Banjir di Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Banjir di Jakarta terjadi di pantai barat laut Jawa, di muara Sungai Ciliwung di Teluk Jakarta, yang merupakan sebuah inlet dari Laut Jawa dan telah terjadi pada tahun 1960, 1996, 2002, 2007 dan 2013.

Geografi Jakarta[sunting | sunting sumber]

Daerah Khusus Ibukota Jakarta meliputi 662 km2 wilayah daratan dan 6,977 km2 wilayah lautan.[1]

Jakarta terletak di daratan yang datar, rata-rata 7 meter (23 ft) di atas permukaan laut;[butuh rujukan]yang mana 40% wilayah Jakarta, terutama daerah utara, berada di bawah permukaan laut,[2] sedangkan bagian selatan relatif berbukit-bukit.

Sungai mengalir dari Puncak, melewati seluruh kota ke utara menuju Laut Jawa; Sungai Ciliwung, adalah sungai yang  membagi kota ke barat dan timur. Sungai-sungai lain seperti Pesanggrahan, dan Suntnd.

Faktor lain seperti tersumbat pipa pembuangan dan saluran air yang melayani penduduk Jakarta, selain deforestasi dekat urbanisasi cepat Bogor dan Depok di Jakarta hinterland.

Jakarta adalah kawasan perkotaan dengan masalah sosial-ekonomi kompleks yang secara tidak langsung berkontribusi untuk memicu bencana banjir.[3]

Banjir tahun 1960[sunting | sunting sumber]

Pada bulan februari 1960, banjir terjadi di pinggiran kota Jakarta. Daerah pinggiran kota Grogol, mengalami kebanjiran hingga lutut dan pinggang. Ini adalah krisis pertama untuk Presiden Soekarno.[4]

Banjir tahun 1996[sunting | sunting sumber]

Banjir besar terjadi pada tahun 1996[5][6] yang mana 5,000 hektar lahan terendam banjir.[7]

Banjir tahun 2007[sunting | sunting sumber]

Lihat pula Banjir Jakarta 2007

Banjir besar juga terjadi pada tahun 2007.[8] Kerugian dari kerusakan infrastruktur dan pendapatan negara setidaknya 5.2 triliun rupiah (572 juta dolar AS) dan setidaknya 190.000 orang jatuh sakit akibat banjir yang berhubungan dengan penyakit. Sekitar 70% lahan di Jakarta terendam banjir dengan air setinggi empat meter di sebagian wilayah kota.[9][10]

Banjir tahun 2013[sunting | sunting sumber]

Masalah polusi[sunting | sunting sumber]

Pada Mei 2011, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta mengkategorikan semua sungai di Jakarta tercemar; 71% sungai tercemar berat, 20% sebagian tercemar dan 9% tercemar ringan.[11]

Penanggulanganan[sunting | sunting sumber]

Kanal Banjir[sunting | sunting sumber]

Banjir Kanal Timur (BKT) di Jakarta timur adalah proyek nasional dimulai pada tahun 2003, pada tahun 2009 proyek ini telah mencapai laut Jawa dan akan selesai pada tahun 2011. Panjang kanal ini 23,5 kilometer dan menghubungkan lima sungai, yakni; Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat dan Cakung. Kanal ini akan mengurangi banjir dan 2 kilometer venue olahraga dayung.[12] Untuk menngurangi resiko banjir, Jakarta Emergency Dredging Innitiave (JEDI) akan membangun kanal bawah tanah (siphon) dari kali Ciliwung ke kali Cipinang dan kemudian melewati Kanal Banjir Timur. Hal ini akan menurunkan resiko banjir di Cawang, Kampung Melayu, Bukit Duri dan Kebon Baru. Panjang siphon ini satu kilometer dan telah selesai pada tahun 2016.[13]

Menggunakan pemetaan partisipatif untuk menjaga kesiapsiagaan bencana di Jakarta[sunting | sunting sumber]

Untuk mengelola risiko secara efektif, perlu data luas untuk membuat keputusan  dalam kesiapsiagaan, mitigasi, dan respon. Informasi rinci pada situasi bencana (banjir) tidak tersedia di tingkat lokal. Pilot project di Jakarta dipimpin oleh BPBD Provinsi DKI Jakarta dan data resolusi tinggi dikumpulkan untuk menginformasikan kesiapsiagaan banjir dan kontingensi. Kemudian, data-data, yang dapat diakses oleh masyarakat dan masyarakat umum, digunakan dalam latihan kontingensi perencanaan darurat Jakarta 2011/2012. Informasi yang dihasilkan sangat berguna bagi pengambil keputusan dalam kesiapsiagaan, pengembangan dan perencanaan investasi.[14]

Masalah berkelanjutan[sunting | sunting sumber]

Tenggelamnya Jakarta[sunting | sunting sumber]

Selain banjir dari sungai-sungai, Jakarta juga tenggelam sekitar 5 sampai 10 sentimeter setiap tahun dan hingga 20 sentimeter di Jakarta bagian utara. Dari tahun 2000 sampai tahun 2050 potensi banjir pesisir sejauh ini diperkirakan meningkat hingga 110.5 km2 karena penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut.[15] Untuk mengatasi hal itu, Belanda akan memberikan $4 juta untuk studi kelayakan pembangunan tanggul di Teluk Jakarta. Cincin tanggul akan dilengkapi dengan sistem pemompaan dan daerah retensi, yang akan mengatur dan mengontrol air laut dan digunakan juga sebagai tambahan jalan tol. Proyek ini akan dibangun pada tahun 2025.[16]

Pembangunan 8 km sea wall di sepanjang pantai secara resmi diluncurkan pada Oktober. 9, 2014.[17]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Based on Governor Decree in 2007, No. 171. taken from Statistics DKI Jakarta Provincial Office, Jakarta in Figures, 2008, BPS, Province of DKI Jakarta
  2. ^ "The Tides: Efforts Never End to Repel an Invading Sea". Jakarta Globe. Diakses tanggal 15 November 2015. 
  3. ^ "Key to Jakarta's floods: Basin flood management". The Jakarta Post. 22 March 2008. Diakses tanggal 14 March 2011. 
  4. ^ Merrillees 2015.
  5. ^ "Asian News". Asiaviews. Diakses tanggal 27 April 2010. 
  6. ^ "Floods in DKI Jakarta Province, updated 19 February 2007 Emergency Situation Report No. 6". ReliefWeb. 19 February 2007. 
  7. ^ "1996 Global Register of Major Flood Events". Dartmouth Flood Observatory. Dartmouth College. 
  8. ^ "Asia". Bloomberg. 4 February 2007. Diakses tanggal 27 April 2010. 
  9. ^ Jakarta Flood Feb 2007 « (Geo) Information for All
  10. ^ 2007 Global Register of Major Flood Events, Dartmouth Flood Observatory, 1 May 2008
  11. ^ Jakartans lament the sorry state of the capital’s rivers. The Jakarta Post, Jakarta. May 20, 2011
  12. ^ Minister: Jakarta East Flood Canal accomplished in 2011. Waspada.co.id (30 November 2010). Retrieved 12 June 2011.
  13. ^ :: Wartakotalive.com | Berita : Kali Ciliwung Disodet. Wartakota.co.id (14 April 2010). Retrieved 12 June 2011.
  14. ^ (PDF) https://www.gfdrr.org/sites/gfdrr/files/publication/Pillar_1_Using_Participatory_Mapping_for_Disaster_Preparedness_in_Jakarta_OSM.pdf.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)Missing or empty |title= (bantuan)
  15. ^ "Projection of coastal floods in 2050 Jakarta". Urban Climate. Elsevier. 17: 135–145. 2016-09-27. doi:10.1016/j.uclim.2016.05.003. Diakses tanggal 2016-11-07. 
  16. ^ "Dutch to study new dike for Jakarta Bay". The Jakarta Post. 2011-07-27. Diakses tanggal 2014-01-20. 
  17. ^ Kusuma, Adriana Nina (9 October 2014). "Indonesia Holds Groundbreaking Ceremony for Giant Sea Wall". The Jakarta Globe. Diakses tanggal 10 October 2014. 

Sumber lainnya[sunting | sunting sumber]