manis yang bersumber dari kebudayaan Cokek.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6° 19’ 00”–6° 28’ 00” Lintang Selatan dan 106° 43’ 00”–106° 55’ 30” Bujur Timur. Dengan luas wilayah sekitar 200,29 km², Depok merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 50-140 mdpl dan kemiringan lerengnya kurang dari 15%.

Depok dilalui sungai-sungai besar yaitu Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan.[63] Selain itu, ada juga 13 sub satuan wilayah aliran sungai dan 22 buah danau. Hal ini menjadikan Depok sebagai daerah yang rawan banjir di sebagian wilayah.[butuh rujukan]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Secara administratif, Depok dibentuk berdasarkan Undang-Undang №15 tahun 1999 tentang terbentuknya Kota Depok dan Kota Cilegon. Pada tanggal 27 April 1999, Kota Administratif Depok dan Kota Administratif Cilegon berubah menjadi Kotamadya. Batas sebelah utara Depok dengan Batavia ini tidak berubah setidaknya semenjak tahun 1933.[10]

Utara Kota Jakarta Selatan, Kota Tangerang Selatan, dan Kota Jakarta Timur
Timur Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi
Selatan Kabupaten Bogor
Barat Kabupaten Bogor dan Kota Tangerang Selatan

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2022" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 04 Februari 2020. 
  2. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 15 Maret 2022. 
  3. ^ "Raperda APBD Kota Depok Tahun 2023 Disahkan". Pemerintah Kota Depok. Berita Depok. 22 November 2022. Diakses tanggal 3 Januari 2023. 
  4. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2022" (pdf). Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2022). Diakses tanggal 4 Februari 2022. 
  5. ^ a b "Undang-Undang Nomor 15 tahun 1999". Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Diakses tanggal 3 Januari 2023. 
  6. ^ "Sejarah Depok". Diakses tanggal 2022-01-30. 
  7. ^ P1ntum4suk (2017-09-01). "Inilah Sejarah Kota Depok Yang Jarang Diketahui". Depok News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-05-24. 
  8. ^ "Sejarah Depok Dahulu hanya bagian Kawedanan Parung – Depok.go.id Pilihan" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-24. 
  9. ^ Arjanto, Dwi (ed.). "Kisah Jonggol Pernah Digadang Jadi Ibu Kota Baru karena Dekat DKI Jakarta". Tempo.co. Diakses tanggal 2022-05-24. 
  10. ^ a b "Landbouwstatistiekkaart" (Peta). Perpustakaan Universitas Leiden. 1:150.000 (dalam bahasa (Belanda)). Batavia: Topographische Dienst. 1933. Diakses tanggal 24 Mei 2022. 
  11. ^ "Overzichtskaart van de Residentie Batavia" (Peta). Koleksi Digital Universitas Leiden. 1:250000 (dalam bahasa (Belanda)). Batavia: Topographische Bureau. 1898. Diakses tanggal 24 Mei 2022. 
  12. ^ "Overzichtskaart van de Residentie Batavia" (Peta). Koleksi Digital Universitas Leiden. 1:250.000 (dalam bahasa (Belanda)). Batavia: Topographische Inrichting. 1909. Diakses tanggal 24 Mei 2022. 
  13. ^ "PERPRES No. 22 Tahun 1963 tentang Penghapusan Keresidenan dan Kewedanaan [JDIH BPK RI]". peraturan.bpk.go.id. Diakses tanggal 2022-05-24. 
  14. ^ Ariefana, Pebriansyah (2021-11-24). "Sejarah Kota Depok, Dulu Hutan Belantara dan Mantan Kecamatan di Bogor". Suara.com. Diakses tanggal 2022-05-24. 
  15. ^ Pemerintah Kotapraja Jakarta Raya 1958, hlm. 127.
  16. ^ Huda, Larissa, ed. (17 Juli 2022). "Wacana Depok Gabung ke Jakarta: Pernah Diinisiasi Bang Ali, berujung Sindiran Gubernur Solihin". Kompas.com. Jakarta. Diakses tanggal 7 Januari 2023. 
  17. ^ a b c Depok di Pundak Badrul 2009, hlm. 4-5.
  18. ^ Chaerul Halim, Muhammad (15 Juli 2022). Sari, Nursita, ed. "Wali Kota Depok Usul Jabodetabek Digabung Jadi Jakarta Raya, Ini Penjelasannya". Kompas.com. Jakarta. Diakses tanggal 7 Januari 2023. 
  19. ^ "Wali Kota Depok – H. Badrul Kamal". Pemerintah Kota Depok. 17 Oktober 2002. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2002-10-17. Diakses tanggal 22 Mei 2022. Badrul terpilih sebagai Wali Kota bersama dengan Yus Ruswandi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok dan memperoleh 33 suara dari 45 anggota DPRD Kota Depok. 
  20. ^ Koran.tempo.co (18 Maret 2005). Administrator, ed. "DPRD Tolak Perpanjangan Jabatan Wali Kota". Tempo.co. Diakses tanggal 4 Juli 2021. 
  21. ^ IAN (26 Januari 2006). "Nurmahmudi Resmi Dilantik". Liputan6.com. Diakses tanggal 26 November 2017. Dilantik berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 131.32-26/2006 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 132.32-27/2006 tanggal 17 Januari 2006. 
  22. ^ "Disaksikan Badrul, Nurmahmudi Resmi Jabat Walikota Depok". detikcom. 26 Januari 2006. Diakses tanggal 23 Juni 2021. 
  23. ^ Virdhani, Marieska Harya (16 Juli 2012). "DPRD Desak KPU Depok Gelar Pemilukada Ulang". Okezone.com. Diakses tanggal 19 November 2020. Mahkamah Agung telah membatalkan Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Depok tertanggal 24 Agustus 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon dan Nomor Urut Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok. 
  24. ^ Soebijoto, Hertanto, ed. (26 Januari 2011). "Siang Ini Nur Mahmudi Dilantik". Kompas.com. Diakses tanggal 22 Desember 2019. 
  25. ^ Malau, Budi Sam Law (17 Februari 2016). Moenanto, Gede, ed. "Aher Lantik Idris dan Pradi Pimpin Kota Depok". Tribunnews.com. Diakses tanggal 22 Desember 2019. 
  26. ^ Mantalean, Vitorio (21 Januari 2021). Asril, Sabrina, ed. "KPU Depok Tetapkan Idris-Imam Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih". Kompas.com. Diakses tanggal 21 Januari 2021. 
  27. ^ Mantalean, Vitorio (16 Februari 2021). Gatra, Sandro, ed. "Pelantikan Idris-Imam Jadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok Ditunda hingga Akhir Februari". Kompas.com. 
  28. ^ Amelia, Vini Rizki (3 Maret 2021). Baskhara, Panji, ed. "Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono Resmi Memimpin Kota Depok: Kami akan Tunaikan Sebaik-baiknya". Tribunnews.com. 
  29. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  30. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  31. ^ "Karakteristik Penduduk Jawa Barat Hasil Sensus Penduduk 2000" (pdf). www.jabar.bps.go.id. 1 November 2001. hlm. 72. Diakses tanggal 10 Mei 2022. 
  32. ^ "Data Jumlah Keseluruhan TK/RA, KB/TPA/SPS di Depok". kemendikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-09-09. Diakses tanggal 2021-09-09. 
  33. ^ "Data Jumlah Keseluruhan SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, SMK di Depok". kemendikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-09-09. Diakses tanggal 2021-09-09. 
  34. ^ a b c d e "Rute Transjakarta & Mikro Trans". transjakarta.co.id. Diakses tanggal 2022-05-29. 
  35. ^ "Panduan Penumpang - Rute Transportasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta". soekarnohatta-airport.co.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-01-25. Diakses tanggal 2022-07-30. 
  36. ^ a b "Rute Trayek Angkutan Umum di Kota Bogor - Terminal Baranangsiang". kotabogor.go.id. Diakses tanggal 2022-07-30. 
  37. ^ "Rute Bus Kampung Rambutan - Citeureup". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-30. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  38. ^ "Rute Bus Depok - Kalideres". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-07-03. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  39. ^ "Rute Bus Blok M - Cileungsi". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-30. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  40. ^ "Rute Bus Tanjung Priok - Cileungsi". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-30. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  41. ^ "Rute Bus Kalideres - Cileungsi". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-30. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  42. ^ "Rute Bus Tanah Abang - Cileungsi". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-30. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  43. ^ "Rute Bus Senen - Cileungsi". web.trafi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-30. Diakses tanggal 2022-06-30. 
  44. ^ "Data Terminal - Dishub Provinsi DKI Jakarta". dishub.dkijakarta.go.id. Diakses tanggal 2021-09-04. [pranala nonaktif permanen]
  45. ^ "Data Terminal - Dishub Kota Depok". dishub.depok.go.id. Diakses tanggal 2021-09-05. 
  46. ^ "Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok". sirumkim.inweb.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-02-04. 
  47. ^ "Daftar Nama Masjid di 7 Kecamatan Wilayah Kota Depok Terbaru". www.infodepok.my.id. Diakses tanggal 10 Januari 2023. 
  48. ^ "Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat". jabar.kemenag.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-12-11. Diakses tanggal 2022-02-04. 
  49. ^ "Depok Siap Lakukan Percepat Pembangunan pada 2021 | Republika Online Mobile". republika.co.id. Diakses tanggal 2022-09-29. 
  50. ^ Ridha, Rasyid. "Dubes Belanda Berkunjung ke Depok Lama, Ini Tujuannya". JPNN.com. Diakses tanggal 2022-09-29. 
  51. ^ Islam, M. Fathra Nazrul. "Daerah Ini Bakal Disulap Menjadi Kawasan Heritage Kota Depok". JPNN.com. Diakses tanggal 2022-09-29. 
  52. ^ "Taman di Depok Lebih Banyak dari Bandung". Republika Online. Diakses tanggal 2022-02-04. 
  53. ^ "Free Wi-Fi di 11 Kecamatan". diskominfo.depok.go.id. Diakses tanggal 2022-02-04. 
  54. ^ Pramisti, Nurul Qomariyah. "Salah Urus Ekonomi Kota Depok - Kolumnis Tirto.ID". tirto.id. Diakses tanggal 2022-09-08. 
  55. ^ Virdhani, Marieska Harya (2011-11-08). "Tingkat Daya Beli Masyarakat Depok Tertinggi di Jabar". Okezone.com. Diakses tanggal 2022-09-08. 
  56. ^ Antara (2018-05-04). Suseno, ed. "Pengangguran Berkurang, Pertumbuhan Ekonomi Kota Depok Meningkat". Tempo.co. Diakses tanggal 2022-09-08. 
  57. ^ Pratiwi, Angela Gerda; Muta&#39, Lutfi; ali (2018). "Perkembangan Ekonomi Wilayah dan Peran Sektor Tersier di Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)". Jurnal Bumi Indonesia. 7 (3): 260738. ISSN 1858-1110. 
  58. ^ Arifianto, Bambang; Fahas, Eva; Nurulliah, Novianti; Kasumaningrum, Yulistyne (19 Agustus 2022). "Jabar Masih Harus Terus Berbenah". Pikiran Rakyat. Bandung. hlm. 1. 
  59. ^ Azizah Tamhid, Nur (2012). "Sejarah Batik Kota Depok". Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Depok. Diakses tanggal 7 Januari 2023. 
  60. ^ "Pembuatan kain batik motif khas Kota Depok, Jawa Barat". Antara. 28 November 2021. Diakses tanggal 7 Januari 2023. 
  61. ^ "Hadroh Betawi". Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses tanggal 7 Januari 2023. 
  62. ^ P. Napis, Untung (6 Februari 2018). "Rebut Dandang, Tradisi Pesta Pernikahan Betawi Pinggir". Media Indonesia. Diakses tanggal 7 Januari 2023. 
  63. ^ "13 Sungai Yang Membelah Kota Jakarta | Daerah Kita - Sajian Artikel Ringan dan Informatif Nusantara". www.daerahkita.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-05-24. 

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]