Cicurug, Sukabumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cicurug
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenSukabumi
Pemerintahan
 • CamatAgung Gunawan
Populasi
 • Total123,944 jiwa jiwa
Kode Kemendagri32.02.16 Edit the value on Wikidata
Luas4576,10 Ha
Desa/kelurahanBangbayang, Benda, Caringin, Cicurug, Cisaat, Kutajaya, Pasawahan, Mekarsari, Nanggerang, Nyangkowek, Purwasari, Tenjoayu, Tenjolaya
Pemandian Cimelati (1920-1931)
Seorang remaja Belanda di Cicurug tahun 1924

Cicurug adalah wilayah di suatu kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kecamatan Cicurug didirikan sebagai distrik pada tahun 1776, ketika Bupati Tjiandjoer Wiratanu VI membagi Kepatihan Tjikole (pendahulu Kabupaten Sukabumi) dalam enam distrik. Kecamatan ini dulunya dijadikan Project Sample oleh belanda dalam masalah kekayaan budaya & wisata karena banyaknya pesantren, curug & sumber daya alamnya yang mempesona dunia sampai dinobatkan air di cicurug adalah air dengan kualitas terbaik di Asean sehingga banyak perusahaan air minum dalam kemasan berinvestasi di Cicurug. namun seiring waktu kini Cicurug berubah menjadi kawasan industri yang menyerap banyak karyawan wanita dari berbagai wilayah dijawabarat. Cicurug berasal dari dua akar kata yaitu Ci ( Air ) dan Curug ( Terjun ) dinamai tersebut karena di kawasan ini terdapat banyak sekali air terjun.

Cicurug terkenal dengan kemacetan yang sangat mengerikan walaupun sudah terdapat jalan jalur alternatif dikarenakan beberapa pihak yang masih belum sadar tertib lalu lintas dengan pabrik-pabrik yang tidak mempunyai tempat parkir mandiri, angkot jemputan berhenti disembarang tempat sehingga menyebabkan kemacetan setiap pagi saat masuk pabrik dan sore saat pulang pabrik. Masalah ini diharap bisa diselesaikan dengan regulasi pemerintah setempat kepada pihak pihak terkait.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Penulis Belanda kelahiran Indonesia Eddy du Perron pernah tinggal di Cicurug.

Koordinat: 6°46′34″S 106°47′22″E / 6.77611°S 106.78944°E / -6.77611; 106.78944

Di Cicurug terdapat 5 ulama besar yang darinya lahir ulama ulama besar lainnya. Kelima ulama ini membuat perkumpulan yang disebut Ulama Bintang. Disebut bintang dikarenakan pada lambang bintang terdapat 5 sudut bagian yang saling melengkapi antara satu sama lainnya untuk bisa bersinar. Kelima ulama bintang ini adalah : 1. KH. Hasan Basri Bin Abdullah Bin Sumaparja ( Mama Bintang ) Seorang ulama spesialis ahli tafsir pendiri pesantren babakan kaum yang sanad keilmuannya langsung kepada Mufti Betawy Alhabib Ustman Bin Abdullah Bin Yahya karena beliau pernah belajar kepadanya langsung. Yang setelah wafat kemudian perjuangan dilanjutkan oleh KH. Baedhowy bin Hasan Basri, kemudian setelah wafat dilanjutkan kembali perjuangannya oleh KH. Amang Muhammad dengan pengajian khas setiap minggunya yaitu pengajian kamis

2. KH. Baesuny Bin Hasyim bin yusa’ bin yusuf (leweng larangan ) bin Mahari ( Cimande ) bin Rasyidin Bin sayyid Ustman. Seorang pejuang kemerdekaan RI yang ikut terlibat langsung dalam peperangan melawan penjajah belanda & jepang. Disamping itu beliau pun ulama yang ahli dalam seni beladiri silat, kaligrafi juga spesialis ahli dalam ilmu faroidh. Semula beliau tinggal di Cimande lalu hijrah ke Ciherang Pondok lalu hijrah lagi ke bojongpari cidahu kemudian hijrah lagi ke Rawasidkin. Beliau adalah pendiri pesantren An-Nidzomiyyah Rawasidkin Cicurug sukabumi yang perjuangannya sekarang dilanjutkan oleh anaknya yang pertama dari istrinya yang bernama Hj. Faridatul Hasanah yaitu KH. Mahmud Hasyim dengan pengajian khasnya setiap malam selasa. Dari hasil pernikahannua KH. Baesuny Bin Hasyim dengan Hj. Faridatul Hasanah itu dikaruniailah 6 anak yaitu : • KH. Mahmud Hasyim ( Dulunya bernama Asep Ibrozul Munif ), Khodim Pesantren An-Nidzomiyyah • KH. Hamdan Alawy ( Dulunya bernama Isep Mubarrozul Munif ), ketua yayasan Al-Basthoh Bangbayang • Lilis ( Meninggal sewaktu kecil ) • Hj. Elis Mauduatul Millah ), ketua yayasan & pesantren Bani Mukhtar An-Nidzomiyyah Parakansalak • Hj. Deudeh Madwatul Millah • KH. Mukhtar Hamid Alby ( Dulunya bernama Usep ), Khodim Madrasah Diniyyah Madinah An-Nidzomiyyah Cicatih, Cicurug

3. KH. Yusuf Affandy Alyamany, Sadamukti, Cisaat, Cicurug. Seorang ulama ahli bilaghah & sastra arab. Beliau berasal dari yaman lalu hijrah di sadamukti dan mendirikan pesantren Al-Affandiyyah. Sepeninggal beliau perjuangan pesantren & lembaga dilanjutkan oleh kedua anaknya yaitu Ustadzah Hj. Elis Affandy & KH. Asep Affandy. Kemudian dilanjutkan oleh cucu-& mantunya.

4. KH. Ismatullah Bin KH. Kurdi pendiri pesantren Al-Amin Karangsirna, Cicurug. Seorang ulama ahli Fiqh yang wafatnya di mekkah. Beliau memiliki sanad keilmuan sampai kepada pengarang kitab-kitab fiqih melewati gurunya yaitu Alm. KH. Fudholy bin Hamim ( Pimpinan Pesantren Alfudhola, Cibeber Girang, Tenjoayu, Cicurug ) Yang setelah wafatnya beliau perjuangan pesantren & lembaga Al-Amin dilanjutkan oleh KH. Aeh, lalu dilanjutkan oleh KH. Abdul Basith, kemudian sekarang dilanjutkan oleh KH. Fahd Bin Abdul Basith beserta kelurga besarnya dengan pengajiannya setiap malam rabu

5. KH. Abdullah Khudry, seorang ulama ahli hadits pendiri pesantren alkhudriyyah, Cisaat, Cicurug.

Dari kelima ulama bintang inilah lahir ulama-ulama besar lainnya, baik didaerah cicurug ataupun diluar cicurug, bertebaran diseluruh saentro negeri.