Poerbatjaraka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka

Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka (lahir di Surakarta tahun 1884 – meninggal di Jakarta tahun 1964 pada umur 79/80 tahun) adalah seorang budayawan, ilmuwan Jawa dan terutama pakar sastra Jawa Kuno.

Pengantar[sunting | sunting sumber]

Poerbatjaraka adalah putra seorang abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta yang bernama Raden Tumenggung Purbadipura (ejaan modern). Purbadipura adalah abdi dalem kesayangan Sunan/Susuhunan Pakubuwana X. Ia adalah seorang sastrawan dan seringkali menggubah perjalanan-perjalanan Sunan Pakubuwana X dalam bentuk tembang.

Masa Kecil[sunting | sunting sumber]

Poerbatjaraka, dengan nama kecilnya Lesya, bersekolah di HIS (Hollandsch-Indische School) yang berlangsung selama 7 tahun. Di sini Lesya belajar bahasa Melayu, bahasa Belanda dan pengetahuan dasar lainnya. Berkat pengetahuannya akan bahasa Belanda, Lesya bisa bercakap-cakap dengan tentara Belanda yang berada di Solo. Para serdadu Belanda ini kelihatannya senang bercakap-cakap dengan anak yang pandai ini.

Lesya gemar membaca. Pada usia muda ia sudah belajar membaca kitab-kitab klasik Jawa, beberapa di antaranya dalam bentuk naskah manuskrip yang bisa ia temukan dalam perpustakaan ayahnya. Perkenalan pertamanya dengan sastra Jawa Kuno terjadi ketika ia menemukan buku karangan ahli Indologi termasyhur, Prof. Dr. Hendrik Kern.

Buku ini sebenarnya hadiah seorang pejabat Belanda kepada Sunan Pakubuwana X. Tetapi, ia kurang mengerti isi buku ini sehingga memberikannya kepada Purbadipura, mungkin maksudnya untuk menjelaskannya. Lalu buku ini dibaca oleh Lesya dan ia menjadi sangat tertarik.

Para abdi dalem keraton yang gemar akan sastra Jawa kala itu suka mengadakan pertemuan-pertemuan diskusi di mana mereka membicarakan sastra Jawa dan terutama beberapa bagian syair dan karya sastra lainnya yang sulit. Lesya yang masih muda suka mengikuti pertemuan ini. Karena ia merasa sudah banyak berpengetahuan kala itu berkat buku-buku Belanda, pernah suatu ketika menantang seorang abdi dalem senior. Hal ini ternyata berbuntut panjang dan Lesya merasa tidak betah lagi dalam suasana ini.

Masa di Batavia[sunting | sunting sumber]

Karena ia merasa lebih cocok dengan pendekatan ilmiah yang dibacanya dari buku-buku Belanda, maka ia menulis surat kepada Residen Surakarta waktu itu. Sang residen yang sudah mendengar kepandaian Lesya lalu mengirimnya ke Batavia/Jakarta pada tahun 1910. Di sana Lesya dipekerjakan kepada Dinas Purbakala di Museum Gajah.

Pada masa ini Lesya mendapatkan nama Poerbatjaraka. Nama ini terdiri dari kata purba seperti nama ayahnya dan kata caraka, dari aksara Hanacaraka yang juga memiliki arti duta atau utusan. Gelar kebangsawanan Raden Ngabehi, yang lebih rendah dari gelar Raden Tumenggung milik ayahnya, juga diberikan pada kala ini. Sedangkan gelar terhormat Raden Mas, diperolehnya jauh di kemudian hari ketika menikah dengan seorang wanita bangsawan (yang bergelar Raden Ayu).

Di museum, Poerbatjaraka dianggap pandai dan sering dimintai tolong oleh para pakar. Di sini ia juga melanjutkan pelajarannya akan sastra Jawa Kuno dan juga mulai mempelajari Bahasa Sanskerta.

Di Belanda[sunting | sunting sumber]

Gedung 'Poerbatjaraka' di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kemudian ia ditugaskan di Universitas Leiden, Belanda sebagai asisten Prof. Dr. Hazeu, mahaguru sastra Jawa. Pada tahun 1926, meskipun tidak pernah kuliah, Poerbatjaraka diperkenankan berpromosi dan mendapatkan gelar doktor dengan disertasinya: Agastya in den Archipel.

Sekembalinya di Museum Gajah pada tahun 1930-an, ia diberi pekerjaan sebagai kurator naskah manuskrip dan diberi tugas untuk mengkatalogisasi semua naskah Jawa.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ia menjadi profesor di Universitas Indonesia, Jakarta, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Bahkan di Denpasar, ia lah yang mendirikan Fakultas Sastra.

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Poerbatjaraka menikah dengan R.Ay.Musimah dan dikaruniai seorang putri bernama R.Ay.Ratna Himawati. Putri Poerbatjaraka menikah dengan R. Sumarso dan memiliki beberapa anak, yang tertua adalah Widiyawan Wisnuwardhana.

Widiyawan Wisnuwardhana menikah dengan Herita Mardiani. Mereka mempunyai tiga putra, yaitu Wirindra Ananda Gupta (Nanda), Mahindra Winuksa Adhiakusuma (Nuki), dan Harindra Mahuttama Agatsyamukti (Harin).

Keturununan terkahir adalah tiga anak dari Wirindra Ananda Gupta yaitu Radinindra Nayaka Anilasuta, Nadindra Akila Kanalalita, dan Syailendra Anargha Purusottama. Mahindra Winuksa Adhiakusuma mempunyai putri kembar.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Th. Pigeaud, ‘In Memoriam Professor Poerbatjaraka’, BKI, 122: 1966, pp. 404-412

Pranala luar[sunting | sunting sumber]