Ridwan Saidi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Ridwan Saidi
Ridwan saidi.jpg
Anggota DPR-RI
Masa jabatan
1977–1987
Informasi pribadi
Lahir
Ridwan Saidi

2 Juli 1942 (umur 79)
Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politikPartai Persatuan Pembangunan
Suami/istriYahma Wisnani
Anak5
AlmamaterUniversitas Indonesia

Ridwan Saidi (lahir 2 Juli 1942) adalah seorang budayawan Betawi. Ia juga merupakan mantan anggota DPR melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1977-1987. Ridwan tercatat sebagai lulusan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.

Sebagai seorang budayawan Betawi, Ridwan banyak terlibat dalam aktivitas pelestarian budaya serta menulis buku-buku mengenai masyarakat Betawi.[1]

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Ridwan Saidi, putra asli Betawi ini lahir di Jakarta, 2 Juli 1942 dari pasangan Abdurrahim dan Muhaya. Ia pernah menempuh jenjang perkuliahan di Fakultas Publistik, Universitas Padjadjaran pada tahun 1962-1963. Ia tidak menyelesaikan jejang pendidikannya di Fakultas Publistik tersebut dan pindah untuk menuntut kuliah di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang dikenal sebagai FISIP) di Universitas Indonesia pada tahun 1963-1976.[2]

Karier[sunting | sunting sumber]

Dalam perjalanan kariernya, Ridwan Saidi cukup aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Ia pernah menjadi Kepala Staf Batalion Soeprapto Resimen Mahasiswa Arief Rahman Hakim, pada tahun 1966. Setelah itu, pada tahun 1973-1975, Ridwan Saidi menjadi Sekretaris Jendral Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara. Pada tahun 1974-1976, Ridwan Saidi menjadi Ketua Umum PB HMI.[3]

Dalam perkembangannya kemudian, Ridwan Saidi berkecimpung ke kelompok partai dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 1977-1982 dan 1982-1987.[2][3] Di bangku parlemen, Ridwan sempat menduduki kursi Wakil Ketua Komisi APBN (1977-1978) dan setelah itu dia konsisten menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X yang membidang lingkungan hidup dan ilmu pengetahuan sejak 1978-1987.[2]

Usai jabatannya di DPR berakhir, pada tahun 1995 hingga tahun 2003, Ridwan menjadi Ketua Umum Partai Masyumi Baru. Ridwan juga pernah aktif dalam kegiatan Muktamar Rakyat Islam se-Dunia di Irak pada tahun 1993. Selain itu, Ridwan Saidi juga pernah aktif pada Festival Budaya Babylonian (Babylonian Cultural Festival) di Irak pada tahun 1994. Pada tahun 2003, Ridwan Saidi kemudian menjadi Ketua Steering Committee Kongres Kebudayaan. Ia juga pernah menjadi Ketua Komite Waspada Komunisme dan menjadi ketua dan pendiri Yayasan Renaissance pada tahun 2013.[3]

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Ridwan menikah dengan seorang wanita kelahiran Minang, Sumatera Barat, bernama Yahma Wisnani, pada tahun 1977. Mereka dikaruniai lima orang anak, antara lain Syarifah Jihan Marina, Syarif Razvi, Rifat Najmi, Ferhat Afkar, dan Shahin Maulana.[3]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Perseteruan dengan Ahmad Dhani[sunting | sunting sumber]

Ridwan Saidi menyulut kontroversi dengan musisi Dewa 19, Ahmad Dhani dengan menyatakan Dhani sebagai kaum Yahudi sebagaimana dikutip dalam bukunya Fakta dan Data Yahudi di Indonesia : Dulu dan Kini (2006) yang ditulis bersama Rizki Ridyasmara. Buku tersebut menilai Dhani merupakan seorang pengikut Yahudi lantaran banyaknya lambang-lambang Yahudi dalam album Ahmad Dhani dan Dewa 19. Namun, menjawab klaim tersebut Dhani mengatakan itu adalah hal yang biasa. Lagi pula ia menganggap semua gambar itu adalah karya seni.[4]

Akibat dari buku tersebut, Dhani kemudian mendapat kiriman bom buku yang diterima pada Selasa, 15 Maret 2011, yang ditujukan ke kantor Republik Cinta Management (RCM). Namun, paket baru dibuka pada Kamis, 17 Maret 2011. Buku berisi bom itu lalu diledakkan Tim Gegana. Buntut dari bom tersebut, Dhani melaporkan Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara sebagai pengarang buku yang memuat klaim salah terhadap Dhani tersebut.[5] Dhani menganggap buku tersebut yang menyebabkan dirinya menjadi target teroris.[6]

Tafsiran eksistensi kerajaan Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pernyataan Ridwan Saidi mengenai 'tafsiran sejarah' eksistensi sejumlah kerajaan di Indonesia menuai protes. Ucapan Ridwan ini terdapat dalam sebuah video berdurasi 15 menit yang diunggah oleh akun Macan Idealis. Pertama, video berjudul Mengejutkan !! BABE RIDWAN SAIDI NGAMUK, Ternyata Sriwijaya Adalah Kerajaan Palsu dan Fiktif diunggah 23 Agustus 2019. Video kedua berjudul GEGER !! Terbongkar Ternyata Sriwijaya Hanyalah Bajak Laut, dan Banyak Kerajaan Fiktif di Indonesia diunggah 25 Agustus 2019. Dalam video tersebut, Ridwan tampak menjawab sejumlah pertanyaan Vasco Ruseimy yang merupakan mantan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi. Dalam wawancara ini, Ridwan mengatakan Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif. Bahkan, ia mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah bajak laut. Ridwan juga menampik bukti-bukti sejarah Kerajaan Sriwijaya.[7]

Pernyataan itu lantas menuai protes, karena dinilai menyinggung masyarakat Palembang, tempat di mana kerajaan Sriwijaya pernah berdiri. Pemerintah Kota Palembang pun mengungkapkan kekecewaannya.[8] Sementara itu, budayawan Sumatera Selatan, Erwan Suryanegara menilai Ridwan salah, karena bajak laut marak justru setelah Sriwijaya runtuh.[9] Namun, Ridwan mempersilakan orang yang mengkritik pendapatnya terkait Kerajaan Sriwijaya tersebut. Ia juga mengaku semua pemaparannya tersebut dari proses penelitian sejarah yang lama, dengan sumber buku seperti The Timetables of History: A Horizontal Linkage of People and Events oleh Bernard Grun, Historica oleh Josephus dan Geographia oleh Claudius Ptolemaeus, yang ditulis tahun 161 M.[7]

Masih dalam video yang sama, Ridwan Saidi juga berbicara soal Kerajaan Tarumanegara. Sama seperti Kerajaan Sriwijaya, Ridwan juga menyebut Kerajaan Tarumanegara itu fiktif. Ridwan menilai hal ini adalah kesalahan arkeolog seperti Poerbatjaraka yang mengira prasasti-prasasti yang ada di Jawa bagian barat dan Jawa Tengah berbahasa Sanskerta dan beraksara Palawa, menilai bahwa prasasti tersebut berbahasa Hindi-Khmer.[10] Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Ninny Soesanti Tedjowasono menjelaskan bahwa sebagai seorang epigraf, Ninny memastikan bahasa yang digunakan di Prasasti Tugu, salah satu prasasti Kerajaan Tarumanegara adalah berbahasa Sanskerta, bukan berbahasa Hindi-Khmer seperti yang dikatakan Ridwan Saidi.[7]

Ridwan Saidi kemudian kembali membuat pernyataan kontroversial. Ridwan menyebut bahwa tidak ada kerajaan di Ciamis, Jawa Barat. Selain itu, ia menilai bahwa terdapat salah penamaan pada Kerajaan Sunda Galuh. Pernyataan ini terdapat dalam Video berdurasi 12 menit 31 detik dengan judul GEGEER !! TERNYATA KERAJAAN KERAJAAN DI INDONESIA SANGAT DITAKUTI DI DUNIA yang diunggah 12 Februari 2020. Dia masih ditemani oleh Vasco. Menurutnya kata Galuh berasal dari bahasa Armenia yang berarti brutal. Ucapan Ridwan tersebut mendapat respon dari sejumlah tokoh hingga unsur masyarakat Ciamis. Ia diminta datang untuk melihat langsung berbagai bukti sejarah terkait kerajaan di Ciamis.[7]

Penerbitan[sunting | sunting sumber]

Ridwan Saidi menerbitkan beberapa karya cetak dalam bidang politik dan kebudayaan. Beberapa di antaranya ialah:[11]

  • Golkar Pasca pemilu 1992 yang terbit pada tahun 1993
  • Anak Betawi Diburu Intel Yahudi yang diterbitkan pada tahun 1996
  • Profil Orang Betawi: Asal muasal, kebudayaan, dan adat istiadatnya yang diterbitkan pada tahun 1997
  • "Sekitar Tuntutan Rakyat Kembali ke UUD 1945", Orasi Dalam Acara Memorandum Kembali kepada UUD 1945 oleh: Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu yang diterbitkan oleh Indonesia Berhimpun pada tahun 2006
  • Status Piagam Jakarta: Tinjauan hukum dan sejarah pada tahun 2009
  • Aku HMI: Narasi Ridwan Saidi, yang diterbitkan pada Yayasan Renaissance tahun 2015
  • Golok Wa Item: Sejarah Power System Sunda Kalapa yang diterbitkan Yayasan Renaissance pada tahun 2015
  • Khazanah Tatar Sunda: Tinjauan Historis yang diterbitkan oleh CV. Trinanda pada tahun 2016
  • Si Manalagi: Narasi Epos Betawi yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2016
  • Facta Documenta Jakarta yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2016
  • Sejarah Tangerang Selatan yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2016
  • Kampungku Kemayoran yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2017
  • Palmera: Fakta kekerabatan Purba Indonesia yang diterbitkan Yayasan Renaissance pada tahun 2017
  • Langkah Bersejarah Dahlan Abdullah (Wali kota Jakarta 1942-1945 dan Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat 29 Agustus 1945) yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2018.

Selain karya cetak, juga terdapat beberapa karya yang diterbitkan secara daring dalam versi buku elektronik oleh Ridwan Saidi, yakni:[11]

  • Rekonstruksi Sejarah Indonesia (2018, ISBN 6027261897)
  • Biografi politikus dan budayawan Ridwan Saidi (2018, ISBN 6025133522)
  • Kronologi Kedatangan Islam di Indonesia (2018, ISBN 6025133514)
  • Jakarta dari Majakatera hingga VOC (2019, ISBN 6025133530)
  • Kerajaan Sunda dan Sunda Kalapa, serta kemandirian Banten (2019, ISBN 6025133549)
  • Flashback Pancasila, tinjauan historis terbentuknya nilai-nilai dasar bernegara sejak era kerajaan VIII M (2019, ISBN 6025133557)
  • Kedatangan bangsa Maya hingga Champa dan pengaruhnya di Indonesia (2019, ISBN 602513359X)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nurjanah (11 Februari 2011). "LKB dan FIB UI Gelar Diskusi Buku Teranyar Ridwan Saidi". annida-online.com. Diakses tanggal 10 Januari 2011. 
  2. ^ a b c Albanna, Morteza Syariati (28 Agustus 2019). "Ridwan Saidi Budayawan Betawi yang Sering Bikin Heboh". Tagar.id. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  3. ^ a b c d Jalil, Abdul (29 Agustus 2019). "Profil Ridwan Saidi yang Sebut Sriwijaya Kerajaan Fiktif". detikNews. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  4. ^ "Pembelaan Lengkap Ahmad Dhani Soal Tuduhan Yahudi". detikHot. 18 Maret 2011. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  5. ^ Yanuar, Elang Riki (19 Maret 2011). "Ahmad Dhani Tak Kapok Pakai Simbol Yahudi". Okezone.com. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  6. ^ "Ahmad Dhani Laporkan Penulis Buku Yahudi". Cumicumi.com. 18 Maret 2011. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  7. ^ a b c d Permana, Rakhmad Hidayatulloh (14 Februari 2020). "Kontroversi Ridwan Saidi: 'Sriwijaya Bajak Laut' Hingga 'Kerajaan Galuh Brutal". Detik.com. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  8. ^ "Sebut Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Ridwan Saidi Akan Dilaporkan". CNN Indonesia. 27 Agustus 2019. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  9. ^ "Ridwan Saidi Sebut Sriwijaya Kerajaan Fiktif, Budayawan Sumsel Bikin Video Tandingan". Kompas.com. 6 September 2019. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  10. ^ Damarjati, Danu (30 Agustus 2019). "Membedah Pernyataan Ridwan Saidi 'Sriwijaya dan Tarumanegara Fiktif'". Detik.com. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  11. ^ a b "Ridwan Saidi". Open Library (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Maret 2021. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]