Kabupaten Sukabumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kabupaten Sukabumi
Transkripsi bahasa daerah
 • Aksara Sundaᮞᮥᮊᮘᮥᮙᮤ
Searah jarum jam dari atas: Pantai Karanghawu, Jalanan Pelabuhan Ratu, Air terjun Cikaso, Teluk Pelabuhan Ratu
Lambang resmi Kabupaten Sukabumi
Julukan: 
Kota Ratu Kidul
Motto: 
Gemah Ripah Loh Jinawi
(Bahasa Sunda: Subur Makmur)
Peta
Peta
Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat
Kabupaten Sukabumi
Kabupaten Sukabumi
Peta
Kabupaten Sukabumi di Jawa
Kabupaten Sukabumi
Kabupaten Sukabumi
Kabupaten Sukabumi (Jawa)
Kabupaten Sukabumi di Indonesia
Kabupaten Sukabumi
Kabupaten Sukabumi
Kabupaten Sukabumi (Indonesia)
Koordinat: 6°59′14″S 106°33′04″E / 6.9872757°S 106.5510934°E / -6.9872757; 106.5510934
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
Tanggal berdiri1 Juni 1921
Dasar hukumStaatsblad 1914 no. 256
Hari jadi10 September 1870 (umur 152)
Ibu kotaPalabuhanratu
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 47
  • Kelurahan: 5
  • Desa: 381
Pemerintahan
 • BupatiMarwan Hamami
 • Wakil BupatiIyos Somantri
 • Sekretaris DaerahAde Suryaman
 • Ketua DPRDYudha Sukmagara
Luas
 • Total4.145 km2 (1,600 sq mi)
Ketinggian tertinggi
3.019 m (9,905 ft)
Ketinggian terendah
0 m (0 ft)
Populasi
 (2020)[1]
 • Total2.571.890
 • Kepadatan620/km2 (1,600/sq mi)
Demografi
 • BahasaIndonesia (resmi)
Sunda
 • IPMSteady 71,4 (2019)
Tinggi[1]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
Kode area telepon+62266
Pelat kendaraanF xxxx Q*/U**/V*
Kode Kemendagri32.02 Edit the value on Wikidata
DAURp1.331.012.058.000,00 (2013)[2]
Situs webwww.sukabumikab.go.id

Sukabumi (bahasa Sunda: ᮞᮥᮊᮘᮥᮙᮤ) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Palabuhanratu. Kabupaten Sukabumi merupakan kabupaten terluas kedua di Pulau Jawa setelah Kabupaten Banyuwangi di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor di utara, Kabupaten Cianjur di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Lebak di barat. Kota Sukabumi menjadi enklave dari kabupaten ini.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Era Kerajaan Hindu dan Buddha[sunting | sunting sumber]

Ditemukannya Prasasti Sanghyang Tapak di daerah Cibadak menjelaskan bahwa kawasan sekitar Kabupaten Sukabumi saat ini setidaknya sudah dihuni oleh manusia sejak abad ke-9 M, dimana isi prasasti tersebut menyebutkan larangan dari penguasa Kerajaan Sunda kepada penduduk setempat untuk menangkap ikan.[3] Terdapat juga peninggalan sejarah lainnya yaitu Prasasti Pasir Datar yang ditemukan di Cicantayan namun tulisan prasasti tersebut belum diterjemahkan sehingga isinya belum diketahui.

Pembentukan[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya daerah Kabupaten Sukabumi saat ini ada dibawah Kabupaten Cianjur pada masa Pemerintahan kolonial Hindia Belanda, yang merupakan bagian dari Karesidenan Priangan (Residentie Preanger Regentschappen). Pada tahun 1776 Bupati Cianjur keenam Raden Noh Wiratanudatar VI membentuk sebuah kepatihan bernama Kepatihan Tjikole yang terdiri dari beberapa distrik yaitu distrik Goenoengparang, distrik Tjimahi, distrik Tjiheulang, distrik Tjitjoeroeg, distrik Djampangtengah, dan distrik Djampangkoelon dengan pusat pemerintahan di Tjikole (sekarang bagian dari Kota Sukabumi).

Pada tanggal 13 Januari 1815, Kepatihan Tjikole berganti nama menjadi Kepatihan Soekaboemi. Nama Soekabumi diusulkan oleh Dr. Andries de Wilde, seorang dokter bedah pemilik perkebunan teh yang mempunyai usaha perkebunan kopi dan teh di daerah Soekaboemi. Asal nama "Sokaboemi" berasal dari Bahasa Sanskerta soeka, "kesenangan, kebahagiaan, kesukaan" dan bhoemi, "bumi, tanah". Jadi "Soekabumi" memiliki arti "tanah yang disukai".

Dari Kepatihan menjadi Kabupaten[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sukabumi sendiri mulai berdiri sejak ditetapkan berdasarkan Besluit (keputusan) Gubernur Jenderal Dirk Fock tertanggal 25 April 1921 no. 71 di mana dijelaskan status baru Soekaboemi sebagai Kabupaten (Regentschap) tersendiri yang terpisah dari Kabupaten Tjianjoer. Keputusan ini dikuatkan oleh peraturan yang tertera dalam Staatsblad (Berita negara) Hindia Belanda tahun 1921 no. 256 dimana penetapan status tersebut mulai berlaku sejak 1 Juni 1921.[4] Bupati pertamanya adalah R. A. A. Soerianatabrata, Patih terakhir dari Kepatihan Soekaboemi.[5][6] Pada tahun 1923, diputuskan bahwa Karesidenan Priangan dimekarkan menjadi tiga bagian yaitu West Preanger (Priangan Barat) berpusat di Soekaboemi, Midden Preanger (Priangan Tengah) berpusat di Bandoeng dan Oost Preanger (Priangan Timur) berpusat di Tasikmalaja, dimana pemerakan ini mulai berlaku pada tahun 1925.[7][8] R. A. A. Soerianatabrata sendiri memerintah sampai tahun 1930.[9]

Bupati kedua Kabupaten Soekabumi adalah R. A. A. Soeriadanoeningrat yang memerintah sampai masa pendudukan Jepang. Terjadi perombakan pembagian administratif di wilayah Jawa Barat pada masa pemerintahannya. Dibentuk 5 Karesidenan baru di Jawa Barat, yaitu Residentie Bantam (Karesidenan Banten), Residentie Batavia (Karesidenan Batavia), Residentie Boeitenzorg (Karesidenan Boeitenzorg/Bogor), Residentie Tjirebon (Karesidenan Tjirebon) dan Residentie Preanger Regentschappen (Karesidenan Kabupaten-Kabupaten Priangan). Kabupaten Soekaboemi yang sebelumnya merupakan bagian dari Karesidenan Priangan Barat untuk selanjutnya dimasukkan sebagai bagian dari Karesidenan Boeitenzorg, karena itu wilayah Kabupaten dan Kota Sukabumi saat ini memiliki plat nomor kendaraan F.[10]

Masa penjajahan Jepang[sunting | sunting sumber]

Setelah Jepang menaklukkan Hindia Belanda pada 8 Maret 1942, dikeluarkanlah UU no. 27 tahun 1942 tentang perubahan Tata Pemerintahan Daerah pada tanggal 5 Agustus 1942. Karesidenan (Residentie Preanger Regentschappen) berganti nama menjadi Syukocan dan kepala daerahnya disebut Syukocanco. Kabupaten (Afdeling) berganti nama menjadi Ken dan kepala daerahnya disebut Kenco. Kenco pertama Soekaboemi masih R. A. A. Soeriadanoeningrat. R. A. A. Soeriadanoeningrat sendiri wafat pada tahun 1942 dan digantikan oleh R. Tirta Soeyatna sebagai Kenco kedua.

Awal Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dilaksanakan pertemuan Musyawarah oleh tokoh-tokoh seperti Mr. R. Syamsoedin, Mr. Haroen dan Dr. Aboe Hanifah yang menyepakati akan mengirimkan delegasi ke Karesidenan Boeitenzorg untuk mendesak pelaksanaan serah terima kekuasaan dari Jepang ke Indonesia. Apabila gagal, disepakati juga akan diadakannya aksi massa pada tanggal 1 Oktober 1945 yang terdiri dari Badan Keamanan Rakyat, Kepolisian, KNID, Alim Ulama dan Utusan daerah.

Setelah diumumkan pada tanggal 1 Oktober 1945 di mana perundingan di Boeitenzorg mengalami kegagalan, massa pun hari ini juga melakukan aksi mengurung kantor Kempetai untuk membebaskan seluruh tahanan politik dan menyita seluruh persenjataan didalamnya. Di Lapangan Victoria (Sekarang Lapangan Merdeka Kota Sukabumi) bendera Jepang diturunkan dan diganti dengan bendera Merah Putih secara resmi. Kantor-kantor pemerintahan pendudukan Jepang juga direbut pada hari itu juga. Hanya dalam beberapa hari seluruh Kabupaten Sukabumi telah dapat dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia. Terjadi penggantian besar-besaran para pejabat Kewedanaan dan Kecamatan yang tidak pro-kemerdekaan dengan tokoh-tokoh yang pro-kemerdekaan.

Setelah berada dibawah kendali Pemerintahan Republik Indonesia, pada akhir 1945 Mr. Haroen diangkat sebagai Bupati Sukabumi pertama paska-kemerdekaan, sedangkan Mr. R. Syamsoedin diangkat menjadi Wali Kota Kota Sukabumi. Istilah-istilah administratif pemerintahan Jepang sendiri diganti dengan Istilah Indonesia, seperti Ken yang diubah menjadi Kabupaten. Tanggal 1 Oktober pun ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sukabumi.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Perkebunan Teh di Goalpara, Sukabumi Utara pada masa Hindia Belanda

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Berikut merupakan batas wilayah Kabupaten Sukabumi:

Utara Kabupaten Bogor
Timur Kabupaten Cianjur
Selatan Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur dan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan Samudra Hindia

Dengan luas wilayah 4.128 km², Kabupaten Sukabumi merupakan Kabupaten terluas kedua di Jawa setelah Kabupaten Banyuwangi. Batas wilayah Kabupaten Sukabumi 40 % berbatasan dengan lautan dan 60% merupakan daratan. Wilayah Kabupaten Sukabumi memiliki areal yang relatif luas yaitu ± 419.970 ha. Pada Tahun 1993 Tata Guna Tanah di wilayah ini, adalah sebagai berikut: Pekarangan/perkampungan 18.814 Ha (4,48 %), sawah 62.083 Ha (14,78 %), Tegalan 103.443 Ha (24,63 %), perkebunan 95.378 Ha (22, 71%), Danau/Kolam 1. 486 Ha (0, 35 %), Hutan 135. 004 Ha (32,15 %), dan penggunaan lainnya 3.762 Ha (0,90 %). Beberapa puncak gunung terdapat di bagian utara, diantaranya: Gunung Halimun (1.929 m dpl), Gunung Salak (2.211 m dpl), dan yang tertinggi adalah Gunung Gede (2.958 m dpl) dan Gunung Pangrango (3.019 m dpl) yang secara administratif berada di Kecamatan Kadudampit. Di antara sungai yang mengalir adalah Sungai Cimandiri dan Sungai Cikaso, yang bermuara di Samudra Hindia.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Menurut data Sensus Penduduk Indonesia 2000, berikut adalah besaran penduduk Kabupaten Sukabumi berdasarkan suku bangsa;[11]

No Suku Populasi (2000) %
1 Sunda 1.993.324
2 Jawa 28.215
3 Betawi 6.487
4 Banten 1.637
5 Batak 1.534
6 Minangkabau 1.513
7 Tionghoa 721
8 Cirebon 213
9 Suku lainnya 41.009
Kabupaten Sukabumi 2.074.653 100%

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1
R. A. A. Soerianatabrata
1921
1930
1
2
R. A. A. Soeriadanoeningrat
1930
1942
2
3
R. Tirta Soeyatna
1942
1945
3
4
Mr.
Haroen
1945
1947
4
R. A. A. Hilman Djajadiningrat
1947
1947
5
R. A. A. Soeriadanoeningrat
1947
1950
5
6
R. A. Widjajasoeria
1950
1958
6
7
R. Hardjasoetisna
1958
1959
7
R. A. Abdoerachman Soeriatanoewidjaja
8
R. Koedi Soeriadihardja
1959
1967
8
9
AKBP H.
Anwari
1967
1973
9
1973
1978
10
10
Drs. H.
M. A. Zaenuddin
1978
1983
11
11
Dr. H.
Ragam Santika
1983
1989
12
12
Ir. H.
Muhammad
1989
1994
13
13
Drs. H.
U. Moch. Muchtar
1994
1999
14
14
Drs. H.
Maman Sulaeman
2000
2005
15
H.
Ucok Haris Maulana Yusup
SH. MM
15
Drs. H.
Sukmawijaya
MM
29 Agustus 2005
29 Agustus 2010
16
Drs. H.
Marwan Hamami
M.M.
29 Agustus 2010
29 Agustus 2015
17
Drs.
Akhmad Jajuli
M.Pd
Achdiat Supratman
(Penjabat)
2015
2016
16
Bupati sukabumi marwan.jpg Drs. H.
Marwan Hamami
M.M.
17 Februari 2016
17 Februari 2021
18
Drs. H.
H. Adjo Sardjono
M.M.
Februari 2021
Petahana
19
Drs. H. Iyos Somantri, M.Si


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dalam dua periode terakhir.[12][13]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  PKB 4 Kenaikan 6
  Gerindra 5 Kenaikan 9
  PDI-P 7 Penurunan 6
  Golkar 8 Penurunan 7
  NasDem 2 Penurunan 1
  PKS 6 Kenaikan 7
  PPP 4 Steady 4
  PAN 6 Steady 6
  Hanura 4 Penurunan 0
  Demokrat 4 Steady 4
Jumlah Anggota 50 Steady 50
Jumlah Partai 10 Penurunan 9

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sukabumi terdiri dari 47 kecamatan, 5 kelurahan, dan 381 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 2.523.992 jiwa dengan luas wilayah 4.145,70 km² dan sebaran penduduk 609 jiwa/km².[14][15]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Sukabumi, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
32.02.04 Bantargadung 7 Desa
32.02.14 Bojonggenteng 5 Desa
32.02.31 Caringin 9 Desa
32.02.47 Ciambar 6 Desa
32.02.11 Cibadak 1 9 Desa
Kelurahan
32.02.25 Cibitung 6 Desa
32.02.28 Cicantayan 8 Desa
32.02.16 Cicurug 1 12 Desa
Kelurahan
32.02.44 Cidadap 6 Desa
32.02.17 Cidahu 8 Desa
32.02.43 Cidolog 5 Desa
32.02.22 Ciemas 9 Desa
32.02.03 Cikakak 9 Desa
32.02.10 Cikembar 10 Desa
32.02.06 Cikidang 12 Desa
32.02.46 Cimanggu 6 Desa
32.02.26 Ciracap 8 Desa
32.02.35 Cireunghas 5 Desa
32.02.29 Cisaat 13 Desa
32.02.05 Cisolok 13 Desa
32.02.42 Curugkembar 7 Desa
32.02.40 Gegerbitung 7 Desa
32.02.27 Gunungguruh 7 Desa
32.02.21 Jampang Kulon 1 10 Desa
Kelurahan
32.02.08 Jampang Tengah 11 Desa
32.02.19 Kabandungan 6 Desa
32.02.30 Kadudampit 9 Desa
32.02.18 Kalapanunggal 7 Desa
32.02.23 Kalibunder 7 Desa
32.02.34 Kebonpedes 5 Desa
32.02.07 Lengkong 5 Desa
32.02.12 Nagrak 10 Desa
32.02.39 Nyalindung 10 Desa
32.02.37 Pabuaran 7 Desa
32.02.01 Palabuhanratu 1 9 Desa
Kelurahan
32.02.15 Parakansalak 6 Desa
32.02.13 Parungkuda 8 Desa
32.02.38 Purabaya 7 Desa
32.02.41 Sagaranten 12 Desa
32.02.02 Simpenan 7 Desa
32.02.32 Sukabumi 6 Desa
32.02.36 Sukalarang 6 Desa
32.02.33 Sukaraja 9 Desa
32.02.24 Surade 1 11 Desa
Kelurahan
32.02.45 Tegalbuleud 8 Desa
32.02.20 Waluran 6 Desa
32.02.09 Warung Kiara 12 Desa
TOTAL 5 381

Lambang Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Lambang Perisai: Menggambarkan perlindungan Pemerintah Daerah terhadap penduduk dan semua kekayaan alam di wilayah Kabupaten Sukabumi.
  • Warna Hitam: Berarti kekal dan abadi.
  • Warna kuning: Berarti keadaan yang gilang gemilang.
  • Gambar Punggung Penyu dan Sayap Walet: Menggambarkan sumber daya alam yang sangat potensial, dan warna HIJAU pada kotak punggung penyu melambangkan kehidupan yang tenteram, subur, dan makmur.
  • Gambar Kujang melambangkan: Pusaka Kerajaan Pajajaran yang dahulu kala berkuasa di bumi Jawa Barat, termasuk Kabupaten Sukabumi.
  • Kata "Gemah Ripah Loh Jinawi": Adalah MOTTO yang mengandung makna Subur Makmur Wibawa Mukti.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Stasiun[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sukabumi memiliki 5 stasiun KA Pangrango dan 2 stasiun KA Siliwangi yang masih beroperasi, diantaranya:

Selain itu, Kabupaten Sukabumi juga memiliki 3 stasiun yang sudah berhenti beroperasi, yaitu:

Catatan[sunting | sunting sumber]

Untuk jalur kereta api, Kabupaten Sukabumi dilalui oleh Jalur KA Manggarai-Padalarang.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Penyu Raksasa di Ujung Genteng. Ujunggenteng merupakan salah-satu daerah penyu raksasa berkembang-biak di Indonesia

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Kabupaten Sukabumi dalam Angka 2021. Badan Pusat Statistik. 2021. 
  2. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-02-14. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  3. ^ Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto (1992). "Kerajaan Sunda". Sejarah nasional Indonesia: Jaman kuno. PT Balai Pustaka. hlm. 376. ISBN 979-407-408-X ISBN 978-979-407-408-4. 
  4. ^ Staatsblad van Nederlandsch Indië (dalam bahasa Belanda). Ter Drukkerij van A. D. Schinkel. 1921-01-01. 
  5. ^ Wajah pariwisata Jawa Barat. Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingket I Jawa Barat. 1986-01-01. ISBN 9789798075001. 
  6. ^ Indies, Dutch East (1931-01-01). Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Landsdrukkerij. 
  7. ^ Indië: geïllustreerd tijdschrift voor Nederland en koloniën (dalam bahasa Belanda). Cliché's en druk van Joh. Enschede en Zonen. 1925-01-01. 
  8. ^ Rutz, Werner (1987-01-01). Cities and Towns in Indonesia: Their Development, Current Positions and Functions With Regard to Administration and Regional Economy (dalam bahasa Inggris). Gebrüder Borntraeger. ISBN 9783443370060. 
  9. ^ Wajah pariwisata Jawa Barat. Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingket I Jawa Barat. 1986-01-01. ISBN 9789798075001. 
  10. ^ Saptariani, Nani (2008). Menepis kabut halimun: rangkaian bunga rampai pengelolaan sumberdaya alam. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 15. ISBN 9789794616628. 
  11. ^ "Karakteristik Penduduk Jawa Barat Hasil Sensus Penduduk 2000" (pdf). www.jabar.bps.go.id. 1 November 2001. hlm. 72. Diakses tanggal 10 Mei 2022. 
  12. ^ PEROLEHAN KURSI DPRD KAB. SUKABUMI 2014-2019
  13. ^ Perolehan Kursi DPRD Kab. Sukabumi 2019-2024
  14. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  15. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  16. ^ Media, Kompas Cyber (2020-09-07). "Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara Ada di Sukabumi, Apa yang Menarik? Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-04-10. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]