Cinere, Cinere, Depok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Cinere
Kelurahan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kota Depok
Kecamatan Cinere
Kodepos 16514
Luas -
Penduduk -
Kepadatan -

Cinere adalah sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Cinere, Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia. Cinere terletak atau berbatasan dengan : Bagiann utara berbatasan dengan kelurahan Pangkalan Jati yang masih dalam bagian Kecamatan Cinere, bagian barat berbatasan dengan kelurahan Pondok Cabe Kota Tangsel Provinsi Banten, bagian selatan berbatasan dengan Kelurahan Limo dan bagian sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Gandul.Kelurahan ini terkenal akan kompleks-kompleksnya, yang asri dan hijau. Letaknya yang tidak jauh dari Kebun Binatang Ragunan dan Masjid Kubah Emas, menjadikan daerah ini sangat strategis. Infrastuktur di Cinere kian hari kian lengkap hampir melebihi daerah sejenis seperti Bintaro. Sarana tempat Ibadah, Rumah Sakit, Mall sudah tersedia di daerah ini. Selain itu di tempat ini ada beberapa lapangan Golf seperti di Pangkalan Jati dan Sawangan. Dulu, wilayah ini juga terkenal akan kemacetannya, karena kondisi Jalan Cinere Raya yang rusak berat. Namun, sejak akhir 2011, sudah mulai dilakukan perbaikan jalan yang dimulai dari Jalan Cinere Raya dan diharapkan dapat memperlancar lalu lintas Cinere. Kawasan ini semakin berkembang pesat seiring dibangunnya Jalan Tol Serpong-Cinere dan Jalan Tol Cinere-Jagorawi yang merupakan bagian dari Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2 atau JORR 2.


SEJARAH CINERE[sunting | sunting sumber]

Pada masa awal kolonial di wilayah Cinere (Ci Kanyere) terdapat satu hamparan lahan milik Isaac de I’ Ostale de Saint Martin (lahir di Oleron, Bearn, Prancis tahun 1629) yang bekerja untuk VOC. Pada era kemerdekaan Cinere bahkan tidak pernah dibicarakan, karena pada waktu itu, Cinere hanyalah kumpulan beberapa dusun yang didiami oleh orang Betawi yang di sana sini masih terdapat hutan karet, lahan persawahan dan rawa-rawa. Namun pada masa kini, adakalanya  Cinere justru lebih populer dibanding Depok atau Cimanggis. Apa yang menyebabkan Cinere menjadi begitu populer khususnya bagi warga Jakarta?

Sebelum tahun 1999, Desa Cinere masuk wilayah Kabupaten Bogor. Sementara Kota Adimistratif (Kotif) Depok yang dibentuk tahun 1981 hanya terdiri dari tiga kecamatan, yaitu: Pancoran Mas, Beji dan Sukmajaya. Dalam perkembangannya, status Kotif Depok pada tahun 1999 ditingkatkan menjadi Kota Depok dengan menambah tiga kecamatan yang sebelumnya masuk wilayah Kabupaten Bogor, yakni: Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Limo. Nama Desa Cinere merupakan salah satu dari delapan desa yang berada di Kecamatan Limo. Namun demikian, pada waktu itu nama Cinere jauh lebih dikenal daripada Limo sebagai nama kecamatan.

 Secara georafis, sesungguhnya wilayah Cinere di Kecamatan Limo, Kota Depok secara sosial budaya berada di wilayah geografis Jakarta. Dengan kata lain, wilayah Cinere ini tampak menjorok masuk ke dalam wilayah Jakarta. Dari sisi pandang Kota Depok sekarang, wilayah Cinere berada persis di ‘Kepala Garuda’ Kota Depok. Oleh karena itu, warga Jakarta sering keliru menganggap Cinere adalah bagian dari Jakarta, demikian juga warga Depok keliru menganggap Cinere masuk Jakarta. Padahal, kenyataannya wilayah Cinere masuk wilayah Kecamatan Limo yang merupakan bagian wilayah Kota Depok. Pada tahun 2007, Kecamatan Cinere terbentuk (pemekaran dari Kecamatan Limo) yang melengkapi 11 kecamatan di Kota Depok. Kecamatan Limo terdiri dari empat kelurahan, yaitu: Cinere, Gandul, Pangkalan Jati Lama dan Pangkalan Jati Baru. Empat kelurahan inilah yang secara ‘defacto’ berada di wilayah sosial DKI Jakarta, tetapi secara ‘dejure’ merupakan wilayah administratif Kota Depok.

Pada awal pembangunan, nama Depok dan nama Cinere mulai dikenal masyarakat luas hampir bersamaan. Pada tahun 1979 di wilayah Cinere sebuah pengembang swasta yang menguasai lahan yang kini luasnya telah mencapai 300 Ha mulai membangun perumahan. Sementara di Depok pada tahun 1976 Perum Perumnas (milik pemerintah) sudah memulai pembangunan perumnas pertama di Indonesia. Di perumnas Depok rumah-rumah yang dibangun ditujukan untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah, sementara di kavling pemukiman Cinere, rumah-rumah yang dibangun justru untuk ‘pasar’ dari kelompok masyarakat menengah ke atas. Dua wilayah pemukiman ini umumnya dihuni oleh ex penduduk Jakarta. Namun karena, rumah-rumah yang dibangun di wilayah Cinere lebih berkualitas dan lebih mewah maka dengan sendirinya warga Jakarta lebih memfavoritkan Cinere sebagai daerah hunian dibanding Depok. Dari sisi inilah popularitas Cinere terkesan lebih tinggi dibandingkan Depok kala itu. Seiring dengan perubahan waktu, dua wilayah awal perumahan ini terus membentuk jatidirinya masing-masing. Wilayah perumahan Depok kemudian diunggulkan ketika akses ke Depok lebih baik dibandingkan wilayah Cinere. Lebih-lebih dengan kehadiran Universitas Indonesia di Kota Depok, maka popularitas wilayah perumahan Depok semakin melejit dibandingkan dengan Cinere. Namun demikian, popularitas wilayah pemukiman Cinere yang sempat memudar mulai bersinar kembali seiring dengan adanya rencana akses tol dari dua arah menuju Cinere: dari arah Antasari (tol Desari) dan dari arah tol Jagorawi (Cijago).