Suku Betawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Betawi
Tari Yapong.jpg
Pertunjukan tari Yapong, tarian tradisional khas etnis Betawi
Jumlah populasi
± 7 juta[1] (2010)
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia
 Jakarta2.700.722
 Jawa Barat2.664.143
 Banten1.365.614
 Jawa Tengah9.519
 Kalimantan Timur4.080
Bahasa
Agama
Etnis terkait

Suku Betawi ([wong Betawi] Error: {{Lang-xx}}: text has italic markup (help);[a] orang Betawi) adalah suatu kelompok etnis bagian bangsa Indonesia yang berasal dari kawasan wilayah pesisir utara Jawa Barat (dulunya dikenali sebagai Sunda Kelapa) di pulau Jawa.[2]

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Istilah "Betawi" merupakan sebuah pengistilahan dalam bahasa masyarakat lokal pesisir utara Jawa (Sunda ataupun Jawa) yang diserap dari istilah dalam bahasa Belanda: Batavia, berakar dari kata bahasa Latin: Batavi, yang bermakna "pulau yang baik". Kata tersebut diduga berakar dari *batawjō direkonstruksi dari dua kata yang dalam hipotesis Proto-Jermaniknya yakni *bataz ("baik; bagus") dan *awjō ("pulau").

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Periode sebelum masehi[sunting | sunting sumber]

Sejarah penduduk asli Jakarta (Sunda Kalapa) diawali pada masa zaman batu yang menurut Sejarawan Sagiman MD sudah ada sejak zaman neolitikum. Arkeolog Uka Tjandarasasmita dalam monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran" (1977) secara arkeologis telah memberikan bukti-bukti yang kuat dan ilmiah tentang sejarah penghuni Jakarta dan sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara pada abad ke-5. Dikemukakan bahwa paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru (3500–3000 tahun yang lalu) daerah Jakarta dan sekitarnya di mana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum pada tempat-tempat tertentu sudah didiami oleh masyarakat manusia yang menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta. Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur. [3]

Sementara Yahya Andi Saputra (Alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia), berpendapat bahwa penduduk asli Jakarta adalah penduduk Nusa Jawa. Menurutnya, dahulu kala penduduk di Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan adat kepercayaan mereka sama. Dia menyebutkan berbagai sebab yang kemudian menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri.

  • Pertama, munculnya kerajaan-kerajaan pada zaman sejarah.
  • Kedua, kedatangan dan pengaruh penduduk dari luar.
  • Terakhir, perkembangan kemajuan ekonomi daerah masing-masing.

Penduduk asli Jakarta berbahasa Sunda Kuno. Jadi, penduduk asli Jakarta telah berdiam di Jakarta dan sekitarnya sejak zaman dahulu dan bersuku Sunda.[4]

Periode setelah masehi[sunting | sunting sumber]

Periode awal[sunting | sunting sumber]

Abad ke-2[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-2, Menurut Yahya Andi Saputra Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Penduduk asli Betawi adalah rakyat Kerajaan Salakanagara. Pada zaman itu perdagangan dengan China telah maju. Bahkan, pada tahun 432 M Salakanagara telah mengirim utusan dagang ke Tiongkok.

Abad ke-5[sunting | sunting sumber]

Pada akhir abad ke-5 berdiri kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi sungai Citarum. Menurut Yahya, ada yang menganggap Tarumanagara merupakan kelanjutan Kerajaan Salakanagara. Hanya saja ibu kota kerajaan dipindahkan dari kaki gunung Salak ke tepi sungai Citarum. Penduduk asli Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara. Tepatnya letak ibu kota kerajaan di tepi sungai Candrabhaga, yang oleh Poerbatjaraka diidentifikasi dengan sungai Bekasi. Candra berarti bulan atau sasih, jadi ucapan lengkapnya Bhagasasi atau Bekasi, yang terletak di sebelah timur pinggiran Jakarta. Di sinilah, menurut perkiraan Poerbatjaraka, letak istana kerajaan Tarumanengara yang termasyhur itu. Raja Hindu ini ternyata seorang ahli pengairan. Raja mendirikan bendungan di tepi kali Bekasi dan Kalimati. Maka sejak saat itu rakyat Tarumanagara mengenal persawahan menetap. Pada zaman Tarumagara kesenian mulai berkembang. Petani Betawi membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Orang-orangan ini diberi baju dan bertopi, yang hingga kini masih dapat kita saksikan di sawah-sawah menjelang panen. Petani Betawi menyanyikan lagu sambil menggerak-gerakkan tangan orang-orangan sawah itu. Jika panen tiba petani bergembira. Sawah subur, karena diyakini Dewi Sri menyayangi mereka. Dewi Sri, menurut mitologi Hindu, adalah dewi kemakmuran. Penduduk mengarak barongan yang dinamakan ondel-ondel untuk menyatakan mereka punya kagumbiraan. Ondel-ondel pun diarak dengan membunyikan gamelan. Nelayan juga bergembira menyambut panen laut. Ikan segar merupakan rezeki yang mereka dapatkan dari laut. Karenanya mereka mengadakan upacara nyadran. Ratusan perahu nelayan melaut mengarak kepala kerbau yang dilarungkan ke laut.

Abad ke-7[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-7 Kerajaan Tarumanagara ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha. Di zaman kekuasaan Sriwijaya berdatangan penduduk Palembang dari tenggara Sumatra. Mereka mendirikan permukiman di pesisir Jakarta.

Periode kolonialisasi Eropa[sunting | sunting sumber]

Abad ke-16[sunting | sunting sumber]
Grup tari Topeng Betawi saat masa kolonial Hindia Belanda. Ini adalah salah satu pengaruh budaya Sunda

Perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Pajajaran) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong atau dikenal sebagai Keroncong Tugu.

Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan.[5] Itulah penyebab masih tersisanya kosakata dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia, Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jalan Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690.

Abad ke-19[sunting | sunting sumber]

Pada April 1967 di majalah Indonesia terbitan Cornell University, Amerika, sejarahwan Australia, Lance Castles mengumumkan penelitiannya menyangkut asal usul orang Betawi. Hasil penelitian yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” menyebutkan bahwa orang Betawi terbentuk pada sekitar pertengahan abad ke-19 sebagai hasil proses peleburan dari berbagai kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia.

Secara singkat sketsa sejarah terjadinya orang Betawi menurut Castles dapat ditelusuri dari:

  • Daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia.
  • Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815.
  • Catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893
  • Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.

Oleh karena klasifikasi penduduk dalam keempat catatan itu relatif sama, maka ketiganya dapat diperbandingkan, untuk memberikan gambaran perubahan komposisi etnis di Jakarta sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebagai hasil rekonstruksi, angka-angka tersebut mungkin tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya, namun menurut Castles hanya itulah data sejarah yang tersedia yang relatif meyakinkan walaupun hasil kajian yang dilakukan Castles mendapatkan banyak kritikan karena hanya menitikberatkan kepada skesta sejarah yang baru ditulis tahun 1673.

Mengikuti kajian Castles, antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Melayu, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda. Kemungkinan kesemua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi (bahasa Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

Abad ke-20[sunting | sunting sumber]
Ondel-Ondel menghiasi jalan selama festival selamatan saat peresmian sayap baru Hotel Des Indes, 1923. Ini adalah salah satu pengaruh budaya Bali, dilihat dari bentuk topengnya yang cenderung mirip dengan barong Bali, tidak seperti sekarang yang sudah dirubah dan dimodernisasi. Pada zaman dahulu ondel-ondel dipercaya bisa mengusir roh jahat dan menjaga

Pada zaman kolonial Belanda tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu. Namun menurut Uka Tjandarasasmita penduduk asli Jakarta telah ada sejak 3500-3000 tahun sebelum masehi. Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof. Dr. Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Pemoeda Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. berpendapat bahwa hingga beberapa waktu yang lalu penduduk asli Jakarta mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu atau menurut lokasi tempat tinggal mereka, seperti orang Kwitang; orang Kemayoran; orang Tanah Abang dan seterusnya. Setelah tahun 1970-an yang merupakan titik balik kebangkitan kebetawian di Jakarta telah terjadi pergeseran lebel dari Melayu ke Betawi. Orang yang dulu menyebut kelompoknya sebagai Melayu telah menyebut dirinya sebagai orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu yang umum digunakan di Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Brunei dan Thailand Selatan yang kemudian dijadikan sebagai bahasa Indonesia.

Setelah kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Orkestra tanjidor merayakan Tahun Baru Imlek, 1977. Ini adalah salah satu pengaruh budaya Belanda

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah salah satu caranya ’suku’ Betawi hadir.

Seni dan kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Seni dan Budaya asli Penduduk Jakarta atau Betawi dapat dilihat dari temuan arkeologis, semisal giwang-giwang yang ditemukan dalam penggalian di Babelan, Kabupaten Bekasi yang berasal dari abad ke-11 masehi. Selain itu budaya Betawi juga terjadi dari proses campuran budaya antara suku asli dengan dari beragam etnis pendatang atau yang biasa dikenal dengan istilah Mestizo. Sejak zaman dahulu, wilayah bekas kerajaan Salakanagara atau kemudian dikenal dengan "Kalapa" (sekarang Jakarta) merupakan wilayah yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara, Percampuran budaya juga datang pada masa Kepemimpinan Raja Pajajaran, Prabu Surawisesa di mana Prabu Surawisesa mengadakan perjanjian dengan Portugal dan dari hasil percampuran budaya antara Penduduk asli dan Portugal inilah lahir Keroncong Tugu. Upaya pemerintah Indonesia untuk melestarikan budaya Betawi, ialah dengan didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.

Musik[sunting | sunting sumber]

Gambang Kromong.

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana dan Samrah yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti "Kicir-kicir". Pengaruh budaya Jawa dengan sedikit unsur Sunda didalamnya juga ada dalam kebudayaan Betawi, seperti: pementasan wayang

Tari dan drama[sunting | sunting sumber]

Ondel-Ondel Betawi.

Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi,[6] Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda,[7] Cokek, tari silat dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

Drama tradisional Betawi antara lain lenong dan tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.[8]

Cerita rakyat[sunting | sunting sumber]

Silat Betawi.

Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau Si Jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras".[9] Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. Cerita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.

Senjata tradisional[sunting | sunting sumber]

Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan dari kayu.

Rumah tradisional[sunting | sunting sumber]

Rumah tradisional/adat Betawi adalah rumah kebaya. Terdapat pula rumah tradisional lain seperti rumah panggung Betawi.

Suku Betawi mengenal tradisi Bikin Rume yang dilakukan ketika hendak membangun rumah.

Bahasa dan kesusastraan[sunting | sunting sumber]

Bahasa yang dituturkan oleh masyarakat etnis Betawi adalah bahasa Betawi, bahasa ini berkembang dari interaksi sosial antar etnis pribumi pulau Jawa (Jawa, Sunda, Banten, Cirebon, dsb.) dan berbagai etnis non-pribumi pulau Jawa yang dibawa Belanda ke Batavia (Jakarta), contohnya seperti etnis Ambon dari pulau Ambon, Bali dari pulau Bali, Bugis dan Makassar dari selatan Sulawesi, Hokkien dari pulau Bangka (pedagang dan budak berketurunan Tionghoa asal Tiongkok yang lahir dan besar di wilayah kepulauan Bangka dan Belitung), Belanda dari Belanda, Mardijker dari timur Nusa Tenggara maupun kepulauan Maluku (masyarakat keturunan Portugis asal Portugal yang lahir dan besar di wilayah timur Indonesia seperti Flores dan Timor), Arab dari timur Jawa (pedagang keturunan Arab asal Semenanjung Arab yang lahir dan besar di wilayah pesisir timur laut Jawa seperti daerah Surabaya dan Madura) dan lain sebagainya. Masyarakat multietnis tersebut lah yang kemudian membentuk fenomena kebahasaan baru yakni bahasa Betawi, yang merupakan bahasa campuran dari bahasa-bahasa yang dituturkan oleh masyarakat multietnis Batavia (Jakarta) sejak masa lampau.

Walaupun demikian, bentuk tertua dari bahasa Betawi ialah Sunda Kuno yang merupakan bahasa pribumi wilayah barat pulau Jawa pada umumnya, hal ini dibuktikan dari penemuan beberapa prasasti kuno yang ditemukan di wilayah Batavia (Jakarta) dan sekitarnya (yang mana kini lebih dikenali sebagai wilayah Jabodetabek atau Jakarta Raya). Beberapa prasasti yang ditemukan di wilayah tersebut yakni mencakup:

  1. Prasasti Ciaruteun yang ditemukan di Bogor (prasasti dari abad ke-4)
  2. Prasasti Kebon Kopi I yang ditemukan di Bogor (prasasti dari abad ke-5)
  3. Prasasti Kebon Kopi II yang ditemukan di Bogor (prasasti dari abad ke-9)
  4. Prasasti Kebantenan yang ditemukan di Bekasi (prasasti dari abad ke-15)
  5. Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Tugu Selatan sekitar Jakarta Utara dan Bogor (prasasti dari abad ke-16)
  6. Prasasti Tangga Jamban yang ditemukan di Tangerang

Kosakata bahasa Betawi[sunting | sunting sumber]

Pronomina[sunting | sunting sumber]

Pronomina Akar kata Terjemahan
  • gua
  • gue
Hokkien:
我, guá
aku
  • ane
  • ana
Arab:
أنا, ʾanā
saya
aye Sanskrit:
सहाय, sahāya
saya
eke Belanda:
ikke
aku
ogut Arab:
غوت, ḡūwwṯ
panggil/panggilan (arti sebenarnya); aku
  • lu
  • elu
  • lo
  • elo
Hokkien:
汝,
kamu
  • ente
  • anta
Arab:
أنت, ʾanta
anda
die Belanda:
ie
dia
kite Jawa:
ꦏꦶꦠ, kita
kita

Nomina persona[sunting | sunting sumber]

Nomina persona Akar kata Terjemahan
  • nya
  • nyaʼ
  • nyak
  • enyak
Jawa:
ꦚꦲꦶ, nyai
wanita (arti sebenarnya); ibu
  • umi
  • umiʼ
  • umik
Arab:
أمي, ūmī
ibu
  • babe
  • babeh
  • baba
  • babah
Arab:
بابا, bābā
bapak
  • abah
  • abi
Arab:
أب, 'ab
ayah
abang Jawa Banyumas:
ꦲꦧꦁ, abang
merah (arti sebenarnya); kakak lelaki
  • neng
  • eneng
Jawa Surabaya:
ꦤꦶꦁ, ning
kakak perempuan
none Belanda Pertengahan:
nonne
biarawati (arti sebenarnya); nona

Kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut Kekristenan yakni Katolik dan Protestan yang jumlahnya sangat sedikit. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis ataupun Belanda. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.[10]

Perilaku dan sifat[sunting | sunting sumber]

Pakaian tradisional Betawi yang dikenal sebagai Baju Demang atau Ujung Serong

Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012.

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orang tua (terutama yang beragama Islam) kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dengan pendatang dari luar Jakarta.

Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dimungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri. Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi terhadap generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.

Profesi[sunting | sunting sumber]

Sebelum era Orde Baru, profesi orang Betawi terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kamboja Jepang, dan lain-lain) dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.

Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai di sana semisal Ji'ih teman seperjuangan Si Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustaz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.

Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu program Ganefo yang dicetuskan oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang dikenal sekarang ini. Karena salah satu asal-muasal berkembangnya suku Betawi adalah dari asimilasi (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Mohammad Hoesni Thamrin, pahlawan nasional dari Betawi.

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Masakan[sunting | sunting sumber]

Masakan khas Betawi antara lain gabus pucung, laksa betawi. sayur babanci, sayur godog, soto Betawi, ayam sampyok, kerak telor, asinan Betawi, soto tangkar dan nasi uduk.[11]

Kue-kue[sunting | sunting sumber]

Kue-kue khas Betawi misalnya kue cucur, kue rangi, kue talam, kue kelen, kue kembang goyang, kerak telor, sengkulun, putu mayang, andepite, kue ape, kue cente manis, kue pepe, kue dongkal, kue geplak, dodol betawi, dan roti buaya.[kue pancong]

Minuman[sunting | sunting sumber]

Minuman khas Betawi contohnya adalah es selendang mayang, es goyang, dan bir pletok.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, Dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia". Badan Pusat Statistik. 2010. Diakses tanggal 18 Juli 2017. 
  2. ^ Meyer, Joseph (1885). Meyers Konversations-Lexikon: Völker Asiens [Leksikon Konversasi Meyers: Orang Asia] (dalam bahasa Jerman). 1 (edisi ke-4). 
  3. ^ ""Siapa dan Darimanakah Orang Betawi"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-08-29. Diakses tanggal 2013-01-01. 
  4. ^ ""Penduduk Asli Betawi"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-07-31. Diakses tanggal 2013-01-01. 
  5. ^ "Ensiklopedi Jakarta: Cornelis Chastelein". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-07-17. Diakses tanggal 2011-09-03. 
  6. ^ "Jakarta Traditional Dance – Betawi Mask Dance". Indonesia Travel Guide. 4 Agustus 2015. 
  7. ^ "Yapong Dance, Betawi Traditional Dance". Indonesia Tourism. 27 Maret 2013. 
  8. ^ "Lenong". Encyclopedia of Jakarta. Pemprov DKI Jakarta. 13 Oktober 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-10-13. 
  9. ^ Indra Budiari (13 Mei 2016). "Betawi 'pencak silat' lays low among locals". The Jakarta Post. Jakarta. 
  10. ^ "Betawi or not Betawi?". The Jakarta Post. Jakarta. 26 Agustus 2010. 
  11. ^ Indah Setiawati (8 November 2013). "Weekly 5: A crash course in Betawi cuisine". The Jakarta Post. Diakses tanggal 5 August 2016. 

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ pengistilahan dalam bahasa Betawi Ora

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Castles, Lance The Ethnic Profile of Jakarta, Indonesia vol. I, Ithaca: Cornell University April 1967
  • Guinness, Patrick The attitudes and values of Betawi Fringe Dwellers in Djakarta, Berita Antropologi 8 (September), 1972, hlm. 78–159
  • Knoerr, Jacqueline Im Spannungsfeld von Traditionalität und Modernität: Die Orang Betawi und Betawi-ness in Jakarta, Zeitschrift für Ethnologie 128 (2), 2002, hlm. 203–221
  • Knoerr, Jacqueline Kreolität und postkoloniale Gesellschaft. Integration und Differenzierung in Jakarta, Frankfurt & New York: Campus Verlag, 2007
  • Saidi, Ridwan. Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadatnya
  • Shahab, Yasmine (ed.), Betawi dalam Perspektif Kontemporer: Perkembangan, Potensi, dan Tantangannya, Jakarta: LKB, 1997
  • Wijaya, Hussein (ed.), Seni Budaya Betawi. Pralokarya Penggalian Dan Pengembangannya, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1976

Pranala luar[sunting | sunting sumber]